Workshop Simulasi Digital

Minggu, 16/06/2013 | 11:45 WIB Suasana Workoshop Simulasi Digital PAMEKASAN - Sebanyak 60 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Pamekasan mengikuti Workshop Simulasi Digital di SMKN 3 Pamekasan, Sabtu (15/6) kemarin. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang SMA/SMK Disdik Pamekasan, Drs M Tarsun MSi dan akan dilaksanakan selama empat hari hingga Selasa (18/6) mendatang. Program ini terselenggara hasil kerjasama dengan Sout Est Asia Manastry Organication Learning Education Center (SEAMOLEC) Jakarta, yaitu sebuah organisasi Kementrian di Asia Tenggara yang bergerak dibidang pendidikan dan pembelajaran, dengan SMK se Pamekasan yang didukung oleh Fakultas Tehnik Unira Pamekasan. Kordinator Pelaksana Pelatihan, Drs Tarmuji MT mengatakan, pelatihan ini digelar dalam rangka menghadapi penerapan kurikulum baru tahun 2013 mendatang dan merupakan pengembangan dari mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) yang sudah ada sebelumnya. “Dalam pelatihan ini arahnya nanti semua guru bisa membuat buku digital dan video pembelajaran dan menerapkan simulasi digital seperti pembelajaran animasi itu dengan mengunakan tehnologi informatika. Ini semua kita lakukan untuk menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan dan demi kemudahan dalam pembelajaran,” jelasnya. Soal kerjasama dengan SEAMOLEC ini, kata Trmuji, dilatar belakangi dengan kepedulian lembaga tersebut terhadap proses pembelajaran dan pendidikan di Indonesia. Sebeleum menggelar di Pamekasan, SEAMOLEC terlebih dahulu melakukan Workshop di Jakarta yang diikuti sebanyak 60 SMK dan Polititeknik se-Indonesia dan 12 delegasi dari China. Dari Pamekasan yang hadir Tarmuji sendiri selaku Kepala SMKN 2 Pamekasan. Sementara itu, Kepala Bidang SMA dan SMK Disdik Pamekasan, Drs HM tarsun MSi saat memberikan sambutan mewakili Kepala Disdik Drs Achmad Hidayat MPd mengaku, bangga dengan program pelatihan ini. Menurutnya, kemampuan menguasai tekhnologi khususnya yang menunjang proses pembelajaran merupakan keharusan bagi guru dan sekolah secara umum. “Selain harus meningkatkan kemampuan intelektualitasnya, para guru juga dituntut harus mampu mengembangkan kecakapannya menguasai tehnologi untuk membantu proses pembelajarannya. Ini semua keharusan. Dan saya sangat mendukung kegiatan pelatihan ini,“ kata Tarsun. Pihak Disdik Pamekasan, kata Tarsun, sangat apresiatif terhadap program ini. Karena itu, Disdik akan menindaklanjuti kerjasama dengan SEAMOLEC ini selanjutnya. Menurut rencana pada tanggal 20 Juni mendatang Direktur SEAMOLEC Jakarta akan hadir ke Pamekasan guna menandatangani MoU kerjasama dengan Bupati Pamekasan, Drs Achmad Syafii. mas

Label: , , , ,

Pemkab Jalin Kerjasama dengan SEAMOLEC

Jumat, 21/06/2013 | 10:52 WIB Bupati Pamekasan Achmad Syafii menyerahkan cinderamata pada Gatot Hari Priyo W disaksikan Rektor Unira Drs. H Amiril, MSi. PAMEKASAN - Bupati Pamekasan Drs. Achmad Syafii MSi Kamis (20/6) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Pamekasan dengan SEAMOLEC (sebuah organisasi Kementerian Pendidikan Asia Tenggara Jakarta) dan Unira, dalam pengembangan teknologi informatika bagi guru SMK di Pamekasan Penandatangana MoU ini merupakan tindak lanjut dari Workshop yang dilaksanakan SEAMOLEC tanggal 15 sampai 18 Juni lalu. Ada sekitar 60 guru SMK se Pamekasan yang diikutkan dalam Workshop simulasi digital tersebut. Workshop itu juga merupaan rangkaian kegiatan kerjasama antara SEAMOLEC dan Unira yang telah berjalan sebelumnya. Direktur SEAMOLEC Dr. Gatot Hari Priyo Wiryanto mengatakan, kerjasama ini baru dijalankan di Malang dan Pamekasan. Dia berencana kerjasama itu bisa dikembangkan hingga dilakukan di 250 sekolah. Saat ini, kata dia, baru 60 guru di Pamekasan yang telah mengikuti diklat dan memiliki sertifikat. Bupati Achmad Syafii menyatakan, pendidikan merupakan bagian dari komitmen dan program prioritas di daerahnya. Ada banyak variabel dalam dunia pendidikan yang saat ini menjadi perhatian Pemkab, diantaranya masalah peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan. Khusus pemerataan pendidikan, dia menginginkan antara Pamekasan bagian utara dan selatan bisa seimbang dalam prestasi pendidikannya. “Dalam soal peningkatan kualitas, salah satunya adalah peningkatan kualitas guru. Nah kerjasama dengan SEAMOLEC ini bagian dari peningkatan kualitas pendidikan ini. Karena itu marilah kita manfaatkan momentum ini dengan baik, untuk kemajuan dan prestasi pendidikan Pamekasan,” katanya. Sementara Rektor Unira Drs. H Amiril MSi mengatakan, pihaknya memiliki tekat yang besar untuk bisa memberikan sumbangan bagi kemajuan Pamekasan. Karena itu dia berharap momentum jalinan kerjasama antara Pemkab, SEAMOLEC dan Unira Pamekasan ini, menjadi bagian dari partisipasi dan sumbangan bagi kemajuan pendidikan di Pamekasan. mas

Label: , , , ,

Anggaran Minim, Dewan Pendidikan Wadul DPRD

Dewan Pendidikan (DP) mengeluhkan minimnya anggaran dari Pemkab Pamekasan. Pada tahun 2013 ini Pemkab hanya menyediakan alokasi dana Rp 50 juta, dan itu dipastikan tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan dan program DP yang cukup banyak.

Keluhan itu juga telah disampaikan oleh pengurus DP Pamekasan pada saat melakukan audensi dengan Komisi D DPRD Pamekasan.

Drs HM Kutwa Fath, MPd., Ketua Dewan Pendidikan Pamekasan, mengatakan pada tahun anggaran 2013 ini DP Pamekasan mengajukan anggaran sebesar Rp 210 juta. Anggaran ini diajukan dengan rincian untuk membiayai sejumlah kebutuhan dan program kegiatan yang dirancang selama setahun. Namun kenyataanya pada tahun anggaran 2013 ini DP hanya diberi anggaran sebesar Rp 50 juta.

“Yang pasti dengan hanya mendapat jatah Rp 50 juta itu tidak cukup untuk membiayai sejumlah kegiatan dan program yang telah kami susun. Inilah masalah utama yang kami sampaikan kepada Komisi D saat itu, dan pihak Komisi D mengaku prihatin atas kondisi ini,” ungkap Kutwa, kemarin.

Karena itu, lanjut Kutwa, Komisi D DPRD Pamekasan menyarankan agar DP mengupayakan untuk tetap mempertahankan program bagus yang telah disusun itu untuk diajukan pada anggaran tahun 2014 mendatang, karena pada tahun anggaran 2013 ini sudah tidak memungkinkan.

Salah satu program unggulan yang akan dilakukan DP Pamekasan pada tahun 2013 ini adalah pendirian Kampung Pendidikan. Menurut Kutwa Kampung Pendidikan ini akan didirikan di sejumlah desa yang ada di wilayah kecamatan Waru, Pademawu dan Tlanakan. Proposal program ini telah diajukan ke Pemkab Pamekasan.

Program ini dirintis sebagai respon atas ditetapkannya Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan oleh Mendiknas beberapa waktu lalu. Menurut Kutwa sebagai kabupaten Pendidikan Pamekasan harus memililiki atau punya miniature atau contoh kabupaten pendidikan. Upaya ini dicoba dengan kampung pendidikan ini.

