Kereta Api Tempo Dulu

  1. Lokomotif Kereta Api di Madura, tempo dulu.

  2. Pejabat kolonial menunggu kereta api di setasiun Kamal, dekat pelabuhan ferry yang menghubungan Surabaya dan Madura.

  3. Rel kereta api di Sumenep dan gerobag pengangkut barang. (3 photos)

  4. Sumber: Abdul Hadi WM

Label: , ,

Pegadaian Menjelang Lebaran Ketupat

Menghadapi Lebaran Ketupat, Perum Pegadaian Bangkalan kembali dipenuhi nasabah. Namun, pemandangan kali ini berbeda dari sebelumnya. Ketika Lebaran Idul Fitri masyarakat ramai menebus barang. Tapi, kali ini masyarakat antre menunggu giliran mendapatkan pinjaman.

SIANG itu, nasabah pegadaian sangat ramai. Mereka duduk di kursi antrean menunggu giliran dipanggil untuk mendapatkan dana kontan. Tapi, pemberian dana segar ini tidak serta merta diberikan. Masyarakat harus memberi barang sebagai jaminan.

Kepala Cabang Pegadaian Bangkalan Coyyin mengatakan, fenomena gadai barang menjelang Lebaran sudah biasa. Nasabah meminjam uang untuk kebutuhan mereka. "Sudah biasa, menjelang Lebaran kebutuhan masyarakat meningkat," katanya.

Sehari Salurkan Rp 201 Juta

Berdasarkan data pegadaian, pada September 2008 dana yang disalurkan pegadaian mencapai Rp 1.367.564.000 Jumlah ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Bulan yang sama pada 2006, dana yang disalurkan mencapai Rp 1.170.751.000. Pada 2007 lebih rendah, yakni Rp 983.925.000.

Sedangkan Oktober ini, lanjut Coyyin, pihaknya belum bisa memastikan besar dana yang akan disalurkan. "Tapi untuk hari masuk pertama kemarin (Senin 6/10), dana yang disalurkan sudah mencapai Rp 201 juta," terangnya.

Sementara, pemberian pinjaman dengan bunga 0,9 persen untuk usaha, pegadaian belum bisa merealisasikan. "Kita tunggu sampai bunga turun 0,3 persen. Baru kita salurkan," jelas Coyyin.

Meskipun suku bunga menurun, tambahnya, pegadaian tidak langsung memberi pinjaman. Karena pinjaman jenis usaha, pihaknya terlebih dahulu melakukan beberapa survei. "Kalau memang layak mendapatkan dana, kita salurkan," tandasnya. (ZARNUJI)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 08 Oktober 2008)

Label: , , ,

Tellasan Topa' di Madura Meriah

Mengunjungi tempat wisata di saat Tellasan Topak merupakan kebiasaan orang Madura. Di Bangkalan, beberapa lokasi wisata dipadati warga. Sedangkan tradisi Lomban di Kamal masih tetap terjaga.

SUARA petasan saling menyambut. Pagi itu jam menunjukkan pukul 06.00. Masyarakat di Bangkalan mulai merayakan Lebaran Ketupat pada hari ketujuh setelah Lebaran Idul Fitri. Masyarakat Bangkalan punya tradisi turun temurun yang masih terjaga hingga kini. Yakni saling antar ketupat dan lepet kepada tetangganya.

Usai berlebaran, masyarakat berekreasi. Di Kamal, masyarakat setempat menggelar tradisi naik perahu mengitari perairan Kamal. Mereka menyebutnya lomban. Tradisi itu cukup menarik.

Biasanya, pemilik mengiasi perahunya dengan umbul-umbul warna warni. Di antara tiang perahu digantungi berbagai makanan khas tellasan topak. "Senang bisa naik perahu," kata Annisa, pelajar SD di Kota Bangkalan usai naik perahu Lomban.

Mercusuar dan Rongkang Dipadati Warga

Sementara, di Mercusuar Ujung Piring juga tidak kalah ramai. Bangunan peninggalan Belanda pada 1879 itu diminati masyarakat, khususnya kaum muda.

Estari Santoso, salah satu penjaga mercusuar dari Distrik Navigasi Perhubungan Laut, Surabaya mengatakan, mercusuar peninggalan ZM William III setiap Lebaran Ketupat dikunjungi 400-500 orang.

Namun, kondisi seperti tidak terlihat lagi pada Lebaran Ketupat tahun ini. Masyarakat yang berwisata di menara suar ini diperkirakan 200-350 orang. "Lebaran kali ini sepi Mas. Tidak tahu kenapa," jelasnya.

Meskipun pengunjung menurun, lanjut Estari, mercusuar yang dikelola Departeman Perhubungan tidak dikomersilkan. Sehingga tidak ada beban yang harus ditanggung pengelolanya. "Selain menjaga mercusuar, kita bertugas menyalakan lampu setiap pukul 17.30," terangnya.

Sedangkan perayaan Lebaran Ketupat di Rongkang, Kecamatan Kwanyar sangat padat. Banyak masyarakat sekitar bahkan dari Surabaya naik perahu.

Tabrianto salah satu pemilik perahu mengatakan, pada Lebaran Ketupat ongkos naik perahu Rp 5 ribu. Dalam sehari, dia bisa meraup penghasilan Rp 200 ribu. "Ini kan satu tahun sekali. Setelah ini (Lebaran ketupat, Red) saya jadi kuli," katanya. (ZARNUJI)

kembali

Tellasan Topa' ala Warga Sampang

Bagi warga Madura, Lebaran Ketupat atau dalam bahasa Maduranya lazim dengan sebutan Tellasan Topa', merupakan puncak perayaan Idul Fitri. Bahkan suasananya terbilang jauh lebih semarak dari awal Lebaran, yaitu 1 Syawal. Seperti halnya yang terjadi di Sampang. Berbagai tradisi unik dilakukan warga Sampang saat Tellasan Topa'. Apa saja?

BERKUNJUNGLAH ke Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong saat Tellasan Topa'. Suasana kampung pesisir tersebut bakal berubah semarak. Saat koran ini melintas di desa tersebut, kemarin (8/10), suasana tampak lain dari biasanya. Hampir seluruh warganya mejeng di pinggir jalan dengan baju barunya. Tidak hanya anak kecil yang lucu, para muda-mudi, bahkan ibu-ibu juga tak mau ketinggalan. Sebagian di antara mereka ada yang hanya sekadar nongkrong di teras rumah. Bahkan ada yang berbondong-bondong naik andong.

Itulah bagian dari tradisi turun temurun warga desa ujung timur Sampang tersebut yang disebut pir-piran alias naik andong. Sebab arti pir sendiri menurut warga setempat adalah andong.

"Pir sebutan orang Madura untuk andong roda 4 di zaman dulu. Sekarang andong hanya beroda 2 dan berganti nama jadi dokar," terang Sufyan, warga Desa Tanjung Sampang.

Berdasar cerita neneknya, menaiki andong saat Tellasan Topa' merupakan bagian dari tradisi warga setempat yang terjaga dari masa ke masa. Tradisi unik tersebut bahkan kabarnya tidak hanya dimiliki warga Desa Tanjung. Namun berjabat erat dengan kebiasaan warga Desa Bandaran, Pamekasan. Kebetulan, kedua tetangga desa ini merupakan pemisah antara teritorial Pamekasan dan Sampang.

"Maksud dan tujuan naik andong adalah untuk menjalin tali silaturahmi saat Lebaran yang dilakukan oleh warga Desa Tanjung dan Desa Bandaran yang kebetulan memiliki hubungan kekerabatan. Jadi tradisi itu juga dipakai di Desa Bandaran," terang Sufyan.

Tak jarang saat Tellasan Topa' sepanjang perjalanan dari Desa Bandaran menuju Tanjung kerap kali macet. Bahkan tergolong padat merayap. Situasi tersebut juga terjadi kemarin pagi. Bahkan semakin sore, simpul kemacetan semakin tak terurai. Sebab warga dua desa tersebut menambahi tradisi pir-piran itu dengan adu nyaring sound system. Tak puas hanya duduk sambil berdangdut-ria, warga kini mayoritas mengusung sound system-nya di atas kendaraan roda empat. Bahkan tak jarang diusung di atas truk.

