Delegasi APEC 2013 di Surabaya Disuguhi Karapan Sapi

Add caption

Delegasi peserta Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 yang sedang melaksanakan persidangan di Kota Surabaya, oleh dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, bakal disuguhi atraksi Karapan Sapi.

Hal itu disampaikan Wiwiek Widawati kepala Disbudpar Surabaya, Kamis (11/4/2013) saat ditemui suarasurabaya.net di ruang kerjanya menyoal agenda kegiatan untuk memeriahkan APEC 2013.

“Kami memang akan mempertontonkan Karapan Sapi bagi segenap delegasi peserta APEC 2013 di Surabaya, seagai satu diantara rangkaian kegiatan memperkenalkan seni dan budaya serta tradisi daerah,” terang Wiwiek.

Penampilan tradisi khas warga masyarakat Madura tersebut dijadwalkan akan digelar pada Sabtu (13/4/2013) mendatang di Pantai Ria Kenjeran Surabaya, mulai sekitar pukul 15.00 WIB.

Keberadaan Karapan Sapi, lanjut Wiwiek memang sudah cukup dikenal oleh masyarakat nasional maupun internasional. Turis manca negara kerap disuguhi atraksi khas Madura tersebut. Hal ini juga terkait dengan rutinitas digelarnya pertandingan Karapan Sapi di Madura.

Oleh karena itu, sebagai satu diantara upaya untuk tetap melestarikan seni tradisi dan budaya khas daerah, maka dijadwalkan para delegasi peserta APEC 2013 yang datang dari sekurangnya 21 negara tersebut, diajak menyaksikan Karapan Sapi.

“Kesempatan ini juga kami manfaatkan untuk terus berupaya memperkenalkan berbagai kesenian, budaya, sera tradisi yang ada, agar lebih dikenal masyarakat internasional. Dengan demikian, kami tetap butuh dukungan banyak pihak sekaligus juga dukungan masyarakat luas,” pungkas Wiwiek Widawati saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Kamis (11/4/2013).(tok/edy)

Sumber: suarasurabaya.net

Label: ,

Kerapan Sapi di Madura

Madura tidak hanya terkenal karena hasil garamnya, namun lebih daripada itu Pulau Madura dikenal dengan tradisi adu pacu sapinya yang disebut “kerapan”. Kebiasaan memacu binatang peliharaan di arena memang sudah menjadi kegemaran penduduk Madura sejak dahulu kala. Di Madura tidak hanya hewan peliharaan sapi yang diadu cepat, tetapi juga kerbau seperti yang terdapat di Pulau Kangean. Adu cepat kerbau itu disebut “mamajir”. Sapi atau kerbau yang adu cepat itu, dikendarai oleh seorang joki yang disebut tukang tongko. Tukang tongko tersebut berdiri di atas “kaleles” yang ditarik oleh sapi atau kerbau pacuan.

Pengertian dan Asal Mula

Bagi orang Madura, pengertian kata karapan atau kerapan adalah adu pacu sapi memakai kaleles. Perkaitan kerapan diartikan sebagai adu/pacuan sapi karena pacuan binatang lain seperti kerbau tidak disebut kerapan, tetapi mamajir. Oleh sebab itu tidak pernah dikenal istilah kerapan kerbau.

Kata kerapan berasal dari kata kerap atau kirap yang artinya berangkat dan dilepas bersama-sama atau berbondong-bondong. Ada pula anggapan lain yang menyebutkan bahwa kata kerapan berasal dari bahasa Arab “kirabah” yang berarti persahabatan. Dalam pengertiannya yang umum sekarang kerapan adalah suatu atraksi lomba kecepatan sapi yang dikendarai oleh joki dengan menggunakan kaleles.

Lahirnya kerapan sapi di Madura nampaknya sejalan dengan kondisi tanah pertanian yang luas di Madura. Tanah-tanah pertanian itu dikerjakan dengan bantuan binatang-binatang peliharaan seperti sapi dan kerbau. Karena banyaknya penduduk yang memelihara ternak, maka lama kelamaan muncullah pertunjukan kerapan sapi.

Ada dugaan bahwa kerapan sapi sudah ada di Madura sejak abad ke 14. Disebutkan ada seorang kyai bernama Kyai Pratanu pada jaman dulu yang telah memanfaatkan kerapan sapi sebagai sarana untuk mengadakan penjelasan tentang agama Islam. Oleh sebab itu ajaran-ajarannya yang filosofis dihubungkan dengan posisi sapi kanan (panglowar) dan sapi kiri (pangdalem) yang harus berjalan seimbang agar jalannya tetap “lurus”, agar manusia pun dapat berjalan lurus.

Cerita lain mengatakan, pada abad ke-14 di Sapudi memerintahkan Panembahan Wlingi. Ia banyak berjasa dalam menanamkan cara-cara berternak sapi yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya, Adi Poday. Sang putra lama mengembara di Madura daratan dan ia memanfaatkan pengalamannya di bidang pertanian di Pulau Sapudi sehingga pertanian semakin maju.

Karena pertanian sangat maju pesat, maka dalam menggarap lahan itu para petani seringkali berlomba-lomba untuk menyelesaikan perkerjaannya. Kesibukan berlomba-lomba untuk menyelesaikan pekerjaan itu akhirnya menimbulkan semacam olahraga atau lomba adu cepat yang disebut karapan sapi.

Berbagai macam “kerapan sapi”

Di Madura dijumpai beberapa macam “kerapan sapi” yang memberikan klasifikasi kepada jenis dan kategori peserta karapan tersebut. Berbagai macam karapan sapi itu adalah sebagai berikut:

Kerap Keni' (Kerapan Kecil)

Kerapan jenis ini diadakan pada tingkat kecamatan atau kewedanaan. Para peserta adalah yang berasal dari daerah yang bersangkutan. Sapi kerap dari luar tidak diperbolahkan turut serta. Jarak tempuh hanya 110 meter. Dalam kategori ini yang diutamakan adalah kecepatan dan lurusnya. Kerap keni ini biasanya diikuti oleh sapi-sapi kecil dan baru belajar. Pemenangnya merupakan peserta untuk mengikuti kerap raja.

Kerap Rajha (Kerapan Besar)

Kerapan besar ini disebut juga kerap negara, umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Ukuran lapangan 120 meter. Pesertanya adalah juara-juara kecamatan atau kewedanaan.

Kerap Onjhangan (Kerapan Undangan)

Kerapan undangan adalah pacuan khusus yang diikuti oleh peserta yang diundang baik dari dalam kabupaten maupun luar kabupaten. Kerapan ini diadakan menurut waktu keperluan atau dalam acara peringatan hari-hari tertentu.

Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)

Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesdenan diadakan di kotaPamekasan pada hari Minggu, merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.

Kerap jhar-ajharan (kerapan latihan)

Kerapan latihan tidak tertentu harinya, bisa diadakan pada setiap hari selesai dengan keinginan pemilik atau pelatih sapi-kerap itu. Pesertanya adalah sapi lokal.

Persyaratan sapi-kerap tidaklah banyak, asalkan sapinya kuat dan diberi makanan yang cukup, dilatih lari, dipertandingkan dan diiringi dengan musik saronen. Konon beberapa pemilik sapi-kerap juga melengkapi kehebatan sapinya dengan menggunakan mantra-mantra serta sajian tertentu. Sesungguhnya hal ini tidak dibenarkan dalam aturan sebuah lomba atau kerapan.

Pelaksanaan Kerapan

Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan, berparade agar dikenal. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi karena sudah ditambatkan, juga merupakan arena pamer akan keindahan pakaian/hiasan sapi-sapi yang akan berlomba. Sapi-sapi itu diberi pakaian berwarna-warni dan gantungan-gantungan genta di leher sapi berbunyi berdencing-dencing. Setelah parade selesai, pakaian hias mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.

Maka dimulailah babak penyisihan, yaitu dengan menentukan klasemen peserta, peserta biasanya pada babak ini hanya terpacu sekedar untuk menentukan apakah sapinya akan dimasukkan “papan atas” atau “papan bawah”. Hal ini hanyalah merupakan taktik bertanding antarpelatih untuk mengatur strategi.

Selanjutnya dimulailah ronde penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan memakai sistem gugur. Sapi-sapi kerap yang sudah dinyatakan kalah tidak berhak lagi ikut pertandingan babak selanjutnya.

