Workshop Simulasi Digital

Minggu, 16/06/2013 | 11:45 WIB Suasana Workoshop Simulasi Digital PAMEKASAN - Sebanyak 60 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Pamekasan mengikuti Workshop Simulasi Digital di SMKN 3 Pamekasan, Sabtu (15/6) kemarin. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang SMA/SMK Disdik Pamekasan, Drs M Tarsun MSi dan akan dilaksanakan selama empat hari hingga Selasa (18/6) mendatang. Program ini terselenggara hasil kerjasama dengan Sout Est Asia Manastry Organication Learning Education Center (SEAMOLEC) Jakarta, yaitu sebuah organisasi Kementrian di Asia Tenggara yang bergerak dibidang pendidikan dan pembelajaran, dengan SMK se Pamekasan yang didukung oleh Fakultas Tehnik Unira Pamekasan. Kordinator Pelaksana Pelatihan, Drs Tarmuji MT mengatakan, pelatihan ini digelar dalam rangka menghadapi penerapan kurikulum baru tahun 2013 mendatang dan merupakan pengembangan dari mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) yang sudah ada sebelumnya. “Dalam pelatihan ini arahnya nanti semua guru bisa membuat buku digital dan video pembelajaran dan menerapkan simulasi digital seperti pembelajaran animasi itu dengan mengunakan tehnologi informatika. Ini semua kita lakukan untuk menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan dan demi kemudahan dalam pembelajaran,” jelasnya. Soal kerjasama dengan SEAMOLEC ini, kata Trmuji, dilatar belakangi dengan kepedulian lembaga tersebut terhadap proses pembelajaran dan pendidikan di Indonesia. Sebeleum menggelar di Pamekasan, SEAMOLEC terlebih dahulu melakukan Workshop di Jakarta yang diikuti sebanyak 60 SMK dan Polititeknik se-Indonesia dan 12 delegasi dari China. Dari Pamekasan yang hadir Tarmuji sendiri selaku Kepala SMKN 2 Pamekasan. Sementara itu, Kepala Bidang SMA dan SMK Disdik Pamekasan, Drs HM tarsun MSi saat memberikan sambutan mewakili Kepala Disdik Drs Achmad Hidayat MPd mengaku, bangga dengan program pelatihan ini. Menurutnya, kemampuan menguasai tekhnologi khususnya yang menunjang proses pembelajaran merupakan keharusan bagi guru dan sekolah secara umum. “Selain harus meningkatkan kemampuan intelektualitasnya, para guru juga dituntut harus mampu mengembangkan kecakapannya menguasai tehnologi untuk membantu proses pembelajarannya. Ini semua keharusan. Dan saya sangat mendukung kegiatan pelatihan ini,“ kata Tarsun. Pihak Disdik Pamekasan, kata Tarsun, sangat apresiatif terhadap program ini. Karena itu, Disdik akan menindaklanjuti kerjasama dengan SEAMOLEC ini selanjutnya. Menurut rencana pada tanggal 20 Juni mendatang Direktur SEAMOLEC Jakarta akan hadir ke Pamekasan guna menandatangani MoU kerjasama dengan Bupati Pamekasan, Drs Achmad Syafii. mas

Label: , , , ,

Pemkab Jalin Kerjasama dengan SEAMOLEC

Jumat, 21/06/2013 | 10:52 WIB Bupati Pamekasan Achmad Syafii menyerahkan cinderamata pada Gatot Hari Priyo W disaksikan Rektor Unira Drs. H Amiril, MSi. PAMEKASAN - Bupati Pamekasan Drs. Achmad Syafii MSi Kamis (20/6) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Pamekasan dengan SEAMOLEC (sebuah organisasi Kementerian Pendidikan Asia Tenggara Jakarta) dan Unira, dalam pengembangan teknologi informatika bagi guru SMK di Pamekasan Penandatangana MoU ini merupakan tindak lanjut dari Workshop yang dilaksanakan SEAMOLEC tanggal 15 sampai 18 Juni lalu. Ada sekitar 60 guru SMK se Pamekasan yang diikutkan dalam Workshop simulasi digital tersebut. Workshop itu juga merupaan rangkaian kegiatan kerjasama antara SEAMOLEC dan Unira yang telah berjalan sebelumnya. Direktur SEAMOLEC Dr. Gatot Hari Priyo Wiryanto mengatakan, kerjasama ini baru dijalankan di Malang dan Pamekasan. Dia berencana kerjasama itu bisa dikembangkan hingga dilakukan di 250 sekolah. Saat ini, kata dia, baru 60 guru di Pamekasan yang telah mengikuti diklat dan memiliki sertifikat. Bupati Achmad Syafii menyatakan, pendidikan merupakan bagian dari komitmen dan program prioritas di daerahnya. Ada banyak variabel dalam dunia pendidikan yang saat ini menjadi perhatian Pemkab, diantaranya masalah peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan. Khusus pemerataan pendidikan, dia menginginkan antara Pamekasan bagian utara dan selatan bisa seimbang dalam prestasi pendidikannya. “Dalam soal peningkatan kualitas, salah satunya adalah peningkatan kualitas guru. Nah kerjasama dengan SEAMOLEC ini bagian dari peningkatan kualitas pendidikan ini. Karena itu marilah kita manfaatkan momentum ini dengan baik, untuk kemajuan dan prestasi pendidikan Pamekasan,” katanya. Sementara Rektor Unira Drs. H Amiril MSi mengatakan, pihaknya memiliki tekat yang besar untuk bisa memberikan sumbangan bagi kemajuan Pamekasan. Karena itu dia berharap momentum jalinan kerjasama antara Pemkab, SEAMOLEC dan Unira Pamekasan ini, menjadi bagian dari partisipasi dan sumbangan bagi kemajuan pendidikan di Pamekasan. mas

Label: , , , ,

Anggaran Minim, Dewan Pendidikan Wadul DPRD

Dewan Pendidikan (DP) mengeluhkan minimnya anggaran dari Pemkab Pamekasan. Pada tahun 2013 ini Pemkab hanya menyediakan alokasi dana Rp 50 juta, dan itu dipastikan tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan dan program DP yang cukup banyak.

Keluhan itu juga telah disampaikan oleh pengurus DP Pamekasan pada saat melakukan audensi dengan Komisi D DPRD Pamekasan.

Drs HM Kutwa Fath, MPd., Ketua Dewan Pendidikan Pamekasan, mengatakan pada tahun anggaran 2013 ini DP Pamekasan mengajukan anggaran sebesar Rp 210 juta. Anggaran ini diajukan dengan rincian untuk membiayai sejumlah kebutuhan dan program kegiatan yang dirancang selama setahun. Namun kenyataanya pada tahun anggaran 2013 ini DP hanya diberi anggaran sebesar Rp 50 juta.

“Yang pasti dengan hanya mendapat jatah Rp 50 juta itu tidak cukup untuk membiayai sejumlah kegiatan dan program yang telah kami susun. Inilah masalah utama yang kami sampaikan kepada Komisi D saat itu, dan pihak Komisi D mengaku prihatin atas kondisi ini,” ungkap Kutwa, kemarin.

Karena itu, lanjut Kutwa, Komisi D DPRD Pamekasan menyarankan agar DP mengupayakan untuk tetap mempertahankan program bagus yang telah disusun itu untuk diajukan pada anggaran tahun 2014 mendatang, karena pada tahun anggaran 2013 ini sudah tidak memungkinkan.

Salah satu program unggulan yang akan dilakukan DP Pamekasan pada tahun 2013 ini adalah pendirian Kampung Pendidikan. Menurut Kutwa Kampung Pendidikan ini akan didirikan di sejumlah desa yang ada di wilayah kecamatan Waru, Pademawu dan Tlanakan. Proposal program ini telah diajukan ke Pemkab Pamekasan.

Program ini dirintis sebagai respon atas ditetapkannya Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan oleh Mendiknas beberapa waktu lalu. Menurut Kutwa sebagai kabupaten Pendidikan Pamekasan harus memililiki atau punya miniature atau contoh kabupaten pendidikan. Upaya ini dicoba dengan kampung pendidikan ini.

“Kampung pendidikan ini kegiatannya berbacam bidang pendidikan yang dipelopori oleh masyarakat dan pemuda. Ini diluar pendidikan formal di sekolah. Misalnya adanya masyarakat yang bergerak menangani bidang bahasa, bidang sain dan lain sebagainya. Dan itu bentuknya bukan seperti lembaga kursus,” ungkapnya.

Karena itu untuk merealisasikan program itu, Kutwa mengaku telah merencanakan untuk melakukan studi banding ke sejumlah daerah, antara lain ke Pare Kediri dan daerah lain yang telah memiliki program semacam kampung pendidikan ini.

“Seandainya pada tahun anggaran 2013 ini dana yang kami usulkan diterima, maka pada tahun ini program itu akan dijalankan. Namun karena tidak demikian, akhirnya ya kita tunggu semoga saja ditahun yang akan datang,” harap Kutwa.

Selain masalah program kerja dan anggaran, kata Kutwa, dalam audensi dengan Komisi D itu juga dibahas tentang eksistensi DP secara umum, sesuai dengan aturan PP NO 11 tahun 2010 yang mengatur tentang Dewan Pendidikan. Komisi D DPRD juga meminta agar audensi atau pertemuan dengan DP dilakukan rutin tiap dua bulan sekali. mas

Sumber: Surabaya Post, Senin, 17/06/2013

Label: , ,

Sumenep Kota Bersejarah

Sumenep ditimur pulau Madura merupaka kota bersejarah dan tenang. Gagasan untuk mendirikan dan membangun kerajaan Majapahit digodog di kota ini oleh Raden Wijaya dan Arya Wiraraja.
  1. Pendapa kraton Sumenep, satu-satunya istana lama yang masih utuh di Jawa Timur. Kini dijadikan museum kraton.

