Kesenian Madura Bisa Mendunia

Kesenian Madura mendapat perhatian tersendiri dari kalangan artis Ibu Kota. Menurut mereka, bila kesenian tersebut dirawat, dimodifikasi, dan dilestarikan, suatu saat kesenian Madura tidak hanya bergema di pentas nasional. Tetapi, gaung kesenian Madura sampai ke manca negara.

Itulah kesimpulan dari pembicaraan Pemred Koran Madura Abrari saat berbincang dengan Arzeti Bilbina di studio TV One Jakarta (28/12). Menurut Arzeti, sejauh ini Madura seolah-olah hanya mendengar kerapan sapi, batik, dan sate Madura yang terkenal. Tetapi saat bertemu langsung dengan sejumlah orang Madura di Jakarta, Arzeti memahami kesenian Madura jauh lebih banyak dari yang dia ketahui.

Salah satu contohnya, Arzeti menyebut rag-aragen yang ditampilkan Said Abdullah Institute (SAI) di hari terakhir Kongres Kebudayaan Madura II beberapa waktu lalu. Di dalam tayangan itu, Arzeti mengaku temukan banyak kesenian dan pakaian adat. Diantaranya, baju lega (baju kebesaran), pakaian cebbing, ul daul, saronen, sape sono’ dan banyak lagi yang lainnya. “Madura untuk Dunia, wow keren,” Arzeti memberi semangat.

Sebelum Arzeti, artis Ibu Kota, Kirey datang ke acara Kongres Kebudayaan Madura II. Kirey tidak hanya datang sebagai peninjau. Tetapi, dia hadir justru ikut menjadi bagian dari pelaku rag-aragen bersama masyarakat dengan mengendarai kereta kencana. Hal yang sama juga dilakukan Ayu Azhari yang untuk beberapa hari tinggal di Kabupaten Sumenep. Ayu, saat itu, cukup terkesan dengan makanan dan minuman tradisional Madura.

Budayawan Madura, Edhi Setyawan sependapat dengan para artis yang meyakini kesenian Madura untuk mendunia. Di era 1990-an, kesenian Madura (topeng) telah melanglang ke Eropa. Di pentas internasional, kesenian Madura mendapat apresiasi yang luar biasa sebagai karya seni anak bangsa. Tetapi, Edhi merasa telah terjadi ketidakseimbangan antara apresiasi di daerah dengan jagat internasional. Menurutnya, di daerah regional kesenian tidak sepenuhnya mendapat tempat yang layak. “Waktu itu, di Eropa, usai kami tampil terdapat tiga aplaus dari pemiarsa. Tiga aplaus tersebut menjadi tanda bahwa grup yang tampil sangat bagus,” Edhi bercerita.

Ketua Dewan Pembina SAI (Said Abdullah Institute) Said Abdullah mengaku hanya melakukan remotivasi berbudaya. Said yakin jika bukan warga Madura sendiri yang memelihara dan merawat budayanya sendiri, dapat dipastikan budaya Madura habis pada saatnya. Karena itu, sebelum hal terburuk itu datang, Said melakukan budaya tanding terhadap masuknya globalisasi yang tanpa batas. Antara lain, dia bersama masyarakat secara gotong-royong menyelanggaran Kongres Kebudayaan Madura I dan II disusul rag-aragen serupa parade budaya Madura secara kolosal. “Nah, kami ingin menggugah kesadaran bersama bahwa budaya lokal itu sangat penting,” dia menjelaskan.

Sekedar diketahui, tanggal 28 Desember 2012 lalu rombongan dari Madura bertandang ke Jakarta. Mereka antara lain Pemimpin Redaksi Koran Madura Abrari, Model Cebbing dan Penari Mowang Sangkal masing-masing Indah, Mazida, Fethy, Serly, Vera, dan Ketua Dewan Pembinan SAI, MH Said Abdullah untuk mengkampanyekan Madura untuk Dunia di live TV One, Jakarta. (dav/bet)

Sumber: Koran Madura, 01 Jan 2013

Label: , ,

Malam Kemilau Prestasi Pamekasan

SP/Masdawi Dahlan
Bupati Kholilurrahman saat acara gelar prestasi di Arek Lancor

Dalam periode kepemimpinan Kholilurrahman-Kadarisman Sastrodiwirjo sebagai Bupati dan Wakil Bupati, Pamekasan telah berhasil meraih berbagai prestasi dan penghargaan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan hak asasi manusia, infrastruktur, lingkungan hidup, olahraga, pariwisata dan seni budaya.

Setidaknya ada 21 prestasi yang diraih Pamekasan sejak dibawah kepeimimpinan Kholilurrahman dan Kadarisman Sastrodiwirjo. Keduanya dilantik sejak April 2008 dan akan berakhir jabatannya pada Apil 2013 mendatang. Prestasi itu Minggu (18/3) tadi malam ditampilkan dalam sebuah acara gelar prestasi Pamekasan di areal Monumen Arek Lancor Pamekasan. Kegiatan ini disiarkan secara live oleh satu stasiun TV Swasta di Jawa Timur.

Berbagai prestasi itu antara lain adalah pada tahun 2008, meraih 3 penghargaan Otonomi Award dari Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP) yaitu untuk katagori region in an innovative breaktrough on health service, region in an innovative breakthrough on education sevice dan region on leading profile on a political institusionalization.

Tahun 2008 dan 2009 secara berturut-turut dapat penghargaan dari presiden RI atas keberhasilannya meningkatkan produksi beras di atas 5%. Di tahun 2008 ini juga menerima penghargaan sebagai kabupaten paling berhasil dalam penanggulangan keamanan dan resolusi konflik.

Di tahun 2009 Pamekasan meraih penghargaan anugerah wisata dari Gubernur Jawa Timur untuk wisata budaya sape sono’ dalam kategori the best ten of the year on achievement of tourism development, menerima penghargaan Adipura pada tahun 2010 atas keberhasilannya menjadikan Pamekasan sebagai kota bersih, tertib dan asri. Pada kepeminpinan Kholilurrahman ini juga berhasil mengantarkan Persepam masuk ke devisi utama PSSI, satu-satunya tim sepak bola di Madura.

Pada tahun 2010 meraih penghargaan atas keberhasilan Pamekasan sebagai kabupaten peduli anak. Lalu penghargaan dari presiden RI pada tahun 2010 atas terbitnya peraturan daerah tentang akte kelahiran bebas bea. Pada Juli 2010 meneriman penghargaan atas prestasinya di bidang pengembangan kelurahan sadar hukum

Penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari presiden RI atas keberhasilan meningkatkan kehidupan masyarakat pamekasan yang sejahtera dan terlepas dari keterbelakangan sosial melalui program peningkatan mutu pendidikan, ekonomi, kesehatan, infrastruktur, social budaya dan penyelenggaraaan pemerintahan yang baik dirih pada awal tahun 2011.

