Tradisi Cahe di Goa Mandalia

Persembahan Sesaji untuk Makhluk Halus Penunggu Goa

Warga Desa Langsar Timur, Kecamatan Saronggi, punya tradisi ritual cahe (selamatan). Ritual ini dilakukan di dalam Goa Mandalia di desa setempat. Apa menariknya?

AROMA kemenyan mulai menyengat ketika koran ini mendekati pintu masuk menuju Goa Mandalia. Goa ini dikelilingi tembok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Untuk sampai ke mulut gua, harus melewati pintu yang terbuat dari besi.

Di atas pintu tertulis "Atas nama P. Suno, Gua Mandalia Banjar Raba panyoonan sopaja tertib". Artinya, atas nama P. Suno, Gua Mandalia Banjar Raba permohonan (berdoa) supaya tertib.

Untuk sampai ke Goa Mandalia, perlu menempuh perjalanan 25 kilometer ke selatan Kota Sumenep. Di simpang tiga Kecamatan Saronggi belok kiri, langsung menuju Desa Langsar Timur.

Untuk ke goa, mesti jalan kaki sejauh 1,5 kilometer dari jalan beraspal. Letaknya memang cukup jauh ke pelosok. Namun, pemandangan di kanan kiri terlihat cukup menarik dan rindang.

Goa itu sangat dikeramatkan warga Desa Lansar Timur. Warga setempat meyakini goa itu adalah tempat pertapaan sesepuh desa.

Sesampai di goa, tampak warga sibuk menyiapkan upacara ritual cahe. Dalam setahun, dua kali warga desa melakukan ritual cahe. Yakni, saat perubahan musim panas ke hujan dan dari musim hujan ke panas. Cahe merupakan tradisi turun-temurun yang dijaga kelestariannya oleh sebagian warga. Ritual itu sebagai bentuk syukur.

Ritual cahe diawali dari rumah Ketua Adat Cahe Mbah Suno, 99. Sebelum mendatangi goa, koran ini mampir ke rumah Mbah Suno yang punya julukan Tampa Karsa. Di rumah inilah warga mendapat bimbingan dan arahan dalam melakukan ritual di Goa Mandalia.

Menurut Mbah Suno, cahe merupakan warisan peninggalan nenek moyang desanya yang perlu dilestarikan. Ritual sebagai wujud syukur dalam mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.

"Tidak ada kehendak lain. Ritual cahe hanya untuk mendekatkan diri kepada yang menciptakan kita," kata Mbah Suno.

Dia hanya mengingatkan, setiap pengunjung Goa Mandalia agar tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Sebab, tidak menutup kemungkinan mahluk gaib penjaga goa akan mengamuk, jika pengunjung yang melakukan maksiat. "Agar selamat, para pengunjung harus tertib," pesannya.

Dalam prosesi cahe, warga yang akan berdoa di Goa Mandalia harus membawa berbagai macam jenis makanan hasil bumi. Tak lupa sesaji khusus yang dipersembahkan pada roh halus dianggap sebagai penjaga goa.

Sesaji tersebut berupa nasi putih, ikan laut, kopi, dan tujuh bungkus jajanan pasar. Air bunga tujuh warna dan tujuh buah kelapa muda juga dipersembahkan pada roh halus yang ada di dalam goa. Bahkan, ciri khas makanan warga setempat yang dibungkus dengan daun lontar dan diberi bendera merah putih ikut dipersembahkan. Karena itu, ibu-ibu terlihat sibuk memanggul sesajin di atas kepalanya ketika mendatangi goa.

Sebelum masuk goa, sebanyak 21 orang membaca mantera yang berisi salam sapaan kepada roh halus. Mereka dalam posisi melingkar di depan goa sambil membakar kemenyan.

Sekitar 20 menit kemudian, mereka masuk ke goa sambil membawa sesaji. Sedangkan di pintu masuk goa terdapat tumpukan kayu yang dibakar warga.

Warga sangat meyakini goa itu ada penunggunya. Bahkan, kabarnya, ratusan tahun lalu goa itu merupakan tempat pertapaan para sesepuh desa. Hal itu dilambangkan dengan hamparan batu selebar 3x4 di dalam goa.

Di sekelilingnya terdapat batu yang menyerupai ular naga melingkar dan batu berbentuk potongan betis dan kaki manusia. Bongkahan batu yang berada dalam goa itu dikeramatkan warga setempat. Sayangnya, tumpukan batu itu tak boleh diabadikan.

Lubang goa terlihat kotor, sempit, dan gelap. Kabarnya, goa itu adalah jalan pintas para wali tempo dulu menuju ke Gunung Keramat di Kabupaten Situbondo.

Dugaan itu juga dibuktikan dengan banyaknya pengunjung Goa Mandalia dari Situbondo, Banyuwangi, dan Jember. Mereka datang untuk ber-munajat dan berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan keselamatan dunia dan akhirat. Para peziarah biasanya membaca Alquran di depan pintu masuk goa.

