Bahasa Madura Semakin Luntur

Komunikasi orang tua-anak dengan Bahasa Indonesia, malu dengan tetangga jika berbahasa Madura

Bahasa daerah Madura sebagai salah satu kekayaan budaya, kini mulai jarang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahkan dikhawatirkan muatan lokal tersebut terancam luntur karena dianggap sudah ketinggalan zaman.

Ironisnya, para orang tua malah justru berkomunikasi dengan anaknya mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga bahasa Madura makin jauh ditinggalkan oleh generasi muda, karena mereka makin tidak paham dengan bahasa ibunya.

Ketua Dewan Pendidikan Sampang, Daud Bey menyatakan, dirinya sangat miris melihat perkembangan bahasa Madura yang mulai ditinggalkan oleh pengikut sukunya sendiri. Padahal bahasa daerah tersebut merupakan bagian dari jati diri dan karekteristik bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga Dewan Pendidikan Sampang kini sedang berupaya melakukan langkah terobosan dengan berupaya menciptakan sistem pembelajaran Bahasa Madura yang mudah di tangkap anak usia dini.

Menurutnya, penyebab lunturnya bahasa Madura itu karena seringkali para orang tua menerapkan bahasa Indonesia kepada anaknya, hanya karena semata-mata malu terhadap tetangga sekitarnya. Sehingga perlu diciptakan sebuah metode pembelajaran baru agar bahasa Madura bisa diserap dan difahami secara mudah oleh para siswa di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).

"Dari hasil penelitian terhadap tiga SD, masing-masing SDN Gunung Sekar 1 dan 2, serta SDN Polagan. Sistem pembelajaran yang dibuat bukan hanya bertujuan memudahkan dalam mengerjakan soal mata pelajaran bahasa daerah, namun juga memberikan pemahaman pengunaan bahasa Madura yang baik dan benar," terang Daud, ditemui Sabtu (11/2).

Dia memaparkan, bahasa Madura saat ini telah terjadi pergeseran nilai di kalangan masyarakat setempat. Sehingga terjadi kesalahan pahaman dalam pengunaannya sehari-hari, bahkan terkesan dicampur aduk tanpa memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi.

"Sebenarnya bahasa Madura hampir sama dengan bahasa Jawa, dibagi menjadi tiga bagian dengan rincian, pertama bahasa enjak-iyah yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar seusia. Kemudian kedua bahasa enggi-enten sebagai bahasa komunikasi antara yang muda dengan yang tua. Sedangkan jenis ketiga, bahasa enggi-bunten sebagai bahasa komunikasi antara usia muda dengan orang lain yang lebih dihormati. Namun dalam praktek sehari-hari tatanan bahasa tersebut dicampur aduk, karena minimnya bekal pengetahuan yang dimiliki generasi muda," tambahnya.

Sementara itu, Abi Kusno, Kepala Bagian (Kabag) Kurikulum dan Pengembangan Mutu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang, menjelaskan, bahwa kurikulum mata pelajaran Bahasa Daerah Madura jamnya memang sangat terbatas. Siswa yang bisa mengenyam pelajaran bahasa daerah hanya di tingkat SD dan SMP dengan jatah waktu 2 jam dalam seminggu. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), pelajaran bahasa daerah memang tidak di masukkan dalam kurikulum.

"Kita mengakui mata pelajaran bahasa daerah Madura kurang mendapat perhatian serius karena dianggap bukan salah satu mata pelajaran yang penting. Sehingga kita akan mengusahakan agar jam pelajarannya ditambah, serta dimasukkan dalam kurikulum untuk tingkat SMA. Kita berharap dengan dibuatkan Perda tentang bahasa Madura, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kekayaan budaya agar tidak semakin luntur karena terkikis modernisasi," katanya. (rud)

Terkait:

Sumkber: Surabaya Post, Sabtu, 11/02/2012

Label: , , , , , ,

Jadikan Bahasa Madura Sebagai Muatan Lokal

Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep mewajibkan Bahasa Madura sebagai pelajaran wajib dalam muatan lokal di semua jenjang pendidikan, mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Moh. Rais, S.Pd, M.Si mengatakan, pihaknya memang meminta lembaga pendidikan memprogramkan mata pelajaran Bahasa Madura, mengingat keberadaan Bahasa Madura itu sebagai sarana komunikasi di kalangan anak muda mulai memudar.

