Tari Muang Saangkal

Abdul Hadi Wm's Wall Photo
Tari Muang Sangkal atau Membuang Sial dari Sumenep, Madura.

Upacara tolak bala adalah universal. Selain disertai doa-doa tidak jarang disertai tari-tarian yang sebenarnya merupakan juga perwujudan dari doa. Semogga Tragedi Mesuji dan Tragedi Sape Bima tidak terulang, semoga gunung-gunung berapi tidak mengikuti jejak Gunung Gamala yang meletus ketika bangsa ini dililit berbagai penderitaan.

Label: , , ,

Sanggar Tari Tarara Bangkalan

Komunitas Sanggar Tari Tarara (Tarian Rakyat Madura) Bangkalan akan terus mengupayakan menghidupkan kembali seni dan budaya etnik Madura di Bangkalan. Pasalnya, masih banyak potensi seni dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bangkalan yang belum tergali dengan baik.

“Potensi kesenian yang sudah kami gali di antaranya kesenian ritual Hong Bahong, Angklung Topeng, Tari Rokat, dan upacara adat Somber Brubung, “ kata Pemimpin Sanggar Tari Tarara Bangkalan, Sudarsono, ketika dihubungi pekan lalu di Bangkalan. (TIF)

Sumber: Kompas, 08/12/2009

Label: , , ,

Tari Pelecut Pembangunan Madura

Setiap tahun perayaan HUT Kemerdekaan bangsa Indonesia dirayakan secara meriah di Kabupaten Bangkalan. Resepsi kenegaraan diadakan tepat tanggal 17 Agustus malam. Tahun ini berbeda, ada penampilan fragmen berjudul Pecut Madura.

Tari tersebut dibawakan oleh 50 gadis cantik dan 16 pemuda. Para gadis membawa bendera kecil di tangannya, sementara penari laki-laki membawa pecut. Tari dibawakan selama 10 menit di depan tamu undangan.

Penari terbagi dalam dua barisan, mereka memanggul dua selendang panjang membentang ibaratnya jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Kota Surabaya. Ada prolog yang disampaikan Sudarsono, sang koreogafer fragmen dari balik layar. "Ngereng Suramadu ampon dhaddi. Jhak sampek reng Madura melo nyamanna, namon tak melo man-nyamanna. Otaba melo gettanah tak melo nangkana." Dalam bahasa Indonesia kata-kata itu mengajak orang Madura agar tak jadi penonton pasca-Suramadu.

Penonton lantas dikejutkan dengan sebuah pasangan menggunakan sepeda hendak melewati jembatan Suramadu. Dengan mesranya dua insan anak Madura yang sedang dimabuk asmara menyampaikan pesan berarti. Mereka mengajak semua yang hadir agar mensyukuri keberadaan jembatan terpanjang di Asia ini dengan belajar keras dan berkarya. Mereka juga menyampaikan prolog akan kekayaan Pulau Madura yang pantas untuk dipasarkan kepada masyarakat luar, salah satunya Kerapan Sapi.

Tak berselang lama, dua pasang anak kecil muncul ke atas panggung berlagak seperti layaknya sepasang sapi kerap. Didampingi sang pemilik, para sapi ini akan menuju medan laga menjadi yang terbaik. Namun sebelum dilombakan, dua pemilik sapi malah bertengkar dengan mengeluarkan celurit, senjata khas Madura.

Dari balik layar kembali terdengar prolog yang mengajak bahwa carok sudah harus ditinggalkan. Celurit Madura sudah saatnya digunakan untuk hal yang lebih berguna, yakni untuk membabat alas sebagai lokasi pembangunan pasca Suramadu. Para pemilik akhirnya tersadar dan sepakat untuk menjaga kelestarian budaya Kerapan Sapi tanpa dibumbui dengan perselisihan dan pertentangan. (ale/nra)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 19 Agustus 2009

Label: ,

Siti Hatijah Mengabdi di Tari Tradisional

Pernah Dikirim ke Taiwan, Kembangkan Tari di Beberapa Sekolah

Kiprah dan sepak terjang Siti Hatijah, 46, di bidang tari tradisional Madura memang patut diacungi jempol. Sejak 1972 dia mengabdikan diri di dunia tari tradisional.