“Kampung pendidikan ini kegiatannya berbacam bidang pendidikan yang dipelopori oleh masyarakat dan pemuda. Ini diluar pendidikan formal di sekolah. Misalnya adanya masyarakat yang bergerak menangani bidang bahasa, bidang sain dan lain sebagainya. Dan itu bentuknya bukan seperti lembaga kursus,” ungkapnya.

Karena itu untuk merealisasikan program itu, Kutwa mengaku telah merencanakan untuk melakukan studi banding ke sejumlah daerah, antara lain ke Pare Kediri dan daerah lain yang telah memiliki program semacam kampung pendidikan ini.

“Seandainya pada tahun anggaran 2013 ini dana yang kami usulkan diterima, maka pada tahun ini program itu akan dijalankan. Namun karena tidak demikian, akhirnya ya kita tunggu semoga saja ditahun yang akan datang,” harap Kutwa.

Selain masalah program kerja dan anggaran, kata Kutwa, dalam audensi dengan Komisi D itu juga dibahas tentang eksistensi DP secara umum, sesuai dengan aturan PP NO 11 tahun 2010 yang mengatur tentang Dewan Pendidikan. Komisi D DPRD juga meminta agar audensi atau pertemuan dengan DP dilakukan rutin tiap dua bulan sekali. mas

Sumber: Surabaya Post, Senin, 17/06/2013

Label: , ,

Gerakan Mahasiswa Sumenep Selamatkan Budaya Lokal


SP/Etto Hartono
Mahasiswa Unija joget dan saweran dalam acara penyelamatan musik kleningan

Musik tradisional berupa kleningan yang dimainkan banyak orang dan ada pula yang berperan melantunkan kidungan Madura serta ada sinden, mulai ditinggalkan kawula muda di wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Melihat fenomena itu, mahasiswa Sumenep menggelar acara musik tradisional itu, sebagai upaya melestarikan budaya masyarakat lokal.

Gerakan itu memang patut diapresiasi. Ketua Presiden Mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Eko Wahyudi mengatakan, saat ini perlu ada gerakan penyelamatan budaya lokal. Sebab, banyak seni budaya yang sudah mulai ditinggalkan oleh kader-kader muda.

"Musik kleningan saja yang masih sering didengar dalam acara-acara tertentu, kalangan mudanya juga tidak tahu. Jangankan membawakan kidungan seperti yang dibawakan sinden, satu bait untuk lagu-lagu yang diiringi kleningan sudah tidak tahu," kata Eko, ditengah pagelaran musik kleningan di depan kampus Unija, Rabu (25/4) siang.

Dia sengaja menggelar hiburan kleningan dan ada sinden dalam acara pelantikan, orasi budaya dan rokat bumi cemara Dewan Legislatif Mahasiswa-Badan Eksekutif Mahasiswa Unija 2011/2012. "Ini bentuk apresiasi mahasiswa Unija pada seni kleningan," ujarnya.

Dunia pendidikan, kata dia, harus bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kelestarian budaya lokal. Salah satunya, dengan cara memborong para pelaku seni budaya tradisional ke kampus.

"Tidak ada acara pelantikan organisasi mahasiswa dengan hiburan kleningan. Nah, ini yang pertama dan harus menjadi agenda rutin, sehingga mahasiswa juga merasa tidak asing dengan musik tradisional yang mengandung makna dan arti yang cukup luas dalam kehidupan masyarakat Madura pada umumnya," urainya.

Budaya atau seni dari luar justru lebih kuat mempengaruhi kader-kader muda saat ini. Padahal, bila bicara soal pangsa pasar, musik lokal juga masih mempunyai tempat yang luar biasa di tengah kehidupan masyarakat saat ini. "Mahasiswa Unija sendiri, justru berjoget bukan meniru gerakan sinden yang lembut gemulai" katanya.

Sementara, Rektor Unija Sumenep, Alwiyah mengaku sangat mendukung acara musik kleningan masuk kampus. Bahkan, gagasan mahasiswa untuk menyelamatkan budaya lokal harus dilakukan. "Kita dukung acara itu demi kebaikan dan penyelamatan budaya lokal dan seni tradisonal," tegasnya.

Rangkaian penyelamatan budaya lokal, selain mendatangkan budayawan juga menggelar sedekah bumi yang nyaris punah dan tidak dikenal oleh kader muda Sumenep. Ritual yang digelar pada malam hari itu juga disediakan 'sesajen' dan ditutup dengan doa 'Nur Puat' atau Nurun Nubuwah. (md2)

Sumber: Surabaya Post, 20/04/12

Label: , , , , ,

Kantin Sekolah Sehat Berbahan Pangan Lokal

SP/Masdawi Dahlan
M Syaiful Arifin MSi
Kantor Ketahanan Pangan Pamekasan mulai tahun ini akan membuat program Kantin Sekolah Sehat Berbasis Bahan Pangan Lokal. Program ini akan dilaksanakan di lima Sekolah Dasar. Kini program tersebut sudah disosialisasikan kepada para Kepala Sekolah. Bulan April mendatang sosialisasi akan dilakukan bagi para pengelola kantin yang berbentuk pelatihan di masing masing sekolah penerima program.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Pamekasan Muhammad Syaiful Arifin di dampingi Frida Eka Maria, Kasi Keanekaragaman Pangan mengatakan, program ini akan di lakukan di lima SD yakni SDN Barurambat Kota V Kecamnatan Pamekasan, SD Plus Nurul Hikmah Pamekasan, SDN Telesah I Kecamatan Tlanakan, SDN Majungan I Kecamatan Pademawu dan SDN Pegantenan I Kecamatan Pegantenan.

“Sosialisasi kepada para pengelola kantin dilakukan dalam bentuk pelatihan praktek cara mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan modern yang disukai anak. Makanan modern yang dimaksud adalah makanan sehat berimbang, bergizi, beragam dan aman, ” ujar Syaiful, Rabu (14/3).

Lima SD penerima program tersebut nanti akan diberi bantuan dalam bentuk barang dan bahan pangan lokal. Bantuan barang berbentuk sarana misalnya etalase, lemari es, kompor gas, blender dan lain sebagainya yang merupakan peralatan untuk membuat kue dan makanan. Selain itu juga bantuan berupa bahan pangan lokal misalnya buah, ikan dan bahan pangan lokal lainnya.

“Yang dimaksud makanan bahan lokal modern itu adalah misalnya nanti bagaimana cara membuat bakso dengan bahan ikan laut. Lalu membuat bahan makanan yang enak dan bergizi dari bahan rumput laut dan lain sebagainya. Pokoknya nanti latihan difokuskan pada bagaimana bahan makanan lokal itu menjadi makanan yang modern enak dan sehat,“ ungkapnya.

Syaiful menambahkan bahwa sengaja program ini dilakukan di lima SD yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan di Pamekasan, dengan tujuan sebagai percontohan untuk pembudidayaan makanan yang bernuansa bahan lokal yang berbeda. Diharapkan nanti SD lainnya di satu wilayah kecamatan juga mengikuiti program tersebut.

Lantas mengapa program ini dilakukan di Sekolah Dasar? Syaiful menegaskan bahwa program ini dilaksanakan di tingkat Sekolah Dasar dengan alasan agar sejak dini anak terbiasa mulai sejak kecil mengetahui dan berrminat untuk mengonsumsi makanan sehat dan bergizi dari bahan pangan lokal.

Program ini juga, kata Syaiful, sebagai motivasi bagi masyarakat umum tentang makna dan perlunya optimalisasi bahan pangan lokal untuk menjadi produk makan yang berkualitas dan bergizi. Sehingga secara tidak langsung program ini menggugah masyarkat untuk meningkatkan ekonomi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah menjadi makanan enak bergizi yang bernilai jual mahal. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 15/03/2012

Label: , ,

Pemprov Sentuh Pendidikan di Madura Berkualitas

SP/Ahmad Hairuddin
Kepala Dispendik Jatim, Harun (baju batik) saat berkunjung ke SMKN 2 Sampang.