Pihaknya menilai, bagaimanapun juga Bahasa Madura harus terus digalakkan di kalangan generasi muda, sebab jika tidak, orang Madura dipastikan kehilangan bahasa ibunya.

“Ini yang harus dilakukan kami dan lembaga pendidikan, guna mempertahankan Bahasa Madura agar tidak punah, sebab bagaimanpun juga generasi muda merupakan tonggak penerus yang harus mempertahankan dan melestarikan Bahasa dan budaya Madura.”tegasnya.

H. Moh. Ra’is menyatakan, untuk melaksanakan program Bahasa Madura dalam muatan lokal, pihaknya sudah melakukan kegiatan work shop yang melibatkan lembaga pendidikan tingakt SD hingga SMP.

Untuk itu, pihaknya berharap lembaga pendidikan tingkat SD hingga SMP benar-benar memasukkan pelajaran Bahasa Madura dalam muatan lokal, demi mempertahankan dan melestarikan Bahasa Badura dari gerusan jaman dan perkembangan ilmu, serta teknologi. (Yasik, Esha)

Sumber: Pemkab Sumenep, Jumat, 1 Oktober 2010

Label: , , , , , ,

Kekurangan Guru Bahasa Madura

KEBIJAKAN dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Pamekasan mewajibkan Bahasa Madura sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah mendapat respon positif berbagai pihak. Maklum di tengah modernisasi,--apalagi menyusul dibukanya Jembatan Suramadu, ada kekhawatiran tergerusnya budaya, termasuk bahasa lokal.

Untuk meminimalisasi pengruh budaya luar itulah yang melatarbelakangi masuknya pelajaran Bahasa Madura ke sekolah mulai SD hingga SMA. “Itu mulai ajaran tahun ini.Dalam seminggu ada dua jam pelajaran Bahasa Madura,” kata M. Ramli, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Menengah, Dinas Pendidikan Pamekasan. “Kalau dirasa kurang jamnya bisa ditambah,” ujarnya menambahkan.

Dengan kebijakan ini diharapkan Bahasa Madura tetap lestari dan orang Madura mengetahui terhadap bahasa daerahnya sendiri. Sebab akhir-akhir ini sudah banyak orang Madura yang kurang mengerti terhadap bahasa daerahnya, meski yang bersangkutan merupakan orang Madura asli.

Meski berbagai pihak merespon positif, bukan berarti tanpa kendala. Apalagi saat ini pihaknya kekurangan pengajar Bahasa Madura. Dalam artian, mereka bukan lulusan Bahasa Madura. Ya, mungkin solusi ke depan perlu perguruan tinggi membuka fakultas jurusan Bahasa Madura. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19 Oktober 2009

Label: , , ,

Bahasa Madura Nyaris Punah


Bahasa Madura mulai ditinggalkan oleh masyarakat, bahkan pemakaian Bahasa Madura nyaris punah ditelan perkembangan zaman seperti sekarang ini.Hal tersebut disampaikan penulis Kamus Lengkap Bahasa Madura, Adrian Pawitra, Sabtu, saat peluncuran karyanya di salah satu rumah makan, Jalan Raya Soekarno-Hatta, Bangkalan.

"Saat ini Bahasa Madura mulai punah. Masyarakat Madura sendiri jarang sekali memakai Bahasa Madura dalam berkomunikasi sehari-hari," terang Adrian .

Menurut Adrian, hal itu terbukti dari warga Madura yang telah kawin silang dengan suku Jawa. Kemudian ketika anaknya lahir diajari Bahasa Indonesia. Sehingga keberadaan Bahasa Madura sangat memprihatinkan."Padahal Bahasa Madura sendiri merupakan bahasa paling besar keempat di negara Indonesia," ungkapnya.

Sehingga, sambung Adrian, berbekal kekhawatiran akan punahnya Bahasa Madura tersebut, pihaknya mencoba membuat Kamus Lengkap Bahasa Madura dengan 13.500 kosa kata. "Saya rasa dengan adanya Kamus Lengkap Bahasa Madura bisa melestarikan Bahasa Madura dan menambah minat orang untuk memakai Bahasa Madura," ucapnya.

Adrian menjelaskan, Kamus Lengkap Bahasa Madura berisi tentang kata-kata Madura lalu diterjemahkan dengan bahasa Indonesia. Sehingga masyarakat yang membacanya mudah paham terhadap arti dari kata Madura tersebut.