Setiap pengunjung Goa Mandalia dan berniat bermalam di goa, perlu nyali tinggi. Selain jauh dari pemukiman warga, di sana tak ada penerangan dan terkenal angker. (A. ZAHRIR RIDLO)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 26 November 2008

Ada Persamaan antara Bali dan Madura

MAYORITAS masyarakat Bali beragama Hindu, mayoritas masyarakat Madura beragama Islam. Itulah dasar kesamaan jika membandingkan masyarakat Pulau Bali dengan Pulau Madura. Hanya, ada sedikit perbedaan jika dipandang dengan kacamata keterbukaan terhadap pelibatan orang maupun budaya dari luar.

Sebagai contoh, masyarakat Bali tetap adem ayem dan tetap pada pendirian agamanya meski budaya lain masuk berduyun-duyun. Batasan masyarakat Bali terhadap kebudayaan cukup kuat. Bahkan, mereka kerap kali membuka pintu untuk orang asing datang ke sana untuk datang ke acara atau ritual-ritual religiusnya. Konsistensi masyarakat pun akhirnya tumbuh untuk tetap berpegang teguh pada kebudayaan dan pola keyakinannya pada dewa-dewa.

"Saya sangat menyayangkan sekali Madura tidak seterbuka masyarakat Bali. Hasilnya bukan mereka yang menyedot orang luar untuk masuk ke lingkup kebudayaan, tetapi justru tersedot keluar," tutur Ifan.

Dia memaparkan, di Bali orang punya keyakinan yang kuat bahwa melibatkan orang asing akan membuat mereka percaya bahwa yang dianut masyarakat setempat adalah benar adanya. Sehingga, orang luar pun akan membatasi diri dan tak akan mengganggu pola keyakinan yang sudah mapan tersebut. Sebaliknya, rasa ingin tahu orang asing pun mereka manfaatkan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang berbau ritual keagamaan.

"Maksud orang Bali bukan kemudian meremehkan atau membuat upacara adat mereka menjadi sesuatu yang profan (pertunjukan belaka, Red). Tetapi, mengajak orang asing untuk mengerti tentang apa maksud mereka melakukan itu. Dengan begitu, kemudian muncul kesepakatan tidak tertulis untuk bersama-sama mengamankan budaya," terang anak kedua dari 4 bersaudara ini.

Apa Madura juga bisa seperti Bali? Berdasarkan kesamaan warga mayoritasnya, jelas Ifan, Madura sangat berpotensi untuk berjalan seperti Bali. Dengan demikian, para pemuka agama tak perlu susah payah memertahankan budaya religi dengan jerih payahnya sendiri. Bantuan untuk memertahankan budaya dan religi akan datang sendiri dari kesadaran masyarakat. Bahkan, orang asing yang datang ke Madura pun juga akan membangun kesadaran itu begitu menginjakkan kakinya di Madura.

"Syaratnya jangan terlalu rapat (tertutup, Red). Terlalu rapat justru akan membuat siapa pun yang ada di dalamnya merasa kepanasan dan ingin keluar. Biarkan udara keluar masuk dengan alami dengan batasan-batasan yang kokoh," katanya menggunakan bahasa perumpamaan. Caranya, lanjut alumnus SMAN 3 Pamekasan ini, dengan menghadirkan atmosfir yang konsisten.

Berkaitan dengan hal itu, dia mengungkapkan pengalamannya menjadi juri di lomba teater di Madura. Dalam lomba tersebut, kebanyakan peserta membawakan topik teater yang berbau religi. Terutama yang dari pesantren dan sekolah-sekolah berbasis agama Islam lainnya. "Artinya, teater pun kemudian diterima jika nuansanya Islam. Padahal, kalau mau teliti teater itu banyak melibatkan pemikiran-pemikiran Eropa yang cenderung sekuler. Ini sudah menjadi pertanda bahwa apa pun akan diterima Madura asal memiliki kedekatan dengan masyarakatnya," terangnya.

Dia berharap, ke depan Madura bisa lebih terbuka dalam berbagai hal, terutama bidang seni dan budaya. Sehingga, tidak ada lagi seniman dan budayawan Madura yang justru besar dan berkembang bukan di tanah kelahirannya sendiri. "Tentunya keterbukaan itu tidak mudah karena mungkin sedah terlanjur rapat. Tapi saya harap bisa. Kan sayang kalau orang-orang kita merasa lebih bebas berekspresi di luar Madura," pungkasnya. (nra/ed)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 18 November 2008

Label:

Di Madura Ternyata Ada Wayang

"UMURNYA bisa dipastikan lebih dari 200 tahun. Sekarang ada di Kelenteng dan dirawat di Yayasan Vihara Avaloki Testavara, di pantai Talang Siring," ungkap A. Hamzah Fansuri B., ketika diminta menjelaskan latar belakang penelitiannya mengenai keberadaan Wayang Kulit di Madura.

Menurut dia, wayang kulit merupakan salah satu seni teater tradisional di masa lalu. Tak heran, dia langsung tertarik meneliti asal-usul keberadaan wayang kulit di Madura yang konon datang dari Jawa sejak 200 tahun silam.

Informasi pertama mengenai wayang kulit di Madura dia peroleh dari seorang penggiat seni teater di Madura. Saat itu dia diajak untuk melihat langsung pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh sesepuh Yayasan Vihara Avalokitesvara, tempat ibadah umat Budha di daerah pantai Talang Siring, Pamekasan.

"Waktu itu saya baru semester awal dan sangat tertarik melakukan penelitian lanjutan mengenai keberadaan dan membandingkan isi teater tradisional itu dengan teater ala Eropa," paparnya.

Realisasi penelitian itu baru benar-benar dia garap di semester akhir kuliahnya sebagai syarat kelulusan. Masuk penelitian fakta-fakta baru mulai dia temukan. Di antaranya, keberadaan wayang kulit di Pamekasan ternyata berasal dan didatangkan dari Bangkalan. Artinya, wilayah pertama yang dimasuki Wayang Kulit dari Jawa di Madura adalah Kabupaten Bangkalan. Bentuk wayang Kidung Kencono yang berasal dari Bangkalan itu lebih kecil dari wayang yang ada di tanah Jawa. Hanya tersisa 1 set dan kini berada di Pamekasan.

Perkembangan kesenian wayang di Madura berawal sejak tahun 1630-an, sebelum Kerajaan Mataram menginvasi Madura. Hampir di semua wilayah Madura masyarakat mengenal dan pernah menikmati pertunjukan wayang. "Jadi benar, di Madura itu memang pernah ada kesenian wayang. Tapi kemudian mati karena satu sebab. Wayang-wayang yang ada di Madura pun akhirnya menjadi koleksi museum. Yang dari Bangkalan ada di Museum Empu Tantular Surabaya dan wayang Sumenep ada di museumnya sendiri," jelasnya.

Diterangkan, cerita wayang di Madura mengikuti cerita pewayangan yang ada di Jawa. Kisah Mahabarata dan Ramayana tak bisa dipisahkan dari kesenian tersebut. Kematian seni wayang di Madura kemudian berubah dan menjelma menjadi kesenian Topeng Dhalang. Bedanya, kesenian ini tak menggunakan wayang yang digerakkan oleh dalang. Melainkan menggunakan manusia yang suaranya berasal dari sang dalang. "Ceritanya relatif sama, yaitu Mahabarata dan Ramayana. Hanya wayangnya pakai manusia," ungkapnya.

Jadi, imbuhnya, kesenian wayang kulit yang hanya tersisa di Pamekasan itu hingga kini dibawakan oleh dalang Topeng Dhalang. Sehingga, secara estetika pewayangan mirip Topeng Dhalang. Dalang pertama yang membawakan wayang kulit Pamekasan dengan latar belakang Topeng Dhalang adalah Saleh Kerte. Dia membawakan wayang kulit untuk dipertunjukkan di seluruh Madura. Selanjutnya sosok bernama Taharun, dalang Topeng Dhalang asal Sumenep.

Adaptasi lain dari wayang kulit di Madura adalah Topeng Getthak. Lakon dalam kesenian tersebut menampilkan beberapa tokoh bala dewa yang dianggap mewakili masyarakat Madura dalam pewayangan. "Ada tokoh Raja Mandura yang katanya seperti orang Madura dalam pewayangan," tandasnya.

"Sekarang penelitian ini masih terus saya lakukan. Tujuannya untuk mengetahui asal-muasal wayang dan membandingkannya dengan kebudayaan Eropa. Jika ternyata adaptasi dari akar kebudayaan yang ada di Madura itu kuat, berarti ke depan bisa dikembangkan seperti di Eropa. Sebab, saya berpendapat bahwa ketertinggalan kita hanya bisa dikejar melalui jalur kebudayaan," katanya optimis. (nra/ed)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 18 November 2008

Baca juga:
Ada Persamaan Antara Bali dan Madura
Wayang Berbahasa Madura

Ponpes Al Muniri di Madura Diteror Roh Halus

Foto: Ardi Yanuar Pamekasan
Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muniri, di Desa Tentenan Timur, Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, Madura seolah diteror roh halus. Para santriwatinya secara bergiliran mengalami kesurupan.

Secara bergiliran, 13 orang santriwati tiba-tiba berteriak-teriak lalu terjatuh ke lantai kelas tempat mereka belajar. Belum diketahui penyebab serangan roh halus terhadap para santriwati itu.

Seperti yang terjadi, Jumat (14/11/2008). Jeritan dan teriakan seperti orang kesakitan mendadak mengejutkan aktivitas belajar di ponpes tersebut. Ulfa Hamidah (13) dan Zubaidah (14) berteriak-teriak seperti orang ketakutan dan seolah menahan rasa sakit yang luar biasa.

Jeritan dua santriwati kelas 2 Madrasah Tsanawiyah Al Muniri kontan membuat suasana menjadi tegang. Sejumlah temannya langsung memberi pertolongan pertama dengan cara membopong ke ruang Unit Kesehatan Pondok.

Para santri yang menolong tampak sibuk dan panik. Ada yang memegang kedua kaki Zubaidah, ada pula yang memangku kepalanya. Seorang santri membawa mangkok berisi larutan minyak goreng, bercampur minyak tanah dan gerusan bawang merah.

Larutan tradisional itu, diyakini bisa menyembuhkan orang yang kesurupan. Tapi bukan hal yang mudah untuk menyuapkan ramuan tradisional itu. Perlu tiga santri untuk membuka mulut Zubaidah.

"Alhamdulillah. Akhirnya Zubaidah bisa meminum obat tradisional ini," kata Romlah, salah sorang santri yang ikut menolong Zubaidah.

Setelah meneguk larutan tradisional itu, Zubaidah perlahan pulih kesadarannya.

