Mr X Ternyata Orang Sampang

Korban Tewas Runtuhnya Mal Malaysia

Teka-teki mayat tak dikenal korban reruntuhan mal di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, dikabarkan asal Sampang juga. Mr X itu diduga kuat bernama Mat Daib asal Dusun Lenteng Barat, Desa Nyeloh, Kecamatan Kedungdung. "Mayat tidak dikenal tersebut memang adik kami," ujar Syaifudin, kakak korban.

Kepastian kabar meninggalnya Mat Daib diperoleh Syaifudin dari Suryati, adik kandungnya yang juga bekerja di Malaysia. Suryati menyampaikan kabar duka tersebut pada Kamis (28/5), sekitar pukul 20.00, melalui telepon selulernya. "Sebelum mengabarkan adik (Mat Daib. Red) meninggal, Suryati minta saya tidak kaget. Setelah itu, ia bilang Mat Daib tewas tertimpa reruntuhan bangunan," ungkapnya.

Seperti diberitakan Jawa Pos kemarin, mal berlantai empat di kawasan Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, ambruk pada Kamis (28/5) lalu. Akibatnya, 10 TKI asal Provinsi Jatim menjadi korban reruntuhan bangunan. Dari 10 pekerja tersebut, empat diketahui meninggal dunia. Satu diantaranya diidentifikasi sebagai A. Suki bin Nahru asal Sampang. Dua lainnya warga Pacitan dan Blitar. Sedangkan satu lagi Mr X yang diduga kuat adalah Mat Daib, asal Sampang.

Syaifudin menjelaskan, kejadian nahas itu terjadi sekitar pukul 17.00 (waktu setempat). Saat itu, Mat Daib sedang bekerja bersama rekan - rekannya yang lain. "Selain adik saya, ada TKI bernama A. Suki bin Nahru asal Desa Blu'uran, Kecamatan Karang Penang, yang kabarnya ikut tewas," ungkapnya.

Menurut dia, orang tuanya maupun dirinya mengaku tidak mendapat firasat apa pun sebelum meninggalnya Mat Daib. Tapi, putra bungsu korban, Viki Tahumil, 5, bermimpi ayahnya pada Kamis malam. Viki menceritakan mimpinya itu kepada pamannya Jumat pagi.

"Dalam mimpinya, Viki cerita bapaknya menakut - nakutinya. Dia bertemu dan bicara dengan bapaknya tanpa kepala dan kaki. Saat itu, adik saya mengajak Viki ikut ke Malaysia," kata Syaifudin.

Sementara ayah korban, Abdus Salam, 80, mengaku pasrah dengan kejadian yang menimpa anaknya tersebut. Menurut dia, semasa hidup almarhum tergolong anak yang baik dan tidak penah menyusahkan orang tua. "Kalau ditanya sedih, saya pasti sedih Nak. Tapi mau apalagi, mungkin ini sudah takdir dan keluarga saya harus tabah menjalani," katanya.

Menurut dia, putranya bersama menantunya, Bahriyah, bekerja ke Malaysia semata - mata untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarganya yang pas - pasan. Sebelum ke Malaysia, Mat Daib pernah jualan sate di Jogjakarta dan menjadi tukang becak di Surabaya," ungkapnya.

Suami Satuna ini mengaku bingung. Selain harus kehilangan anaknya, dia juga harus merawat dua anak Mat Daib dan Bahriyah, Moh. Ribut, 12, dan Viki Tahumil. Termasuk juga harus melunasi utang kepada salah seorang tetangganya sebesar Rp 6 juta. "Sebab, anak dan menantu saya bisa berangkat ke Malaysia dua minggu lalu setelah mendapat pinjaman uang dari Pak Marsudah sebesar Rp 6 juta," akunya.

Dia berharap perhatian dan bantuan pemerintah agar proses pemulangan jenazah putranya lancar dan tidak ada kendala. "Orang kecil seperti kami ini tidak tahu apa-apa. Kami hanya berharap jenazah anak saya bisa dipulangkan dan dimakamkan di Indonesia," harapnya. (yan/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 31 Mei 2009

Label: ,

Muntaber Meledak di Pulau Sapeken

18 Meninggal 13 Kritis

Wabah penyakit muntah disertai berak (muntaber) yang menyerang warga Pulau Saur dan Pulau Pagerungan Besar di wilayah Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, terus menyebar.

Dalam 20 hari terakhir, jumlah penderita yang meninggal hingga tadi malam sebanyak 18 orang, sedangkan yang dalam kondisi kritis dan sedang menjalani perawatan di Puskesmas Sapeken mencapai sedikitnya 13 orang.

Menurut, Moh Sunar, salah seorang tokoh masyarakat Pulau Sapeken, jumlah penderita yang kebanyakan anak-anak dan balita dikhawatirkan akan terus meningkat. Termasuk yang akhirnya meninggal dunia.

”Sampai tadi malam, dalam catatan kami, yang meninggal sudah mencapai 18 orang, sedangkan yang masih dirawat 13 orang,” ujar Sunar kepada Surya, Kamis (21/5).

Perkembangan penyakit itu sangat singkat. Dalam semalam saja, penderitanya terus bertambah. Yang menjadi persoalan saat ini, lanjut Sunar, daya tampung Puskesmas tak sebanding dengan jumlah pasien. Sebab, selain penderita muntaber, penderita penyakit lain juga banyak yang butuh opname. Karena itu, banyak penderita muntaber yang terpaksa diinfus atau menjalani perawatan di rumah bersalin atau di pondok bersalin desa (polindes) di bawah pengawasan bidan desa.

”Bahkan, karena puskesmas tidak muat, ada pasien yang dititipkan ke sebuah ruang di Pondok Pesantren Al-Ikhsan, Pulau Saur, Kecamatan Sapeken,” lanjutnya.

Penderita muntaber yang masih dirawat di Puskesmas Sapeken dan kondisinya semakin parah yakni Anni Fatirah, 15, Adit, 8, Habib, 6, Aminah, 4, Nurul, 4, Zabihullah, 4, dan Roby, 3. Semuanya warga Pulau Saur, Kecamatan Sapeken.

Sedangkan penderita muntaber yang baru masuk Puskesmas adalah Aminah, 4, Agil, 5, Radi, 5, Didit, 6, Wahidah, 19, dan Iqbal, 9. Mereka warga Pulau Saur dan Pagerungan Besar.

Badrul Aini S.Sos. tokoh masyarakat Sapeken yang mantan anggota DPRD Sumenep, juga mengakui mewabahnya muntaber di Pulau Saur dan Pagerungan Besar. Padahal, di kedua pulau yang masuk wilayah Kecamatan Sapeken itu, jumlah tenaga medis dan peralatannya sangat minim. ”Akibatnya, sejak mewabahnya penyakit muntaber itu, banyak pasien tak tertolong dan akhirnya meninggal dunia,” ujar Badrul.

"Kami memohon perhatian pihak dinas kesehatan, karena kalau keadaan ini terus berlanjut, pasti korban meninggal akan terus berjatuhan," imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sumenep, Dr Susianto mengaku telah menerjukan tambahan tenaga medis ke sejumlah pulau di Kabupaten Sumenep yang ditengara mengalami endemik muntaber.

”Hasil analisis kami, penyakit itu menyebar cepat di sana karena masyarakat setempat masih mengkonsumsi air minum tanpa direbus,” kata Susianto.

Kecamatan Sepeken mempunyai luas total wilayah 201,88 km2 (9,64 % dari luas Kabupaten Sumenep). Jumlah desa di Kecamatan Sepeken sebanyak 9 desa yang tersebar di 21 pulau. Kecamatan Sepeken berbatasan dengan Laut Kalimantan di sisi utara, sebelah selatan dibatasi Laut Bali, sebelah timur dibatasi oleh Laut Sulawesi, sebelah barat dibatasi oleh Laut Jawa. Jumlah penduduk Kecamatan Sepeken secara keseluruhan 37.765 jiwa. (st2)

Sumber: Surya, Jumat, 22 Mei 2009

Label: ,

Pembuat Tempayan Warisan Sesepuh

Hasil Jualan untuk Biaya Hidup dan Pendidikan

Semangat Sudjib, 50, warga Desa Panagen, Kecamatan Gapura menyekolahkan anaknya (Lukman, 21) patut diacungi jempol. Bermodalkan tanah liat, dia mampu menanggung biaya pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi.

Pagi sekitar pukul 08.30, tepat di samping rumahnya, Sudjib memulai pekerjaannya. Membuat tempayan unik dari tanah liat dengan berbagai jenis dan ukuran. Pekerjaan tersebut, memang tidak asing. Sebab, sebagian besar warga di daerah Gapura membuat tempayan dari tanah liat.

Membuat tempayan dari tanah liat tersebut dilakoninya sejak usianya masih muda tepatnya sekitar tahun 1970 - an. Pekerjaan itu, diakui sebagai warisan turun-temurun. Karena, menurut cerita yang didapat dari almarhum orang tuanya, nenek dan kakek Sudjib sudah membuat kerajinan dari tanah tersebut. "Katanya, sesepuh saya sudah melakukan pekerjaan seperti ini (membuat tempayan)," ungkapnya sambil menunjukkan tanah yang baru selesai dicampur air.

Keinginan melanjutkan pekerjaan tersebut karena dianggap ringan. Tempayan - tempayan tersebut dibuat dari tanah liat merah yang ada di pekarangannya sendiri. Selain jenis tanah merah, katanya, tidak bisa dibuat tempayan. Sejak menggeluti pembuatan tempayan, bapak dari satu anak itu sudah mampu membuat tempayan dengan berbagai jenis dan ukuran.

Dalam pembuatan tempayan, harus jeli dan sabar. Karena, tempayan tidak bisa dibuat hanya satu atau dua menit. Tetapi, untuk bisa menghasilkan satu tempayan dibutuhkan sekitar empat jam. Setelah itu, tempayan tersebut dijemur untuk kemudian dibakar selama beberapa jam.

Dia mengakui, tempayan yang dia buat bebas dari campuran barang lainnya. Satu contoh, katanya, dicampur dengan semen atau lim. Berkat tempayan dari tanah liat tersebut, kebutuhan hidup sehari - hari bisa dia penuhi. Hingga saat ini, Sudjib menjual tempayannya dari Rp 2500 hingga Rp 20 ribu per buah. Bahkan dari hasil penjualan tempayan itu, bisa mendukung pendidikan anaknya. "Alhamdulillah, saat ini anak saya sudah duduk di bangku kuliah," katanya bersyukur.

Dia menandaskan, akan bertahan dengan pekerjaannya. Sebab, selain untuk lahan bisnis, pekerjaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan tempat tinggalnya. Apalagi, selama ini tempayan yang diproduksinya banyak dipakai tersebut dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai wadah air, tempat masak dan alat kebutuhan hidup lainnya. (ZAITURRAHIEM/zr/rd)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 21 Mei 2009

Label: , ,

Terjebak dengan Sastra Pizza

Sebagian besar kaum muda mulai kecanduan dengan sastra pizza. Buktinya, karya sastra pemula terinspirasi borjuasi kota yang sarat dengan simbol metropolis. Akibatnya, aura daerah hilang karena kaum muda melakukan migrasi ide dan inspirasi.

Ketua Komite Sastra, Mashuri mengatakan, hal tersebut dalam seminar bertajuk Sastra dan Dialektik di auditorium STKIP kemarin. Pria yang pernah bermukim di Malang ini mengatakan, kaum muda beranjak dari nasionalisme-geografis.

Akibatnya, karya sastra kaum muda terasing di tengah masyarakatnya. Alasannya, masyarakat desa di sekitarnya tidak kenal dengan simbol-simbol pizza, fried chicken, dan sampayo.

Dia meminta kaum muda menggali potensi idenya dari lingkungan di sekitarnya. Mashuri menilai penyair Zawawi Imron menasional bukan karena mengibarkan sastra pizza. Melainkan, Zawawi memopulerkan sesuatu yang indah di Madura seperti clurit, mayang, gelombang, dan airmata. "Tak ada pizza dalam puisi Zawawi kan?" katanya dalam seminar yang dihelat Sanggar Lentera ini.