Proses pembelajaran dalam program pendidikan di pulau garam, Madura kian berkembang pesat. Tumbuh kembangnya pendidikan di Madura dengan tingkat ketrampilan siswanya tak lepas dari peran serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim melaui Dinas Pendidikan Jatim. Sebut saja, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Sampang yang hingga kini terus dikebut pembangunannya. Meski tergolong baru, namun sekolah bernilai Rp 15 miliar sumbangan Pemprov Jatim itu tidak ingin ketinggalan dengan skill siswa yang dicetaknya.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang sudah menyiapkan Politeknik Madura (Poltera) untuk menampung lulusan SMKN 2 tersebut. Pemerintah setempat berkeyakinan, lulusan SMKN 2 bisa diandalkan sebagai sekolah unggulan yang memiliki standar pembelajaran sekolah kejuruan. “Sekolah ini merupakan salah satu sekolah sumbangan dari Pemprov Jatim,” tutur Bupati Sampang Noer Tjahja.

Sekolah ‘mahal’ yang dibangun sejak 2011 lalu itu memiliki 3 penjurusan yang dikembangkan dengan ketrampilan mesin, pengelasan dan teknik pengolahan hasil pertanian. Menurut Noer, tenaga terampil lulusan SMK ini akan dipakai untuk pengeboran minyak di Sampang. “Karena, di sini (Sampang, red) ada puluhan titik minyak yang perlu di eksplorasi,” katanya.

Ungkapan tersebut tersembul saat kunjungan kerja (kunker) jajaran Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim yang langsung dipimpin Kadispendik Jatim, Harun ke Sampang, dan Pamekasan, Madura. “Kami hanya ingin melihat secara langsung pendidikan di Madura,” tandas Harun.

Dalam kunjungannya, Kadispendik didampingi Sekretaris Dispendik Jatim Sucipto, Kabid TK, SD dan Pendidikan Khusus (PK) Dispendik Jatim Nuryanto, Kabid Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Nasor, Kabid Pendidikan Menengah Pertama (PMP) dan Pendidikan Menengah Atas (PMA) Bambang Sudarto, Kabid Pendidikan SMK Gatot Gunarso, Kabid Tenaga Pendidik dan Kependidikan Nur Sri Mastutik serta Kepala UPT PPPK Sumardijono dan sejumlah Kasi di lingkungan Dispendik Jatim.

Di awal perjalanan, Kadispendik Jatim Harun bersama rombongan menilik proses pendidikan di tingkat PAUD dan TK. Peninjauan di lembaga yang bernama Pusat Pendidikan dan Pembinaan anak Al Uswah Center Pamekasan itu karena sekolah ini menjadi percontohan di Jatim. “Karena PAUD ini memiliki metode berbeda dalam mendidik siswa,” katanya.

Metode pembelajaran tersebut langsung menggunakan alat peraga sebenarnya. Misalnya dalam pengenalan hewan, pendidik sekolah terpadu ini mendatangkan hewan agar anak didik benar-benar mengetahui jenis-jenis hewan yang dipelajari. Untuk diketahui, dalam pengembangan PAUD ini langsung dibawah kendali Ketua Bunda PAUD Jatim Nina Soekarwo.

Selanjutnya, perjalanan diarahkan melihat kondisi SDLB dan SMPLB di Pamekasan, SMPN 2 Pamekasan dan SMAN 1 Pamekasan. Kedua sekolah ini dipilih karena berhasil menelurkan anak-anak berprestasi, mulai juara regional sampai international. “Mereka akan mendapat bimbingan khusus di sekolah untuk terus meningkatkan prestasi,” kata Kabid PMP dan PMA Bambang Sudarto dihubungi terpisah.

Bukan hanya itu, mobil praktek milik Dispendik Jatim juga dilihat saat berada di SMK Al Falah Pasean Pamekasan. Mobil ini mendidik siswa-siswa SMK untuk bisa terampil.

“Pelayanan mobil kami sampai ke SMK di seluruh pelosok Jawa Timur,” aku UPT PPPK Dispendik Jatim Sumardijono.

Sebelumnya, Dispendik Jatim juga sempat mengunjungi sekolah serupa di Kabupaten Bondowoso. Di daerah yang dikenal dengan cemilan khas tape ini, kunjungan dilakukan di SMK yang berdiri di lahan 3 hektar hasil sumbangan Pemprov Jatim senilai Rp 15 miliar dan PAUD terpadu andalan yang menjadi percontohan di Jawa Timur, Widya Mandala Kembang Bondowoso.

PAUD percontohan ini telah memiliki 94 anak didik dan 11 pengajar. PAUD ini memiliki tiga lembaga yakni PAUD,TK dan Tempat Penitipan Anak (TPA). Sedangkan, di SMK yang menghabiskan anggaran Rp 15 miliar tersebut memfokuskan pada ketrampilan siswa bukan hanya mengedepankan teori.

“Karena sarana dan pra sarana di SMK ini sudah dilengkapi pemprov. Jadi, kami bangun sekolah beserta sarana dan pra sarana penunjangnya,” kata Kadispendik Jatim Harun. (sab)

Terkait:

Sumber: Surabaya Post, Senin, 12/03/2012

Label: , , , , , ,

Ketika Orang Malaysia Terpincut Bahasa Madura


Tidak tampak kebanggaan berlebihan pada diri Ayu Kusuma atas 'keberhasilannya' mempengaruhi perilaku orang lain di luar negeri. Ceritanya terkesan datar meskipun sebetulnya ia tak bisa menutupi kebanggaannya itu.

Ayu bersama lima teman lainnya, siswa kelas III SMKN 2 Bondowoso, telah berhasil memperkenalkan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yakni bahasa serta logat Madura.

Oleh Masuki M Astro

Ayu Kusuma dan Giovani VD adalah dua dari enam siswa jurusan tata boga sekolah rintisan bertaraf internasional itu yang baru selesai mengikuti program magang selama enam bulan di sebuah restoran di kawasan Pahang, Malaysia.

"Kalau siswa lainnya pulang dari magang, logatnya sudah seperti orang Malaysia. Tapi Ayu dan kawan-kawan, kok, tetap dengan logat Madura, ternyata anak-anak ini justru yang mempengaruhi mereka," kata Dyah Rembulan Sari, pembina OSIS SMKN 2 Bondowoso, tertawa saat memperkenalkan kedua siswanya itu.

Ayu, siswa berjilbab ini mengemukakan bahwa teman-teman barunya yang merupakan karyawan di restoran itu jusTru tertarik Bahasa Madura yang merupakan bahasa sehari-hari dari anak-anak magang itu.

"Mereka umumnya sangat tertarik ketika kami bilang 'bah' yang di televisi biasanya diplesetkan menjadi bo abbo," katanya tersenyum.

Kata "bah" atau "bah abbah" yang dibaca menjadi "beh" atau "beh ebbeh", kalau diartikan secara bebas kira-kira sama dengan "lho" untuk menunjukkan keheranan.

Kata itu misalnya dapat dipakai pada kalimat, "lho (bah), kok begitu".

Kata-kata lain yang cukup pendek dan saat ini masih sering dipakai warga Malaysia di restoran itu adalah, "apah ca'en?" yang berarti "apa, katanya?" atau lebih tepat diartikan "apa sih?"

"Kata-kata itu sudah biasa digunakan oleh karyawan di restoran. Ada lagi kata arapah ba'en? yang artinya kenapa kamu?," kata Ayu yang diiyakan oleh Giovani.

Menurut Giovani, awalnya orang Malaysia tersebut bertanya-tanya bahasa apa yang digunakan oleh para siswa tersebut. Mendengar logat Madura yang khas, warga negeri jiran tersebut tertarik untuk belajar dan menggunakannya.

"Sampai sekarang, kami masih sering berkomunikasi dengan teman-teman Malaysia itu, baik lewat facebook maupun SMS, dan tidak lupa juga menyelipkan bahasa Madura. Misalnya da'rammah kabharrah?, atau bagaimana kabarnya?" kata Ayu.

Logat asli

Sementara Wakil Kepala bidang Humas SMKN 2 Bondowoso Sri Wahyuningsih mengatakan, dirinya seringkali mengingatkan anak-anak didiknya yang baru pulang magang dari Malaysia karena gemar berlogat Melayu.

"Saya bilang, kalian ini sudah di Indonesia tetapi Ayu dan kawan-kawan ini saya perhatikan tetap dengan logat aslinya," katanya.

Selain dalam hal bahasa, Ayu, Giovani dan siswa lainnya yang lahir dan besar dalam budaya pendalungan atau campuran Madura dengan Jawa ini juga "berhasil" menularkan cara atau pola makan.