Dalam mengatur taktik dan strategi bertanding ini masing-masing tim menggunakan tenaga-tenaga trampil untuk mempersiapkan sapi-sapi mereka. Orang-orang itu dikenal dengan sebutan: (1) tukang tongko', joki yang mengendalikan sapi pacuan; (2) tukang tambeng, orang yang menahan kekang sapi sebelum dilepas; (3) tukang gettak, orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba sapi itu melesat bagaikan abak panah ke depan; (4) Tukang tonja, orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi agar patuh pada kemauan pelatihnya; (5) tukang gubra, anggota rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapinya dari tepi lapangan. Mereka tidak boleh memasuki lapangan dan hanya sebagai suporter.

Demikian sekilas tentang kerapan sapi di Madura yang sudah merupakan acara hiburan tradisi yang masih lestari sebagai konsumsi wisatawan, tetapi juga telah membawa akibat positif bagi masyarakat Madura di bidang ekonomi, kreatifitas budaya dan sekaligus juga telah melestarikan penghargaan masyarakat terhadap warisan budaya nenek moyang.

Tulisan ini diambil dari:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Label: , ,

Mengenal Kerapan Sapi

Sekedar mengingatkan, bahwa ada artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan, diklaim, dan/atau dieksploitasi secara komersial oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain

Kerapan atau karapan sapi adalah satu istilah dalam bahasa Madura yang digunakan untuk menamakan suatu perlombaan pacuan sapi. Ada dua versi mengenai asal usul nama kerapan. Versi pertama mengatakan bahwa istilah 'kerapan' berasal dari kata 'kerap' atau 'kirap' yang artinya 'berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong'. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa kata 'kerapan' berasal dari bahasa Arab 'kirabah' yang berarti 'persahabatan'. Namun lepas dari kedua versi itu, dalam pengertiannya yang umum saat ini, kerapan adalah suatu atraksi lomba pacuan khusus bagi binatang sapi. Sebagai catatan, di daerah Madura khususnya di Pulau Kangean terdapat lomba pacuan serupa yang menggunakan kerbau. Pacuan kerbau ini dinamakan mamajir dan bukan kerapan kerbau.

Asal usul kerapan sapi juga ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan bahwa kerapan sapi telah ada sejak abad ke-14. Waktu itu kerapan sapi digunakan untuk menyebarkan agama Islam oleh seorang kyai yang bernama Pratanu. Versi yang lain lagi mengatakan bahwa kerapan sapi diciptakan oleh Adi Poday, yaitu anak Panembahan Wlingi yang berkuasa di daerah Sapudi pada abad ke-14. Adi Poday yang lama mengembara di Madura membawa pengalamannya di bidang pertanian ke Pulau Sapudi, sehingga pertanian di pulau itu menjadi maju. Salah satu teknik untuk mempercepat penggarapan lahan pertanian yang diajarkan oleh Adi Polay adalah dengan menggunakan sapi. Lama-kelamaan, karena banyaknya para petani yang menggunakan tenaga sapi untuk menggarap sawahnya secara bersamaan, maka timbullah niat mereka untuk saling berlomba dalam menyelesaikannya. Dan, akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga lomba adu cepat yang disebut kerapan sapi.

Macam-macam Kerapan Sapi

Kerapan sapi yang menjadi ciri khas orang Madura ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:

1. Kerap Keni' (kerapan kecil)

Kerapan jenis ini pesertanya hanya diikuti oleh orang-orang yang berasal dari satu kecamatan atau kewedanaan saja. Dalam kategori ini jarak yang harus ditempuh hanya sepanjang 110 meter dan diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih. Sedangkan penentu kemenangannya, selain kecepatan, juga lurus atau tidaknya sapi ketika berlari. Bagi sapi-sapi yang dapat memenangkan perlombaan, dapat mengikuti kerapan yang lebih tinggi lagi yaitu kerap raja.

2. Kerap Raja (kerapan besar)

Perlombaan yang sering juga disebut kerap negara ini umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Panjang lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara kerap keni.

3. Kerap Onjangan (kerapan undangan)

Kerap onjangan adalah pacuan khusus yang para pesertanya adalah undangan dari suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Kerapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu.

4. Kerap Karesidenen (kerapan tingkat karesidenan)

Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesidenan diadakan di Kota Pamekasan pada hari Minggu, yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan.

5. Kerap jar-ajaran (kerapan latihan)

Kerapan jar-jaran adalah kerapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum diturunkan pada perlombaan yang sebenarnya.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Permainan Kerapan Sapi

Kerapan sapi adalah salah satu jenis permainan rakyat yang banyak melibatkan berbagai pihak, yang diantaranya adalah: (1) pemilik sapi pacuan; (2) tokang tongko' (orang yang bertugas mengendalikan sapi pacuan di atas kaleles); (3) tokang tambang (orang yang menahan tali kekang sapi sebelum dilepas); (4) tokang gettak (orang yang menggertak sapi agar pada saat diberi aba-aba dapat melesat dengan cepat); (5) tokang tonja (orang yang bertugas menarik dan menuntun sapi); dan (6) tokang gubra (anggora rombongan yang bertugas bersorak-sorak untuk memberi semangat pada sapi pacuan).

Jalannya Permainan

Sebelum kerapan dimulai semua sapi-kerap diarak memasuki lapangan. Kesempatan ini selain digunakan untuk melemaskan otot-otot sapi, juga merupakan arena pamer keindahan pakaian dan hiasan dari sapi-sapi yang akan dilombakan. Setelah parade selesai, pakaian dan seluruh hiasan itu mulai dibuka. Hanya pakaian yang tidak mengganggu gerak tubuh sapi saja yang masih dibiarkan melekat.

Setelah itu, dimulailah lomba pertama untuk menentukan klasemen peserta. Seperti dalam permainan sepak bola, dalam babak ini para peserta akan mengatur strategi untuk dapat memasukkan sapi-sapi pacuannya ke dalam kelompok 'papan atas' agar pada babak selanjutnya (penyisihan), dapat berlomba dengan sapi pacuan dari kelompok 'papan bawah'.

Selanjutnya adalah babak penyisihan pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Dalam babak penyisihan ini, permainan memakai sistem gugur. Dengan perkataan lain, sapi-sapi pacuan yang sudah dinyatakan kalah, tidak berhak lagi ikut dalam pertandingan babak selanjutnya. Sedangkan, bagi sapi pacuan yang dinyatakan sebagai pemenang, nantinya akan berhadapan lagi dengan pemenang dari pertandingan lainnya. Begitu seterusnya hingga tinggal satu pemain terakhir yang selalu menang dan menjadi juaranya.

Nilai Budaya

Permainan kerapan sapi jika dicermati secara mendalam mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, ketertiban dan sportivitas.

Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan sapi, sehingga menjadi seekor sapi pacuan yang mengagumkan (kuat dan tangkas). Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor sapi aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena kerapan sapi.

Nilai kerja sama tercermin dalam proses permainan itu sendiri. Permainan kerapan sapi, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan kerapan sapi dapat terselenggara dengan baik.

Nilai persaingan tercermin dalam arena kerapan sapi. Persaingan menurut Koentjaraningrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan kerapan sapi berusaha sedemikian rupa agar sapi aduannya dapat berlari cepat dan mengalahkan sapi pacuan lawan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar sapinya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini.

Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan kerapan sapi itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk kerapan sapi, ketertiban selalu diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran sapi-sapi pacuannya untuk diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan.

Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (Jokothole)

Sumber: Catatan Anak Rantau, 25 Juni 2009

Label:

Hitting the Bull's Eye with Balsam

Photo The Jakarta Post/W
Tough love: A bull owners sits with his bull, while waiting for one of the races to start.

The Sonok bull has become quite a cash cow for Madura locals over the years. A rub of balsam up its anus and into its eyes before racing the beast almost certainly guarantees a hefty prize.

By Indra Harsaputra

A long time ago, bulls in Madura were mainly used for farming work, says Madura cultural observer Zawawi Imron.

“When cattle farmers adopted the lotrengan [social gathering] culture, they took an interest in breeding stronger beasts and raising their productivity in the rice fields,” he tells The Jakarta Post, adding that the cattle farmers’ habit of getting together soon led to the Sonok bull contest.

The Sonok bull rates as a superior animal because of its large hump, broad chest, black tail and long body, and fetches high prices at market as a result.