Pengasuh Pontren Al Muniri, Ustad Rosidi Munir, mengakui jika kesurupan memang sering menimpa santrinya. "Sejak sepekan ini, sudah 13 santriwati yang kesurupan," kata Ustad Munir.

Telah banyak cara untuk menangkal serangan kesurupan itu. Ustad Munir pernah menggelar ruwatan massal di pesantrennya. Tapi, serangan kesurupan masih saja terjadi. Beruntung, Ustad Munir mendapat resep larutan tradisional untuk menyembuhkan kesurupan.

"Larutan minyak oreng dicampur minyak tanah dan gerusan bawang merah cukup ampung untuk menyembuhkan kesurupan. Tentunya dengan dibarengi bacaan doa-doa tertentu," ungkap Ustad Munir.(Ardi Yanuar)

Sumber: detikSurabaya, Jumat, 14/11/2008

Label: , , ,

Bahasa Madura Masuk Pelajaran Sekolah

Dinas P dan K Pamekasan, Madura, Jawa Timur, memutuskan untuk memasukkan Bahasa Madura sebagai pelajaran sekolah dari tingkat SD hingga SMA.

"Diharapkan dengan masuknya Bahasa Madura tersebut, nantinya para siswa akan lebih paham akan bahasa daerahnya sendiri" kata Kasubdin Dikmen Dinas P dan K Pamekasan Nur Kodim, Minggu (10/08).

Selama ini, kata Nur Kodim banyak pelajar dan kaum remaja Madura yang tidak paham bahkan tidak bisa berbahasa Madura. Akibatnya mereka cenderung menjadi orang asing di daerahnya sendiri.

"Usulan memasukkan Bahasa Madura sebagai salah satu mata pelajaran lokal di Pamekasan ini dari para tokoh dan sesepuh Madura. Mereka tidak ingin bahasa Madura menjadi punah," jelas Nur Kodim.

Di sejumlah lembaga pendidikan di Pamekasan, selama ini memang ada sekolah yang memberikan pelajaran tambahan bahasa Madura, tapi belum merata dan terbatas untuk tingkat SD hingga kelas 1 SMP. Sedang untuk kelas 2 dan kelas 3 serta SMA ditiadakan.

Sapto Aji Wirantho, S.Sos dari Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pegembangan (Balitbang) Depdiknas pusat dalam simposium pendidikan nasional yang digelar Komunitas Pemuda Peduli Pamekasan (KP3) pada Sabtu (09/08) di Pamekasan, menyatakan, pada era otonomi daerah ini Dekdiknas memang mengharapkan agar sistem pendidikan dan muatan kurikulum pendidikan di daerah senantiasa memperhatikan kebutuhan masing-masing daerah.

"Dalam hal ini adanya muatan pelajaran lokal diharapkan mampu mempertahankan tradisi dan budaya yang memang ada dan berkembang di masyarakat setempat," katanya.

"Pemerintah," lanjut Aji, "juga telah mengatur tentang upaya pemeliharaan potensi dan budaya lokal tersebut melalui undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, serta Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi dan satuan Pendidikan Dasar dan Menengah."

Dalam undang-undang nomor 22 tahun 2006 tersebut dinyatakan, bahwa alokasi waktu untuk muatan pelajaran lokal sebanyak 2 jam dan kedudukannya sama dengan mata pelajaran lainnya.

"PP ini mengharapkan agar daerah bisa melestarikan dan mengembangkan potensi yang ada, sehingga akan menjadi kebanggaan tersendiri," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Staf kebudayaan dinas P dan K Jawa Timur Parso Adiyanto, S.Pd, M.M, M.BA. Menurut dia, warga Madura memiliki tradisi dan budaya tersendiri sebagai ciri khas. Maka selayaknya hal itu dipertahankan.

Ia juga menyebutkan sejumlah tradisi dan kesenian ada di Madura dan yang masih bertahan hingga saat ini. Seperti Tari Dhangga, Rokat Tase, Budaya Nyather, Tari Rondhing, Tembang Macopat, dan Tari Topenng Gethak.

"Semua jenis kesenian dan budaya ini menggunakan bahasa Madura. Dan ini bisa dipertahankan apabila warga Madura bisa berbahasa dengan baik dan benar Bahasa Madura," katanya.

Sebagian warga Pamekasan berharap, materi pelajaran bahasan Madura tak hanya disajikan dari tingkat SD hingga SMA, tapi juga hingga di perguruan tinggi.

"Ini menurut saya perlu dilakukan terutama para jurusan pendidikan atau tarbiyah karena mereka yang akan berkomunikasi langsung dengan anak didiknya dan itu tidak bisa dilakukan dengan bahasa Indonesia murni, tanpa adanya campuran bahasa Madura," kata Muakmam dari Yayasan Pakem Maddu Pamekasan. (*/npy)

Sumber: Kapanlagi.com, 10/08/2008

Label: , , , ,

Madura "Surganya" Lelaki

Pulau Madura, selain terkenal dengan karapan sapi dan pedagang satenya juga dikenal sebagai "surganya" pria. Pulau yang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Timur ini memiliki resep tradisional yang sangat ampuh untuk urusan ranjang.

Sudah sejak lama jamu-jamuan ramuan Madura dipercaya mampu membuat kualitas/kemampuan hubungan intim menjadi lebih hot, lebih sehat dan bergairah. Ramuan bukan hanya untuk kau adam semata. Malah, ramuan untuk kaum hawa lebih komplit.

