Serbuan Keris Aeng Tongtong dan Palongan

DI tangan Syaiful, pahat sebesar lidi itu seperti menari-nari di pipihan bilah keris luk (lekuk) sembilan. Dengan ketekunan dan ketelatenannya, pemuda 25 tahun itu tengah memberi pamor (motif pada bilah keris) berbentuk ukiran. Ujung ukiran membentuk paruh garuda, tepat di sisi atas bilah keris.

Oleh: Kukuh S. Wibowo (Sumenep)

Sore pertengahan Mei lalu itu Syaiful tak bekerja sendirian. Ada tiga rekannya yang juga tengah sibuk membikin ornamen ukiran di bilah keris yang masih polos. Suara pahat yang beradu dengan palu terdengar bersahutan. Di dekat para empu muda itu, pahat dengan berbagai ukuran, dari yang sebesar jari kelingking hingga sekecil lidi, tampak berserakan. Di sana terdapat pula peranti lainnya, seperti palu, gergaji, tabung las, dan beji.

Bengkel tempat mereka bekerja hanya bilik bambu semipermanen seluas kira-kira 40 meter persegi. Bengkel itu berada di sisi kiri rumah utama Syaiful. Hanya sepelemparan batu dari bilik Syaiful terdapat bilik lain milik tetangganya. Di sana juga tengah ada aktivitas pembuatan keris. Bunyi beji yang dipakai untuk menajamkan sisi keris terdengar memekakkan telinga. "Kami bekerja dari pagi hingga waktu asar," ujar Syaiful.

Begitulah suasana Aeng Tongtong, sebuah desa di Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jawa Timur, yang telah puluhan tahun dikenal sebagai sentra pembuat keris. Aeng Tongtong seperti tak mengenal musim. Saban hari produksi keris terus menggeliat di sana. Denting logam yang ditempa ditingkahi suara pahat beradu palu mewarnai keseharian desa tandus itu.

Kendati produksi keris Aeng Tongtong mulai marak pada 1960-an, sebenarnya desa itu memiliki sejarah panjang soal pusaka. Menurut RM Srihono Darmodiningrat, 75 tahun, anggota organisasi Javanologi Jawa Timur, saat Trunojoyo, tokoh dari Pamekasan, Madura, memberontak pada Kerajaan Mataram yang didukung Belanda pada 1600-an, semua pusaka pengikutnya dipasok dari Aeng Tongtong. "Pasukan Trunojoyo tak pernah kekurangan senjata karena selalu dipasok oleh empu-empu dari Aeng Tongtong," kata Srihono.

Seorang empu di Aeng Tongtong, Zaenal Arifin, mengatakan 65 persen dari total sekitar 1.400 warga di desa itu terjun menjadi empu. Adapun sisanya bekerja di ladang atau sawah serta merantau. Empu di sana tak hanya mahir membuat keris, tapi juga senjata pusaka lainnya, seperti mata tombak, trisula, dan pisau.

Zaenal menambahkan, keahlian para empu yang rata-rata relatif muda itu sebagian karena warisan orang tuanya yang juga seorang empu. Sebagian lainnya karena mereka memang belajar sendiri. "Ada yang mula-mula berguru ke seorang empu, setelah mahir terus membuat pusaka sendiri," kata Zaenal, 41 tahun, yang mewarisi kepiawaian membuat keris dari ayah dan pamannya -dua empu yang disegani di Aeng Tongtong.

Hanya, tutur Zaenal, ada yang berubah dalam peralatan untuk membuat keris. Saat ini peralatan yang dipakai untuk membuat keris sudah cukup modern. Dulu, agar bisa diukir dan dibentuk pamornya, keris dibakar di paron (besi landasan tempa), tapi sekarang cukup dengan api las. Untuk menajamkan sisi keris, dulu empu sering menggunakan kikir. "Tapi sekarang banyak yang pakai beji," ujarnya.