    Pendapa kraton Sumenep

  2. Relief sebuah candi abad ke-14 M. Hanya ditemukan rerontoknya.

    Relief Candi

  3. Jalanan kota yang lengang sore hari.

    Jalan Kota Sepi

  4. Tempat tidur raja-raja Sumenep. Koleksi museum kraton.

    Tempat Tidur Raja
Sumber: Abdul Hadi WM

Label: , , ,

Keelokan Pesona yang Tersembunyi

Wisata Pantai Madura

Pantai Jumiang



Madura, selama ini sekilas dikenal hanya sebuah kepulauan yang tandus dan panas. Siapa sangka di balik imej itu Madura menyimpan pesona alam penuh keelokan. Tak percaya, coba datanglah ke daerah paling timur pulau garam ini, tepatnya Kabupaten Sumenep. Kabupaten ini memiliki puluhan kepulauan yang elok dan menawan. Ragam objek wisata mulai pantai dan kepulauan, hingga peninggalan sejarah seperti keraton dan sejumlah situs makam raja-raja Madura masa silam.

Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.000 kilometer persegi yang terbagi dua bagian, daratan seluas 1.147 kilometer persegi (17 kecamatan) dan kepulauan seluas 853 kilometer persegi. Jumlah pulau yang dimiliki sebanyak 76 buah dan luas perairan sekitar 50.000 kilometer persegi.

Untaian kepulauan yang menebar potensi keindahan bahari, menjadi primadona pawisata Sumenep yang belum terekspos sepenuhnya. Kepulauan Kangean misalnya, deretan pulau di timur Pulau Madura bak gadis berbanjar menari. Julukan tersebut diberikan karena barisan pulau yang paling besar adalah Kangean, selain masih ada lagi Pulau Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang, dan Pulau Raja. Pemerintah Kabupaten Sumenep menyebut kawasan kepulauan tersebut sebagai objek wisata Island Resort.

Objek wisata itu menawarkan birunya laut yang jernih, lekuk pantai dan terumbu karang yang sudah mati menjadi batuan, serta kesunyian yang menenangkan. Semua itu bisa dinikmati dengan biaya relatif murah. Menjelajah kepulauan tersebut tidaklah sulit. Karena puluhan kapal angkutan penumpang bisa mengantarkan kaum pelancong ke sana setiap saat. Kapal dan perahu itu bisa kita dapatkan di Pelabuhan Kalianget, sekitar 12 kilometer arah timur Kota Sumenep.

Kapal feri dari Kalianget menuju Pulau Sapudi dan Kangean, misalnya, dalam sehari terdapat empat kapal yang beroperasi pulang pergi (PP). Sekali naik tarifnya hanya Rp 5.000 per orang. Namun, jika pelancong akan mendatangi banyak kepulauan di sana, mereka bisa menyewa kapal sendiri. Tentu tarif menyewa kapal itu cukup besar, bisa Rp 1 juta sekali layar.

Kebanyakan pelancong suka naik kapal feri. Selain murah, juga bisa bercengkrama dengan penduduk kepulauan. Justru bisa bercengkrama dengan warga kepulauan inilah yang mendatangkan keunikan tersendiri bagi pelancong.

Dari Pelabuhan Kalianget, pulau-pulau yang menjadi tujuan kaum wistawan itu hanya cukup ditempuh empat jam pergi-pulang. Pada umumnya para pelancong tidak hanya sekadar menginjakkan kaki semata di pulau-pulau tersebut. Mereka acap melihat geliat warga kepulauan, panorama alam, dan mencari buah tangan. Yang unik dan menarik, buah tangan dari Pulau Kangean misalnya, adalah ayam bekisar dan ukiran kayu jati.

Di Taman Laut Pulau Mamburit, pelancong bisa menikmati taman laut yang beragam dan masih asli. Di tempat ini, wisatawan yang berhobi menyelam bisa sepuasnya menikmati dasar laut. Dengan dukungan angin yang cukup kuat dari kisaran Laut Jawa, pantai ini secara kontinyu dipergunakan wind surfing berskala nasional maupun internasional.

Gili Balak
Panorama serupa juga terdapat di Taman Laut Pulau Gililabak. Pulau Gililabak terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Kalianget, di antara Pulau Giligenting dan Pulau Puteran. Perjalanan menuju pulau ini bisa ditempuh sekitar satu jam, dengan memakai perahu motor melewati sela-sela bagan penangkapan ikan.

Taman laut ini juga acap dijadikan ajang olahraga bahari, selam dasar (snorkling/diving) dan selam profesional (scuba diving).
Berwisata di Sumenep tentu tidak bisa ditempuh hanya sehari. Sebab pelancong harus menyusuri laut menuju deretan kepulauan ini. Setelah lelah naik kapal menyusuri kepulauan, pelancong bisa beristirahat di sejumlah penginapan dan hotel di Kota Sumenep. Kemudian bisa melanjutkan menikmati wisata darat, ke Masjid Agung, Keraton (keduanya berada dalam kota), situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, dan Pantai Lombang.

Pantai Lombang
Memang. khusus untuk objek wisata pantai, selama ini yang dikenal dan acap didatangi pelancong adalah Pantai Lombang. Pantai ini terletak di Desa Lombang, Kecamatan Batang-batang, sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Sumenep. Di sepanjang perjalanan dari Sumenep menuju Lombang, mata pelancong akan disapa oleh gugusan gunung kapur dan tanah merah yang tandus.

Di hari-hari libur objek wisata ini banyak didatangi pengunjung. Unik dan indah, karena memiliki hamparan pasir putih sepanjang 12 kilometer, pada pinggiran hamparan pasir berhiaskan tumbuhan pohon cemara udang sebagai tanaman yang hanya ada di Indonesia dan Cina.

Satu-satunya pantai di dunia yang dipagari pohon cemara udang adalah Pantai Lombang. Sayang semua objek wisata di Sumenep ini terbilang masih alami, belum mendapat sentuhan secara optimal sebagai tempat wisata.

Pantai Siring Kemuning
Tak hanya wilayah Sumenep, di kabupaten Bangkalan juga terdapat pantai indah yang banyak dikunjungi pelancong, yakni Pantai Siring Kemuning. Pantai ini tepatnya terletak di Desa Mecajah di Kecamatan Tanjung Bumi, berjarak sekitar 41 km ke arah utara Kota Bangkalan.

Memulai perjalanan dari tengah kota Bangkalan, butuh waktu sekitar satu jam bagi pengendara sepeda motor untuk sampai ke lokasi. Pantai ini sesekali ramai dikunjungi jika hari libur, khususnya mereka yang berasal dari luar Bangkalan. Masuk ke lokasi, pengunjung hanya membayar retribusi masuk sebesar Rp 3.000 per orang. Sedangkan retribusi parkir sebesar Rp 2 ribu per sepeda motor.

Suasana di Pantai Siring Kemuning memang tampak masih sangat alami karena hampir tidak ada sentuhan polesan tangan manusia. Masuk ke tepi pantai, hamparan pasir putih menghadang dengan deburan ombak cukup besar menyapa. Perahu-perahu nelayan yang ada menambah pemandangan lebih indah.

Selain pasir putih, di sekitar pantai juga terdapat pepohonan rindang. Di tepi laut, juga dihiasi batu karang yang menjadi khas Pantai Siring Kemuning. Bagi pengunjung yang hendak bermain air dan ombak di pantai pasir putih Siring Kemuning diminta berhati-hati, karena menurut penduduk setempat ombaknya bertipe menyeret bukan mendorong.

Pantai Camplong
Sementara di Kabupaten Sampang ada Pantai Camplong. Kecantikan panorama Pantai Camplong seolah tak pernah pudar. Bentangan pasir putih dan laut yang biru, menjadikan Camplong salah satu destinasi favorit wisatawan yang berkunjung ke Madura.

Deburan ombak yang cukup besar, serta memiliki pantai yang landai menjadi keunikan pantai ini. Selain itu, bentangan pasir yang luas menarik wisatawan untuk datang dan bersantai di pantai ini.

Di sekitar pantai ini juga terdapat beberapa arena bermain untuk anak-anak dan beberapa sajian kuliner lokal. Tidak hanya itu, di pantai ini bisa ditemui nelayan yang menjajakan ikan segar beraneka jenis hasil tangkapannya.

Pantai Jumiang
Pantai Jumiang merupakan sebuah pantai yang terletak di desa Tanjung - Pamekasan. Pantai ini sedikit berbeda dengan pantai-pantai yang lainnya, karena pantai ini memiliki tebing yang terjal di salah satu sisinya.

Pantai Jumiang terletak agak terpencil memasuki pelosok desa. Tak heran bila keasliannya masih terjaga. Pantai ini belum ada yang mengelola. Karakteristik pantai inipun berbeda dengan pantai Camplong. Air laut yang biru muda dengan ombak kecil. Batu karang besar menghias bibir pantai tanpa pasir ini.