Gemuruh tepuk tangan membahana di Pendapa Ronggosukowati kemarin siang. Saat itu baru saja ditampilkan tarian tradisional Topeng Gettak. Gemulai sang penari dan keserasiannya dengan alunan musik pengiring, ternyata membuat undangan yang menghadiri perayaan Hari ibu, PKK, Dharma Wanita, dan KB Kesehatan berdecak kagum.

Di deretan depan tampak sejumlah pejabat, seperti Bupati Pamekasan Ach. Syafii, Ketua DPRD Kholil Asyari, Kajari Yusran Lubis, Dandim 0826 Letkol Inf Agus Sumantoro, dan sejumlah kepala dinas dan instansi di lingkungan pemkab. Seakan tak peduli dengan banyaknya pejabat dan undangan yang hadir, sang penari tetap tampil memukau.

Siapakah sebenarnya sang penari itu? Dia Siti Hatijah, 46, salah satu pembina tari-tarian tradisional Madura. Tijah - sapaan akrabnya - memang cukup lama menggeluti tari-tarian tradisional. "Saya kenal tari-tarian tradisional Madura sejak 1972," tuturnya saat ditemui koran ini sebelum tampil kemarin.

Perempuan yang kini menjadi guru di SDN Larangan Luar III, Kecamatan Larangan, ini mengaku banyak didorong keluarga dalam menggeluti tari-tarian tradisional Madura. Apalagi, kedua orangtuanya memang memiliki darah seni, meski hanya kesenian tradisional, seperti macopat.

Dorongan dari orantuanya diwujudkan dengan cara mengirim Tijah ke STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) di Surabaya. Di sanalah Tijah banyak memeroleh ilmu kesenian, terutama kesenian tari. Di STKW pula dia banyak bergaul dengan pekerja seni dari berbagai wilayah di Jawa Timur. "Sebelum masuk STKW pun saya sudah menari. Sejak saya kecil, mulai dari SD, SMP hingga SMA, memang sudah sering menari. Terutama, menari tradisional," katanya.

Setelah lulus dari STKW, Tijah semakin matang. Apalagi, saat itu dia bertemu dengan Alimuddin, anggota TNI di lingkungan Kodim 0826 Pamekasan. Suaminya itu memberikan dorongan penuh kepada Tijah di dunia tari tradisional. "Suami saya ikut mendukung saya di dunia tari tradisional," ungkap Tijah yang mantan anggota Persit (Persatuan Istri Tentara) Kodim 0826 Pamekasan ini. Suami Tijah memang pernah menjadi anggota TNI. Namun, sejak 2007 terpilih sebagai kepala Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan.

Karir Tijah di bidang tari tradisional pernah mencapai puncak. Dia dikirim ke Taiwan sebagai kontingen Indonesia khusus kesenian pada acara Pramuka se dunia. "Saya juga pernah dikirim ke Medan dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Saya juga pernah mendapat penghargaan saat tampil di Pandaan tahun 1980-an," tuturnya.

Kini Tijah mulai menularkan ilmunya. Yakni, dengan menjadi pembina tari di beberapa sekolah. Seperti SMKN 3, SMPN 5, SMPN 1, dan beberapa sekolah lainnya. "Sebenarnya, tari itu gampang. Kuncinya hanya pada kelenturan tubuh dan keserasian dengan musik pengiring. Semua orang sebenarnya bisa menari. Hanya bergantung latihan saja," ujarnya.

Kemarin meski sudah memasuki usia senja, Tijah tetap bisa menunjukkan kemampuan menarinya. Dia membawakan Topeng Gettak yang bercerita tentang seorang satria pemberani saat melawan penjajah Belanda. (AKHMADI YASID)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 18 Des 2007

Label: , , , ,