Teman-temannya yang orang Malaysia awalnya juga menganggap aneh dengan cara makan anak-anak Bondowoso itu.

Orang Malaysia menganggap aneh karena nasi dimakan bersama dengan mi sebagai lauk.

"Mungkin karena bahan dasarnya sama-sama beras, mereka menganggap aneh. Tapi setelah mereka mencoba makan nasi dengan mi, akhirnya ketagihan juga. Mereka bilang, enak juga," katanya.

Ayu dan Giovani sepakat bahwa magang ke negeri orang sangat banyak manfaatnya, baik sebagai pribadi maupun untuk pengembangan keterampilannya di bidang memasak.

"Yang jelas, kami belajar mandiri, karena semua ditangani sendiri, padahal selama ini kami kan berkumpul dengan orang tua. Kalau soal masakan, orang Malaysia suka bumbu pedas campur masam, sedangkan orang Jawa kan pedas sama manis," kata Ayu.

Menurut dia, di Malaysia tidak ditemukan cobek dan ulekan untuk menghaluskan bumbu. Mereka sudah biasa menggunakan alat blender.

"Mungkin kita bisa ekspor cobek dan ulekan ke Malaysia ya? Tapi jangan sampai cara membuatnya dikasih tahu ke orang Malaysia," kata Dyah Rembulan Sari, menimpali sambil tertawa.

Sementara Kepala SMKN 2 Bondowoso Lanang Lanang Suprihadi mengatakan bahwa sekolahnya telah menjalin kerja sama dengan restoran dan hotel di Malaysia untuk kepentingan para siswa magang sejak 2007.

Ia menjelaskan bahwa magang tersebut sangat membantu para siswa mengembangkan pengetahuan dan wawasannya sesuai jurusan masing-masing.

"Kebetulan yang rutin magang ke luar negeri jurusan tata boga. Anak-anak magang di restoran dan hotel di wilayah Genting Island dan sebagian lagi di Kuala Lumpur," katanya.

Menurut dia, sebagai sekolah dengan rintisan bertaraf internasional, SMKN 2 Bondowoso memang berupaya menjalin mitra agar siswanya memiliki pengalaman berinteraski serta belajar ke negara lain.

Selain menguntungkan para siswa karena memiliki pengalaman di negara lain, program ini juga dinilai positif oleh mitranya di Malaysia sehingga setiap tahun mereka selalu meminta dikirimi siswa magang.

Sri Wahyuningsih menambahkan bahwa dengan memiliki pengalaman magang di luar negeri maka diharapkan peluang kerja bagi mereka semakin terbuka luas setelah lulus dari sekolah.

Ia mengakui bahwa untuk jurusan akomodasi dan perhotelan dan tata boga di sekolah yang dulu bernama SMKK tersebut kini semakin banyak peminatnya.

"Masyarakat semakin tahu bahwa prospek kedua jurusan di sekolah ini sangat bagus. Bahkan untuk jurusan akomodasi perhotelan, dari semester awal anak-anak sudah biasa diminta praktik oleh manajemen hotel di Jember dan Bondowoso," ujarnya. (*)

Sumber: Antara News, 27 Sept 2011

Label: , , , ,

SMK Internasional Kotor, Bupati Berang

Malu ‘kepergok’ Kadispendik Jatim Harun saat kunjungan kerja

Bupati Sampang, Noer Tjahja rupanya merasa berang melihat kondisi peralatan yang dimiliki Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Sampang, yang sudah bertaraf internasional ternyata terlihat kotor dan tidak terawat.

Tanpa tedeng aling-aling, dia memarahi Kepala Sekolah (Kasek) SMKN 2 Internasional, Mohammad Ghozali, dihadapan Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Provinsi Jatim, Harun, ketika melakukan kunjungan kerja (Kunker) di sekolah yang dibangun di atas lahan seluas satu hektare (ha) dengan menelan dana APBD Jatim 2010, sebesar Rp 15 miliar.

Noer Tjahja mengaku kecewa dengan kinerja Kasek yang dinilai tidak mampu memelihara bantuan dari Pemrop Jatim tersebut. Sehingga ia menyampaikan kepada Harun agar tidak perlu dibantu lagi, jika tidak sanggup merawat peralatan yang dibeli dengan harga mahal itu.

"Saya benar-benar malu dengan Bapak Harun, masak saking kotornya peralatan yang ada sampai bisa ditulisi karena sudah penuh dengan tumpukan debu. Ini menunjukkan bahwa peralatan itu tidak dirawat sama sekali, jadi apabila kondisi seperti itu Kepala Sekolah tidak pantas menjabat lagi, mending diganti dengan guru lain saja," kata Noer Tjahja dengan nada tinggi, Jumat (9/3) sore.

Menurutnya, membangun itu mudah tapi justru yang sulit malah memelihara, ia mengkritisi jika memang terdapat jaringan listrik yang kurang memadai, sehingga dapat menganggu kerja praktekum siswa. Namun Kasek setempat jangan hanya berpangku tangan tapi harus berusaha mencari solusi.

"Gimana mampu bersaing dengan sekolah lain, jika tidak ada upaya meningkatkan kinerja dan memelihara dengan baik bantuan yang dikucurkan Pemprop Jatim cukup besar tersebut," tegasnya.

Dia menyatakan, seharusnya masyarakat bangga karena dari 5 kabupaten di Jatim yang menerima bantuan pembangunan SMK, hanya Kab. Sampang yang telah rampung membangun gedung sekolah tersebut. Sehingga pihaknya menekankan jangan menyiayiakan bantuan itu, karena merupakan peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sampang.

Sementara itu, Harun saat meninjau gedung SMKN 2 Sampang, menyatakan, dirinya melihat prasarana dan sarana sudah memadai, sehingga anak didik sekolah tersebut dapat berkompetensi dalam berkiprah dalam menampung tenaga kerja. Dispendik Jatim memang telah lama merancang SMK berkualitas, sehingga diharapkan dengan berdirinya SMK baru ini bisa mencetak lulusan yang trampil, handal dan siap memasuki dunia kerja.

"Kami ingin para lulusan SMK kelak mampu menjawab tantangan dunia kerja sesuai dengan kejuruan yang mereka tekuni," tandasnya. (rud)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 10/03/2012

Label: , , , , , ,

Bahasa Madura Semakin Luntur

Komunikasi orang tua-anak dengan Bahasa Indonesia, malu dengan tetangga jika berbahasa Madura

Bahasa daerah Madura sebagai salah satu kekayaan budaya, kini mulai jarang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahkan dikhawatirkan muatan lokal tersebut terancam luntur karena dianggap sudah ketinggalan zaman.

Ironisnya, para orang tua malah justru berkomunikasi dengan anaknya mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga bahasa Madura makin jauh ditinggalkan oleh generasi muda, karena mereka makin tidak paham dengan bahasa ibunya.

Ketua Dewan Pendidikan Sampang, Daud Bey menyatakan, dirinya sangat miris melihat perkembangan bahasa Madura yang mulai ditinggalkan oleh pengikut sukunya sendiri. Padahal bahasa daerah tersebut merupakan bagian dari jati diri dan karekteristik bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga Dewan Pendidikan Sampang kini sedang berupaya melakukan langkah terobosan dengan berupaya menciptakan sistem pembelajaran Bahasa Madura yang mudah di tangkap anak usia dini.

Menurutnya, penyebab lunturnya bahasa Madura itu karena seringkali para orang tua menerapkan bahasa Indonesia kepada anaknya, hanya karena semata-mata malu terhadap tetangga sekitarnya. Sehingga perlu diciptakan sebuah metode pembelajaran baru agar bahasa Madura bisa diserap dan difahami secara mudah oleh para siswa di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

"Dari hasil penelitian terhadap tiga SD, masing-masing SDN Gunung Sekar 1 dan 2, serta SDN Polagan. Sistem pembelajaran yang dibuat bukan hanya bertujuan memudahkan dalam mengerjakan soal mata pelajaran bahasa daerah, namun juga memberikan pemahaman pengunaan bahasa Madura yang baik dan benar," terang Daud, ditemui Sabtu (11/2).

Dia memaparkan, bahasa Madura saat ini telah terjadi pergeseran nilai di kalangan masyarakat setempat. Sehingga terjadi kesalahan pahaman dalam pengunaannya sehari-hari, bahkan terkesan dicampur aduk tanpa memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi.