"Di samping takut punah, saya juga ingin Kamus Bahasa Madura ini juga berjejer di gerai toko buku dengan kamus-kamus bahasa yang lain seperti bahasa Inggris dan Arab," ucapnya.

Ia menambahkan, dengan diluncurkannya Kamus Lengkap Bahasa Madura yang lengkap dengan ejaan dan berjumlah 739 halaman, bisa bermanfaat bagi khalayak, khususnya warga Madura sendiri."Saya kira guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) serta muridnya harus punya Kamus Lengkap Bahasa Madura ini. Dan untuk peluncuran perdana, kami mencetak sebanyak 5.000 buah," urainya.

Ancaman akan punahnya bahasa Madura juga diakui sejumlah pihak di Madura. Bahkan dalam Kongres I Bahasa Madura yang digelar pada 15 hingga 19 Desember 2008 di Kabupaten Pamekasan, direkomendasikan agar Bahasa Madura dimasukkan sebagai pelajaran tersendiri mulai dari tingkat SD hingga tingkat perguruan tinggi. (ant/kpo)

Sumber: Republika, Sabtu, 15 Agustus 2009

Label: , , , ,

Ajala Sotra Coba Seragamkan Ejaan Bahasa Madura

Kelompok Kajian Bahasa dan Sastra Madura Ajala Sotra di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, akan menggelar forum bersama yang khusus membahas ejaan Bahasa Madura, dengan melibatkan semua elemen masyarakat Madura, Februari 2009.

Koordinator Ajala Sotra Sumenep, Januar Herwanto, Selasa (23/12//2008), menjelaskan, pembahasan ejaan Bahasa Madura yang melibatkan semua elemen masyarakat dari empat kabupaten di Madura, merupakan sebuah keharusan.

“Sesuai hasil pertemuan kami dengan Tim Pembina Bahasa Madura (Nabara) Sumenep, pembahasan ejaan Bahasa Madura hingga sekarang, ternyata belum tuntas,” katanya di Sumenep. Sejak era 1970-an, katanya, sejumlah forum pembahasan ejaan Bahasa Madura telah dilaksanakan, baik di Madura maupun di luar Madura.

“Tapi, semua pembahasan ejaan tersebut belum menghasilkan satu keputusan atau kesepakatan. Elemen masyarakat Madura di empat kabupaten, belum bisa merumuskan satu ejaan yang disepakati, untuk diajukan pengesahannya oleh Balai Bahasa di Surabaya,” katanya menambahkan.

Januar juga menjelaskan, pihaknya agak heran atas munculnya rekomendasi dari Kongres Bahasa Madura di Pamekasan beberapa waktu lalu, berupa permintaan agar Balai Bahasa di Surabaya segera mengesahkan ejaan Bahasa Madura.

“Kami akan meminta Balai Bahasa di Surabaya menangguhkan realisasi rekomendasi tersebut, karena belum ada satu rumusan tentang ejaan Bahasa Madura. Sebagai jalan keluarnya, kami akan menggelar forum bersama yang agendanya khusus membahas ejaan, dengan melibatkan elemen di empat kabupen di Madura, pada bulan Februari 2009,” katanya. (ant)

Sumber: Surya, Selasa, 23 Desember 2008

Baca juga:
Kecewa Kongres Bahasa Madura

Label: , , , , , ,

Bahasa Madura Masuk Pelajaran Sekolah

Dinas P dan K Pamekasan, Madura, Jawa Timur, memutuskan untuk memasukkan Bahasa Madura sebagai pelajaran sekolah dari tingkat SD hingga SMA.

"Diharapkan dengan masuknya Bahasa Madura tersebut, nantinya para siswa akan lebih paham akan bahasa daerahnya sendiri" kata Kasubdin Dikmen Dinas P dan K Pamekasan Nur Kodim, Minggu (10/08).

Selama ini, kata Nur Kodim banyak pelajar dan kaum remaja Madura yang tidak paham bahkan tidak bisa berbahasa Madura. Akibatnya mereka cenderung menjadi orang asing di daerahnya sendiri.

"Usulan memasukkan Bahasa Madura sebagai salah satu mata pelajaran lokal di Pamekasan ini dari para tokoh dan sesepuh Madura. Mereka tidak ingin bahasa Madura menjadi punah," jelas Nur Kodim.

