Asta Nyamplong Sepudi

Pasareanna Adipoday

È kampong Nyamplong dhisa Nyamplong bâḍâ sèttong Asta (kobhuran kona) sè kasebbhut pasarèanna Aḍipoḍây otabâ asta Nyamplong, amarghâ ghi’ lambâ’ bânnya’ bhungkana nyamplongnga. Kacator sè èsarèyaghi è asta ka’dinto èngghi panèka Aḍipoḍây sareng Potrè Konèng.

Aḍipoḍây jhughân sè kasebbhut Panḍhung Siluman otabâ Arya Baribin Panembahan Wirakrama, sè marènta Songennep è taon 1399 kantos 1415 sè èngghun karaton è polo Poḍây (Sepudi). Mèlana ènyamaè Sepudi asal oca’ “Sepuh Dewe” artèna palèng towa amarghâ aghâma Islam maso’ ka Madhurâ (Songennep) lèbat Poḍây dhâddhi palèng ngadâ’ (towa) Islamma, sè èbhâkta sareng Sayyid Ali Murtadha Sunan Lembayung Fadhâl otabâ sè kasebbhut Rato Panḍhita, èngghi panèka kaka’na Sayyid Ali Rahmatullah otabâ Sunan Ampèl. Rato Panḍhita otabâ Sunan Lembanyung Fadhal kaaghungan potra empa’, èngghi panèka Usyman Haji / Sunan Ngudung, Haji Utsman / Sunan Manyuran Mandalika, Tumenggung Pulangjiwa / Panembahan Blingi, Nyè Ageng Tonḍo rajina Sunan Kertayasa Sampang. Sunan Ngudung ka’ḍinto ramana Sunan Kudus sè toron ka Pangèran Katandur. Sunan Manyuran aḍhâḍhuko è Manyuran Lombok (NTB), Pulangjiwo kaaghungan potra ḍuwâ’ èngghipanèka Aḍipoḍây sareng Aḍirasa.

Aḍipoḍay araji Potrè Konèng kaaghungan potra ḍuwâ’ asmana Jokotole sareng Agus Wèḍi. Jokotole ajuluk Raden Aryo Kujopanole Pangeran Secodiningrat III, jumenneng Adipati Songennep taon 1415 kantos 1460 engghun karaton è Lapataman Dungkè’. Aḍipoḍây ka’dinto sè ngajhâri maghârsarèna carana ngobu tor arabât sapè sè saè tor samporna, saengghâna sapè è polo Poḍây dhâdhhi gul-agulla sapè sa Madhura, kantos kalonta ḍâ’ manca naghârâ.

Sakèng cè’ èmanna ḍâ’ kabâdâ’ân asta panèka ampon aobâ ta’ kadhi aslina, saèngghâna ta’ bisa èpangghi omorra bâto kèjhing tor paèsan sè kona tor aropa’aghi ”peninggalan sisa situs sejarah” Sanaos kadhika’ḍinto, ghi’ bânnya’ para maghârsarè ḍâri lowar polo Madhurâ akadhi ḍâri Situbondo, Bondowoso, Jember sareng salaènna, rabu kaangghuy aziyarah ḍâ’ pasarèan otabâ asta Nyamplong ka’ḍinto.

Jhughân è pasarèan ka’ḍinto ghi’ bâḍâ pakakas sareng pèyadhânnèpon Adipoḍây sè ghi’ èrabât tor èparatènè sareng panjâgâna akadhi katèdungan, paddhâsân tor sanjâta akadhi calo’ koḍhi’ kerrès, gulu’ sareng tombhâk. Manabi para maos terro onènga, ngèrèng èatorè rabu ḍâ’ dhisa Nyamplong polo Poḍây Kabupatèn Songennep.

Sumber: Tadjul Arifien R

Label: , ,

Sumenep Kota Bersejarah

Sumenep ditimur pulau Madura merupaka kota bersejarah dan tenang. Gagasan untuk mendirikan dan membangun kerajaan Majapahit digodog di kota ini oleh Raden Wijaya dan Arya Wiraraja.
  1. Pendapa kraton Sumenep, satu-satunya istana lama yang masih utuh di Jawa Timur. Kini dijadikan museum kraton.

    Pendapa kraton Sumenep

  2. Relief sebuah candi abad ke-14 M. Hanya ditemukan rerontoknya.

    Relief Candi

  3. Jalanan kota yang lengang sore hari.

    Jalan Kota Sepi

  4. Tempat tidur raja-raja Sumenep. Koleksi museum kraton.

    Tempat Tidur Raja
Sumber: Abdul Hadi WM

Label: , , ,

Kesenian Madura Bisa Mendunia

Kesenian Madura mendapat perhatian tersendiri dari kalangan artis Ibu Kota. Menurut mereka, bila kesenian tersebut dirawat, dimodifikasi, dan dilestarikan, suatu saat kesenian Madura tidak hanya bergema di pentas nasional. Tetapi, gaung kesenian Madura sampai ke manca negara.

Itulah kesimpulan dari pembicaraan Pemred Koran Madura Abrari saat berbincang dengan Arzeti Bilbina di studio TV One Jakarta (28/12). Menurut Arzeti, sejauh ini Madura seolah-olah hanya mendengar kerapan sapi, batik, dan sate Madura yang terkenal. Tetapi saat bertemu langsung dengan sejumlah orang Madura di Jakarta, Arzeti memahami kesenian Madura jauh lebih banyak dari yang dia ketahui.

Salah satu contohnya, Arzeti menyebut rag-aragen yang ditampilkan Said Abdullah Institute (SAI) di hari terakhir Kongres Kebudayaan Madura II beberapa waktu lalu. Di dalam tayangan itu, Arzeti mengaku temukan banyak kesenian dan pakaian adat. Diantaranya, baju lega (baju kebesaran), pakaian cebbing, ul daul, saronen, sape sono’ dan banyak lagi yang lainnya. “Madura untuk Dunia, wow keren,” Arzeti memberi semangat.

Sebelum Arzeti, artis Ibu Kota, Kirey datang ke acara Kongres Kebudayaan Madura II. Kirey tidak hanya datang sebagai peninjau. Tetapi, dia hadir justru ikut menjadi bagian dari pelaku rag-aragen bersama masyarakat dengan mengendarai kereta kencana. Hal yang sama juga dilakukan Ayu Azhari yang untuk beberapa hari tinggal di Kabupaten Sumenep. Ayu, saat itu, cukup terkesan dengan makanan dan minuman tradisional Madura.

Budayawan Madura, Edhi Setyawan sependapat dengan para artis yang meyakini kesenian Madura untuk mendunia. Di era 1990-an, kesenian Madura (topeng) telah melanglang ke Eropa. Di pentas internasional, kesenian Madura mendapat apresiasi yang luar biasa sebagai karya seni anak bangsa. Tetapi, Edhi merasa telah terjadi ketidakseimbangan antara apresiasi di daerah dengan jagat internasional. Menurutnya, di daerah regional kesenian tidak sepenuhnya mendapat tempat yang layak. “Waktu itu, di Eropa, usai kami tampil terdapat tiga aplaus dari pemiarsa. Tiga aplaus tersebut menjadi tanda bahwa grup yang tampil sangat bagus,” Edhi bercerita.

Ketua Dewan Pembina SAI (Said Abdullah Institute) Said Abdullah mengaku hanya melakukan remotivasi berbudaya. Said yakin jika bukan warga Madura sendiri yang memelihara dan merawat budayanya sendiri, dapat dipastikan budaya Madura habis pada saatnya. Karena itu, sebelum hal terburuk itu datang, Said melakukan budaya tanding terhadap masuknya globalisasi yang tanpa batas. Antara lain, dia bersama masyarakat secara gotong-royong menyelanggaran Kongres Kebudayaan Madura I dan II disusul rag-aragen serupa parade budaya Madura secara kolosal. “Nah, kami ingin menggugah kesadaran bersama bahwa budaya lokal itu sangat penting,” dia menjelaskan.

Sekedar diketahui, tanggal 28 Desember 2012 lalu rombongan dari Madura bertandang ke Jakarta. Mereka antara lain Pemimpin Redaksi Koran Madura Abrari, Model Cebbing dan Penari Mowang Sangkal masing-masing Indah, Mazida, Fethy, Serly, Vera, dan Ketua Dewan Pembinan SAI, MH Said Abdullah untuk mengkampanyekan Madura untuk Dunia di live TV One, Jakarta. (dav/bet)

Sumber: Koran Madura, 01 Jan 2013

Label: , ,

Gerakan Mahasiswa Sumenep Selamatkan Budaya Lokal


SP/Etto Hartono
Mahasiswa Unija joget dan saweran dalam acara penyelamatan musik kleningan

Musik tradisional berupa kleningan yang dimainkan banyak orang dan ada pula yang berperan melantunkan kidungan Madura serta ada sinden, mulai ditinggalkan kawula muda di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Melihat fenomena itu, mahasiswa Sumenep menggelar acara musik tradisional itu, sebagai upaya melestarikan budaya masyarakat lokal.

Gerakan itu memang patut diapresiasi. Ketua Presiden Mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Eko Wahyudi mengatakan, saat ini perlu ada gerakan penyelamatan budaya lokal. Sebab, banyak seni budaya yang sudah mulai ditinggalkan oleh kader-kader muda.

"Musik kleningan saja yang masih sering didengar dalam acara-acara tertentu, kalangan mudanya juga tidak tahu. Jangankan membawakan kidungan seperti yang dibawakan sinden, satu bait untuk lagu-lagu yang diiringi kleningan sudah tidak tahu," kata Eko, ditengah pagelaran musik kleningan di depan kampus Unija, Rabu (25/4) siang.

Dia sengaja menggelar hiburan kleningan dan ada sinden dalam acara pelantikan, orasi budaya dan rokat bumi cemara Dewan Legislatif Mahasiswa-Badan Eksekutif Mahasiswa Unija 2011/2012. "Ini bentuk apresiasi mahasiswa Unija pada seni kleningan," ujarnya.

Dunia pendidikan, kata dia, harus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kelestarian budaya lokal. Salah satunya, dengan cara memborong para pelaku seni budaya tradisional ke kampus.

"Tidak ada acara pelantikan organisasi mahasiswa dengan hiburan kleningan. Nah, ini yang pertama dan harus menjadi agenda rutin, sehingga mahasiswa juga merasa tidak asing dengan musik tradisional yang mengandung makna dan arti yang cukup luas dalam kehidupan masyarakat Madura pada umumnya," urainya.

Budaya atau seni dari luar justru lebih kuat mempengaruhi kader-kader muda saat ini. Padahal, bila bicara soal pangsa pasar, musik lokal juga masih mempunyai tempat yang luar biasa di tengah kehidupan masyarakat saat ini. "Mahasiswa Unija sendiri, justru berjoget bukan meniru gerakan sinden yang lembut gemulai" katanya.

Sementara, Rektor Unija Sumenep, Alwiyah mengaku sangat mendukung acara musik kleningan masuk kampus. Bahkan, gagasan mahasiswa untuk menyelamatkan budaya lokal harus dilakukan. "Kita dukung acara itu demi kebaikan dan penyelamatan budaya lokal dan seni tradisonal," tegasnya.

Rangkaian penyelamatan budaya lokal, selain mendatangkan budayawan juga menggelar sedekah bumi yang nyaris punah dan tidak dikenal oleh kader muda Sumenep. Ritual yang digelar pada malam hari itu juga disediakan 'sesajen' dan ditutup dengan doa 'Nur Puat' atau Nurun Nubuwah. (md2)

Sumber: Surabaya Post, 20/04/12

Label: , , , , ,

Manusia Pasir, Sisi Unik Potensi Pantai Utara Sumenep

SP/Etto Hartono
Beginilah keseharian ibu dan anak ini tertidur pulas di atas kasur pasir, di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep.

Mayoritas warga tiga desa di kecamatan Batang-Batang, kabupaten Sumenep, Madura, tidur beralas pasir. Tradisi ini sudah dilakoni secara turun-temurun sejak kakek moyang mereka dulu. Disamping sudah tradisi, hal ini diyakini sebagai obat bagi kesehatan tubuh. Etto Hartono, reporter Surabaya Post yang bertugas di Sumenep, melaporkannya untuk pembaca.

Bagi mayoritas di tiga desa yakni warga, Legung Barat dan Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura pasir tidak akan pernah lepas dari kehidupannya, sudah menjadi gaya hidup.

Tradisi tidur diatas pasir yang ditempatkan di sudut kamar rumah, maupun di ruang istirahat, menjadi teman dalam hidupnya. Bahkan, sebagian halaman rumah juga terdapat pasir sebagai tempat bermain anak-anak.

Warga tiga desa yang mayoritas sebagai nelayan, dan sebagian lainnya pedagang dan bertani, menganggap pasir memberi manfaat besar berupa kesehatan bagi tubuh. Mereka juga menganggap, tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak dibanding kasur kapuk maupun kasur spring bed yang harganya jutaan rupiah.

"Kalau tidur di atas pasir terasa lebih empuk mas. Bahkan, kalau musim dingin terasa hangat dan kalau musim panas justru terasa dingin. Tidur pun lebih nyenyak dan lebih segar," kata Ny Harsiyani (38), salah seorang warga Dusun Samburat, Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Selasa (10/4).

Pasir yang diambil dari sekitar Pantai Lombang itu tidak lengket ke kulit atau tubuh. Jika badan dalam kondisi basah, maka saat kering akan mengelepus dengan sendirinya. Yang istimewa, butiran pasir disepanjang Pantai Lombang memiliki kristal pasir yang sangat halus. Pasir inipun bersih mengkilap dan memiliki warna putih gading, terasa sangat halus ketika dipegang.

Warga yang memanfaatkan pasir sebagai tempat tidur atau istirahat, bukan hanya mereka yang kelas ekonomi menengah ke bawah, melainkan warga yang sudah mempunyai kemampuan lebih masih tetap tidur di atas pasir.

Rata-rata mereka juga memiliki kasur modern dari bahan kapuk maupun spring bed. Tapi uniknya itu hanya dipakai sebagai hiasan, sehingga kasur modern mereka tetap tampak bersih layaknya baru.

"Tempat tidur berupa kasur atau spring bed semua warga punya, tetapi hanya sebagai hiasan dan tidak digunakan, sehingga tetap kelihatan baru," ujarnya, sambil tersenyum.

Proses melahirkan pun, kata dia, juga dilakukan di atas pasir. Warga meyakini jika lahir di atas pasir anak-anak mereka tidak mudah sakit. Hanya pada kasus-kasus ibu yang mengalami kesulitan saat melahirkan, tetap dibawa ke Puskesmas atau ke rumah sakit.

Usir Capek dan Rematik

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, H Ali Makki menjelaskan, kebiasaan warga tidur dan lebih banyak beraktivitas di atas pasir sudah tradisi turun-temurun. "Kenapa dan mulai kapan tidur diatas kasur pasir itu, saya juga tidak tahu, yang jelas masyarakat sangat suka dan merasa lebih sehat," katanya.

Manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat, kata dia, merasa nyaman dan nyenyak bila tidur maupun istirahat bersama keluarga. Bahkan, bagi mereka yang mempunyai penyakit rematik dan pegal atau linu akan sembuh dengan sendirinya.

"Sehabis kerja kan capek dan tubuh terasa lelah dan letih, kalau sudah tidur di atas pasir, apalagi sebagian tubuh ditimbun pasir, akan terasa nyaman dan bugar kembali," ungkapnya.

Julukan manusia pasir, kata dia, hanyalah sejumlah orang yang menyebut, yakni para pendatang yang berkunjung ke pantai Lombang dan mampir ke rumah-rumah warga untuk tahu lebih dekat. Namun, bagi warga pesisir utara menyebutnya kasur pasir.

Untuk sampai ke lokasi kampung pasir, harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan jarak 31 kilometer (km) dari pusat kota, ke arah wisata Pantai Lombang. Warga setempat sangat terbuka dan ramah bila ada tamu yang ingin tahu soal kasur pasir. Mereka pun tidak segan-segan mengajak tamunya untuk mencoba dan merasakan nikmatnya kasur pasir tersebut.

Perlu Diteliti

Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Moh Anwar Kabupaten Sumenep, dr Susianto, menyebut fenomena kampung pasir yang digunakan warga di pesisir pantai utara kota Sumenep itu, memang perlu diteliti lebih lanjut dari lembaga yang berkompeten, sehingga dapat dijelaskan secara ilmiah ke masyarakat umum.

dr Susianto mengaku pernah berkumpul selama 5 tahun bersama masyarakat pengguna pasir sebagai alas tidur, tapi belum menemukan hasil kajian ilmiah.

"Saya pun pernah merasakan enak dan nyamannya istirahat di atas kasur pasir itu. Sebab, saya pernah bertugas di daerah itu selama 5 tahun," ujar Susianto.

Dia membenarkan jika masyarakat merasakan manfaat pasir itu untuk kesehatan. Akan tetapi, kesulitan untuk dijelaskan secara ilmiah dari sisi medis.

"Jika ada penelitian akan diketahui kandungan dalam pasir itu," katanya.

