Manusia Pasir, Sisi Unik Potensi Pantai Utara Sumenep

SP/Etto Hartono
Beginilah keseharian ibu dan anak ini tertidur pulas di atas kasur pasir, di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep.

Mayoritas warga tiga desa di kecamatan Batang-Batang, kabupaten Sumenep, Madura, tidur beralas pasir. Tradisi ini sudah dilakoni secara turun-temurun sejak kakek moyang mereka dulu. Disamping sudah tradisi, hal ini diyakini sebagai obat bagi kesehatan tubuh. Etto Hartono, reporter Surabaya Post yang bertugas di Sumenep, melaporkannya untuk pembaca.

Bagi mayoritas di tiga desa yakni warga, Legung Barat dan Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura pasir tidak akan pernah lepas dari kehidupannya, sudah menjadi gaya hidup.

Tradisi tidur diatas pasir yang ditempatkan di sudut kamar rumah, maupun di ruang istirahat, menjadi teman dalam hidupnya. Bahkan, sebagian halaman rumah juga terdapat pasir sebagai tempat bermain anak-anak.

Warga tiga desa yang mayoritas sebagai nelayan, dan sebagian lainnya pedagang dan bertani, menganggap pasir memberi manfaat besar berupa kesehatan bagi tubuh. Mereka juga menganggap, tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak dibanding kasur kapuk maupun kasur spring bed yang harganya jutaan rupiah.

"Kalau tidur di atas pasir terasa lebih empuk mas. Bahkan, kalau musim dingin terasa hangat dan kalau musim panas justru terasa dingin. Tidur pun lebih nyenyak dan lebih segar," kata Ny Harsiyani (38), salah seorang warga Dusun Samburat, Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Selasa (10/4).

Pasir yang diambil dari sekitar Pantai Lombang itu tidak lengket ke kulit atau tubuh. Jika badan dalam kondisi basah, maka saat kering akan mengelepus dengan sendirinya. Yang istimewa, butiran pasir disepanjang Pantai Lombang memiliki kristal pasir yang sangat halus. Pasir inipun bersih mengkilap dan memiliki warna putih gading, terasa sangat halus ketika dipegang.

Warga yang memanfaatkan pasir sebagai tempat tidur atau istirahat, bukan hanya mereka yang kelas ekonomi menengah ke bawah, melainkan warga yang sudah mempunyai kemampuan lebih masih tetap tidur di atas pasir.

Rata-rata mereka juga memiliki kasur modern dari bahan kapuk maupun spring bed. Tapi uniknya itu hanya dipakai sebagai hiasan, sehingga kasur modern mereka tetap tampak bersih layaknya baru.

"Tempat tidur berupa kasur atau spring bed semua warga punya, tetapi hanya sebagai hiasan dan tidak digunakan, sehingga tetap kelihatan baru," ujarnya, sambil tersenyum.

Proses melahirkan pun, kata dia, juga dilakukan di atas pasir. Warga meyakini jika lahir di atas pasir anak-anak mereka tidak mudah sakit. Hanya pada kasus-kasus ibu yang mengalami kesulitan saat melahirkan, tetap dibawa ke Puskesmas atau ke rumah sakit.

Usir Capek dan Rematik

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, H Ali Makki menjelaskan, kebiasaan warga tidur dan lebih banyak beraktivitas di atas pasir sudah tradisi turun-temurun. "Kenapa dan mulai kapan tidur diatas kasur pasir itu, saya juga tidak tahu, yang jelas masyarakat sangat suka dan merasa lebih sehat," katanya.

Manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat, kata dia, merasa nyaman dan nyenyak bila tidur maupun istirahat bersama keluarga. Bahkan, bagi mereka yang mempunyai penyakit rematik dan pegal atau linu akan sembuh dengan sendirinya.

"Sehabis kerja kan capek dan tubuh terasa lelah dan letih, kalau sudah tidur di atas pasir, apalagi sebagian tubuh ditimbun pasir, akan terasa nyaman dan bugar kembali," ungkapnya.

Julukan manusia pasir, kata dia, hanyalah sejumlah orang yang menyebut, yakni para pendatang yang berkunjung ke pantai Lombang dan mampir ke rumah-rumah warga untuk tahu lebih dekat. Namun, bagi warga pesisir utara menyebutnya kasur pasir.

Untuk sampai ke lokasi kampung pasir, harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan jarak 31 kilometer (km) dari pusat kota, ke arah wisata Pantai Lombang. Warga setempat sangat terbuka dan ramah bila ada tamu yang ingin tahu soal kasur pasir. Mereka pun tidak segan-segan mengajak tamunya untuk mencoba dan merasakan nikmatnya kasur pasir tersebut.

Perlu Diteliti

Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Moh Anwar Kabupaten Sumenep, dr Susianto, menyebut fenomena kampung pasir yang digunakan warga di pesisir pantai utara kota Sumenep itu, memang perlu diteliti lebih lanjut dari lembaga yang berkompeten, sehingga dapat dijelaskan secara ilmiah ke masyarakat umum.

dr Susianto mengaku pernah berkumpul selama 5 tahun bersama masyarakat pengguna pasir sebagai alas tidur, tapi belum menemukan hasil kajian ilmiah.

"Saya pun pernah merasakan enak dan nyamannya istirahat di atas kasur pasir itu. Sebab, saya pernah bertugas di daerah itu selama 5 tahun," ujar Susianto.

Dia membenarkan jika masyarakat merasakan manfaat pasir itu untuk kesehatan. Akan tetapi, kesulitan untuk dijelaskan secara ilmiah dari sisi medis.

"Jika ada penelitian akan diketahui kandungan dalam pasir itu," katanya.

Banyak tamu dari luar negeri, kata dia, baik Amerika Serikat, India maupun wisatawan lainnya yang terkesan dengan pasir yang ada di sekitar pantai pesisir utara Sumenep itu.

"Kesan mereka, pasir itu terasa hangat, sehingga berdampak positif pada peredaran darah," ungkapnya.

"Jika di daerah luar mengemas air laut untuk kesehatan dan bisa mengobati rematik, kenapa pasir Sumenep belum bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Padahal, sudah dirasakan banyak orang, terutama masyarakat setempat yang sudah turun-temurun memanfaatkan pasir sebagai alas tidur," pungkasnya.

Terkait:

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 11/04/2012

Label: , , , , ,

1 Komentar:

Pada 30 Maret 2015 14.05 , Anonymous toko pasir jakarta mengatakan...

makasih gan

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda