Kantin Sekolah Sehat Berbahan Pangan Lokal

SP/Masdawi Dahlan
M Syaiful Arifin MSi
Kantor Ketahanan Pangan Pamekasan mulai tahun ini akan membuat program Kantin Sekolah Sehat Berbasis Bahan Pangan Lokal. Program ini akan dilaksanakan di lima Sekolah Dasar. Kini program tersebut sudah disosialisasikan kepada para Kepala Sekolah. Bulan April mendatang sosialisasi akan dilakukan bagi para pengelola kantin yang berbentuk pelatihan di masing masing sekolah penerima program.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Pamekasan Muhammad Syaiful Arifin di dampingi Frida Eka Maria, Kasi Keanekaragaman Pangan mengatakan, program ini akan di lakukan di lima SD yakni SDN Barurambat Kota V Kecamnatan Pamekasan, SD Plus Nurul Hikmah Pamekasan, SDN Telesah I Kecamatan Tlanakan, SDN Majungan I Kecamatan Pademawu dan SDN Pegantenan I Kecamatan Pegantenan.

“Sosialisasi kepada para pengelola kantin dilakukan dalam bentuk pelatihan praktek cara mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan modern yang disukai anak. Makanan modern yang dimaksud adalah makanan sehat berimbang, bergizi, beragam dan aman, ” ujar Syaiful, Rabu (14/3).

Lima SD penerima program tersebut nanti akan diberi bantuan dalam bentuk barang dan bahan pangan lokal. Bantuan barang berbentuk sarana misalnya etalase, lemari es, kompor gas, blender dan lain sebagainya yang merupakan peralatan untuk membuat kue dan makanan. Selain itu juga bantuan berupa bahan pangan lokal misalnya buah, ikan dan bahan pangan lokal lainnya.

“Yang dimaksud makanan bahan lokal modern itu adalah misalnya nanti bagaimana cara membuat bakso dengan bahan ikan laut. Lalu membuat bahan makanan yang enak dan bergizi dari bahan rumput laut dan lain sebagainya. Pokoknya nanti latihan difokuskan pada bagaimana bahan makanan lokal itu menjadi makanan yang modern enak dan sehat,“ ungkapnya.

Syaiful menambahkan bahwa sengaja program ini dilakukan di lima SD yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan di Pamekasan, dengan tujuan sebagai percontohan untuk pembudidayaan makanan yang bernuansa bahan lokal yang berbeda. Diharapkan nanti SD lainnya di satu wilayah kecamatan juga mengikuiti program tersebut.

Lantas mengapa program ini dilakukan di Sekolah Dasar? Syaiful menegaskan bahwa program ini dilaksanakan di tingkat Sekolah Dasar dengan alasan agar sejak dini anak terbiasa mulai sejak kecil mengetahui dan berrminat untuk mengonsumsi makanan sehat dan bergizi dari bahan pangan lokal.

Program ini juga, kata Syaiful, sebagai motivasi bagi masyarakat umum tentang makna dan perlunya optimalisasi bahan pangan lokal untuk menjadi produk makan yang berkualitas dan bergizi. Sehingga secara tidak langsung program ini menggugah masyarkat untuk meningkatkan ekonomi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah menjadi makanan enak bergizi yang bernilai jual mahal. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 15/03/2012

Label: , ,

Ada Indikasi Kuat Dibakar

Polisi Selidiki Kasus Terbakarnya SDN Basanah

Polisi terus menyelidiki terbakarnya satu gedung di SDN Basanah, Kec Tanah Merah, Rabu (14/10) malam. Hasil sementara, indikasi sekolah dibakar semakin menguat. Selain telah ditemukan botol yang berisi minyak tanah dan sebungkus korek api, kebakaran dipastikan bukan karena kortsleting.

Sebab, pihak sekolah tidak pernah merasa menyimpan semacam lampu minyak atau penerangan lain di dalam ruangan. Bahkan, sekolah tersebut juga tidak dialiri listrik.