Banyak tamu dari luar negeri, kata dia, baik Amerika Serikat, India maupun wisatawan lainnya yang terkesan dengan pasir yang ada di sekitar pantai pesisir utara Sumenep itu.

"Kesan mereka, pasir itu terasa hangat, sehingga berdampak positif pada peredaran darah," ungkapnya.

"Jika di daerah luar mengemas air laut untuk kesehatan dan bisa mengobati rematik, kenapa pasir Sumenep belum bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Padahal, sudah dirasakan banyak orang, terutama masyarakat setempat yang sudah turun-temurun memanfaatkan pasir sebagai alas tidur," pungkasnya.

Terkait:

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 11/04/2012

Label: , , , , ,

Zawawi Imron Raih Penghargaan dari Thailand

Minggu depan, tanggal 12 Februari 2012, akan menjadi saat yang membanggakan bagi penyair jempolan asal Madura, D Zawawi Imron. Dia akan terbang ke Thailand guna memenuhi undangan Raja Thailand untuk menerima penghargaan Penyair Asia Tenggara (South East Asia Writer Award).

Sastrawan yang telah menginjak usia 69 (tapi dia tidak mengetahui tanggal dan bulannya) ini mengatakan bahwa penghargaan diperoleh dari antologi puisinya yang berjudul 'Kelenjar Laut'.

"Buku antologi puisi Kelenjar Laut ini yang mau saya bawa ke Thiland, karena ini yang dinilai," ungkap Zawawi kepada beritajatim.Com, saat ditemui di sela-sela acara Workshop Penulisan Kreatif di SMK Satya Widya, Kamis (02/02/2012).

Buku itu juga yang mengantarkannya meraih penghargaan tahun 2010 dan juga tahun 2011 dari Pusat Pembinaan Bahasa Nasional. Puisi-puisi yang mendapat apresiasi luar biasa ini, berisi puisi bebas yang tetap menunjukkan ke-khasan kampung halamannya, Madura.

Nilai seni yang tinggi dalam "Kelenjar Laut" juga diamini oleh sastrawan muda dan juga murid Zawawi Imron, Mardi Luhung. "Puisi-puisi beliau ini, memang punya kekhasan dan pantas jika mendapat penghargaan," kata Mardi.

Zawawi yang pernah memperoleh penghargaan dari Majelis Sastra Asia Tenggara di Malaysia ini juga siap melaunching 85 sajak-sajaknya terbaru yang ia beri judul 'Kaki Tiga'. Pemberian nama 'kaki tiga' terinspirasi dari kondisi zawawi yang sejak 4 bulan lalu harus berjalan dibantu dengan tongkat.

Saat ditanya apa pesan untuk para pemuda, Zawawi mengutip ungkapan di sastra Jawa yang sering disampaikan Sunan Kalijaga. "Dadio wong seng iso rumongso, ojo dadi wong seng rumongso iso," ungkapnya.

Sekadar diketahui, D Zawawi Imron adalah penyair yang tidak tamat Sekolah Rakyat. Sampai sekarang, dia tetap tinggal di desa kelahirannya (di Batang-batang, Sumenep, Madura). Dia pernah memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV (1995).

Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002). [hay/but]

Karya-karya Zawawi:
  • Semerbak Mayang (1977)
  • Madura Akulah Lautmu (1978)
  • Celurit Emas (1980)
  • Bulan Tertusuk Ilalang (1982; mengilhami film Garin Nugroho berjudul sama)
  • Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985)
  • Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996)
  • Lautmu Tak Habis Gelombang (1996)
  • Madura Akulah Darahmu (1999).
Reporter: Hayik Ali Muntaha

Sumber: bertajatim, Kamis, 02 Februari 2012

Label: , , , , ,

Sumenep Kemas Wisata Religi

SP/Etto Hartono
Masjid Agung Kota Sumenep Yang dibangun oleh Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat (1762-1811 M). Inzet: Bupati Sumenep, A Busyro Karim.

Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura berencana mengemas wisata religi menjadi salah satu penunjang untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

"Kedepan, pemerintah daerah akan mengemas wisata religi menjadi wisata yang berdampak ekonomis bagi masyarakat. Dan otomatis akan meningkatkan pendapatan asli daerah," kata Busyro Karim, Bupati Sumenep, Minggu (26/2) pagi.

Selama ini, wisata religi belum maksimal digarap. Padahal, sudah ada pasar dan pengunjung dari berbagai daerah. Setiap hari terdapat bus pariwisata antara 8 sampai 10 unit. Bahkan, pada saat liburan bisa lebih dari 20 bus.

Geliat wisata religi, kata dia, sangat terasa dan pengunjung berasal dari berbagai daerah di tanah air. Mereka berziarah ke pemakaman raja-raja Sumenep di Asta Tinggi. Lalu, ke Masjid Agung, Musium Keraton dan melanjutkan ke makam Sayyid Yusuf di Kecamatan Talango, Kepulauan Poteran.

Kemasan wisata religi yang diinginkan orang nomor satu ini yakni diawali dari pengadaan lahan parkir bus wisata yang direncanakan bakal memanfaatkan bekas terminal lama. Dari lokasi parkir tersebut, peziarah bisa menggunakan jasa becak, odong-odong atau menghidupkan kembali angkutan dokar yang merupakan kekayaan budaya Sumenep.

Peziarah bisa langsung lewat lingkar barat menuju pemakaman raja-raja atau lewat jalur kota. Sepulangnya dari Asta Tinggi, baru ke musium sambil belanja souvenir khas Sumenep.

"Kemasan wisata religi ini, memang butuh waktu. Selain di Asta Tinggi perlu penataan yang harus dilakukan pemerintah daerah dengan yayasan, juga masih menunggu renovasi dan perpindahan kantor Dinas Kesehatan ke sebelah timur kantor pemerintah daerah," katanya.

Menurut dia, wisata religi perlu dikemas dalam bentuk paket serta mendapat dukungan penuh dari masyarakat serta sinkronisasi antar SKPD. Di dalamnya tentu melibatkan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga selaku leading sektornya, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Perdagangan, pihak aparat kepolisian selaku penanggungjawab keamanan maupun pihak lainnya.

Rencana paket wisata religi tersebut, akan menjadi satu paket dengan wisata kota tua dan musium garam di wilayah Kecamatan Kalianget. Lokasi tersebut merupakan perlintasan para peziarah sebelum ke Asta Sayyid Yusuf, kepulauan Poteran yang ditempuh melalui Pelabuhan Kalianget.

"Kemasan paket wisata religi ini tentu harus murah. Meski masih banyak hal yang harus dibenani, baik oleh pemerintah daerah maupun oleh yayasan selaku pengelola pemakaman raja-raja Sumenep. Kapan lagi jika tidak dimulai dari sekarang," ungkapnya.

Pemerintah daerah juga telah memulai pasar kaget yang digelar setiap hari Minggu pagi di sepanjang jalan dr Soetomo atau depan musium keraton Sumenep. Bahkan, lahan di sebelah timur 'Labeng Mesem' (pintu masuk keraton) juga akan dimaksimalkan sebagai pusat oleh-oleh yang nantinya akan dikembangkan ke bangunan yang saat ini ditempati Kantor Dinas Kesehatan.

"Dari kemasan wisata religi ini, tentu diharapkan ada keterlibatan semua pihak, baik pengrajin batik, souvenir, kuliner maupun sektor ekonomi masyarakat lainnya. Target pemerintah daerah, harus ada dampak positif bagi masyarakat luas, baik dilokasi wisata religi maupun masyarakat lainnya," tandasnya.

Selain itu, Busyro juga menginginkan percepatan pembangunan sejumlah wisata alam, baik di kepulauan maupun daratan. Sehingga, berharap ada investor yang mau menanamkan modalnya. Sejumlah lokasi wisata, baik Pantai Slopeng, Pantai Lombang dan wisata Kesehatan di Pulau Giliyang sudah layak dijual dan mampu menyedot pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Untuk itu, ciri khas, adat istiadat dan budaya asli Sumenep jangan sampai luntur. Karena dengan budaya yang mempunyai ciri khas itulah Sumenep bakal lebih maju dan layak dikunjungi penziarah maupun wisatawan lainnya. (md2)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 26/02/2012

Label: , , , , , , , , ,

Asal usul Nama dan Berdirinya Kabupaten Sumenep

Sumenep adalah nama salah satu Kabupaten diujung Paling Timur Pulau Madura, yang konon katanya merupakan Kadipaten Berpangaruh atas Lahirnya Kerajaan Majapahit dahulu. Berdirinya Kabupaten ini tak luput dari peran Tokoh zaman Kerajaan yang bijaksana dan pintar yakni “Arya Wiraraja”.
Dalam Tulisan kali ini, Warta Giligenting mencoba mengingatkan akan sejarah Sumenep dilihat dari asal usul nama “Sumenep”.