Pantai Jumiang, menjadi salah satu pantai wisata di Pamekasan dengan sejuta keindahan yang menawan. Pantai ini sangat digemari oleh muda mudi, karena tempatnya yang strategis untuk mereka berpacaran. Pantai Jumiang sangat cocok untuk mereka yang gemar fotografi, dan tempat yang pas untuk santai bersama keluarga sambil menikmati nuansa pantai dari atas tebing. Pepohonan yang rindang menambah sejuk suasana.

Uniknya, ada mitos yang berkembang di masyarakat bahwa jika sepasang kekasih berwisata ke Jumiang, konon katanya hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Tapi kenyataannya, bahkan banyak pasangan kekasih yang berwisata di tempat ini.
Salah satu wisata pantai yang lain di Pamekasan adalah Pantai Talang Siring. Pantai ini terletak antara perbatasan Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. Di pantai ini suasananya tidak jauh berbeda dengan Pantai Camplong yang berada di Kabupaten Sampang. Di tempat ini terdapat banyak warung yang menjual beberapa makanan dan minuman serta jajanan yang bisa dinikmati sambil duduk-duduk di pinggir pantai. (Ins, berbagai sumber)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 28/10/2012

Label: , ,

Pemkab Tak Serius Benahi Jalan Rusak

SP/Achmad Hairuddin
Kondisi ruas jalan di Desa Karang Gayam, Kec. Omben, Sampang, rusak parah. Pemkab Sampang seolah tak peduli dengan keadaan prasarana vital ini.

Keseriusan Pemkab Sampang membenahi kondisi infrastrukur ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Kec. Omben dengan Kec. Karang Penang, dipertanyakan warga. Koresponden Surabaya Post Achmad Hairuddin menuliskan curahan hati (curhat) warga tentang kondisi jalan yang tak pernah mulus.

Ruas jalan Omben-Karang Penang sangat diharapkan warga. Mengingat jalan tersebut sangat vital dalam menopang laju pertumbuhan ekonomi warga desa dikawasan itu yang mayoritas mata pencahariannya sebagai petani.

Seperti kerusakan jalan di Desa Karang Gayam, Kec. Omben, sebagian aspalnya sudah mengelupas akibat tergerus air. Bahkan separuh bahu jalan ambles karena tidak mampu menahan beban kendaraan truk yang mengangkut hasil kerajinan genteng, serta berbagai hasil tanaman palawija. Sehingga kondisi jalan yang tidak memadai tersebut sangat rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Tentu saja aktifitas warga setempat menjadi terganggu, karena kerusakan jalan yang tak kunjung dibenahi itu kondisinya semakin parah. Sehingga para pengguna jalan harus berhati-hati agar dapat menghindari dari jebakan jalan berlubang. Padahal ruas jalan tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung jarak terdekat antara Kec. Omben menuju Kec. Karang Penang maupun sebaliknya.

Menurut Abdullah warga desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, sebenarnya upaya perbaikan jalan telah dilaksanakan tahun lalu, tapi akibat kualitas pekerjaannya asal-asalan sehingga tidak bertahan lama sudah rusak kembali. Bahkan hampir 3 bulan lebih dibiarkan tanpa ada kepastian dari pemerintah untuk melakukan pembenahan.

Ia menuturkan, warga setempat pernah menolong seorang pengendara sepeda motor berasal dari Surabaya yang hendak menuju Kec. Karang Penang, mengalami kecelakaan akibat terpelanting dari sepeda motornya hingga mengalami luka serius dibagian kepala, lengan serta kakinya.

"Pengendara yang tidak paham medan jalan melaju dengan kecepatan tinggi disaat malam hari, tiba-tiba terjatuh karena tanpa sadar melalui jalan yang rusak dan berlubang. Oleh karena itu kami berharap agar pemerintah secepatnya membenahi jalan yang rusak tersebut, di samping itu perlu pengawasan ketat terhadap kontraktor yang mengerjakan proyek jalan supaya hasilnya benar-benar bagus dan tidak lekas rusak," tutur Abdullah dihubungi Senin (19/3).

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Sampang, Mohammad Zis, ketika dikonfirmasi menegaskan, Pemkab sangat serius dalam upaya meningkatkan prasarana infrastruktur jalan dan jembatan. Terbukti dalam kegiatan penanganan jalan 2012, Dinas PU Bina Marga menerima kucuran dana untuk proyek Pemeliharaan Berkala (PB) jalan kabupaten bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 5,091 miliar.

"Sedangkan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) Sampang, antara lain untuk proyek PB mencapai Rp 2,5 miliar, kita juga menerima bantuan dana proyek pembangunan jalan senilai Rp 7,3 miliar, serta proyek pembangunan jembatan sebesar Rp 6,9 miliar. Bahkan untuk proyek pembangunan jalan dan jembatan pedesaan alokasinya mencapai Rp 17,021 miliar, ditambah rehab atau pemeliharaan jalan dan jembatan desa sebesar Rp 9,8 miliar," jelas Zis.

Ia menambahkan, pengawas lapangan juga akan menindak tegas terhadap rekanan yang diketahui melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan ketentuan Rencana Anggaran Belanja (RAB). Karena apabila tidak sesuai RAB, maka dapat berpengaruh terhadap kualitas proyek tersebut.

"Bahkan kita tidak segan-segan black list rekanan nakal itu sebagai efek jera bagi rekanan yang lain," tegasnya.

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19/03/2012

Label: , , , , , , ,

Kantin Sekolah Sehat Berbahan Pangan Lokal

SP/Masdawi Dahlan
M Syaiful Arifin MSi
Kantor Ketahanan Pangan Pamekasan mulai tahun ini akan membuat program Kantin Sekolah Sehat Berbasis Bahan Pangan Lokal. Program ini akan dilaksanakan di lima Sekolah Dasar. Kini program tersebut sudah disosialisasikan kepada para Kepala Sekolah. Bulan April mendatang sosialisasi akan dilakukan bagi para pengelola kantin yang berbentuk pelatihan di masing masing sekolah penerima program.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Pamekasan Muhammad Syaiful Arifin di dampingi Frida Eka Maria, Kasi Keanekaragaman Pangan mengatakan, program ini akan di lakukan di lima SD yakni SDN Barurambat Kota V Kecamnatan Pamekasan, SD Plus Nurul Hikmah Pamekasan, SDN Telesah I Kecamatan Tlanakan, SDN Majungan I Kecamatan Pademawu dan SDN Pegantenan I Kecamatan Pegantenan.

“Sosialisasi kepada para pengelola kantin dilakukan dalam bentuk pelatihan praktek cara mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan modern yang disukai anak. Makanan modern yang dimaksud adalah makanan sehat berimbang, bergizi, beragam dan aman, ” ujar Syaiful, Rabu (14/3).

Lima SD penerima program tersebut nanti akan diberi bantuan dalam bentuk barang dan bahan pangan lokal. Bantuan barang berbentuk sarana misalnya etalase, lemari es, kompor gas, blender dan lain sebagainya yang merupakan peralatan untuk membuat kue dan makanan. Selain itu juga bantuan berupa bahan pangan lokal misalnya buah, ikan dan bahan pangan lokal lainnya.

“Yang dimaksud makanan bahan lokal modern itu adalah misalnya nanti bagaimana cara membuat bakso dengan bahan ikan laut. Lalu membuat bahan makanan yang enak dan bergizi dari bahan rumput laut dan lain sebagainya. Pokoknya nanti latihan difokuskan pada bagaimana bahan makanan lokal itu menjadi makanan yang modern enak dan sehat,“ ungkapnya.

Syaiful menambahkan bahwa sengaja program ini dilakukan di lima SD yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan di Pamekasan, dengan tujuan sebagai percontohan untuk pembudidayaan makanan yang bernuansa bahan lokal yang berbeda. Diharapkan nanti SD lainnya di satu wilayah kecamatan juga mengikuiti program tersebut.

Lantas mengapa program ini dilakukan di Sekolah Dasar? Syaiful menegaskan bahwa program ini dilaksanakan di tingkat Sekolah Dasar dengan alasan agar sejak dini anak terbiasa mulai sejak kecil mengetahui dan berrminat untuk mengonsumsi makanan sehat dan bergizi dari bahan pangan lokal.

Program ini juga, kata Syaiful, sebagai motivasi bagi masyarakat umum tentang makna dan perlunya optimalisasi bahan pangan lokal untuk menjadi produk makan yang berkualitas dan bergizi. Sehingga secara tidak langsung program ini menggugah masyarkat untuk meningkatkan ekonomi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah menjadi makanan enak bergizi yang bernilai jual mahal. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 15/03/2012

Label: , ,

Warga Pulau Mandangin Resah

SP/Achmad Hairuddin
Perahu pengangkut penumpang warga Pulau Mandangin sedang bersandar di Pelabuhan Tanglok Sampang.

Jelang Kenaikan BBM

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang akan diterapkan pemerintah 1 April 2012 mendatang, mulai menghantui para nelayan dan perahu pengangkut penumpang warga Pulau Mandangin, Kota Sampang. Karena dampak kenaikan BBM tersebut akan berpengaruh terhadap biaya operasional yang harus dikeluarkan sehari-hari.

Padahal perahu merupakan akses satu-satunya bagi warga kepulaun yang berpenduduk sekitar 6 ribu jiwa tersebut, untuk bepergian ke Kota Sampang, selain mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan.

"Seharusnya pemerintah memikirkan kami sebagai rakyat kecil karena selalu menjadi korban. Sehingga kami kesulitan untuk menaikkan ongkos penumpang karena warga di sini juga kesulitan ekonomi," keluh Sahrawi, pemilik perahu yang mengangkut penumpang dari Pulau Mandangin ke Kota Sampang, Senin (12/3).