Menurutnya, tradisi sastra merupakan kebiasaan pembacaan yang ditulis atau dibacakan. Dalam sejarah sastra dunia, dia menilai karya besar merupakan hasil pembacaan yang cerdas pada teks.

Mahasiswa sastra S2 IAIN Sunan Ampel ini mencontohkan realitas, gagasan, dan inovasi sebagai aplikasi dari hasil pembacaan. Tak heran, katanya, pembaca yang cerdas seringkali menghasilkan karya yang bernas dan bernilai sastra tinggi.

Nara sumber lainnya Nurhadi Moekri menilai profesionalitas pembaca karya sastra terkait dengan kepentingan profesinya. Pria yang malang - melintang di dunia pendidikan ini menyontohkan guru sastra lebih dominan mengonsumsi karya sastra.

Sedangkan guru bidang studi lain belum tentu senang dengan karya sastra. Akibatnya, sastra seolah - olah memiliki komunitas tersendiri. Padahal, dia menganggap sastra bisa dinikmati siapa saja dengan latar profesi apapun.

Dalam seminar sastra yang dipandu Chiko ini, Nurhadi mengamati pembaca sastra tak harus paham seperti persepsi pengarangnya. Sebab, ketua STKIP ini menganggap sastra bebas dari maksud siapa pun. Sebab, teks dan kata-kata sendiri yang memberinya arti pada karya sastra.

Pria berkacamata minus ini memahami karya sastra terdiri atas tesa, sintesa, dan antitesa. "Substansi dari karya sastra itu indah, tinggal dari mana memotretnya," urainya di hadapan ratusan peserta yang sebagian besar perempuan.(abe/zr/rd)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 19 Mei 2009

Label: , , , , , ,

Petani Tembakau Sumenep Merugi

Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Sumenep membuat sebagian besar lahan tembakau terendam air hujan. Akibatnya, puluhan ribu tanaman tembakau yang sudah berumur dua bulan rusak dan mati.

Matsani,38, warga Dusun Waktuwak, Desa Moncek Timur, Kecamatan Lenteng petani tembakau mengaku seluruh tanaman tembakaunya sudah ludes karena tergenang air hujan selama kurang lebih tiga hari tiga malam. ”Tanaman tembakau yang masih muda ini rentan terhadap air hujan. Bila sehari saja tergenang maka, pasti akan layu kemudian membusuk,” ujar Matsani kepada Surya, Selasa (12/5).

Menurut Matsani, tanaman tembakaunya cepat mati karena ditanam di lahan persawahan yang berada di dataran rendah. Sedangkan ladang tembakau di dataran tinggi banyak yang tertolong karena air hujan tidak sampai menggenang.

Akibat hujan yang merusak tanaman itu membuat petani tembakau harus mengganti tanaman tembakaunmya dengan bibit tembakau yang baru. Sehingga petani harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli bibit dan ongkos tanam. Saat ini harga bibit tembakau yang kualitasnya bagus mencapai Rp 2.000 per batang.

”Harga bibit tembakau saat ini sangat mahal,” sambungnya.
Tanaman tembakau yang tergenang di antaranya di wilayah Kecamatan Kota, Batuan, Gapura, Dungkek, Lenteng dan sebagian di wilayah Kecamatan Ganding dan Guluk-Guluk.

Sesuai catatan Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak Surabaya sebagaimana disampaikan BMG Kalianget, hujan untuk wilayah Madura masih akan terjadi hingga dua hari ke depan dengan intensitas sedang dan ringan. Sehingga tanaman tembakau masih terancam.st2

Sumber : Surabaya Post, Rabu, 13 Mei 2009

Label: ,

Dua Sainal Berebut Jatah

Akibat pendataan yang kurang akurat, penyerahan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kelurahan Bugih Kecamatan Pamekasan, Kamis (14/5) sempat ribut. Dua orang yang masih satu keluarga sama-sama ingin merebut jatah BLT, padahal kartu yang ada hanya satu. Penyebabnya, dua orang yang tinggal di RT 2 lingkungan Nangger itu memiliki nama sama, yakni Sainal. Keduanya memiliki hubungan paman-keponakan.