Seiring bergulirnya waktu, tradisi tersebut kini telah berubah makna. Naik andong yang menjadi ajang untuk mengikat tali silaturahmi mengalami peralihan makna. Hal tersebut diakui oleh Hamidah, warga desa setempat. "Kalau orang dulu naik andong itu memang sebagai transportasi untuk menjalin silaturahmi. Tapi sekarang malah dijadikan untuk senang-senang semata," ujar nenek 1 cucu tersebut.

Terjadinya perubahan tradisi tersebut menurut Hamidah adalah imbas dari perubahan masa. "Kalau anak-anak zaman sekarang sudah tidak mau tradisi. Sebagian di antara mereka sengaja naik andong hanya untuk mejeng," tambahnya dengan logat Madura yang kental.

Kalungi Kambing dengan Ketupat

Dari Tanjung, kita beralih melihat tradisi unik lainnya yang dimiliki warga Sampang. Salah satunya di Kelurahan Banyuanyar, Kota Sampang. Meski masih tergolong daerah pinggiran kota, namun warga Banyuanyar memilki tradisi unik saat Tellasan Topa' tiba.

Tidak hanya warga yang menikmati makna Tellasan Topa'. Tetapi juga sejumlah hewan ternak. Seperti sapi dan kambing. Buktinya, beberapa kambing milik warga setempat sengaja dilepas dan dibiarkan keluar kandang menggunakan kalung ketupat.

Fathur Rohman, warga Banyuanyar mengungkapkan bahwa tradisi tersebut tetap dijaganya hingga kini. Utamanya dilestarikan oleh sebagian warga yang memiliki hewan ternak. Namun diakuinya, suasananya tradisi unik tersebut sudah tak seramai dulu.

"Kita sengaja mengalungkan kambing atau sapi dengan ketupat. Maknanya, bahwa Lebaran ini bukan hanya milik kita. Tapi hewan pun juga diajak merasakan maraknya berlebaran ketupat," ujar Fathur Rahman yang juga merupakan ketua RT setempat.

Namun, sekali lagi, bergulirnya zaman juga diakuinya sedikit mengikis tradisi tersebut. "Kalau zaman dulu kambing yang dikalungi ketupat itu sengaja dikeluarkan dari kandang. Dan anak-anak berebut mengejar kambing untuk diambil ketupatnya untuk disantap. Sayangnya, sejak berapa tahun ini tidak ada lagi tradisi kejar kambing tersebut," cerita Fathur Rahman.

Seperti halnya Hamidah, Fathur Rahman juga menyadari hal itu adalah imbas dari pergeseran zaman. Dan itu merupakan hal yang wajar. Itu mengingat sang penganut tradisi sudah mulai berganti generasi. "Wajarlah, orang zaman sekarang sudah berbeda dengan orang zaman dulu. Jadi tradisi yang tidak dianggap penting sudah tak perlu dilakukan lagi," ujar Fathur Rohman sembari tersenyum. (SARI PURWATI)

Sumber: Jawa Pos, 09/10/08

kembali

Pegadaian Menjelang Lebaran Ketupat

Menghadapi Lebaran Ketupat, Perum Pegadaian Bangkalan kembali dipenuhi nasabah. Namun, pemandangan kali ini berbeda dari sebelumnya. Ketika Lebaran Idul Fitri masyarakat ramai menebus barang. Tapi, kali ini masyarakat antre menunggu giliran mendapatkan pinjaman.

SIANG itu, nasabah pegadaian sangat ramai. Mereka duduk di kursi antrean menunggu giliran dipanggil untuk mendapatkan dana kontan. Tapi, pemberian dana segar ini tidak serta merta diberikan. Masyarakat harus memberi barang sebagai jaminan.

Kepala Cabang Pegadaian Bangkalan Coyyin mengatakan, fenomena gadai barang menjelang Lebaran sudah biasa. Nasabah meminjam uang untuk kebutuhan mereka. "Sudah biasa, menjelang Lebaran kebutuhan masyarakat meningkat," katanya.

Sehari Salurkan Rp 201 Juta

Berdasarkan data pegadaian, pada September 2008 dana yang disalurkan pegadaian mencapai Rp 1.367.564.000 Jumlah ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Bulan yang sama pada 2006, dana yang disalurkan mencapai Rp 1.170.751.000. Pada 2007 lebih rendah, yakni Rp 983.925.000.

Sedangkan Oktober ini, lanjut Coyyin, pihaknya belum bisa memastikan besar dana yang akan disalurkan. "Tapi untuk hari masuk pertama kemarin (Senin 6/10), dana yang disalurkan sudah mencapai Rp 201 juta," terangnya.

Sementara, pemberian pinjaman dengan bunga 0,9 persen untuk usaha, pegadaian belum bisa merealisasikan. "Kita tunggu sampai bunga turun 0,3 persen. Baru kita salurkan," jelas Coyyin.

Meskipun suku bunga menurun, tambahnya, pegadaian tidak langsung memberi pinjaman. Karena pinjaman jenis usaha, pihaknya terlebih dahulu melakukan beberapa survei. "Kalau memang layak mendapatkan dana, kita salurkan," tandasnya. (ZARNUJI)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 08 Oktober 2008)

kembali

Label: , ,

Kerapan Sapi Madura 2013

Add caption


Setelah Sukses dengan Kerap Kene' (Sapi Kelas Junior), Besok 31 Maret 2013 adalah Kategori Kerap Rajhah (Sapi Kelas Senior) yang bakal seru karna diikuti oleh pemilik sapi dari 4 Kabupaten di Madura..

Lokasi Kerapan Sapi Madura 2013 bertempat di Lapangan Skeep (Stadion R.P. Moh. Noer) Bangkalan

~ AYO DATANGG!! PASTI SERRUUUU!!!!

Catatan:
Kerapan Sapi Madura 2013 dipersembahkan oleh:
Komunitas Blogger Madura (Plat-M.com) dan PERKASA (Persatuan Kerapan Sapi) Bangkalan

Sumber: tretan.com

Label: , ,

Jadwal Karapan Sapi (Kerapan Sapi) 2012

Jadwal Karapan Sapi (Kerapan Sapi) 2012 - Pulau Madura | Sahabat dPUMA diseluruh Nusantara, ada informasi terbaru yang membanggakan dan sekaligus membahagiakan. Pada tahun 2012 ini, di Pulau Madura akan diadakan lagi Event tahunan yang tidak pernah terlupakan dan sering ditunggu-tunggu oleh Wisatawan Lokal maupun Wisatawan Mancanegara. Event tahunan tersebut adalah Karapan Sapi / Kerapan Sapi, nah bagi yang berminat untuk melihat / menonton lomba Karapan Sapi / Kerapan Sapi ini bisa langsung melihat jadwal yang ada dibawah ini:

JADWAL KARAPAN SAPI 2012

From Kabar Humaniora

Seperti itulah jadwal Karapan Sapi 2012 yang nantinya bisa menjadi pandangan bagi para penikmat Event Tahunan di Pulau Madura ini. Ditunggu kedatangannya di Pulau Madura.

Sumber: dpuma On Kamis, Mei 10th 2012

Label: , , ,

Polemik Kerapan Sapi Diselesaikan Secara Bijak

Baru-baru ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Bidang Pemasaran mengadakan kegiatan kunjungan ke Madura tepatnya di Kabupaten Bangkalan untuk menghadiri pelaksanaan lomba Kerapan Sapi.

Karapan sapi merupakan salah satu daya tarik wisata di Jawa Timur yang telah dikenal baik secara nasional maupun Internasional. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur mendukung event ini baik melalui Promosi maupun pelaksanaannya.

Event kali ini di gelar dengan 2 versi yakni, ada kerapan sapi dengan kekerasan dan ada yang tanpa kekerasan. Menurut Kepala Bakorwil Pamekasan Ir. Eddy Santoso MM, penyelenggaraan dua model kerapan sapi ini hanya terjadi di tahun ini saja, selanjutnya untuk pelaksanaan kerapan sapi piala presiden tahun 2013 dan tahun-tahun berikutnya akan dilaksanakan dengan mengembalikan citra Karapan Sapi Madura yang sesungguhnya. Yaitu Kerapan Sapi tanpa kekerasan. (Bhirawa)

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Dr. H. Jarianto, M.Si mengingatkan bahwa Karapan Sapi sebagai ajang seni budaya yang dikenal dari Nasional hingga Mancanegara ini tetap harus berlanjut. Permasalahan yang berkaitan dengan pola perlombaan seharusnya bisa dibicarakan dan diselesaikan secara bijak.