A four-month-old male calf for instance sells for Rp 4 million (US$400), while the semen of a Sonok bull can fetch up to Rp 30 million.

Adult Sonok bulls that have won many contests can go under the hammer for Rp 100 million to Rp 125 million.

Pamekasan historian Sulaiman Sadik says the first known mention of the bull races was in the 13th century. Prince Katandur, also known as Sayyid Ahmad Baidawi and the grandson of the Sunan Kudus, introduced salaga (the plow pulled by bulls in rice paddies) bull races as a post-harvest ritual.

“There are no historical records mentioning when the salaga races started…today’s bull races have evolved into a cruel activity,” Sulaiman says.

To ensure a bull runs its fastest, the riders will typically rub balsam into its anus and eyes prior to the race, and during the event repeatedly hit the animal with a nail-studded stick. No cock-and-bull story.

Sulaiman traces the changing use of cattles in Madura to structural changes, such as bouts of prolonged drought, which would have forced many people to leave their farms.

“However, changes in the way that cattle are used illustrate the development of the Madurese community, which is dynamic and has faced many changes over the years,” he says.

Munif Sayuti, a scholar of Madurese culture, says the unethical treatment of the Madura bulls in the race has long been of source of concern. Four years ago, activists attempted to get bull owners to change the way they raced their animals.

Teamwork: A tongko (jockey) rests on his keleles (sled) before the start of the bull’s race. Sleds have evolved over time, with the latest ones now much lighter yet more rigid, to minimize the weight pulled by the bull and hold the weight of the tongko.

“But that approach failed, so we ended up having to get an edict issued forbidding cruelty toward animals, particularly the practices used in the bull races,” he says. “These practices deviate from Islamic law.”

Munif adds the edict did not ban the bull race outright, given that it had long been part of the original culture of Madura. However, in Islamic law violence and cruelty cannot be tolerated, whether against animals or humans.

Tajul Arifin, from the regency administration of Pamekasan in Madura, says it wasn’t just the clergy who were concerned. The government also tried to take the bull by the horns and stop this unethical treatment of animals by providing prizes for the losing bulls in a race.

“That way it’s not just the winners who get all the prizes,” he says.

“To ensure the losers don’t feel ashamed, we also give them prizes. This is also so there’s no conflict between the bull owners after the race.”

Tajul adds the winners get prizes such as pickup trucks and motorcycles, while the losers also get motorcycles.However, some bull-headed owners are refusing to play ball, mostly because of the prestige that comes with winning races.

Ahmad Katijo, a bull owner from Pamekasan, says using the balsam and nail-studded sticks is the only way to hit the bull’s eye, so to speak, and ensure the bull wins, adding that otherwise the animal “is too lazy to run”.

“Winning determines the price of the animal,” he says.

“If the bull owners now start changing the way things are done, well that’d be silly, because to even enter a bull race you’d need to have spent tens of millions of rupiah. If you lose the race, you lose your money.”

To win, says Ahmad, a bull owner must select the right kaleles (sled) for the tongko (jockey). The sled has also evolved over time, with the latest ones now much lighter and yet more rigid, to minimize the weight pulled by the bull and hold the weight of the tongko.

A bull owner must also look after its animals properly, by providing adequate food and herbal medicine. Kerap bulls used in the races must also have special characteristics, such as a broad chest, small loins, long back, good hooves, upright and sturdy posture and a long tail.

The animals’ temperament also has to meet certain requirements. Fans of the bull race claim that kerap bulls come in three variations: 'hot and quick', meaning they respond when given buttered chili powder and drugs to arouse them; 'cold', meaning they have to be hit continually over the course of the race, and kowat kaso, meaning they are tired and must first be 'heated'.

Tradition lives on: Children watch bulls being prepared for the race.

Apart from the tongko, the critical factors in winning a bull race include the role of the tambeng (the person whose duties are to hold, open and release the restraints for the race), the gertak (a 'bully' who taunts the animal to get it to run faster), the gubra (a sort of cheer squad to taunt the bull from the sidelines), the ngeba tali (the person holding the bull’s reins from start to finish), the nyandhak (the person in charge of stopping the bull after it crosses the finish line), and the tonja (the person in charge of leading the bull).

“If you’re horrified watching a [normal] bull race, you should stay clear of a Sonok bull race,” says Hatib, a judge in the Sonok contest.

He adds that in addition to a bull’s agility and appearance, its posture must also meet the requirements.

In preparation for the race, the bull owners give their animals a monthly herbal concoction of corn flour, palm sugar, onions, onion shoots, tamarind, coconut and eggs. Twice a month, Sonok bulls also get fresh milk mixed with the yolks of 25 eggs.

Bull owner Armuji says that apart from training bulls to walk the right way, stand upright and look fit, he also has his animals bathed twice a day. The bull shed must always be kept clean, he added.

For the Indonesian people, the races and the Sonok cattle reverberate as part of the rich culture of the country.

Sumber: The Jakarta Post, Fri, 01/22/2010

Label:

Kerapan Penderitaan Sapi

Tradisi karapan sapi Madura yang awalnya hanya dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk kegembiraan usai panen, saat ini telah menjadi ajang eksploitasi dan penyiksaan terhadap binatang pemakan rumput ini demi kesenangan dan kebanggaan pemilik dan "pebotoh" pemasang taruhan.

Jika awalnya kerapan hanya menggunakan cambuk agar sapi-sapi itu mau berlari kencang, saat ini peralatan itu mulai ditinggalkan dan diganti tongkat penuh paku. Bahkan sebelum dipacu, sekujur badan dan mata sapi tersebut diolesi balsam, dikucuri spirtus dan cuka untuk menimbulkan sakit dan kemarahan sapi hingga dia berlari bagai mengamuk.

Dengus nafas sapi dan darah segar yang mengucur dari luka bekas cakaran tongkat berpaku sang joki silih berganti, kibasan ekor yang bergerak ke kiri dan kanan serta airmatanya yang mengalir, menggambarkan betapa binatang itu menahan sakit, perih dan panas yang amat sangat. Kesemuanya terbalut dengan teriakan pemilik, pebotoh, dan penonton yang kegirangan menyaksikan laju binatang yang sudah dipasangkan dengan "keleles" itu.

Bunyi tabuhan dan Sronen saling bersahutan mengiringi pasangan sapi juara yang diarak mengelilingi Stadion Soenarto Hadiwidjojo tempat pelaksanaan kerapan. Ribuan penonton, bersuka cita, menari mengikuti irama tabuhan dan sronen. Suasana itu sangat kontras dengan apa yang dialami sapi-sapi tersebut.

Kegembiraan di atas kepedihan? mungkin merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi dalam setiap ajang karapan sapi yang sering di gelar di pulau garam tersebut.

Namun begitu, penderitaan selalu ada akhirnya. Penderitaan sang jawara segera berakhir ditangan sang jagal, ketika predikat pecundang telah disandangnya.

Foto dan Teks : Saiful Bahri

Sumber: AntaraJatim, Sabtu, 29 Agst 2009

Label:

Acara Karapan Sapi Disbudparta Surabaya di Kenjeran Sia-sia

Add caption

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) Kota Surabaya, kemarin menggelar acara pacuan sapi atau yang lebih dikenal dengan Karapan Sapi, di Pantai Ria Kenjeran lama. Acara yang rutin digelar dua kali dalam setahun ini, sudah memasuki tahun yang ke empat. Lewat acara karapan sapi ini, Disbudparta Kota Surabaya bertujuan untuk mengoptimalkan Pantai Ria Kenjeran sebagai salah satu destinasi wisata di Surabaya.

Hal ini di ungkapkan Kepala Disbudparta Surabaya Wiwiek Widayati kemarin. Dirinya mengharapkan, agar Pantai Ria Kenjeran Lama bisa menjadi tujuan wisatawan selain monument Kapal Selam (Monkasel), Museum Tugu Pahlawan, Kebun Binatang Surabaya.

“Saya mengharapkan lewat acara atau event semacam ini, kita bisa mengoptimalkan dan meningkatkan destinasi wisatawan ketempat-tempat wisata di Surabaya, khususnya pantai ria kenjeran,” harap dia.