Sang keponakan merasa sebagai pihak yang berhak mendapat BLT, karena sang paman telah sekitar enam tahun tidak tinggal di Pamekasan. Sang paman juga ngotot sebagai pihak yang paling berhak menerima BLT. Agar pencairan dana BLT itu tidak terganggu, petugas menunda penyerahan jatah untuk Sainal.

Untuk menentukan Sainal mana yang berhak mendapat jatah BLT, pihak kelurahan akan melakukan koordinasi dengan pihak BPS. Farid Saleh, Lurah Bugih, mengatakan bahwa terjadinya masalah dalam pencairan dana BLT itu akibat kesalahan dalam pendataan calon penerima BLT yang dilakukan BPS karena data yang dipakai masih data tahun 2008. Padahal, data itu memiliki kekurangan yang harus diperbaiki, misalnya kesalahan penulisan nama hingga adanya nama penerima warga yang sudah meninggal dunia. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Jumat, 15 Mei 2009

Label: ,

Batik Sampang Menunggu Ajal

Tak mudah menemukan Desa Kotah, Kec. Jrengik, yang dikenal sebagai pusat kerajinan batik tulis Sampang. Dari jalan desa yang naik turun di pegunungan kapur Madura harus turun dari mobil lantas menyusuri jalan setapak plesteran di kampung yang berjarak 25 km dari ibukota Sampang.

Memasuki kampung batik yang terasa kering ini seperti sudah terasa geliat aktivitas kerajinan batik tak seramai dulu. Di depan rumah tak lagi banyak kain-kain dijemur sehabis dibersihkan dari lilin dan pewarna. Tempat jemuran kain di beberapa rumah tampak telantar lama tak terpakai.

Oleh: Achmad Hairuddin

Di desa itu ada 25 perajin yang menggantungkan hidupnya tekstil batik tulis. Tapi terpaan krisis ekonomi sejak 1998 silam membuat usaha rumahan itu masih terasa imbasnya. Kini hanya separonya saja yang masih aktif.

Lambat laun usaha yang mereka geluti kian meredup karena tidak adanya dukungan modal yang cukup kuat sehingga tidak mampu melayani permintaan sejumlah konsumen dalam jumlah besar. Untuk menutupi kebutuhan hidup sebagian besar perajin beralih kerja menjadi buruh tani di sawah-sawah tadah hujan di gunung kapur yang tandus.

Tapi di sela kelesuan itu masih ada perajin yang tetap bertahan mengembangkan pasar batik ini meskipun dengan sangat susah payah. Doviri, salah seorang perajin batik yang tetap bertahan itu menuturkan usaha ini tetap dia tekuni karena kecintaannya terhadap seni batik tulis serta meneruskan usaha yang telah dirintis keluarganya.

”Meski hanya bermodal pas-pasan, tapi saya mencoba bertahan agar batik tulis Desa Kotah ini tetap hidup. Karena saya sudah telanjur mencintai seni budaya warisan leluhur keluarga itu. Jika bukan saya lalu siapa lagi yang mau melanjutkan kerajinan yang dikembangkan turun temurun itu,” tutur Doviri yang telah menekuni seni batik tulis sejak 1984 silam.

Berbagai upaya telah dia lakukan, mulai dari mencoba meminta kredit kepada bank, tapi modal yang dikucurkan tidak mencukupi untuk mengembangkan usahanya. Bantuan dari pemerintah setempat ternyata juga kurang begitu merespon karena dia hanya mendapat bantuan peralatan batik dari Dinas Koperasi dan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sampang.

”Padahal dari segi motif maupun kualitas, produksi batik Kotah tidak kalah dengan batik Telaga Biru Kec. Tanjungbumi, Bangkalan, dan Pamekasan,” ujar dia. Bahkan, sambungnya, para perajin Telaga Biru sering memesan kepadanya karena kualitas batik Kotah jauh lebih halus. ”Tetapi pesanan yang saya kirimkan sangat terbatas karena tidak punya modal apabila permintaannya cukup banyak,” kata Doviri yang juga coordinator pembatik di kampung itu.

Batik Kotah motif dan warna hampir sama dengan batik Madura umumnya. Motif kembang dan burung paling dominan dengan warna merah dan hijau. Batik itu digambar di atas kain katun yang dibeli dari Surabaya.