Dari kabar yang berkembang di kalangan masyarakat Kabupaten Sumenep, soal asal usul Nama Sumenep masih terdapat perbedaan dalam memaknainya. Misalnya kalangan kelompok terpelajar dan tinggal di sekitar pusat kabupaten Sumenep, umumnya menyebut dengan kata Sumenep.

Sedangkan masyarakat yang tinggal di pedesaan, menyebutnya dengan kata “Songennep”. Namun dari sumber Pararaton disebutkan kata Songennep dikenal atau lahir lebih awal daripada sebutan Sumenep.

Pararaton menyebutkan sejumlah bukti antara lain sebutan Songennep lebih banyak dipakai atau dikenal oleh sebagian besar penduduk kabupaten Sumenep. Kemudian, pengarang buku sejarah dari Madura R. Werdisastro menggunakan istilah Songennep dalam bukunya berjudul “Babad Songennep”. Sementara sebutan Songennep kurang populer di masyarakat pedesaan Sumenep, (80% dari jumlah penduduk kabupaten Sumenep tinggal di desa).

Untuk menyeragamkan penyebutan Sumenep, maka pada ada inisiatif untuk merubah nama Songennep menjadi Sumenep di zaman penjajahan Belanda. Perubahan itu terjadi pada permulaan abad XVIII (1705), ketika Belanda memulai peran dalam menentukan politik kekuasaan pemerintahan di Madura termasuk Sumenep.

Perubahan nama Songennep menjadi Sumenep, antara lain untuk penyesuaian atau kemudahan dalam pengucapan agar lebih sesuai dengan aksen Belanda. Bagi mereka lebih mudah mengucapkan Sumenep daripada melafalkan Songennep.
Selian itu perubahan nama juga untuk menanamkan pengaruh kekuasaan Belanda terhadap Masyarakat Sumenep, sama seperti perubahan nama Jayakarta menjadi Batavia.

Arti Kata

Dilihat dari arti katanya, Songennep adalah nama asal pada masa kuno. Songennep menurut arti etimologis (asal-usul kata), yaitu :Song berarti relung, geronggang (bahasa Kawi), Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi, Songennep berarti lembah bekas endapan yang tenang. Selain itu ada juga yang mengartiikan bahwa Song berarti sejuk, rindang, payung. Ennep berarti mengendap (tenang). Jadi, Songennep berarti lembah endapan yang sejuk dan rindang.

Arti yang kata lainnya juga menyebutkan bahwa Song berarti relung atau cekungan. Ennep berarti tenang. Jadi, Songennep berarti lembah, cekungan yang tenang atau sama dengan pelabuhan yang tenang.

Dalam masyarakat Sumenep sendiri juga berkembang pengartian Songennep dibagi menjadiMoso ngenep.Moso dalam bahasa Madura berarti lawan atau musuh, Ngenep berarti bermalam. Jadi, Songennep berarti lawan atau musuh menginap atau bermalam. Cerita mengenai asal-usul nama “Songennep” berdasarkan versi ini sangat popular di lingkungan masyarakat Sumenep.

Cerita atau pendapat ini dihubungkan dengan suatu peristiwa bersejarah di Sumenep tahun 1750, yaitu saat diserangnya dan didudukinya keraton Sumenep oleh Ke Lesap yang berhasil menaklukkan Sumenep dan selama 1/2 bulan tinggal di keraton Sumenep. Karena peristiwa tersebut, maka dinamakan Moso Ngenep yang artinya musuh bermalam.

Meski demikian, pengartian Moso Nginep dinilai tidak benar, sebab kitab Pararaton yang ditulis tahun 1475-1485 sudah menuliskan nama Songennep. Ini berarti nama Songennep sudah lahir sebelum Ke Lesap menyerang Sumenep.
Kitab itu menyatakan bahwa, Songennep berasal dari kata-kata Ingsun Ngenep.Ingsun artinya saya, sedangkan Nginep artinya bermalam. Jadi Songennep berarti saya bermalam. Pendapat ini kurang popular di kalangan rakyat dibandingkan dengan versi lainnya. Ada orang yang menghubungkan dengan peristiwa ini dengan kejadian 700 tahunyang lalu, ketika Raden Wijaya mengungsi ke Madura akibat dikejar-kejar Jayakatwang.

Kadipaten Sumenep

Saat itu Kadipaten Sumenep berada dibawah kekuasaan Kerajaan Singosari, dengan penguasanya Raja Kertanegara. Dengan demikian Arya Wiraraja dilantik oleh Raja Kertanegara, sehingga sumber prasasti yang berhubungan dengan Raja Kertanegara dijadikan rujukan bagi penetapan Hari Jadi Kabupaten.

Sumber prasasti yang dapat dijadikan sebagai rujukan adalah prasasti antara lain, Prasasti Mua Manurung dari Raja Wisnuwardhana berangkat tahun 1255 M, Prasasti Kranggan (Sengguruh) dari Raja Kertanegara berangkat tahun 1356 M, Prasasti Pakis Wetan dari Raja Kertanegara berangkat tahun 1267 M, Prasasti Sarwadharma dari Raja Kertanegara berangkat tahun 1269 M.

Sedangkan sumber naskah (manuskrip) yang digunakan untuk menelusuri lebih lanjut tokoh Arya Wiraraja, antara lain Naskah Nagakertagama karya Rakawi Prapanca pada tahun 1365 M, Naskah Peraraton di tulis ulang tahun 1631 M, Kidung Harsa Wijaya, Kidung Ranggalawe, Kidung Pamancangan, Kidung Panji Wijayakramah, Kidung Sorandaka.

Dari sumber sejarah tersebut, maka sumber sejarah Prasasti Sarwadharma yang lengkapnya berangkat tahun 31 Oktober 1269 M, merupakan sejarah yang sangat signifikan dan jelas menyebutkan bahwa saat itu Raja Kertanegara telah menjadi Raja Singosari yang berdaulat penuh dan berhak mengangkat seorang Adipati.

Prasasti Sarwadharma dari Raja Kertanegara di Desa Penampihan lereng barat Gunung Wilis Kediri. Prasasti ini tidak lagi menyebut perkataan makamanggalya atau dibawah pengawasan. Artinya saat itu Raja Kertanegara telah berkuasa penuh, dan tidak lagi dibawah pengawasan ayahandanya Raja Wisnuwardhana telah meninggal tahun 1268 M.

Prasasti Sarwadharma berisi penetapan daerah menjadi daerah suatantra (berhak mengurus dirinya sendiri) dan lepas dari pengawasan wilayah thani bala (nama wilayah/daerah saat itu di Singosari). Sehingga daerah swatantra tersebut, yaitu daerah Sang Hyang Sarwadharma tidak lagi diwajibkan membayar bermacam-macam pajak, pungutan dan iuran.

Atas dasar fakta sejarah ini maka pelantikan Arya Wiraraja ditetapkan tanggal 31 Oktober 1269 M, dan peristiwa itu dijadikan rujukan yang sangat kuat untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Sumenep pada tanggal 31 Oktober 1269 M, yang diperingati pada setiap tahun dengan berbagai macam peristiwa seni budaya, seperti prosesi Arya Wiraraja dan rekan seni Budaya Hari Jadi Kabupaten Sumenep. (*)

Sumber: Warta Giligenteng, Minggu, 19/02/2012

Label: , , ,

Pantai Lombang: Pantai Dengan Hamparan Hutan Cemara

(EKO OSCAR NUGROHO/ THE EPOCH TIMES)
Suasana matahari terbit di Pantai Lombang Sumenep - Madura. Ombak yang tidak terlalu besar membuat pantai ini cocok untuk berenang atau sekedar bermain air.

Pantai Lombang terletak pada 30 Km timur laut kota Sumenep, tepatnya di desa Lombang, kecamatan Batang-batang.

Perjalanan menuju kawasan paling ujung timur Pulau Madura ini dapat ditempuh selama 4 – 5 jam dari Surabaya dengan kendaraan pribadi. Bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi bisa memanfaatkan alat transportasi umum dari Bangkalan ke Desa Legung, yang dilanjutkan dengan menyewa ojek untuk sampai ke lokasi tujuan.

Pantai dengan hamparan pasir sepanjang ± 12 km ini terletak di kawasan utara laut Jawa menghadap ke timur laut, sehingga memungkinkan para wisatawan melihat keindahan matahari terbit, disertai deburan ombak yang lembut.