Sayangnya, acara yang rencananya dikemas sebagai promosi bagi wisatawan asing sepi penonton. Padahal pelaksanaannya bertepatan dengan singgahnya kapal pesiar MV Rotterdam, milik perusahaan Holland America Lines, yang membawa 1.500 turis. Rencananya ribuan turis tersebut bisa menyaksikan karapan sapi, tetapi tidak jadi datang, karena alasan keterbatasan waktu sandar kapal pesiar.

Sementara itu, Sekretaris Disbudparta Surabaya Achmad Agung Nurawan , yang juga menjadi ketua pelaksana acara tersebut memaparkan, selain menjaga kelestarian budaya pulau garam, acara ini juga merupaka sosialisasi, terkait larangan menyakiti sapi yang di pakai karapan.

“Selama ini kan kalau karapan sapi, sapinya di cambuk, di tusuk duri, disakiti, sekarang sudah tidak boleh menyakiti atau menggunakan kekerasan kepada sapi saat karapan,” papar dia. (wan

Sumber: Koran Madura

Label: ,

Kerapan Sapi Madura 2013

Add caption


Setelah Sukses dengan Kerap Kene' (Sapi Kelas Junior), Besok 31 Maret 2013 adalah Kategori Kerap Rajhah (Sapi Kelas Senior) yang bakal seru karna diikuti oleh pemilik sapi dari 4 Kabupaten di Madura..

Lokasi Kerapan Sapi Madura 2013 bertempat di Lapangan Skeep (Stadion R.P. Moh. Noer) Bangkalan

~ AYO DATANGG!! PASTI SERRUUUU!!!!

Catatan:
Kerapan Sapi Madura 2013 dipersembahkan oleh:
Komunitas Blogger Madura (Plat-M.com) dan PERKASA (Persatuan Kerapan Sapi) Bangkalan

Sumber: tretan.com

Label: , ,

Jadwal Karapan Sapi (Kerapan Sapi) 2012

Jadwal Karapan Sapi (Kerapan Sapi) 2012 - Pulau Madura | Sahabat dPUMA diseluruh Nusantara, ada informasi terbaru yang membanggakan dan sekaligus membahagiakan. Pada tahun 2012 ini, di Pulau Madura akan diadakan lagi Event tahunan yang tidak pernah terlupakan dan sering ditunggu-tunggu oleh Wisatawan Lokal maupun Wisatawan Mancanegara. Event tahunan tersebut adalah Karapan Sapi / Kerapan Sapi, nah bagi yang berminat untuk melihat / menonton lomba Karapan Sapi / Kerapan Sapi ini bisa langsung melihat jadwal yang ada dibawah ini:

JADWAL KARAPAN SAPI 2012

From Kabar Humaniora

Seperti itulah jadwal Karapan Sapi 2012 yang nantinya bisa menjadi pandangan bagi para penikmat Event Tahunan di Pulau Madura ini. Ditunggu kedatangannya di Pulau Madura.

Sumber: dpuma On Kamis, Mei 10th 2012

Label: , , ,

Polemik Kerapan Sapi Diselesaikan Secara Bijak

Baru-baru ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Bidang Pemasaran mengadakan kegiatan kunjungan ke Madura tepatnya di Kabupaten Bangkalan untuk menghadiri pelaksanaan lomba Kerapan Sapi.

Karapan sapi merupakan salah satu daya tarik wisata di Jawa Timur yang telah dikenal baik secara nasional maupun Internasional. Oleh karena itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur mendukung event ini baik melalui Promosi maupun pelaksanaannya.

Event kali ini di gelar dengan 2 versi yakni, ada kerapan sapi dengan kekerasan dan ada yang tanpa kekerasan. Menurut Kepala Bakorwil Pamekasan Ir. Eddy Santoso MM, penyelenggaraan dua model kerapan sapi ini hanya terjadi di tahun ini saja, selanjutnya untuk pelaksanaan kerapan sapi piala presiden tahun 2013 dan tahun-tahun berikutnya akan dilaksanakan dengan mengembalikan citra Karapan Sapi Madura yang sesungguhnya. Yaitu Kerapan Sapi tanpa kekerasan. (Bhirawa)

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Dr. H. Jarianto, M.Si mengingatkan bahwa Karapan Sapi sebagai ajang seni budaya yang dikenal dari Nasional hingga Mancanegara ini tetap harus berlanjut. Permasalahan yang berkaitan dengan pola perlombaan seharusnya bisa dibicarakan dan diselesaikan secara bijak.

Tahun ini sebaiknya perlombaan Piala Presiden untuk kerapan sapi bisa dilanjutkan, memang ada masalah, tapi kan bisa diselesaikan setelah perlombaan,” kata Jarianto saat menanggapi polemik soal atraksi karapan sapi piala Presiden.

Menurut Jarianto dari sisi kepariwisataan ajang perlombaan sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain ini bisa mengundang banyak wisatawan untuk berkunjung ke pulau tersebut. “

Terbukti ajang tersebut selalu dihadiri wisatawan asing”, kata Jarianto. (Bhirawa)

Bagi masyarakat Madura karapan sapi merupakan ajang gengsi atau status social bagi pemiliknya, tetapi juga dapat meningkatkan nilai ekonomi karena harga jual sapi pemenang lomba akan naik selangit. Oleh karena itu bagi masyarakat Madura diperlukan kriteria khusus dalam memilih sapi agar menjadi sapi kerapan yang handal

Sedangkan pemenang kerapan sapi piala Presiden RI tanpa kekerasan adalah,

Juara I pasangan sapi Gagak Rimang dari Bangkalan, juara II pasangan sapi Gagak Rimang dari Sumenep dan juara III direbut oleh pasangan sapi Lintang Lecen dari Bangkalan. (mus)

Sumber: Disbudpar, Monday, 12 November 2012

Label: ,

Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan

Dulu Pakai Tongkat Paku, Sekarang Kantong Kresek


Ekshibisi Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan Se-Madura, akhirnya digelar di Stadion Soenarto Hadiwidjoyo, Minggu (12/2/2012).

Sebanyak 24 pasang sapi yang terdiri dari enam pasang sapi kerap di tiap kabupaten bertarung menjadi yang terbaik.

Jika dilihat dari namanya, kerapan sapi tanpa kekerasan ini berlangsung berbeda dari kerapan sapi biasanya, yakni tidak memerbolehkan adanya kekerasan. Hal ini berbeda dengan Kerapan Sapi memerebutkan piala presiden yang digelar tiap satu tahun sekali.

Dalam ekshibisi kerapan sapi tanpa kekerasan ini, para pemilik sapi atau joki dilarang keras memacu sapi dengan menggunakan alat pemacu. Seperti, paku, jahe, Lombok atau sejenisnya, termasuk balsem yang berakibat penyiksaan terhadap sapi.

Pasangan sapi juga diperkenankan menggunakan penutup mata yang steril dari segala macam bentuk bahan yang menyebabkan penyiksaan terhadap sapi.

Jika terbukti, pasangan sapi setelah memasuki garis finish terbukti ada luka bekas penyiksaan serta bau balsem, maka pasangan sapi akan dinyatakan kalah.

Dalam pelaksanaannya, pasangan sapi dipacu menggunakan kantong kresek (plastik). Sebelum berangkat dari garis start, kresek atau plastik ditiup hingga
mengembang seperti balon dan dipegang oleh joki.

Karena tidak memakai tongkat paku, pasangan sapi yang diperlombakan nampak tidak berlari secara cepat.

Imam, pemilik sapi Garuda Mas asal Kecamatan Proppo mengaku, tidak adanya kekerasan dalam kerapan sapi merupakan hal yang baru di Kabupaten Pamekasan.

"Seandainya bisa. Kerapan sapi jangan diubah seperti ini. Sebab lebih menarik jika menggunakan aturan seperti dulu," katanya.

"Balsem tidak boleh, dipecut tidak boleh. Sapi jadi tidak bergairah dan tidak menarik," tambahnya.

Meski demikian, demi melestarikan kerapan sapi apapun itu namanya, ia tetap akan ikut serta. "Tapi kalau bisa, diubah jangan seperti ini," tandasnya.

Diketahui, munculnya ide kerapan sapi kekerasan se Madura tersebut muncul dari adanya keprihatinan ulama ketika menyaksikan kerapan sapi tahunan memerebutkan piala presiden menggunakan kekerasan atau penyiksaan dalam pelaksanaannya.