Keresahan juga disampaikan Hasan, dia kecewa karena kenaikan BBM dinilai terlalu tinggi, tetapi sudah diumumkan jauh-jauh hari. Sehingga harga kebutuhan bahan pokok dipastikan ikut-ikutan latah akan merangkak naik, tentu saja semakin menimbulkan gejolak sosial bagi warga miskin.

"BBM Belum naik, harga sembako kini malah sudah mulai membungbung tinggi. Sedangkan kami masih harus berpikir dua kali menaikkan tarif penumpang karena pasti akan diprotes para pelanggan kami," tutur Hasan.

Tidak hanya pemilik perahu penumpang yang resah, nelayan setempat juga kelimpungan mendengar BBM naik. Mengingat mencari ikan merupakan satu-satunya mata pencaharian bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena sering kali hasil tangkapan ikan sedikit, tidak sebanding dengan biaya operasional yang telah mereka keluarkan.

Sukri, nelayan Pulau Mandangin, menuturkan harga solar yang saat ini sudah mencapai Rp 4.500/liter, para nelayan sudah banyak yang tidak bisa mendapatkan keuntungan yang layak. Pasalnya, hasil tangkapan ikan yang didapatkan saat melaut tidak menentu dan mengalami penurunan, bahkan sering kali mereka hanya sedikit mendapatkan tangkapan ikan.

"Sebelum BBM akan dinaikan, kalau hasil tangkapan ikan lagi sepi, kita sudah merugi karena biaya operasional dan hasil tidak sesuai. Apalagi di saat cuaca tidak menentu atau ekstrim, membuat para nelayan tidak berani melaut, sehingga tidak ada pemasukan sama sekali. Jadi, kami berharap agar pemerintah untuk tidak lagi menaikan harga solar," harap Sukri.

Keresahan para nelayan itu juga dipicu oleh penjualan hasil tangkapan ikan kadang tidak bisa stabil dan sering kali harganya mengalami penurunan cukup drastis. Tentu saja jika harga ikan turun, maka secara otomatis penghasilan nelayan juga akan mengalami penurunan. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 12/03/2012

Label: , , , , ,

Pemprov Sentuh Pendidikan di Madura Berkualitas

SP/Ahmad Hairuddin
Kepala Dispendik Jatim, Harun (baju batik) saat berkunjung ke SMKN 2 Sampang.

Proses pembelajaran dalam program pendidikan di pulau garam, Madura kian berkembang pesat. Tumbuh kembangnya pendidikan di Madura dengan tingkat ketrampilan siswanya tak lepas dari peran serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melaui Dinas Pendidikan Jatim. Sebut saja, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Sampang yang hingga kini terus dikebut pembangunannya. Meski tergolong baru, namun sekolah bernilai Rp 15 miliar sumbangan Pemprov Jatim itu tidak ingin ketinggalan dengan skill siswa yang dicetaknya.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang sudah menyiapkan Politeknik Madura (Poltera) untuk menampung lulusan SMKN 2 tersebut. Pemerintah setempat berkeyakinan, lulusan SMKN 2 bisa diandalkan sebagai sekolah unggulan yang memiliki standar pembelajaran sekolah kejuruan. “Sekolah ini merupakan salah satu sekolah sumbangan dari Pemprov Jatim,” tutur Bupati Sampang Noer Tjahja.

Sekolah ‘mahal’ yang dibangun sejak 2011 lalu itu memiliki 3 penjurusan yang dikembangkan dengan ketrampilan mesin, pengelasan dan teknik pengolahan hasil pertanian. Menurut Noer, tenaga terampil lulusan SMK ini akan dipakai untuk pengeboran minyak di Sampang. “Karena, di sini (Sampang, red) ada puluhan titik minyak yang perlu di eksplorasi,” katanya.

Ungkapan tersebut tersembul saat kunjungan kerja (kunker) jajaran Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim yang langsung dipimpin Kadispendik Jatim, Harun ke Sampang, dan Pamekasan, Madura. “Kami hanya ingin melihat secara langsung pendidikan di Madura,” tandas Harun.

Dalam kunjungannya, Kadispendik didampingi Sekretaris Dispendik Jatim Sucipto, Kabid TK, SD dan Pendidikan Khusus (PK) Dispendik Jatim Nuryanto, Kabid Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Nasor, Kabid Pendidikan Menengah Pertama (PMP) dan Pendidikan Menengah Atas (PMA) Bambang Sudarto, Kabid Pendidikan SMK Gatot Gunarso, Kabid Tenaga Pendidik dan Kependidikan Nur Sri Mastutik serta Kepala UPT PPPK Sumardijono dan sejumlah Kasi di lingkungan Dispendik Jatim.

Di awal perjalanan, Kadispendik Jatim Harun bersama rombongan menilik proses pendidikan di tingkat PAUD dan TK. Peninjauan di lembaga yang bernama Pusat Pendidikan dan Pembinaan anak Al Uswah Center Pamekasan itu karena sekolah ini menjadi percontohan di Jatim. “Karena PAUD ini memiliki metode berbeda dalam mendidik siswa,” katanya.

Metode pembelajaran tersebut langsung menggunakan alat peraga sebenarnya. Misalnya dalam pengenalan hewan, pendidik sekolah terpadu ini mendatangkan hewan agar anak didik benar-benar mengetahui jenis-jenis hewan yang dipelajari. Untuk diketahui, dalam pengembangan PAUD ini langsung dibawah kendali Ketua Bunda PAUD Jatim Nina Soekarwo.

Selanjutnya, perjalanan diarahkan melihat kondisi SDLB dan SMPLB di Pamekasan, SMPN 2 Pamekasan dan SMAN 1 Pamekasan. Kedua sekolah ini dipilih karena berhasil menelurkan anak-anak berprestasi, mulai juara regional sampai international. “Mereka akan mendapat bimbingan khusus di sekolah untuk terus meningkatkan prestasi,” kata Kabid PMP dan PMA Bambang Sudarto dihubungi terpisah.

Bukan hanya itu, mobil praktek milik Dispendik Jatim juga dilihat saat berada di SMK Al Falah Pasean Pamekasan. Mobil ini mendidik siswa-siswa SMK untuk bisa terampil.

“Pelayanan mobil kami sampai ke SMK di seluruh pelosok Jawa Timur,” aku UPT PPPK Dispendik Jatim Sumardijono.

Sebelumnya, Dispendik Jatim juga sempat mengunjungi sekolah serupa di Kabupaten Bondowoso. Di daerah yang dikenal dengan cemilan khas tape ini, kunjungan dilakukan di SMK yang berdiri di lahan 3 hektar hasil sumbangan Pemprov Jatim senilai Rp 15 miliar dan PAUD terpadu andalan yang menjadi percontohan di Jawa Timur, Widya Mandala Kembang Bondowoso.

PAUD percontohan ini telah memiliki 94 anak didik dan 11 pengajar. PAUD ini memiliki tiga lembaga yakni PAUD,TK dan Tempat Penitipan Anak (TPA). Sedangkan, di SMK yang menghabiskan anggaran Rp 15 miliar tersebut memfokuskan pada ketrampilan siswa bukan hanya mengedepankan teori.

“Karena sarana dan pra sarana di SMK ini sudah dilengkapi pemprov. Jadi, kami bangun sekolah beserta sarana dan pra sarana penunjangnya,” kata Kadispendik Jatim Harun. (sab)

Terkait:

Sumber: Surabaya Post, Senin, 12/03/2012

Label: , , , , , ,

SMK Internasional Kotor, Bupati Berang

Malu ‘kepergok’ Kadispendik Jatim Harun saat kunjungan kerja

Bupati Sampang, Noer Tjahja rupanya merasa berang melihat kondisi peralatan yang dimiliki Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Sampang, yang sudah bertaraf internasional ternyata terlihat kotor dan tidak terawat.

Tanpa tedeng aling-aling, dia memarahi Kepala Sekolah (Kasek) SMKN 2 Internasional, Mohammad Ghozali, dihadapan Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Provinsi Jatim, Harun, ketika melakukan kunjungan kerja (Kunker) di sekolah yang dibangun di atas lahan seluas satu hektare (ha) dengan menelan dana APBD Jatim 2010, sebesar Rp 15 miliar.

Noer Tjahja mengaku kecewa dengan kinerja Kasek yang dinilai tidak mampu memelihara bantuan dari Pemrop Jatim tersebut. Sehingga ia menyampaikan kepada Harun agar tidak perlu dibantu lagi, jika tidak sanggup merawat peralatan yang dibeli dengan harga mahal itu.

"Saya benar-benar malu dengan Bapak Harun, masak saking kotornya peralatan yang ada sampai bisa ditulisi karena sudah penuh dengan tumpukan debu. Ini menunjukkan bahwa peralatan itu tidak dirawat sama sekali, jadi apabila kondisi seperti itu Kepala Sekolah tidak pantas menjabat lagi, mending diganti dengan guru lain saja," kata Noer Tjahja dengan nada tinggi, Jumat (9/3) sore.

Menurutnya, membangun itu mudah tapi justru yang sulit malah memelihara, ia mengkritisi jika memang terdapat jaringan listrik yang kurang memadai, sehingga dapat menganggu kerja praktekum siswa. Namun Kasek setempat jangan hanya berpangku tangan tapi harus berusaha mencari solusi.