Yang menjadi ciri khas pantai Lombang ini adalah tumbuhan cemara udang (jenis Casuarina) yang berjejer di sepanjang pantai membentuk pagar. Tumbuhan ini merupakan jenis langka karena hanya terdapat di Indonesia dan China. Itupun hanya terdapat di beberapa daerah saja. Cemara udang yang memiliki tinggi sekitar 4 meter ini bentuknya tidak tegak seperti pohon-pohon cemara pada umumnya, melainkan sedikit membungkuk dengan banyak cabang yang terjulur memanjang, sehingga menyerupai udang.

Dan di pantai Lombang ini merupakan satu-satunya pantai di Indonesia yang dikelilingi hamparan hutan cemara udang, sehingga anda tidak akan menjumpai pohon kelapa di sekitar pantai ini. Cemara-cemara udang ini pun dimanfaatkan oleh warga sekitar dengan menjadikannya bonsai, untuk dijual kepada para wisatawan dengan harga yang relatif terjangkau.

EKO OSCAR NUGROHO/ THE EPOCH TIMES
Cemara udang yang menjadi ciri khas pantai Lombang.

Didukung dengan suasana yang masih alami, bersih, dan tidak terlalu banyak bangunan di sekitarnya, menjadikan pantai ini tempat yang ideal bagi anda untuk sekedar refreshing, mencari ketenangan sejenak, dari rutinitas sehari-hari yang padat. Selain untuk dinikmati keindahannya, pantai ini juga cocok untuk berenang, snorkeling atau olahraga lainnya. Di samping itu, hamparan pasir yang lebar dan landai, menjadikannya tempat yang nyaman untuk berkemah.

Pada acara pesta rakyat Ketupatan yang digelar seminggu setelah hari raya Idul Fitri, pantai ini ramai dengan berbagai macam atraksi wisata, diantaranya pentas musik dan pentas seni tradisional yang ditampilkan selama seminggu penuh oleh warga sekitar.

Jika hendak menginap di sekitar pantai tanpa perlu berkemah, Anda harus menuju kota Sumenep, karena tidak terdapat hotel di sekitar pantai ini. Di sini hanya tersedia pondok-pondok tradisional yang terbuat dari kayu yang hanya diperuntukkan bagi peserta paket wisata dari agen perjalanan tertentu.

EKO OSCAR NUGROHO/ THE EPOCH TIMES

Namun jika anda tidak sempat menginap, setidaknya usahakan sepagi mungkin tiba di pantai ini untuk menikmati sunrise, atau jika masih tidak sempat dapat juga menikmati keindahan air laut ketika sunset, sambil menikmati es kelapa muda maupun rujak khas Madura, dengan harga yang sangat terjangkau.


Kurangnya promosi maupun sarana-prasarana, membuat pantai ini tidak seramai pantai-pantai di Bali maupun Lombok. Banyak wisatawan, terutama wisatawan asing yang mengeluhkan jauhnya perjalanan darat yang harus ditempuh, karena tidak ada bandar udara di Pulau Madura. Akan tetapi, kini dengan adanya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura, dapat lebih mempersingkat jarak dan waktu tempuh sekitar 2 – 3 jam jika dibandingkan dengan menggunakan angkutan ferry. (Eko Oscar Nugroho/The Epoch Times)

Sumber: The Epoch Times, Jumat, 08 Oktober 2010

Label: , , , ,

Pantai Slopeng - Sumenep,
Pantai Indah nan Alami di Ujung Timur Laut Madura

Laut di Pantai Slopeng yang tenang ditambah dengan pemandangan barisan perahu nelayan tradisional di bagian barat pantai.
(OSCAR NUGROHO/THE EPOCH TIMES)

Pantai Slopeng merupakan pantai “kedua” di Kabupaten Sumenep, setelah Pantai Lombang.

Untuk menuju ke pantai ini, dari kota Sumenep, Anda ambil jalan ke utara, arah ke Bangkalan/Surabaya melalui jalur utara. Maka kurang lebih setelah 20 km perjalanan meninggalkan kota Sumenep, Anda sudah akan tiba.

Memang dengan jarak yang jauh dari kota Surabaya, ditambah dengan tidak adanya sarana transportasi udara menuju ke Pulau Madura, membuat pantai ini tidak terlalu ramai pengunjung. Kalaupun ramai, hanya pada saat hari libur sekolah, itu pun didominasi oleh wisatawan lokal dari sekitar daerah situ.

Namun justru dengan kondisi seperti inilah yang sangat menyenangkan bagi penikmat panorama alam seperti saya ini. Kecantikan pantai ini sama sekali belum terusik. Dengan laut biru yang tenang, pasir pantai yang bersih, deretan karang di sebelah timur pantai, dan barisan perahu nelayan di sebelah barat pantai, makin menambah “hidup” suasana pantai alami ini.

Pantai Slopeng ini memang tidak se-“khas” Pantai Lombang, yang terkenal dengan cemara udang-nya, namun vegetasi di pantai ini juga cukup unik dengan jajaran pohon siwalan yang tumbuh di tepi pantai. Dan yang menjadi keunikan di pantai ini adalah kuda-kuda yang disewakan untuk pengunjung yang biasanya dihias dengan berbagai macam pernak-pernik berwarna-warni.

“Kuda-kuda ini biasanya selain disewakan, juga dipakai untuk mengiring upacara pernikahan di daerah sini,” tutur Imam, salah satu pemilik kuda. “Biasanya kuda dibeli sejak kecil, kemudian dirawat dan dilatih, sehingga antara kuda dan pemilik biasanya telah terjalin hubungan emosional yang dekat,” tambahnya.

Jajaran pohon siwalan yang tumbuh di sekitar Pantai Slopeng.
(OSCAR NUGROHO/THE EPOCH TIMES)

Selain sebagai tempat berwisata, Pantai Slopeng ini juga tempat yang cocok untuk digunakan memancing, karena banyak terdapat berbagai jenis ikan laut, seperti ikan tongkol, dan lainnya. Kemudian di hari-hari besar seperti hari ketupatan, di tempat ini banyak ditampilkan antraksi wisata seperti kesenian tradisonal dan lomba sabung ayam. Tak ketinggalan pula berbagai aktivitas olah raga air seperti perahu layar, dan selancar angin.

Dan setelah lelah melakukan berbagai aktivitas, Anda dapat beristirahat sambil menikmati suguhan aneka makanan seperti rujak madura, bakso, maupun soto, diiringi dengan kelapa muda dan siwalan segar, yang tentunya dijual dengan harga yang sangat terjangkau. (Oscar Nugroho / The Epoch Times)

Sumber: The Epoch Times, Jumat, 08 Juli 2011

Label: , , , , ,

Serbuan Keris Aeng Tongtong dan Palongan

DI tangan Syaiful, pahat sebesar lidi itu seperti menari-nari di pipihan bilah keris luk (lekuk) sembilan. Dengan ketekunan dan ketelatenannya, pemuda 25 tahun itu tengah memberi pamor (motif pada bilah keris) berbentuk ukiran. Ujung ukiran membentuk paruh garuda, tepat di sisi atas bilah keris.

Oleh: Kukuh S. Wibowo (Sumenep)

Sore pertengahan Mei lalu itu Syaiful tak bekerja sendirian. Ada tiga rekannya yang juga tengah sibuk membikin ornamen ukiran di bilah keris yang masih polos. Suara pahat yang beradu dengan palu terdengar bersahutan. Di dekat para empu muda itu, pahat dengan berbagai ukuran, dari yang sebesar jari kelingking hingga sekecil lidi, tampak berserakan. Di sana terdapat pula peranti lainnya, seperti palu, gergaji, tabung las, dan beji.

Bengkel tempat mereka bekerja hanya bilik bambu semipermanen seluas kira-kira 40 meter persegi. Bengkel itu berada di sisi kiri rumah utama Syaiful. Hanya sepelemparan batu dari bilik Syaiful terdapat bilik lain milik tetangganya. Di sana juga tengah ada aktivitas pembuatan keris. Bunyi beji yang dipakai untuk menajamkan sisi keris terdengar memekakkan telinga. "Kami bekerja dari pagi hingga waktu asar," ujar Syaiful.

Begitulah suasana Aeng Tongtong, sebuah desa di Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jawa Timur, yang telah puluhan tahun dikenal sebagai sentra pembuat keris. Aeng Tongtong seperti tak mengenal musim. Saban hari produksi keris terus menggeliat di sana. Denting logam yang ditempa ditingkahi suara pahat beradu palu mewarnai keseharian desa tandus itu.

Kendati produksi keris Aeng Tongtong mulai marak pada 1960-an, sebenarnya desa itu memiliki sejarah panjang soal pusaka. Menurut RM Srihono Darmodiningrat, 75 tahun, anggota organisasi Javanologi Jawa Timur, saat Trunojoyo, tokoh dari Pamekasan, Madura, memberontak pada Kerajaan Mataram yang didukung Belanda pada 1600-an, semua pusaka pengikutnya dipasok dari Aeng Tongtong. "Pasukan Trunojoyo tak pernah kekurangan senjata karena selalu dipasok oleh empu-empu dari Aeng Tongtong," kata Srihono.

Seorang empu di Aeng Tongtong, Zaenal Arifin, mengatakan 65 persen dari total sekitar 1.400 warga di desa itu terjun menjadi empu. Adapun sisanya bekerja di ladang atau sawah serta merantau. Empu di sana tak hanya mahir membuat keris, tapi juga senjata pusaka lainnya, seperti mata tombak, trisula, dan pisau.

Zaenal menambahkan, keahlian para empu yang rata-rata relatif muda itu sebagian karena warisan orang tuanya yang juga seorang empu. Sebagian lainnya karena mereka memang belajar sendiri. "Ada yang mula-mula berguru ke seorang empu, setelah mahir terus membuat pusaka sendiri," kata Zaenal, 41 tahun, yang mewarisi kepiawaian membuat keris dari ayah dan pamannya -dua empu yang disegani di Aeng Tongtong.

Hanya, tutur Zaenal, ada yang berubah dalam peralatan untuk membuat keris. Saat ini peralatan yang dipakai untuk membuat keris sudah cukup modern. Dulu, agar bisa diukir dan dibentuk pamornya, keris dibakar di paron (besi landasan tempa), tapi sekarang cukup dengan api las. Untuk menajamkan sisi keris, dulu empu sering menggunakan kikir. "Tapi sekarang banyak yang pakai beji," ujarnya.

Perubahan tradisi membuat keris juga tengah berubah di Palongan, desa tetangga Aeng Tongtong yang juga terkenal sebagai sentra keris Madura. Menurut Zulhan, seorang empu di Palongan, tradisi membuat keris yang dimulai dari tirakat memang masih berlangsung di Palongan. Biasanya, empu itu berpuasa tiga hari sebelum mulai membuat keris pusaka. Dalam laku tirakatnya itu, sang empu tidak boleh bicara dan berhubungan intim. "Bila dilanggar, tuah pusaka yang dibikin akan berkurang," kata Zulhan.

Namun, Zulhan menambahkan, tradisi itu mulai ditinggalkan oleh empu yang lebih muda, termasuk dirinya. Sebelum membuat keris, Zulhan cukup mengadakan selamatan pada malam Jumat Legi. "Yang penting hatinya bersih," ujar bapak satu anak ini, yang mewarisi keahlian membuat keris dari ayahnya, Dairi, seorang empu yang dihormati di Palongan.

Zulhan adalah empu yang tak mengejar kuantitas. Dia hanya membuat keris pusaka dan menolak pesanan membuat keris suvenir. Dia juga tak mau menerima besi sembarangan yang hendak dibikin menjadi keris. Tak mengherankan bila dalam waktu tiga bulan paling banter Zulhan hanya berhasil menyelesaikan satu keris.

Zulhan juga tak hanya piawai membuat keris Jawa. Gaya Bali pun biasa dia kerjakan. Bahkan ia mengaku baru mendapat telepon dari orang Kalimantan agar dibuatkan keris pusaka khas Kalimantan Barat. "Kalau ada contohnya, meski hanya berwujud gambar, saya sanggup membuatkan," katanya.

Dalam sepekan, keris yang dihasilkan Aeng Tongtong dan Palongan bisa mencapai ratusan bilah. Sebab, selain para empu yang tak mengejar jumlah seperti Zaenal dan Zulhan, banyak pembuat keris di sana yang bisa menghasilkan puluhan keris dalam sepekan. Sebagian besar keris yang dihasilkan dua desa itu berupa bilah keris yang telah dihiasi pamor. Adapun warangka (sarung keris) dan pegangannya biasanya dipesan dari daerah lain di luar Madura, seperti Yogyakarta. Meski begitu, di sana juga ada perajin yang khusus membuat warangka. Salah satunya Sasrudi, 38 tahun, warga Palongan. Sasrudi biasa membuat warangka bila ada pesanan dari pengepul atau empu.

Baik empu Aeng Tong Tong maupun Palongan tak membikin keris dari nol. Mereka mengambil bahan baku yang sudah setengah jadi dari pandai besi di Desa Lenteng Barat, Sumenep. Bahan bakunya berupa besi baja yang diambil dari Surabaya. Kemudian empu-empu itu tinggal membentuk menjadi keris yang lebih halus serta memberi polesan pamor agar tampak lebih indah.

Menurut Zaenal, keris Aeng Tongtong dan Palongan banyak yang dipasarkan ke kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Keris dari kedua desa itu ada juga yang diekspor ke Singapura, Brunei, Malaysia, Amerika, dan negara-negara Eropa.

"Ibaratnya, di mana ada bakul (penjual) keris, pasti ada keris Maduranya," ujar Zaenal, empu yang juga distributor keris Madura.

Pemasaran keris kedua desa itu juga dilakukan secara perorangan. Misalnya, ada seorang penggemar keris atau makelar keris yang datang ke desa itu untuk mencari keris. Saleh, 60 tahun, warga Palongan, mengatakan dia sering mengantarkan orang dari luar kota yang datang ke Aeng Tongtong untuk mencari keris. Tak puas di satu empu, biasanya tamu akan membanding-bandingkan dengan empu lainnya.

"Dalam sebulan rata-rata saya mengantarkan empat tamu yang mencari keris," katanya.

Harga keris buatan Aeng Tongtong dan Palongan berkisar ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per buah. Menurut Zaenal, empu yang juga distributor keris pusaka Aeng Tongtong, masalah harga hampir tak ada patokannya. Sebab, bila pembeli sudah cocok, berapa pun harga yang ditawarkan akan diambil. "Apalagi kalau yang membeli itu seorang kolektor," ujarnya.

Namun seorang pembeli tetap saja melihat sosok keris itu dari unsur dhapur (tipe atau bentuk), tangguh (perkiraan tahun pembuatan), wilah (bilah), dan pamor (motif). Bila unsur-unsur itu telah terpenuhi, barulah unsur berikutnya turut melengkapi, yaitu rangka dan pegangannya. Rangka yang paling bagus, menurut Zaenal, berupa kayu kemuning atau cendana. Adapun pegangannya dari gading gajah. "Kalau semua terpenuhi, harganya bisa mencapai ratusan juta," katanya.

Dhapur keris yang belakangan banyak diminati, tutur Zaenal, adalah Guling Mataram dan Megantoro. Juga dapur keris Majapahit. Biasanya kalau diminati harganya tinggi. Keris pusaka buatan Zaenal pernah dibeli seorang politikus Partai Gerindra dan seorang petinggi kepolisian dengan harga sekitar Rp 10 juta. Bahkan keris pusaka karya Zaenal dibeli seharga Rp 100 juta oleh duta besar Venezuela.

Keris telah memberikan kemakmuran bagi Aeng Tongtong dan Palongan. Meski berada di lahan tandus, kehidupan kedua desa sentra keris Madura itu cukup sejahtera. Rumah-rumah di sana sudah berdinding bata, jarang yang dari bambu. Hampir setiap rumah memasang antena parabola. Menurut Mat Raji, Kepala Desa Palongan, warga membeli parabola karena sulit menonton televisi. "Tanpa parabola, gambar di televisi hanya semut semua," ujarnya tersenyum.



Sumber: Tempo, 13 Juni 2011

Label: , , , , ,

Pantai Lombang Ditawarkan Ke Investor


Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, mulai menawarkan sejumlah potensi wisata alam pada pihak investor. Kemampuan APBD dinilai sangat terbatas untuk pengembangan pariwisata.

Bupati Sumenep, A Busyro Karim, mengatakan, salah satu potensi wisata alam yang layak dan mempunyai potensi besar akan dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yakni Pantai Wisata Lombang.

"Saya sangat terbuka bagi investor yang akan menanamkan modalnya untuk pengembangan wisata pantai. Salah satunya, Pantai Lombang dengan hamparan cemara udang di sepanjang pantai mempunyai keindahan dan keunikan tersendiri," katanya.

Potensi pantai yang belum tergarap maksimal karena keterbatasan anggaran di APBD, tentu sangat membutuhkan pihak ketiga. Selama ini, investor yang akan masuk Sumenep lebih banyak perusahaan yang bergerak di Migas. Namun, untuk pengembangan wisata, relatif sedikit.

"Pemerintah daerah menginginkan potensi wisata bisa dikelola dengan maksimal, sehingga Sumenep menjadi salah satu rujukan tujuan wisata di Jawa Timur. Banyak potensi wisata yang tidak kalah dengan daerah lain, tetapi masih perlu pihak ketiga untuk mengembangkan," ujarnya.

Pantai Wisata Lombang yang berada di wilayah Kecamatan Batang-Batang dengan jarak sekitar 30 kilometer dari jantung kota Sumenep sempat dibiarkan dua tahun oleh pemerintah daerah seiring dengan adanya gugatan kepemilikan lahan dari warga setempat. Namun MA menolak kasasi yang diajukan penggugat.

Untuk itu, sejak, Jumat (30/9/11), pemerintah daerah melalui UPT Pantai Lombang, kembali mengelola dan menata Pantai Lombang.

"Pemerintah daerah, akan berusaha secara maksimal, agar kawasan wisata Pantai Lombang menjadi sarana atau perantara peningkatan kesejahteraan bagi warga sekitarnya," tandasnya. (md2)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 06/02/2012

Label: , ,

Tari Muang Saangkal

Abdul Hadi Wm's Wall Photo
Tari Muang Sangkal atau Membuang Sial dari Sumenep, Madura.

Upacara tolak bala adalah universal. Selain disertai doa-doa tidak jarang disertai tari-tarian yang sebenarnya merupakan juga perwujudan dari doa. Semogga Tragedi Mesuji dan Tragedi Sape Bima tidak terulang, semoga gunung-gunung berapi tidak mengikuti jejak Gunung Gamala yang meletus ketika bangsa ini dililit berbagai penderitaan.

Label: , , ,

Labang Mesem

Wall Photo Abdul Hadi Wm

Labang Mesem atau Pintu Senyum -- pintu gerbang keluar kraton Sumenep, dibangun pada abad ke-18 M. Atap tumpang di atas gerbang ini sekeluarga dengan dg yang terdapat di Jawa dan Aceh. Inilah satu-satunya kraton lama di Jawa Timur yang masih ada dan utuh. Seharusnya lebih banyak mendapat perhatian pemerintah, apalagi banyak koleksi benda bersejarah dan seninya yang raib entah kemana

Label: , , , , , , ,

Oksigen Giliyang Terbaik di Dunia


From Surabaya Post


Pemerintah Kabupaten Sumenep bertekat menjadikan Pulau Giliyang menjadi lokasi wisata kesehatan, mengingat kandungan oksigen di pulau ini memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan daerah lain di dunia.

Kepala UPT Laboratorium BLH Sumenep, Herry Supratman menjelaskan, kandungan oksigen di Pulau Giliyang berbeda dengan oksigen dilain tempat. Kadar oksigennya, diatas rata-rata, yakni 21%. "Artinya, oksigennya memang bagus dan cocok untuk wisata kesehatan. Ini potensi alam yang tidak ditemukan ditempat lain," kata Herry, Kamis (5/1).

Pulau Giliyang yang masuk wilayah Kecamatan Dungkek tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Bancamara memiliki luas areal 5.15 km2 dan Desa Banraas dengan luas areal 4.00 km2. Dua desa tersebut sama sekali tidak memiliki lahan sawah, melainkan hanya tanah kering.

Pihak BLH, melakukan uji kadar oksigen 27 Desember 2011 lalu, di Desa Bancamara, sekitar 1 km dari pantai. Pengambilan sample pengujian itu dilakukan sekitar pukul 12.05 WIB. "Pengujian itu dilakukan pada siang hari. Jika pada pagi hari, antara pukul 08:00 sampai pukul 11:00 Wib, maka kadar oksigen tentu jauh lebih bagus," ujarnya.

Pada tahun 2006 lalu, peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga menyatakan hal serupa. Kandungan oksigen udara di Pulau Giliyang berkisar antara 3,3 – 4,8% diatas normal. "Pemerintah kabupaten ingin lebih tahu mendalam soal kadar oksigen di Pulau Giliyang itu, makanya diuji kembali. Dan ini baru tahap awal. Pengujian terus akan dilakukan bersama BLH Jatim," terangnya.

Kondisi alam Pulau Giliyang tergolong 'perawan' dan tidak tercemari dengan volusi udara. Selain jumlah kendaraan bermotor terbatas, pola hidup masyarakat setempat masih alami. Mayoritas pekerjaan masyarakat di dua desa itu menjadi nelayan, sebagian kecil mengolah lahan pertanian. "Untuk penerangan pada malam hari sudah ada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)," katanya.

Kondisi pantainya, bersih dan batu karangnya cukup indah. Bila, wilayah Pulau Giliyang dikemas dengan konsep wisata kesehatan, maka hanya satu-satunya lokasi wisata di Jawa Timur yang kondisi oksigennya diatas rata-rata. Sangat wajar, bila masyarakat setempat lebih awet muda dibanding masyarakat yang hidup diluar pulau tersebut. "Memang perlu keseriusan semua pihak bila akan dijadikan lokasi wisata kesehatan," ujarnya.

Untuk menuju Pulau Giliyang tidaklah sulit, dari Pelabuhan Dungkek bisa menggunakan jasa perahu rakyat yang biasa digunakan masyarakat setempat sebagai transportasi laut setiap hari. Kondisi ombak yang bersahabat membuat warga setempat merasa aman beraktivitas. Warga yang menggunakan jasa transportasi perahu rakyat hanya dikenakan biaya sebesar Rp10.000 per orang.

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sumenep, Nur Asyur berharap pemerintah daerah bisa mendatangkan investor yang bisa menanamkan modalnya untuk wisata di Sumenep. "Cukup banyak potensi wisata dikepulauan. Namun, hingga saat ini belum tergarap sama sekali. Padahal, jika potensi laut dan alam kepulauan mampu disajikan dengan baik, maka akan berdampak positif bagi kehidupan warga kepulauan," ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejehtera (PKS) ini sangat mendukung bila pemerintah akan mengembangkan wisata kepulauan yang potensinya tidak kalah dengan daerah lain di Nusantara ini. (md2)

Artikel Terkait:

Sumbaer: Surabaya Post, Kamis, 05/01/2012

Label: , , , , ,

Warga di Sumenep Tidur Berkasur Pasir

Diyakini Menyehatkan

Foto: Moh Hartono Sumenep

Bagi sebagian warga di tiga desa pesisir utara Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, tidur beralas pasir sudah menjadi gaya hidup. Jadi jangan heran bila di kamar warga terlihat hamparan pasir daripada kasur yang empuk.

Pasir yang dijadikan kasur itu, ditempatkan di pojok kamar tidur ataupun di kamar tamu sebagai tempat istirahat sekeluarga.

Oleh Moh Hartono Sumenep

Mereka itu bukan tergolong orang yang tidak mampu membeli kasur kapas ataupun springbed. Di dalam rumah mewah dan bertingkat serta lengkap dengan perabot rumah tangga berkualitas pun tetap beralaskan pasir untuk istirahat.

Pasir yang digunakan merupakan pasir laut yang diambil dari pantai pesisir setempat melalui proses penyaringan dan telah suci. Pasirnya tidak lengket di badan itu dianggap mempunyai keistimewaan tersendiri, dan diyakini mampu mengobati sakit rematik.

Tidak hanya itu, dalam perkembangannya, pasir itu juga sebagai pengganti minyak goreng. Kacang-kacangan yang biasa dikonsumsi, kini digoreng dengan menggunakan pasir berhasiat tersebut.

Bahkan, mereka mempunyai kepercayaan bagi ibu yang lahir di kasur pasir, bayinya akan lebih sehat dibanding lahir di tempat tempat tidur yang ada di rumah sakit maupun di bidan desa.

Pasir berwarna putih halus tersebut, juga dijadikan pupuk untuk tanaman bonsai cemara udang yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Tanpa pasir, pohon cemara yang sudah kondang diseluruh Nusantara ini tidak akan hidup normal.

Baijuri (38), warga Desa Dapenda, Kecamatan Batang-batang, Sumenep, mengatakan, kebiasaan warga tidur di pasir sudah dilakukan turun-temurun khsususnya warga Desa Dapenda, Legung Barat dan Desa Legung Timur.

"Tidur di kasur pasir mampu menyembuhkan penyakit tulang seperti rematik. Bahkan, untuk penyakit gatal-gatal juga bisa disembuhkan dengan cara pasir digosok-gosokan," terang Baijuri dalam bincang-bincang dengan detiksurabaya.com, di rumahnya, Desa Dapenda, Minggu (3/4/2011).

Meski diakui belum ada penelitian khusus soal pasir yang ada di pesisir utara pantai utara Batang-batang, namun, mayoritas warga tidak ada yang mengalami gangguan sakit tulang seperti rematik.

Bahkan, warga yang dari luar daerah yang menjadi penduduk pesisir utara ikut merasakan nikmatnya tidur di kasur pasir tersebut. "Kalau musim hujan tidak terasa dingin, terasa hangat. Kalau musim kemarau justru terasa dingin. Sehingga tubuh kita selalu terasa fresh," urainya.

