Workshop Simulasi Digital

Minggu, 16/06/2013 | 11:45 WIB Suasana Workoshop Simulasi Digital PAMEKASAN - Sebanyak 60 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Pamekasan mengikuti Workshop Simulasi Digital di SMKN 3 Pamekasan, Sabtu (15/6) kemarin. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bidang SMA/SMK Disdik Pamekasan, Drs M Tarsun MSi dan akan dilaksanakan selama empat hari hingga Selasa (18/6) mendatang. Program ini terselenggara hasil kerjasama dengan Sout Est Asia Manastry Organication Learning Education Center (SEAMOLEC) Jakarta, yaitu sebuah organisasi Kementrian di Asia Tenggara yang bergerak dibidang pendidikan dan pembelajaran, dengan SMK se Pamekasan yang didukung oleh Fakultas Tehnik Unira Pamekasan. Kordinator Pelaksana Pelatihan, Drs Tarmuji MT mengatakan, pelatihan ini digelar dalam rangka menghadapi penerapan kurikulum baru tahun 2013 mendatang dan merupakan pengembangan dari mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) yang sudah ada sebelumnya. “Dalam pelatihan ini arahnya nanti semua guru bisa membuat buku digital dan video pembelajaran dan menerapkan simulasi digital seperti pembelajaran animasi itu dengan mengunakan tehnologi informatika. Ini semua kita lakukan untuk menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan dan demi kemudahan dalam pembelajaran,” jelasnya. Soal kerjasama dengan SEAMOLEC ini, kata Trmuji, dilatar belakangi dengan kepedulian lembaga tersebut terhadap proses pembelajaran dan pendidikan di Indonesia. Sebeleum menggelar di Pamekasan, SEAMOLEC terlebih dahulu melakukan Workshop di Jakarta yang diikuti sebanyak 60 SMK dan Polititeknik se-Indonesia dan 12 delegasi dari China. Dari Pamekasan yang hadir Tarmuji sendiri selaku Kepala SMKN 2 Pamekasan. Sementara itu, Kepala Bidang SMA dan SMK Disdik Pamekasan, Drs HM tarsun MSi saat memberikan sambutan mewakili Kepala Disdik Drs Achmad Hidayat MPd mengaku, bangga dengan program pelatihan ini. Menurutnya, kemampuan menguasai tekhnologi khususnya yang menunjang proses pembelajaran merupakan keharusan bagi guru dan sekolah secara umum. “Selain harus meningkatkan kemampuan intelektualitasnya, para guru juga dituntut harus mampu mengembangkan kecakapannya menguasai tehnologi untuk membantu proses pembelajarannya. Ini semua keharusan. Dan saya sangat mendukung kegiatan pelatihan ini,“ kata Tarsun. Pihak Disdik Pamekasan, kata Tarsun, sangat apresiatif terhadap program ini. Karena itu, Disdik akan menindaklanjuti kerjasama dengan SEAMOLEC ini selanjutnya. Menurut rencana pada tanggal 20 Juni mendatang Direktur SEAMOLEC Jakarta akan hadir ke Pamekasan guna menandatangani MoU kerjasama dengan Bupati Pamekasan, Drs Achmad Syafii. mas

Label: , , , ,

Pemkab Jalin Kerjasama dengan SEAMOLEC

Jumat, 21/06/2013 | 10:52 WIB Bupati Pamekasan Achmad Syafii menyerahkan cinderamata pada Gatot Hari Priyo W disaksikan Rektor Unira Drs. H Amiril, MSi. PAMEKASAN - Bupati Pamekasan Drs. Achmad Syafii MSi Kamis (20/6) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Pamekasan dengan SEAMOLEC (sebuah organisasi Kementerian Pendidikan Asia Tenggara Jakarta) dan Unira, dalam pengembangan teknologi informatika bagi guru SMK di Pamekasan Penandatangana MoU ini merupakan tindak lanjut dari Workshop yang dilaksanakan SEAMOLEC tanggal 15 sampai 18 Juni lalu. Ada sekitar 60 guru SMK se Pamekasan yang diikutkan dalam Workshop simulasi digital tersebut. Workshop itu juga merupaan rangkaian kegiatan kerjasama antara SEAMOLEC dan Unira yang telah berjalan sebelumnya. Direktur SEAMOLEC Dr. Gatot Hari Priyo Wiryanto mengatakan, kerjasama ini baru dijalankan di Malang dan Pamekasan. Dia berencana kerjasama itu bisa dikembangkan hingga dilakukan di 250 sekolah. Saat ini, kata dia, baru 60 guru di Pamekasan yang telah mengikuti diklat dan memiliki sertifikat. Bupati Achmad Syafii menyatakan, pendidikan merupakan bagian dari komitmen dan program prioritas di daerahnya. Ada banyak variabel dalam dunia pendidikan yang saat ini menjadi perhatian Pemkab, diantaranya masalah peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan. Khusus pemerataan pendidikan, dia menginginkan antara Pamekasan bagian utara dan selatan bisa seimbang dalam prestasi pendidikannya. “Dalam soal peningkatan kualitas, salah satunya adalah peningkatan kualitas guru. Nah kerjasama dengan SEAMOLEC ini bagian dari peningkatan kualitas pendidikan ini. Karena itu marilah kita manfaatkan momentum ini dengan baik, untuk kemajuan dan prestasi pendidikan Pamekasan,” katanya. Sementara Rektor Unira Drs. H Amiril MSi mengatakan, pihaknya memiliki tekat yang besar untuk bisa memberikan sumbangan bagi kemajuan Pamekasan. Karena itu dia berharap momentum jalinan kerjasama antara Pemkab, SEAMOLEC dan Unira Pamekasan ini, menjadi bagian dari partisipasi dan sumbangan bagi kemajuan pendidikan di Pamekasan. mas

Label: , , , ,

Anggaran Minim, Dewan Pendidikan Wadul DPRD

Dewan Pendidikan (DP) mengeluhkan minimnya anggaran dari Pemkab Pamekasan. Pada tahun 2013 ini Pemkab hanya menyediakan alokasi dana Rp 50 juta, dan itu dipastikan tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan dan program DP yang cukup banyak.

Keluhan itu juga telah disampaikan oleh pengurus DP Pamekasan pada saat melakukan audensi dengan Komisi D DPRD Pamekasan.

Drs HM Kutwa Fath, MPd., Ketua Dewan Pendidikan Pamekasan, mengatakan pada tahun anggaran 2013 ini DP Pamekasan mengajukan anggaran sebesar Rp 210 juta. Anggaran ini diajukan dengan rincian untuk membiayai sejumlah kebutuhan dan program kegiatan yang dirancang selama setahun. Namun kenyataanya pada tahun anggaran 2013 ini DP hanya diberi anggaran sebesar Rp 50 juta.

“Yang pasti dengan hanya mendapat jatah Rp 50 juta itu tidak cukup untuk membiayai sejumlah kegiatan dan program yang telah kami susun. Inilah masalah utama yang kami sampaikan kepada Komisi D saat itu, dan pihak Komisi D mengaku prihatin atas kondisi ini,” ungkap Kutwa, kemarin.

Karena itu, lanjut Kutwa, Komisi D DPRD Pamekasan menyarankan agar DP mengupayakan untuk tetap mempertahankan program bagus yang telah disusun itu untuk diajukan pada anggaran tahun 2014 mendatang, karena pada tahun anggaran 2013 ini sudah tidak memungkinkan.

Salah satu program unggulan yang akan dilakukan DP Pamekasan pada tahun 2013 ini adalah pendirian Kampung Pendidikan. Menurut Kutwa Kampung Pendidikan ini akan didirikan di sejumlah desa yang ada di wilayah kecamatan Waru, Pademawu dan Tlanakan. Proposal program ini telah diajukan ke Pemkab Pamekasan.

Program ini dirintis sebagai respon atas ditetapkannya Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan oleh Mendiknas beberapa waktu lalu. Menurut Kutwa sebagai kabupaten Pendidikan Pamekasan harus memililiki atau punya miniature atau contoh kabupaten pendidikan. Upaya ini dicoba dengan kampung pendidikan ini.

“Kampung pendidikan ini kegiatannya berbacam bidang pendidikan yang dipelopori oleh masyarakat dan pemuda. Ini diluar pendidikan formal di sekolah. Misalnya adanya masyarakat yang bergerak menangani bidang bahasa, bidang sain dan lain sebagainya. Dan itu bentuknya bukan seperti lembaga kursus,” ungkapnya.

Karena itu untuk merealisasikan program itu, Kutwa mengaku telah merencanakan untuk melakukan studi banding ke sejumlah daerah, antara lain ke Pare Kediri dan daerah lain yang telah memiliki program semacam kampung pendidikan ini.

