Soto Bangsawan Madura


Selama ini makanan Madura yang paling mudah dijumpai di sudut Kota Surabaya berupa soto daging, rujak, dan bebek goreng. Rasanya mantap dan konon racikan Madura memang paling berani bumbu. Nah, salah satunya warung Reng Oneng.

Secara geografis, Madura memang dekat dengan Surabaya. Tentu saja banyak ditemui warung yang menyajikan makanan Madura di sekitar Surabaya. Penjualnya sebagian besar juga berasal dari daerah sama.

Umumnya makanan yang dijual sama. Berkisar antara soto daging, rujak, dan bebek goreng. Bahkan makanan terakhir membuat Surabaya memiliki makanan khas tersendiri. Agak melenceng dengan warung biasanya, seluruh menu di Reng Oneng Waroeng Madura berupa makanan khas Madura.

“Sebenarnya menu makanan yang kami sajikan biasa dimasak oleh ibu-ibu rumah tangga di Madura. Setidaknya angkatan nenek atau ibu saya,” ucap Riyano Dwi Permana, 31, pemilik Reng Oneng.

Permainan bumbu juga berperan di sini. Seperti pada soto ayam Pamekasan yang rasa kuahnya sangat segar meski lebih merah. Isinya berupa irisan telur ayam, daging ayam disuwir, bihun, keripik kentang, perkedel kentang, dan irisan tepung goreng. “Tepung goreng tersebut dibuat dari kecambah goreng yang dicampur tepung terigu,” kata Riyano.

Zaman dahulu hanya kalangan bangsawan yang boleh mencicipi segarnya kuah soto ayam Pamekasan. Tidak heran, sebab resep soto bangsawan Madura yang dipakai Riyano merupakan turun temurun dari kakeknya yang dulu pernah menjadi Residen Madura.

Harga soto ayam Pamekasan ini Rp 17.000 per porsi. Mungkin agak mahal untuk jenis soto ayam dibanding biasanya yang dijual di kaki lima. Namun, rasanya memang beda. Sehingga sebanding dengan harganya.

Berikutnya, ada rujak Madura. Bahan petis yang dipakai pada rujak Madura berbeda dengan rujak petis atau cingur. Petis rujak Madura terbuat dari ikan cakalan (tongkol), sedangkan rujak petis biasanya berbahan petis udang.

Lauk rujak Madura juga berbeda. Selain sayuran, tempe, tahu, rujak Madura memakai rumput laut dan kripik singkong sebagai lauk. Kripik tenggang yang terbuat dari singkong menambah keunikan sajian makanan Madura ini.

Setelah melahap banyak sajian sedap dan lezat ini, rasa haus terpuaskan dengan minuman wedang pokak. Sekilas mirip wedang jahe, tetapi terasa lebih manis dan tidak terlalu pedas. Pokak terbuat dari daun serreh dan gula merah, bisa dinikmati hangat atau dingin. Khasiatnya menambah nafsu makan, menghangatkan tubuh, dan memperbaiki pencernaan. Segelas pokak harganya Rp 6.000.

Asal Sebuah Nama

Riyano dilahirkan dari pasangan ayah Pamekasan dan ibu Sumenep. Usaha kulinernya dimulai sejak 2006. Selain di Hotel Surabaya Plaza, Reng Oneng juga ada di kawasan G-Walk.

Reng Oneng sebenarnya dari kata Oreng Oneng, artinya orang tahu. “Bahasa Madura jika ada suku kata sama di depan, maka harus dihilangkan. Jadilah Reng Oneng,” jelas Riyano.

Nama juga yang membuat semua menu Reng Oneng jadi unik. Seperti nasi jajhan, nasi serpang, atau soto sabrang. Nasi jajhan berupa nasi putih dengan bihun goreng, telur ayam berbumbu santan kuning, kering tempe, dendeng daging sapi, sambal, daging osik-osik (daging bumbu rendang), serta serundeng kelapa.

“Daging dendengnya renyah dan pesan langsung dari Pamekasan. Beda dengan dendeng daging biasa,” ujar Riyano.

Sedangkan nasi serpang diambil dari nama sebuah desa yang terletak beberapa kilometer dari Kota Bangkalan. Desa tersebut jadi terkenal karena kelezatan nasi yang memakai lauk dari laut, yaitu udang. Lauk yang dipakai pada nasi serpang hampir sama dengan nasi jajhan. Hanya ditambah udang goreng dan tahu bumbu kuning. Serta ditemani renyahnya peyek kacang.