MUI Kab Pamekasan bersama Fokus dan LP2SI kemudian mengirim surat pernyataan sikap bersama. Yakni, penyelenggaraan Kerapan Sapi, Sapi Sono’ dan pesta budaya lainnya harus bebas dari unsur penyiksaan binatang, praktek perjudian, pengabaian melaksanakan kewajiban shalat serta yang bertentangan dengan syari’at Islam. [san/kun]

Reporter: Harisandi Savari

Sumber: beritajatim.com, Minggu, 12 Februari 2012

Label: , ,

Ulama Madura Larang Karapan Sapi,
Seniman Ajak Dialog Karapan sapi


Kalangan seniman di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengajak ulama di daerah ini melakukan dialog tentang penyiksaan dalam karapan sapi. "Penyiksaan dalam festival karapan sapi selama ini di kalangan masyarakat Madura harus dibicarakan dengan semua pihak karena menyangkut budaya leluhur Madura yang sudah dikenal luas di seluruh dunia," kata juru bicara seniman As'art Asharie di Pamekasan, Kamis.

Ia mengatakan, karapan sapi sebenarnya memiliki nilai seni yang sangat indah dan merupakan budaya asli masyarakat Madura. Namun budaya leluhur itu kini ternodai dengan adanya penyiksaan yang tidak manusiawi.

Menurut As'art, sapi Madura, apalagi sapi sonok atau sapi cantik dan sapi karapan, sebenarnya mengandung nilai seni yang tinggi. Oleh karena itu sapi masih sering menjadi objek lukisan para seniman lukis di daerah ini. "Oleh karena itu perlu ada solusi alternatif atau upaya dari berbagai pihak untuk tetap mempertahannya budaya leluhur ini," katanya.

Karapan sapi sebagai produk budaya Masyarakat Madura, katanya, harus tetap lestari dan penyiksaan yang terjadi seperti membacokkan paku atau yang dikenal dengan sebutan "rekeng" harus dihapus.

Menurut dia, fatwa tentang larangan melakukan praktik penyiksaan dalam pelaksanaan karapan sapi oleh para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Komunikasi Ormas Islam (Fokus) tidak cukup.

"Perlu ada dialog guna merealisasikan cita-cita luhur kalangan ulama ini karena awalnya karapan sapi itu kan tanpa penyiksaan," katanya. Kalangan seniman di Pamekasan, termasuk seniman lain di Madura menyepakati praktik penyiksaan dalam karapan sapi tidak manusiawi dan menodai citra positif budaya Madura kepada masyarakat luar yang menonton karapan sapi.
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

Sumber: Republika, 18 Pebruari 2012

Label: , , ,

Karapan Sapi Makin Mengerikan

Di Balik Gebyar Ikon Wisata Madura


Kerapan sapi yang menjadi aset budaya Madura dan menjadi tontonan yang menghibur, lama-kelamaan bergeser. Sebagian warga mulai ngeri melihat sapi-sapi karapan disiksa agar bisa lari kencang dalam lomba demi gengsi yang diwarnai perjudian.

Tak hanya itu, pemilik sapi juga tirakatan puasa 40 hari untuk menghindari sapi miliknya tidak terkena petaka.

Sebagian warga berharap adu cepat pasangan sapi di lintasan lapangan sepanjang 185 meter itu dikembalikan ke bentuk awal, sebagai tontonan yang menyenangkan. Namun, ini tidak gampang. Sebagian pelaku menyatakan keberatan.

Susraji, 43, pemilik pasangan sapi Kala Jengking, peraih juara harapan II, Piala Presiden 2010, menolak klaim melukai pantat sapi saat tanding sebagai penyiksaan. Sus, demikian ia dipanggil, menyatakan sapi aduan perlu dirangsang agar tidak loyo. “Paku yang kami pakai untuk melecut itu ukurannya kecil sehingga lukanya tidak parah dan lekas sembuh,” tutur warga Kampung Solo Laok, Desa Murtajih, Kec Pademawu, Pamekasan, ini, Rabu (27/10).

Selama 30 tahun Sus memelihara sapi karapan dan belasan kali ikur lomba, semua joki menggunakan kayu dengan ujung diberi paku yang ditusuk-tusukkan ke pantat sapi, saat sapi dilepas di arena lintasan karapan sapi. “Luka itu dibasuh air hangat campur garam dan diberi suntikan obat, cepat sembuh,” tuturnya.

Semua pemilik sapi karapan, lanjutnya, ingin jagonya menang. Karenanya, joki mengoleskan balsem di sekitar mata dan menusuk-nusukkan paku ke pantat sapi, agar hewan ini beringas lalu lari kencang seperti dikejar setan. Itu selain jamu racikan dan telur 101 butir per hari selama dua minggu atau sebulan menjelang karapan.

Dulu, katanya, saat ia masih kanak-kanak, joki hanya menarik ekor agar sapi lari kencang. Beberapa tahun kemudian, mereka memakai lecut terbuat dari dua irisan bambu ukuran 30 cm yang ujungnya (20 cm) dibelah tiga, yang 10 cm dijadikan pegangan. Lecut bambu ini dipukulkan terus menerus ke pantat sapi sehingga mengeluarkan bunyi ceplak -ceplak.

Selanjutnya, joki memasukkan lingkaran karet dari ban mirip cincin. Lingkaran dalamnya diberi paku. Sebelum sapi di lepas, lingkaran karet itu dimasukkan ke ekornya dan digerak-gerakkan, sehingga sapi berjingkrak-jingkrak kabur sekuat tenaga.

Asmar, 45, warga Bengserreh, Kec Sepuluh, Bangkalan, menyatakan, perlakuan terhadap sapi karapan merupakan bagian dari budaya. “Luka-luka itu akan sembuh hanya dalam satu malam,” terang pemilik sapi Bola Pusaka dan Congkrong ini.

Sapi karapan, katanya, tak hanya dicambuki, melainkan juga dipelihara dengan baik, bahkan dimanjakan. Menjelang lomba, satu ekor sapi karapan diberi makan 101 butir telur per hari dan ramuan rempah-rempah. “Biaya perawatan sangat mahal,” tuturnya. Hal senada juga diungkapkan mantan perawat sapi kerap, H Abdul Hadi, warga Sanggra Agung, Kec Socah. Menurutnya, sapi-sapi karapan dicekoki telur sejak H-30 sebelum lomba. “Tak hanya itu, pemilik sapi juga tirakatan puasa 40 hari untuk menghindari sapi miliknya tidak terkena petaka,” terangnya. Ia menambahkan, agar sapi lebih tenang, pemilik sengaja mendatangkan penabuh musik seronen (gending Madura).

Apa pun argumen para pemilik sapi karapan, sebagian warga Madura saat ini merasakan ada kengerian dalam karapan sapi. Ada yang berubah. Sapi-sapi karapan menjadi simbol prestisye. Tak semua orang bisa memiliki pasangan sapi yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, terutama bagi yang jawara. Hanya kalangan berduit yang mampu merawat sapi karapan.

Selangitnya harga sapi jawara menjadikan orang berlomba-lomba dan bermimpi agar memiliki sapi bergengsi ini. Tak hanya itu, karapan sapi juga telah menjadi ajang perjudian, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Gengsi dan judi telah mengubah budaya karapan. Waktu pertunjukan menjadi semakin panjang, dua hari. Padahal, sebelumnya hanya sehari. Sjaifuddin Miftah, budayawan, menilai karapan sapi sekarang sudah melenceng. Dulu, katanya, tidak ada penyiksaan sapi, apalagi perjudian.

Sebelum tahun 50-an, katanya, karapan sapi Gubeng (besar) benar-benar menjadi pesta rakyat Madura. Beberapa hari sebelum karapan memperebutkan piala presiden digelar, suasana Kota Pamekasan berubah. Di sepanjang jalan di tengah kota, siang malam dipadati calon pengunjung dari luar Pamekasan. Bahkan, beberapa pemilik sapi dan krunya, menginap sambil menanak nasi.

Beberapa saat sebelum karapan sapi digelar, pemilik sapi mengarak jagonya keliling lapangan diiringi musik seronen dan mengikutsertakan beberapa istri pemilik sapi. Tapi, sekarang sudah ada ritual itu, termasuk pertunjukan tari picot yang melibatkan anak-anak muda Madura.