"Gimana mampu bersaing dengan sekolah lain, jika tidak ada upaya meningkatkan kinerja dan memelihara dengan baik bantuan yang dikucurkan Pemprop Jatim cukup besar tersebut," tegasnya.

Dia menyatakan, seharusnya masyarakat bangga karena dari 5 kabupaten di Jatim yang menerima bantuan pembangunan SMK, hanya Kab. Sampang yang telah rampung membangun gedung sekolah tersebut. Sehingga pihaknya menekankan jangan menyiayiakan bantuan itu, karena merupakan peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sampang.

Sementara itu, Harun saat meninjau gedung SMKN 2 Sampang, menyatakan, dirinya melihat prasarana dan sarana sudah memadai, sehingga anak didik sekolah tersebut dapat berkompetensi dalam berkiprah dalam menampung tenaga kerja. Dispendik Jatim memang telah lama merancang SMK berkualitas, sehingga diharapkan dengan berdirinya SMK baru ini bisa mencetak lulusan yang trampil, handal dan siap memasuki dunia kerja.

"Kami ingin para lulusan SMK kelak mampu menjawab tantangan dunia kerja sesuai dengan kejuruan yang mereka tekuni," tandasnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 10/03/2012

Label: , , , , , ,

'Gatean' Tumbuhkan Semangat Gotong Royong


SP/Masdawi Dahlan
Makanan dan buah yang siap dihidangkan

Kegiatan tradisi keagamaan gatean yang digelar Pemkab Pamekasan, Minggu (26/2) kemarin cukup meriah. Betapa tidak, tradisi tahunan yang digelar dalam memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW ini selain diikuti oleh seluruh karyawan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan, juga diikuti oleh masyarakat umum yang menyaksiklan acara ini.

Gatean berasal dari bahasa Madura, yang artinya semangat untuk berpartisipasi dan bekerjasama. Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ada tradisi umat Islam Pamekasan zaman dahulu, yakni umat Islam dalam memperingati Maulid Nabi dengan bergotong royong menyediakan makanan dan buah buahan yang dibawa ke masjid atau rumah kiai.

Langkah ini dilakukan sebagai pengganti karena tidak semua umat Islam bisa menggelar sendiri acara peringatan maulid. Gantinya peringatan maulid dipusatkan di masjid. Umat Islam menyumbang sebagian makanan dan buah buahan dibawa ke masjid yang tengah melaksanakan peringatan maulid. Di masjid itulah lalu makanan dan buah itu juga dimakan bersamaaan dengan para undangan dan tamu lainnya.

Peringatan gatean yang dilaksanakan Minggu kemarin merupakan yang kedua kalinya digelar oleh Pemkab Pamekasan. Pertama dilakukan pada Maulid tahun 2011 lalu. Tempatnya dilaksanakan di areal monumen Arek Lancor. Karena dilaksanakan di tengah-tengah kota, maka kegiatan keagamaan ini banyak disaksikan oleh masyarakat sekitar maupun orang luar Pamekasan yang melintas dikota Pamekasan.

Seluruh instansi di lingkungan Pemkab Pamekasan mengirim satu regu karyawannya untuk hadir mengikuti ritual Gatean ini. Jumlahnya mencapai 80 kelompok. Bahkan dari instansi pemerintah lainnya, seperti dari Kantor Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Pamekasan juga hadir mengikutsertakan karyawannya.

Semua kelompok peserta gatean masuk di arena Monumen Arek Lancor dari jalur yang berbeda. Ada yang masuk dari arah timur, dari arah barat dan arah selatan. Mereka berbaris rapi menggunakan pakaian adat yang bernuansa Islami. Mereka membawa aneka ragam makanan dan buah buahan, ada yang dibawa becak ada yang dibawa kendaraan mobil terbuka.

Yang tak kalah menariknya bersamaan dengan rombongan peserta gatean ini ada juga yang membawa hiburan seperti hadrah. Para peserta kirab gatean ini juga tak lupa ikut berjoget mengiringi irama hadrah, sehingga menambah suasana meriahnya acara Gatean tersebut.

Bupati Pamekasan Khalilurrahman dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Bupati Kadarisman Sastrodiwirjo mengatakan, bahwa sengaja Pemkab Pamekasan menggalakkan tradisi Gatean ini karena tradisi itu merupakan tradisi leluhur umat Islam Pamekasan dan Madura pada umumnya yang bernilai baik dan layak dilestarikan.

Gatean ini memupuk semangat gotong royong. Bukan hanya acara seremonial Maulid Nabi saja namun juga bermakna memotivasi semangat hidup kebersamaan. Sehingga pantas kalau tradisi ini kita hidupkan kembali tiap tahun, sebagai bagian dari tradisi khas keagamaan Pamekasan yang bernilai positif,” katanya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 28/02/2012

Label: , , , , , ,

Sumenep Kemas Wisata Religi

SP/Etto Hartono
Masjid Agung Kota Sumenep Yang dibangun oleh Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat (1762-1811 M). Inzet: Bupati Sumenep, A Busyro Karim.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura berencana mengemas wisata religi menjadi salah satu penunjang untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Kedepan, pemerintah daerah akan mengemas wisata religi menjadi wisata yang berdampak ekonomis bagi masyarakat. Dan otomatis akan meningkatkan pendapatan asli daerah," kata Busyro Karim, Bupati Sumenep, Minggu (26/2) pagi.

Selama ini, wisata religi belum maksimal digarap. Padahal, sudah ada pasar dan pengunjung dari berbagai daerah. Setiap hari terdapat bus pariwisata antara 8 sampai 10 unit. Bahkan, pada saat liburan bisa lebih dari 20 bus.

Geliat wisata religi, kata dia, sangat terasa dan pengunjung berasal dari berbagai daerah di tanah air. Mereka berziarah ke pemakaman raja-raja Sumenep di Asta Tinggi. Lalu, ke Masjid Agung, Musium Keraton dan melanjutkan ke makam Sayyid Yusuf di Kecamatan Talango, Kepulauan Poteran.

Kemasan wisata religi yang diinginkan orang nomor satu ini yakni diawali dari pengadaan lahan parkir bus wisata yang direncanakan bakal memanfaatkan bekas terminal lama. Dari lokasi parkir tersebut, peziarah bisa menggunakan jasa becak, odong-odong atau menghidupkan kembali angkutan dokar yang merupakan kekayaan budaya Sumenep.

Peziarah bisa langsung lewat lingkar barat menuju pemakaman raja-raja atau lewat jalur kota. Sepulangnya dari Asta Tinggi, baru ke musium sambil belanja souvenir khas Sumenep.

"Kemasan wisata religi ini, memang butuh waktu. Selain di Asta Tinggi perlu penataan yang harus dilakukan pemerintah daerah dengan yayasan, juga masih menunggu renovasi dan perpindahan kantor Dinas Kesehatan ke sebelah timur kantor pemerintah daerah," katanya.

Menurut dia, wisata religi perlu dikemas dalam bentuk paket serta mendapat dukungan penuh dari masyarakat serta sinkronisasi antar SKPD. Di dalamnya tentu melibatkan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga selaku leading sektornya, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Perdagangan, pihak aparat kepolisian selaku penanggungjawab keamanan maupun pihak lainnya.

Rencana paket wisata religi tersebut, akan menjadi satu paket dengan wisata kota tua dan musium garam di wilayah Kecamatan Kalianget. Lokasi tersebut merupakan perlintasan para peziarah sebelum ke Asta Sayyid Yusuf, kepulauan Poteran yang ditempuh melalui Pelabuhan Kalianget.

"Kemasan paket wisata religi ini tentu harus murah. Meski masih banyak hal yang harus dibenani, baik oleh pemerintah daerah maupun oleh yayasan selaku pengelola pemakaman raja-raja Sumenep. Kapan lagi jika tidak dimulai dari sekarang," ungkapnya.

Pemerintah daerah juga telah memulai pasar kaget yang digelar setiap hari Minggu pagi di sepanjang jalan dr Soetomo atau depan musium keraton Sumenep. Bahkan, lahan di sebelah timur 'Labeng Mesem' (pintu masuk keraton) juga akan dimaksimalkan sebagai pusat oleh-oleh yang nantinya akan dikembangkan ke bangunan yang saat ini ditempati Kantor Dinas Kesehatan.

"Dari kemasan wisata religi ini, tentu diharapkan ada keterlibatan semua pihak, baik pengrajin batik, souvenir, kuliner maupun sektor ekonomi masyarakat lainnya. Target pemerintah daerah, harus ada dampak positif bagi masyarakat luas, baik dilokasi wisata religi maupun masyarakat lainnya," tandasnya.

Selain itu, Busyro juga menginginkan percepatan pembangunan sejumlah wisata alam, baik di kepulauan maupun daratan. Sehingga, berharap ada investor yang mau menanamkan modalnya. Sejumlah lokasi wisata, baik Pantai Slopeng, Pantai Lombang dan wisata Kesehatan di Pulau Giliyang sudah layak dijual dan mampu menyedot pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Untuk itu, ciri khas, adat istiadat dan budaya asli Sumenep jangan sampai luntur. Karena dengan budaya yang mempunyai ciri khas itulah Sumenep bakal lebih maju dan layak dikunjungi penziarah maupun wisatawan lainnya. (md2)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 26/02/2012

Label: , , , , , , , , ,

Pantai Slopeng - Sumenep,
Pantai Indah nan Alami di Ujung Timur Laut Madura

Laut di Pantai Slopeng yang tenang ditambah dengan pemandangan barisan perahu nelayan tradisional di bagian barat pantai.
(OSCAR NUGROHO/THE EPOCH TIMES)

Pantai Slopeng merupakan pantai “kedua” di Kabupaten Sumenep, setelah Pantai Lombang.