“Soto jenis lainnya yang ada di Reng Oneng, soto sabrang. Sabrang artinya singkong dalam bahasa Madura Sumenep,” terang Riyano. (ida/mg1)

Sumber: Surabaya Post, 28/02/2010

Label: , , , ,

Anis Sulalah, Cebbing Favorit Sampang 2009

Sejak Umur Tujuh Hari Ditinggal Ibunya Jualan Es, Sempat Minder

Anis Sulalah mungkin tak seperti finalis lainnya. Dia dari keluarga yang pas-pasan. Tapi, dialah yang terbanyak mengumpulkan dukungan pembaca. Seperti apa kondisi keluarga Anis?

SIANG itu rumah sederhana di RT 03/03 Kampung Kasenih, Jalan Kramat yang tepat berada di seberang kantor Kelurahan Karang Dalam tampak sepi. Di rumah yang sebagian dindingnya belum dikuliti itulah Anis Sulalah tinggal bersama kedua orang tuanya.

Karena tidak ada orang, kemarin Anis mengajak koran ini untuk menunggu di rumah pamannya, Moh. Sadik, yang tidak jauh dari rumahnya. Sementara gadis kelahiran Sampang 9 Juli 1992 itu segera mencari ayahnya dengan naik sepeda motor sang paman.

Sembari menunggu kabar dari Anis, koran ini mulai membuka perbincangan dengan Sadik. "Sejak kecil Anis biasa ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya. Ayahnya (Faridi, 48, Red) adalah petani yang juga pekerja bangunan. Sedangkan ibunya (Toyyinah, 39, Red) biasa berjualan es di Pasar Srimangunan," ungkap lelaki berkumis itu.

Tak lama, handphone (HP) Sadik berbunyi. Panggilan itu dari Anis. "Ayahnya Anis sudah ada di rumahnya. Mari saya antar ke sana," tutur Sadik dan koran ini pun mengiyakannya.

Ketika sampai di rumah Anis, Faridi baru saja selesai memandikan Aisyah Okta Ramadani, adik Anis yang baru berusia tiga tahun. Faridi mengaku baru pulang kerja sebagai kuli bangunan di kampung sebelah. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan naik sepeda pancal yang membawa barang bawaan di bagian belakangnya.

"Setiap hari saya pulang jam segini (pukul 13.00, Red), kadang lebih. Saya biasa jualan es dan pisang goreng di Pasar Srimangunan," ungkap Toyyinah yang sudah berjualan sejak 1992.

Toyyinah mengaku sudah biasa menitipkan Anis ke kerabatnya sejak ia masih berusia tujuh hari. "Itu saya lakukan demi membantu suami membiayai sekolah anak pertama kami. Saat itu anak pertama kami mulai masuk sekolah dasar," ungkap ibu yang biasa berjualan sejak pukul 06.00 hingga siang hari itu.

Namun, ketika Anis mulai masuk SD, dia biasa menemani ibunya berjualan di pasar. "Sejak sekolah di SD dan di SMP saya sering bantu ibu. Tapi setelah SMA dan kuliah, saya tidak bisa nganter ibu lagi. Saya bertugas mengerjakan pekerjaan rumah," terang Anis.

Kondisi ekonomi keluarga seperti itu, diakui Anis sempat membuatnya minder. Hal itu dia rasakan ketika awal audisi peserta Kaceb Batik 2009 beberapa waktu lalu. "Kepercayaan diri saya mulai muncul ketika kakak saya (Moh. Abdurahman, Red) meyakinkan saya kalau semua peserta sama. Mereka makan nasi juga," ungkap Anis.

Selain sempat minder, kondisi ekonomi keluarga juga memaksa Anis untuk mengurungkan cita-citanya menjadi dokter. "Dulu saya ingin kuliah di kedokteran. Tapi bapak tidak punya uang. Untuk masuk di akademi kebidanan (akbid) saja, bapak harus menjual sapi hasil paruhannya dengan tetangga rumah," tutur mahasiswi Akademi Kebidanan Graha Husada Sampang semester I ini.