Perubahan ini yang membuat kalangan dewan berhasrat mengembalikan karapan seperti dulu, tanpa penyiksaan dan menjadi tontonan yang menghibur. Wakil Ketua DPRD Pamekasan Khairul Kalam, SSos. Ia berharap sistem karapan sapi dikembalikan ke semula, tetap menarik, tanpa penyiksaan fisik dan lama pelaksanaan dipercepat, tidak sampai molor hingga dua hari. (sin/st32)

Sumber: Surya, 28 Oktober 2010

Label: , ,

Pasangan Sapi Jet Matic Juara 2010

Pasangan sapi Jet Matic milik H Sahid dari Sampang keluar sebagai juara I Kerapan Sapi Piala Presiden RI di Stadion R Sunarto Hadiwijoyo, Minggu (24/10). Juara I berhak atas hadiah trofi tetap Piala Presiden 2010, 1 unit mobil pick up, dan tabungan.

Kerapan sapi terbesar di Madura ini diikuti 24 pasangan sapi yang merupakan pasangan pemenang tingkat kabupaten yang ada di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep). Dimulai Minggu (24/10) pukul 10.00, kerapan sapi selesai pukul 17.15.

"Alhamdulillah selain aman dan lancar, kegiatan ini dihadiri 7 diplomat asing dari Pakistan, Afghanistan, Sudan, Nigeria, Azier Baijan, dan Mesir. Selain itu, juga banyak turis asing yang datang dari Inggris, New Zealand, Argentina, dan Jepang,” kata Kepala Bakorwil IV Pamekasan Edi Santoso usai menyerahkan hadiah kepada pemenang.

Juara II diraih pasangan sapi Gagak Rimang IV milik Slawi dari Pamekasan, berhak atas trofi, sepeda motor Supra, dan tabungan. Juara III pasangan sapi Gagak Rimang I, milik H Tohir dari Bangkalan trofi, sepeda motor Honda Beat dan tabungan.

Selain yang menang, pasangan sapi golongan kalah juga mendapat hadiah. Buldoser milik Duljawab dari Sumenep menjadi juara I dari golongan kalah, berhak atas piala tetap, sepeda motor Honda Mega Pro, dan tabungan. Juara II golongan kalah pasangan sapi Kalajengking milik H Sus dari Pamekasan, mendapat hadiah piala tetap sepeda motor Honda Revo dan tabungan. Juara III pasangan sapi Kecong Nyonok milik H Holil dari Bangkalan, berhak atas piala tetap, sepeda motor Honda Beat, dan tabungan.

Sehari sebelum kerapan sapi Piala Presiden digelar, juga dilangsungkan Workshop Pengembangan Pariwisata di Madura oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Hotel Putri Pamekasan, Sabtu (23/10). Kegiatan ini diikuti 150 peserta dari kalangan birokrat, pengusaha perhotelan, pengelola objek wisata, LSM, perguruan tinggi, seniman, dan budayawan.

Dalam workshop ini, eksistensi kerapan sapi sebagai budaya unggulan Madura dikritisi mengingat masuknya unsur perjudian dan kekerasan pada sapi. Wabup Pamekasan Drs Kadarisman sebagai salah satu pemateri mengatakan, kerapan sapi belakangan sangat jauh beda dengan kerapan sapi tahun-tahun sebelumnya. Kerapan sapi kini membosankan. Waktu pelepasan untuk di-kerap (adu cepat) terlalu lama dan ditandai unsur kekerasan pada sapi.

"Itu semua masalah teknis yang terjadi karena ada indikasi perjudian yang muncul. Tidak lagi mengedepankan unsur seninya. Biasanya kerapan sapi yang berlangsung hanya satu hari, kini sering berlangsung lebih dari satu hari. Ini terjadi karena adanya ketidakpuasan pemilik sapi jika ada masalah,” ungkap Kadarisman.

Kadarisman menilai kerapan sapi layak ditinjau lagi apakah pantas dijadikan sebagai budaya atau wisata unggulan. “Kalau memang kerapan sapi ini tidak mau berbenah dan kembali kepada jati dirinya yang asli yang santun, indah, dan penuh kekeluargaan antar-pemilik, maka bisa saja kita tarik kerapan ini dari daftar ungulan budaya daerah,” katanya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 25 Oktober 2010

Label: ,

Karapan Sapi Kini Sebulan Sekali

Bupati Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Fuad Amin Imron, mengatakan kunjungan wisatawan diharapkan akan meningkat di Madura dengan adanya gelar karapan sapi secara rutin setiap bulan di wilayah tersebut.

“Dulu karapan sapi hanya digelar setiap tahun sekali, namun ke depan ini akan kami gelar setiap bulan, sehingga kunjungan para wisatawan diharapkan akan terus meningkat,” kata Fuad Amin Imron, di Bangkalan, Senin (27/9/2010.

Bupati menjelaskan upaya yang akan dilakukan Pemkab Bangkalan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di wilayah setempat, sebagai upaya mendukung program Visit East Java 2010 yang dicanangkan Pemprov Jatim.

Menurut Fuad Amin, budaya karapan sapi merupakan ikon budaya masyarakat Madura yang sudah dikenal luas di berbagai negara di dunia. Hanya, sambungnya, kegiatan pelaksanaan karapan sapi selama ini jarang dilakukan, yakni hanya setahun sekali, sehingga para wisatawan yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk melihat balapan sapi tersebut.

“Jika nantinya digelar setiap bulan maka kami yakin kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bangkalan juga akan meningkat, khususnya para wisatawan asing,” ucapnya optimistis.

Tiap Akhir Bulan

Rencana kegiatan karapan sapi oleh Pemkab Bangkalan akan dilakukan setiap akhir bulan, kecuali pada bulan Oktober, karena pada bulan itu bersamaan dengan gelar lomba karangan sapi yang memperebutkan Piala Presiden. Ia juga berharap kegiatan rutin karapan sapi itu bisa mendongkrak pamor pariwisata di Kabupaten Bangkalan dan otomatis bisa mengangkat objek wisata yang lain.

“Kalau sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke sini, bisa dipastikan Bangkalan akan lebih maju seperti daerah lain,” ucapnya seraya menjelaskan bahwa kegiatan karapan sapi yang akan digelar setiap bulan itu sudah mendapatkan persetujuan dari Pemprov Jatim.

Sumber: Surya, Senin, 27 September 2010

Label: ,

Hentikan Kekerasan dalam Karapan Sapi

Foto : Surya/Dodo Hawe
Wakil Ketua DPRD Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Khairul Kalam, meminta tradisi kekerasan dalam pelaksanaan lomba karapan sapi di wilayah tersebut bisa dihentikan. “Kalau dibicarakan sejak awal antara semua pihak, antara pihak panitia pelaksana dan pemilik sapi karapan saya kira bisa dihentikan,” kata Khairul Kalam, Kamis (14/10/2010).

Pernyataan Khairul ini disampaikan menanggapi protes sebagian warga tentang praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi yang biasa terjadi di Madura. Hanya, menghapus praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi itu membutuhkan waktu yang lama, karena menyangkut kebiasaan. “Soalnya itu kan sudah menjadi tradisi turun temurun dari dulu,” katanya.

Selain itu, pemerintah daerah baik Pemkab, Bakorwil dan Pemprov, juga memiliki peran penting dalam menghentikan praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi tersebut. “Demikian juga dengan para tokoh masyarakat dan ulama yang ada di Madura, harus ada ketegasan bagaimana hukumnya menyiksa hewan sebagaimana dalam praktik karapan sapi yang terjadi selama ini,” katanya.

Politikus dari Partai Demokrat (PD) ini menambahkan, budaya karapan sapi sebenarnya merupakan warisan budaya leluhur warga Madura. Pada awalnya, karapan sapi di Madura ini tanpa kekerasan dan murni hanya dilakukan untuk adu kecepatan lari sapi pasangan sapi.

Karapan sapi menjadi tontotan menarik, karena selain bisa menyaksikan adu kecepatan lari sapi. Biasanya dalam pelaksanaan karapan sapi, khususnya juga diiringin dengan musik saronen yakni jenis musik yang memang menjadi musik pengiring dalam pelaksanaan karapan sapi.

Menodai Budaya

Usulan menghapus praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi sebelumnya juga telah disampaikan sejumlah aktivis mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan organisasi ini menilai, praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi sebenarnya telah menodai khazanah budaya peninggalan leluhur sesepuh Madura tersebut.