Kerjasama tim penyelidik dari Polres Bangkalan dibantu Polsek Tanah Merah hingga kemarin baru memeriksa lima orang saksi awal. Mereka antara lain Kepala SDN Basanah Nanik, warga sekitar SD, Hoiriyeh, Kades Basanah, dan dua orang lainnya.

Kapolsek Tanah Merah AKP Sungkono mengatakan, berkas kasus saat ini telah dilimpahkan ke Polres Bangkalan. Alasannya, selain minimnya personel di polsek, kebakaran melanda sebuah fasilitas publik. "Hari ini (kemarin, Red) berkas bersama barang bukti telah dilimpahkan ke polres," katanya.

Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Suwarno membenarkan berkas kasus terbakarnya SDN Basanah telah berada di polres. "Kasus tersebut saat ini sedang dalam penyelidikan. Pengumpulan keterangan telah dilakukan," ujarnya.

Lokasi sekolah yang berada di pinggir perkampungan itu membuat kebakaran agak lamban diketahui. Kepala SDN Basanah Nanik mengetahui sekolahnya terbakar sekitar pukul 07.30. Nanik yang malam itu berada di rumahnya tahu adanya kebakaran dari salah satu warga yang tinggal di dekat sekolah. "Saya tahu setelah di telepon Mik Hoiriyeh. Setelah itu saya bersama suami langsung ke sini," ujarnya kemarin (17/10).

Seperti diberitakan, sebanyak 5 meter kubik kayu yang akan dipakai untuk merenovasi gedung SD ludes menjadi arang. Dokumen penting siswa dan guru juga hangus. SDN Basanah terbakar saat dimulainya proyek dari dana alokasi khusus (DAK).

Saat ditemui kemarin, Nanik sedang mengawasi realisasi DAK untuk rehab gedung sekolah. Dia mengaku telah melaksanakan petunjuk teknis penggunaan DAK. "Saya sudah kerjakan sesuai dengan juknis bersama komite sekolah dan Kades. Sekolah adalah rumah kedua, jadi saya inginkan yang terbaik," ujarnya.

Salah satu guru, Yayuk, mengungkapkan, di ruang yang terbakar itu itu berisi semua buku pelajaran dari kelas I sampai VI. Sebab, pada Rabu (14/10) sekolah sudah mulai dibongkar dan semua barang diungsikan di kantor yang hangus tersebut.

Demikian juga dengan siswa SDN Basanah pada hari itu sudah berpindah ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ibrohimy. Sebab, semua kelas sedang direhab. (c18/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 18 Oktober 2009

Label: , , ,

Fatimatus Zahra ke Konferensi Nasional Best Practice

Sempat Diremehkan, Sukses Berdayakan Masyarakat

Fatimatus Zahra, kepala SDN Trasak I, Kecamatan Larangan, bersama 88 kepala sekolah se Indonesia akan memresentasikan keberhasilan pengelolaan pendidikan di Pamekasan. Apa saja yang telah dilakukan?

Hari bersejarah itu besok, 21-22 Mei 2008. Jika tidak ada halangan, Fatim - sapaan Fatimatus Zahra - akan memresentasikan keberhasilan pengelolaan pendidikan. Terutama, keberhasilannya memberdayakan masyarakat agar sadar pendidikan.

Berbagai persiapan telah dilakukan Fatim. Mulai dari membuat karya tulis yang akan dipresentasikan, mengumpulkan bahan-bahan presentasi, hingga persiapan mental. "Pokoknya semua sudah saya siapkan. Mau tidak mau memang harus siap sejak awal. Ini kan acara tingkat nasional," ujarnya saat ditemui koran ini kemarin siang.

Untuk kepentingan presentasi, Fatim mengaku harus banyak membuka file kegiatan yang pernah digelarnya. Terutama saat masih menjabat sebagai kepala SDN Bungbaru I, Kecamatan Kadur. Sebab, pengalaman itulah yang menjadikannya terpilih sebagai peserta konferensi nasional best practice kepala sekolah se Indonesia.