Dan pada tahun ini pula Pamekasan meraih penghargaan wira karya bidang pertanian dari presiden atas prestasi nasional Kelompok Tani Jaya Makmur desa Dempo Timur untuk komoditas bawang merah. Lalu penghargaan Pramadana Utama Nugraha dari presiden RI sebagai kabupatan penggerak koperasi diraih pada tahun 2011.

Pada tahun ini 2012 penghargaan yang diraih Pamekasan antara lain Satya Bhakti Husada dari presiden atas kepedulian terhadap kesehatan. Penghargaan Adi Bhakti Mina Bahari dari Menteri Kelautan dan Perikanan atas keberhasilan kelompok Mitra Bahari Desa Tanjung Pademawu atas keberhasilannya meraih juara pertama pengembangan budidaya rumput laut.

Kholilurrahman dan Kadarisman juga berhasi menjadikan Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan yang diresmikan oleh Menteri Pendidikanan Nasional akhir tahun 2010 yang dibuktikan dengan berbagia prestasi siswa-siswi Pamekasan dalam berbagai olimpiade tingkat provinsi, nasional, Asia dan internasioanal, diantaranya Sohibul Maromi, Ali Ihsanul Qauli, Alyssa Diva Mustika, Hammas, Moh Yamin dan lainnya. Pamekasan juga berhasil mengantarkan para santrinya meraih kejuaraan MTQ dan berbagai lomba keagamaan lainnya di tingkat nasional dan internasional

Dibidang seni budaya berhasil mengantarkan Pamekasan meraih prestasi diantaranya festival lagu pop daerah, peñata musik dan karya tari terbaik atas nama Sanggar Putra Meonk, baca puisi atas nama Cendekia Krakarsa, pawai budaya, teater dan lainnya dalam berbagai kejuaraan di tingkat provinsi dan nasional. Di bidang olah raga berhasil meraih prestasi berbagai cabang olah raga diantaranya pencak silat, catur, tenis meja, atletik, karate dalam kejuaaran tingkat provinsi, nasional dan internasional.

Di bidang peternakan Pamekasan meraih juara I nasional kelompok tani Sri Kuning 2008, tahun 2009 Puskesmas Pakong juara I Jawa Timur, Laboratorium Panglegur juara III Jawa Timur. Tahun 2010 juara III lomba medis veteriner, juara I paramedic veteriner, juara 2 Jawa Timur lomba kelompok tani kembang kuning bidang ternak sapi potong desa Lancar Larangan. Tahun 2011 juara 1 Jawa Timur inseminator di daerah introduksi, dan juara 3 national paramedic veteriner.

Kholilurrahman dalam sambutannya mengatakan, bahwa semua prestasi yang diraihnya adalah hasil dukungan semua elemen masyarakat. Dia mengajak agar perestasi itu dipertahankan dan ditingkatkan pada masa yang akan datang. Dia juga menegaskan bahwa Pamekasan selain dikenal sebagai kota agamis dengan Gerbang Salam namun juga peduli untuk mengembangkan seni budaya yang sesuai dengan kultul masyarakat Pamekasan. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19/03/2012

Label: , , , ,

Tari Muang Saangkal

Abdul Hadi Wm's Wall Photo
Tari Muang Sangkal atau Membuang Sial dari Sumenep, Madura.

Upacara tolak bala adalah universal. Selain disertai doa-doa tidak jarang disertai tari-tarian yang sebenarnya merupakan juga perwujudan dari doa. Semogga Tragedi Mesuji dan Tragedi Sape Bima tidak terulang, semoga gunung-gunung berapi tidak mengikuti jejak Gunung Gamala yang meletus ketika bangsa ini dililit berbagai penderitaan.

Label: , , ,

Festival Madura 2009 Dimeriahkan Oleh
Peragaan Busana Batik

From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009

Sebanyak 38 model mengenakan busana batik ikut tampil dalam acara pembukaan Festival Madura 2009 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (21/10/2009) sore.

Festival Madura 2009 di Sumenep yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang bekerja sama dengan Komunitas Seni "Plat M" tersebut dibuka dengan pawai budaya dari Taman Adipura ke "Labang Mesem" di kawasan Pendapa Agung setempat.

Puluhan model yang mengenakan baju batik koleksi salah seorang perajin batik asal Kabupaten Pamekasan, Soraya, menjadi barisan paling depan pawai tersebut disusul barisan empat kelompok musik kontemporer dan penari.

"Kami sengaja melibatkan model yang mengenakan busana batik untuk lebih mengakrabkan batik kepada masyarakat," kata Ketua Panitia Pelaksana Festival Madura 2009 Syafrudin Budiman d

Apalagi, batik sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia.

"Ini harus disyukuri. Melibatkan model yang mengenakan busana batik adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kami atas pengukuhan batik sebagai warisan budaya," kata Syafrudin.

Sementara itu, Soraya menjelaskan, motif batik yang dikenakan para modelnya adalah motif "gaul".

"Itu motif kontemporer yang kami buat khusus dipakai anak-anak muda. Untuk menembus pasar anak muda, kami harus menyesuaikan dengan selera anak muda," katanya di Sumenep.

Ia menjelaskan, selama ini batik dianggap sebagai pakaian bagi orang tua dan tidak cocok digunakan anak muda.

"Kami berusaha mengubah kesan itu dengan cara membuat motif gaul. Melalui pembukaan Festival Madura 2009 ini, kami berusaha mengenalkan motif batik bagi anak muda tersebut," kata Soraya. (kpl/bar)

Sumber: http://iphone.kapanlagi.com/h/0000310819.html

Label: , , ,

Disbudpar Jatim Gelar Festival Madura di Sumenep

From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Komunitas Seni "Plat M" menggelar Festival Madura 2009 di Kabupaten Sumenep, Madura, 21-22 Oktober 2009.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Madura 2009 Syafrudin Budiman, di Seumenep, Selasa, menjelaskan, kegiatan itu merupakan upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian dan budaya Madura.

"Dalam Festival Madura 2009, kami akan menampilkan sejumlah kesenian lokal yang merupakan warisan budaya yang harus dijaga," katanya.

Ia mengatakan, Festival Madura terbagi dalam tiga kegiatan, yakni pertunjukan kesenian khas, sarasehan, dan karnaval budaya.

"Dalam pertunjukan kesenian khas Madura, kami akan menggelar pementasan topeng dalang dan musik ‘saronen‘ di atas panggung di depan Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep," katanya menambahkan.

Selain di atas panggung, peserta Festival Madura akan tampil di sejumlah pusat keramaian di Sumenep, di antaranya terminal dan pasar.

"Ini sengaja dilakukan untuk memberikan kesempatan pada warga menikmati karya seni Madura, tanpa harus datang ke pusat lokasi kegiatan," kata Syafrudin.

Sementara untuk sarasehan akan menghadirkan empat pembicara, yakni Rektor Universitas Wiraraja Sumenep Dr Ida Ekawati, Ahmad Fauzi (Dewan Kesenian Jawa Timur), Fadail Rahman dan Eko Wahyuni (pengamat budaya).