“Cara-cara yang dilakukan dalam karapan sapi sudah menyimpang, baik dari sisi prikehewanan ataupun dari nilai-nilai agama,” kata Azis Maulada, dari Lembaga Pengelola Latihan (LPL) HMI cabang Pamekasan.

Praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi ini dilakukan dengan cara membacokkan paku ke pantat sapi agar larinya kencang, serta memoleskan balsem dan cabe ke mata hewan itu sesaat sebelum dikerap.

Sumber: Surya, Jumat, 15 Oktober 2010

Label: ,

Penyiksaan dalam Karapan Sapi Akan Dibahas Dewan

Pihak DPRD Pamekasan, Jawa Timur, berencana melakukan koordinasi dengan dewan di tiga kabupaten lain di Madura terkait praktik penyiksaan dalam pelaksanaan karapan sapi. Hal itu dikatakan Ketua Komisi B DPRD Pamekasan, Hosnan Ahmadi, Senin (18/10/2010).

Hosnan menyatakan, langkah itu perlu dilakukan mengingat praktik penyiksaan dalam pelaksanaan lomba karapan sapi tidak hanya terjadi di Pamekasan namun juga di tiga kabupaten lain di Madura, seperti Bangkalan, Sampang dan Kabupaten Sumenep. “Itu langkah pertama yang perlu dilakukan. Jika antarlembaga legislatif sudah tercapai kesepakatan maka kami tinggal melakukan penekanan kepada pihak eksekutif untuk membuat aturan dalam pelaksanaan karapan sapi ini yang tanpa penyiksaan,” paparnya.

Ia menjelaskan, jika hanya DPRD Pamekasan yang melakukan penekanan dengan meminta pemkab membuat ketentuan berupa larangan melakukan penyiksaan dalam pelaksanaan karapan sapi tersebut —sedangkan di kabupaten lain tidak— maka hal itu akan sia-sia.
Oleh karenanya, sambung Hosnan, koordinasi antara lembaga legislatif di Madura perlu dilakukan lebih dahulu, sebelum akhirnya dewan memberikan penekanan terhadap pihak eksekutif, terkait penyelesaian persoalan praktik penyiksaan dalam pelaksanaan karapan sapi tersebut.

Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menambahkan, akibat adanya praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi tersebut, citra ‘karapan’ sebagai khazanah budaya masyarakat Madura kini menjadi tercoreng. Bahkan yang mengemuka di masyarakat saat ini adalah seolah mempertontonkan penyiksaan manusia terhadap hewan, ketika sapi karapan yang dilombakan itu harus dibacok dengan paku agar laringan kencang dan kedua matanya diolesi cabai dan balsem.

“Jangankan masyarakat luar Madura, masyarakat Madura sendiri sampai saat ini masih banyak yang tidak mau menonton karapan sapi karena tidak tega terhadap pembacokan yang dilakukan oleh pemiliknya,” tutur Hosnan Ahmadi.

Sebelumnya, Bupati Pamekasan Kholilurrahman juga mengajak warga untuk ikut menyuarakan penolakan terhadap praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi. Menurut dia, hal itu perlu dilakukan karena penghapusan praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi tersebut bisa dilakukan jika ada kesepakatan dari semua pihak. Baik pemerintah, masyarakat pemilik sapi ataupun tokoh masyarakat dan tokoh ulama di Madura.

Sumber: Surya, Selasa, 19 Oktober 2010

Label: ,

Mata Dibalsem, Pantat Dipaku

Wakil Rakyat Pamekasan Gagas Stop Penyiksaan Sapi Karapan

Karapan sapi tak terpisahkan dari masyarakat Madura dan membuat Pulau Garam itu mendunia. Tetapi, ada yang harus dihapuskan dari tradisi balapan sapi ini, yaitu penyiksaan. Upaya penghapusan secara sistematis mulai dilancarkan pemerintah.

Karapan sapi bukan sekadar pesta tahunan turun-temurun rakyat Madura. Lebih jauh dari itu, karapan sapi merupakan ajang 'narsisme' pemilik sapi. Mereka bisa membanggakan diri saat memamerkan sapi jawara, karena artinya, mereka mampu mengeluarkan duit jutaan rupiah untuk mencetak sapi yang mampu lari cepat.

Demi mendapatkan sapi jawara, pemilik sapi kadang berlebihan memperlakukan sapi. Contoh sederhana, bukan mobil yang mereka pajang di garasi rumah, tetapi sepasang sapi karapan. Prestise mereka pun naik di kalangan warga sekitarnya.

Sapi-sapi itu pun dimanjakan luar biasa. Agar berstamina tinggi dan tetap fit selama lomba, sapi-sapi itu dicekoki jamu berikut ratusan butir telur ayam kampung, serta pijatan khusus pada tubuh sapi. Unsur gaib pun tak ketinggalan. Bebat berisi mantra di kepala sapi menandakan keterlibatan paranormal dalam urusan itu.

Layaknya lomba Formula 1 atau MotoGP, setiap pasangan sapi karapan punya tim. Misalnya tukang tongko’ (joki, Red) dan tukang tambeng (bertugas menahan, membuka dan melepaskan rintangan untuk berpacu). Tukang getak (penggertak sapi agar berlari cepat), dan tukang gubra (suporter di luar arena).

Sapi karapan dibedakan tiga macam, sapi cepat panas, sapi dingin, dan sapi kowat kaso (tahan lelah, Red). Untuk sapi cepat panas, menjelang diadu, diolesi bedak panas atau balsem agar cepat terangsang. Sapi dingin, tubuhnya lebih dicambuk berulang-ulang. Sedang sapi kowat kaso, sebelum diadu diperlukan pemanasan.

"Malam sebelum lomba, pasangan sapi bersama pemilik dan kerabatnya menginap di arena karapan," kata Abdul Kadir, warga Waru, mantan pemilik sapi karapan.

Nah, setelah itu dimulailah sesi penyiksaan. Agar bisa melesat di lintasan 180 meter, sapi itu harus dilecut dengan cambuk atau kayu berpaku. Agar bisa lari secepat kilat, pangkal ekor sapi dipasangi sabuk berpaku. Harapannya, rasa sakit akibat tusukan paku di pantat itu akan bisa memaksa sapi lari lebih cepat lagi. Umumnya, lintasan 180 meter itu ditempuh antara 12-18 detik.

Itu masih di sektor buritan. Di bagian depan, di sekeliling mata sapi, diolesi balsem. Tujuannya sapi tidak diam dan terus bergerak-gerak seperti hendak kabur.

Tak mengherankan, kalau kemudian terlihat pantat sapi bercucuran darah begitu sampai di finis. Bagi sapi pemenang, siksaan belum berhenti, karena mereka masih harus mengikuti babak-babak selanjutnya.

Namun, tradisi berpuluh tahun itu mulai menggelisahkan anggota DPRD Pamekasan, untuk menyetop penyiksaan itu.

"Kami akan berkoordinasi dengan DPRD se-Madura, terkait praktik penyiksaan dalam karapan sapi," kata Ketua Komisi B DPRD Pamekasan, Hosnan Ahmadi, Senin (18/10).

Kata Hosnan, penghapusan penyiksaan dalam lomba karapan sapi tidak bisa hanya dilakukan di Pamekasan, karena Kabupaten Bangkalan, Sampang, dan Sumenep juga punya tradisi kuat karapan sapi. Ia menjelaskan, kalau hanya Pamekasan yang bertindak, maka upaya itu sia-sia. “Jika antarlembaga legislatif sudah sepakat, kami tinggal menekan eksekutif agar membuat aturan karapan yang minus penyiksaan,” katanya.

Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menambahkan, praktik penyiksaan itu mencoreng citra masyarakat Madura. “Jangankan yang di luar, masyarakat Madura pun banyak yang tidak mau menonton karapan sapi karena tidak tega terhadap pembacokan yang dilakukan oleh pemiliknya,” tutur Hosnan.

Sebelumnya, Bupati Pamekasan Kholilurrahman juga mengajak warganya menolak praktik kekerasan dalam karapan sapi. “Upaya penghapusan kekerasan itu sia-sia tanpa dorongan dari pemerintah dan masyarakat, termasuk pemilik sapi.