Di sejumlah lembaga pendidikan di Pamekasan, selama ini memang ada sekolah yang memberikan pelajaran tambahan bahasa Madura, tapi belum merata dan terbatas untuk tingkat SD hingga kelas 1 SMP. Sedang untuk kelas 2 dan kelas 3 serta SMA ditiadakan.

Sapto Aji Wirantho, S.Sos dari Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pegembangan (Balitbang) Depdiknas pusat dalam simposium pendidikan nasional yang digelar Komunitas Pemuda Peduli Pamekasan (KP3) pada Sabtu (09/08) di Pamekasan, menyatakan, pada era otonomi daerah ini Dekdiknas memang mengharapkan agar sistem pendidikan dan muatan kurikulum pendidikan di daerah senantiasa memperhatikan kebutuhan masing-masing daerah.

"Dalam hal ini adanya muatan pelajaran lokal diharapkan mampu mempertahankan tradisi dan budaya yang memang ada dan berkembang di masyarakat setempat," katanya.

"Pemerintah," lanjut Aji, "juga telah mengatur tentang upaya pemeliharaan potensi dan budaya lokal tersebut melalui undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan, serta Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi dan satuan Pendidikan Dasar dan Menengah."

Dalam undang-undang nomor 22 tahun 2006 tersebut dinyatakan, bahwa alokasi waktu untuk muatan pelajaran lokal sebanyak 2 jam dan kedudukannya sama dengan mata pelajaran lainnya.

"PP ini mengharapkan agar daerah bisa melestarikan dan mengembangkan potensi yang ada, sehingga akan menjadi kebanggaan tersendiri," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Staf kebudayaan dinas P dan K Jawa Timur Parso Adiyanto, S.Pd, M.M, M.BA. Menurut dia, warga Madura memiliki tradisi dan budaya tersendiri sebagai ciri khas. Maka selayaknya hal itu dipertahankan.

Ia juga menyebutkan sejumlah tradisi dan kesenian ada di Madura dan yang masih bertahan hingga saat ini. Seperti Tari Dhangga, Rokat Tase, Budaya Nyather, Tari Rondhing, Tembang Macopat, dan Tari Topenng Gethak.

"Semua jenis kesenian dan budaya ini menggunakan bahasa Madura. Dan ini bisa dipertahankan apabila warga Madura bisa berbahasa dengan baik dan benar Bahasa Madura," katanya.

Sebagian warga Pamekasan berharap, materi pelajaran bahasan Madura tak hanya disajikan dari tingkat SD hingga SMA, tapi juga hingga di perguruan tinggi.

"Ini menurut saya perlu dilakukan terutama para jurusan pendidikan atau tarbiyah karena mereka yang akan berkomunikasi langsung dengan anak didiknya dan itu tidak bisa dilakukan dengan bahasa Indonesia murni, tanpa adanya campuran bahasa Madura," kata Muakmam dari Yayasan Pakem Maddu Pamekasan. (*/npy)

Sumber: Kapanlagi.com, 10/08/2008

Label: , , , ,

Sastra Madura Terancam Terpinggirkan

Keberadaan sastra Madura terancam terpinggirkan dari komunitasnya. Sebab, kebanyakan generasi muda Madura enggan menggali lebih dalam akar sejarah keberadaan sastra Madura. Bahkan, selama ini ada kesan kalangan anak muda Madura meninggalkan sastra tanah kelahirannya sendiri.

Hal itu terungkap saat temu budayawan dengan siswa di halaman SMA Gapura, Kecamatan Gapura, kemarin. D. Zawawi Imron menyatakan, kepedulian terhadap sastra dan Bahasa Madura adalah tanggung jawab semua. Baik pemerintah, budayawan, dan masyarakat, khususnya, generasi muda Madura.

Budayawan ini menandaskan, memajukan bahasa dan sastra Madura adalah dengan memraktikkannya dalam kehidupan setiap harinya. Jika perlu, tingkatan tertinggi bahasa Madura terus dimantapkan.

Dikatakan, perkembangan sastra Madura bisa dilihat dari ketekunan anak Madura menghafal bait-bait pantun khas Madura. Sebab, selama ini keinginan belajar bait-bait pantun (paparegan) sudah mulai pudar. Anak muda Madura lebih tertarik untuk menghafalkan lirik-lirik musik band atau lagu-lagu hits. "Ini tantangan dan harus dipikirkan oleh anak muda Madura," tandasnya. (tur/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 02 November 2008

Label: , , , , ,

Pengguma Bahasa Madura Kian Merosot

Kecintaan HR Soedirman Mertoadikoesoemo terhadap tanah kelahiran di Madura tidak perlu diragukan. Dia salahseorang warga asli Madura yang dilahirkan di Bangkalan pada 3 Juli 1932 silam. Di kediamannya terdapat berbagai benda khas Madura. Mulai peralatan rumah tangga pecah belah, hingga gambar leluhurnya di Madura.

