Pasir Dieksploitasi, Madura Bisa Tenggelam

SP/Hairuddin Para penambang pasir liar sedang mengangkut pasir di tepi pantai Sreseh, Sampang Madura.


Rencana eksploitasi penambangan pasir sepanjang pantai Sreseh, Sampang, yang mulai dilirik investor asal Jakarta dikhawatirkan dapat memicu kerusakan lingkungan yang cukup parah.

Aktivis lingkungan, Yusak Ali Syahbana menyatakan, upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang yang akan memberikan peluang kepada pihak investor untuk mengeksploitasi tambang pasir dinilai sangatlah tidak bijaksana. Mengingat tingkat kerusakan dampak lingkungan akibat penambangan pasir yang tidak terkontrol tersebut dapat menimbulkan terjadinya abrasi dan erosi di pinggir pantai.

"Sebaiknya pemerintah mengkaji lebih dalam tawaran investor tersebut, karena hasil yang diterima tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan. Itu akan menimbulkan instrusi atau masuknya air kedalam celah-celah tanah didarat. Sehingga resapan air laut yang merebes kedaratan mengakibatkan air sumur milik warga setempat menjadi asin. Bahkan jika tanahnya sudah mengandung kadar garam yang cukup tinggi, maka tidak akan produktif lagi ditanami, karena sudah tidak subur," papar Yusak, ditemui Minggu (10/3).

Menurut Yusak, fungsi pasir sebagai tempat berkembang biaknya berbagai biota laut. Apabila instensitas pengambilan pasir cukup tinggi, maka dapat merusak ekosistem biota laut dan menganggu kelangsungan hidup ikan-ikan disekitar perairan tersebut. "Para nelayan juga akan terkena imbasnya karena kesulitan mencari ikan," ujarnya.

Apabila gejala kerusakan lingkungan tidak ditanggulangi secara cepat dan komprehensif, lanjutnya, justru akan berdampak lebih membahayakan lagi yaitu pulau Madura terancam akan tenggelam. Dia mencontohkan ada salah satu gugusan pulau di Sumenep sudah ada yang tenggelam, akibat pasir lautnya sering ditambang warga setempat.

"Mungkin pendapat saya ini dinilai terlalu berlebihan, karena tidak didukung dengan penelitian secara mendalam. Tetapi jika melihat gejala awal bahwa pasir yang berfungsi sebagai media tanam pohon mangrove, ternyata sudah tidak bisa berfungsi untuk ditanami pohon akar tunjang tersebut. Sehingga kemungkinan itu bisa saja kelak akan terjadi," ulasnya.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Amdal Laboratorium Lingkungan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sampang, Faisol Ansori, mengatakan, memang ada investor yang tertarik untuk melakukan eksploitasi pasir di Kec. Sreseh. Namun pihaknya bersama Dinas Perhubungan, Kantor Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal (KP3M), Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) serta Satpol PP, sudah sepakat mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi pihak investor.

"Salah satu persyaratan dari BLH yang harus dipenuhi yaitu menghendaki agar investor harus menyelesaikan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) dari Provinsi Jawa Timur. Sedangkan Satpol PP mengajukan syarat ijin gangguan (HO) harus disosialisasi kepada masyarakat setempat apakah mereka merima atau menolak kegiatan penambangan pasir itu," terang Faisol.

Dia menambahkan, selama berbagai persyaratan yang diajukan oleh sejumlah instansi terkait itu tidak dipenuhi. Maka KP3M sebagai instansi yang berwenang mengeluarkan izin tentu saja tidak akan dapat mengabulkan permohonan pihak investor tersebut. "Yang jelas izin akan diterbitkan apabila semua syarat sudah dipenuhi oleh investor," tukasnya. rud

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 10/03/2013

Label: ,

Pantai Lombang Ditawarkan Ke Investor


Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, mulai menawarkan sejumlah potensi wisata alam pada pihak investor. Kemampuan APBD dinilai sangat terbatas untuk pengembangan pariwisata.

Bupati Sumenep, A Busyro Karim, mengatakan, salah satu potensi wisata alam yang layak dan mempunyai potensi besar akan dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yakni Pantai Wisata Lombang.