Salah seorang dokter di Sumenep yang telah merasakan kehangatan pasir tersebut mengakui kehangatannya.

"Pasir itu memang terasa hangat dan enak rasanya di tubuh," terang Direktur RSD Dr Moh Anwar Kabupaten Sumenep, Dr Susianto pada detiksurabaya.com.

Ia menilai, pasir tersebut tidak kalah hangat dengan alat penghangat tubuh buatan luar negeri yang saat ini gencar dipasarkan. Secara medis, memang akan menimbulkan efek positif ke kesehatan tubuh.

"Karena efek hangat itu, maka peredaran darah dalam tubuh akan lancar. Bila peredaran darah bagus, otomatis berdampak positif pada kesehatan tubuh," urainya.

Bahkan, ia mengusulkan ada penelitian ilmiah dari lembaga berkompeten, sehingga nilai kandungan pasir itu diketahui. "Bisa jadi, pasir itu mengandung molekul-molekul yang bisa menghangatkan tubuh bagi penggunanya," katanya.

Lebih dari itu, pasir tersebut bisa dikemas dengan secara teg
knologi tinggi, sehingga bisa digunakan halayak. "Kalau pasir itu dikemas dengan menggunakan teknologi, sangat mungkin digunakan banyak orang," pungkasnya. (gik/gik)

Sumber: detiksurabaya.com 3 April 2011

Label: , , , , ,

Buah Naga Tembus Manca Negara

foto: nen/zonaberita.com
Muhlis dan putrinya saat memetik buah naga
Budidaya buah naga yang dilakukan Muhlis Hidayat, warga Desa Rombasan, Kecamatan Prenduan, Kabupaten Sumenep, Madura, lima tahun silam tak sia-sia. Kini hasil panennya tembus hingga mancanegara.

Muhlis, mulai melakukan budidaya buah naga di atas tanah seluas 2 hektar, sejak tahun 2006. Kala itu ia menanam 200 cagak ( batang ) dengan modal awal sebesar Rp 46 juta rupiah.

“Awalnya coba-coba, ternyata enam bulan berjalan budidaya buah naga berhasil,” kata Muhlis pada zonaberita.com, Senin (24/1/2011).

Setelah berhasil memanen buah naga, kali pertama Muhlis mencoba memasarkan di pinggir jalan dengan mengangkat pekerja. Kini pemasaran buah naganya sampai ke manca negara, Taiwan dan China. “Tiap bulan dua negara itu minta dikirim 20 ton buah naga,” jelasnya.

Omzet yang di dapat dari budidaya buah naga, sudah mencapai ratusan juta rupiah. Per sekali musim selama sepuluh kali panen, Muhlis biasanya mendapatkan keuntungan Rp 200 juta hingga 300 juta rupiah. Dengan harga Rp 20.000 per kilogramnya. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, 24 Januari 2011

Label: , , , ,

Festival Madura 2009 Dimeriahkan Oleh
Peragaan Busana Batik

From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009

Sebanyak 38 model mengenakan busana batik ikut tampil dalam acara pembukaan Festival Madura 2009 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (21/10/2009) sore.

Festival Madura 2009 di Sumenep yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang bekerja sama dengan Komunitas Seni "Plat M" tersebut dibuka dengan pawai budaya dari Taman Adipura ke "Labang Mesem" di kawasan Pendapa Agung setempat.

Puluhan model yang mengenakan baju batik koleksi salah seorang perajin batik asal Kabupaten Pamekasan, Soraya, menjadi barisan paling depan pawai tersebut disusul barisan empat kelompok musik kontemporer dan penari.

"Kami sengaja melibatkan model yang mengenakan busana batik untuk lebih mengakrabkan batik kepada masyarakat," kata Ketua Panitia Pelaksana Festival Madura 2009 Syafrudin Budiman d

Apalagi, batik sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia.

"Ini harus disyukuri. Melibatkan model yang mengenakan busana batik adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kami atas pengukuhan batik sebagai warisan budaya," kata Syafrudin.

Sementara itu, Soraya menjelaskan, motif batik yang dikenakan para modelnya adalah motif "gaul".

"Itu motif kontemporer yang kami buat khusus dipakai anak-anak muda. Untuk menembus pasar anak muda, kami harus menyesuaikan dengan selera anak muda," katanya di Sumenep.

Ia menjelaskan, selama ini batik dianggap sebagai pakaian bagi orang tua dan tidak cocok digunakan anak muda.

"Kami berusaha mengubah kesan itu dengan cara membuat motif gaul. Melalui pembukaan Festival Madura 2009 ini, kami berusaha mengenalkan motif batik bagi anak muda tersebut," kata Soraya. (kpl/bar)

Sumber: http://iphone.kapanlagi.com/h/0000310819.html

Label: , , ,

Disbudpar Jatim Gelar Festival Madura di Sumenep

From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Komunitas Seni "Plat M" menggelar Festival Madura 2009 di Kabupaten Sumenep, Madura, 21-22 Oktober 2009.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Madura 2009 Syafrudin Budiman, di Seumenep, Selasa, menjelaskan, kegiatan itu merupakan upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian dan budaya Madura.

"Dalam Festival Madura 2009, kami akan menampilkan sejumlah kesenian lokal yang merupakan warisan budaya yang harus dijaga," katanya.

Ia mengatakan, Festival Madura terbagi dalam tiga kegiatan, yakni pertunjukan kesenian khas, sarasehan, dan karnaval budaya.

"Dalam pertunjukan kesenian khas Madura, kami akan menggelar pementasan topeng dalang dan musik ‘saronen‘ di atas panggung di depan Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep," katanya menambahkan.

Selain di atas panggung, peserta Festival Madura akan tampil di sejumlah pusat keramaian di Sumenep, di antaranya terminal dan pasar.

"Ini sengaja dilakukan untuk memberikan kesempatan pada warga menikmati karya seni Madura, tanpa harus datang ke pusat lokasi kegiatan," kata Syafrudin.

Sementara untuk sarasehan akan menghadirkan empat pembicara, yakni Rektor Universitas Wiraraja Sumenep Dr Ida Ekawati, Ahmad Fauzi (Dewan Kesenian Jawa Timur), Fadail Rahman dan Eko Wahyuni (pengamat budaya).

"Sebagai pamungkas acara, kami akan menggelar karnaval budaya. Nantinya, pelaku seni yang tampil di Festival Madura akan jalan kaki dari Taman Bunga ke "Labang Mesem" di kawasan Pendapa Agung," kata Syafrudin mengungkapkan.

Sumber: http://oase.kompas.com

Label: , ,

Melestarikan Budaya dalam Festival Madura

From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009

Mulai Rabu (21/10/2009), Festival Madura 2009 digelar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur (Jatim). Ajang pelestarian kebudayaan Madura yang berlangsung hingga Kamis (22/10/2009) tersebut menampilkan beragam kesenian lokal yang menarik perhatian masyarakat.

Festival Madura 2009 diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim bekerja sama dengan Komunitas Seni “Plat M”. Ketua Panitia Syafrudin Budiman mengatakan kegiatan ini merupakan upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian dan budaya Madura. Karenanya, festival ini menampilkan aneka kesenian lokal yang merupakan warisan budaya Madura yang harus dijaga. Festival terbagi dalam tiga kegiatan utama, yakni pertunjukan kesenian khas, sarasehan, serta karnaval budaya.

Menikmati Karya Seni

Pada pertunjukan kesenian khas Madura, panitia menggelar pementasan topeng dalang dan musik saronen. Asal tahu, saronen merupakan iringan musik khas Madura yang terdiri atas bunyi-bunyian trompet dari kayu jati. Nah, pertunjukan ini digelar di Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sumenep.

Selain di atas panggung, peserta Festival Madura juga tampil di sejumlah pusat keramaian, seperti di terminal dan pasar. Hal ini dilakukan guna memberikan kesempatan pada warga agar dapat menikmati karya seni Madura tanpa harus datang ke lokasi.

Sementara itu, sarasehan akan menghadirkan empat pembicara yang berasal dari Pimpinan Universitas Wiraraja Sumenep, Dewan Kesenian Jatim, serta Pengamat Budaya. Sebagai pamungkas acara, akan digelar pula karnaval budaya. Dalam karnaval ini, nantinya para seniman yang tampil di Festival Madura akan berjalan kaki bersama. Mereka menempuh rute dari Taman Bunga ke Labang Mesem (pintu gerbang keraton Sumenep) di kawasan Pendapa Agung. Sarasehan: pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu. (ITA/EVA)

Sumber: Berani, 22-Oct-2009

Label: , , ,