Sebagai keturunan darah biru, dia sangat memerhatikan budaya dan sastra Madura. Sejak lama, suami Hj Rr Soediyah ini prihatin akan penggunaan bahasa Madura. Mantan bupati KDH Jombang dan Probolinggo ini melihat makin hari kian merosot. Bahkan, mulai jarang digunakan dalam percakapan keseharian masyarakat di pulaunya.

Baginya, bahasa adalah sebuah identitas. Tak heran meski jarang ke Madura, dia selalu menggunakan bahasa daerah dalam keseharian dan saat berkumpul serta bercengkrama dengan warga Madura.

Menurut dia, keberadaan bahasa Madura sebagai bahasa luhur dan memiliki nilai tinggi akan hilang jika tidak diperhatikan secara serius. Terlebih jika pergaulan generasi muda mulai meninggalkan bahasa Madura dalam berkomunikasi.

"Apalagi kalau perkawinannya sudah campuran. Bisa jadi bahasa Madura tidak pernah digunakan sama sekali. Bahkan, anak-keturunnya juga tidak akan mengerti bahasa Madura," ungkapnya.

Sebagai pemerhati Madura, Soedirman pernah mengusulkan kepada gubernur Jatim untuk mendirikan sekolah Khusus. Yakni sekolah yang dikhususkan pada guru bantu untuk mempelajari bahasa Madura.

Menurut pandangan dia, hilangnya bahasa Madura dalam pergaulan masyarakat dikarenakan pendidikan bahasa tersebut tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah. "Makin merosotnya penggunaan bahasa Madura karena gurunya tidak siap. Atau tidak punya materi bahasa Madura," tegasnya. Sayang usulan Soedirman untuk mendirikan sekolah bahasa Madura tidak direspons positif.

Menurut pria kelahiran Bangkalan ini, merosotnya penggunaan bahasa daerah bakal membawa dampak makin hilangnya budaya Madura yang memiliki cita rasa tinggi. Dia mengungkapkan, leluhurnya adalah birokrat yang sangat mencintai seni dan budaya Madura.

"Semua leluhur saya adalah sastrawan. Bahkan, dari kecintaannya kepada seni membawa mereka biasa berkomunikasi dengan negara luar untuk saling bertukar informasi," terangnya.

Makin hilangnya kesenian Madura, lanjutnya, harus mendapatkan perhatian generasi muda dan pemerintah. "Pemerintah sebagai pihak paling bertanggungjawab memertahankan kebudayaan. Pemerintah tidak boleh membiarkan begitu saja ketika melihat seni dan budaya Madura makin hilang," pintanya.

Dia mengaku bangga melihat sastrawan D Zawawi Imron yang mendapatkan julukan Si Clurit Emas. Kendati bukan dari kalangan sastrawan, Zawawi sebagai tokoh agamawan berani mengangkat sastra Madura dimata masyarakat dan dunia. Karena itu Soedirman berharap, kedepan makin banyak pelaku seni yang mampu membawa seni dan budaya Madura ke luar daerah.

"Tapi bukan budaya kerasnya. Itu bukan budaya. Semua orang Madura memiliki sikap andhap asor (sopan santun, Red). Tapi kalau sudah berhubungan dengan hal prinsip, siapapun pasti tersulut emosinya," papar Soedirman.

Bahkan, dia menyatakan sama sekali tidak setuju jika celurit menjadi souvenir atau kenang-kenangan yang diberikan untuk pengunjung yang datang ke Madura. Sebab, souvenir semacam itu justru akan memperkuat pandangan bahwa Madura identik dengan kekerasan.

"Dulu pada saat konflik di Sambas saya sampaikan di KPP HAM Pusat. Saya katakan pada semua yang hadir, bahwa orang Madura tidak seperti yang digambarkan tuan-tuan sekalian," ujar mantan Kapolsek Srono Banyuwangi ini dengan penuh semangat.