"Saya sangat terbuka bagi investor yang akan menanamkan modalnya untuk pengembangan wisata pantai. Salah satunya, Pantai Lombang dengan hamparan cemara udang di sepanjang pantai mempunyai keindahan dan keunikan tersendiri," katanya.

Potensi pantai yang belum tergarap maksimal karena keterbatasan anggaran di APBD, tentu sangat membutuhkan pihak ketiga. Selama ini, investor yang akan masuk Sumenep lebih banyak perusahaan yang bergerak di Migas. Namun, untuk pengembangan wisata, relatif sedikit.

"Pemerintah daerah menginginkan potensi wisata bisa dikelola dengan maksimal, sehingga Sumenep menjadi salah satu rujukan tujuan wisata di Jawa Timur. Banyak potensi wisata yang tidak kalah dengan daerah lain, tetapi masih perlu pihak ketiga untuk mengembangkan," ujarnya.

Pantai Wisata Lombang yang berada di wilayah Kecamatan Batang-Batang dengan jarak sekitar 30 kilometer dari jantung kota Sumenep sempat dibiarkan dua tahun oleh pemerintah daerah seiring dengan adanya gugatan kepemilikan lahan dari warga setempat. Namun MA menolak kasasi yang diajukan penggugat.

Untuk itu, sejak, Jumat (30/9/11), pemerintah daerah melalui UPT Pantai Lombang, kembali mengelola dan menata Pantai Lombang.

"Pemerintah daerah, akan berusaha secara maksimal, agar kawasan wisata Pantai Lombang menjadi sarana atau perantara peningkatan kesejahteraan bagi warga sekitarnya," tandasnya. (md2)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 06/02/2012

Label: , ,

Hiu Tutul Jadi Tontonan Wisatawan


Mulai Jumat (13/1), warga Kabupaten Sampang dihebohkan munculnya puluhan hiu tutul di Pantai Camplong, Sampang. Hingga Minggu (15/1) pagi tadi, hiu pemakan plankton itu masih menjadi hiburan bagi wisatawan yang sedang menikmati liburan di pantai Camplong.

Sejumlah pengunjung rela menyewa sebuah perahu untuk sekedar melihat dari dekat kawanan ‘Whale Shark’ yang dalam bahasa latinnya juga di sebut Rhincodon Typus tersebut. Puluhan hiu tutul itu terlihat berkelompok di daerah perairan dangkal, jaraknya sekitar 2 kilometer dari garis tepi pantai.

Novan Dwi Fatahillah pengunjung asal Jl Pemuda Keluruhan Rongtengah Kecamatan Kota Sampang mengaku rela merogoh kocek Rp 100 ribu untuk menyewa sebuah perahu. Dia merasa penasaran ingin melihat dari dekat gerombolan hiu tutul yang sedang asyik berenang di tengah pantai tersebut.

“Sebenarnya sayang juga sih harus keluar uang sebanyak itu hanya sekedar melihat hiu tutul hidup di alam bebas. Tapi rasa penasaran saya benar-benar terobati karena ikan hiu berseliweran berenang di tengah laut, ikan berwarna hitam dengan bintik-bintik putih (dots) itu rupanya tidak terusik dengan kehadiran kami. Bahkan hiu berukuran besar yang tampaknya ganas tapi ternyata jinak itu mendekati perahu kami seperti ingin mengajak bermain,” tutur Novan yang mengajak teman-temannya, melihat ikan hiu tutul, Minggu (15/1).

Bahkan ada seorang pengunjung nekat menceburkan diri ke laut dan menaiki punggung sang hiu yang nampak bersahabat dengan manusia itu. Kawanan hiu tutul tersebut diperkirakan jumlahnya lebih dari 20 ekor, ada yang berukuran kecil mempunyai panjang antara 3 meter sampai 5 meter, serta ada juga berukuran lebih besar dengan panjang sekitar 10 meter.

Novan berharap, jangan sampai ada tangan-tangan jahil yang berusaha menangkap hiu itu untuk diambil siripnya. Karena harga siripnya cukup mahal, sehingga sering dibunuh hanya sekedar mengejar keuntungan tanpa memperdulikan kelestarian ekosistem ikan yang hidup dilaut tersebut. “Jika sering ditangkap dan dibunuh, lama-lama kelangsungan hidup hiu tutul itu bisa punah. Padahal spesies hiu itu termasuk salah satu hewan yang dilindungi,” ujarnya.

Menurut nelayan setempat, fenomena alam itu merupakan siklus tahunan karena setiap musim hujan di bulan Januari dan Febuari, hiu tutul tersebut melakukan migrasi untuk mencari planton sebagai makanannya. Diperkirakan hiu itu berasal dari perairan Australia untuk mencari tempat yang hangat. “Ikan hiu itu memang tidak buas dan tidak menganggu nelayan yang sedang mencari ikan di tengah laut. Biasanya hanya beberapa ekor tapi tahun sekarang jumlahnya ternyata cukup banyak,” ucap Jupri, nelayan asal Darma Sejati, Kec. Camplong.

Dia mengaku, malah diuntungkan dengan kehadiran rombongan hiu tutul tersebut, karena perahunya dapat disewakan kepada wisatawan yang ingin melihat hiu dari dekat. “Dalam 2 hari ini saya memperoleh penghasilan dari sewa perahu sebanyak Rp 300 ribu. Lumayan buat tambahan kebutuhan keluarga dirumah,” katanya dengan senyum mengembang.

Fenomena yang sama juga seringkali terjadi di Pantai Bentar Kabupaten Probolinggo. Darcy Bradley pemerhati hiu tutul asal Amerika Serikat, yang pernah meneliti hiu-hiu tutul di Pantai Bentar mengatakan, keberadaan hiu itu sebagai indikator jika perairan di sana terjaga ekosistemnya sehingga banyak ditumbuhi plankton, makanan utama hiu tutul. ”Di Pantai Bentar, hiu-hiu selalu muncul rutin dalam jumlah besar, di Australia biasanya muncul 1-2 ekor saja,” kata wanita muda yang bekerja bekerja untuk situs penelitian hiu tutul, www.whaleshark.org dan sebuah ecocean, lembaga nirlaba (non-profit) di Australia. (rud, isa)

HIU TUTUL

Nama latin : Rhincodon Typus
Ciri-ciri :
  • Panjangnya 3 hingga 12 meter.
  • Memiliki banyak tutul (dots) di sekujur tubuhnya.
  • Pemakan plankton.
Menjadi siklus tahunan, kawanan hiu tutul dari Autralisa migrasi ke Laut Jawa, yang rutin terjadi di Jawa Timur muncul di Pantai Camplong Kabupaten Sampang dan Pantai Bentar di Kabupaten Probolinggo.

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 15/01/2012

Label: , , , ,

Oksigen Giliyang Terbaik di Dunia


From Surabaya Post


Pemerintah Kabupaten Sumenep bertekat menjadikan Pulau Giliyang menjadi lokasi wisata kesehatan, mengingat kandungan oksigen di pulau ini memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan daerah lain di dunia.

Kepala UPT Laboratorium BLH Sumenep, Herry Supratman menjelaskan, kandungan oksigen di Pulau Giliyang berbeda dengan oksigen dilain tempat. Kadar oksigennya, diatas rata-rata, yakni 21%. "Artinya, oksigennya memang bagus dan cocok untuk wisata kesehatan. Ini potensi alam yang tidak ditemukan ditempat lain," kata Herry, Kamis (5/1).

Pulau Giliyang yang masuk wilayah Kecamatan Dungkek tersebut terdapat dua desa, yaitu Desa Bancamara memiliki luas areal 5.15 km2 dan Desa Banraas dengan luas areal 4.00 km2. Dua desa tersebut sama sekali tidak memiliki lahan sawah, melainkan hanya tanah kering.

Pihak BLH, melakukan uji kadar oksigen 27 Desember 2011 lalu, di Desa Bancamara, sekitar 1 km dari pantai. Pengambilan sample pengujian itu dilakukan sekitar pukul 12.05 WIB. "Pengujian itu dilakukan pada siang hari. Jika pada pagi hari, antara pukul 08:00 sampai pukul 11:00 Wib, maka kadar oksigen tentu jauh lebih bagus," ujarnya.