"Sebenarnya bahasa Madura hampir sama dengan bahasa Jawa, dibagi menjadi tiga bagian dengan rincian, pertama bahasa enjak-iyah yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar seusia. Kemudian kedua bahasa enggi-enten sebagai bahasa komunikasi antara yang muda dengan yang tua. Sedangkan jenis ketiga, bahasa enggi-bunten sebagai bahasa komunikasi antara usia muda dengan orang lain yang lebih dihormati. Namun dalam praktek sehari-hari tatanan bahasa tersebut dicampur aduk, karena minimnya bekal pengetahuan yang dimiliki generasi muda," tambahnya.

Sementara itu, Abi Kusno, Kepala Bagian (Kabag) Kurikulum dan Pengembangan Mutu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang, menjelaskan, bahwa kurikulum mata pelajaran Bahasa Daerah Madura jamnya memang sangat terbatas. Siswa yang bisa mengenyam pelajaran bahasa daerah hanya di tingkat SD dan SMP dengan jatah waktu 2 jam dalam seminggu. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), pelajaran bahasa daerah memang tidak di masukkan dalam kurikulum.

"Kita mengakui mata pelajaran bahasa daerah Madura kurang mendapat perhatian serius karena dianggap bukan salah satu mata pelajaran yang penting. Sehingga kita akan mengusahakan agar jam pelajarannya ditambah, serta dimasukkan dalam kurikulum untuk tingkat SMA. Kita berharap dengan dibuatkan Perda tentang bahasa Madura, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kekayaan budaya agar tidak semakin luntur karena terkikis modernisasi," katanya. (rud)

Terkait:

Sumkber: Surabaya Post, Sabtu, 11/02/2012

Label: , , , , , ,

Murid TK Siap Mendaki Delapan Puncak Gunung

Seorang anak 6 tahun dari pulau Madura di Jawa Timur pada hari Kamis berangkat untuk menyelesaikan tugas yang ambisius. Menaklukkan 10 puncak gunung hanya dalam empat bulan.

Arya Cahya Mulyana Sugianto, seorang murid TK dari Pamekasan, telah menyertai mendaki gunung orangtuanya, Agus Sugianto dan Tri Yuli Mulyanti, sejak tahun 2007. "Dia telah mendaki Gunung Welirang dua kali dan terakhir dia naik gunung adalah Mahameru," kata ayahnya, Agus.

Arya menyelesaikan pendakian 3.676 meter memanjat Mahameru, juga dikenal sebagai Gunung Semeru, di Jawa Timur tahun lalu sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan. Kali ini, tantangannya adalah untuk menyelesaikan skala 10 gunung sebelum 21 Agustus.

Lima pendaki berpengalaman akan menemani Arya dalam pendakian

Memanjat pertamanya adalah-2900 meteran Gunung Ceremai di Jawa Barat, diikuti oleh Gunung Slamet (3.432 m) dan Gunung Sindoro (3.155 m) di Jawa Tengah, dan Gunung Wonotirto (2.000 m) di Jawa Timur. Dia juga dijadwalkan untuk mengatasi Tengah Jawa Gunung Lawu (3.265 m), Gunung Rinjani (3.726 m) di Lombok, Bali Gunung Agung (3124 m) dan Welirang (3.156 m), dan Gunung Arjuno (3.330 m) di Jawa Timur.

"Mahameru akan puncak akhir dia akan memanjat sehingga ia kembali bisa menanam bendera nasional ada pada tanggal 17 Agustus seperti yang ia lakukan tahun lalu," kata Akhmad Kusnindar, kepala tim Arya mendaki.

Kabar Terkait:
Kindergarten Student Set to Climb to Great Heights Pamekasan, East Java. A 6-year-old boy from the island of Madura in East Java on Thursday set out to complete an ambitious task: Conquer 10 mountain peaks in just four months. Arya Cahya Mulyana Sugianto, a kindergartener from Pamekasan, has been accompanying his mountain-climbing parents, Agus Sugianto and Tri Yuli Mulyanti, since 2007. “He has climbed Mount Welirang twice and the last mountain he climbed was Mahameru,” said his father, Agus. Arya completed the 3,676-meter hike up Mahameru, also known as Mount Semeru, in East Java last year as part of Independence Day celebrations. This time, the challenge is to finish scaling 10 mountains before Aug. 21. Five experienced climbers will accompany Arya for the feat His first climb is the 2,900-meter Mount Ceremai in West Java, followed by Mount Slamet (3,432m) and Mount Sindoro (3,155m) in Central Java, and Mount Wonotirto (2,000m) in East Java. He is also scheduled to tackle Central Java’s Mount Lawu (3,265m), Mount Rinjani (3,726m) in Lombok, Bali’s Mount Agung (3,124m) and Welirang (3,156m), and Mount Arjuno (3,330m) in East Java.

“Mahameru will be the final peak he’ll climb so he can again plant the national flag there on August 17 like he did last year,” said Akhmad Kusnindar, head of Arya’s climbing team.

May 13, 2011

Label: , , , , , , ,

Jadikan Bahasa Madura Sebagai Muatan Lokal

Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep mewajibkan Bahasa Madura sebagai pelajaran wajib dalam muatan lokal di semua jenjang pendidikan, mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Moh. Rais, S.Pd, M.Si mengatakan, pihaknya memang meminta lembaga pendidikan memprogramkan mata pelajaran Bahasa Madura, mengingat keberadaan Bahasa Madura itu sebagai sarana komunikasi di kalangan anak muda mulai memudar.

Pihaknya menilai, bagaimanapun juga Bahasa Madura harus terus digalakkan di kalangan generasi muda, sebab jika tidak, orang Madura dipastikan kehilangan bahasa ibunya.

“Ini yang harus dilakukan kami dan lembaga pendidikan, guna mempertahankan Bahasa Madura agar tidak punah, sebab bagaimanpun juga generasi muda merupakan tonggak penerus yang harus mempertahankan dan melestarikan Bahasa dan budaya Madura.”tegasnya.

H. Moh. Ra’is menyatakan, untuk melaksanakan program Bahasa Madura dalam muatan lokal, pihaknya sudah melakukan kegiatan work shop yang melibatkan lembaga pendidikan tingakt SD hingga SMP.

Untuk itu, pihaknya berharap lembaga pendidikan tingkat SD hingga SMP benar-benar memasukkan pelajaran Bahasa Madura dalam muatan lokal, demi mempertahankan dan melestarikan Bahasa Badura dari gerusan jaman dan perkembangan ilmu, serta teknologi. (Yasik, Esha)

Sumber: Pemkab Sumenep, Jumat, 1 Oktober 2010

Label: , , , , , ,

Kenalkan Budaya Madura Sejak Dini

Suasana ruang kelas 2A SD Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya berubah total Sabtu (16/1) pagi tadi. Bangku dan kursi siswa yang biasanya memenuhi kelas ini tak tampak.

Yang terlihat justru sebuah meja besar dengan beraneka macam makanan dan minuman di atasnya. Beberapa dari makanan dan minuman ini cukup asing di telinga warga Surabaya.

Sebut saja, es ko’buk, minuman dingin berbasis gula jawa, jahe dan cincau hitam ini sekilas mirip dawet. Namun ini adalah salah satu minuman khas madura yang disajikan untuk menyambut tamu-tamu penting kerajaan. Selain es ko’buk, ada juga nasi serpang, makanan nasi campur yang mirip dengan nasi krawu khas Gresik, topak ladhah, setup salak serta tajin sobik.

Makanan dan minuman ini disajikan untuk mengenalkan kuliner khas Madura kepada siswa-siswi perguruan Al Azhar Kelapa Gading Surabaya yang tadi pagi mengadakan pekan budaya Madura di sekolah mereka. Selain memamerkan makanan dan minuman khas madura, para siswa TK hingga SMP di sekolah ini juga disuguhi penampilan aneka macam kesenian khas Pulau Garam seperti tari pecut.

Yang menarik, seluruh siswa dan orang tua Tk dan SD diwajibkan memakai pakaian adat khas Madura. Mereka juga didaulat untuk melakukan peragaan busana di hadapan para undangan dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS), tokoh masyarakat Madura, serta undangan yang hadir dalam acara tersebut. Lenggak-lenggok murid TK dan SD bersama orang tuanya tersebut, tak jarang disambut gelak tawa hadirin.