“Seandainya pada tahun anggaran 2013 ini dana yang kami usulkan diterima, maka pada tahun ini program itu akan dijalankan. Namun karena tidak demikian, akhirnya ya kita tunggu semoga saja ditahun yang akan datang,” harap Kutwa.

Selain masalah program kerja dan anggaran, kata Kutwa, dalam audensi dengan Komisi D itu juga dibahas tentang eksistensi DP secara umum, sesuai dengan aturan PP NO 11 tahun 2010 yang mengatur tentang Dewan Pendidikan. Komisi D DPRD juga meminta agar audensi atau pertemuan dengan DP dilakukan rutin tiap dua bulan sekali. mas

Sumber: Surabaya Post, Senin, 17/06/2013

Label: , ,

Jadwal Karapan Sapi (Kerapan Sapi) 2012

Jadwal Karapan Sapi (Kerapan Sapi) 2012 - Pulau Madura | Sahabat dPUMA diseluruh Nusantara, ada informasi terbaru yang membanggakan dan sekaligus membahagiakan. Pada tahun 2012 ini, di Pulau Madura akan diadakan lagi Event tahunan yang tidak pernah terlupakan dan sering ditunggu-tunggu oleh Wisatawan Lokal maupun Wisatawan Mancanegara. Event tahunan tersebut adalah Karapan Sapi / Kerapan Sapi, nah bagi yang berminat untuk melihat / menonton lomba Karapan Sapi / Kerapan Sapi ini bisa langsung melihat jadwal yang ada dibawah ini:

JADWAL KARAPAN SAPI 2012

From Kabar Humaniora

Seperti itulah jadwal Karapan Sapi 2012 yang nantinya bisa menjadi pandangan bagi para penikmat Event Tahunan di Pulau Madura ini. Ditunggu kedatangannya di Pulau Madura.

Sumber: dpuma On Kamis, Mei 10th 2012

Label: , , ,

Kerukunan, Modal Utama Membangun Pamekasan


dari kiri Kholilurahman, Nanang Chadarusman
Guna menciptakan kekompakan dan kedamaian antar elemen masyarakat di Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batumarmar, Rabu (25/4) kemarin, digelar acara pengajian perdamaian. Pengajian itu dihadiri oleh Bupati Khalilurrahman dan Kapolres AKBP Nanang Chadarusman, serta sejumlah ulama berpengaruh.

Diantara para ulama yang hadir adalah KH Muhammad Rafii Baidawi, pengasuh Ponpes Al Hamidi, Banyu Anyar, KH Muhammad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Banyu Anyar Barat, KH Hasan Abdul Hamid dan KH Thoriq Abdul Hamid Pengasuh Pesantren Mambaul Ulum Bata Bata dan sejumlah ulama lainnya.

Kepala Desa Bujur Tengah Supriadi mangatakan, bahwa pengajian yang digelar adalah pengajian rekonsiliasi untuk kerukunan masyarakat yang sempat terpecah akibat kasus carok massal yang terjadi pada tahun 2006 lalu. Saat itu dua kelompok masyarakat terlibat carok massal yang mengkibatkan tewasnya 8 orang warga.

“Pengajian ini dilakukan untuk rekonsiliasi dan perdamaian, bukan hanya untuk satu kelompok saja, tapi untuk semua elemen masyarakat. Masyarakat kini sudah aman dan tennag, namun alangkah baiknya jika kondisi itu ditingkatkan, salah satunya dengan pengajian ini,” katanya.

Kapolres Pamekasan Nanang Chadarusman, saat menyampaikan sambutan mengungkapkan bahwa masyarakat desa Bujur Tengah kini sudah aman dan tenang. Karena itu dia minta agar ketenangan itu ditingkatkan dan jangan sampai pecah lagi. Untuk itu dia meminta agar masyarakat tidak mudah terhasut leh isu yang negatif.

“Jangan mudah terprpovokasi oleh isu negatif yang diperkirakan akan bisa membawa masyarakat pecah. Jika ada gangguan atau hal yang tidak diinginkan hendaknya berkordinasi dengan aparat keamanan di desa dan Kecamatan. Aparat kami akan selalu siap membantu menyelesaikannya,” kata Nanang.

Sementara itu Bupati Khalilurrahman mengatakan, pengajian itu merupakan bentuk kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat untuk meredam konflik. Karena itu, dia meminta agar masyarakat benar-benar memanfaatkan momentum itu untuk kepentingaan mendamaikan dan membuat masyarakat tenang dan rukun.

“Rukun merupakan modal untuk membangun. Pembangunan bukan hanya tanggungjawab pemerintah, tapi juga tanggungjawab masyarakat bersama. Dengan rukun dan damai maka akan kompak untuk membangun. Pemerintah tinggal memfaslitasi saja, “ katanya.

Dia mengatakan bahwa pembangunan di Pamekasan pada tahun 2012 ini akan memprioritaskan pada perbaikan dan pembanguna infrastruktur jalan. Utamanya jalan poros desa dan kecamatan yang menjadi kebutuhan vital untuk percepatan pembangunan ekonomi di desa. (mas)

Sumber: Surabaya Post

Label: , , , , , , , ,

Desa Miskin Turun Drastis Tinggal 74 Desa


SP/Masdawi Dahlan BUPATI Kholil dalam pengajian akbar muslimat NU dan KH R Kholil Asat (inzet)


Bupati Pamekasan Khalilurrahman menegaskan, selama empat tahun memimpin Pamekasan bersama wakilnya, Kadarisman Sastrodiwirjo, telah membuahkan banyak keberhasilan. Sekalipun dia juga mengakui ada beberapa hal yang belum tuntas. Hal itu disampaikan oleh bupati Kholil, panggilan akrabnya, saat memberi sambutan dalam acara Pengajian Akbar Muslimat NU Pamekasan yang bekerjasama dengan Pemkab Pamekasan, di lapangan depan Pendopo Ronggosukowati, Sabtu (21/4) kemarin.

Pengajian yang dihadiri ribuan kaum muslimin dan muslimat dari penjuru Pamekasan itu mendatangkan penceramah tunggal, yakni KH R Kholil Asat, pengasuh pondok pesantren Wali Songo, Situbondo. Dalam pengajian itu seluruh anggota Forum Pimpinan daerah (Forpida), para camat dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan, juga hadir. Menurut Bupati, salah satu keberhasilan yang harus diketahui oleh masyarakat adalah, berkurangnya jumlah desa miskin secara drastis. Menurut dia, pada saat dilantik menjadi pimpinan daerah pada tahun 2008 lalu, jumlah desa miskin di Pamekasan mencapai 144 desa dari 189 desa dan kelurahan yang ada di Pamekasan. Namun pada akhir tahun 2010 lalu, katanya, jumlah itu sudah berkurang drastis hanya tinggal 77 desa saja.

“Berarti telah ada penurunan sekitar 50 persen jumlah desa miskin yang ada di Pamekasan selama kami berdua dengan Pak Dadang memimpin Pamekasan. Ini merupakan bentuk rahmat dari Allah SWT. Dan harus disyukuri sebagai sebuah keberhasilan dari kerja kita bersama. Memang kita tidak bisa membalik tangan 100 persen harus tuntas. Karena kita tak bisa, bim salabim,” candanya.

Bupati Kholil mengajak agar masyarakat Pamekasan selalu menyikapi pelaksanan pembangunan itu dengan sikap religius. Selain itu juga mengingatkan agar masyarakat Pamekasan selalu mengharap ridla Allah SWT dalam mensyukuri keberhasilan yang dicapai. Sebab sebuah keberhasilan yang tidak diiringi dengan syukur dan menghaharap ridla Allah, maka keberhasilan itu tidak akan banyak bermanfaat. Tekat dengan program pembangunan prioritas pada tahun 2012 ini, sebagai tahun kelima kepemimpinannya, Bupati Kholil menegaskan bahwa pada tahun ini pihaknya konsentrasi melakukan penuntasan pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan. Menurut dia, seluruh jalan strategis yang berkaitan dengan percepatan ekonomi akan diperbaiki total pada tahun ini.

“Sudah direncanakan semua jalan strategis di desa dan kecamatan yang berkaitan dengan kepentingan akselerasi pembangunan ekonomi akan diperbaiki, mudah- mudahan tidak ada halangan. Memang tahun ini komitmen pembangunan pada bidang infrstruktur jalan sangat besar. Utamanya untuk membuka akses bagi desa atau wilayah terisolir,” katanya.