Pada tahun 2006 lalu, peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga menyatakan hal serupa. Kandungan oksigen udara di Pulau Giliyang berkisar antara 3,3 – 4,8% diatas normal. "Pemerintah kabupaten ingin lebih tahu mendalam soal kadar oksigen di Pulau Giliyang itu, makanya diuji kembali. Dan ini baru tahap awal. Pengujian terus akan dilakukan bersama BLH Jatim," terangnya.

Kondisi alam Pulau Giliyang tergolong 'perawan' dan tidak tercemari dengan volusi udara. Selain jumlah kendaraan bermotor terbatas, pola hidup masyarakat setempat masih alami. Mayoritas pekerjaan masyarakat di dua desa itu menjadi nelayan, sebagian kecil mengolah lahan pertanian. "Untuk penerangan pada malam hari sudah ada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)," katanya.

Kondisi pantainya, bersih dan batu karangnya cukup indah. Bila, wilayah Pulau Giliyang dikemas dengan konsep wisata kesehatan, maka hanya satu-satunya lokasi wisata di Jawa Timur yang kondisi oksigennya diatas rata-rata. Sangat wajar, bila masyarakat setempat lebih awet muda dibanding masyarakat yang hidup diluar pulau tersebut. "Memang perlu keseriusan semua pihak bila akan dijadikan lokasi wisata kesehatan," ujarnya.

Untuk menuju Pulau Giliyang tidaklah sulit, dari Pelabuhan Dungkek bisa menggunakan jasa perahu rakyat yang biasa digunakan masyarakat setempat sebagai transportasi laut setiap hari. Kondisi ombak yang bersahabat membuat warga setempat merasa aman beraktivitas. Warga yang menggunakan jasa transportasi perahu rakyat hanya dikenakan biaya sebesar Rp10.000 per orang.

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sumenep, Nur Asyur berharap pemerintah daerah bisa mendatangkan investor yang bisa menanamkan modalnya untuk wisata di Sumenep. "Cukup banyak potensi wisata dikepulauan. Namun, hingga saat ini belum tergarap sama sekali. Padahal, jika potensi laut dan alam kepulauan mampu disajikan dengan baik, maka akan berdampak positif bagi kehidupan warga kepulauan," ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejehtera (PKS) ini sangat mendukung bila pemerintah akan mengembangkan wisata kepulauan yang potensinya tidak kalah dengan daerah lain di Nusantara ini. (md2)

Artikel Terkait:

Sumbaer: Surabaya Post, Kamis, 05/01/2012

Label: , , , , ,

Menikmati Akhir Pekan di Hutan Kera

foto: zonaberita/din
Pengunjung saat memberikan makanan pada kera di Hutan Kera


Jika Anda berpelesir ke Pulau Garam, cobalah nikmati akhir pekan di Hutan Kera. Tepatnya di tepi Pantai Batioh, Kecamatan Banyuates, Sampang, Madura.

Kawasan hutan tersebut masih alami. Pengunjungnya pun tak hanya dari wisatawan lokal, melainkan banyak yang berdatangan dari luar daerah.

Untuk melihat ratusan kera yang menghuni hutan tersebut, pengunjung harus bersuara keras, atau melempar makanan seperti kacang dan jagung.

“Hampir setiap akhir pekan dan libur sekolah, banyak pengunjung yang datang. Baik dari dalam maupun luar daerah,” kata Solehudin, selaku juru kunci Hutan Kera, saat ditemui zonaberita.com, Sabtu (28/5/2011).

Hanya saja, lanjutnya, tidak ada makaan khusus untuk kera-kera di sini. “Makanannya bergantung dari pemberian pengunjung yang datang,” lanjutnya.

Salah seorang pengunjung Hutan Kera, Dinda Kardina, menyatakan amat senang berlibur di Huta Kera. Meski demikian dia berharap ada perhatian dari pemerintah setempat.