Tahun ini sebaiknya perlombaan Piala Presiden untuk kerapan sapi bisa dilanjutkan, memang ada masalah, tapi kan bisa diselesaikan setelah perlombaan,” kata Jarianto saat menanggapi polemik soal atraksi karapan sapi piala Presiden.

Menurut Jarianto dari sisi kepariwisataan ajang perlombaan sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain ini bisa mengundang banyak wisatawan untuk berkunjung ke pulau tersebut. “

Terbukti ajang tersebut selalu dihadiri wisatawan asing”, kata Jarianto. (Bhirawa)

Bagi masyarakat Madura karapan sapi merupakan ajang gengsi atau status social bagi pemiliknya, tetapi juga dapat meningkatkan nilai ekonomi karena harga jual sapi pemenang lomba akan naik selangit. Oleh karena itu bagi masyarakat Madura diperlukan kriteria khusus dalam memilih sapi agar menjadi sapi kerapan yang handal

Sedangkan pemenang kerapan sapi piala Presiden RI tanpa kekerasan adalah,

Juara I pasangan sapi Gagak Rimang dari Bangkalan, juara II pasangan sapi Gagak Rimang dari Sumenep dan juara III direbut oleh pasangan sapi Lintang Lecen dari Bangkalan. (mus)

Sumber: Disbudpar, Monday, 12 November 2012

Label: ,

Pulau Karang di Madura Membawa Berkah

warga menyewakan perahu. moch andriansyah©2013 Merdeka.com


Fenomena munculnya 'Pulau Karang' di tengah laut di pesisir pantai Desa Labuhan, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan, Madura, Jawa Timur awal Januari lalu membuat warga penasaran bercampur panik. Mereka takut akan timbul petaka karena kejadian alam itu dianggap aneh.

Meski dianggap aneh, banyak pengunjung mendatangi pulau dadakan tersebut. Karena banyak pengunjung yang datang, hal ini dimanfaatkan oleh nelayan setempat untuk mengais rezeki.

"Siapa yang tahu soal kutukan, soal balak atau apalah sebutannya. Masalah gaib ya kita kembalikan pada yang gaib, yaitu Tuhan seru sekalian alam," kata seorang pengunjung, Suharyono yang ingin menyaksikan fenomena unik di Pulau Garam, sebutan Madura tersebut, Rabu (23/1).

Pengunjung asal Surabaya ini mengaku penasaran. Setiap pengunjung yang menyewa perahu, dikenakan tarif Rp 4 ribu untuk pulang-pergi.

Sementara pengunjung yang sudah menginjakkan kakinya di 'Pulau Karang' tak merasa takut karena aura mistisnya. "Mereka malah bercanda dan berfoto ria mengabadikan momen tersebut. Kalau mereka khawatir akan terjadi kejadian gaib pasca munculnya Pulau Karang itu, tentu mereka akan pergi, atau lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan sibuk mengejar duniawi," ujarnya.

Sementara penduduk sekitar, saat awal kemunculan 'Pulau Karang' yang dihuni puluhan batu karang dengan ukuran besar, plus ribuan lebih atau bahkan jutaan lebih karang berukuran kecil itu dianggap sebagai pertanda akan terjadi bencana alam yan biasa menenggelamkan Desa Labuhan.

Salah satu warga yang juga seorang nelayan di Desa Labuhan, Subhan (56) mengatakan, semula warga kaget dan panik dengan kemunculan batu-batu karang dengan bentuk aneh tersebut. "Namun, lama kelamaan, karena banyak warga dari luar Desa Labuhan ingin melihat langsung karang ajaib itu, menjadi biasa dan memanfaatkan perahunya untuk disewakan, termasuk saya," katanya.

Subhan mengatakan, sekali antar pulang pergi, dia bisa mengangkut lima sampai tujuh orang dan setiap orang dikenakan sewa Rp 4 ribu. "Sehari lumayan banyaklah, bisa sampai ratusan," katanya.

Perahu-perahu nelayan ini akan disewakan ketika air laut pasang. Sebab, saat Subuh sampai menjelang siang, orang-orang bisa langsung melihat dengan jalan kaki ke tengah laut. Bahkan keindahan Pulau Karang bisa dilihat dari bibir pantai. Ukurannya cukup besar. Tingginya sekitar tiga meter dengan panjang sekitar 50 meter. Di bawahnya terdapat batu-batu karang dengan ukuran besar.

"Kalau Subuh atau pagi, karangnya bisa terlihat semuanya dari jauh. Kalau sore air laut pasang cuma terlihat bagian atasnya," kata Nur Afiah, salah satu warga Desa Labuhan.

Afiah juga mengatakan, kalau batu-batu karang yang berkumpul menjadi satu membentuk pulau itu, terdapat karang-karang berbentuk unik tidak seperti biasa dilihat warga di sekitar bibir pantai. "Karangnya aneh-aneh, ada yang seperti tengkorak manusia ada seperti piring dan ada juga dengan bentuk-bentuk tidak biasa kita lihat," katanya.

Sumber: Merdeka.com

Label: , , ,

Pulau Karang Muncul di Madura

pulau karang di Madura. ©2013 Merdeka.com
Pulau karang sepanjang 50 meter di tengah laut, tiba-tiba muncul di pesisir yang berada di Desa Labuhan, Kec Sepuluh, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Fenomena kemunculan gundukan karang setinggi sekitar tiga meter ini, diyakini masyarakat sekitar sebagai tanda akan terjadinya bencana.

Menurut warga sekitar, sebelum cuaca ekstrem melanda Laut Jawa, pulau baru di tengah laut yang terdiri dari puluhan batu karang dengan ukuran besar dan ribuan lebih karang berukuran kecil itu, tidak pernah ada.

"Karang-karang dengan ukuran dan bentuk yang tidak lazim (tidak seperti yang biasa dilihat warga di bibir pantai) itu, muncul awal Januari lalu," kata Nur Afiah, warga Desa Labuhan, Rabu (23/1).

Awalnya, penduduk sekitar mengira cuma kumpulan pasir di tengah laut yang terdorong oleh ombak besar. "Tapi lama-lama tambah membesar, membentuk seperti kapal raksasa yang terdampar. Karena penasaran, penduduk akhirnya mendekat dan ternyata ada banyak karang. Bentuknya aneh-aneh, ada yang seperti tengkorak manusia, ada yang berbentuk lempengan dan karang yang kecil-kecil seperti tulang belulang."

Fenomena alam ini, dikhawatirkan sebagai pertanda akan terjadinya petaka di kawasan sekitar. "Terus terang saja, kami, warga di sini kaget dan takut, soalnya batu berukuran besar ini sebelumnya tidak ada, tapi kenapa kok tiba-tiba bermunculan, jangan-jangan ini isyarat sesuatu," sahut Firman (35), warga Desa Labuhan yang lain.

Meski demikian, misteri kemunculan pulau karang yang secara tiba-tiba ini, belum bisa dibuktikan secara pasti kalau nantinya akan terjadinya bencana. Hanya saja, kekhawatiran dan berbagai opini tetap muncul di desa setempat.

Beberapa di antaranya, menganggap kalau Desa Labuhan akan segera tenggelam disapu air laut. Ada juga yang berpikir, untuk selalu waspada saja, karena bencana apapun bakal terjadi dengan munculnya pulau karang tersebut.

"Bentuk bencana itu, kita ya nggak tahu. Hanya saja kita patut waspada dan selalu istighfar, itu saja," kata Nur Afiah lagi, menimpali ucapan Firman.

Kendati memunculkan kekhawatiran dan spekulasi bernuansa mistis, warga sekitar tetap memanfaatkan keanehan pulau karang tersebut sebagai obyek wisata baru. Para nelayan di Desa Labuhan-pun, memanfaatkan perahunya untuk mengantar wisatawan lokal melihat dari dekat keunikan batu karang di pulau karang tersebut.