Lalu, dari mana suara dukungan pembaca untuk Anis? Yang pasti, Anis mendapat dukungan keluarga dan kerabatnya. Para tetangganya juga memberikan dukungan dengan mengumpulkan guntingan balot ke panitia. Selain itu, Anis banyak mendapat suara dari teman-temanya di akbid. (FERI FERDIANSYAH)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 09 Desember 2009

Label: , , ,

D. Zawawi Imron, si Celurit Emas

Nikmati Hidup dengan Berysukur

Usia penyair D. Zawawi Imron saat ini sekitar 64-65 tahun. Dia sendiri tak pernah tahu pasti berapa umurnya. "Pokoknya, saya lahir saat bulan Ramadan zaman Jepang," katanya. Selama itu, Zawawi memaknai hari-harinya sebagai kenikmatan merasakan kasih Tuhan.

"Mensyukuri karunia Tuhan dilakukan dengan menikmati detik demi detik kehidupan yang Dia berikan," ungkapnya saat ditemui di sebuah penginapan di Surabaya sepulang dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Banten kemarin (26/6).

Di lantai kamarnya, koper biru tua tergeletak. Zipper-nya masih menutup rapat. Mengenakan kaus dan sarung kotak-kotak paduan merah-hitam, Zawawi duduk di atas kasur sambil bersila. Tangan kirinya memegang tasbih hitam.

Zawawi mengatakan, menikmati karunia Tuhan kadang dianggap sepele. Bahkan, ada yang cenderung menyepelekan. "Padahal, setiap denyut nadi, darah yang mengalir di pembuluh darah, dan detak jantung adalah pemberian karena kasih Tuhan," terangnya.

Hal tersebut, lanjut Zawawi, bisa dilihat saat seseorang sedang tidur. Ketika terlelap, Tuhan menjaga manusia agar semua organ-organ tubuhnya terus bekerja. "Padahal, bisa saja saat manusia tidur, Tuhan mematikan detak jantung kita," ungkapnya.

Selain itu, manusia selalu dibantu agar terus mampu melakukan pekerjaannya. "Pikiran dan tubuh kita senantiasa dijaga oleh-Nya. Jadi, mereka mampu terus menjalankan profesinya dengan baik," tambahnya.

Kepekaan terhadap lingkungan sekitar, tutur Zawawi, memang berbeda pada tiap orang. Pengalaman spiritual seseorang yang mempengaruhi itu semua. Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika masih kecil.

Zawawi kecil tumbuh sebagai anak yang mengalami proses alamiah secara langsung. Saat tinggal di Batangbatang, Sumenep, Madura, dia tumbuh di sebuah lembah, tempat sawah bertingkat-tingkat dan tanah bergunung-gunung.

"Saya tahu telur ketika ayam berkotek, lalu mengeluarkan telur. Bukan pergi ke supermarket dan melihat telur dalam kemasan," terang pensiunan pegawai negeri Departemen Agama yang juga kerap disapa Pak Haji itu.

Ketika telur menetas, dia menyaksikannya pula. Berangsur-angsur tumbuh besar, anak ayam tersebut mulai bisa berjalan. Zawawi kecil menyayanginya dengan sepenuh hati. Tak berapa lama, seekor elang mencengkeram dan membawa kabur salah satu di antara mereka. "Saya langsung kejar elang itu. Saya terus mengejar hingga dia menghilang dari balik bukit," jelasnya.

Itulah yang dia sebut sebagai personal spiritual experience. Banyak orang tidak menyadari pengalaman seperti itu. Karena dianggap sudah biasa, kenikmatan tersebut tidak lagi dirasakan. Akibatnya, seseorang tak lagi bersyukur. "Kalau sudah demikian, berarti kita tidak lagi menganggap pemberian Tuhan sebagai kenikmatan," ucap kakek lima cucu tersebut.

Penyair berjuluk Celurit Emas itu mengatakan, untuk mensyukuri nikmat Tuhan, seseorang harus memiliki kepekaan perasaan. Sebab, apabila tidak peka, manusia tidak bisa melihat karunia yang diberikan oleh Tuhan. Bahkan, dari hanya kejadian-kejadian kecil sehari-hari, seseorang bisa bersyukur. "Karena itu, yang dibutuhkan adalah sensibilitas tinggi dalam melihat hal-hal di sekitarnya," tambah bapak tiga anak tersebut.

Kata Zawawi, ketika seseorang terbiasa bersyukur, dia akan senantiasa merasakan kebahagiaan. Sebab, apa pun yang terjadi dalam hidupnya akan selalu dianggap sebagai bagian dari karunia Tuhan. "Hidup harus dinikmati dan dihayati. Sebab, hidup adalah sebuah perjalanan berharga," papar laki-laki yang mengaku hanya lulusan sekolah rakyat itu. (aga)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 27 Juni 2008

Label: , ,

Dr Ec Hj Samiatun, MM
Dari Pengusaha Menuju Politisi

Tak Tega Melihat Kemiskinan, Siapkan Pabrik Masuk Desa

Nama Samiatun akhirnya masuk juga dalam bursa kandidat gubernur Jatim. Setelah sebelumnya sempat akan mencalonkan dari jalur independen, kini ia resmi dicalonkan PKB Jatim pimpinan Imam Nahrawi. Cagub perempuan kedua setelah Khofifah Indar Parawansa ini lahir di Surabaya, 8 Oktober 1960 silam. Selain menjabat sebagai ketua umum Pusat Koperasi Pribumi Indonesia (Puskopi), ia juga tercatat sebagai rekanan Pertamina untuk berbagai proyek di wilayah timur Indonesia.

Sebagai wanita asli Jawa Timur, Syam mengaku miris melihat realita masyarakat Jatim pascareformasi yang semakin mengenaskan. Kemiskinan semakin tinggi. Program pemerintah juga gagal. "Ini membuat mental masyarakat semakin buruk karena pemerintah tak mampu memberdayakan masyarakat," tulis Syam, sapaan akrabnya dalam sebuah situs pribadinya.

Karena keprihatinan inilah, wanita berdarah Madura itu ingin meretas jalan di dunia politik. Ia punya tekad memperbaiki mentalitas dan taraf hidup masyarakat. "Bila saya menang dalam pilgub nanti, saya janji akan membuat program 'Pabrik Masuk Desa'. Program ini untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran," bebernya.

Menjadi gubernur merupakan amanah yang harus dipegang. Tak ada alasan menolak. Karenanya, ia bercita-cita menjadikan Jatim sebagai provinsi terbaik di Indonesia.

Sales Kompor

Sebagai pengusaha, wanita keturunan kerajaan Sumenep atau Potre Koneng ini merintis usahanya sejak kecil. Tidak mudah bagi Syam muda untuk merintis usaha demi usaha hingga menjadi sukses seperti sekarang. Ia sempat menjadi penjaga toko hingga sales kompor door to door. "Saat menjadi sales, pengalaman saya mendapat pengalaman yang sangat berharga ketika melayani pembeli. Tolakan serta kewajiban menyenangkan pembeli menjadi bagian dari hidup saya," katanya.

Beberapa tahun kemudian, perempuan yang akan berpasangan dengan guru besar FISIP Universitas 17 Agustus (Untag) Arief Darmawan ini melebarkan bisnisnya ke manca negara. Di Singapura, ia punya usaha di bidang equipment laboratory and safety. Sedangkan di Negara Paman Sam, ia mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang lubricant plan and flowmeter.

Di Jepang lain lagi. Di sana ia mengembangkan usaha bidang dispenser pump merek Tatsuno. "Orang usaha itu kalau bisa lebih dari satu. Ini untuk berjaga-jaga jika salah satunya ngguling. Kita bisa hidup dengan usaha yang lain. Harus ada cadangan dan jangan hanya bergantung pada satu pekerjaan saja," pesannya.(Iksan Fauzi)

Sumber: Surya,Wednesday, 14 May 2008

Label: , ,

Santi Muryana Sang Mualim Perempuan

Tak Malu, bahkan Bangga karena satu-satunya Mualim Perempuan. Tak banyak perempuan menjalani profesi sebagai mualim kapal. Tapi, Santi Muryana salah satu dari yang tak banyak itu. Bagaimana perasaan dia?

Pagi itu suasana pelabuhan penyebrangan Kamal masih cukup sepi. Maklumlah, saat itu tepat Idul Adha (20/12). Usai salat id, orang-orang masih meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat. Tapi, pagi itu koran ini harus mengejar jadwal trip terakhir kapal untuk bisa bertemu dengan seorang mualim perempuan, Santi Muryana

Berdasarkan informasi yang diterima koran ini, biasanya Santi mengoperasikan kapal Dharma Fery I. Untungnya, mencari sosok perempuan itu tidak susah. Setiap orang di lingkungan PT Dharma Lautan Utama yang ditanya pasti kenal mualim perempuan itu. Memang, dia cukup dikenal di lingkungan perusahaan tempatnya berkeja tersebut.