Sebab, sambungnya, jika ada oknum yang berbuat kekerasan, masyarakat tidak boleh langsung memvonis sama rata. Seharusnya, oknum itulah yang mendapatkan tindakan tegas dan ditangkap berdasarkan hukum yang berlaku.

Generalisasi yang ditujukan kepada masyarakat Madura secara keseluruhan berdampak negatif. Pertama, membuat perlakuan masyarakat lain menjadi berbeda. Selanjutnya, menjadi kekhawatiran untuk mengakui identitasnya sebagai warga Madura. "Kalau saya tetap bangga sebagai orang Madura, karena saya tahu stereotip yang dilekatkan pada kita itu salah," tegasnya. (nra/tra)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 29 Juli 2008

Label: , , ,

Buku "Tembang Macapat Madhura"

Sarat Makna, Butuh Konsentrasi dan Keseriusan

Macapat adalah salah satu salah satu kesenian tradisional. Seni membaca tembang yang berasal dari tanah Jawa ini juga berkembang sampai ke Pulau Madura. Namun, kini mulai terpinggirkan dan ditinggal masyarakatnya, khususnya di Madura. Mengapa?

Macapat mengandung makna dalam. Dengan mendengarnya, bisa menyejukklan hati. Apalagi jika bisa tahu maknanya, akan sangat berarti dalam kehidupan.

Namun, seiring dengan berkembangnya berbagai musik modern, saat ini seni macapat kurang digemari. Berdendang dengan dengan macapat dianggap kuno atau malah katrok.

Meski dengan peminat sedikit, macapat masih bertahan. Dan tidak menutup kemungkinan orang kota juga menggemari kesenian macapat, meski yang menggemari sebatas kalangan tua. Para anak muda kini lebih suka jenis kesenian yang lebih atraktif. Seperti band, tari-tarian, hingga dangdut.

Alasannya mudah. Kesenian modern mudah ditiru dan dipahami. Sementara macapat, kata Kadarisman Sastrodiwirjo, banyak membutuhkan konsentrasi dan keseriusan dalam memelajarinya.

"Saya saja sulit memahami tembang-tembang macapat. butuh semangat dan kemauan yang tinggi untuk bisa memahami tembang macapat," katanya saat bedah buku kemarin.

Kadarisman adalah anak dari Oemar Sastrodiwirjo, sang penulis macapat. Wabup Pamekasan yang akrab dipanggil Dadang ini memang dikenal sangat peduli dengan seni budaya Madura.

Layaknya tembang dalam ketoprak, ludruk maupun wayang, macapat juga memiliki berbagai macam tembang. Dalam satu jenis tembang butuh waktu berbulan-bulan agar bisa melantunkannya.

Dengan diluncurkannya buku Tembang Macapat Madhura karya Oemar Sastrodiwirjo ini, diharapkan beberapa guru dapat memelajari dan meneruskannya kepada siswa. Sehingga kesenian macapat dapat mengubah kehidupan generasi muda yang berakhlak mulia.

Kasi Budaya Dinas P dan K Pamekasan Khalifaturrahman mengatakan, peluncuran buku Tembang Macapat Madhura merupakan suatu pelestarian kesenian budaya Madura, khususnya di Pamekasan. Dengan buku ini nantinya diharapkan generasi sekarang bisa merasakan hasil karya kuno yang sarat dengan makna.

Peluncuran buku ini dihadiri budayawan Zawawi Imron. Ia mengatakan, dulu, walaupun sudah tua, (alm) Oemar Sastrodiwirjo tetap merampungkan buku Parebhasan Ban Saloka Madhura juga buku Tembhang Macapat. "Dengan hadirnya buku ini, kita diharapkan dapat belajar kepada Oemar Sastrodiwirjo. Tentunya akan lebih bahagia jika kita kenal dengan Oemar Sastrodiwirjo," katanya.

Dia menjelaskan, zaman dulu mamaca merupakan kesenangan yang utama. Selain menyenangkan juga dapat menghilangkan kesusahan hidup. Tembang-tembang itu bisa diambil oleh setiap orang yang halus budi pekertinya. Apa saja yang dapat diambil dari tembang itu, dapat dijadikan sebagai langkah dalam kehidupan.

"Jadi, bisa diucapkan untuk perjalanan hidup penuh kesempurnaan dunia dan akhirat," katanya. (HARISANDI SAVARI)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 21 Juli 2008

Label: , , , , ,