"Sebagai pamungkas acara, kami akan menggelar karnaval budaya. Nantinya, pelaku seni yang tampil di Festival Madura akan jalan kaki dari Taman Bunga ke "Labang Mesem" di kawasan Pendapa Agung," kata Syafrudin mengungkapkan.

Sumber: http://oase.kompas.com

Label: , ,

Melestarikan Budaya dalam Festival Madura

From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009

Mulai Rabu (21/10/2009), Festival Madura 2009 digelar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur (Jatim). Ajang pelestarian kebudayaan Madura yang berlangsung hingga Kamis (22/10/2009) tersebut menampilkan beragam kesenian lokal yang menarik perhatian masyarakat.

Festival Madura 2009 diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim bekerja sama dengan Komunitas Seni “Plat M”. Ketua Panitia Syafrudin Budiman mengatakan kegiatan ini merupakan upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian dan budaya Madura. Karenanya, festival ini menampilkan aneka kesenian lokal yang merupakan warisan budaya Madura yang harus dijaga. Festival terbagi dalam tiga kegiatan utama, yakni pertunjukan kesenian khas, sarasehan, serta karnaval budaya.

Menikmati Karya Seni

Pada pertunjukan kesenian khas Madura, panitia menggelar pementasan topeng dalang dan musik saronen. Asal tahu, saronen merupakan iringan musik khas Madura yang terdiri atas bunyi-bunyian trompet dari kayu jati. Nah, pertunjukan ini digelar di Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sumenep.

Selain di atas panggung, peserta Festival Madura juga tampil di sejumlah pusat keramaian, seperti di terminal dan pasar. Hal ini dilakukan guna memberikan kesempatan pada warga agar dapat menikmati karya seni Madura tanpa harus datang ke lokasi.

Sementara itu, sarasehan akan menghadirkan empat pembicara yang berasal dari Pimpinan Universitas Wiraraja Sumenep, Dewan Kesenian Jatim, serta Pengamat Budaya. Sebagai pamungkas acara, akan digelar pula karnaval budaya. Dalam karnaval ini, nantinya para seniman yang tampil di Festival Madura akan berjalan kaki bersama. Mereka menempuh rute dari Taman Bunga ke Labang Mesem (pintu gerbang keraton Sumenep) di kawasan Pendapa Agung. Sarasehan: pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu. (ITA/EVA)

Sumber: Berani, 22-Oct-2009

Label: , , ,

Lukisan dengan Getah Pisang

BANYAK orang tahu bahwa getah pohon pisang sulit dibersihkan bila menempel di pakaian. Kamaluddin, pelukis Sampang, justru memanfaatkan kekuatan noda getah pohon pisang untuk lukisannya. Karakter warnanya yang kuat dan tak mudah hilang memberikan nuansa tersendiri.

Terciptanya lukisan getah pisang itu tampaknya tak lepas dari kenangan masa kecil Kamaluddin. Rasa penasaran akan sifat getah pisang yang memunculkan warna kian hari kian kuat itu terus mengilhami keingiannya untuk berkarya dan bereksplorasi.

Warna cokelat mengandung makna kematangan, juga memberikan dorongan dan sumber energi. "Getah pohon pisang sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Sebab, saat masih anak-anak, mungkin hampir semua mainan saya ketika itu terbuat dari bahan alami, yang masih mengandung getah. Maklum saya dibesarkan dari keluarga yang pas-pasan, sehingga tidak pernah berpikir membeli mainan pabrikan," kata Kamal yang juga wartawan salah satu televisi swasta di Sampang.

Pada tahun 2000-an, rasa penasaran mendorong Kamaluddin, yang terbiasa melukis dengan media acrilic, untuk menggoreskan getah pisang ke sebuah kaus. Terbentuklah goresan noda getah pisang seperti yang melekat di pakaiannya waktu dia masih kecil.

Setelah hampir setahun vakum melukis dengan media acrilic, Kamaluddin pun mencoba menggunakan media kanvas dengan getah pohon pisang. Keinginan itu muncul kembali setelah mengingat sebuah karya lukis mengunakan media darah sapi oleh seniman Bali yang pernah dia kunjungi saat study tour 2002 lalu.

Untuk mendapatkan pewarnaan dan goresan yang unik, dia menggunakan pelepah pohon pisang, penutup bunganya, cikal buah atau tongkolnya, batangnya, maupun daunnya. Selama kurun waktu lima tahun, beberapa lukisan yang dihasilkan rata rata mengarah pada aliran semi dekoratif, dimana obyek yang dihasilkan dari lukisan getah pohon pisang tetap terlihat obyek realisme namun masih terlihat digayakan.

Karya-karya lukisan itu lebih condong mengambil dua objek utama, yakni tumbuhan dan binatang seperti ayam dan kucing. Namun demikian, ada beberapa karya yang tercipta di luar bentuk idealis sang pelukis. Misalnya beberapa lukisan wajah dan juga karikatur Gus Dur sang tokoh nasional.

"Karena kecintaan dan kekaguman saya terhadap sosok tokoh Gus Dur, saya mencoba menuangkan dalam bentuk lukisan maupun sketsa wajahnya. Selain itu bertepatan dengan 100 hari meninggalnya Bapak Bangsa tersebut, saya mengadakan pameran lukisan dengan menggandeng salah seorang seniman wanita, Lerem Pundi Laras, yang juga menjabat Pimpinan Operasional Bank Jatim, Sampang," ujar Kamal. (Achmad Hairuddin)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 11 April 2010

Label: , , ,

Kemasan Baru, Judi dan Mabuk Dihilangkan

Melihat Sandur, Seni Tradisi Khas Madura di Ketapang

Seni Sandur khas etnis Madura kembali menghibur warga Ketapang. Tari yang diiringi gamelan dan dilakoni penari pria yang berbusana wanita Madura ini cukup menarik antusias warga. Tak sekedar melestarikan budaya, digelarnya seni tari asal Sumenep ini dibalut arisan hingga menjadi wadah pemersatu masyarakat.

Oleh Hari Kurniathama, Ketapang

INILAH Sandur. Atau lainnya menyebut sebagai Jidur. Permainan sandiwara bak tonil atau kesenian topeng Betawi. Sedangkan untuk di Kalbar, mungkin lebih dekat dengan kesenian Mendu. Pentas sandiwara jaman dulu. Acara yang digulirkan Sabtu (10/1) malam membuat masyarakat memadati Taman Hiburan Rakyat (THR) di Jalan Monginsidi Desa Sungai Kinjil Kecamatan Benua Kayong.

Alunan musik tradisional yang dimainkan group Sandur Pontianak menghangatkan suasana. Tenda dengan lampu terang benderang menjadi tempat duduk para tokoh masyarakat, pemuda masyarakat Madura Ketapang. Dengan mengguna peci hitam masyarakat Madura Ketapang duduk teratur dengan akrab sembari menikmati kopi dan sepiring kacang yang siap disantap.