Dengan informasi dari seorang karyawan yang sedang bertugas di kapal, Jawa Pos ini bertemu Santi di anjungan Dharma Fery I. Kesan pertama menginjakkan kaki di anjungan, suasana sempit sangat terasa. Hanya ada beberapa ruang untuk bergerak.

Meski bekerja di tengah lelaki di kapal, Santi sangatlah periang. Senyum manis dan rona wajah ceria selalu dia tampakkan ketika berbincang. Padahal, saat itu dia merasa kurang sehat. Maklum dia baru bertugas semalaman. Bagaimana tidak, pekerjaan sebagai mualim kapal menuntut dia untuk selalu standby memantau keseluruhan oprasional kapal.

Kadangkala orang awam menduga, orang yang mengemudikan kapal adalah nahkoda. Padahal, yang bertugas secara langsung mengemudikan kapal adalah sang juru mudi. Juru mudi inilah yang nantinya bertanggung jawab kepada mualim. Mualim memiliki kedudukan setingkat lebih rendah di bawah nahkoda. Mualim dan nahkoda merupakan perwira jaga bagi kelayakan dan kesempurnaan operasional kapal.

Di balik kemudi kapal, terdapat sederetan tombol otomatis penggerak kapal. Di sebelahnya ada beberapa alat penunjuk status arah kapal, bentuknya seperti jarum kompas. Namanya schotell. Di samping kanan schotell terdapat alat high engine yang berfungsi sebagai pendorong agar kapal dapat bergerak.

Terdengar suara radio dari operator mengomunikasikan status bongkar muat kapal yamg dioperasikan Santi. Itu pertanda kapal sudah harus kembali berlayar ke dermaga selanjutnya. Dengan cekatan Santi memberi aba-aba kepada Nur Sayid, juru mudi kapal. Setiap perubahan tekanan, koordinat dan arah yang tertera di sana dapat dia baca dengan sigap. Sehingga memudahkan juru mudi untuk mengoperasikan kendali kapal. Beginilah tugas Santi, memberikan instruksi navigator. "Lebih banyak sukanya dibandingkan dukanya selama bertugas sebagai seorang mualim," akunya.

Dia cerita, jejak karirnya berawal ketika dia mengambil sekolah jurusan pelayaran di SPM BS (Sekolah Pelayaran Maritim Bina Samudra) di Jalan Tidar Surabaya. Dia memang ingin sekolah di jurusan pelayaran. Apalagi, saat itu keluarganya tidak ada yang protes.

Menurut dia, hampir keseluruhan keluarganya berprofesi sebagai perawat. Hanya, orangtuanya memberikan kebebasan pada anaknya untuk menetapkan pilihan. Satu nasihat ayahnya yang paling dia ingat, "Jika memang sudah mantap mengambil keputusan untuk sekolah jurusan pelayaran, ya harus didalami. Jangan setengah-setengah."

Dia lulus di tahun 1993 dan langsung bekerja di salah satu perusahaan Kargo. Itu pun posisinya sebagai mualim. Pada 1995 Santi bergabung dengan perusahaan tempat dia berkerja sekarang. Saat itu dia ditempatkan di penyeberangan Ketapang (Banyuwangi)-Gilimanuk (Bali). Lima tahun kemudian ditempatkan di penyeberangan Kamal-Ujung.

Posisi dia yang berada di tengah-tengah lingkup pekerjaan yang didominasi kaum pria, tidak membuat pesimistis atau malu. Malah, dia memgaku bangga, karena satu-satunya perempuan di penyeberangan Ujung-Kamal yang tetap eksis di posisi mualim kapal.

Penyeberangan di Selat Madura adalah yang terpadat di Indonesia. Kondisi ini berpengaruh pada jadwal kerjanya Santiyang juga sangat padat. Tak jarang dia harus bertugas malam. Selama 12 jam dia harus standby di atas kapal. Itu artinya dalam semalam Santi harus melakukan pekerjaannya sebanyak 14-15 trip.

Kondisi ini yang kadang menjadi pemberat bagi santi. Sebab, kini dia memiliki anak laki-laki usia 5 tahun, yang menutut dia pandai mengatur waktu. Sehingga ada waktu luang untuk bisa bercengkrama dengan anaknya.

Suaminya yang bekerja juga bekerja di perusahaan yang sama, tak jarang pula jadwal kerjanya berbarengan. Otomatis tidak ada yang bisa mengasuh anak. Jika sudah begitu, anak mereka dititipkan pada penitipan anak.