Perubahan tradisi membuat keris juga tengah berubah di Palongan, desa tetangga Aeng Tongtong yang juga terkenal sebagai sentra keris Madura. Menurut Zulhan, seorang empu di Palongan, tradisi membuat keris yang dimulai dari tirakat memang masih berlangsung di Palongan. Biasanya, empu itu berpuasa tiga hari sebelum mulai membuat keris pusaka. Dalam laku tirakatnya itu, sang empu tidak boleh bicara dan berhubungan intim. "Bila dilanggar, tuah pusaka yang dibikin akan berkurang," kata Zulhan.

Namun, Zulhan menambahkan, tradisi itu mulai ditinggalkan oleh empu yang lebih muda, termasuk dirinya. Sebelum membuat keris, Zulhan cukup mengadakan selamatan pada malam Jumat Legi. "Yang penting hatinya bersih," ujar bapak satu anak ini, yang mewarisi keahlian membuat keris dari ayahnya, Dairi, seorang empu yang dihormati di Palongan.

Zulhan adalah empu yang tak mengejar kuantitas. Dia hanya membuat keris pusaka dan menolak pesanan membuat keris suvenir. Dia juga tak mau menerima besi sembarangan yang hendak dibikin menjadi keris. Tak mengherankan bila dalam waktu tiga bulan paling banter Zulhan hanya berhasil menyelesaikan satu keris.

Zulhan juga tak hanya piawai membuat keris Jawa. Gaya Bali pun biasa dia kerjakan. Bahkan ia mengaku baru mendapat telepon dari orang Kalimantan agar dibuatkan keris pusaka khas Kalimantan Barat. "Kalau ada contohnya, meski hanya berwujud gambar, saya sanggup membuatkan," katanya.

Dalam sepekan, keris yang dihasilkan Aeng Tongtong dan Palongan bisa mencapai ratusan bilah. Sebab, selain para empu yang tak mengejar jumlah seperti Zaenal dan Zulhan, banyak pembuat keris di sana yang bisa menghasilkan puluhan keris dalam sepekan. Sebagian besar keris yang dihasilkan dua desa itu berupa bilah keris yang telah dihiasi pamor. Adapun warangka (sarung keris) dan pegangannya biasanya dipesan dari daerah lain di luar Madura, seperti Yogyakarta. Meski begitu, di sana juga ada perajin yang khusus membuat warangka. Salah satunya Sasrudi, 38 tahun, warga Palongan. Sasrudi biasa membuat warangka bila ada pesanan dari pengepul atau empu.

Baik empu Aeng Tong Tong maupun Palongan tak membikin keris dari nol. Mereka mengambil bahan baku yang sudah setengah jadi dari pandai besi di Desa Lenteng Barat, Sumenep. Bahan bakunya berupa besi baja yang diambil dari Surabaya. Kemudian empu-empu itu tinggal membentuk menjadi keris yang lebih halus serta memberi polesan pamor agar tampak lebih indah.

Menurut Zaenal, keris Aeng Tongtong dan Palongan banyak yang dipasarkan ke kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Keris dari kedua desa itu ada juga yang diekspor ke Singapura, Brunei, Malaysia, Amerika, dan negara-negara Eropa.

"Ibaratnya, di mana ada bakul (penjual) keris, pasti ada keris Maduranya," ujar Zaenal, empu yang juga distributor keris Madura.

Pemasaran keris kedua desa itu juga dilakukan secara perorangan. Misalnya, ada seorang penggemar keris atau makelar keris yang datang ke desa itu untuk mencari keris. Saleh, 60 tahun, warga Palongan, mengatakan dia sering mengantarkan orang dari luar kota yang datang ke Aeng Tongtong untuk mencari keris. Tak puas di satu empu, biasanya tamu akan membanding-bandingkan dengan empu lainnya.

"Dalam sebulan rata-rata saya mengantarkan empat tamu yang mencari keris," katanya.

Harga keris buatan Aeng Tongtong dan Palongan berkisar ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per buah. Menurut Zaenal, empu yang juga distributor keris pusaka Aeng Tongtong, masalah harga hampir tak ada patokannya. Sebab, bila pembeli sudah cocok, berapa pun harga yang ditawarkan akan diambil. "Apalagi kalau yang membeli itu seorang kolektor," ujarnya.