“Sayang kan, seharusnya Hutan Kera ini mendapat perhatian, seperti perawatan dan pembenahan, sehingga dapat mendatangkan turis,” ujarnya. (din/isp)

Sumber: ZonaBerita, 28/O5/2011

Label: , , , ,

Suara Gamelan di Tengah Malam Kagetkan Warga

Warga Sumenep, Madura, yang tinggal tidak jauh dari Keraton Sumenep, dibuat penasaran dengan bunyi gamelan dari pendopo agung. Suara sayup gamelan itu selalu terdengar di atas pukul 00.00 WIB. Namun saat didekati, tidak ada aktivitas di dalam pendopo.

Lokasi pendopo agung itu sendiri berada di area keraton yang sekaligus menjadi museum serta kediaman Bupati Sumenep.

Yang menjadi keanehan, suara gamelan dari pendopo agung yang menjadi tempat pertemuan setiap pejabat maupun tamu penting itu selalu terdengar oleh warga setiap malam Jumat dan Selasa.

Dalam sejarah Keraton Sumenep, setiap ada tamu agung selalu disambut dengan gemelan dan tari-tarian khas keraton yakni Muang sangkal yang diperagakan oleh para dayang-dayang.

Bahris (30), seorang warga setempat, yang kesehariannya berjualan pulsa tak jauh dari Keraton Sumenep, mengaku jika bunyi gamelan yang terdengar di atas pukul 00.00 WIB itu dari arah pendopo keraton.

"Awalnya saya menduga ada acara dini hari di pendopo. Setelah didekati ternyata sepi. Tapi, suara gamelan itu tetap terdengar," kata Bahris, saat berbincang-bincag dengan detiksurabaya.com di tokonya, Jalan Dr Soetomo, Sumenep, Rabu (15/12/2010).

Bahris yang tokonya sekitar 50 meter ke pendopo kabupaten Sumenep itu tidak hanya
sekali mendengar bunyi gamelan di tengah malam. Melainkan hampir setiap malam Jumat dan Selasa.

"Kalau malam Jumat legi dapat dipastikan bunyi gamelan itu selalu terdengar," ungkapnya.

Hal lain yang kelihatan aneh tambah Bahris, yakni sesekali ada sinar memanjang yang datang dari semua arah dan jatuh di atas pendopo. "Sinar itu seperti meteor jatuh. Jaraknya sekitar 100 meter ke tanah," ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sumenep, M Nasir, membenarkan jika sebagian orang sering mendengar bunyi gamelan di tengah malam dari arah pendopo agung. (Moh Hartono)

Sumber: detikSurabaya, Rabu, 15/12/2010

Label: , , ,

Seekor Ikan Paus Terdampar di Pantai Sumenep


ilustrasi
Seekor ikan paus dengan panjang sekitar 20 meter ditemukan terdampar di Pantai Dusun Baru, Desa Banraas, Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

"Warga kami menemukan ikan paus tersebut sudah dalam kondisi membujur di Pantai Dusun Baru sekitar pukul 06:00 WIB," kata Kepala Desa Banraas, Masdawi melalui telepon, Kamis (21/10).

Saat ini, kata dia, ikan paus tersebut dibiarkan membujur begitu saja dan menjadi tontonan warga. "Ikan paus tersebut belum diapa-apakan. Warga kami hanya melihat dari dekat. Panjang ikan paus tersebut 20 meter lebih," kata Masdawi menambahkan.

Sumber: Republika, Kamis, 21 Oktober 2010

Label: ,

'Nangka Bom' Gegerkan Warga Lobuk

Buah nangka nyaris tanpa kulit mengegerkan warga Dusun Lobuk, Desa Dasuk, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura. Kelainan dari pohon nangka ini, diketahui sejak buahnya berumur 2 bulan.

Saat ini, pohon nangka milik Kholis warga setempat, telah berumur 13 tahun. Dan baru pertama kalinya berbuah. “Baru kali ini pohon nangka berbuah. Semuanya ada delapan buah dan nyaris tanpa kulit,” ujarnya pada zonaberita.com, selasa (23/11/2010).

Sebelumnya, si pemilik pohon nangka, mengaku selama ini tidak pernah mempunyai firasat apapun.

Jika dilihat sekilas, pohon nangka milik Kholis tidak jauh beda dengan pohon nangka pada umumnya. Akan tetapi, dilihat lebih seksama, maka terlihat jelas keanehan dan keunikan dari buah nangka ini.

Buah nangka ini hampir bisa dikatakan tak berkulit. Atau secara kasat mata, biji–biji nangka nampak terlihat jelas dari luar tanpa ada kulit yang membungkusnya.

warga sekitar kemudian memberi nama buah nangka ini dengan sebutan 'Nangka Bom' Dikarenakan buahnya yang unik, aneh dan terlihat seperti akan meletus karena kelihatan biji dalamnya. (nen/isp)

Sumber: zonaberita.com, Selasa, 23 Nopember 2010

Label: , , , , ,

Delapan Kecamatan di Pamekasan Rawan Bencana

Delapan dari 13 kecamatan di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura, masuk kategori rawan bencana alam.

“Ini karena di delapan kecamatan tersebut selalu saja terjadi bencana setiap tahunnya,” kata Bupati Pamekasan Kholilurrahman, Kamis (4/3/2010).

Delapan kecamatan tersebut adalah, Pademawu, Proppo, Pegantenan, Palengaan, Larangan, Kadur, Galis dan Kecamatan Pakong.

Jenis bencana yang terjadi di wilayah tersebut kebanyakan berupa angin puting beliung, tanah longsong dan kebakaran. “Di tahun 2010 ini, bencana alam yang banyak terjadi angin puting beliung,” ucapnya.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) Pamekasan, bencana angin puting beliung menempati urutan pertama dibanding jenis bencana alam lainnya, seperti banjir, kebakaran dan tanah longsor.

Dari jumlah total 83 kejadian bencana alam yang terjadi di Pamekasan selama tahun 2008 lalu, 49 kejadian diantara berupa bencana alam angin puting beliung. Korban jiwa akibat bencana alam tersebut mencapai 483 orang, dan 10 orang di antaranya meninggal dunia.

“Jumlah total kerugian material mencapai Rp 37 juta, sesuai dengan jumlah bantuan yang disalurkan kepada korban bencana oleh Pemkab Pamekasan,” kata Kepala Disosnakertrans Herman Priyanto.

Saat ini, lanjut Herman, korban bencana diperkirakan lebih banyak lagi. Sebab dalam dua bulan saja, kerugian material sudah mencapai Rp 36 juta lebih.

“Bantuan korban bencana alam yang kami salurkan kepada korban bencana di delapan kecamatan itu jumlah totalnya Rp 36.050.000,00, hampir sama dengan bantuan yang disalurkan pemkab sepanjang tahun 2008 lalu,” papar Herman.

Sementara kecamatan yang masuk kategori aman dari peristiwa bencana alam ialah kecamatan Kota Pamekasan. Selama dua tahun terakhir ini, di wilayah Kecamatan Kota tidak pernah terjadi bencana alam yang menelan korban jiwa ataupun jenis kerusakan material lainnya.

Sumber: Surya, Kamis, 4 Maret 2010

Label: , , , ,

Tanam Seribu Mangrove di Lahan Kritis

Penanaman bibit mangrove itu, selain melibatkan instansi terkait seperti Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Peternakan, Badan Ketahanan Pangan dan pihak Kelurahan Bancaran, juga melibatkan para pelajar dan masyarakat setempat.

Warga, pelajar, dan pegawai berbagai instansi itu saling bahu-membahu menanam bibit mangrove di sepanjang Sungai Bancaran. Tak peduli lumpur di sekitar sungai mengotori badan dan pakaian, mereka tetap semangat menancapkan bibit mangrove.

Menurut Kepala Kehutanan dan Perkebunan Bangkalan, Ir H Abdul Razak, selain melaksanakan amanah yang disampaikan oleh Presiden RI agar seluruh daerah ikut gerakan menanam pohon (penghijauan), aksi penanaman 1.000 bibit mangrove tersebut juga ditujukan untuk mengurangi abrasi yang terjadi di sekitar pantai dan sungai.

”Pemkab memang sengaja memilih penanaman mangrove di pantai, karena wilayah Kabupaten Bangkalan dikelilingi lautan sehingga potensi terjadinya abrasi juga sangat besar,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Razak, aksi penanaman mangrove itu juga untuk memperbaiki lingkungan Sungai Bancaran yang mulai terjadi abrasi. Tepian sungai mulai terkikis sehingga membuat kondisi sungai menjadi dangkal. Jika dibiarkan, tingkat abrasi akan semakin parah. Apalagi di sekitar tepi sungai sudah banyak rumah penduduk, akses jalan dan pasar.. “Dengan penanaman mangrove ini diharapkan dapat mengurangi bahkan mencegah terjadinya abrasi,” harapnya.

Fungsi dari hutan mangrove, kata Razak, tidak hanya untuk mengurangi dan mencegah terjadinya abrasi. Hutan mangrove dapat meremajakan kembali keadaan ekosistem di sekitar pantai. Selain itu juga mencegah terjadinya interusi. Saat ini di wilayah kota banyak terjadi interusi. Banyak air sumur warga yang rasanya agak asin, padahal letaknya jauh dari pantai. ”Ini juga menjadi alasan kami untuk terus merehabilitasi lahan kritis di sekitar pantai dengan penanaman mangrove,” tandasnya.

Razak menjelaskan, penanaman mangrove tidak hanya kali ini saja dilakukan pihak Pemkab Bangkalan. Sebelumnya, pemkab telah merehabilitasi sekitar 50 hektare lahan kritis di sepanjang Pantai Bancaran menjadi hutan mangrove. "Dari hasil suvei yang dilakukan, luas lahan ktritis yang masih perlu direhabilitasi sekitar 1.000 Hektare," ungkap Razak. “Setelah penanaman mangrove, tepian sungai juga akan kami hijaukan dengan penanaman pohon besar agar tanah di sekitar tepi sungai tidak longsor,” sambungnya.

Untuk melestarikan dan menjaga pohon mangrove yang telah ditanam, kata Razak, merupakan tanggung jawab bersama. Selain instansi terkait, masyarakat juga harus terlibat, terutama para kelompok nelayan. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 28 Januari 2010

Label: , , , ,

Nelayan Jaring Hiu Tutul

Masyarakat nelayan Kampung Bandaran, Bangkalan, sempat digemparkan tertangkapnya ikan hiu oleh nelayan setempat. Ikan hiu tutul itu tersangkut jaring nelayan yang melaut di perairan Selat Madura.

Ikan hiu yang panjangnya 4 meter dan diameter 1 meter itu, Selasa (29/12) ‘diparkir’ di pantai kmpung nelayan Bandaran. Hiu yang sudah mati itu ditambatkan di patok – patok tempat perahu nelayan. Agar posisi ikan tidak berpindah tempat dibawa air laut.

Kini ikan itu menjadi tontonan warga setempat. Bahkan anak – anak terhibur dengan ikan besar yang dikenal sebagai binatang predator tersebut. Anak–anak dengan bersenda gurau bermain – main dengan ikan yang belum berbau, meski sudah mati. Kadang-kadang ikan seberat 5 kuintal kg itu dinaiki, dan disiram air laut.

Ikan hiu tutul ini tersangkut jaring nelayan, Musni (35) warga Kampung Bandaran, Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan. ”Saya kaget begitu mengetahui ada ikan hiu di jaring saya. Saya kira masih hidup, ternyata sudah mati. Sehingga saya tidak khawatir lagi,” katanya.

Musni berencana menjual hiu tutul dengan harga yang pantas. “Hiu ini sudah ditawar pembeli seharga Rp 300 ribu. Saya tidak melepasnya karena terlalu murah, masih mencari pembeli lainnya yang mau dengan harga tinggi,” ujarnya. (kas)

Sumber: Surabaya Pos, Selasa, 29 Desember 2009

Label: , , ,

Tumbuhkan Kesadaran Bahaya Merokok

Itulah kesimpulan umum dari Seminar Sehari Bahaya Rokok yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Pamekasan, Kamis (17/12) lalu, di Ruang Pertemuan SMKN 3 Pamekasan. Seminar yang dibiayai dari dana Bagi hasil Cukai (BHC) tahun 2009 itu diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Selain mendatangkan pemateri pakar kesehatan dari Dinas Kesehatan Jatim, juga mendatangkan pakar hukum agama dari STAIN Pamekasan.