Untuk menuju ke pantai ini, dari kota Sumenep, Anda ambil jalan ke utara, arah ke Bangkalan/Surabaya melalui jalur utara. Maka kurang lebih setelah 20 km perjalanan meninggalkan kota Sumenep, Anda sudah akan tiba.

Memang dengan jarak yang jauh dari kota Surabaya, ditambah dengan tidak adanya sarana transportasi udara menuju ke Pulau Madura, membuat pantai ini tidak terlalu ramai pengunjung. Kalaupun ramai, hanya pada saat hari libur sekolah, itu pun didominasi oleh wisatawan lokal dari sekitar daerah situ.

Namun justru dengan kondisi seperti inilah yang sangat menyenangkan bagi penikmat panorama alam seperti saya ini. Kecantikan pantai ini sama sekali belum terusik. Dengan laut biru yang tenang, pasir pantai yang bersih, deretan karang di sebelah timur pantai, dan barisan perahu nelayan di sebelah barat pantai, makin menambah “hidup” suasana pantai alami ini.

Pantai Slopeng ini memang tidak se-“khas” Pantai Lombang, yang terkenal dengan cemara udang-nya, namun vegetasi di pantai ini juga cukup unik dengan jajaran pohon siwalan yang tumbuh di tepi pantai. Dan yang menjadi keunikan di pantai ini adalah kuda-kuda yang disewakan untuk pengunjung yang biasanya dihias dengan berbagai macam pernak-pernik berwarna-warni.

“Kuda-kuda ini biasanya selain disewakan, juga dipakai untuk mengiring upacara pernikahan di daerah sini,” tutur Imam, salah satu pemilik kuda. “Biasanya kuda dibeli sejak kecil, kemudian dirawat dan dilatih, sehingga antara kuda dan pemilik biasanya telah terjalin hubungan emosional yang dekat,” tambahnya.

Jajaran pohon siwalan yang tumbuh di sekitar Pantai Slopeng.
(OSCAR NUGROHO/THE EPOCH TIMES)

Selain sebagai tempat berwisata, Pantai Slopeng ini juga tempat yang cocok untuk digunakan memancing, karena banyak terdapat berbagai jenis ikan laut, seperti ikan tongkol, dan lainnya. Kemudian di hari-hari besar seperti hari ketupatan, di tempat ini banyak ditampilkan antraksi wisata seperti kesenian tradisonal dan lomba sabung ayam. Tak ketinggalan pula berbagai aktivitas olah raga air seperti perahu layar, dan selancar angin.

Dan setelah lelah melakukan berbagai aktivitas, Anda dapat beristirahat sambil menikmati suguhan aneka makanan seperti rujak madura, bakso, maupun soto, diiringi dengan kelapa muda dan siwalan segar, yang tentunya dijual dengan harga yang sangat terjangkau. (Oscar Nugroho / The Epoch Times)

Sumber: The Epoch Times, Jumat, 08 Juli 2011

Label: , , , , ,

7-Year-Old Indonesian Turns Mountains Into Molehills

Indonesian mountaineer Arya Sugiarto, aged 7, has his sights set on major peaks in Europe and the Himalayas. (Photo courtesy of Arya Cahaya Mulya Sugiarto)

Little Arya Cahaya Mulya Sugiarto could be one of the bravest 7-year-olds in the world.

He has already climbed 14 mountains and is now ready to climb more of the world’s highest peaks. To mark National Children’s Day on July 23, Arya will attempt to conquer the highest mountain in Europe, Russia’s Mount Elbrus. From there, he will go on to climb an even higher peak in the Himalayas to mark Universal Children’s Day on Nov. 20.

The young adventurer from Pemekasan, Madura, East Java has impressed mountain climbers worldwide with his feats and even sparked the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono. When he reaches the peak of Mount Elbrus on National Children’s Day, Arya will receive a call from the president to congratulate him on his achievements and commend him for inspiring the children of Indonesia to follow their dreams.

Reaching the peak of Elbrus is only the start of Arya’s adventures this year. In November he will attempt to climb Imja Tse, better known as Island Peak, a 6,189-meter peak in the Himalayas.

The first expedition, Ekspedisi Cahaya Indonesia (Light Expedition Indonesia), was developed by mountain-climbing instructor Budi Cayono to help Arya become the youngest person to ever conquer Mount Elbrus.

Budi said that Arya’s achievements encourage other children to get involved in sports and enjoy the outdoors. Arya’s father, Agus Sugiarto, said it is important for children to fulfill their dreams, and he hopes that “Arya’s dream comes true, to climb up this snowy mountain.”

First celebrated globally in 1953, Universal Children’s Day was established to promote children’s welfare worldwide and their contributions to society. By conquering Mount Elbus and Imja Tse, Arya hopes to set an example for children of all walks of life.

Arya’s little footprints have made their impression on many a mountain; he has been hiking since before he could walk. His father, Agus, said he used to carry him on mountain climbs when he was just 8 months old. But it was not long before Arya found his feet: “He was only 3 years old when he started to hike by himself and didn’t want to be carried anymore.”

In fact, Arya has climbed 14 tall mountains in Indonesia, the highest of them being Mount Semeru in Java in August 2010 when he was just 5, and then Mount Rinjani in Lombok last year.

He is the youngest person ever to conquer those mountains, and Agus said that these were the hardest mountains so far. But the treacherous peaks do not seem to faze Arya — last year the boy told the tabloid magazine Nyata that it was “nice to be able to reach the top of the mountain; I can see God’s creation.”

Mount Elbrus will be Arya’s hardest climb to date. Reaching heights of 5,642 meters, the icecap of Mount Elbrus feeds 22 glaciers. The inactive volcano is considered the world’s 10th most prominent mountain.

The highest mountain in Europe would certainly be a risk and a challenge to the most competent of mountain climbers. Yet Agus insists that Arya is in no danger.

“Mount Elbrus is safe enough for a kid his age to climb. The important thing is to always be careful, take notice and pay attention to weather conditions,” he says.

Budi, Arya’s instructor, will lead the expedition to Mount Elbrus and has trained Arya in preparation for the climb.

“I have full confidence that Arya can reach the top of Mount Elbrus on National Children’s Day,” he said. “I have seen him climb Rinjani and he was so happy doing it all the way to the top.”

“If you watch the way he climbs the mountains, you will be amazed, because Arya walks so excitedly,” he added. “Even if it is raining heavily and the terrain is slippery, he still carries on and enjoys the journey.”

Arya and his mountain-climbing team, which includes instructor Budi, father Agus, and a team of experienced climbers, will depart for Moscow on July 9. There they will meet a team of local guides and start their climb at the base of Mount Elbrus on July 15.

After reaching the summit and speaking to the president, Arya will begin his descent and arrive at the base camp on July 26.

To prepare for this ambitious expedition, Arya has undergone daily training. He runs every afternoon and goes mountain climbing every weekend. Budi insists that the mountain is safe to climb, as long as Arya is prepared.

“Mountain climbing is very safe, as long as climbers follow the rules and techniques — especially for young climbers — so they need a lot of preparation,” he says.

Budi says July’s expedition will take longer than it would for more experienced climbers, but believes safety comes before speed.

“Arya requires a longer adjustment [than adults], and his safety is the most important thing,” he said.

Fully aware of the risks, Arya knows how important safety is after coming into trouble while mountain climbing last year. The expedition, Ekspedisi Cahaya Merdeka (Independent Light Expedition) saw him conquer 12 mountains in only three months.

Yet some of the climbs were hindered by stormy weather. The climbers experienced heavy rainstorms and were forced to take shelter in their tents.

The rain prevented Arya from sticking to his original plans, yet Budi said Arya stayed strong.

“He was still fit and in a good condition when he completed the journey,” Budi said.

Label: , , , , , ,

Bahasa Madura Semakin Luntur

Komunikasi orang tua-anak dengan Bahasa Indonesia, malu dengan tetangga jika berbahasa Madura

Bahasa daerah Madura sebagai salah satu kekayaan budaya, kini mulai jarang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahkan dikhawatirkan muatan lokal tersebut terancam luntur karena dianggap sudah ketinggalan zaman.

Ironisnya, para orang tua malah justru berkomunikasi dengan anaknya mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga bahasa Madura makin jauh ditinggalkan oleh generasi muda, karena mereka makin tidak paham dengan bahasa ibunya.

Ketua Dewan Pendidikan Sampang, Daud Bey menyatakan, dirinya sangat miris melihat perkembangan bahasa Madura yang mulai ditinggalkan oleh pengikut sukunya sendiri. Padahal bahasa daerah tersebut merupakan bagian dari jati diri dan karekteristik bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga Dewan Pendidikan Sampang kini sedang berupaya melakukan langkah terobosan dengan berupaya menciptakan sistem pembelajaran Bahasa Madura yang mudah di tangkap anak usia dini.