Menurut Drs Najib Sulhan MA yang merupakan ketua panitia acara, kegiatan kali ini diadakan dalam rangka milad ke-8 sekolah yang berlokasi di Perumahan Bhaskara Jaya, Mulyorejo ini. Tujuan utamanya adalah untuk mengenalkan budaya Madura sebagai salah satu budaya lokal yang harus dilestarikan. “Ide awalnya kita ingin membantu mempromosikan kebudayaan Madura setelah dibangunnya jembatan Suramadu,” kata Najib Sulhan. Selain itu, menurut Najib sekolah juga ingin mengenalkan kebudayaan Madura ini agar para siswa paham dan ikut mencintai salah satu budaya khas Indonesia tersebut.

“Kita tidak ingin budaya khas seperti ini hilang atau diklaim bangsa lain seperti yang sudah-sudah,” tegas Najib. Selain memperkenalkan budaya dan kesenian Madura, dalam rangkaian acara ini juga diadakan seminar Seni Komunikasi Orangtua dalam Membingkai Karakter Anak dengan pembicara Arno Kernaputra, dosen dari London School Jakarta. (den)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 16 Januari 2010

Label: , , , , ,

11.800 Warga Buta Huruf

Sebanyak 11.800 warga di Kabupaten Pamekasan masih buta huruf. Kasi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan, Prama Jaya, menjelaskan, jumlah warga buta huruf ini sudah jauh lebih rendah dibanding tahun 2004.

“Pada 2004 jumlah warga buta huruf di Pamekasan masih mencapai 35.000 orang. Sekarang tinggal 11.800,” kata Prama Jaya.

Menurut dia, kebanyakan mereka yang buta huruf ini merupakan warga pedesaan yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Ada juga yang putus sekolah, yakni tidak tamat pendidikan sekolah dasar (SD). Prama menjelaskan, warga buta huruf di Pamekasan direncanakan tuntas pada 2010 ini.

“Target awal pemberantasan buta huruf ini pada 2009. Namun, karena ada kendala teknis, maka target itu kita perpanjang hingga 2010,” ucapnya.

Dinas Pendidikan Pamekasan melibatkan sejumlah organisasi sosial keagamaan dalam berupaya memberantas buta huruf ini, yakni melalui prograk keaksaraan fungsional (KF). Pihak-pihak yang dilibatkan antara lain organisasi perempuan keagamaan seperti Muslimat (NU), Aisyiah (Muhammadiyah), dan Gerakan Organisasi Wanita (GOW), serta sejumlah organisasi kewanitaan lainnya, termasuk gerakan Pramuka. (ant)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 15 Januari 2010

Label: , , ,

Dana Kurang, Meraih Penghargaan Internasional

Sebanyak 8 penghargaan atau prestasi tingkat internasional yang diraih pelajar Pamekasan sepanjang tahun 2009, 2 di antaranya diraih siswa tingkat SMA atas nama Ali Ikhsanul Qauli dan M Sahibul Maromy dari SMAN 1 Pamekasan. Keduanya meraih medali perunggu pada Olimpiade Fisika Asia (Asian Physics Olympiad) di Bangkok, Thailand, pada 24 April 2009 lalu.

Sedangkan 6 penghargaan internasional lainnya diraih oleh siswa tingkat SMP, 5 penghargaan di antaranya diraih Alyssa Diva Mustika dari SMPN 1 Pamekasan. Dia berhasil meraih medai emas pada Singapore Mathematical Olympiad (SMO) di Singapura, medali perak pada International Mathematical Contest (IMC) dan tiga medali perunggu untuk tiga kategori lomba pada Asian Mathematical Olympiad (AIMO) di Filipina.

Di bidang non akademis, yakni bidang olahraga, ada satu prestasi atau penghragaan tingkat international yang diraih siswa Pamekasan karena penampilan terbaik Tim Ekspedisi Indonesia Cabang Pencak Silat, yang diraih oleh Citra Rosalina Fikri siswa SMPN 1 Pamekasan di Korea.

Selain prestasi internasional di atas, sepanjang tahun 2009 juga terdapat ratusan prestasi bidang pendidikan lainnya yang diraih pelajar Pamekasan di tingkat regional maupun nasional.

Kepala Dinas Pendidikan Pamekasan, Drs Achmad Hidayat MPd, mengatakan keberhasilan siswa Pamekasan mengukir prestasi pada tahun 2009 ini sangat membanggakan. Betapa tidak, kata dia, para siswa Pamekasan itu berhasail menorehkan tinta emasnya di kancah internasional pada saat banyak kendala dalam dunia kependidikan di Pamekasan. “Kita harus syukuri dan kembangkan apa yang diperoleh ini,” katanya.

Keberhasilan itu dicapai pada saat anggaran pendidikan mengalami penurunan dibandingkan pada tahun sebelumnya. Pada tahun anggaran 2008, untuk pendidikan mencapai Rp 70 miliar, namun pada tahun 2009 hanya Rp 50 miliar. Meski begitu, prestasi pendidikan Pamekasan justru memuncak pada saat anggaran diturunkan.

“Ada hal mendasar yang dicapai oleh anak didik kita, yakni mereka telah melakukan aktivitas belajar yang sebenarnya. Bagi saya, keberhasilan pendidikan bukan berdasarkan terpenuhinya kebutuhan sarana fisik semata, namun yang terpenting adalah nuansa batin anak yang memiliki semangat dan komitmen belajar yang tangguh,” katanya.

Selain prestasi akademis yang mendunia, Pamekasan juga berhasil melakukan pemerataan prestasi. Hampir semua sekolah kini memiliki prestasi yang signifikan, bukan hanya sekolah favorit saja. “Kalau kita hitung terdapat 300 lebih prestasi yang dicapai oleh anak didik kita sepanjang tahun 2009 ini,” ungkapnya.

Sementara dari segi kelembagaan, ada tiga sekolah yang berhasil menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), yakni SDN Lawangan Daya, SMPN 1 dan SMAN 1 Pamekasan. (Masdawi Dahlan)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 16 Desember 2009

Label: , , , ,

Pamekasan Mau Jadi Jogjakarta-nya Madura

Banyak Simbol Kota, Beban Berat, Tenaga Kurang

Pamekasan memiliki persepsi masa depan yang meluas. Mulai dari kabupaten bersimbol Gerbang Salam, Kota Batik, Budaya, Pendidikan, dan kota yang terobsesi untuk menjadikan setiap rumah sebagai basis home industry. Bagaimana merealisasikannya?

SETELAH penetapan sebagai Kota Batik akhir Juni lalu, sejumlah pejabat mengerutkan dahi. Mereka harus berjuang merealisasikan simbol yang melekat ke Pamekasan. Sebab, lambang diyakini tidak berarti apa-apa tanpa manifestasi. Orang pertama di jajaran pemkab juga bergerilya mencari referensi demi mewujudkan 'negeri impiannya' yang terkotak antara batik, budaya, pendidikan, Gerbang Salam, dan kabupaten yang kaya industri rumah tangga.

Pamekasan sebagai Kota Pendidikan muncul sejak puluhan tahun silam. Saat itu kota ini memiliki lembaga pendidikan terbanyak dibanding kabupaten lain di Madura. Bahkan, waktu itu Pamekasan-lah yang punya perguruan tinggi swasta tertua (Unira) dan perguruan tinggi negeri pertama di Madura (STAIN).

Begitu juga Kota Budaya juga muncul di puluhan tahun silam. Pamekasan kaya aset budaya yang ditandai perayaan Semalam di Madura, kerraben sape, dan sape sonok tahunan yang terpusat di Pamekasan. Belakangan, muncul Gerbang Salam pada 2003 yang ditandai jilbabisasi untuk siswi SMP/SMA sederajat dan pelajaran agama tambahan di sekolah.

Pada 2009, muncul lagi ikon baru untuk Pamekasan sebagai Kota Batik di Jatim. Terakhir, lahir ide baru untuk menjadikan Pamekasan sebagai "Jogjakarta" di Madura seiring maraknya home industry di setiap rumah. "Saya butuh mitra untuk mendukung ikon-ikon itu," kata Bupati Kholilurrahman kepada wartawan kemarin.