Harga kain batik Kotah mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 1 juta per lembar tergantung dari kualitas katun. Hingga kini pembatik Madura belum berani bereksperimen seperti pembatik Pekalongan dengan membuat pakaian modis lengan pendek yang santai dan digemari masyarakat. Mereka masih menjual dalam bentuk bahan kain yang dipotong untuk kemeja, blus, atau sarung.

Doviri dan rekan-rekannya sempat bangkit semangatnya saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang mengundang Ramli, perancang busana terkemuka untuk memperkenalkan batik tulis Sampang ke luar daerah dan luar negeri.

Pada 18 Mei, Ramli bakal peragaan busana ke San Fransisco, Los Angeles, dan Chicago dengan busana motif batik Sampang dan Madura lainnya. Tapi dia dan para perajin batik yang lain kecewa karena tidak bisa merasakan dampaknya. Pasalnya, menurut Doviri, Ramli hanya pernah memesan empat potong kain sesuai dengan motif yang diinginkan.

Lalu muncul sebuah pertanyaan, dari mana Pemkab Sampang mengklaim Ramli bakal memamerkan batik Sampang ke AS padahal di kampung batik itu kondisi para perajin ibarat tinggal menunggu ajal.

Dia hanya menduga dibawanya empat potong batik Sampang itu sekadar dijadikan alasan saja agar bupati, istrinya, dan pejabat lainnya boleh ikut pelesir ke AS. ”Kenyataannya Ramli banyak membawa batik dari daerah lain,” tambah Doviri prihatin.

Menurut Doviri, justru yang diuntungkan para pengusaha yang memiliki modal besar, sementara para perajin jangankan untuk memasarkan dengan mengunakan merk dagang sesuai asal daerahnya untuk mendapatkan modal usaha saja harus berjuang mati-matian supaya tidak gulung tikar.

”Sebenarnya modal yang saya butuhkan tidak banyak, hanya Rp 50 juta saja sudah mampu mengembangkan usaha. Karena jalur pemasarannya dapat dilempar ke Surabaya yang banyak peminatnya, namun sayangnya pemerintah kurang peduli terhadap nasib kami,” keluhnya.

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 13 Mei 2009

Label: ,

Disiapkan Raih Emas APho 11

Keberhasilan dua pelajar Pamekasan meraih medali perunggu dalam Olimpiade Fisika tingkat Asia (Apho) ke 10 pada 2009 yang diselenggarakan di Bangkok Tahiland, semakin memacu dunia pendidikan Pamekasan meningkatkan prestasinya.

Bahkan tahun ini mempersipakan minimal lima pelajar diikutkan dalam APho ke 11 dengan target perolehan medali emas. Drs Poerwedi Bambang Rusdiyanto pembina mata pelajaran fisika di Pamekasan mengatakan, banyak siswa yang berbakat di bidang saint, khususnya fisika. “Siswa kita tak kalah bersaing dengan siswa kota besar lainnya di Indonesia. Paling tidak, sejumlah siswa binaan kita selama ini berhasil meraih prestasi tingkat internasional,” katanya, Rabu (13/5) pagi tadi.

Siswa berprestasi itu di antaranya Andi Oktavian Latif. Pelajar SMAN 1 Pamekasan ini meraih medali emas pada olimpiade fisika tingkat internasional yang digelar di Singapura pada 2006. Dan dua siswa SMAN 1 Pamekasan lainnya yang juga menunjukan prestasi adalah M Sahibul Maromi dan Ali Ihsanul Qauli, peraih medali perunggu pada olimpiade fisika tingkat Asia yang dilaksanakan di Bangkok Thailand akhir April lalu.

Poerwedi menambahkan lima orang yang dipersiapkan pada olimpiade fisika internasional mendatang adalah tiga orang siwa baru yang saat ini masih memulai dari olimpiade fisika tingkat nasional (OSN) di daerah. Mereka adalah siswa pilihan yang suah sukes di OSN daerah. Sedangkan dua orang lainnya adalah peraih medali perunggu pada olimpiade fisika Asia di Bangkok. “Kita akan bawa mereka secara optimal untuk bisa berlaga ditingkat internasional dengan target tentunya medali emas sebagai medali terbaik,” katanya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 13 Mei 2009

Label: ,

Petani Tembakau Sumenep Merugi

Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Sumenep membuat sebagian besar lahan tembakau terendam air hujan. Akibatnya, puluhan ribu tanaman tembakau yang sudah berumur dua bulan rusak dan mati.