Sementara itu KH R Kholil Asat pengasuh pondok pesantren Wali Songo Situbondo dalam ceramahnya, mengajak masyarakat Pamekasan untuk banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan banyak mengikuti sunnah rasululllah. Dia juga mnengajak umat untuk mendoakan agar para peminpin bangsa Indonesia baik di pusat maupun di daerah diberi hidayah oleh Allah SWT, sehingga bisa menjalankan tugas dengan baik. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 22/04/2012

Label: , , , , , ,

Malam Kemilau Prestasi Pamekasan

SP/Masdawi Dahlan
Bupati Kholilurrahman saat acara gelar prestasi di Arek Lancor

Dalam periode kepemimpinan Kholilurrahman-Kadarisman Sastrodiwirjo sebagai Bupati dan Wakil Bupati, Pamekasan telah berhasil meraih berbagai prestasi dan penghargaan dalam berbagai bidang, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan hak asasi manusia, infrastruktur, lingkungan hidup, olahraga, pariwisata dan seni budaya.

Setidaknya ada 21 prestasi yang diraih Pamekasan sejak dibawah kepeimimpinan Kholilurrahman dan Kadarisman Sastrodiwirjo. Keduanya dilantik sejak April 2008 dan akan berakhir jabatannya pada Apil 2013 mendatang. Prestasi itu Minggu (18/3) tadi malam ditampilkan dalam sebuah acara gelar prestasi Pamekasan di areal Monumen Arek Lancor Pamekasan. Kegiatan ini disiarkan secara live oleh satu stasiun TV Swasta di Jawa Timur.

Berbagai prestasi itu antara lain adalah pada tahun 2008, meraih 3 penghargaan Otonomi Award dari Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP) yaitu untuk katagori region in an innovative breaktrough on health service, region in an innovative breakthrough on education sevice dan region on leading profile on a political institusionalization.

Tahun 2008 dan 2009 secara berturut-turut dapat penghargaan dari presiden RI atas keberhasilannya meningkatkan produksi beras di atas 5%. Di tahun 2008 ini juga menerima penghargaan sebagai kabupaten paling berhasil dalam penanggulangan keamanan dan resolusi konflik.

Di tahun 2009 Pamekasan meraih penghargaan anugerah wisata dari Gubernur Jawa Timur untuk wisata budaya sape sono’ dalam kategori the best ten of the year on achievement of tourism development, menerima penghargaan Adipura pada tahun 2010 atas keberhasilannya menjadikan Pamekasan sebagai kota bersih, tertib dan asri. Pada kepeminpinan Kholilurrahman ini juga berhasil mengantarkan Persepam masuk ke devisi utama PSSI, satu-satunya tim sepak bola di Madura.

Pada tahun 2010 meraih penghargaan atas keberhasilan Pamekasan sebagai kabupaten peduli anak. Lalu penghargaan dari presiden RI pada tahun 2010 atas terbitnya peraturan daerah tentang akte kelahiran bebas bea. Pada Juli 2010 meneriman penghargaan atas prestasinya di bidang pengembangan kelurahan sadar hukum

Penghargaan Satya Lencana Wira Karya dari presiden RI atas keberhasilan meningkatkan kehidupan masyarakat pamekasan yang sejahtera dan terlepas dari keterbelakangan sosial melalui program peningkatan mutu pendidikan, ekonomi, kesehatan, infrastruktur, social budaya dan penyelenggaraaan pemerintahan yang baik dirih pada awal tahun 2011.

Dan pada tahun ini pula Pamekasan meraih penghargaan wira karya bidang pertanian dari presiden atas prestasi nasional Kelompok Tani Jaya Makmur desa Dempo Timur untuk komoditas bawang merah. Lalu penghargaan Pramadana Utama Nugraha dari presiden RI sebagai kabupatan penggerak koperasi diraih pada tahun 2011.

Pada tahun ini 2012 penghargaan yang diraih Pamekasan antara lain Satya Bhakti Husada dari presiden atas kepedulian terhadap kesehatan. Penghargaan Adi Bhakti Mina Bahari dari Menteri Kelautan dan Perikanan atas keberhasilan kelompok Mitra Bahari Desa Tanjung Pademawu atas keberhasilannya meraih juara pertama pengembangan budidaya rumput laut.

Kholilurrahman dan Kadarisman juga berhasi menjadikan Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan yang diresmikan oleh Menteri Pendidikanan Nasional akhir tahun 2010 yang dibuktikan dengan berbagia prestasi siswa-siswi Pamekasan dalam berbagai olimpiade tingkat provinsi, nasional, Asia dan internasioanal, diantaranya Sohibul Maromi, Ali Ihsanul Qauli, Alyssa Diva Mustika, Hammas, Moh Yamin dan lainnya. Pamekasan juga berhasil mengantarkan para santrinya meraih kejuaraan MTQ dan berbagai lomba keagamaan lainnya di tingkat nasional dan internasional

Dibidang seni budaya berhasil mengantarkan Pamekasan meraih prestasi diantaranya festival lagu pop daerah, peñata musik dan karya tari terbaik atas nama Sanggar Putra Meonk, baca puisi atas nama Cendekia Krakarsa, pawai budaya, teater dan lainnya dalam berbagai kejuaraan di tingkat provinsi dan nasional. Di bidang olah raga berhasil meraih prestasi berbagai cabang olah raga diantaranya pencak silat, catur, tenis meja, atletik, karate dalam kejuaaran tingkat provinsi, nasional dan internasional.

Di bidang peternakan Pamekasan meraih juara I nasional kelompok tani Sri Kuning 2008, tahun 2009 Puskesmas Pakong juara I Jawa Timur, Laboratorium Panglegur juara III Jawa Timur. Tahun 2010 juara III lomba medis veteriner, juara I paramedic veteriner, juara 2 Jawa Timur lomba kelompok tani kembang kuning bidang ternak sapi potong desa Lancar Larangan. Tahun 2011 juara 1 Jawa Timur inseminator di daerah introduksi, dan juara 3 national paramedic veteriner.

Kholilurrahman dalam sambutannya mengatakan, bahwa semua prestasi yang diraihnya adalah hasil dukungan semua elemen masyarakat. Dia mengajak agar perestasi itu dipertahankan dan ditingkatkan pada masa yang akan datang. Dia juga menegaskan bahwa Pamekasan selain dikenal sebagai kota agamis dengan Gerbang Salam namun juga peduli untuk mengembangkan seni budaya yang sesuai dengan kultul masyarakat Pamekasan. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 19/03/2012

Label: , , , ,

Buah Srikaya Pamekasan


Pedagang menggelar buah srikaya, dagangannya, di kawasan Sedangdang, Pamekasan, Madura, Jatim, Selasa (27/2). Buah musiman itu, dipasarkan ke Surabaya dan Malang dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 40.000/keranjang dengan isi sekitar 20 buah.

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 29/02/2012

Label: , ,

'Gatean' Tumbuhkan Semangat Gotong Royong


SP/Masdawi Dahlan
Makanan dan buah yang siap dihidangkan

Kegiatan tradisi keagamaan gatean yang digelar Pemkab Pamekasan, Minggu (26/2) kemarin cukup meriah. Betapa tidak, tradisi tahunan yang digelar dalam memeriahkan Maulid Nabi Muhammad SAW ini selain diikuti oleh seluruh karyawan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Pamekasan, juga diikuti oleh masyarakat umum yang menyaksiklan acara ini.

Gatean berasal dari bahasa Madura, yang artinya semangat untuk berpartisipasi dan bekerjasama. Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ada tradisi umat Islam Pamekasan zaman dahulu, yakni umat Islam dalam memperingati Maulid Nabi dengan bergotong royong menyediakan makanan dan buah buahan yang dibawa ke masjid atau rumah kiai.

Langkah ini dilakukan sebagai pengganti karena tidak semua umat Islam bisa menggelar sendiri acara peringatan maulid. Gantinya peringatan maulid dipusatkan di masjid. Umat Islam menyumbang sebagian makanan dan buah buahan dibawa ke masjid yang tengah melaksanakan peringatan maulid. Di masjid itulah lalu makanan dan buah itu juga dimakan bersamaaan dengan para undangan dan tamu lainnya.

Peringatan gatean yang dilaksanakan Minggu kemarin merupakan yang kedua kalinya digelar oleh Pemkab Pamekasan. Pertama dilakukan pada Maulid tahun 2011 lalu. Tempatnya dilaksanakan di areal monumen Arek Lancor. Karena dilaksanakan di tengah-tengah kota, maka kegiatan keagamaan ini banyak disaksikan oleh masyarakat sekitar maupun orang luar Pamekasan yang melintas dikota Pamekasan.

Seluruh instansi di lingkungan Pemkab Pamekasan mengirim satu regu karyawannya untuk hadir mengikuti ritual Gatean ini. Jumlahnya mencapai 80 kelompok. Bahkan dari instansi pemerintah lainnya, seperti dari Kantor Kementerian Agama dan Pengadilan Agama Pamekasan juga hadir mengikutsertakan karyawannya.