Menurutnya, penyebab lunturnya bahasa Madura itu karena seringkali para orang tua menerapkan bahasa Indonesia kepada anaknya, hanya karena semata-mata malu terhadap tetangga sekitarnya. Sehingga perlu diciptakan sebuah metode pembelajaran baru agar bahasa Madura bisa diserap dan difahami secara mudah oleh para siswa di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

"Dari hasil penelitian terhadap tiga SD, masing-masing SDN Gunung Sekar 1 dan 2, serta SDN Polagan. Sistem pembelajaran yang dibuat bukan hanya bertujuan memudahkan dalam mengerjakan soal mata pelajaran bahasa daerah, namun juga memberikan pemahaman pengunaan bahasa Madura yang baik dan benar," terang Daud, ditemui Sabtu (11/2).

Dia memaparkan, bahasa Madura saat ini telah terjadi pergeseran nilai di kalangan masyarakat setempat. Sehingga terjadi kesalahan pahaman dalam pengunaannya sehari-hari, bahkan terkesan dicampur aduk tanpa memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi.

"Sebenarnya bahasa Madura hampir sama dengan bahasa Jawa, dibagi menjadi tiga bagian dengan rincian, pertama bahasa enjak-iyah yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar seusia. Kemudian kedua bahasa enggi-enten sebagai bahasa komunikasi antara yang muda dengan yang tua. Sedangkan jenis ketiga, bahasa enggi-bunten sebagai bahasa komunikasi antara usia muda dengan orang lain yang lebih dihormati. Namun dalam praktek sehari-hari tatanan bahasa tersebut dicampur aduk, karena minimnya bekal pengetahuan yang dimiliki generasi muda," tambahnya.

Sementara itu, Abi Kusno, Kepala Bagian (Kabag) Kurikulum dan Pengembangan Mutu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang, menjelaskan, bahwa kurikulum mata pelajaran Bahasa Daerah Madura jamnya memang sangat terbatas. Siswa yang bisa mengenyam pelajaran bahasa daerah hanya di tingkat SD dan SMP dengan jatah waktu 2 jam dalam seminggu. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), pelajaran bahasa daerah memang tidak di masukkan dalam kurikulum.

"Kita mengakui mata pelajaran bahasa daerah Madura kurang mendapat perhatian serius karena dianggap bukan salah satu mata pelajaran yang penting. Sehingga kita akan mengusahakan agar jam pelajarannya ditambah, serta dimasukkan dalam kurikulum untuk tingkat SMA. Kita berharap dengan dibuatkan Perda tentang bahasa Madura, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kekayaan budaya agar tidak semakin luntur karena terkikis modernisasi," katanya. (rud)

Terkait:

Sumkber: Surabaya Post, Sabtu, 11/02/2012

Label: , , , , , ,

Goa Lebar, Indah namun Mengancam Nyawa

Saat pulang kampung, saya sempat mengantar ibu yang penasaran ingin berkunjung ke ‘goa lebar’ di Sampang, Madura. Berdasarkan memori masa kecil (tahun 1983), beberapa teman pernah mengajak saya bermain ke sana.

Yang saya temui adalah sebuah lobang besar buatan manusia penuh dengan kesibukan penduduk setempat yang sedang menambang batu kapur untuk batu bata. Sedemikian besarnya lobang itu sehingga saya seperti memasuki dunia lain saat berada di dalamnya. Dan itu tidak sekali dua kali. Namanya bocah lelaki pasti berupaya mengeksplorasi menemukan hal-hal baru di luar rumah. Sehingga saya tahu betul setiap detail dan lekuk gua buatan ini.

Oleh Indra Kristika

Empat tahun kemudian saat masih berseragam biru putih sempat terdengar berita, sebagian sisi goa runtuh dan menimpa penambang batu gamping yang sedang mencari nafkah. Jelas terbayang kengerian luar biasa. Bagaimana tidak, dengan begitu banyaknya penambang yang sedang bekerja, kemudian batu seberat ratusan ton runtuh menimbun mereka, bagaikan menginjak cacing dengan sepatu lars tentara. Ajaibnya, hanya tiga penambang yang dikabarkan meninggal. Lainnya luka-luka saja. Sejak peristiwa runtuh itu, tidak pernah lagi saya ke goa lebar. Apalagi semenjak studi di Surabaya, kian menjauhkan saya dari ritual masa kecil (eksplorasi) ke tempat penuh tantangan itu. Sekarang pun, kalau sempat pulang kampung, paling top pergi ke pantai Camplong bersama dua gadis kecil saya yang baru menginjak usia 4 dan 9 tahun.

Tetapi ketika ibu menceritakan penjelasan dari adik saya tentang megahnya goa itu, indahnya pemandangan dari bukit yang ada di atasnya, apalagi dengan tambahan-tambahan irrasional seperti bunyi ombak yang bisa terdengar dari dasar goa, hati saya menjadi tergelitik antara ingin tertawa dan kasihan. Mana mungkin para penambang berani menanggung risiko menembus perut bumi sampai ke pantai! Tapi okelah, sebagai bakti anak kepada ibu, beliau saya antar ke sana.

Menjelang sampai lokasi, saya betul-betul terhenyak dengan kondisi di sekitar goa lebar. Jika dulu areal pertambangan itu penuh dengan ladang-ladang jagung menghijau, ilalang liar tinggi menjulang dan tanah bebatuan tajam, kini seperti disulap oleh waktu. Areal pertambangan berkembang pesat di berbagai titik lokasi. Penambang-penambang tradisional menggali sendiri tanah-tanah dan ladang mereka. Alhasil berbagai tempat di sepanjang perjalanan penuh dengan lobang-lobang calon ‘goa lebar’ baru. Bahkan di satu titik, sebuah galian dengan mesin-mesin modern beraksi dengan gagahnya. Penduduk setempat mengatakan, “itu milik pejabat tinggi di sini, Pak.”

Sampai di lokasi goa, jalan menanjak menyambut kedatangan kami. Seingat saya dulu jalan setapak penuh bebatuan, kini berubah menjadi aspal dan diplester. Bahkan sepeda motor penjual pentol bakso keliling pun bisa naik ke lokasi goa. Itu belum seberapa. Sampai di puncak bukit, kami disuguhi pemandangan sore yang luar biasa. Landskap Kota Sampang dengan kubah masjid Jami’-nya yang membiru, rumah-rumah penduduk, sementara di bagian timur penuh dengan ladang menghijau. Benar-benar indah. Di sekeliling goa lebar, rupanya Pemda Sampang sudah mengemasnya dengan baik. Ada joglo-joglo kecil tempat istirahat, joglo utama di dekat pintu masuk, warung-warung, dan berbagai fasilitas kecil lainnya. Beberapa pemuda setempat dengan ramahnya menyapa serta menjadi guide gratis kami. Dari merekalah kami tahu pintu masuk goa yang sekarang (setelah runtuh), dan kami dapati sebuah patung Sakera tepat di mulut goa memanggul atap goa.

Sebuah ide yang bagus, membangun bekas penambangan menjadi areal pariwisata kecil dengan penataan yang baik. Hanya sayangnya, masih banyak lubang-lubang kecil atau sedang, dengan kedalaman yang luar biasa menganga tanpa pelindung, siap menelan pengunjung yang tidak waspada. Artinya, wisata goa lebar siap menunggu wisatawan dan korban yang terlena.

Penulis: Indra Kristika, Praktisi di SD Al Falah Surabaya, indrakristika@gmail.co

Terkait:

Sumber: Surya, Sabtu, 4 Februari 2012

Label: , , ,

Warga Tak Nikmati Hasil Gas

Masyarakat sekitar eksploitasi gas Santos di sumur gas Wortel tetap saja miskin

Tumpuan masyarakat Sampang yang menggantungkan harapan dari hasil produksi gas dari lapangan gas blok Wortel yang berada di lepas pantai offshore Camplong, dikelola oleh Santos Madura Offshore Pty Ltd belum sepenuhnya dapat nikmati, karena dinilai pembagiannya masih jauh dari rasa keadilan masyarakat. Padahal dalam waktu dekat sumber gas tersebut akan berproduksi dengan potensi mencapai 50 juta kaki kubik per hari(mmscfd/million metric standard cubic feet per day).

Ironisnya, hasil kekayaan alam sumber gas sumur Wortel yang mencapai 164 juta dollar AS itu, ternyata tetap tidak merubah kondisi ekonomi warga pesisir pantai Camplong yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Rata-rata mereka masih hidup di bawah garis kemiskinan, serta tinggal di kawasan pemukiman kumuh padat penduduk.

Winarno, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Sampang, pun lantang berteriak memperjuangkan pembagian gas yang adil. Mengingat Sampang sebagai daerah penghasil eksploitasi sumber gas itu hanya bisa gigit jari, hanya bisa melongo tanpa memperoleh hasil yang jelas. Justru malah Pasuruan yang mendapatkan hasil dari kegiatan usaha hilir pengolahan gas.

"Hasil produksi gas sumur Wortel sebesar 50 mmscfd dibawa lari Santos untuk diolah di Fasilitas Pengolahan Darat (Onshore Processing Facilty/OPF) di Grati, Pasuruan. Padahal sudah sejak lama kita berteriak meminta kepada pemerintah pusat dan Pemprov Jatim agar segera dibangunkan industri pengelohan gas. Sehingga masyarakat akan bisa menikmati dampak positifnya secara langsung, paling tidak akan tercipta iklim ekonomi di sektor migas, serta peluang penyerapan tenaga kerja lokal. Namun sayangnya tuntutan kami tidak pernah didengarkan," ujar Winarno dengan nada kecewa, dihubungi Senin (30/1).