Cukup Rp 4 ribu per kepala, bisa mengobati rasa penasaran warga. Tak hanya warga di Pulau Madura yang berbondong-bondong ingin menyaksikan sendiri pulau karang itu, warga dari Surabaya, Sidoarjo, Gersik pun tak mau ketinggalan ingin menyaksikan fenomena alam tersebut.

Sumber: Merdeka.com.

Label: , , ,

Jamu Asli Madura


Salah satu daya tarik Madura yang sudah dikenal luas masyarakat, adalah jamu madura. Khalayak luas akrab menyebutnya dengan ramuan madura. Sebuah istilah yang cukup mengundang keseksian. Konon, ramuan Madura memang terkenal ampuh, sejak nenek moyang hingga turun temurun. Terutama, ramuan yang terkait dengan keperkasaan lelaki dan performa organ tubuh perempuan. Salah satu produsen jamu madura tersebut adalah Ny. Badrijah dengan merk jamu Ny. Badrijah.

Jamu merk Ny. Badrijah, meski diproduksi dengan kapasitas rumahan, pamor produk jamunya hanya beda-beda tipis dengan produk jamu pabrikan. Jika produk pabrikan selalu ditopang dengan promosi, dan iklan yang gencar, sedangkan ramuan jamu Ny. Badriyah hanya mengandalkan berita dari mulut ke mulut.

Jamu Ny. Badrijah cukup lama dikenal luas di masyarakat. Daerah Madura dan sebagian masyarakat Jawa adalah pasar utamanya. Namun, perantau-perantau Madura juga membuat jamu produksi Ny. Badrijah cukup dikenal di Kalimantan, Sumatera, Malaysia, Korea, Jerman dan juga Arab.

Seiring meluasnya jangkauan pasar jamunya, Perusahaan Jamu Ny. Badrijah melengkapi produksinya dengan perizinan dan persyaratan yang sudah ditetapkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).


Jadi, produk rumahan Ny. Badrijah, tak lagi kalah dengan pabrikan jamu yang sudah menggunakan proses modern serta peralatan-peralatan canggih. Berikut ini ijin perusahaan milik Ny Badrijah.


“Ilmu perjamuan beliau diperoleh dari neneknya, yaitu nenek Katsiba,” kata Badrijah. Neneknya sejauh itu dikenal sebagai ahli jamu tradisonal dari Klampis, Madura.

Semula Badrijah hanya memproduksi tujuh produk jamu andalan, yaitu jamu perkasa, jamu sehat lelaki, jamu rapat (untuk wanita), delima putih, jamu keputihan, jamu singset, dan jamu kemanten. Setelah dikembangkan, tujuh jamu tersebut kini berkembang menjadi 20 jenis jamu, yang masing-masing juga diminati oleh masyarakat.


Karena kegigihan ini Presiden Habibie ketika itu sempat pula mengundangnya ke Istana Merdeka untuk menerima penghargaan bersama pengusaha-pengusaha jamu top dari seluruh Indonesia.

Meramu jamu madura, menurut Ny Badrijah, berbeda dengan meramu jamu jawa. bahan boleh sama, tetapi racikan bisa tidak sama. Begitu juga dengan hasil akhirnya. dan yang terpenting adalah khasiat dari jamu tersebut.

Bahan baku produksi mengandalkan suplay dari masyarakat dan petani sekitar. Kalaupun ada kekuarangan, atau ketiadaan bahan tertentu, baru mencari dari luar Madura. Biasanya di Pasar Panggung Surabaya. Di pasar tersebut banyak terdapat pedagang dan pengepul bahan-bahan jamu.


Perusahaan jamu Nyonya Badrijah juga aktif di berbagai rapat dan pertemuan para anggota persatuan pemilik jamu Indonesia yakni GP Jamu

Foto Ny Badrijah bersama ibu Muryati Sudibyo pemilik perusahaan "Mustika Ratu"

Yang terpenting ialah Jamu Produksi UD Ny Badrijah tidak menggunakan bahan kimia dalam peracikan maupun pembuatan jamunya, sehingga meminum jamu ini secara teratur tidak menimbulkan penyakit yakni tulang keropos dan penyakit lainnya tidak seperti kebanyakan jamu lainnya. dan juga perusahaa jamu Ny. Badrijah sudah diakui kualitasnya oleh pemerintah kota Bangkalan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Tersedia Dalam Kemasan Pil, Kapsul, Serbuk, dan Sabun.

Untuk Pemesanan, Silahkan Hubungi :
ALAMAT PRODUKSI : Jl. KH. ACH. MARZUKI NO. 6A
PANGERANAN - BANGKALAN - MADURA
NO TELPON RUMAH : (+62) 031-3091606
NO HANDPHONE : (+62) 08123527653
: (+62) 08175080799

NB. Hati-hati Barang Palsu Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi Alamat Maupun Nomor Telpon Diatas.

TERKAIT
Sumber: Narutobux

Label: , , ,

Menyabet Laba dari Kerajinan Pecut

Kerajinan pecut di Dusun Morgunong, Desa Paterongan, Kecamatan Galis Bangkalan, Madura. Foto: Surya/st32.

Usaha kerajinan pecut tradisional masih bergeliat di Kabupaten Bangkalan. Pemakaian bahan baku alami yang gampang diperoleh, seperti pelepah pisang atau batang daun pohon aren, membuat warga Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, tetap eksis menekuni usaha ini.

Bergelut dengan kerajinan pecut bagi warga Dusun Morgunong, Desa Paterongan, seakan sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Kapan awal mula pembuatan produk khas Madura dengan paduan warna mencolok ini, tidak ada yang tahu persis.

Salah satu warga setempat, Rafiah (22) menuturkan bahwa keluarganya sudah akrab dengan pembuatan pecut sejak ia masih kecil. “Aktivitas ini sudah dilakukan turun-temurun. Ibu pernah bilang, nenek juga pembuat pecut,” ujar ibu satu anak ini, saat ditemui di kediamannya, pekan lalu.

Menurutnya, membuat pecut bukanlah hal yang sulit, mengingat usaha kerajinan ini memanfaatkan bahan alami seperti, pelepah pisang atau batang daun aren. Tidak mengherankan jika hampir sebagian warga Dusun Morgunong, yang berjumlah 63 kepala keluarga (KK), membuat pecut.

“Keberadaan pohon pisang kan tidak mengenal musim. Cara mendapatkan juga gampang. Di belakang rumah banyak tumbuh dengan sendirinya. Proses buatnya pun gampang, dikeringkan terlebih dulu. Setelah pelepah pisang kering, diiris dan dipotong-potong sesuai panjang pecut,” jelas Rafiah.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, modal pembuatan kerajinan pecut ini pun terus meningkat. Pasalnya, selain bahan baku alami, pecut juga menggunakan benang. Padahal, harga benang terus merangkak naik. “Untuk 1 kilogram (kg) benang, khusus pecut, harganya mencapai Rp 70.000,” ujarnya.

Sehingga, untuk menghasilkan 1.000 pecut, Rafiah setidaknya membutuhkan 9 hingga 10 kg benang. Dengan asumsi, 1 kg benang mampu menghasilkan 120 buah pecut (pecut jahitan). “Jadi, modal membeli benang saja untuk 1000 pecut, kami butuh modal Rp 600.000- 700.000,” urainya.

Modal itu, diakui ibu lulusan SD ini, sangatlah tinggi. Apalagi, hasil yang diperoleh dari penjualan pecut-pecut itu tidak sebanding dengan modalnya. Untuk menyiasatinya, Rafiah bersama warga dusun lainnya, membuat dua jenis pecut yaitu pecut glunduran dan pecut jahitan. Kedua pecut ini dibedakan dari pemasangan benang pada tubuh pecut. Umumnya, benang hanya dililitkan secara melingkar di tubuh pecut atau disebut pecut glunduran.
Harga pecut glunduran ini lebih murah daripada pecut jahitan. Karena proses pembuatannya juga lebih mudah. Para tengkulak biasanya mengambil 1.000 pecut setiap bulannya, seharga Rp 1 juta. “Dari penjualan ini, keuntungan yang didapat sangat minim hanya sekitar Rp 50.000 saja,” imbuh Rafiah.