Semua kelompok peserta gatean masuk di arena Monumen Arek Lancor dari jalur yang berbeda. Ada yang masuk dari arah timur, dari arah barat dan arah selatan. Mereka berbaris rapi menggunakan pakaian adat yang bernuansa Islami. Mereka membawa aneka ragam makanan dan buah buahan, ada yang dibawa becak ada yang dibawa kendaraan mobil terbuka.

Yang tak kalah menariknya bersamaan dengan rombongan peserta gatean ini ada juga yang membawa hiburan seperti hadrah. Para peserta kirab gatean ini juga tak lupa ikut berjoget mengiringi irama hadrah, sehingga menambah suasana meriahnya acara Gatean tersebut.

Bupati Pamekasan Khalilurrahman dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Bupati Kadarisman Sastrodiwirjo mengatakan, bahwa sengaja Pemkab Pamekasan menggalakkan tradisi Gatean ini karena tradisi itu merupakan tradisi leluhur umat Islam Pamekasan dan Madura pada umumnya yang bernilai baik dan layak dilestarikan.

“Gatean ini memupuk semangat gotong royong. Bukan hanya acara seremonial Maulid Nabi saja namun juga bermakna memotivasi semangat hidup kebersamaan. Sehingga pantas kalau tradisi ini kita hidupkan kembali tiap tahun, sebagai bagian dari tradisi khas keagamaan Pamekasan yang bernilai positif,” katanya. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 28/02/2012

Label: , , , , , ,

Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan

Dulu Pakai Tongkat Paku, Sekarang Kantong Kresek


Ekshibisi Kerapan Sapi Tanpa Kekerasan Se-Madura, akhirnya digelar di Stadion Soenarto Hadiwidjoyo, Minggu (12/2/2012).

Sebanyak 24 pasang sapi yang terdiri dari enam pasang sapi kerap di tiap kabupaten bertarung menjadi yang terbaik.

Jika dilihat dari namanya, kerapan sapi tanpa kekerasan ini berlangsung berbeda dari kerapan sapi biasanya, yakni tidak memerbolehkan adanya kekerasan. Hal ini berbeda dengan Kerapan Sapi memerebutkan piala presiden yang digelar tiap satu tahun sekali.

Dalam ekshibisi kerapan sapi tanpa kekerasan ini, para pemilik sapi atau joki dilarang keras memacu sapi dengan menggunakan alat pemacu. Seperti, paku, jahe, Lombok atau sejenisnya, termasuk balsem yang berakibat penyiksaan terhadap sapi.

Pasangan sapi juga diperkenankan menggunakan penutup mata yang steril dari segala macam bentuk bahan yang menyebabkan penyiksaan terhadap sapi.

Jika terbukti, pasangan sapi setelah memasuki garis finish terbukti ada luka bekas penyiksaan serta bau balsem, maka pasangan sapi akan dinyatakan kalah.

Dalam pelaksanaannya, pasangan sapi dipacu menggunakan kantong kresek (plastik). Sebelum berangkat dari garis start, kresek atau plastik ditiup hingga
mengembang seperti balon dan dipegang oleh joki.

Karena tidak memakai tongkat paku, pasangan sapi yang diperlombakan nampak tidak berlari secara cepat.

Imam, pemilik sapi Garuda Mas asal Kecamatan Proppo mengaku, tidak adanya kekerasan dalam kerapan sapi merupakan hal yang baru di Kabupaten Pamekasan.

"Seandainya bisa. Kerapan sapi jangan diubah seperti ini. Sebab lebih menarik jika menggunakan aturan seperti dulu," katanya.

"Balsem tidak boleh, dipecut tidak boleh. Sapi jadi tidak bergairah dan tidak menarik," tambahnya.

Meski demikian, demi melestarikan kerapan sapi apapun itu namanya, ia tetap akan ikut serta. "Tapi kalau bisa, diubah jangan seperti ini," tandasnya.

Diketahui, munculnya ide kerapan sapi kekerasan se Madura tersebut muncul dari adanya keprihatinan ulama ketika menyaksikan kerapan sapi tahunan memerebutkan piala presiden menggunakan kekerasan atau penyiksaan dalam pelaksanaannya.

MUI Kab Pamekasan bersama Fokus dan LP2SI kemudian mengirim surat pernyataan sikap bersama. Yakni, penyelenggaraan Kerapan Sapi, Sapi Sono’ dan pesta budaya lainnya harus bebas dari unsur penyiksaan binatang, praktek perjudian, pengabaian melaksanakan kewajiban shalat serta yang bertentangan dengan syari’at Islam. [san/kun]

Reporter: Harisandi Savari

Sumber: beritajatim.com, Minggu, 12 Februari 2012

Label: , ,

Ulama Madura Larang Karapan Sapi,
Seniman Ajak Dialog Karapan sapi


Kalangan seniman di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengajak ulama di daerah ini melakukan dialog tentang penyiksaan dalam karapan sapi. "Penyiksaan dalam festival karapan sapi selama ini di kalangan masyarakat Madura harus dibicarakan dengan semua pihak karena menyangkut budaya leluhur Madura yang sudah dikenal luas di seluruh dunia," kata juru bicara seniman As'art Asharie di Pamekasan, Kamis.

Ia mengatakan, karapan sapi sebenarnya memiliki nilai seni yang sangat indah dan merupakan budaya asli masyarakat Madura. Namun budaya leluhur itu kini ternodai dengan adanya penyiksaan yang tidak manusiawi.

Menurut As'art, sapi Madura, apalagi sapi sonok atau sapi cantik dan sapi karapan, sebenarnya mengandung nilai seni yang tinggi. Oleh karena itu sapi masih sering menjadi objek lukisan para seniman lukis di daerah ini. "Oleh karena itu perlu ada solusi alternatif atau upaya dari berbagai pihak untuk tetap mempertahannya budaya leluhur ini," katanya.

Karapan sapi sebagai produk budaya Masyarakat Madura, katanya, harus tetap lestari dan penyiksaan yang terjadi seperti membacokkan paku atau yang dikenal dengan sebutan "rekeng" harus dihapus.

Menurut dia, fatwa tentang larangan melakukan praktik penyiksaan dalam pelaksanaan karapan sapi oleh para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Komunikasi Ormas Islam (Fokus) tidak cukup.

"Perlu ada dialog guna merealisasikan cita-cita luhur kalangan ulama ini karena awalnya karapan sapi itu kan tanpa penyiksaan," katanya. Kalangan seniman di Pamekasan, termasuk seniman lain di Madura menyepakati praktik penyiksaan dalam karapan sapi tidak manusiawi dan menodai citra positif budaya Madura kepada masyarakat luar yang menonton karapan sapi.
Redaktur: Stevy Maradona
Sumber: Antara

Sumber: Republika, 18 Pebruari 2012

Label: , , ,

7-Year-Old Indonesian Turns Mountains Into Molehills

Indonesian mountaineer Arya Sugiarto, aged 7, has his sights set on major peaks in Europe and the Himalayas. (Photo courtesy of Arya Cahaya Mulya Sugiarto)

Little Arya Cahaya Mulya Sugiarto could be one of the bravest 7-year-olds in the world.

He has already climbed 14 mountains and is now ready to climb more of the world’s highest peaks. To mark National Children’s Day on July 23, Arya will attempt to conquer the highest mountain in Europe, Russia’s Mount Elbrus. From there, he will go on to climb an even higher peak in the Himalayas to mark Universal Children’s Day on Nov. 20.

The young adventurer from Pemekasan, Madura, East Java has impressed mountain climbers worldwide with his feats and even sparked the interest of President Susilo Bambang Yudhoyono. When he reaches the peak of Mount Elbrus on National Children’s Day, Arya will receive a call from the president to congratulate him on his achievements and commend him for inspiring the children of Indonesia to follow their dreams.

Reaching the peak of Elbrus is only the start of Arya’s adventures this year. In November he will attempt to climb Imja Tse, better known as Island Peak, a 6,189-meter peak in the Himalayas.

The first expedition, Ekspedisi Cahaya Indonesia (Light Expedition Indonesia), was developed by mountain-climbing instructor Budi Cayono to help Arya become the youngest person to ever conquer Mount Elbrus.

Budi said that Arya’s achievements encourage other children to get involved in sports and enjoy the outdoors. Arya’s father, Agus Sugiarto, said it is important for children to fulfill their dreams, and he hopes that “Arya’s dream comes true, to climb up this snowy mountain.”

First celebrated globally in 1953, Universal Children’s Day was established to promote children’s welfare worldwide and their contributions to society. By conquering Mount Elbus and Imja Tse, Arya hopes to set an example for children of all walks of life.

Arya’s little footprints have made their impression on many a mountain; he has been hiking since before he could walk. His father, Agus, said he used to carry him on mountain climbs when he was just 8 months old. But it was not long before Arya found his feet: “He was only 3 years old when he started to hike by himself and didn’t want to be carried anymore.”

In fact, Arya has climbed 14 tall mountains in Indonesia, the highest of them being Mount Semeru in Java in August 2010 when he was just 5, and then Mount Rinjani in Lombok last year.

He is the youngest person ever to conquer those mountains, and Agus said that these were the hardest mountains so far. But the treacherous peaks do not seem to faze Arya — last year the boy told the tabloid magazine Nyata that it was “nice to be able to reach the top of the mountain; I can see God’s creation.”

Mount Elbrus will be Arya’s hardest climb to date. Reaching heights of 5,642 meters, the icecap of Mount Elbrus feeds 22 glaciers. The inactive volcano is considered the world’s 10th most prominent mountain.

The highest mountain in Europe would certainly be a risk and a challenge to the most competent of mountain climbers. Yet Agus insists that Arya is in no danger.

“Mount Elbrus is safe enough for a kid his age to climb. The important thing is to always be careful, take notice and pay attention to weather conditions,” he says.

Budi, Arya’s instructor, will lead the expedition to Mount Elbrus and has trained Arya in preparation for the climb.

“I have full confidence that Arya can reach the top of Mount Elbrus on National Children’s Day,” he said. “I have seen him climb Rinjani and he was so happy doing it all the way to the top.”

“If you watch the way he climbs the mountains, you will be amazed, because Arya walks so excitedly,” he added. “Even if it is raining heavily and the terrain is slippery, he still carries on and enjoys the journey.”

Arya and his mountain-climbing team, which includes instructor Budi, father Agus, and a team of experienced climbers, will depart for Moscow on July 9. There they will meet a team of local guides and start their climb at the base of Mount Elbrus on July 15.

After reaching the summit and speaking to the president, Arya will begin his descent and arrive at the base camp on July 26.

To prepare for this ambitious expedition, Arya has undergone daily training. He runs every afternoon and goes mountain climbing every weekend. Budi insists that the mountain is safe to climb, as long as Arya is prepared.

“Mountain climbing is very safe, as long as climbers follow the rules and techniques — especially for young climbers — so they need a lot of preparation,” he says.

Budi says July’s expedition will take longer than it would for more experienced climbers, but believes safety comes before speed.

“Arya requires a longer adjustment [than adults], and his safety is the most important thing,” he said.

Fully aware of the risks, Arya knows how important safety is after coming into trouble while mountain climbing last year. The expedition, Ekspedisi Cahaya Merdeka (Independent Light Expedition) saw him conquer 12 mountains in only three months.

Yet some of the climbs were hindered by stormy weather. The climbers experienced heavy rainstorms and were forced to take shelter in their tents.

The rain prevented Arya from sticking to his original plans, yet Budi said Arya stayed strong.

“He was still fit and in a good condition when he completed the journey,” Budi said.

Label: , , , , , ,

Murid TK Siap Mendaki Delapan Puncak Gunung

Seorang anak 6 tahun dari pulau Madura di Jawa Timur pada hari Kamis berangkat untuk menyelesaikan tugas yang ambisius. Menaklukkan 10 puncak gunung hanya dalam empat bulan.

Arya Cahya Mulyana Sugianto, seorang murid TK dari Pamekasan, telah menyertai mendaki gunung orangtuanya, Agus Sugianto dan Tri Yuli Mulyanti, sejak tahun 2007. "Dia telah mendaki Gunung Welirang dua kali dan terakhir dia naik gunung adalah Mahameru," kata ayahnya, Agus.

Arya menyelesaikan pendakian 3.676 meter memanjat Mahameru, juga dikenal sebagai Gunung Semeru, di Jawa Timur tahun lalu sebagai bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan. Kali ini, tantangannya adalah untuk menyelesaikan skala 10 gunung sebelum 21 Agustus.

Lima pendaki berpengalaman akan menemani Arya dalam pendakian

Memanjat pertamanya adalah-2900 meteran Gunung Ceremai di Jawa Barat, diikuti oleh Gunung Slamet (3.432 m) dan Gunung Sindoro (3.155 m) di Jawa Tengah, dan Gunung Wonotirto (2.000 m) di Jawa Timur. Dia juga dijadwalkan untuk mengatasi Tengah Jawa Gunung Lawu (3.265 m), Gunung Rinjani (3.726 m) di Lombok, Bali Gunung Agung (3124 m) dan Welirang (3.156 m), dan Gunung Arjuno (3.330 m) di Jawa Timur.

"Mahameru akan puncak akhir dia akan memanjat sehingga ia kembali bisa menanam bendera nasional ada pada tanggal 17 Agustus seperti yang ia lakukan tahun lalu," kata Akhmad Kusnindar, kepala tim Arya mendaki.

Kabar Terkait:
Kindergarten Student Set to Climb to Great Heights Pamekasan, East Java. A 6-year-old boy from the island of Madura in East Java on Thursday set out to complete an ambitious task: Conquer 10 mountain peaks in just four months. Arya Cahya Mulyana Sugianto, a kindergartener from Pamekasan, has been accompanying his mountain-climbing parents, Agus Sugianto and Tri Yuli Mulyanti, since 2007. “He has climbed Mount Welirang twice and the last mountain he climbed was Mahameru,” said his father, Agus. Arya completed the 3,676-meter hike up Mahameru, also known as Mount Semeru, in East Java last year as part of Independence Day celebrations. This time, the challenge is to finish scaling 10 mountains before Aug. 21. Five experienced climbers will accompany Arya for the feat His first climb is the 2,900-meter Mount Ceremai in West Java, followed by Mount Slamet (3,432m) and Mount Sindoro (3,155m) in Central Java, and Mount Wonotirto (2,000m) in East Java. He is also scheduled to tackle Central Java’s Mount Lawu (3,265m), Mount Rinjani (3,726m) in Lombok, Bali’s Mount Agung (3,124m) and Welirang (3,156m), and Mount Arjuno (3,330m) in East Java.

“Mahameru will be the final peak he’ll climb so he can again plant the national flag there on August 17 like he did last year,” said Akhmad Kusnindar, head of Arya’s climbing team.

May 13, 2011

Label: , , , , , , ,

Obtaining a Gateway to the Past

JG Foto / Ade Mardiyati
Sama seperti batik di Madura, warna yang mendominasi desain pintu dari wilayah ini merah, kuning dan hijau. Ini membedakan pintu Madura dari pintu kayu tradisional yang diproduksi di Jawa dan Bali, yang biasanya kurang kaya warna.

Madura terkenal untuk desain rumit dan berani berwarna yang merupakan fitur dari karya seni, dekorasi rumah dan ukiran kayu yang diproduksi di wilayah ini. Salah satu karya seni yang paling dikagumi dari pulau itu adalah pintu berukir hiasan yang menghiasi banyak rumah di daerah itu selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad.

Oleh Ade Mardiyati

Namun, banyak warga desa dari Madura semakin kehilangan minat di pintu bergaya tradisional, menggantinya dengan pintu buatan pabrik yang baru, dan rapi. Meskipun hal ini mungkin menyedihkan, itu adalah sesuatu yang banyak orang, khususnya pecinta barang antik, bersyukur atas itu.

"Banyak orang di Madura memiliki pintu dengan kaca atau pintu terbuat dari kayu lapis karena pintu-pintu itu terlihat lebih modern untuk mereka," kata Hadi Juana Malik, pemilik ILA, sebuah perusahaan di Pamekasan, Madura, yang menjual pintu antik dan gerabah. "Sementara itu, orang-orang kelas menengah ke atas di kota-kota besar ingin kembali ke gaya tradisional."

Hadi tahu tentang tren ini muncul ketika ia bekerja untuk sebuah perusahaan yang mengirim pintu tradisional dari Madura ke rumah pelanggan pada tahun 1991.

"Pembeli terutama dari kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan dari seluruh Bali," kata Hadi (44 tahun) berkata.

"Saya tidak pernah membayangkan bahwa orang akan begitu tertarik pada pintu-pintu ini."

Menggunakan jaringan yang dia bangun sebagai driver bagi perusahaan, Hadi memutuskan untuk memulai bisnis sendiri setahun kemudian.

Hiasan pintu berukir dari Madura, Hadi mengatakan, berbeda dari yang dihasilkan di pulau-pulau terdekat.

"Yang Anda lihat di Jawa atau Bali memiliki sebagian besar satu atau dua warna, atau kadang-kadang hanya tampak alami. Warna paling khas adalah coklat gelap," katanya. "Namun, pintu-pintu dari Madura kaya warna".