Pernah mendengar jamu Tongkat Madura? Ini adalah salah satu ramuan yang sangat terkenal hingga mancanegara. Ramuan ini mampu menghadirkan sensasi tersendiri bagi pria yang berhubungan intim dengan wanita yang rajin mengonsumsinya. Selain membuat lebih rapet, ramuan leluhur ini juga mampu meningkatkan kualitas fungsi seksual. Yang lain ada rapet wangi, empot-empot dan sabun perempuan.

Mengkonsumsi ramuan tradisional, selain mampu meningkatkan kebugaran seksual juga bebas dari bahan kimia. Berikut ramuan Madura untuk kaum hama yang legendaris itu.

Tongkat Madura

Ramuan ini memiliki khasiat yang baik bagi organ intim perempuan. Tongkat Madura ini adalah sebuah ramuan tradisional yang berbentuk stick. Dibuat dari bahan-bahan akar tumbuhan terpilih. Ramuan ini telah dipakai oleh kalangan perempuan Madura sejak ratusan tahun yang lalu.

Bermanfaat untuk menguatkan otot kewanitaan, menghilangkan keputihan, dan merapatkan organ intim. Tongkat Madura ini juga dapat menghilangkan bau yang tak sedap pada organ kewanitaan, mengurangi lendir berlebih dan membuat otot kewanitaan semakin ketat.

Empot-Empot

Jamu tradisional Madura yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Ramuan ini bermanfaat untuk merapatkan organ kewanitaan, dan dapat menimbulkan denyut-denyut istimewa dari organ intim perempuan.

Selain itu juga, dapat mengurangi lendir yang berlebihan. Akan sangat baik jika diminum dan dikombinasikan dengan Jamu Rapet Wangi.

Rapet Wangi

Hampir mirip dengan khasiat Jamu Empot-Empot. Jamu tradisional khas Madura yang satu ini bermanfaat untuk merapatkan organ kewanitaan, mengurangi lendir yang berlebihan dan menghilangkan keputihan. Bedanya, jamu Rapet Wangi ini dapat membuat organ intim perempuan menebarkan bau wangi. Inilah kelebihan dari jamu Rapet Wangi.

Nah, jika Anda merasa penasaran untuk mencobanya, ramuan-ramuan Madura ini bisa Anda dapatkan di mana saja, di toko-toko obat ataupun toko-toko jamu di kota Anda. Rasakan manfaat dan khasiat ramuan asli tanah air ini untuk kualitas fungsi seksual Anda. Jaga dan rawatlah organ intim Anda itu demi kebersihan dan kesehatan diri. Buatlah pasangan lelaki anda selalu bahagia berada di samping anda. (kpl/berbagai sumber/rsd)

Sumber: KapanLagi.com, Senin, 30 Juni 2008

Label: , ,

Seniman Sumenep Raih Cak Durasim Award

Usai menyajikan berbagai suguhan pertunjukan seni karya para seniman muda berbakat, Festival Cak Durasim (FCD) 2008 berakhir tadi malam (16/11). Dalam penutupan tersebut, tampil Kelompok Mainteater asal Bandung yang membawakan lakon Electronic City. Tidak ketinggalan, ajang penganugerahan Cak Durasim Award yang diberikan kepada seniman Madura, Taufikkurachman di Gedung Cak Durasim.

Acara penutupan diawali dengan penganugerahan Cak Durasim Award yang diberikan kepada Taufikkurachman. Seniman 60 tahun asal Sumenep tersebut telah berjasa menciptakan sebuah tarian yang kini menjadi ikon Tari Kabupaten Sumenep. Tari yang diberi nama Muangsangkal itu kini banyak dikenal baik di dalam maupun di luar Sumenep.

Tidak hanya itu, tari Muangsangkal yang berarti membuang bahaya itu sudah menjadi tari legendaries Kraton Sumenep. Sejak dibakukan, tari dengan jumlah penari yang selalu ganjil itu kerap menjadi rujukan bahan skripsi mahasiswa universitas-universitas ternama di Indonesia.

Karena itu, sudah sepantasnya Taufikkurachman menerima penghargaan tahunan tersebut. ''Saya terus terang merasa bangga sekaligus optimistis bahwa karya tari saya bisa menjadi salah satu ikon tari Jawa Timur," ujarnya usai menerima penghargaan.

Sebagai pertunjukan penutup, tampil Kelompok Mainteater Bandung. Pertunjukan teater itu terbilang spesial. Tidak menganut jalur teater konvensional, kelompok teater anak muda tersebut bermain di jalur kontemporer dengan memadukan sebuah pertunjukan teater dengan film. Bisa disaksikan lewat setting panggung yang juga tidak biasa, seperti bentuk panggung yang melingkar, latar belakang sebuah layar LCD, dan juga sebuah meja dengan tiga kursi yang berada di area bangku penonton.

Membawakan lakon Electronic City, anak-anak muda Bandung tersebut mencoba mengkritisi ketergantungan masyarakat dunia terhadap teknologi. Lewat pertunjukan berdurasi satu setengah jam itu, kelompok teater yang bekerja sama dengan komunitas film independent, Kineruku, itu menyajikan pertunjukan teater dengan menggabungkan tiga unsur. Yakni, off stage, on stage dan on screen. (ken/ari)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 17 November 2008

Label: ,

Ranjang Pale' Dongkrak
Gengsi Pengantin

Ukiran kayu Jepara, memang sudah lebih dulu dikenal luas hingga luar negeri. Namun Bangkalan juga mempunyai karya serupa yang tidak kalah kelasnya, meski baru sebatas di pasar lokal dan regional. Meski begitu karya tangan ini kepopulerannya dikalangan masyarakat Bangkalan, Madura, tidak pernah luntur.

Salah satunya adalah hasil karya perajin yang cukup popular adalah Ranjang Pale'. Itu terkenal hasil perajin Desa Buduran, dan Desa Berbeluk, keduanya Kec. Arosbaya, Kab. Bangkalan. Bila konsumennya merasa tertarik dan berminat untuk membeli, harus datang sendiri ke lokasi pembuatan.

Sebab tidak dijual disembarang tempat, alias harus pesan dulu. Peminat harus datang sendiri alias memesan lewat order yang telah disepakati bersama dengan pengrajin. Baru barang yang diinginkan dikirim ke almat pemesan, tentunya setelah dilakukan pembayaran.

Kegunaan Ranjang Pale', bukan hanya sekedar berfungsi sebagai tempat tidur biasa. Keberadaannya sudah ada sejak jaman dulu dan tetap dijaga kelestariannya. Dengan tidak mengubah pernak-pernik ukiran yang telah ditetapkan sebagai sebuah warisan pakem.

“Biasanya pemesannya, orang–orang yang mau meminang seorang gadis. Kebiasaan orang Madura khususnya di desa masih membawa tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantalnya dibawa mempelai pria ke rumah mempelai wanita. Nah dengan membawa ranjang pale', akan meningkatkan gengsi kedua keluarga mempelai. Karena tidak semua orang bisa memesan ranjang ini, karena harganya mahal,” terang Azis warga Buduran.

Jadi tidak semua masyarakat mampu menggunakan Ranjang Pale sebagai barang yang digunakan untuk meminang anak gadis orang. Tergantung dari kekuatan kocek (dana) yang dimiliki dari pihak mempelai pria. Harga sebuah ranjang Pale kelas menengah bisa puluhan juta rupiah. Namun ada juga yang harganya Rp 3,5 juta. Sedangkan harga sebuah lemari berukuran jumbo dan telah di ukir dengan ciri khas Buduran, harganya bisa mencapai Rp 3 juta - Rp.4 juta.

“Orang–orang tertentu yang mempunyai uang lebih yang bisa memesan Ranjang Pale dan lemari ukiran untuk meminang gadis. Tanpa dana yang memadai, masyarakat lebih memilih ranjang dan lemari biasa yang dijual di toko mebeler,” tambah Sidik, pengrajin lainnya.

Bila ingin membuat ranjang Pale' maupun lemari pakaian, desainnya harus mengikuti kebiasaan yang dilakukan secara turun–temurun, dan itu tetap diikuti oleh para pengusungnya. Menurut cerita masyarakat setempat, home industry ranjang Pale, nama besarnya sudah dikenal bukan hanya di Bangkalan tetapi hingga ke kabupaten lainnya di Madura (Kab.Sampang, Pamekasan dan Sumenep).

Pembuatan ranjang Pale’ secara turun-temurun dijadikan gantungan hidup bagi sebagian penekunnya di kedua desa itu. Sudah legenda masyarakat di sana keunikan ranjang Pale sebagai tradisi ‘seserahan’. Tradisi seserahan adalah pelengkap mahar atau barang bawaan dari kaum pria jika hendak melakukan pernikahan dikediaman mempelai wanita.

Camat Arosbaya, Drs.Ahwan Effendi mengatakan menggunakan ranjang Pale dan lemari ukiran produksi Desa Berbeluk dan Buduran sebagai ‘seserahan’. Umumnya lebih banyak dipergunakan masyarakat kelas menengah ke atas. Karena secara tidak langsung telah menunjukan status sosial dari keluarga mempelai pria.

Bahkan tak kurang masyarakat Madura yang sukses meniti kehidupan di negeri orang (merantau di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dll), bila putra atau putrinya bertemu jodoh sesama dari Madura, biasanya datang langsung atau memesan Ranjang Pale dan lemari ukiran khas Berbeluk dan Buduran.

“Secara khusus mereka tidak ingin ingin meninggalkan jati dirinya sebagai seorang putra Madura,” ujarnya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 10 Nopember 2008

Label: , , , ,

Perajin Ukir Tangan Tetap Eksis

Perajin kayu jati ukir tradisional (tangan) di Bangkalan, jumlah cuma hitungan jari. Kebanyakan mereka membuat tempat tidur, lemari, dan perabotan rumah tangga lainnya. Mereka mampu bertahan di tengah kemajuan pembuatan mebeler yang menggunakan peralatan.

SIANG itu lima remaja berusia belasan tahun tengah melakukan pengerjaan pembuatan lemari ukiran. Masing – masing pengrajin mengerjakan sesuai bidangnya. Ada yang memahat kayu dan mengukir, ada juga yang memoles ukiran. Itu kegiatan rutin perajin yang mengandalkan keterampilan tangan di show room Durantique di Jl. Raya Bancaran, Kel.Bancaran, Bangkalan.