Perajin pecut lainnya, Marwah (36), yang rumahnya berada tepat di samping kanan Rafiah menuturkan, pembuatan pecut jenis jahitan merupakan siasat untuk mendongkrak harga jual pecut. “Pecut jahitan memerlukan waktu lebih lama dan benang yang lebih banyak. Sehingga, wajar jika harga sedikit mahal,” ujarnya.

Ia merinci, jika 1 kg benang bisa dibuat 200 pecut glunduran, untuk pecut jahitan hanya menghasilkan 120 pecut jahitan. “Dalam sehari, kami hanya menghasilkan 5 pecut jahitan saja. Sedangkan pecut gluduran mampu 20 buah dalam sehari,” kata Marwah.

Biasanya, para tengkulak mengambil pecut jahitan tiga kali dalam sebulan. Sekali kunjungan mereka membawa 1.000 pecut jahitan. “Kami hanya mendapatkan Rp 150.000 dalam satu bulan untuk pecut jahitan berukuran kecil. Pecut ini memang paling laku,” urainya.

Pecut jahitan ukuran kecil panjangnya sekitar 80 cm yang oleh tengkulak dihargai Rp 2.000, ukuran sedang panjangnya 1 meter Rp 7.000, dan ukuran besar sepanjang 1,5 meter Rp 15.000. “Para tengkulak tidak mengambil banyak untuk ukuran sedang dan besar karena terlalu mahal. Paling banyak mereka mengambil 200 pecut saja,” jelas Marwah.

Inovasi dalam pembuatan pecut, mulai ditangkap generasi muda warga dusun setempat. Seperti di kediaman pasutri Ahmad Ifandi (20) dan Sumiati (18). Keduanya melakukan terobosan dengan menggunakan boplpoin sebagai pegangan pecut. “Bolpoin pasti sering digunakan, apalagi dihiasi dengan pecut,” tutur Sumiati.

Dengan menggunakan bolpoin, modal yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Hanya beli satu boks bolpoin berisi 100 biji dan benang tidak sampai 1 kg, mereka dapat meraup keuntungan lebih besar daripada menggunakan pelepah pisang dan lidi. “Setiap tiga boks bolpoin, kami untung Rp 100.000,” tutur pasangan yang belum dikarunia anak itu.

Hampir seminggu sekali, para tengkulak mengambil sedikitnya 300 pecut bolpoin. “Kalau modal banyak, untungnya pasti lebih banyak juga,” pungkas Ifandi. st 32

Penghasilan Sampingan Seraya Nunggu Panen

Bagi warga Dusun Morgunong, kegiatan membuat pecut itu hanyalah sebatas mempertahankan budaya moyang. Untuk mencari keuntungan besar, pecut masih belum mampu karena harga kulak masih sangat murah.
“Sembari menunggu hasil panen dan upah sebagai buruh tani, kami membuat pecut. Lumayan untuk penghasilan. Syukur-syukur ada yang membantu dalam memasarkan,” terang Holi (48).

Upaya melestarikan budaya pecut, kini hanya tersisa di Dusun Morgunong saja. Satu pecut kecil jenis jahitan, para pedagang menjualnya Rp 5.000. Untuk pecut berukuran sedang ditawarkan Rp 15.000 dan pecut ukuran besar dijual Rp 25.000. “Yang paling laris ukuran kecil mas,” tutur Rizal, PKL Suramadu asal Desa/Kecamatan Kamal.

Namun untuk menjual pecut-pecut dagangannya, diakuinya, butuh waktu lama. Pasalnya, selain variasinya monoton, para pedangang pecut cukup banyak di kawasan Suramadu ini. “Sebulan terkadang tidak habis. Ada yang mengantarkan sendiri ke sini,” terang Rizal, yang hanya mengambil 50 pecut saja dalam sebulan.

Menurut Moh Ali (50), tokoh warga Galis, prospek menggeluti pembuatan pecut sebenarnya masih terbuka lebar. Selain karena terkendala modal, para perajin belum mampu mengembangkan atau mencari inovasi baru motif dan jenis pecut.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Unit Desa setempat itu berupaya memberikan motivasi bagi perajin untuk tidak monoton dalam membuat motif pecut. Bantuan permodalan, diakui Ali, sebagai salah satu alternatif guna memacu semangat perajin.

“Sekarang hanya mengirim ke Suramadu, makam Syechona Cholil, Pelabuhan Kamal, dan paling jauh ke Makam Bung Karno di Blitar. Selain itu, membuat pesanan souvenir mini untuk pernikahan,” tandasnya. (st32)

Sumber: Surya, Kamis, 30 Juni 2011

Label: , , , ,

Diduga Bekas Kraton Bangkalan

foto: din/zonaberita.com
Rumah ini diduga bekas Keraton Bangkalan

Sebuah rumah milik Hansye Woing, warga kampung Saksak, Kelurahan Keraton, Kecamatan Bangkalan, diduga bekas bangunan kraton Raja Bangkalan, Raden Aryo Tjakraningrat.

Bangunan di atas tanah seluas 10 ribu meter persegi itu rencananya akan dibongkar dan dijual oleh pemilik rumah.

Menurut penuturan salah satu penghuni rumah, satu tiang rumah berlapis perunggu sudah ada yang menawar seharga Rp 100 juta. Bahkan beberapa bangunan mulai di bongkar karena tanahnya akan dijual.

“Bangunan itu tidak terdaftar di Trowulan makanya kami berani bongkar. Itu hak guna bangunan sah dari pertanahan,” kata Hansye Woing, pemilik bangunan, Rabu (29/12/2010).

Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan melalui aparat kelurahan setempat mendesak agar pembongkaran rumah kuno dihentikan, karena merupakan peninggalan Raden Aryo Tjakraningrat.

Pemkab Bangkalan melalui Lurah Keraton berencana menggugat keberadaan sertifikat dan akan berupaya agar bangunan keraton tersebut kembali menjadi milik negara. (din/isp)

Sumber: ZonaBerita, Rabu, 29 Desember 2010

Label: , , , , ,

Karapan Sapi Kini Sebulan Sekali

Bupati Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Fuad Amin Imron, mengatakan kunjungan wisatawan diharapkan akan meningkat di Madura dengan adanya gelar karapan sapi secara rutin setiap bulan di wilayah tersebut.

“Dulu karapan sapi hanya digelar setiap tahun sekali, namun ke depan ini akan kami gelar setiap bulan, sehingga kunjungan para wisatawan diharapkan akan terus meningkat,” kata Fuad Amin Imron, di Bangkalan, Senin (27/9/2010.

Bupati menjelaskan upaya yang akan dilakukan Pemkab Bangkalan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di wilayah setempat, sebagai upaya mendukung program Visit East Java 2010 yang dicanangkan Pemprov Jatim.

Menurut Fuad Amin, budaya karapan sapi merupakan ikon budaya masyarakat Madura yang sudah dikenal luas di berbagai negara di dunia. Hanya, sambungnya, kegiatan pelaksanaan karapan sapi selama ini jarang dilakukan, yakni hanya setahun sekali, sehingga para wisatawan yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk melihat balapan sapi tersebut.

“Jika nantinya digelar setiap bulan maka kami yakin kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bangkalan juga akan meningkat, khususnya para wisatawan asing,” ucapnya optimistis.

Tiap Akhir Bulan

Rencana kegiatan karapan sapi oleh Pemkab Bangkalan akan dilakukan setiap akhir bulan, kecuali pada bulan Oktober, karena pada bulan itu bersamaan dengan gelar lomba karangan sapi yang memperebutkan Piala Presiden. Ia juga berharap kegiatan rutin karapan sapi itu bisa mendongkrak pamor pariwisata di Kabupaten Bangkalan dan otomatis bisa mengangkat objek wisata yang lain.

“Kalau sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke sini, bisa dipastikan Bangkalan akan lebih maju seperti daerah lain,” ucapnya seraya menjelaskan bahwa kegiatan karapan sapi yang akan digelar setiap bulan itu sudah mendapatkan persetujuan dari Pemprov Jatim.