"Warna utama kami, seperti yang Anda lihat pada batik kita juga, merah, kuning dan hijau. Anda dapat melihat tiga warna, dan kadang-kadang ada warna lain, dalam satu set pintu. Ini merupakan kombinasi warna yang indah. Ukiran pintu Madura juga berbeda dengan yang dibuat di bagian lain Nusantara".

"Di Jawa dan Bali, mereka biasanya akan membuat desain ukiran yang sama untuk pintu dan mebel. Burung-burung, bunga atau naga yang sama dapat ditemukan di pintu dan, katakanlah, sandaran kepala tempat tidur.

"Di sini, kita memiliki banyak desain yang berbeda hanya dari satu tema, seperti burung," kata Hadi yang belajar untuk mengukir dari ayahnya ketika dia hanya 12 tahun.

Sebagian besar pintu tua yang dibeli dari agen-agen di desa-desa seluruh pulau di empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Bangkalan dan Sampang. Hadi mengumpulkan pintu-pintu itu melalui agen-agen yang ada di desa-desa tetapi sering pemilik rumah datang ke tempat kerjanya untuk menjual langsung.

Sebagian besar pintu, katanya, berusia ratusan tahun. "Kami tidak membuat pintu sehingga tidak ada yang baru di sini," katanya. "Kami membuat kusen karena kusen-kusen itu biasanya patah. Tapi untuk pintu, kita kebanyakan hanya membersihkan pintu-pintu itu dan tidak membuat perubahan apapun untuk mempertahankan ukiran aslinya."

Harga pintu, Hadi mengatakan, tergantung pada materi pintu itu dibuat - baik jati atau kayu dari pohon nangka - serta usia pintu dan ukirannya.

"Kami menjual pintu mulai harga sekitar ratusan ribu rupiah sampai jutaan rupiah [puluhan hingga ratusan dolar]," kata Hadi.

Terlepas dari kenyataan bahwa tokonya terletak jauh dari kota besar, di mana sebagian besar pelanggannya berada, Hadi tidak mengeluh tentang bisnis. "Mereka bersedia membayar uang ekstra untuk menyewa truk atau untuk membayar biaya pengiriman pintu ke rumah mereka," katanya.

Meskipun Hadi telah menekuni bisnis ini sampai sekarang, ia mengatakan bahwa popularitas pintu hiasan ukiran Madura yang terkadang masih mengherankan dia.

"Memang benar ketika mereka mengatakan bahwa dunia ini berputar," katanya. "Mereka yang di atas ingin pergi ke bawah, dan mereka yang di bagian bawah ingin tahu bagaimana rasanya berada di puncak."

Sumber: Jakarta Globe, April 14, 2011

Just like in Madurese batik, the colors that dominate the design of doors from the region are red, yellow and green. This distinguishes Madurese doors from the wooden doors traditionally produced on Java and Bali, which are usually less rich in color. (JG Photo/Ade Mardiyati)


Madura is famous for the intricate and boldly colored designs that are a feature of the art pieces, home decorations and wood carvings produced in the region. One of the most admired art pieces from the island are the ornate carved doors that have graced many a home in the area for decades, even centuries.

However, many villagers from Madura are increasingly losing interest in the traditional-style doors, replacing them with sleek, new, factory-made counterparts. While this may be sad, it is something a lot of people, especially antiques lovers, are grateful for.

“A lot of people in Madura have doors with glass or doors made out of plywood because they look more modern to them,” said Hadi Juana Malik, owner of ILA, a company in Pamekasan, Madura, that sells antique doors and earthenware. “Meanwhile, middle to upper class people in big cities want to go back to the traditional style.”

Hadi found out about this emerging trend when he worked for a company that delivered traditional doors from Madura to customers’ homes in 1991.

“Buyers were mainly from big cities in Java, such as Jakarta, Yogyakarta, Surabaya and from all over Bali,” the 44-year-old said.

“I never imagined that people would be so interested in these doors.”

Using the network he built up as a driver for the company, Hadi decided to start his own business a year later.

Ornate carved doors from Madura, Hadi said, are different from the ones produced on nearby islands.

“The ones you see in Java or Bali have mostly one or two colors, or sometimes just look natural. The most typical color is dark brown,” he said. “However, the doors from Madura are rich in color.

“Our main colors, as you can see in our batik as well, are red, yellow and green. You can see these three colors, and sometimes others, in one set of doors. It is a beautiful combination.”

The carving on Madura doors is also different to the one made in other parts of the archipelago.

“In Java and Bali, they will usually make the same carving design for doors and furniture. The same birds, flowers or dragons can be found on doors and on, say, bed headboards.

“Here, we have a lot of different designs from just one theme, such as birds,” said Hadi who learned to carve from his father when he was just 12 years old.

Most of the old doors are purchased from people in the villages throughout the island’s four districts: Sumenep, Pamekasan, Bangkalan and Sampang. Hadi collects them through agents in those villages but often home owners come to his workshop to sell directly.

Most of the doors, he said, are hundreds of years old. “We don’t make doors so there are no new ones here,” he said. “We do make the sills because those usually break. But for the doors, we mostly just clean them and do not make any changes to maintain the original carving.”

Prices of the doors, Hadi said, depend on the material they are made of — either teak or wood of the jackfruit tree — as well as their age and carving.

“Roughly, we sell doors starting at hundreds of thousands of rupiah while some cost millions of rupiah [tens to hundreds of dollars],” Hadi said.

Despite the fact that his shop is located far from big cities, where most of his customers reside, Hadi does not complain about business. “They are willing to pay extra money to rent a truck or to pay the shipping cost to have the doors delivered to their homes,” he said.

Even though Hadi has been in the business for a while now, he said that the popularity of Madura’s ornate carved doors sometimes still amazes him.

“It is true when they say that the world goes round,” he said. “Those on top want to go to the bottom, and those at the bottom want to know what it feels like to be at the top.”


Label: , , ,

Perajin Batik Pamekasan Produksi Batik Tiga Motif

foto : nen/zonaberita.com
Salah seorang konsumen mencoba batik di Butik Mutiara

Memasuki awal Tahun 2011, perajin batik di Butik Mutiara milik Ilzamuddin, yang berlokasi di Sentra Batik tepatnya di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura, memproduksi batik dengan tiga kombinasi motif, yaitu abstrak, lawasan dan motif gunungan.

Motif batik abstrak, cenderung berbentuk garis-garis seperti serat kayu, dengan motif standar serta warna sejuk tidak terlalu mencolok.

Untuk batik lawasan berbentuk batik kuno seperti motif standar cenderung buram (seperti batik soft) dengan warna sejuk tidak mencolok.

“Batik lawasan itu, Meskipun warna berani, seperti merah menyala, akan tetapi masih terlihat sejuk,” kata Ilzamuddin pada zonaberita.com, Senin (3/1/2011).

Untuk batik motif Gunungan, berupa batik yang tidak terlalu penuh dengan motif. Motif yang dimaksud adalah motif berbagai corak yang dituangkan dalam satu kreasi saat membatik.

“Batik Gunungan yaitu dengan bentuk di atas penuh dengan motif, sedangkan di bawah jarang-jarang, “kata Ilzamuddin lagi.

Ketiga kombinasi ini, nantinya dipadukan dan menghasilkan batik tulis dengan motif serta warna yang tidak terlalu mencolok dan terkesan anggun.

Harganya pun relatif murah, yaitu berkisar antara Rp 200.000,- sampai Rp 250.000,- per potong dengan menggunakan kain katun sepanjang 2,30 meter. Sementara batik bebahan kain sutra, berkisar antara Rp 400.000,- hingga Rp.600.000,-.

Eva penggemar batik asal Kabupaten Jember mengaku suka dengan batik tulis Pamekasan. Menurutnya batik tulis pamekasan beda dengan batik-batik lainnya seperti di Kabupaten Sumenep maupun di luar Pulau Madura. “Batik Pamekasan sangat beda, coraknya unik dan warnanya pun keren mbak, “ujar Eva pada zonaberita.com seraya mencoba batik di Butik Mutiara milik Ilzamuddin. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Senin, 3 Januari 2011

Label: , , ,

Nikmatnya Sate Lalat

Penikmat sate
ANDA pernah merasakan sate lalat? Nah, jika berpelesir ke Pulau Garam, cobalah mampir ke warung Pak Yuto, di Jl Niaga, Kota Pamekasan. Pasti Anda akan ketagihan setelah merasakan nikmatnya sate 'lalat'.

Jangan buruk sangka, sebab sate 'lalat' ini adalah sebutan saja. Sesuai namanya, daging ayam, kambing dan daging sapi diiris kecil-kecil seukuran lalat.