Selain seminar, kegiatan lain yang juga didanai dari dana bagi hasil cukai adalah melakukan sosialisasi bahaya rokok melalui penyebaran spanduk, poster, baliho dan sebagainya. Juga melalui siaran media elektroknik, termasuk talk show di berbagai radio.

Sosialisasi dan penetapan kawasan tanpa rokok (KTR) di sekolah dan pesantren, serta pembangunan smoking area sebanyak 19 buah, di antaranya di terminal, rumah sakit, Kantor Pos, Puskesmas dan kantor milik pemerintah lainnya.

Kepala Bidang Pengembangan Sumberdaya Kesehatan Dinas Kesehatan Pamekasan, Drs HM Ismail Bey Apt MSi, mengatakan sulit melarang masyarakat Pamekasan untuk tidak merokok. Selain merokok menjadi kebiasaan masyarakat, tembakau juga menghasilkan cukai yang cukup besar dan selama ini pula tembakau telah menjadi mata pencaharian utama sebagian warga Pamekasan.

“Satu sisi merugikan kesehatan, namun di sisi yang lain menjadi penghasilan masyarakat. Karena itu, saya setuju dengan kesimpulan seminar kemarin bahwa tidak perlu mempersoalkan hukum merokok. Mari kita ambil sisi yang lain bahwa untuk mengurangi rokok dengan mengatakan bahwa rokok jelas merugikan kesehatan dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Yang dibutuhkan, kata Ismail Bey, masyarakat memahami bahwa merokok merugikan. Selain itu, perlu upaya untuk bisa memiliki Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang selama ini menjadi prioritas pemerintah. Dari 10 unsur PHBS, salah satunya hidup tidak merokok. Selain itu, juga perlu upaya pemanfaatan tembakau untuk produk non rokok.

“Mari kita gunakan momentum Tahun Baru Hijriyah 1431 H ini untuk tidak merokok. Untuk memulainya harus dari para pejabat pemerintah selaku penentu kebijakan atau pihak terkait lainnya, misalnya komite kesehatan, tenaga kesehatan, maupun komunitas pemerhati kesehatan,” paparnya.

Saat ini Indonesia berada pada peringkat kelima dunia dalam hal pengguna rokok. Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia pengguna rokok terbesar. Secara ekonomi, rokok juga merugikan karena pemasukan dari cukai rokok lebih kecil dibanding dana yang dikeluarkan untuk konsumsi dan mengatasi dampak negatif rokok, yang mencapai 7,5 kali dari dana bagi hasil cukai yang diterima negara.

Kendala utama mengurangi kebiasaan merokok karena masyarakat masih menjadikan tembakau sebagai komoditas pertanian andalan. Pada saat yang bersamaan juga masih banyaknya pejabat belum memberi contoh menghentikan kebiasan merokok. Solusinya adalah mengupayakan diversifikasi pemanfaatan tembakau untuk non rokok, juga perlunya kesadaran para pejabat publik untuk tidak merokok sebelum menyarankan orang lain tidak merokok.

“Soal diversifikasi pemanfaatan tembakau untuk non rokok, misalnya, bisa dipakai untuk minyak atsiri, pestisida maupun untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi. Yang perlu kita tekankan juga adalah apakah para pejabat mau memberi contoh untuk tidak merokok? Nah, inilah di antara persoalan kita. Tapi, saya yakin itu akan bisa kita dilakukan selama ada upaya,” ujarnya.

Untuk itu, Ismail Bey memberikan beberapa tips untuk bisa berhenti merokok, antara lain bersihkan rumah dari atribut rokok. Bersabar jika dalam proses berhenti merokok ada perselisihan dengan keluarga. Memberi ucapan selamat pada keluarga yang berhenti merokok. Berhenti merokok sama dengan kehilangan sahabat, karena itu harus berusaha menggantikannya. Mengajak keluarga pada kesibukan pada waktu biasa merokok untuk mengurangi gejala ketagihan. Bagi guru sebagai pendidik dan penggerak masyarkat sangat dibutuhkan kepeduliannya untuk membantu program ini baik bagi siswa maupun masyarakat luas. (adv)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 23 Desember 2009

Label: , , ,