"Mereka sedang mengerjakan pesanan konsumen. Konsumen datang ke sini memesan apa yang diinginkan. Bisa lemari, atau kursi, tempat tidur dan lainnya," kata Chaliq, pengusaha kerajinan ukir itu.

Dikatakan, konsumen tinggal datang pesan apa kebutuhannya. Bahan baku berupa kayu jati tidak perlu khawatir karena sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasar. Itu juga terlihat di show room. Selain beberapa hasil karya perajin tampak pula tumpukan yang siap dipoles menjadi barang jadi yang bernilai ekomis tinggi.

"Memang kami hanya menyediakan bahan baku kayu jati. Sehingga harga lemari atau kursi yang kita tawarkan lebih mahal. Meman konsumen yang datang ke kami, adalah kelas menengah ke atas," ujar pengrajin lulusan SMAN 1 Bangkalan ini.

Kenapa membidik konsumen menengah ke atas, menurut Chaliq tidak ingin bersaing dengan para perajin yang sudah ada di tempat kelahirannya. Para perajin lain yang juga mengandalkan pesananan dari konsumen, sudah begitu banyak. Bahan baku kayu yang dipakai mereka beragam, mulai meranti, bengkirai dan kaju asal Kalimantan lainnya.

"Biarlah kami fokus pada kayu jati. Jadi keberadaan kami tidak menggangu rekan–rekan seprofesi lainnya. Toh kita bekerja ini, sama–sama cari makan dengan uang halal. Kalau kita bersaing terlalu ketat, sama–sama mendapatkan kesulitan. Kami cari haluan lain, dengan menggunakan bahan baku khusus jati," ujarnya.

Bahan kayu jati yang dipakai untuk pembuatan kebutuhan interior di rumah tidak ada kesulitan mendapatkannya. Dia sudah membuat jaringan dengan para pemilik pohon kayu jati di desa – desa.

“Selama ini kami mendapatkan kayu jati dari masyarakat di wilayah Galis. Kadang kita yang mencari, atau masyarakat yang menawarkan kalau punya kayu jati. Kita saling tawar – menawar, bila sepakat, kayu di kirim ke sini,” ucapnya.

Dengan bahan baku kayu jati, lanjut dia sudah barang tentu hasil karya kerajinan ukir ini harganya cukup mahal. Harganya jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan pengerjaan dan besaran bahan baku yang diperlukan. "Harganya bervariasi dari jutaan rupiah hingga puluhan juta. Tergantung bahan baku dan tingkat kesulitan ukiran yang dikerjakan teman–teman," tambah Chaliq.

Meski harga cukup mahal namun cukup banyak pesanan yang masuk. Hampir setiap bulan produksi home industri kerajinan ini bisa mencapai 100 unit guna memenuhi konsumen . "Teman – teman yang bekerja cukup banyak, tergantung pesanan. Semakin banyak pesanan, banyak teman–teman yang diperlukan untuk bekerja. Hasil yang didapat teman–teman tiap bulannya, cukup untuk kebutuhan hidup sehari–hari," tegasnya. “Ya, masih di atas UMK lah," tambahnya.

Di tengah modernisasi, dia tetap menilai prospek kerajinan ukiran kayu ini di masa mendatang masih cukup menjanjikan. Meskipun sekarang jamannya serba instan."Biarlah kita akan terus bertahan dengan menekuni profesi sebagai pengrajin ukiran kayu. Dua tahun ke depan prospeknya masih cerah. Kita juga mendapatkan pesanan dari masyarakat termasuk dari kelembagaan. Jadi tetap kami bisa menikmati pekerjaan ini," ungkapnya.

Kepala Disperindag Bangkalan Drs Geger, MM mengatakan memang tidak cukup banyak perajin kayu ukir tradisional di kabupaten Bangkalan. Namun mereka mampu menghasilkan karya yang bernilai kualitas secara estetika, bahkan berciri khas tersendiri.

Seperti kursi Inlai dari Kec. Tragah, Ranjang Pale’ dari Kec. Arosbaya. "Kursi Inlai dari Tragah, bisa menembus Bali. Hasil karyanya perorangan itu mempunyai ciri khas tersendiri," ujarnya.

Untuk membantu pengembangan jaringan pasar, pihaknya juga tidak segan-segan mendorong pelaku usaha home industri ini, untuk ikut pameran di tingkat lokal atau regional.

"Seperti PRB (Pekan Raya Bangkala) beberapa waktu lalu, mereka ikut tampil. Ini tidak lain untuk lebih mengenalkan pada konsumen," kata Geger. (KASIONO).

Sumber: Surabaya Post, Senin, 10 Nopember 2008

Baca juga:
Ranjang Pale' Dongkrak Gengsi Pengantin

Label: , ,

Waduk Klampis di Desa Kramat Kadungdung

Berpotensi Jadi Area Wisata dan Out Bond

Siapa pun pasti takjub ketika berkunjung ke area wisata Waduk Klampis yang terletak di Dusun Dal-baddung, Desa Kramat, Kecamatan Kadungdung. Sebab, pesona alam yang ada disana cukup menarik perhatian. Sayangnya, keberadaan tebing dan sejuknya suasana pegunungan belum cukup banyak dikenal orang.

AROMA perbukitan semakin menyengat ketika koran ini memasuki area Dusun Dal-Baddung, Desa Kramat, Kecamatan Kadungdung. Lapisan tanah berwarna kecoklatan serta gaya rumah penduduk yang masih terjaga keasliannya, seolah turut menyejukkan pemandangan mata.

Pagi itu merupakan hari yang tepat untuk mengunjungi kondisi area Waduk Klampis. Empat orang pemuda terlihat asing memainkan kail pancing mereka. Meski tahu tidak ada cukup banyak ikan, tawa riang mereka cukup renyah mengisi suasana.

Begitu pula dengan batuan tebing yang mengelilingi waduk. Maklumlah, posisi pintu waduknya memang terlihat membelah tebing. Dari cerita warga sekitar, waduk itu sampai sekarang masih berfungsi. Sayangnya, kedalaman waduk memang sudah terlihat cukup dangkal.

Namun begitu, lokasi waduk tetap menjadi primadoma warga sekitar. Slamet, seorang pemuda desa yang ditemui koran ini mengaku, dia dan teman-temannya sering bermain di lokasi pegunungan waduk. Bahkan hingga saat ini.

Keberadaan tebing yang mengitari sekeliling waduk dianggap sebagai sarana yang cocok sebagai media out bond. "Sebenarnya lokasi disini tidak jauh beda seperti di Sarangan Magetan," ujar Slamet.

Hal senada disampaikan Camat Kedungdung Sapta Nuris Ramlan. "Kalau ada fasilitas yang memadai, lokasi Waduk Klampis ini sangat cocok dijadikan sebagai potensi wisata out bond," ujarnya.

Sayangnya, keinginan tersebut disadari Sapta terkendala oleh kondisi akses jalan. Sebagaimana yang dilalui koran ini kemarin (2/11). Sepanjang pintu masuk ke lokasi waduk tersebut, jalanannya memang terbilang cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat. Tetapi begitu masuk ke Desa Komis menuju Desa Kramat, kondisi jalannya terlihat semakin mengecil dari kondisi sebelumnya. "Inilah yang menjadi kendala kita," ujarnya.

Untuk itu, Sapta sebelumnya telah mempertemukan kedua pimpinan perangkat desa setempat. "Maksud kami supaya ada kesepakatan dan jalan keluar bersama untuk menanggulangi masalah ini," kata Sapta.

Untungnya, pihak Dinas Praswil Sampang yang bertanggung jawab terhadap fasilitas pelebaran jalan bisa menerima keinginan warga setempat. Namun sayang, keinginan warga tersebut sampai sekarang belum bisa terwujud.

Begitu pula dengan keberadaan Dusun Serean yang ada di sekitar waduk. Secara geografis, dusun ini masuk Kecamatan Kedungdung. Tapi karena terpisah oleh waduk, sebagian besar penduduk setempat harus memutar jalan agar bisa mencapai Kecamatan Kedungdung. "Sebenarnya sudah ada kesepakatan pengadaan speed boat. Tapi, lagi-lagi kesepakatan itu hingga kini belum ada wujudnya," ungkapnya.

Seandainya impian itu menjadi kenyataan, bukan tidak mungkin warga desa setempat bisa dikenal banyak orang. "Nah jika sudah begitu, ini kan juga bisa menambah pendapat asli daerah kita," ungkap Sapta.

Untungnya, sejauh ini masyarakat disana masih bisa bersabar. Anggapan mereka mungkin pemerintah setempat masih memikirkan hal-hal lain yang lebih urgen. Sebagaimana yang diungkap H Imam, perangkat desa setempat. "Kalau boleh jujur sebenarnya kami ingin fasilitas disini juga mendapat perhatian. Tapi kita lihat saja nanti," katanya. (SILVIA RATNA D)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 03 November 2008

Sastra Madura Terancam Terpinggirkan

Keberadaan sastra Madura terancam terpinggirkan dari komunitasnya. Sebab, kebanyakan generasi muda Madura enggan menggali lebih dalam akar sejarah keberadaan sastra Madura. Bahkan, selama ini ada kesan kalangan anak muda Madura meninggalkan sastra tanah kelahirannya sendiri.

Hal itu terungkap saat temu budayawan dengan siswa di halaman SMA Gapura, Kecamatan Gapura, kemarin. D. Zawawi Imron menyatakan, kepedulian terhadap sastra dan Bahasa Madura adalah tanggung jawab semua. Baik pemerintah, budayawan, dan masyarakat, khususnya, generasi muda Madura.

Budayawan ini menandaskan, memajukan bahasa dan sastra Madura adalah dengan memraktikkannya dalam kehidupan setiap harinya. Jika perlu, tingkatan tertinggi bahasa Madura terus dimantapkan.

Dikatakan, perkembangan sastra Madura bisa dilihat dari ketekunan anak Madura menghafal bait-bait pantun khas Madura. Sebab, selama ini keinginan belajar bait-bait pantun (paparegan) sudah mulai pudar. Anak muda Madura lebih tertarik untuk menghafalkan lirik-lirik musik band atau lagu-lagu hits. "Ini tantangan dan harus dipikirkan oleh anak muda Madura," tandasnya. (tur/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 02 November 2008

Label: , , , , ,