“Inilah perbedaan sate 'lalat', irisan dagingnya kecil-kecil, begitu juga dengan racikan bumbunya. Ada kacang campur kecap plus rempah rahasia sehingga terasa mantap di lidah konsumen,” kata Yanto, pemilik warung sate 'lalat', pada zonaberita.com, Kamis (13/1/2011).

Dalam sehari, penjual sate lalat' asal Desa Sentol, Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan, Madura, jika masuk masa panen tembakau, dapat menghabiskan antara 15-20 kilogram daging ayam dan kambing. Namun, jika cuaca buruk, seperti hujan yang terjadi beberapa hari terakhir, lelaki berusia 40 tahun ini hanya menghabiskan antara 2 sampai 5 kilogram daging sapi dan ayam.

Kenikmatan sate 'lalat' tak hanya terletak pada bumbu rahasia keluarga Pak Yuto, tapi dari cara memanggang dagingnya.

“Rasa sate 'lalat' sangat enak, bukan hanya pada bumbunya saja, tapi dagingnya yang dibakar setengah matang,” ujar salah seorang penikmat sate 'lalat'.

Nah, jika Anda ingin merasakan nikmatnya sate 'lalat', cobalah datang ke warung Pak Yuto selepas pukul 16.00 WIB. Harga per porsi sate “lalat” plus segelas teh hangat cukup bersahabat, hanya Rp 7.500.

Sate 'lalat' telah dirintis sejak 30 tahun lalu. Kali pertama, adalah almarhum kakeknya, bernama Arbes. Setelah wafat, generasi kedua turun ke Pak Ento, selanjutnya turun pada Pak Yuto. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Kamis, 13 Januari 2011

Label: , ,

Mantapnya Soto Toronan

foto:nen/zonaberita.com
Salah seorang konsumen tengah melahap soto toronan

Anda pernah mencoba soto toronan. Jika berplesir ke Pamekasan, Madura, cobalah singgah salah satu stand Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada) di Jl Niaga Kota Pamekasan.

Makanan ini beda dengan kuliner yang ada di Pamekasan, sebab sebelum dihidangkan Thohir pemilik stan sekaligus peracik soto toronan, lebih dulu mencolek satu sendok teh mentega dan disaputkan ke atas piring. Rasanya pun jadi lebih mantap dan beda dengan jenis soto khas Madura.

Sebagai pelengkap, juga ditambahkan mi soun, lalu ditutup dengan krupuk kancur. Agar nikmat, Thohir melengkapi dengan irisan ayam kampung yang dikukus, irisan telur rebus plus irisan kentang rebus. Terakhir, seluruh bahan baku soto itu ditaburi bawang goreng.

Lantas bagaiaman rasanya? Adi Setiawan, salah seorang konsumen, mengatakan, rasanya sangat khas. “Rasanya khas sekali, beda dengan soto yang lain, “ujarnya.

Kendati bekerja di Jakarta, setiap pulang ke Pamekasan, bapak dua anak bersama keluarganya selalau menempatkan ke stand soto toronan.

Soto toronan pertama kali dikenalkan oleh mendiang Sauri alias Kustiyah di era 1960-an. Awalnya, mendiang Kustiah membuka warung soto toronan di pojok Jl Sadangdang. Di awal tahun 2000, Kustiyah digantikan aak keduanya, yakhi Tohir.

Lantaran ada pelebaran jalan, warung soto toronan di Jl Sadangdang ditutup. Tohir lalu membuka warung di Jl Niaga, pusat kuliner khas Madura.

Menurut Tohir, istilah toronan sebenarnya adalah nama sebuah Kampung di Kelurahan Kowel, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura. Karena dijual secara turun-temurun, pelanggan menjuluki makana yang dijualnya dengan sebutan soto toronan. Dalam bahasa Madura, toronan adalah turun-temurun atau keturunan keluarga.

Lantaran hanya dijual di kota Pamekasan, soto toronan pun menjadi menu nostalgia bagi warga kota yang kini berusia di atas 40-an.

kIni Thohir menjajakan soto Toronan di salah satu stand di Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada) di Jl Niaga Kota Pamekasan. Seperti pedagang makanan lainnya, Thohir mulai membuka warung sotonya selepas salat Ashar. Harganya cukup ekonomis. Satu porsi soto Toronan plus segelas teh hangat hanya Rp 7.000. (nen/isp)

Sumber: zonaberita.com, Minggu, 17 Oktober 2010

Label: , ,

'Nangka Bom' Gegerkan Warga Lobuk

Buah nangka nyaris tanpa kulit mengegerkan warga Dusun Lobuk, Desa Dasuk, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura. Kelainan dari pohon nangka ini, diketahui sejak buahnya berumur 2 bulan.

Saat ini, pohon nangka milik Kholis warga setempat, telah berumur 13 tahun. Dan baru pertama kalinya berbuah. “Baru kali ini pohon nangka berbuah. Semuanya ada delapan buah dan nyaris tanpa kulit,” ujarnya pada zonaberita.com, selasa (23/11/2010).

Sebelumnya, si pemilik pohon nangka, mengaku selama ini tidak pernah mempunyai firasat apapun.

Jika dilihat sekilas, pohon nangka milik Kholis tidak jauh beda dengan pohon nangka pada umumnya. Akan tetapi, dilihat lebih seksama, maka terlihat jelas keanehan dan keunikan dari buah nangka ini.

Buah nangka ini hampir bisa dikatakan tak berkulit. Atau secara kasat mata, biji–biji nangka nampak terlihat jelas dari luar tanpa ada kulit yang membungkusnya.

warga sekitar kemudian memberi nama buah nangka ini dengan sebutan 'Nangka Bom' Dikarenakan buahnya yang unik, aneh dan terlihat seperti akan meletus karena kelihatan biji dalamnya. (nen/isp)

Sumber: zonaberita.com, Selasa, 23 Nopember 2010

Label: , , , , ,

Batik Pamekasan dari Madura Menembus Dunia

Batik Madura warnanya mencolok dan motifnya berani

Batik Pamekasan, Madura (Tudji Martudji/VIVAnews)

Garam kini bukan satu-satunya produk unggulan Pulau Madura. Karapan sapi juga bukan satu-satunya budaya khas pulau ini. Madura kini juga sohor sebagai pusat batik tradisional.

Tepatnya di Kabupaten Pamekasan. Kabupaten ini terdiri atas 13 kecamatan, yang dibagi lagi atas 178 desa dan 11 kelurahan. Sebagian besar warga di wilayah ini adalah perajin batik.

Batik Madura memiliki ciri khas tersendiri. Warnanya mencolok dan motifnya terhitung berani. Membatik sudah dilakoni masyarakat Pamekasan jauh sebelum republik ini berdiri.

Semula membatik hanya dilakukan di sela kesibukan sehari-hari warga sebagai buruh dan petani sehingga tidak ada target. "Kalau ada pesanan dalam jumlah banyak, kita baru mengajak banyak orang. Termasuk mencari pinjaman uang untuk modal," kata Soni (43) salah seorang pembatik asal Desa Larangan, Badung, Pamekasan, saat menceritakan kisah suksesnya.

Namun berbekal niat meneruskan warisan nenek moyang, kini semua itu berubah. Pola pekerjaan sampingan pun beralih menjadi pekerjaan utama yang dipadu dengan keahlian yang dimiliki. Sejumlah perajin mengaku mendapatkan penghasilan lebih tinggi dari produksi batik yang dikerjakannya. Kini batik Pamekasan tak hanya diminati di dalam negeri, wisatawan mancanegara pun mulai mengoleksinya.

Soni mengatakan batik asal daerahnya dikenal orang dari berbagai cara. Di antaranya, turis asing yang berkesempatan datang ke Madura. Atau sejumlah pedagang yang dengan jaringan sesama pedagang yang kemudian mengenalkan produk lokal khas Madura itu ke luar negeri. Selebihnya, keberadaan batik Pamekasan menyebar lewat cerita, dari mulut ke mulut hingga ke manca negara.

Pangsa pasar yang mulai terbuka dimanfaatkan betul oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, Pemkab mengucurkan bantuan modal kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kucuran dana ini diharapkan mengangkat potensi lokal kerajinan batik. Pemkab juga membentuk kelompok-kelompok sentra perajin. "Sehingga Pemkab bisa menyalurkan bantuan lewat kredit lunak," kata Bupati Pamekasan, Kholilurrahman.

Kini, sejumlah desa mulai bersolek, mendapat predikat sentra kerajinan batik. Tentu saja tidak hanya nama desanya yang dikenal. Rupiah pun terus mengalir ke desa-desa yang dulu sepi dan termasuk ketegori desa tertinggal di Proinsi Jatim. Bahkan, dari kegiatan membatik yang dilakukan berkesinambungan itu mampu membantu pemerintah menampung tenaga kerja lokal yang dulu tidak terserap pasar kerja.