Matsani, 38, warga Dusun Waktuwak, Desa Moncek Timur, Kecamatan Lenteng petani tembakau mengaku seluruh tanaman tembakaunya sudah ludes karena tergenang air hujan selama kurang lebih tiga hari tiga malam.

”Tanaman tembakau yang masih muda ini rentan terhadap air hujan. Bila sehari saja tergenang maka, pasti akan layu kemudian membusuk,” ujar Matsani kepada Surya, Selasa (12/5).

Menurut Matsani, tanaman tembakaunya cepat mati karena ditanam di lahan persawahan yang berada di dataran rendah. Sedangkan ladang tembakau di dataran tinggi banyak yang tertolong karena air hujan tidak sampai menggenang.

Akibat hujan yang merusak tanaman itu membuat petani tembakau harus mengganti tanaman tembakaunmya dengan bibit tembakau yang baru. Sehingga petani harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli bibit dan ongkos tanam. Saat ini harga bibit tembakau yang kualitasnya bagus mencapai Rp 2.000 per batang.

”Harga bibit tembakau saat ini sangat mahal,” sambungnya. Tanaman tembakau yang tergenang di antaranya di wilayah Kecamatan Kota, Batuan, Gapura, Dungkek, Lenteng dan sebagian di wilayah Kecamatan Ganding dan Guluk-Guluk.

Sesuai catatan Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak Surabaya sebagaimana disampaikan BMG Kalianget, hujan untuk wilayah Madura masih akan terjadi hingga dua hari ke depan dengan intensitas sedang dan ringan. Sehingga tanaman tembakau masih terancam. (st2)

Sumber: Surya, 13/05/09

Label: , ,

Ayam Berkaki 4 Sedot Perhatian

Warga Desa Majungan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan digegerkan dengan lahirnya anak ayam berkaki empat. Anak ayam betina, milik Busri, 35, menetas seminggu lalu itu, sejak beberapa hari ini menjadi tontonan warga sekitar dan tetangga desa. Mereka menilai kelahiran anak ayam itu di luar kebiasaan.

Kepada Surya, Sabtu (9/7), Busri mengatakan, sebenarnya telur yang dierami induk ayam itu jumlahnya 10 butir. Namun ketika menetas, satu di antaranya berkaki empat. Sedang sembilan anak ayam lainnya normal.
Ternyata anak ayam abnormal itu membuat Busri senang. Sebagai petani dengan penghasilan pas-pasan, ia merasa bahagia memilik ayam aneh yang mengundang banyak warga datang melihat kagum dengan kondisi ayam dengan tingkah yang lucu dan menggemaskan.

Begitu senangnya lanjut Busri, ia berjanji akan memelihara ayam itu dengan menjaga betul kesehatannya. Agar anak ayam ini bisa tumbuh sehat, ia memindahkan anak ayam bersama induknya ke teras rumah dan memberi makanan khusus. “Jika selama ini kami membiarkan ayam yang menetas berada di dalam kandang dan mencari makan sendiri. Maka untuk anak ayam aneh ini kami istimewakan dengan memberi penerangan lampu neon di malam hari,” kata Busri.

Ditanya jika anak ayam ini nanti tumbuh dewasa apakah ada niat untuk menjualnya. Busri terdiam sejenak sembari menimang anak ayamnya. Kemudian Busri menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda tidak ada niat untuk menjualnya.

Diakui, sejak ia memilihara ayam, belum pernah melihat ayam berkaki empat. Ia menduga, anak ayam miliknya membawa berkah. Hanya saja ia belum mengerti berkah yang dimaksud. “Anak ayam ini baru berumur seminggu. Siapa tahu nanti setelah dewasa membawa pengaruh terhadap keluarga saya,” kata Busri. st30

Sumber: Surya, Minggu, 10 Mei 2009

Label: , , ,