Winarno menyatakan, pembentukan PT Sampang Mandiri Perkasa (SMP) yang menjadi anak perusahaan dari holding company PT Geliat Sampang Mandiri (GSM), memang menerima jatah gas sebesar 17 mmscfd. Tetapi tambahnya, bukan bagian dari bentuk kompensasi, karena BUMD yang bergerak dibidang migas itu harus membeli dari pihak Santos Pty Ltd.

"Kami tak ingin hanya sekedar menjadi tuan rumah yang baik, tapi juga berharap agar dapat berkiprah dalam kegiatan eksploitasi migas. Sehingga kami bersikeras menuntut Pemprov Jatim mengubah aturan yang lebih berpihak terhadap kepentingan daerah," tegasnya

Sementara itu, Arie Novel, Manajer Operasional Santos Pty Ltd, mengatakan, pembagian gas itu sudah menjadi kewenangan BP Migas, karena pihaknya hanya sebatas melaksanakan kegiatan hulu eksploitasi migas di lepas pantai Camplong.

"Pembagian hasil produksi gas yang mencapai 50 (mmscfd) itu akan dipasok ke Indonesia Power sebanyak 30 mmscfd, PT Sampang Mandiri Perkasa (SMP) menerima jatah sebesar 17 mmscfd, sedangkan BUMD Pasuruan mendapatkan 3 mmsçfd," jelas Arie.

Menurut Arie, sumber migas sumur Wortel merupakan sebuah harapan besar bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Mengingat lokasinya sudah sepenuhnya milik Sampang, sehingga akan mendapatkan dana bagi hasil migas lebih besar dibandingkan daerah lain.

"Selain itu pemberian bantuan dana Community Development (CD) dari hasil produksi lapangan Oyong sudah berjalan sejak 2008 lalu," tukasnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 30/01/2012

Label: , , , , ,

Labang Mesem

Wall Photo Abdul Hadi Wm

Labang Mesem atau Pintu Senyum -- pintu gerbang keluar kraton Sumenep, dibangun pada abad ke-18 M. Atap tumpang di atas gerbang ini sekeluarga dengan dg yang terdapat di Jawa dan Aceh. Inilah satu-satunya kraton lama di Jawa Timur yang masih ada dan utuh. Seharusnya lebih banyak mendapat perhatian pemerintah, apalagi banyak koleksi benda bersejarah dan seninya yang raib entah kemana

Label: , , , , , , ,

Oksigen Giliyang Terbaik di Dunia


From Surabaya Post


Pemerintah Kabupaten Sumenep bertekat menjadikan Pulau Giliyang menjadi lokasi wisata kesehatan, mengingat kandungan oksigen di pulau ini memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan daerah lain di dunia.

Kepala UPT Laboratorium BLH Sumenep, Herry Supratman menjelaskan, kandungan oksigen di Pulau Giliyang berbeda dengan oksigen dilain tempat. Kadar oksigennya, diatas rata-rata, yakni 21%. "Artinya, oksigennya memang bagus dan cocok untuk wisata kesehatan. Ini potensi alam yang tidak ditemukan ditempat lain," kata Herry, Kamis (5/1).

Pulau Giliyang yang masuk wilayah Kecamatan Dungkek tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Bancamara memiliki luas areal 5.15 km2 dan Desa Banraas dengan luas areal 4.00 km2. Dua desa tersebut sama sekali tidak memiliki lahan sawah, melainkan hanya tanah kering.

Pihak BLH, melakukan uji kadar oksigen 27 Desember 2011 lalu, di Desa Bancamara, sekitar 1 km dari pantai. Pengambilan sample pengujian itu dilakukan sekitar pukul 12.05 WIB. "Pengujian itu dilakukan pada siang hari. Jika pada pagi hari, antara pukul 08:00 sampai pukul 11:00 Wib, maka kadar oksigen tentu jauh lebih bagus," ujarnya.

Pada tahun 2006 lalu, peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga menyatakan hal serupa. Kandungan oksigen udara di Pulau Giliyang berkisar antara 3,3 – 4,8% diatas normal. "Pemerintah kabupaten ingin lebih tahu mendalam soal kadar oksigen di Pulau Giliyang itu, makanya diuji kembali. Dan ini baru tahap awal. Pengujian terus akan dilakukan bersama BLH Jatim," terangnya.

Kondisi alam Pulau Giliyang tergolong 'perawan' dan tidak tercemari dengan volusi udara. Selain jumlah kendaraan bermotor terbatas, pola hidup masyarakat setempat masih alami. Mayoritas pekerjaan masyarakat di dua desa itu menjadi nelayan, sebagian kecil mengolah lahan pertanian. "Untuk penerangan pada malam hari sudah ada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)," katanya.

Kondisi pantainya, bersih dan batu karangnya cukup indah. Bila, wilayah Pulau Giliyang dikemas dengan konsep wisata kesehatan, maka hanya satu-satunya lokasi wisata di Jawa Timur yang kondisi oksigennya diatas rata-rata. Sangat wajar, bila masyarakat setempat lebih awet muda dibanding masyarakat yang hidup diluar pulau tersebut. "Memang perlu keseriusan semua pihak bila akan dijadikan lokasi wisata kesehatan," ujarnya.

Untuk menuju Pulau Giliyang tidaklah sulit, dari Pelabuhan Dungkek bisa menggunakan jasa perahu rakyat yang biasa digunakan masyarakat setempat sebagai transportasi laut setiap hari. Kondisi ombak yang bersahabat membuat warga setempat merasa aman beraktivitas. Warga yang menggunakan jasa transportasi perahu rakyat hanya dikenakan biaya sebesar Rp10.000 per orang.

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sumenep, Nur Asyur berharap pemerintah daerah bisa mendatangkan investor yang bisa menanamkan modalnya untuk wisata di Sumenep. "Cukup banyak potensi wisata dikepulauan. Namun, hingga saat ini belum tergarap sama sekali. Padahal, jika potensi laut dan alam kepulauan mampu disajikan dengan baik, maka akan berdampak positif bagi kehidupan warga kepulauan," ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejehtera (PKS) ini sangat mendukung bila pemerintah akan mengembangkan wisata kepulauan yang potensinya tidak kalah dengan daerah lain di Nusantara ini. (md2)

Artikel Terkait:

Sumbaer: Surabaya Post, Kamis, 05/01/2012

Label: , , , , ,

Murid TK Siap Mendaki Delapan Puncak Gunung

Seorang anak 6 tahun dari pulau Madura di Jawa Timur pada hari Kamis berangkat untuk menyelesaikan tugas yang ambisius. Menaklukkan 10 puncak gunung hanya dalam empat bulan.

Arya Cahya Mulyana Sugianto, seorang murid TK dari Pamekasan, telah menyertai mendaki gunung orangtuanya, Agus Sugianto dan Tri Yuli Mulyanti, sejak tahun 2007. "Dia telah mendaki Gunung Welirang dua kali dan terakhir dia naik gunung adalah Mahameru," kata ayahnya, Agus.

Arya menyelesaikan pendakian 3.676 meter memanjat Mahameru, juga dikenal sebagai Gunung Semeru, di Jawa Timur tahun lalu sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan. Kali ini, tantangannya adalah untuk menyelesaikan skala 10 gunung sebelum 21 Agustus.

Lima pendaki berpengalaman akan menemani Arya dalam pendakian

Memanjat pertamanya adalah-2900 meteran Gunung Ceremai di Jawa Barat, diikuti oleh Gunung Slamet (3.432 m) dan Gunung Sindoro (3.155 m) di Jawa Tengah, dan Gunung Wonotirto (2.000 m) di Jawa Timur. Dia juga dijadwalkan untuk mengatasi Tengah Jawa Gunung Lawu (3.265 m), Gunung Rinjani (3.726 m) di Lombok, Bali Gunung Agung (3124 m) dan Welirang (3.156 m), dan Gunung Arjuno (3.330 m) di Jawa Timur.

"Mahameru akan puncak akhir dia akan memanjat sehingga ia kembali bisa menanam bendera nasional ada pada tanggal 17 Agustus seperti yang ia lakukan tahun lalu," kata Akhmad Kusnindar, kepala tim Arya mendaki.

Kabar Terkait:
Kindergarten Student Set to Climb to Great Heights Pamekasan, East Java. A 6-year-old boy from the island of Madura in East Java on Thursday set out to complete an ambitious task: Conquer 10 mountain peaks in just four months. Arya Cahya Mulyana Sugianto, a kindergartener from Pamekasan, has been accompanying his mountain-climbing parents, Agus Sugianto and Tri Yuli Mulyanti, since 2007. “He has climbed Mount Welirang twice and the last mountain he climbed was Mahameru,” said his father, Agus. Arya completed the 3,676-meter hike up Mahameru, also known as Mount Semeru, in East Java last year as part of Independence Day celebrations. This time, the challenge is to finish scaling 10 mountains before Aug. 21. Five experienced climbers will accompany Arya for the feat His first climb is the 2,900-meter Mount Ceremai in West Java, followed by Mount Slamet (3,432m) and Mount Sindoro (3,155m) in Central Java, and Mount Wonotirto (2,000m) in East Java. He is also scheduled to tackle Central Java’s Mount Lawu (3,265m), Mount Rinjani (3,726m) in Lombok, Bali’s Mount Agung (3,124m) and Welirang (3,156m), and Mount Arjuno (3,330m) in East Java.

“Mahameru will be the final peak he’ll climb so he can again plant the national flag there on August 17 like he did last year,” said Akhmad Kusnindar, head of Arya’s climbing team.

May 13, 2011

Label: , , , , , , ,