"Intinya, kegiatan ini untuk berbagai sesama kepala sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA tentang pengelolaan pendidikan. Terutama, pengalaman-pengalaman yang pernah dialami dalam hal pengelolaan pendidikan," paparnya.

Berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional RI, Fatim merupakan satu-satunya delegasi dari Madura. "Kalau melihat listing undangan, saya memang sendiri dari Madura. Lainnya dari berbagai wilayah di tanah air," terang Fatim.

Terpilihnya Fatim sebagai wakil Madura di konferensi nasional best practice kepala sekolah itu tak lepas dari karya tulis yang dibuatnya. Fatim menjelaskan, mulanya dinas P dan K mengirimkan brosur tentang karya tulis untuk kepala sekolah se Pamekasan.

"Dalam brosur itu kita diminta membuat karya tulis tentang pengalaman terbaik selama menjadi kepala sekolah. Terutama dalam hal pengelolaan pendidikan," ungkapnya.

Ada beberapa tema yang bisa dipilih. Mulai dari kegiatan belajar-mengajar, inovasi pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan sebagainya. "Kebetulan, saya memilih pemberdayaan masyarakat. Ini didasarkan pengalaman saya saat menjadi kepala SDN Bungbaruh I di Kecamatan Kadur," katanya.

Fatim mengakui, saat menjabat kepala SDN Bungbaruh I memiliki pengalaman tak bisa dilupakan. Saat itu, Fatim satu-satunya kepala sekolah baru yang dikirim ke desa terpencil.

Semula banyak pihak yang meremehkan. "Selain saya perempuan, banyak yang menilai kondisi masyarakatnya susah. Makanya, saya diprediksi tidak akan bisa," tuturnya.

Namun, berbekal niat untuk mengabdi, Fatim mengaku tetap semangat. "Awal saya datang, minim orangtua yang peduli pendidikan anaknya. Mereka pasrah saja. Datang atau tidak datang anaknya ke sekolah, tidak peduli," ungkapnya.

Akhirnya, Fatim mulai menemukan ide peningkatan partisipasi masyarakat. Salah satunya dengan mendirikan TK gratis. "Semuanya saya tanggung sendiri. Mulai dari pembangunan gedung, hingga prasarananya. Ini agar ada semangat warga untuk menyekolahkan anaknya," terangnya.

Sejak saat itulah antusiasme warga mulai terlihat. Setelah TK berdiri, semakin banyak anak disekolahkan. Itu berlanjut hingga jenjang SD. Untuk menunjukkan bahwa murid-murid terpencil juga bisa, berbagai kegiatan digelar.

"Seperti saat perpisahan. Saya undang masyarakat untuk menghadiri. Saya undang kiai berpengaruh. Terus, saya tampilkan juga kreasi murid-murid. Mulai dari tari, puisi, drama, dan lainnya. Dan, itu berhasil," katanya.

Sejak saat itulah, persepsi masyarakat tentang pendidikan mulai berubah. Semula menilai murid SD terpencil tidak bisa apa-apa. Namun, setelah ada pentas akbar, masyarakat mulai percaya. "Bersamaan dengan itu, saya juga kerjasama dengan puskesmas untuk pengobatan gratis kepada warga. Antusiasme warga tinggi karena dilaksanakan di sekolah," paparnya.

Saking antusiasnya masyarakat terhadap pola pendidikan yang diterapkan, Fatim sempat 'disandera' agar tidak pindah ke sekolah lain. "Warga sempat mendemo agar saya tidak dipindah. Namun, setelah ada pendekatan, akhirnya mereka menerima," ungkapnya.

Beberapa hal itulah yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya tulis oleh Fatim. "Alhamdulillah, rupanya karya tulis itu dinilai ikut memberikan sumbangsih pada pendidikan. Terutama, dalam hal peningkatan partisipasi masyarakat agar sadar pendidikan," ujarnya. (AKHMADI YASID
)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 20 Mei 2008

Label: , , , ,