Sumber: Surya, Senin, 27 September 2010

Label: ,

Unggulkan Jamu Pembangkit Seksual

DARI 34 produk jamu yang diracik Nyai Hj Hayati, sampai saat ini jamu yang menjadi produk unggulan adalah jamu yang memiliki manfaat untuk meningkatkan aktivitas seksual. Diantaranya, jamu Empot-Empotan atau Legit Madura, Jamu Galian Rapet Wangi, dan jamu Ma'jun Super.

Ketiga jamu tersebut diakui oleh sang peracik sebagai produk andalan. Nyai Hayati mengatakan, sebelumnya produk andalannya hanya jamu Empot-Empotan dan Galian Rapet Wangi. Belakangan, jamu Ma'jun Super ditetapkan sebagai jamu andalan. "Ma'jun Super ini adalah jamu paketan untuk pasangan suami istri," terangnya saat ditemui di kediamannya, Jalan Pahlawan.

Dijelaskan, Empot-Empotan atau Legit Madura adalah jamu yang bermanfaat untuk mengembalikan masa keperawanan dan mengesatkan peranakan. Sehingga, dapat menambah keharmonisan rumah tangga. Disamping itu, menurut sang peracik, dapat memadatkan tubuh dan menghilangkan keputihan di bagian kewanitaan.

Sementara Galian Rapet Wangi, diklaim bisa memberi kepuasan hubungan suami istri. "Jamu ini juga berfungsi untuk menyerap dan menghilangkan bau badan agar tetap awet muda, rapet, dan langsing," jelas Hayati yang handal mengendarai sepeda motor ini.

Tidak hanya menjadi andalan, jamu tradisional Madura yang diracik Nyai Hayati juga didominasi oleh jamu-jamu yang bermanfaat untuk hubungan seksual. Selain tiga jamu unggulan tersebut, masih ada Sembilan jamu yang hampir memiliki manfaat yang sama. Seperti jamu Sehat dan Kuat untuk Menambah Stamina Lelaki, jamu Sehat Lelaki, Jamu Penyubur, Godakan Rapet Wangi, Tongkat Madura, Jantan Super Capsul, Pancuran Nikmat, Sabun Kesed, dan Serbuk Wasiat Untuk Wanita.

Sementara produk lainnya berupa jamu untuk kecantikan dan kesehatan. Untuk kecantikan, misalnya Galian Singset, Cebokan Madura Sari dan lain sebagainya. Sedangkan untuk kesehatan, pewaris kekayaan tradisi Madura ini juga memproduksi jamu Kencing Manis, Pegal Linu, Pembersih Darah, Lancar Darah, Darah Tinggi, serta jamu untuk kesehatan lainnya.

Ditanya mengenai pembuatan jamunya, Nyai Hayati mengatakan pihaknya tidak memiliki agenda khusus pembuatan jamu. Melainkan, sambung dia, hanya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. "Kalau pesanan salah satu produk meningkat, maka pembuatan produk tertentu juga ditingkatkan," paparnya.

Nyai Hayati mengatakan, untuk menjaga kualitas jamu racikannya, dirinya tidak pernah memberikan tanggung jawab untuk meracik kepada orang lain. "Untuk meracik saya lakukan sendiri. Tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Tugas delapan karyawan saya sifatnya hanya membantu-bantu saja," pungkasnya. (fei/ed)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 29 Maret 2010

Label: , ,

Produksi Jamu Tradisional Madura yang Tetap Bertahan

Jamu Perkasa dan Perawatan Jadi Andalan

JAMU tradisional Madura lekat dengan hubungan pasangan suami istri (pasutri) dan keharmonisan keluarga. Sejumlah pembuat jamu yang ditemui koran ini hanya membuat jamu yang berkhasiat untuk menjaga hubungan seks. Jarang jamu tradisional Madura untuk mengobati penyakit kanker atau diabetes.

Hampir semua pembuat jamu tradisional membuat jamu yang serupa. Seperti, menambah gairah seks laki-laki, mencegah ejakulasi prematur, keputihan, dan mengencangkan otot-otot kewanitaan. Khasiat sama lainnya, menambah nafsu makan dan jamu perawatan wanita sehabis masa melahirkan.

Penamaan jamu juga memiliki kemiripan. Misalnya, jamu yang berkhasiat untuk mengencangkan otot-otot kewanitaan diberi nama Galian Rapet, untuk mengecilkan perut diberi nama Galian Singset, sedangkan untuk menambah gairah seks laki-laki diberi nama Perkasa Lelaki.

Tiga orang ahli pembuat jamu yang ditemui koran ini di wilayah Bangkalan produk unggulannya berbeda. Siti Maryam yang memiliki kios jamu di Jalan Moh.Toha mengatakan, konsumennya banyak menyukai jamu untuk keperkasaan lelaki buatannya. "Kalau di sini banyak yang membeli Perkasa Lelaki," ujarnya.

Maryam memasarkan produk jamunya di wilayah lokal Madura. "Di lokal saja. Bagaimana sampai keluar kalau modalnya hanya sedikit dan pinjam di bank," ujarnya yang mengaku tidak mendapat bantuan dari pemerintah.

Ny Moh. Sholeh, salah satu ahli pembuat jamu tradisional lainnya mengaku tidak pernah membuat jamu untuk beberapa penyakit seperti diabetes, kanker, dan lainnya. Ramuan yang diterima dari neneknya semua berhubungan dengan perawatan pasangan suami istri. "Jamu yang dibuat bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk perawatan," ujarnya.

Mengapa hanya memproduksi jamu dengan khasiat itu? Pemilik jamu dengan produk unggulan Galian Rapet dan Perkasa Lelaki itu mengatakan, dulu jarang orang yang mengetahui dan kena penyakit diabetes, kanker, dan sebagainya.

"Selain itu, jamu yang berkhasiat untuk menyembuhkan harus diuji klinis terlebih dahulu. Padahal, biayanya sangat mahal," ujarnya.

Produksi jamu Ny Moh. Sholeh hampir semua berurusan dengan hubungan pasutri. Menurut dia, jika perempuan menjaga dan merawat dirinya, maka pasangannya tidak akan meninggalkan. "Dari dalam dirawat dengan menggunakan jamu, dari luar menggunakan bedak, lulur, dan parfum, nanti basuhnya pakai sabun jamu. Kalau seperti itu, kamarku adalah surgaku," ujarnya.

Mengenai pemasaran jamu, Ny Moh. Sholeh mengaku mendapat pesanan sampai ke luar Madura. Sedangkan untuk sabun produksinya sudah merambah ke luar negeri. "Kalau sabun sampai ke Jepang, Korea, dan Taiwan. Sedangkan untuk jamunya pesanan banyak datang dari luar Madura seperti Jakarta, Kalimantan, dan daerah lainnya," ujarnya.

Rokayyah, salah seorang pembuat jamu yang bekerja pada pengusaha jamu Ny Badriyah, mengatakan, produk unggulannya adalah Galian Rapet dan Perut Kecil. Belum lama ini Ny Badriyah mendapat pesanan untuk membuat 200 kilogram jamu Perut Kecil dari Arab Saudi. "Ummi (Ny Badriyah, Red) sedang ke Surabaya. Setelah ngirim pesanan yang ke Arab, mampir di rumah anaknya di Surabaya," ujarnya.

Ditanya mengenai apa saja racikan ramuan tersebut, Rokayyah mengaku hanya Ny Badriyah yang tahu. "Saya hanya mengolah. Racikan yang dibuat Ummi. Racikannya kan rahasia," ujarnya. (rif/mat)

Suber: Jawa Pos, Senin, 29 Maret 2010

Label: , ,

SDN di Bangkalan, 10 Tahun Numpang Gedung

SDN Banyoning Laok III di Desa Katol Barat Kecamatan Geger bangkalan numpang di gedung sekolah lain lantaran 10 tahun tak memiliki gedung sendiri. (foto:zonaberita.com/din)

Bangkalan, zonaberita.com – Proses belajar mengajar SDN Banyoning Laok III di Desa Katol Barat Kecamatan Geger dilakukan di gedung Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum di desa yang sama sejak 10 tahun terakhir ini. Pihak desa sudah menyiapkan lahan untuk pembanguan gedung, tapi, tak ada respon dari pemerintah.

Ratusan siswa SDN Banyoning Laok III di Desa Katol Barat Kecamatan Geger terpaksa numpang di gedung madrasah ibtidaiyah itu. Sebab, sudah 10 tahun tidak memiliki gedung sekolah sendiri. Para siswa pun mengeluhkan hal itu dan berharap mempunyai gedung sekolah sendiri.

“Sekolahnya numpang, tidak enak. Pingin cepat dibikinkan sekolah,” kata seorang siswi, Hamidah kepda zonaberita.com, Rabu (10/3/2010).

Pihak sekolah mengakui sudah seringkali mengajukan permintaan gedung. Tapi, sampai saat ini belum juga direalisasi pemerintah. P[ihak sekolah pun hanya bisa berpasarah dan berharap pembangunan gedung sekolah segera diwujudkan.

“Ini sekolah numpang, soalnya tidak punya gedung sendiri. Pinginnya dibuatkan supaya siswa bisa belajar seperti pelajar di sekolah lainnya,” harap Kepala Sekolah SDN Banyoning Laok III, Lukman Hakim.

Di bagian lain, pihak pemerintah desa mengaku sudah mengajukan proposal pendirian gedung sekolah kepada pemerintah. Tapi, lagi-lagi, belum ada jawaban pasti. Meski, pihak desa sebetulnya telah menyiapkan lahan desa untuk ditempati bangunan SDN Banyoning Laok III. (din/hs)

Sumber: Zona Berita, Rabu, 10 Maret 2010

Label: , , , ,

Pusaka Berusia Tiga Abad Dipamerkan di Bangkalan

Sebanyak tiga ratus benda pusaka, salah satunya berusia tiga abad, diikutkan dalam acara pameran pusaka di halaman Museum Cakraningrat, Jalan Soekarno-Hatta, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Sabtu.

Ketua Panitia Pameran Pusaka R. Abdul Hamid Mustari mengatakan, pihaknya menggelar pameran pusaka tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya yang telah diwariskan nenek moyang.

"Kami sebagai generasi penerus harus bisa melestarikan budaya yang telah diwariskan. Sehingga keberadaan benda pusaka tetap terjaga dan masih ada," kata Hamid pada wartawan saat ditemui di sela-sela acara pameran.

Hamid menjelaskan, benda pusaka yang dipamerkan dalam acara tersebut meliputi keris, tombak, dan sebuah bokor patung kendedes. Benda pusaka yang dipamerkan itu usianya mulai 50 tahun hingga tiga abad.

"Seperti pusaka milik Raja Sultan Abdul Kadirun yang usianya telah mencapai 300 tahun. Itu juga ada dalam pemeran ini," katanya.

Menurut Hamid, acara pameran pusaka akan berlangsung selama tiga hari. Serta dalam pameran ini tidak hanya dipajang, namun jika ada pengungjung yang berminat ingin membeli salah satu dari pusaka itu diperbolehkan.

"Harga pusaka yang dipamerkan paling murah harganya Rp500 ribu hingga puluhan juta rupiah," ujarnya.

Hamid menambahkan, sebagai generasi muda sudah seharusnya melestarikan benda pusaka seperti keris. Sebab, keris merupkan salah satu warisan budaya yang diakui oleh dunia, yang sempat diklaim milik negara tetangga yakni Malaysia.

"Sebenarnya pameran pusaka dilaksanakan pada malam Bulan Suro (Muharam). Namun, karena banyak kegiatan akhirnya acara tersebut baru digelar sekarang," katanya menjelasklan.
foto: antiquemagicshop.blogspot.com

Sumber: Antara Jatim, 09/01/2010

Label: , , ,

Tanam Seribu Mangrove di Lahan Kritis

Penanaman bibit mangrove itu, selain melibatkan instansi terkait seperti Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Peternakan, Badan Ketahanan Pangan dan pihak Kelurahan Bancaran, juga melibatkan para pelajar dan masyarakat setempat.

Warga, pelajar, dan pegawai berbagai instansi itu saling bahu-membahu menanam bibit mangrove di sepanjang Sungai Bancaran. Tak peduli lumpur di sekitar sungai mengotori badan dan pakaian, mereka tetap semangat menancapkan bibit mangrove.

Menurut Kepala Kehutanan dan Perkebunan Bangkalan, Ir H Abdul Razak, selain melaksanakan amanah yang disampaikan oleh Presiden RI agar seluruh daerah ikut gerakan menanam pohon (penghijauan), aksi penanaman 1.000 bibit mangrove tersebut juga ditujukan untuk mengurangi abrasi yang terjadi di sekitar pantai dan sungai.

”Pemkab memang sengaja memilih penanaman mangrove di pantai, karena wilayah Kabupaten Bangkalan dikelilingi lautan sehingga potensi terjadinya abrasi juga sangat besar,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Razak, aksi penanaman mangrove itu juga untuk memperbaiki lingkungan Sungai Bancaran yang mulai terjadi abrasi. Tepian sungai mulai terkikis sehingga membuat kondisi sungai menjadi dangkal. Jika dibiarkan, tingkat abrasi akan semakin parah. Apalagi di sekitar tepi sungai sudah banyak rumah penduduk, akses jalan dan pasar.. “Dengan penanaman mangrove ini diharapkan dapat mengurangi bahkan mencegah terjadinya abrasi,” harapnya.

Fungsi dari hutan mangrove, kata Razak, tidak hanya untuk mengurangi dan mencegah terjadinya abrasi. Hutan mangrove dapat meremajakan kembali keadaan ekosistem di sekitar pantai. Selain itu juga mencegah terjadinya interusi. Saat ini di wilayah kota banyak terjadi interusi. Banyak air sumur warga yang rasanya agak asin, padahal letaknya jauh dari pantai. ”Ini juga menjadi alasan kami untuk terus merehabilitasi lahan kritis di sekitar pantai dengan penanaman mangrove,” tandasnya.

Razak menjelaskan, penanaman mangrove tidak hanya kali ini saja dilakukan pihak Pemkab Bangkalan. Sebelumnya, pemkab telah merehabilitasi sekitar 50 hektare lahan kritis di sepanjang Pantai Bancaran menjadi hutan mangrove. "Dari hasil suvei yang dilakukan, luas lahan ktritis yang masih perlu direhabilitasi sekitar 1.000 Hektare," ungkap Razak. “Setelah penanaman mangrove, tepian sungai juga akan kami hijaukan dengan penanaman pohon besar agar tanah di sekitar tepi sungai tidak longsor,” sambungnya.

Untuk melestarikan dan menjaga pohon mangrove yang telah ditanam, kata Razak, merupakan tanggung jawab bersama. Selain instansi terkait, masyarakat juga harus terlibat, terutama para kelompok nelayan. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 28 Januari 2010

Label: , , , ,

Sentra Kerajinan Cincin Akik di Desa Tragah

Keahlian Turun-Temurun, Kerap Terbentur Modal Usaha

Di wilayah Kabupaten Bangkalan, Desa/Kecamatan Tragah memang dikenal luas sebagai sentra perajin cincin akik. Hastakarya dari para perajinnya sudah dinikmati masyarakat luas. Bahkan mampu menembus luar Madura. Bagaimana proses pembuatannya?

Cincin akik memiliki daya tarik tersendiri. Khususnya bagi para kaum Adam. Terbukti, hingga sekarang cincin akik masih digemari. Sehingga keberadaan para perajinnya pun masih terus eksis. Salah satunya bisa ditemui di Desa/Kecamatan Tragah.

Bahkan, perajin yang mampu menghasilkan produk cincin akik dengan kualitas bagus bisa ditarik untuk diperkerjakan di Surabaya. Di Kota Pahlawan sendiri memang banyak pengepul cincin akik. Sehingga permintaan dan pemesanan cincin lebih banyak dari mereka. Bahkan para pembelinya bukan hanya dari daerah Madura dan Surabaya saja. Tapi juga ada yang dari Malang, Bali, Banjar (Kalimantan), dan daerah di nusantara lainnya.

Koran ini secara khusus menemui Sekretaris Desa Tragah Sugianto untuk mengetahui proses pembuatan cincin akik. Lebih-lebih yang bersangkutan juga merupakan salah satu perajinnya.

Tak jauh dari rumah Sugianto, bertebaran perajin cincin akik lainnya. Salah satunya Hoirul Anam. Lelaki 34 tahun ini terlihat sedang menggarap pesanan pelanggannya.

Mengaku sudah menekuni profesinya selama 22 tahun, Hoirul Anam tampak sibuk menyoder perak yang sudah berbentuk cincin. Dituturkan juga, keahliannya itu diperolehnya secara turun-temurun. "Awalnya, perak dipanaskan dengan soder untuk dibentuk persegi panjang," ujar pria yang menekuni profesinya sejak tamat sekolah dasar ini.

Setelah itu, bahan perak yang sudah dibentuk dipipihkan menggunakan palu dan digunting. Kemudian dipanaskan lagi untuk dibuat bentuk dasar cincin yang diinginkan. Selama proses pembentukan mutlak memerlukan soder. Sesekali bahan perak yang dibentuk dicelupkan ke air keras. Kemudian ditambahkan lagi bahan perak dan disoder kembali, hingga cincin siap diukir dengan kikir khusus yang bentuk dan ukurannya beragam. Ada yang pipih, setengah lingkaran, dan segitiga.

Setelah semua selesai, cincin akan diampelas agar halus. Yang terakhir, cincin harus digosok dengan benang wol yang dipotong sama panjang dengan ukuran beberapa centimeter. Sehingga hasilnya bisa lebih mengkilap.

Hoirul Anam juga mengaku memulai pekerjaannya dari pukul 07.00. Pada pukul 11.30, dia sudah hampir menyelesaikan dua buah cincin yang belum diukir. Untuk mengukirnya, membutuhkan waktu hanya sekitar 20 menit. "Hari ini saya mendapat empat pesanan," akunya sambil berujar bahwa pemesannya berasal dari Surabaya, Sampang, dan Pamekasan.

Untuk menggarap pesanan tersebut, diakui pula harus merogoh modal sendiri. Khususnya untuk membeli bahan baku perak. "Ini yang terkadang cukup menyulitkan. Sebab terkadang kami tidak mengantongi uang," ujarnya.

Untuk itu, mewakili perajin cincin akik lainnya, dia berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk memberi suntikan dana. Sehingga usahanya itu bisa lebih berkembang. "Selama ini, sudah terlalu sering para perajin mengajukan bantuan modal untuk tambahan dana. Namun masih belum berhasil," tuturnya lagi.

Mengenai kemajuan perkembangan penjualan produknya, mayoritas perajin mengaku masih belum signifikan dengan adanya Suramadu. Sebab hingga kini pesanan mayoritas hanya dari para pengepul di Surabaya. Memang ada juga pemesan baru yang umumnya mengetahui dari para pengepul atau dari mulut ke mulut. Itu karena keberadaan perajin ben-emban akik di Desa/Kecamatan Tragah memang sudah dikenal oleh masyarakat luar. (CAHYA LAILIA O.P.)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 28 Desember 2009

Label: , , , ,

Perseba Lolos ke Divisi II

Prestasi hebat dipersembahkan para pemain sepak bola Bangkalan. Setelah sukses memboyong Piala Soeratin di Liga Remaja U-18, Perseba Bangkalan juga berhak naik kasta ke Divisi II tahun depan. Tiket itu mereka raih setelah dalam laga Kompetisi Divisi III Babak II-B Wilayah Jawa Grup F mengalahkan PSJS Jakarta Selatan 3-0 (2-0) di Stadion Bangkalan kemarin sore (26/12).

Dengan torehan poin sembilan, Perseba menjadi tim pertama yang meraih tiket ke Divisi II dari grup F. Satu tiket sisa diperebutkan antara Persenga Nganjuk dan Protaba Bantul yang akan bentrok sore nanti. "Ini prestasi luar biasa. Tahun depan Perseba akan berlaga pada kompetisi Divisi II. Target kami pada 2009 ini akhirnya tercapai," kata Imron Abd Fattah, ketua Pengcab PSSI Bangkalan.

Sukses Perseba menembus Divisi II kemarin memang berkat perjuangan keras Bagas Novianto dkk. Sejak peluit kickoff dibunyikan wasit Musaffak, anak-anak Laskar Suramadu langsung mengambil alih serangan. Beberapa kali peluang emas diperoleh pemain Perseba di awal babak pertama. Namun, gol pertama baru tercipta pada menit ke-14 melalui gol bunuh diri stopper PSJS Hendy. Sebelum turun minum, striker andalan Perseba Romadona mampu memperbesar keunggulan menjadi 2-0 melalui tendangan keras kaki kanannya.

Di babak II, Perseba kembali menambah gol kemenangan melalui kaki Sucipto pada menit ke-73. Pemain yang dikenal dengan lari kencangnya itu mampu menuntaskan umpan daerah yang diberikan Romadona guna menaklukkan kiper PSJS Burhanuddin. Hingga peluit panjang berbunyi, skor 3-0 tetap bertahan. "Sebelum laga dimulai, anak-anak bertekad tampil habis-habisan. Sebab, laga ini sangat penting guna membawa kami ke kasta yang lebih tinggi, yakni Divisi II. Keberhasilan kami naik kasta juga berkat kerja keras elemen bola di Bangkalan," ujar Yusuf Money, pelatih Perseba.

Kemenangan 3-0 itu disambut histeria pendukung Perseba yang hadir di Stadion Bangkalan. Para pemain dan ofisial berhamburan ke tengah lapangan merayakan kesuksesan mereka. Ratusan Kacongmania -suporter Perseba- yang memadati tribun Stadion Bangkalan juga terus bersorak merayakan keberhasilan Perseba promosi tahun depan. (ale/ed/jpnn/ko)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 27 Desember 2009

Label: , ,

Optimistis Dapat Rp 4 Miliar

Meski bukan daerah penghasil tembakau, Pemkab Bangkalan kembali kebagian dana hibah dari bagi hasil cukai rokok pada anggaran 2010 yang diperkirakan sebesar Rp 4 miliar. Dana segar ini diproyeksikan untuk mendukung program pembangunan berkaitan mengatasi dampak merokok.

Kabag. Perekonomian Bangkalan, Abdul Hakim mengatakan kucuran dana segar dari pusat ini patut disyukuri. Meski bukan daerah penghasil tembakau yang besar, namun kembali mendapatkan dana bagi hasil cukai rokok yang cukup besar.

“Memang semua sudah diatur dalam peraturan menteri keuangan, bahwa daerah bukan penghasil tembakau juga menikmati dana bagi hasil cukai rokok,” katanya, Selasa (22/12) pagi.

Dikatakan, kepastian besarnya dana bagi hasil ini masih dalam perhitungan kongkrit. Meski begitu dia memastikan dana pada 2010, tidak berbeda jauh dari 2009 menembus angka Rp 4 miliar. “Hitung - hitungannya sudah jelas dan detail. Jadi kita tinggal menunggu angka pastinya saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hakim mengatakan saat ini Pemkab Bangkalan sedang menunggu perencanaan penggunaan dana bagi hasil cukai rokok itu. Pasalnya dana hibah ini hanya dapat dipergunakan untuk keperluan pembangunan yang berhubungan langsung dengan dampak merokok.

Kata lain, dana itu hanya akan digunakan pada pos tertentu, sesuai dengan apa yang telah diatur dalam peraturan menteri keuangan. “Keperluannya masih dirancang Bappeda. Yang jelas akan dipakai guna mengantisipasi dampak merokok di bidang kesehatan, lingkungan sosial serta dalam hal pengawasan,” urainya.

Pada dana hibah 2009 ini, Pemkab Bangkalan sudah mengalokasikan sekitar 50 persen dana mengatasi dampak kesehatan merokok bagi pasien penderita paru - paru. Selain itu menggelar acara sosialisasi dan pembangunan smoking room (ruangan bebas merokok). “Ke depan akan kita maksimalkan pada sektor yang terkait dampak merokok,” tegasnya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 22 Desember 2009

Label: , ,