Saat ini yang tampak, tiada hari tanpa membatik. Sedikitnya, ada enam titik sentra batik di kabupaten tersebut, yakni Kecamatan Pamekasan sebanyak 5 sentra batik tulis, Kecamatan Proppo sebanyak 12 sentra batik, Kecamatan Palengaan terdapat 6 sentra, Kecamatan Waru ada satu sentra, Kecamatan Pegantenan dua sentra dan di Kecamatan Tlanakan sebanyak satu sentra batik. Sentra batik itu kini memasok kebutuhan lokal khususnya, Surabaya dan Jakarta yang mencapai puluhan ribu.

Angka ini masuk akal, sebab Soni mengaku tiap bulan memasok 1.500 lembar kain batik. Belum lagi perajin lainnya. Untuk memenuhi banyaknya pesanan, dan agar tepat waktu, tidak jarang ia meminta dicarikan tambahan tenaga. Pekerjaan lembur pun kerap dilakukan bersama istri dan para pekerjanya. Ketekunan dan pola-pola kreatif membuat usahanya terus meroket. Mereka yang datang atau pemesan tidak hanya minta motif lokal, sederet pola hasil kreasi pelanggan juga banyak dipesan.

“Modalnya tekun, serta kreativitas yang tidak boleh berhenti untuk menciptakan motif batik yang berbeda dan diminati," kata Soni. Dengan terus mengembangkan kreativitas model batik yang berbeda, Soni dan sejumlah orang kepercayaannya tidak segan melakukan diskusi sambil mengutak-atik pola batik di sebuah kertas hingga larut malam.

Hasilnya, selain batik lokal yang terus dipertahankan keberadaannya. Sejumlah pola batik beraliran ekspresionis juga banyak dihasilkan. Dia mengatakan, selain batik lokal corak Madura, ia tidak bisa menampik kebutuhan dan minat konsumen yang punya keinginan bervariasi. "Selain pola lokal, kita juga harus bisa memberikan keinginan konsumen lainnya. Misalnya, pola ekspresionis yang mulai banyak disukai,” kata pemilik stan batik di Jalan Pasar, Pamekasan ini.

Selain melayani pesanan partai besar, Soni masih mempertahankan kios miliknya di pasar tradisional. "Itu untuk memenuhi kebutuhan lokal. Mereka yang sempat berbelanja di pasar itu, baik pelancong lokal atau mancanegara," katanya.(ywn)Laporan: Tudji Martudji|Surabaya

Sumber: VIVAnews, Senin, 11 Oktober 2010

Label: ,

Karapan Sapi Makin Mengerikan

Di Balik Gebyar Ikon Wisata Madura


Kerapan sapi yang menjadi aset budaya Madura dan menjadi tontonan yang menghibur, lama-kelamaan bergeser. Sebagian warga mulai ngeri melihat sapi-sapi karapan disiksa agar bisa lari kencang dalam lomba demi gengsi yang diwarnai perjudian.

Tak hanya itu, pemilik sapi juga tirakatan puasa 40 hari untuk menghindari sapi miliknya tidak terkena petaka.

Sebagian warga berharap adu cepat pasangan sapi di lintasan lapangan sepanjang 185 meter itu dikembalikan ke bentuk awal, sebagai tontonan yang menyenangkan. Namun, ini tidak gampang. Sebagian pelaku menyatakan keberatan.

Susraji, 43, pemilik pasangan sapi Kala Jengking, peraih juara harapan II, Piala Presiden 2010, menolak klaim melukai pantat sapi saat tanding sebagai penyiksaan. Sus, demikian ia dipanggil, menyatakan sapi aduan perlu dirangsang agar tidak loyo. “Paku yang kami pakai untuk melecut itu ukurannya kecil sehingga lukanya tidak parah dan lekas sembuh,” tutur warga Kampung Solo Laok, Desa Murtajih, Kec Pademawu, Pamekasan, ini, Rabu (27/10).

Selama 30 tahun Sus memelihara sapi karapan dan belasan kali ikur lomba, semua joki menggunakan kayu dengan ujung diberi paku yang ditusuk-tusukkan ke pantat sapi, saat sapi dilepas di arena lintasan karapan sapi. “Luka itu dibasuh air hangat campur garam dan diberi suntikan obat, cepat sembuh,” tuturnya.

Semua pemilik sapi karapan, lanjutnya, ingin jagonya menang. Karenanya, joki mengoleskan balsem di sekitar mata dan menusuk-nusukkan paku ke pantat sapi, agar hewan ini beringas lalu lari kencang seperti dikejar setan. Itu selain jamu racikan dan telur 101 butir per hari selama dua minggu atau sebulan menjelang karapan.

Dulu, katanya, saat ia masih kanak-kanak, joki hanya menarik ekor agar sapi lari kencang. Beberapa tahun kemudian, mereka memakai lecut terbuat dari dua irisan bambu ukuran 30 cm yang ujungnya (20 cm) dibelah tiga, yang 10 cm dijadikan pegangan. Lecut bambu ini dipukulkan terus menerus ke pantat sapi sehingga mengeluarkan bunyi ceplak -ceplak.

Selanjutnya, joki memasukkan lingkaran karet dari ban mirip cincin. Lingkaran dalamnya diberi paku. Sebelum sapi di lepas, lingkaran karet itu dimasukkan ke ekornya dan digerak-gerakkan, sehingga sapi berjingkrak-jingkrak kabur sekuat tenaga.

Asmar, 45, warga Bengserreh, Kec Sepuluh, Bangkalan, menyatakan, perlakuan terhadap sapi karapan merupakan bagian dari budaya. “Luka-luka itu akan sembuh hanya dalam satu malam,” terang pemilik sapi Bola Pusaka dan Congkrong ini.

Sapi karapan, katanya, tak hanya dicambuki, melainkan juga dipelihara dengan baik, bahkan dimanjakan. Menjelang lomba, satu ekor sapi karapan diberi makan 101 butir telur per hari dan ramuan rempah-rempah. “Biaya perawatan sangat mahal,” tuturnya. Hal senada juga diungkapkan mantan perawat sapi kerap, H Abdul Hadi, warga Sanggra Agung, Kec Socah. Menurutnya, sapi-sapi karapan dicekoki telur sejak H-30 sebelum lomba. “Tak hanya itu, pemilik sapi juga tirakatan puasa 40 hari untuk menghindari sapi miliknya tidak terkena petaka,” terangnya. Ia menambahkan, agar sapi lebih tenang, pemilik sengaja mendatangkan penabuh musik seronen (gending Madura).

Apa pun argumen para pemilik sapi karapan, sebagian warga Madura saat ini merasakan ada kengerian dalam karapan sapi. Ada yang berubah. Sapi-sapi karapan menjadi simbol prestisye. Tak semua orang bisa memiliki pasangan sapi yang harganya mencapai ratusan juta rupiah, terutama bagi yang jawara. Hanya kalangan berduit yang mampu merawat sapi karapan.

Selangitnya harga sapi jawara menjadikan orang berlomba-lomba dan bermimpi agar memiliki sapi bergengsi ini. Tak hanya itu, karapan sapi juga telah menjadi ajang perjudian, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Gengsi dan judi telah mengubah budaya karapan. Waktu pertunjukan menjadi semakin panjang, dua hari. Padahal, sebelumnya hanya sehari. Sjaifuddin Miftah, budayawan, menilai karapan sapi sekarang sudah melenceng. Dulu, katanya, tidak ada penyiksaan sapi, apalagi perjudian.

Sebelum tahun 50-an, katanya, karapan sapi Gubeng (besar) benar-benar menjadi pesta rakyat Madura. Beberapa hari sebelum karapan memperebutkan piala presiden digelar, suasana Kota Pamekasan berubah. Di sepanjang jalan di tengah kota, siang malam dipadati calon pengunjung dari luar Pamekasan. Bahkan, beberapa pemilik sapi dan krunya, menginap sambil menanak nasi.

Beberapa saat sebelum karapan sapi digelar, pemilik sapi mengarak jagonya keliling lapangan diiringi musik seronen dan mengikutsertakan beberapa istri pemilik sapi. Tapi, sekarang sudah ada ritual itu, termasuk pertunjukan tari picot yang melibatkan anak-anak muda Madura.

Perubahan ini yang membuat kalangan dewan berhasrat mengembalikan karapan seperti dulu, tanpa penyiksaan dan menjadi tontonan yang menghibur. Wakil Ketua DPRD Pamekasan Khairul Kalam, SSos. Ia berharap sistem karapan sapi dikembalikan ke semula, tetap menarik, tanpa penyiksaan fisik dan lama pelaksanaan dipercepat, tidak sampai molor hingga dua hari. (sin/st32)

Sumber: Surya, 28 Oktober 2010

Label: , ,