Justru, Santi merasa lega jika mendapat jadwal kerja malam. Alasannya, di pagi hari dia bisa punya waktu untuk bisa bersama anaknya. (SILVIA RATNA DEWI D)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 22 Des 2007

Label: , , ,

Siti Hatijah Mengabdi di Tari Tradisional

Pernah Dikirim ke Taiwan, Kembangkan Tari di Beberapa Sekolah

Kiprah dan sepak terjang Siti Hatijah, 46, di bidang tari tradisional Madura memang patut diacungi jempol. Sejak 1972 dia mengabdikan diri di dunia tari tradisional.

Gemuruh tepuk tangan membahana di Pendapa Ronggosukowati kemarin siang. Saat itu baru saja ditampilkan tarian tradisional Topeng Gettak. Gemulai sang penari dan keserasiannya dengan alunan musik pengiring, ternyata membuat undangan yang menghadiri perayaan Hari ibu, PKK, Dharma Wanita, dan KB Kesehatan berdecak kagum.

Di deretan depan tampak sejumlah pejabat, seperti Bupati Pamekasan Ach. Syafii, Ketua DPRD Kholil Asyari, Kajari Yusran Lubis, Dandim 0826 Letkol Inf Agus Sumantoro, dan sejumlah kepala dinas dan instansi di lingkungan pemkab. Seakan tak peduli dengan banyaknya pejabat dan undangan yang hadir, sang penari tetap tampil memukau.

Siapakah sebenarnya sang penari itu? Dia Siti Hatijah, 46, salah satu pembina tari-tarian tradisional Madura. Tijah - sapaan akrabnya - memang cukup lama menggeluti tari-tarian tradisional. "Saya kenal tari-tarian tradisional Madura sejak 1972," tuturnya saat ditemui koran ini sebelum tampil kemarin.

Perempuan yang kini menjadi guru di SDN Larangan Luar III, Kecamatan Larangan, ini mengaku banyak didorong keluarga dalam menggeluti tari-tarian tradisional Madura. Apalagi, kedua orangtuanya memang memiliki darah seni, meski hanya kesenian tradisional, seperti macopat.

Dorongan dari orantuanya diwujudkan dengan cara mengirim Tijah ke STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) di Surabaya. Di sanalah Tijah banyak memeroleh ilmu kesenian, terutama kesenian tari. Di STKW pula dia banyak bergaul dengan pekerja seni dari berbagai wilayah di Jawa Timur. "Sebelum masuk STKW pun saya sudah menari. Sejak saya kecil, mulai dari SD, SMP hingga SMA, memang sudah sering menari. Terutama, menari tradisional," katanya.

Setelah lulus dari STKW, Tijah semakin matang. Apalagi, saat itu dia bertemu dengan Alimuddin, anggota TNI di lingkungan Kodim 0826 Pamekasan. Suaminya itu memberikan dorongan penuh kepada Tijah di dunia tari tradisional. "Suami saya ikut mendukung saya di dunia tari tradisional," ungkap Tijah yang mantan anggota Persit (Persatuan Istri Tentara) Kodim 0826 Pamekasan ini. Suami Tijah memang pernah menjadi anggota TNI. Namun, sejak 2007 terpilih sebagai kepala Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan.

Karir Tijah di bidang tari tradisional pernah mencapai puncak. Dia dikirim ke Taiwan sebagai kontingen Indonesia khusus kesenian pada acara Pramuka se dunia. "Saya juga pernah dikirim ke Medan dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Saya juga pernah mendapat penghargaan saat tampil di Pandaan tahun 1980-an," tuturnya.

Kini Tijah mulai menularkan ilmunya. Yakni, dengan menjadi pembina tari di beberapa sekolah. Seperti SMKN 3, SMPN 5, SMPN 1, dan beberapa sekolah lainnya. "Sebenarnya, tari itu gampang. Kuncinya hanya pada kelenturan tubuh dan keserasian dengan musik pengiring. Semua orang sebenarnya bisa menari. Hanya bergantung latihan saja," ujarnya.

Kemarin meski sudah memasuki usia senja, Tijah tetap bisa menunjukkan kemampuan menarinya. Dia membawakan Topeng Gettak yang bercerita tentang seorang satria pemberani saat melawan penjajah Belanda. (AKHMADI YASID)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 18 Des 2007

Label: , , , ,