Pria yang menjabat bupati kurang dari dua tahun ini mengaku dikonfirmasi soal beberapa nama yang melekat di Pamekasan. Dia juga mengaku menerima masukan berbagai simbol kota itu direalisasikan. Bahkan, katanya, kalangan luar menilai Pamekasan berpotensi menjadi kota yang diimpikannya itu. "Karena itu, perlu didukung semua pihak agar simbol-simbol tersebut tidak hanya ikon," paparnya.

Mohammad Ghozi, pengamat sosial setempat, menilai ikon-ikon tersebut didukung simbol-simbol bangunan. Dia mencontohkan, Gerbang Salam ditopang masjid dan Islamic Centre. Pendidikan didukung prestasi putra-putri terbaik Pamekasan yang berprestasi sampai internasional. Begitu juga lembaga pendidikan mulai SD, SMP, dan SMA yang sebagian sudah masuk rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Batik juga berpotensi untuk berkembang.

Hanya, Ghozi menilai, masyarakat bergerak sendiri. Sedangkan dukungan pemkab kurang bergigi. Akibatnya, ikon tersebut lebih terkesan sebagai simbol daripada substansinya. Seolah-olah, kata dia, gairah untuk membangun Pamekasan dari berbagai aspek begitu kuat tapi SDM di satuan kerja terkait masih belum menandingi aspirasi rakyatnya sendiri.

Karena itu, dia melihat kelompok masyarakat yang maju hanya di kawasan pengusaha dan belum menyentuh lapis bawah. "Mungkin perlu mendalami Jogjakarta sebelum Pamekasan menjadi Jogja yang lain di Madura," sarannya. (ABRARI)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 02 Juli 2009

Label: , ,

SMP Al-Hikam Lulus Seratus Persen

Di antara siswa tidak lulus di Bangkalan tak satu pun di antaranya berasal dari SMP Al-Hikam Burneh. Data sekolah, tahun kelulusan 2009/2010 siswa SMP ini lulus 100 persen. Siswa sejumlah 130 orang yang mengikuti unas seluruhnya lulus dengan hasil baik. Demikian pula dengan siswa SMA dan SMK Al-Hikam yang seluruhnya juga lulus.

Di sekolah ini juga ada siswa berprestasi dengan nilai total unas tertinggi di Al-Hikam. Tiga siswa dengan ranking tertinggi unas Al-Hikam adalah Wahidah dengan nilai 38,00; Komaruddin dengan nilai 37,60 dan Siti Mariah 37,55.

Sebagai Pengasuh Yayasan Al-Hikam, KH Nurudin A. Rahman mengaku sangat bersyukur dengan pencapaian siswa-siswi tersebut. Namun, dia mengingatkan pada seluruh siswa agar tidak berhenti menuntut ilmu. "Perjalanan menuntut ilmu itu masih panjang. Apalagi kalau hanya sampai SMP atau SMA saja. Keinginan kami, siswa-siswi lulusan Al-Hikam tidak berhenti belajar. Tapi juga dapat merasakan nikmatnya mencari ilmu hingga ke perguruan tinggi," ujarnya seraya tersenyum.

Dijelaskan, pola pembelajaran yang diterapkannya sama dengan sekolah lainnya. Yaitu mendidik dengan sebaik-baiknya selama kurun waktu tertentu. Terutama saat semakin dekat unas dilaksanakan. "Kami juga menyelenggarakan berbagai kegiatan pembelajaran non formal. Seperti pemaksimalan try out," ungkap anggota DPD MPR RI 2004-2009 ini.

Pantauan koran ini, siswa-siswi Al-Hikam punya cara yang beda untuk mengungkapkan kegembiraan dan mensyukuri kelulusannya. Mereka tidak berkonvoi seperti yang lain, tapi bersujud syukur bersama di masjid sekolahnya.

Setelah sujud syukur bersama, siswa lalu mengumpulkan baju seragamnya untuk disumbangkan pada mereka yang membutuhkan. "Mungkin tindakan seperti ini (memberikan pakaian seragam, Red) tergolong sudah biasa. Tapi, melihat manfaatnya yang begitu besar kami terus melaksanakannya agar siswa senang berinfak," kata kiai BASRA ini. (uji/nra/adv)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 21 Juni 2009

Label: , , ,

SMP Swasta Kalahkan Negeri

Di Pamekasan, 48 Siswa Tidak Lulus

Menyandang SMP negeri atau unggulan dan berlokasi di kota, bukan jaminan meraih nilai tinggi unas. Justru tahun ini SMP negeri kalah bersaing dengan sekolah pinggiran. Bahkan, hanya dua SMP negeri yang mampu masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah.

Bukan hanya itu. Angka ketidaklulusan didominasi sekolah negeri. Dari 48 siswa yang tidak lulus unas, SMP negeri menduduki ranking teratas dengan jumlah 26 siswa tidak lulus, SMP swasta 16 siswa, sedangkan SMP terbuka hanya 6 siswa yang tidak lulus.

Padahal, dari 100 lembaga peserta unas, jumlah SMP negeri, termasuk SMP unggulan yang berlokasi di kota, jauh lebih sedikit dibanding jumlah sekolah swasta (62 lembaga dan SMP terbuka (10 lembaga).

Angka kelulusan tahun ini mengalami peningkatan sekitar 0,6 persen dibanding 2008. Siswa SMP yang lulus tahun ini mencapai 99,17 persen. Namun, hasil kelulusan tersebut menjadi pukulan telak bagi sekolah negeri terutama, yang bergelar SBI dan unggulan/favorit.

Salah satu bukti sekaligus peringatan bagi sekolah unggulan, minimnya SMP negeri masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah se Pamekasan. Sebab, SMP Al Falah, Kadur, dengan poin 37,57 sebagai peraih nilai tertinggi.

Disusul berurutan SMP AL Hikmah dengan 36,97 dan SMP Al Hamidi, Kadur, dengan 36,35. SMPN 1 Larangan hanya mampu berada di urutan keempat dengan poin rata-rata 36,17. Di bawahnya SMP Al Islamiyah dengan nilai rata-rata 36,07.

Merosotnya prestasi SMP unggulan/negeri semakin ditunjukkan dengan tercatatnya SMPN Pademawu dengan nilai 35,69, hanya mampu berada di urutan keenam. Sedangkan SMPN 2 Pamekasan di urutan delapan. SMPN 1 Pamekasan yang menyandang predikat SBI (sekolah berstandar internasional) tidak masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah.

Kepala Disdik Pamekasan Ach. Hidayat melalui Kasi Kurikulum Dikmen Slamet Gustiantoko mengatakan, hasil unas tersebut menunjukkan sekolah pinggiran tidak bisa diremehkan. Bahkan, mampu mengungguli SMP perkotaan.

"Ini merupakan salah satu bukti bahwa kualitas pendidikan tidak lagi berpusat di kota. Buktinya, SMP swasta mampu bersaing, bahkan mendominasi," katanya saat ditemui koran ini kemarin siang.

Menurut Slamet, terpelesetnya prestasi SMP unggulan akan menjadi bahan evaluasi disdik. Terutama pengaruh yang mengakibatkan nilainya kalah bersaing dengan SMP swasta dan terbuka.

Dijelaskan, berdasarkan evaluasi sementara, angka ketidaklulusan dan nilai terendah bukan di mata pelajaran eksak. Tapi, untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. "Setelah kami lihat, ternyata di bidang bahasa yang menjadi faktor. Padahal tahun sebelumnya bidang studi eksak," ungkapnya.

Sekadar diketahui, suasana pelulusan kemarin tidak seperti saat kelulusan SMA beberapa waktu lalu. Selain tidak terlihat konvoi, bagi siswa yang tidak lulus akan dikirim surat ke rumahnya masing-masing.

"Cara itu memang untuk mencegah konvoi. Jadi, Senin (22/6) mungkin telah bisa diketahui secara menyeluruh, termasuk nama-nama yang termasuk 10 besar," pungkasnya. (nam/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 21 Juni 2009

Label: , ,

A. Taufik, Pelajar Yang Jadi Tukang Tambal Ban

Pengin Jadi Sarjana Teknik, Nabung untuk Biaya Kuliah

Demi mencapai asa, apa pun bisa dilakukan. Seperti yang dilakukan A. Taufik, pelajar SMK 2 Pamekasan. Setiap pulang sekolah dia langsung ke bengkel tambal bannya untuk mengais rezeki.