Baik pemerintah, masyarakat pemilik sapi, ataupun tokoh masyarakat dan tokoh ulama di Madura. Dalam wawancara sebelumnya, tokoh ulama Madura KH Munif Sayuti menyatakan, penyiksaan hewan dalam karapan sapi haram dan perlu dihentikan.

Caranya, kata Munif, pemerintah daerah harus mengeluarkan aturan yang melarang peserta karapan sapi melakukan penyiksaan. “Atau menganggap kalah pasangan sapi karapan yang menggunakan kekerasan, meski sapinya finis paling cepat,” katanya. (Mukhsin)

Sumber: Surya, 19 Oktober 2010

Label: ,

Madura: Bull Racing and Great Dishes

Soto Madura: Photo by Suryatini N. Ganie
One of Indonesia’s smaller but more famous islands is Madura, off the north coast of East Java. Although I was not born in Madura, but in Situbondo, a quiet place in East Java, I feel at home on this island. People of Situbondo speak Madurese and still practice Madurese customs. One such tradition is the kerapan sapi, the bull races that makes Madura famous.

When I first saw the kerapan sapi in a small village, I noticed that as the bulls got closer to the finish line, their nostrils let out steam and their eyes turned red. It seemed that they were ready to just ram through us. But despite standing only 2 meters from the track, the screaming jockey made sure they stayed on track. My friend from Pamekasan, a town in Madura, told me to forget the race and focus on the varied and delicious Madura cuisine. Growing up, I really appreciated Madurese food, and feel it deserves an honorable place in the archipelago’s culinary map.

Soto ayam Madura for example, is a staple item in restaurants serving Indonesian food both here and abroad. The dish, in fact, was not invented on the island itself, but in nearby Surabaya by a coterie of Madurese who ran restaurants in the country’s second-largest city. They tacked on the “Madura” to the generic soto ayam dish. Actually, purists in Madura consider the dish an aberration. Soto Madura, they argue, has to be made from beef and it is only in western Madura that soto is made with chicken. The second variation could be found in the form of soto Pamekasan, which is traditionally served with mung bean fritters. The fritters are prepared by mixing 200 grams of washed, cleaned mung bean sprouts and 8 tablespoons of rice flour, 4 tablespoons of water, a ½ teaspoon of salt to taste and 20 tablespoons of cooking oil. The mung bean sprouts are fried in hot oil, tablespoon by tablespoon until it is done.

But in a way, I was also interested in how the racing bulls were fed and kept fit for racing, because they were relatively small compared to the bulls in Spanish bullfighting. I was told that a Madurese bull with a good chance of winning the race will be given an honorary status by villagers. That is why during the preparatory stage for the race, the bulls are treated like kings. They will be bathed two to three times a day, served 1 kilogram of eggs daily, increasing to 2 kilograms in the run-up to race. The eggs are mixed with local wine, a glass of pure honey and a bottle of soda water. The soda water allegedly keeps the bull hydrated and the eggs, honey and wine give it strength. On the day of the race, the bulls are fed 1 kilogram of ground cabai rawit or hot chili, which are also applied on the animals behind to keep them running.

But it’s not just the racing bulls that are well fed. Spectators on race day get a special rice delicacy locally known as a nasi jhajhan, served by a women who in the midst of screaming crowds and daytime temperatures in excess of 33 degrees Celsius.

Nasi jhajhan comprises of rice and an array of dishes. For example, a fish or squid locally known as gengsah is mixed with a cocktail of coriander, cumin and turmeric sauce; espaes juko pase (local spinach soup), juka gareng (salted fish), petis ola telur (eggs in fermented shrimp paste), dendeng ragi (thinly sliced beef filet) or osik daging, a dish with French etymology, because osik comes from hachée, or at least this is what my host told me. After the meal we are served iced water by our host. But our host also served an exotic looking drink called cendol celeng or black-colored rice flour balls in a cold, sweet, thin, coconut sauce. Some put additional ice cubes into the concoction.

“I forgot to tell you”, a woman said, when we received the black rice balls, “we also like black. A fascinating, mysterious color whether it is for fashion or foods. Black is also our official kabaya with gold buttons and the men’s traditional baggy trousers. The black color in our food comes from sifting finely stamped grilled dry rice straw which is added in teaspoons.”

What about preparing some soto ayam Madura Barat made with a chicken stock? Boil 500 grams of chicken and 1.5 liters of water into a stock. Halfway through, chop the meat and return it to the stock. Grind 4 garlic cloves, ½ a teaspoon of pepper, ½ a teaspoon of fish paste into a paste and stir fry in 2 tablespoons of cooking oil until it emits an aroma and add to the stock. Add 2 slices of ginger, 2 stalks of lemon grass and season with 1 tablespoon of salt. Stir until the chicken is tender and done.

Soak 75 grams of soun (glass noodles) in 600 mililiters of warm water, take out when ready and sieve. Instruction for serving: place 2 tablespoons of well-done glass noodles in a bowl and pour in the stock, including the chopped chicken. Top off with 1 teaspoon of minced celery and 1 teaspoon of crisp fried shallot slices.

Sumber: The Jakarta Post, Sun, 03/28/2010

Label:

Jangan Tinggalkan Kerapan Sapi

KERAPAN sapi identik dengan Madura. Karena itulah, budaya warisan luluhur Madura itu harus terus dilestarikan di setiap kabupten di Pulau Garam itu.

Bertolak pada kenyataan inilah, anggota DPRD Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, R Aulia Rahman meminta Pemkab harus lebih memperhatian kelestarian karapan sapi di wilayah tersebut, karena kegiatan itu merupakan warisan budaya dan merupakan budaya khas warga Madura.

"Seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kebudayaan yang ada di Sampang, terutama karapan sapi," katanya, di Sampang, Selasa (29/9).

Sebab menurut dia, karapan sapi merupakan aset hazanah budaya bangsa yang perlu tetap dilestarikan dan selama ini sudah banyak dikenal baik di dalam maupun di luar negeri.

"Itu salah satu nilai kebudayaan yang harus tetap dilestarikan dan diperhatikan pemerintah. Kalau tidak diperhatikan pasti akan hilang dengan sendirinya," ujarnya.

Tanpa adanya perhatian dari pemerintah, sambung Aulia, kebudayaan turun-temurun tersebut sulit untuk bisa dikembangkan.

"Kini, perhatian pemerintah masih kurang sehingga penting untuk lebih ditingkatkan bentuk perhatiannya," ujarnya.

Menurut Aulia Rahman, kurangnya perhatian tersebut salah satunya terkait dengan persoalan anggaran. Buktinya, dalam setiap acara kerapan sapi dana yang disediakan selalu tidak cukup. "Akhir-akhir ini ada perhatian, akan tetapi perlu terus ditingkatkan," katanya.

Perhatian pemerintah yang tinggi terhadap budaya tersebut akan memberikan efek yang luar biasa untuk pengembangan budaya yang ada di Sampang. "Kalau tidak diperhatikan, saya yakin budaya-budaya yang ada di Sampang akan musnah dengan sendirinya," katanya.

Ketua Persatuan Kerapan Sapi Tradisional (Porkesab) Torjun Kabupaten Sampang Moh. Arba'ien menyatakan, selama ini bantuan pembinaan dan biaya bagi pelaksanaan karapan sapi di wilayah Kabupaten Sampang dari Pemkab setempat memang minim.

"Panitia sering defisit. Kadang harus mengocek kantong pribadi dengan jumlah yang tidak sedikit. Kalau hanya Rp100 ribu tidak masalah, kadang kami mengeluarkan uang jutaan," katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Seni, Pemuda dan Olahraga (Disbuparpora) Sampang Ahmad Bahrowi menyatakan, pemerintah sebenarnya sangat menaruh perhatian dalam melestarikan karapan sapi. Hanya saja, dana yang tersedia dalam APBD terbatas, yakni hanya Rp 8 juta.

"Ini kan sesuai dengan kemampuan daerah. Kalau misalnya APBD di Sampang ini banyak, tentunya dana yang tersedia akan lebih banyak lagi," katanya. (ntr)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 30 September 2009

Label: , ,

Waspada Klaim Atas Aset Budaya Bangsa

Sekedar mengingatkan, bahwa ada artefak budaya Indonesia yang diduga dicuri, dipatenkan, diklaim, dan/atau dieksploitasi secara komersial oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain


Sumber: Alang-lang - Milangkori, 24/08/2009

Label: