Pengembangan Gua Lebar Terhambat
Pembebasan Lahan

Pengembangan objek wisata Gua Lebar yang bakal dijadikan sebagai salah satu ikon wisata Kabupaten Sampang rupanya masih terganjal pembebasan lahan milik warga setempat. Pemilik lahan menolak dengan harga tanah yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang.

"Kami sekeluarga sudah sepakat mematok harga Rp 200 ribu per meter persegi, tetapi pihak Pemkab hanya menawar dengan harga Rp 60 ribu. Tentu saja saya tidak akan melepaskan tanah itu, karena pasti nanti digugat ahli waris yang lain,” kata Rohadi, salah seorang ahli waris tanah, Minggu (4/3) pagi tadi.

Tanah yang akan dibebaskan Pemkab untuk pengembangan wisata Gua Lebar totalnya satu hektare. Rinciannya, setengah hektare milik keluarga Rohadi yang totalnya ada tujuh ahli waris, sedangkan setengah hektare sisanya tanah negara.

“Bukannya kami menolak, hanya saja kami tidak cocok dengan harga yang ditawarkan Pemkab, terlalu murah,” tandasnya.

Lokasi tanah yang masih belum dapat dibebaskan itu sangat strategis, karena tepat berada di sisi sebelah timur bibir gua yang mirip kawah berdiameter 50 meter persegi dengan kedalaman mencapai 100 meter. Bahkan di areal tanah sengketa tersebut telah ditanami beberapa pohon mahoni dan beringin untuk pengembangan konsep hutan di atas batu.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, jika sudah beberapa kali tim sembilan Pemkab atau tim appraisal (penaksir) melakukan negosiasi dengan dia yang mewakili ahli waris. Namun tidak pernah ada titik temu, sehingga membuat ia merasa capek fisik dan mental karena harus mondar mandir dipanggil ke kantor Pemkab untuk membicarakan kesepakatan harga tanah miliknya.

“Saya sebenarnya capek sendiri, berkali-kali negosisasi tapi tidak pernah ada titik temu,” ujar Rohadi yang menjadi pegawai pesuruh salah satu SD tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pemkab Sampang, Aji Waluyo, ketika dikonfirmasi menyesalkan sikap pemilik tanah tetap ngotot tidak bersedia melepas tanahnya. Jika Rohadi mengungkapkan harga penawaran dari Pemkab sebesar Rp 60 ribu per meter persegi, berbeda dengan Aji yang menegaskan jika penawaqran Pemkab Rp 100 ribu per meter persegi.

“Kekuatan dana APBD yang kita miliki untuk biaya pembebasan lahan sangat terbatas, hanya sebesar Rp 250 juta. Jadi tidak mungkin kita mengabulkan permintaan pemilik tanah tersebut," jelas Aji.

Lebih lanjut Aji menambahkan, pihaknya telah melibatkan tim appraisal sebagai tim independen dalam menaksir harga tanah di lokasi obyek wisata Gua Lebar. Berdasarkan hasil survei tim, tanah itu harganya berkisar Rp 50 ribu per meter.

"Bahkan jika mengacu Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) harganya jauh lebih murah, yaitu hanya berkisar Rp 25 ribu, tapi sayangnya upaya kita tidak direspon positif oleh pemilik lahan," tukasnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 04/03/2012

Label: , , ,

Goa Lebar, Indah namun Mengancam Nyawa

Saat pulang kampung, saya sempat mengantar ibu yang penasaran ingin berkunjung ke ‘goa lebar’ di Sampang, Madura. Berdasarkan memori masa kecil (tahun 1983), beberapa teman pernah mengajak saya bermain ke sana.

Yang saya temui adalah sebuah lobang besar buatan manusia penuh dengan kesibukan penduduk setempat yang sedang menambang batu kapur untuk batu bata. Sedemikian besarnya lobang itu sehingga saya seperti memasuki dunia lain saat berada di dalamnya. Dan itu tidak sekali dua kali. Namanya bocah lelaki pasti berupaya mengeksplorasi menemukan hal-hal baru di luar rumah. Sehingga saya tahu betul setiap detail dan lekuk gua buatan ini.

Oleh Indra Kristika

Empat tahun kemudian saat masih berseragam biru putih sempat terdengar berita, sebagian sisi goa runtuh dan menimpa penambang batu gamping yang sedang mencari nafkah. Jelas terbayang kengerian luar biasa. Bagaimana tidak, dengan begitu banyaknya penambang yang sedang bekerja, kemudian batu seberat ratusan ton runtuh menimbun mereka, bagaikan menginjak cacing dengan sepatu lars tentara. Ajaibnya, hanya tiga penambang yang dikabarkan meninggal. Lainnya luka-luka saja. Sejak peristiwa runtuh itu, tidak pernah lagi saya ke goa lebar. Apalagi semenjak studi di Surabaya, kian menjauhkan saya dari ritual masa kecil (eksplorasi) ke tempat penuh tantangan itu. Sekarang pun, kalau sempat pulang kampung, paling top pergi ke pantai Camplong bersama dua gadis kecil saya yang baru menginjak usia 4 dan 9 tahun.

Tetapi ketika ibu menceritakan penjelasan dari adik saya tentang megahnya goa itu, indahnya pemandangan dari bukit yang ada di atasnya, apalagi dengan tambahan-tambahan irrasional seperti bunyi ombak yang bisa terdengar dari dasar goa, hati saya menjadi tergelitik antara ingin tertawa dan kasihan. Mana mungkin para penambang berani menanggung risiko menembus perut bumi sampai ke pantai! Tapi okelah, sebagai bakti anak kepada ibu, beliau saya antar ke sana.