Tak selang berapa lama. Penari Sandur muncul. Dengan diiringi alunan musik tradisional. Sembari diikuti para masyarakat yang hadir. Sembari memberikan sejumlah uang kepada sang penari. Para penari tersebut adalah sosok pria yang dibalut keanggunan pakaian wanita. Bahkan tak jarang satu persatu anggota masyarakat ikut menari sesuai alunan musik tradisional dan diikuti tepuk tangan masyarakat lainya. Menurut Tokoh Madura Ketapang, H Mathoji, seni Sandur ini merupakan peninggalan budaya sejak zaman dulu.

Sandur merupakan hasil budaya masyarakat Madura. Sandur dulu dan sekarang memang berbeda. Dulu Sandur identik dengan hal-hal yang dilarang agama seperti sabung ayam, minum-minuman keras dan aneka perjudian lainnya.

“Namun Sandur yang sekarang justru sebaliknya, Sandur sekarang merupakan pergelaran seni yang dikemas sederhana dan menarik karena merupakan atraksi budaya yang menghibur, sekaligus asset daerah yang patut dilestarikan,” katanya.

Tak hanya sampai di situ melalui pergelaran Seni Sandur ini diharapkan pergelaran seni ini sebagai wadah pemersatu masyarakat Ketapang.Sementara itu, sesepuh tokoh masyarakat Madura Ketapang, H Abdullah Yasin, mengatakan digelarnya Seni Sandur ini merupakan aktualiasasi peninggalan nenek moyang masyarakat Madura. Tujuanya adalah untuk mempererat silaturahmi masyarakat Madura Ketapang dan meningkatkan rasa persaudaraan semua lapisan masyarakat Ketapang umumnya.

“Marilah kita bersama-sama saling bekerjasama dalam persaudaraan,” ajaknya.Hal senada diungkapkan tokoh masyarakat Madura Ketapang, Marzuki, Sandur ini boleh dikatakan acara seni hiburan rakyat sekaligus wadah pemersatu. Dimana acara ini dipenuhi kerabat, keluarga dan saudara untuk saling berkomunikasi dan saling mengenal satu dengan yang lain.

Selain itu pergelaran ini merupakan upaya pelestarian Sandur. Sehingga diharapkan instansi terkait seperti Disbudpora memberikan perhatian lebih terhadap Seni Sandur ini. Hal ini dikarenakan asset daerah yang perlu dibina dan dikembangkan agar memiliki nilai jual dalam membangun dunia wisata Ketapang nantinya. (*)

Sumber: Pontiannak Post, Senin, 11 Januari 2010

Label: , ,

Seni Karawitan Yang Mulai Punah

Seni musik karawitan Sumenep, mulai banyak ditinggalkan. Kesenian musik warisan jaman Keraton Sumenep ini, kurang mendapat perhatian dari pemuda di era modern ini. Kini, ia mulai terancam punah. Seni musik karawitan, adalah salah satu warisan kebudayaan Sumenep pada masa kerajaan. Karawitan terdiri dari gabungan beberapa alat musik yang berbahan dasar kuningan. Seni musik gabungan ini, menjadikan alunan yang diciptakan sangat indah. Abdurrahman, pekerja seni musik karawitan mengatakan, saat ini kawula muda sudah banyak meninggalkan seni musik karawitan. Padahal menurutnya, musik ini adalah musik khas milik kerajaan Sumenep di era dulu.

Lebih lanjut Abdurrahman mengatakan, budaya karawitan ini harus tetap dilestarikan.Upaya ini menurut rahman, harus diupayakan dari sejak di bangku sekolah. Abdurrahman yang telah 10 tahun menjadi pemusik karawitan ini merasa takut, jika nanti kesenian musik khas Sumenep ini punah.Saat ini menurut rahman, ada beberapa kesenian khas Sumenep yang terancam hilang akibat masuknya budaya asing. Antara lain hadrah Sumenep, dan juga seni musik karawitan itu sendiri.

Sumber: KabarMadura.Com, Friday, 8 January 2010

Label: , ,

Musik dan Budaya Madura mencatat Rekor MURI

Di Pameran Pariwisata, Seni dan Budaya Majapahit Travel Fair (MTF) 2009, kali ini ada Musik Tongtong atau dalam bahasa Madura musik Daul Tuktuk asal Kabupaten Sampang, berhasil masuk MURI dengan rekor penabuh terbanyak. Yakni sebanyak 300 orang penabuh. Tak pelak akibat banyaknya penabuh hingga membuat suasana Gramedia Expo Surabaya, Jum’at sore (22/05) nampak terdengar meriah dan penuh riuh. Karena irama yang dibunyikan begitu indah, berasal dari bebunyian tetabuhan dari drum minyak, drum ikan, gong, gamelan, kuali dan gong. Lengkap diiringi nyanyian khas Madura.

Menurut sejarahnya Musik ini, ada sejak tahun 1970-an. Seperti yang diceritakan Ahmad Bahrawi, salah seorang penggiat musik Tong-tong pada EastJava Traveler, musik tong-tong ada di Sampang pada tahun 1970-an saat itu musik ini digunakan sebagai musik patrol oleh masyarakat setempat. Terutama saat Ramadhan tiba digunakan untuk membangunkan orang saat waktu sahur.

“Begitu legendarisnya musik ini hingga kami warga Sampang menggelar even tahunan yaitu lomba musik tong-tong setelah Lebaran,” ujar pria yang memliki nama panggilan Mamak ini.

Selain itu, ada sejarah yang mencatat jika Musik Tong-tong populer pada tahun 1999. Saat itu kabel bawah laut yang merupakan aliran listrik di Pulau Madura putus. Sehingga suasana pun gelap gulita selama berbulan-bulan. Mengakibatkan Madura tidak aman dari karena tindak kriminal. Kemudian musik ini menjadi inisiatif warga untuk meredam tindak kriminal dengan melakukan patrol setiap malam hari.

Atas keunikan musik ini, dan berdasar inisiatif masyarakat Sampang. Maka Musik Tong-tong diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dan masuk rekor MURI. (naskah/foto:m.ridlo’i)

Sumber: KabarMadura.Com, Saturday, 24 October 2009

Label: , , , , ,

Puser Angin: Kelompok Musik Daul Tradisional

Misi Selamatkan Budaya, Angkat Harkat Kaum Muda

Salah satu pengisi acara pada kegiatan Anugerah Guru Favorit 2009 adalah kelompok musik uldaul tradisional Puser Angin (bukan Angin Ribut seperti berita sebelumnya). Kelompok musik etnik ini sudah dikenal di hampir seluruh penjuru Madura.

NAMA Puser Angin tidaklah asing. Terutama, di kalangan pecinta kelompok musik uldaul tradisional atau tong-tong. Sebab, komunitas uldaul asal Kecamatan Pasongsongan ini telah meraih beberapa prestasi di beberapa even musik etnik.

Untuk diketahui, komunitas musik tradisional yang berdiri tahun 2005 ini di beberapa even perlombaan mendapatkan beberapa prestasi. Di antaranya, Juara I Musik Saur 2005, Juara 1 Festival Musik Tongtong yang diadakan FKPPI Sumenep 2006 dan Juara 1 Musik Tradisonal se-Madura di Sampang, serta juara 2 musik tradisional se-Madura 2008 dan 2009.

Bagaimana latar belakang lahirnya komunitas musik tradional ini? H RB. Nurul Hamzah, ketua Dewan Pembina Puser Angin kepada koran ini mengatakan, berdirinya komunitas musik etnik itu merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap budaya Madura yang kian memudar.

Dijelaskan, musik tradisional uldaul Puser Angin muncul di saat budaya membangunkan orang tidur saat sahur di bulan puasa kian memudar. Menurutnya, budaya tersebut terancam punah jika tidak dilestarikan. "Jika tidak dilestarikan budaya tersebut terancam punah," kata laki-laki yang menjabat juga Kepsek SMPN 1 Sumenep itu.

Karena itulah, sambung dia, Puser Angin muncul dengan beberapa modifikasi yang tidak menghilangkan nilai-nilai ke-Madura-an. Menurut Hamzah, komunitas tersebut merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan budaya Madura yang terancam punah.

Di samping itu, lahirnya Puser Angin merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan potensi anak muda. Menurutnya, dengan adanya komunitas musik uldaul, sejumlah pemuda di lingkungan sekitarnya diharapkan mempunyai kegiatan. "Daripada mereka tidak mempunyai kegiatan, kan lebih baik diarahkan ke pengembangan budaya," kata Hamzah.

Sebab, terang Hamzah, sejumlah anggota Puser Angin mempunyai beberapa agenda kegiatan yang bersifat rutin. Dikatakan, personel Puser Angin mempunyai agenda latihan tiap bulan satu kali. Namun, jika komunitas tersebut akan mengikuti festival atau tampil, personel melakukan latihan setiap hari.

Hamzah juga menjelaskan, beberapa musik yang ditampilkan oleh Puser Angin mempunyai pesan-pesan dalam bidang pembangunan. "Kami upayakan tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi ada pesan yang disampaikan dengan beberapa judul lagu yang ditampilkan," pungkasnya. (FAISAL WARID)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 29 Desember 2009

Label: , , , ,

Anis Sulalah, Cebbing Favorit Sampang 2009

Sejak Umur Tujuh Hari Ditinggal Ibunya Jualan Es, Sempat Minder

Anis Sulalah mungkin tak seperti finalis lainnya. Dia dari keluarga yang pas-pasan. Tapi, dialah yang terbanyak mengumpulkan dukungan pembaca. Seperti apa kondisi keluarga Anis?

SIANG itu rumah sederhana di RT 03/03 Kampung Kasenih, Jalan Kramat yang tepat berada di seberang kantor Kelurahan Karang Dalam tampak sepi. Di rumah yang sebagian dindingnya belum dikuliti itulah Anis Sulalah tinggal bersama kedua orang tuanya.

Karena tidak ada orang, kemarin Anis mengajak koran ini untuk menunggu di rumah pamannya, Moh. Sadik, yang tidak jauh dari rumahnya. Sementara gadis kelahiran Sampang 9 Juli 1992 itu segera mencari ayahnya dengan naik sepeda motor sang paman.

Sembari menunggu kabar dari Anis, koran ini mulai membuka perbincangan dengan Sadik. "Sejak kecil Anis biasa ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya. Ayahnya (Faridi, 48, Red) adalah petani yang juga pekerja bangunan. Sedangkan ibunya (Toyyinah, 39, Red) biasa berjualan es di Pasar Srimangunan," ungkap lelaki berkumis itu.

Tak lama, handphone (HP) Sadik berbunyi. Panggilan itu dari Anis. "Ayahnya Anis sudah ada di rumahnya. Mari saya antar ke sana," tutur Sadik dan koran ini pun mengiyakannya.

Ketika sampai di rumah Anis, Faridi baru saja selesai memandikan Aisyah Okta Ramadani, adik Anis yang baru berusia tiga tahun. Faridi mengaku baru pulang kerja sebagai kuli bangunan di kampung sebelah. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan naik sepeda pancal yang membawa barang bawaan di bagian belakangnya.

"Setiap hari saya pulang jam segini (pukul 13.00, Red), kadang lebih. Saya biasa jualan es dan pisang goreng di Pasar Srimangunan," ungkap Toyyinah yang sudah berjualan sejak 1992.

Toyyinah mengaku sudah biasa menitipkan Anis ke kerabatnya sejak ia masih berusia tujuh hari. "Itu saya lakukan demi membantu suami membiayai sekolah anak pertama kami. Saat itu anak pertama kami mulai masuk sekolah dasar," ungkap ibu yang biasa berjualan sejak pukul 06.00 hingga siang hari itu.

Namun, ketika Anis mulai masuk SD, dia biasa menemani ibunya berjualan di pasar. "Sejak sekolah di SD dan di SMP saya sering bantu ibu. Tapi setelah SMA dan kuliah, saya tidak bisa nganter ibu lagi. Saya bertugas mengerjakan pekerjaan rumah," terang Anis.

Kondisi ekonomi keluarga seperti itu, diakui Anis sempat membuatnya minder. Hal itu dia rasakan ketika awal audisi peserta Kaceb Batik 2009 beberapa waktu lalu. "Kepercayaan diri saya mulai muncul ketika kakak saya (Moh. Abdurahman, Red) meyakinkan saya kalau semua peserta sama. Mereka makan nasi juga," ungkap Anis.

Selain sempat minder, kondisi ekonomi keluarga juga memaksa Anis untuk mengurungkan cita-citanya menjadi dokter. "Dulu saya ingin kuliah di kedokteran. Tapi bapak tidak punya uang. Untuk masuk di akademi kebidanan (akbid) saja, bapak harus menjual sapi hasil paruhannya dengan tetangga rumah," tutur mahasiswi Akademi Kebidanan Graha Husada Sampang semester I ini.

Lalu, dari mana suara dukungan pembaca untuk Anis? Yang pasti, Anis mendapat dukungan keluarga dan kerabatnya. Para tetangganya juga memberikan dukungan dengan mengumpulkan guntingan balot ke panitia. Selain itu, Anis banyak mendapat suara dari teman-temanya di akbid. (FERI FERDIANSYAH)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 09 Desember 2009

Label: , , ,

Fesyen Batik Dipadukan Dengan Gerbang Salam

Di antara sekian hiburan yang mewarnai Pameran Pembangunan dan Kebudayaan, yang paling banyak dipadati pengunjung adalah Lomba Busana Batik Muslim tingkat SD. Event ini digelar Ikatan Putri Batik (Ika Putik) Pamekasan yang bekerja sama dengan Panitia Hari Jadi Pamekasan ke 479.

Dalam perhelatan itu, pihak panitia membatasi pesertanya, hanya untuk kalangan siswa SD. Tidak seperti selama ini yang biasa digelar untuk siswa tingkat SMP dan SLTA. Sehingga penontonya, sebagian besar dari kalangan guru dan orangtua siswa, selain juga masyarakat umum.

Pihak panitia menempatkan panggung di dekat pintuk masuk pameran. Sehingga begitu para pengunjung masuk sudah bisa langsung melihat pegelaran lomba busana batik tersebut. Di sekitar panggung pun dijubeli anak anak maupun para ibu ibu dan remaja yang ingin menyaksikan acara tersebut.

Sekretaris II Panitia Hari Jadi Pamekasan ke 479, Drs Khalifaturrahman mengatakan, kali pertama digelar lomba busana batik muslim untuk tingkat SD dinilai cukup berhasil menyedot perhatian masyarakat. Bahkan ada ada sekitar 40 SD yang mengirimkan anak didiknya untuk mengikuti lomba busana batik muslim ini.

Lomba ini, digelar terkait dengan motto peringatan Hari Jadi Pamekasan ke 479, yakni 'Memperetas Pamekasan Sebagai Kabupaten Batik'. Yang kedua juga terkait dengan motto Pamekasan sebagai Kota Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami).

Dalam konsep Gerbang Salam, masyarakat Pamekasan memang dihimbau untuk lebih meningkatkan pengamalan ke Islamannya, termasuk diantaranya tentang tata cara berbusana yang Islami.

“Selama ini kan terkesan bahwa batik hanya cocok untuk menjadi busana atau dipakai oleh orang dewasa saja, ternyata anggapan itu tidak benar. Melalui pagelaran semacam ini, kita bisa melihat sendiri bahwa batik juga cocok bagi semua lapisan dan tingakatan usia, apakah orang dewasa, remaja atau anak-anak. Kita lihat penampilan mereka. Sangat bagus skali,” katanya.

Lomba ini, lanjut dia, akan bermakna menjadi media untuk terus semakin mempopulerkan batik sebagai hasil kreatifitas masyarakat dan potensi budaya Pamekasan. Perpaduan antara hasil kreatifitas seni masyarakat dengan nuansa ajaran Islam, maka busana batik muslim akhirnya menjadi busana yang sangat indah, anggun dan agamis. (MASDAWI DAHLAN)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 7 Nopember 2009

Label: , ,

Tari Pelecut Pembangunan Madura

Setiap tahun perayaan HUT Kemerdekaan bangsa Indonesia dirayakan secara meriah di Kabupaten Bangkalan. Resepsi kenegaraan diadakan tepat tanggal 17 Agustus malam. Tahun ini berbeda, ada penampilan fragmen berjudul Pecut Madura.

Tari tersebut dibawakan oleh 50 gadis cantik dan 16 pemuda. Para gadis membawa bendera kecil di tangannya, sementara penari laki-laki membawa pecut. Tari dibawakan selama 10 menit di depan tamu undangan.

Penari terbagi dalam dua barisan, mereka memanggul dua selendang panjang membentang ibaratnya jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Kota Surabaya. Ada prolog yang disampaikan Sudarsono, sang koreogafer fragmen dari balik layar. "Ngereng Suramadu ampon dhaddi. Jhak sampek reng Madura melo nyamanna, namon tak melo man-nyamanna. Otaba melo gettanah tak melo nangkana." Dalam bahasa Indonesia kata-kata itu mengajak orang Madura agar tak jadi penonton pasca-Suramadu.

Penonton lantas dikejutkan dengan sebuah pasangan menggunakan sepeda hendak melewati jembatan Suramadu. Dengan mesranya dua insan anak Madura yang sedang dimabuk asmara menyampaikan pesan berarti. Mereka mengajak semua yang hadir agar mensyukuri keberadaan jembatan terpanjang di Asia ini dengan belajar keras dan berkarya. Mereka juga menyampaikan prolog akan kekayaan Pulau Madura yang pantas untuk dipasarkan kepada masyarakat luar, salah satunya Kerapan Sapi.

Tak berselang lama, dua pasang anak kecil muncul ke atas panggung berlagak seperti layaknya sepasang sapi kerap. Didampingi sang pemilik, para sapi ini akan menuju medan laga menjadi yang terbaik. Namun sebelum dilombakan, dua pemilik sapi malah bertengkar dengan mengeluarkan celurit, senjata khas Madura.

Dari balik layar kembali terdengar prolog yang mengajak bahwa carok sudah harus ditinggalkan. Celurit Madura sudah saatnya digunakan untuk hal yang lebih berguna, yakni untuk membabat alas sebagai lokasi pembangunan pasca Suramadu. Para pemilik akhirnya tersadar dan sepakat untuk menjaga kelestarian budaya Kerapan Sapi tanpa dibumbui dengan perselisihan dan pertentangan. (ale/nra)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 19 Agustus 2009

Label: ,

Pahlawan Madura itu Bernama Sakerah

Dengan tegas, Sakerah meminta kepada mandor untuk memberikan hak para kuli sepenuhnya.

Cerita kepahlawanan Sakerah bermula ketika tokoh berdarah Madura itu membela para kuli kebun tebu milik pabrik gula Kancil Mas Bangil. Upah para kuli dipotong oleh mandor bawahan Sakerah.

Dengan tegas, Sakerah meminta kepada mandor untuk memberikan hak para kuli sepenuhnya. Tindakan itu dianggap sebagai tantangan, Sakerah pun dilaporkan pada pimpinan pabrik. Sakerah yang buta huruf, berada di posisi yang salah, karena membubuhkan cap jempol di bukti pembayaran. Sakerah dituduh korupsi.

Apalagi saat Herman, administratur pabrik gula menodongkan pistol di kepalanya. Tak kuasa menahan emosi, ia tepiskan pistol Herman dan langsung membacoknya dengan celurit. Akibatnya, hukuman penjara 25 tahun harus ia terima.

Ia mendekam di penjara kolonial Kalisosok Surabaya. Sakerah, sosok yang tidak bisa melihat wong cilik diperlakukan semena-mena. Saat dipenjara, tiba-tiba ia bertemu pamannya. Paman Sakerah sengaja mencuri agar dapat menemui keponakannya. Menurut penuturan sang paman, perilaku mandor semakin tidak terkendali. Selain itu istri muda Sakerah, Marleena kerap dirayu Brodin, keponakan Sakerah.

Sakerah kabur dari penjara. Dengan sekali tebas, dia membunuh Brodin. Tak hanya itu, Sakerah juga membunuh carik dan petinggi. Tak ayal, dirinya pun jadi target pengejaran Gupermen. Sakerah dijebak dalam suatu pesta tayub. Tokoh legendaris Madura itu berhasil ditangkap, dan akhirnya dihukum mati.

Jumat 27 Februari 2009 malam, Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki terlihat padat. Dibuka dengan Tari Remo dan diselingi parikan khas Jawa Timuran, Kartolo sang maestro ludruk berhasil memancing tawa ratusan penonton. Selain Kartolo, tampak pula beberapa petinggi, layaknya Basofi Sudirman, Oetojo Oesman dan Sony Wibisono.

Tapi kehadiran petinggi-petinggi itu bukan sebagai penonton. Mereka tengah mementaskan pagelaran ludruk berlakon 'Sakerah'. Selain itu pagelaran juga dimeriahkan oleh Ludruk Metropolis, tampak pula Miss Indonesia, Kamidia Radisti, yang berperan sebagai Noni Belanda. Sedangkan pemeran utama Sakerah dilakoni Sutan Remy Sjahdeini, Komisaris utama PT Danareksa.

Pementasan berdurasi tiga setengah jam itu riuh oleh tawa. Tak jarang terdengar celetukan dari bangku penonton. Mereka tampak melebur dalam cerita 'Sakerah'. Iring-iringan gamelan pun kian menghangatkan malam. Penonton juga diajak mengenal lagu daerah Jawa Timuran, Tanduk Majang. Pagelaran Sakerah kian meriah.

Sayang, di akhir adegan, tepat saat pistol ditodongkan ke Sakerah, lampu panggung pun padam. Penonton sempat mengira jika hal ini bagian dari cerita, ternyata bukan. Namanya juga ludruk, listrik mati bukanlah penghalang.

Meski penonton mulai berteriak, "Sakerah nggak jadi mati, cerita bersambung ke Sakerah Dua," teriak para penonton. Sakerah tetap lanjut. Beruntung tiga menit kemudian listrik kembali menyala. Dan "Dor, dor, dor !!!" Sakerah pun akhirnya mati. Dan penonton yang rata-rata orang Jawa Timur riuh bertepuk tangan.

Sumber: Vivanews, Sabtu, 28 Februari 2009

Label: , , ,

Paduan Seni China-Madura

International Trade Center (ITC) Mega Grosir Surabaya menggelar Festival Imlek pada 3-26 Januari 2009 untuk menyemarakkan Tahun Baru Imlek 2560. Selain menampilkan seni tari, dalam festival ini ditampilkan bazar pernik-pernik dan makanan khas Imlek. Menariknya, dalam pertunjukan seni ditampilkan juga perpaduan seni China dan seni Madura.

General Manager PT Citraagung Tirta, Christine N. Tanjungan di Surabaya, Minggu 11/1) mengatakan, pertunjukan seni budaya Cina ini diikuti sembilan yayasan seni budaya Cina dari Surabaya dan sekitarnya. Pada Minggu kemarin misalnya, ditampilkan 200 pengisi acara dari tiga yayasan, di antaranya Yayasan Wijaya Kusuma, Yayasan Zhong-Zhong, dan Yayasan Central Park Mulyosari.

Menurut Supervisor Promotion ITC Mega Grosir Surabaya, Avy Chujnijah sekitar 200 pengisi acara menampilkan tarian dan nyanyian dari Cina, Tibet, Korea, dan Arabian. Misalnya menyajikan tarian Sin Jiang, tarian Gellang (Gelang) Ro`om, tarian Yue Yuan Hua Hao, musik tradisional Cina, hingga atraksi penyanyi tunggal.

Penampilan kolaborasi seni tari Cina dengan tari Madura, dengan nama tarian Gellang Ro`om memperoleh sambutan meriah dari pengunjung ITC Mega Grosir Surabaya. Apalagi lima orang dari tujuh orang penari wanita tersebut memiliki darah keturunan Cina.

Ketua II Yayasan Wijaya Kusuma sekaligus pelatih tari Gellang Ro`om, Siswanto Gondo Purnomo, menjelaskan bahwa perpaduan tari ini dilatarbelakangi cerita menarik.

Kolaborasi seni tari itu bercerita tentang sekumpulan wanita Madura yang giat bekerja dan senang memamerkan hasil jerih payahnya berupa seperangkat perhiasan dalam sebuah pesta rakyat. Mereka mengenakan perhiasan yang dimilikinya, hampir di seluruh bagian tubuhnya. Misalnya, gelang kaki, kalung, hingga anting-anting. "Untuk memeriahkan acara ITC Mega Grosir Surabaya pada tahun ini, kami menyajikan 28 tarian dengan 40 orang penari yang terdiri atas penari usia empat tahun hingga penari wanita 70 tahun," katanya.

Sumber: kontekaja.com

Label: , ,

Etnik Madura dalam Lukisan

Mengangkat sebuah etnik dalam karya lukisan tidak gampang karena membutuhkan penguasaan sekaligus wawasan yang memadai terhadap etnik itu sendiri. Ini berarti pula seorang perupa harus cermat, jika tidak menghendaki hasil karyanya sekadar eksploitasi tanpa moralitas.

Jika, kini salah seorang keturunan etnis Madura, Khusnul Bahri (43), warga Surabaya, Jawa Timur, menggelar tidak kurang 30 buah karya lukisan dekoratif-naturalis bertajuk 'Etnik Madura dalam Lukisan', 1 November hingga 15 November, di Jendela Resto Gallery Surabaya, bisa jadi sebuah proses eksplorasi seorang seniman.

Etnik Madura ini amat kaya dengan tradisi dan budaya, seperti karapan sapi misalnya, dan celurit sebagai identitas yang melekat. Namun demikian, dalam ajang pameran tunggal ini, Khusnul Bahri, belum sepenuhnya mengeksplorasi kekayaan tradisi dan budaya etnik Madura dalam karya lukisnya.

"Masih banyak yang harus saya gali mengenai etnik, tradisi dan budaya Madura, tetapi dalam karya-karya yang sekarang ini saya pamerkan setidaknya mengangkat kembali nuansa Madura," ujarnya.

Dikatakan, sebuah etnik yang terangkat dalam sebuah karya seni rupa, termasuk lukisan, bisa menjadi sebuah pendorong untuk memahami tradisi dan budaya sehingga sejarah tentang tradisi dan kebudayaan lokal, seperti budaya Madura, bisa terangkat kepermukaan melalui sentuhan karya seni rupa. "Konsep saya dalam seni rupa, ya hendak mengangkat Madura. Artinya, sebagai pelukis saya berkepentingan untuk mengubah image bahwa orang Madura tidak memahami seni," ujar Khusnul Bahri.

Sementara itu, Manajer Jendela Resto Gallery Surabaya, Andri Setiawan kepada Kompas mengatakan, selama ini pihaknya amat berkepentingan untuk menghadirkan berbagai pameran seni rupa sehingga persoalan kualitas hasil sebuah karya lukisan bisa terukur. "Sebagai pengelola galeri, kami menekankan setiap seniman yang mau pameran terlebih dahulu mengabaikan laku atau tidak. Jadi, yang terpenting bagaimana karya mereka bisa diapresiasi oleh pengunjung," ujarnya.

Andri Setiawan lebih lanjut mengatakan, kegiatan pameran seni rupa telah menjadi agenda Jendela Resto Gallery. (tif)

Sumber: Kompas

Label: ,

Seniman Sumenep Raih Cak Durasim Award

Usai menyajikan berbagai suguhan pertunjukan seni karya para seniman muda berbakat, Festival Cak Durasim (FCD) 2008 berakhir tadi malam (16/11). Dalam penutupan tersebut, tampil Kelompok Mainteater asal Bandung yang membawakan lakon Electronic City. Tidak ketinggalan, ajang penganugerahan Cak Durasim Award yang diberikan kepada seniman Madura, Taufikkurachman di Gedung Cak Durasim.