PELUH tampak masih membutir di keningnya saat remaja itu baru tiba di bengkelnya di Jalan Kabupaten. Dengan seragam lengkap plus tas yang masih melilit dipinggangnya, Taufik-sapaan akrabnya-langsung beraktivitas.

Ketika itu, jarum jam menunjuk pukul 13.15. Putra pasangan Rosidi-Mutmainah ini baru saja memarkir sepeda anginnya yang terlihat kusut. Saat seorang pengendara datang di hadapannya, nafas Taufik masih terlihat tersengal.

Tak lama berselang, seorang pengendara datang. Tentu saja, ia menjadi pertanda rezeki bagi Taufik. Masih dengan seragam lengkap, putra kedua dari tiga bersaudara tersebut membuka kotak ajaibnya yang berisi peralatan tambal ban. "Bocor di mana Pak," basa-basi Taufik bertanya kepada pemilik kendaraan.

Tidak membutuhkan waktu lama, ban belakang yang kebetulan bocor telah ditambal dengan dipanasi menggunakan alat serba manual. Setelah itu, dipasang kembali dengan penuh hati-hati.

"Berapa Dik," tanya pemilik motor. "Empat ribu Pak," jawab Taufik. Pada dasarnya, dia mengaku tidak pasang harga pas, melainkan mengikuti harga pasaran. "Kalau yang bersangkutan punya Rp 3 ribu saya ambil," tuturnya.

Menjadi tukang tambal pastilah bukan cita-cita Taufik. Meski kini dia bekerja kasar, Taufik tetap bertekad akan merengkuh gelar sarjana teknik (ST). "Saya pengin jadi ahli mesin," katanya penuh semangat.

Kenapa jadi tukang tambal ban? Taufik menegaskan, pekerjaan sampingan tersebut merupakan batu loncatan untuk biaya kuliah kelak setamat SMK. "Kalau sejak sekarang tidak menabung, untuk biaya kuliah pasti kesulitan. Sebab, orangtua saya bukan termasuk orang kaya," tuturnya.

Sekilas, Taufik memang tidak minder. Meskipun setiap hari teman sekolahnya sering melintas depan bengkelnya, Taufik tetap gigih dengan pekerjaannya. (NADI MULYADI)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 30 Januari 2009

Label: , ,

Pemkab Gerojok Rp 5,2 M Untuk Guru Swasta

Pada APBD Tahun 2008 ini Pemerintah Kabupaten Sumenep, mengalokasikan dana bantuan biaya bagi guru kontrak swasta total Rp 5.2 M untuk 1.754 guru swasta dari TK hingga SMA atau sederajat. Dengan rincian, masing-masing guru akan menerima bantuan sebesar Rp 250 setiap bulan atau Rp 2 juta pertahun.

Secara simbolis bantuan dana bagi guru kontrak swasta disampaikan langsung oleh Bupati Sumenep, KH Moh Ramdlan Siraj SE MM di Pendopo Agung Sumenep, disaksikan pimpinan DPRD dan Muspida, Selasa (9/9).

Bupati Sumenep, Ramdlan Siraj memaparkan sebagiamana semangat Kabupaten Sumenep yang memfokuskan pada peningkatan di sektor pendidikan, maka pada APBD tahun ini sebagian upaya itu terwujud dalam bentuk pemberian biaya bantuan bagi guru swasta.

"Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah, untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru kontrak sekolah swasta di Sumenep," ujar Ramdlan.

Dikatakan, kepedulian pemerintah Kabupaten Sumenep tidak hanya berbentuk bantuan saja, akan tetapi juga berupa peningkatan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Sumenep. Salah satunya berupa pembangunan gedung sekolah khususnya sekolah dasar yang ada di Sumenep dan kepulauan.

"Harapannya nanti, pendidikan di Sumenep akan lebih maju yang diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan para pendidiknya," sambung Bupati.

Daeng Ali Rahman, dari MTs Nurul Hidayah, Pulau Masalembu kepada Surya mengungkapkan rasa bangganya dengan program pemerintah khususnya di sektor pendidikan ini. Karena dengan bantuan ini akan lebih menggugah bagi guru-guru swasta dalam pengabdiannya membangun masyarakat lewat pendidikan.

"Sumenep menjadi pelopor mengikis pendekotomian (perbedaan) antara sekolah swasta dan negeri. Sekarang kami harus berpacu dalam meningkatkan kualitas SDM masyarakat lewat pendidikan," ujar Daeng Ali.

Dengan program ini, lanjut Daeng, akan terus menjadi stimulan bagi sekolah-sekolah swasta juga untuk menunjukkan prestasinya. Karena dengan fasilitas yang ada dan kesejahteraan sudah terbantu, maka tidak ada alasan untuk guru tinggal diam dalam membina masyarakat.

"Kita berharap program ini terus berlanjut dan sebisa mungkin para guru swasta tercakup semuanya," sambung Daeng ali penuh harap. (st2)

Sumber: Surya, Wednesday, 10 September 2008

Label: , ,

Dugaan Manipulasi Pemilihan Ketua STAIN

Galang Tanda Tangan, Lapor ke Depag RI

Polemik di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pamekasan, tampaknya, semakin meruncing. Setelah Mariatul Qibtiyah selaku Ketua STAIN lama didesak mundur, kini ada fakta dugaan manipulasi data saat pemilihan ketua STAIN baru.

SENIN (8/9) lalu Komunitas Mahasiswa Bersatu (KMB) STAIN melakukan demo mendesak Mariatul Qibtiyah mundur. Sebab, masa jabatannya sudah habis. Sehingga, tidak boleh menggunakan fasilitas kampus.

Belakangan, KMB juga menemukan indikasi manipulasi dalam kelengkapan persyaratan administrasi salah satu calon. Kuat dugaan, manipulasi dilakukan oknum orang dalam STAIN. "Sudah terjadi politik dagang sapi saat pemilihan ketua STAIN dan itu tidak boleh dibiarkan," kata jubir KMB Miftah saat konferensi pers kemarin.

Miftah menjelaskan, jenis manipulasi yang telah terjadi saat proses pemilihan ketua STAIN 7 Juli 2008 lalu. Salah satunya, berupa kelengkapan administratif yang diduga direkayasa. Ini diduga dialami Dr Idri, salah satu kandidat. Dia tidak menyerahkan visi-misi. Padahal, merupakan syarat mutlak administratif.

"Itu berdasarkan kesaksian dua panitia yang telah membuat pernyataan dengan materai enam ribu," katanya sambil membeber surat pernyataan dimaksud.

Anehnya, meskipun Idri saat dihubungi mengaku tidak menyerahkan visi-misi, tapi di meja panitia sudah ada dua lembar tanpa sepengetahuan panitia.

Kejanggalan bertambah saat penyampaian visi-misi. Ternyata yang dibacakan Idri tidak sama dengan draf yang ada di panitia. Jumlahnya juga tidak sama, yakni 10 lembar.

"Lebih dari 50 persen civitas akademika telah menandatangani surat pernyataan. Itu bukan hanya mahasiswa. Beberapa dosen juga menjadi motor penggerak. Dan, bukti-bukti tersebut telah dikirim ke Direktur Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Depag RI," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua STAIN lama Mariyatul Qibtiyah enggan berkomentar saat dihubungi koran ini. Dia hanya berkata, "Tidak ada yang perlu dijelaskan karena sudah jelas semua," katanya melalui saluran telepon.

Disinggung tudingan mahasiswa mengenai manipulasi data kelengkapan salah satu calon ketua STAIN, dia tidak mau berkomentar banyak "Saya tidak mengatakan ya, saya juga tidak mengatakan tidak," katanya.

Sekadar diketahui, saat pemilihan ketua STAIN terdapat empat kandidat. Antara lain Dr Idri (IAIN Surabaya), Dr Taufiqurrahman (STAIN Pamekasan), serta Abd. Rahman dan Dr Ahmad Arifi keduanya dari IAIN Jogjakarta. (NADI MULYADI)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 11 September 2008

Label: , , , , ,