Menjelang sampai lokasi, saya betul-betul terhenyak dengan kondisi di sekitar goa lebar. Jika dulu areal pertambangan itu penuh dengan ladang-ladang jagung menghijau, ilalang liar tinggi menjulang dan tanah bebatuan tajam, kini seperti disulap oleh waktu. Areal pertambangan berkembang pesat di berbagai titik lokasi. Penambang-penambang tradisional menggali sendiri tanah-tanah dan ladang mereka. Alhasil berbagai tempat di sepanjang perjalanan penuh dengan lobang-lobang calon ‘goa lebar’ baru. Bahkan di satu titik, sebuah galian dengan mesin-mesin modern beraksi dengan gagahnya. Penduduk setempat mengatakan, “itu milik pejabat tinggi di sini, Pak.”

Sampai di lokasi goa, jalan menanjak menyambut kedatangan kami. Seingat saya dulu jalan setapak penuh bebatuan, kini berubah menjadi aspal dan diplester. Bahkan sepeda motor penjual pentol bakso keliling pun bisa naik ke lokasi goa. Itu belum seberapa. Sampai di puncak bukit, kami disuguhi pemandangan sore yang luar biasa. Landskap Kota Sampang dengan kubah masjid Jami’-nya yang membiru, rumah-rumah penduduk, sementara di bagian timur penuh dengan ladang menghijau. Benar-benar indah. Di sekeliling goa lebar, rupanya Pemda Sampang sudah mengemasnya dengan baik. Ada joglo-joglo kecil tempat istirahat, joglo utama di dekat pintu masuk, warung-warung, dan berbagai fasilitas kecil lainnya. Beberapa pemuda setempat dengan ramahnya menyapa serta menjadi guide gratis kami. Dari merekalah kami tahu pintu masuk goa yang sekarang (setelah runtuh), dan kami dapati sebuah patung Sakera tepat di mulut goa memanggul atap goa.

Sebuah ide yang bagus, membangun bekas penambangan menjadi areal pariwisata kecil dengan penataan yang baik. Hanya sayangnya, masih banyak lubang-lubang kecil atau sedang, dengan kedalaman yang luar biasa menganga tanpa pelindung, siap menelan pengunjung yang tidak waspada. Artinya, wisata goa lebar siap menunggu wisatawan dan korban yang terlena.

Penulis: Indra Kristika, Praktisi di SD Al Falah Surabaya, indrakristika@gmail.co

Terkait:

Sumber: Surya, Sabtu, 4 Februari 2012

Label: , , ,

Silahkan Berpariwisata ke Gua Lebar

Akses menuju Gua Lebar sebenarnya sangat mudah, karena berada ditengah-tengah kota, terletak di Jl. Pahlawan, Kelurahan Rongtengah, Kec. Sampang Kota. Sayangnya, karena kondisinya tidak menarik sehingga tempat tersebut jarang dikunjungi wisatawan setempat terlebih lagi dari luar Sampang.

Selain kondisi gua yang sangat memprihatinkan, karena rawan longsor, sehingga dapat membahayakan para pengunjung yang ingin masuk kedalam gua yang mirip tangkupan perahu di Jawa Barat itu. Diperparah dengan tanahnya yang tandus jarang ditumbuhi pepohonan yang rindang. Membuat para wisatawan enggan berlama-lama menikmati pemandangan Kota Sampang dari atas bukti tersebut.

Bupati Sampang, Noer Tjahja, yang sudah cukup akrab dengan lingkungan sekitar gua, karena sejak kecil menjadi tempat dia bermain, mencoba menata kembali potensi wisata itu dengan membangun berbagai sarana dan infrastruktur untuk menarik minat wisatawan berkunjung.

“Sayang sekali, selama ini obyek wisata gua lebar dibiarkan merana. Padahal jika dikembangkan dan dibangun sarana pendukung, saya yakin akan menjadi tempat wisata unggulan yang akan ramai disinggahi wisatawan dari berbagai daerah, “ kata bupati.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Sampang, Drs Adji Waluyo, langsung merespon niat bupati tersebut. Dia mengembangkan konsep hutan di atas batu dengan melakukan penanaman pohon peneduh, diantaranya pohon Sono Kembang, Tanjung, Beringin, Cemara Udang maupun Palem Botol, selain berfungsi menahan longsor dan menjadi resapan air.

“Penanaman pohon itu juga berfungsi untuk mempercantik disekitar lokasi gua agar terlihat rindang dan asri. Bahkan kita telah membangun sebuah gazebo lengkap dengan tamannya untuk mempercantik lokasi tersebut, serta membuat jogging trak supaya para wisatawan menjadi betah menikmati panorama alam perbukitan itu, “ jelas Adji.

Obyek wisata itu, menurut dia, mengandung unsur sejarah karena terdapat petilasan Pangeran Trunojoyo ketika sedang bersemedi didalam gua. Namun pihaknya masih menunggu rekomendasi dari tim ahli gua yang tengah melakukan penelitian apakah tempat itu layak atau tidak dijadikan obyek wisata sejarah.

“Kita telah membentuk Kelompok Peduli Lingkungan (Kopling) dengan melibatkan warga setempat, untuk menjaga kelestarian alam di sekitar gua. Mudah-mudahan setelah mendapat rekomindasi layak dari tim ahli gua, bapak Bupati akan langsung meresmikan tempat itu sebagai obyek wisata unggulan Sampang," tandas Adji. (Achmad Hairuddin)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 24 Maret 2010

Label: , , ,