Acara penutupan diawali dengan penganugerahan Cak Durasim Award yang diberikan kepada Taufikkurachman. Seniman 60 tahun asal Sumenep tersebut telah berjasa menciptakan sebuah tarian yang kini menjadi ikon Tari Kabupaten Sumenep. Tari yang diberi nama Muangsangkal itu kini banyak dikenal baik di dalam maupun di luar Sumenep.

Tidak hanya itu, tari Muangsangkal yang berarti membuang bahaya itu sudah menjadi tari legendaries Kraton Sumenep. Sejak dibakukan, tari dengan jumlah penari yang selalu ganjil itu kerap menjadi rujukan bahan skripsi mahasiswa universitas-universitas ternama di Indonesia.

Karena itu, sudah sepantasnya Taufikkurachman menerima penghargaan tahunan tersebut. ''Saya terus terang merasa bangga sekaligus optimistis bahwa karya tari saya bisa menjadi salah satu ikon tari Jawa Timur," ujarnya usai menerima penghargaan.

Sebagai pertunjukan penutup, tampil Kelompok Mainteater Bandung. Pertunjukan teater itu terbilang spesial. Tidak menganut jalur teater konvensional, kelompok teater anak muda tersebut bermain di jalur kontemporer dengan memadukan sebuah pertunjukan teater dengan film. Bisa disaksikan lewat setting panggung yang juga tidak biasa, seperti bentuk panggung yang melingkar, latar belakang sebuah layar LCD, dan juga sebuah meja dengan tiga kursi yang berada di area bangku penonton.

Membawakan lakon Electronic City, anak-anak muda Bandung tersebut mencoba mengkritisi ketergantungan masyarakat dunia terhadap teknologi. Lewat pertunjukan berdurasi satu setengah jam itu, kelompok teater yang bekerja sama dengan komunitas film independent, Kineruku, itu menyajikan pertunjukan teater dengan menggabungkan tiga unsur. Yakni, off stage, on stage dan on screen. (ken/ari)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 17 November 2008

Label: ,

Festival Musik Tongtong

Hujan, Penonton Membludak

Rangkaian peringatan Hari Jadi Sumenep ke-739 dimeriahkan Festival Musik Tongtong. Meski sempat turun hujan kemarin malam, festival tetap berlangsung.

Sebanyak 33 kelompok musik Tongtong dari beberapa kabupaten unjuk kebolehan. Ribuan warga memadati jalan protokol yang akan dilalui musik Tongtong atau yang dikenal dengan nama Ul-Daul.

Musik Tongtong memang cukup pesat berkembang di Madura. Musik ini dimainkan belasan orang. Alat musiknya bukan hanya tongtong, tapi dipadu dengan alat musik tradisional lainnya. Seperti, gendang, saronen, dan kelenengan.

Bahkan, ada grup yang menambah dengan alat musik modern seperti terompet. Mereka memainkan musik itu di atas sasis truk yang dihiasi dengan berbagai macam dekorasi, seperti kereta kuda.

Tapi, hiasan dan dekorasi bukan satu-satunya penilaian untuk jadi juara. Kekompakan dan kreasi musik merupakan penilaian utama untuk merebut tropi bergilir Bupati Sumenep.

Agenda tahunan ini kemarin malam dilepas Bupati Sumenep Moh. Ramdlan Siraj di depan GOR A. Yani Panglegur. Selanjutnya, peserta berjalan menempuh jarak 3 km.

Festival ini menyedot perhatian warga. Sepanjang rute yang dilewati kelompok musik Tongtong dari GOR menuju Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Panglima Sudirman, dan hingga finish di depan Masjid Agung penuh sesak dengan penonton.

Sekretaris Panitia Pelaksana Mohammad Ridwan SE mengatakan, Festival Musik Tongtong merupakan kalender tahunan untuk memeriahkan Hari Jadi Sumenep. "Alhamdulillah, meski sempat hujan, kegiatan tetap berjalan dan penonton membludak," katanya.

Selain memerebutkan tropi bergilir Bupati Sumenep, panitia menyediakan hadiah berupa uang pembinaan dengan total Rp 38 juta. "Kegiatan ini merupakan salah satu sarana untuk melestarikan kesenian Madura," kata Ridwan.

Dari hasil penilaian juri, kelompok musik Tongtong Putra Angin Ribut dari Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, berhasil menjadi juara umum. (zr/mat)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 27 Oktober 2008

Label: , ,

Sampang Dominasi Pameran Seni Rupa Religius

Memasuki bulan puasa atau Ramadan 2008, Taman Budaya Jatim (TBJ) menggelar berbagai acara yang bernuansa religius. Salah satunya “Pameran Seni Rupa Religius” yang digelar mulai Jumat (22/8) hingga 10 September, di Ruang Sawunggaling TBJ. Pameran ini menghadirkan sebanyak sembilan pelukis Jatim dan terbanyak dari Sampang, Madura.

Karya yang dihadirkan, kata Kurator Pameran, Agus Koecing yang ditemui Kamis (20/8), terbanyak tentunya juga dari Sampang. Mereka itu, C Alfan, M Satuman Ashari dan Junaidi. Sementara Alfie Fauzie dari Mojokerto, Istoyo dan Sifin Ghani (Surabaya), dan Fauzi (Bojonegoro). Mereka ini menampilkan antara empat hingga lima lukisan. Diusakan menyajikan karya terbaru dan merespon tema yang berkaitan dengan Ramadan.

Dari karya yang dihadirkan, sebagian memang merespon tema secara hitam – putih. Artinya, lukisan yang menghadirkan tiga orang sedang bersembahyang dengan posisi “membelakangi lensa”. Di bagian depannya tampak tiga pasang sandal dengan model yang berbeda.

Karya lain ada yang senada namun terkesan ada pesan atau kritik sosial. Karya ini menghadirkan begitu banyak berjejal bangunan beton dan menjulang tinggi hingga menghimpit bagunnan masjid. Dalam karya itu, kubah dan menara masjid tampak kecil dan rendah.

Sementara tiga orang yang sedang sembahyang, digambarkan mencuat tinggi di atas bangunan gedung dan seperti dalam tabung, digambarkan dengan warna indah serta terang. Sepertinya, keindahan atau orang yang suci, di manapun tempat dan dalam situasi yang terjepitpun, tetap saja bersinar terang.

Sifin, kali ini menyajikan karya yang salah satunya Di Bawah Sajadah dan menampilkan seorang nenek dengan berdoa. Pelukis Satuman menghadirkan karya yang ukurannya cukup tinggi, yaitu 275 Cm. Di antara karyanya itu berjudul Doa dan Cinta dalam Cinta.

Karya peserta lain yang tidak terkesan hitam-putih, ada yang meadukan antara batu, buah (mirip dengan kacang tanah) dan tulisan Arab. Kemudian ada yang memasukan unsur religi dengan teknik batik khas Madura. Dan masih banyak lagi karya yang hadir sesuai dengan aliran pelukisnya.(gim)

Sumber: Surabaya Post, Kamis 22/08/2008

Label: , , , ,