Namun seorang pembeli tetap saja melihat sosok keris itu dari unsur dhapur (tipe atau bentuk), tangguh (perkiraan tahun pembuatan), wilah (bilah), dan pamor (motif). Bila unsur-unsur itu telah terpenuhi, barulah unsur berikutnya turut melengkapi, yaitu rangka dan pegangannya. Rangka yang paling bagus, menurut Zaenal, berupa kayu kemuning atau cendana. Adapun pegangannya dari gading gajah. "Kalau semua terpenuhi, harganya bisa mencapai ratusan juta," katanya.

Dhapur keris yang belakangan banyak diminati, tutur Zaenal, adalah Guling Mataram dan Megantoro. Juga dapur keris Majapahit. Biasanya kalau diminati harganya tinggi. Keris pusaka buatan Zaenal pernah dibeli seorang politikus Partai Gerindra dan seorang petinggi kepolisian dengan harga sekitar Rp 10 juta. Bahkan keris pusaka karya Zaenal dibeli seharga Rp 100 juta oleh duta besar Venezuela.

Keris telah memberikan kemakmuran bagi Aeng Tongtong dan Palongan. Meski berada di lahan tandus, kehidupan kedua desa sentra keris Madura itu cukup sejahtera. Rumah-rumah di sana sudah berdinding bata, jarang yang dari bambu. Hampir setiap rumah memasang antena parabola. Menurut Mat Raji, Kepala Desa Palongan, warga membeli parabola karena sulit menonton televisi. "Tanpa parabola, gambar di televisi hanya semut semua," ujarnya tersenyum.



Sumber: Tempo, 13 Juni 2011

Label: , , , , ,

Obtaining a Gateway to the Past

JG Foto / Ade Mardiyati
Sama seperti batik di Madura, warna yang mendominasi desain pintu dari wilayah ini merah, kuning dan hijau. Ini membedakan pintu Madura dari pintu kayu tradisional yang diproduksi di Jawa dan Bali, yang biasanya kurang kaya warna.

Madura terkenal untuk desain rumit dan berani berwarna yang merupakan fitur dari karya seni, dekorasi rumah dan ukiran kayu yang diproduksi di wilayah ini. Salah satu karya seni yang paling dikagumi dari pulau itu adalah pintu berukir hiasan yang menghiasi banyak rumah di daerah itu selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad.

Oleh Ade Mardiyati

Namun, banyak warga desa dari Madura semakin kehilangan minat di pintu bergaya tradisional, menggantinya dengan pintu buatan pabrik yang baru, dan rapi. Meskipun hal ini mungkin menyedihkan, itu adalah sesuatu yang banyak orang, khususnya pecinta barang antik, bersyukur atas itu.

"Banyak orang di Madura memiliki pintu dengan kaca atau pintu terbuat dari kayu lapis karena pintu-pintu itu terlihat lebih modern untuk mereka," kata Hadi Juana Malik, pemilik ILA, sebuah perusahaan di Pamekasan, Madura, yang menjual pintu antik dan gerabah. "Sementara itu, orang-orang kelas menengah ke atas di kota-kota besar ingin kembali ke gaya tradisional."

Hadi tahu tentang tren ini muncul ketika ia bekerja untuk sebuah perusahaan yang mengirim pintu tradisional dari Madura ke rumah pelanggan pada tahun 1991.

"Pembeli terutama dari kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan dari seluruh Bali," kata Hadi (44 tahun) berkata.

"Saya tidak pernah membayangkan bahwa orang akan begitu tertarik pada pintu-pintu ini."

Menggunakan jaringan yang dia bangun sebagai driver bagi perusahaan, Hadi memutuskan untuk memulai bisnis sendiri setahun kemudian.

Hiasan pintu berukir dari Madura, Hadi mengatakan, berbeda dari yang dihasilkan di pulau-pulau terdekat.

"Yang Anda lihat di Jawa atau Bali memiliki sebagian besar satu atau dua warna, atau kadang-kadang hanya tampak alami. Warna paling khas adalah coklat gelap," katanya. "Namun, pintu-pintu dari Madura kaya warna".

"Warna utama kami, seperti yang Anda lihat pada batik kita juga, merah, kuning dan hijau. Anda dapat melihat tiga warna, dan kadang-kadang ada warna lain, dalam satu set pintu. Ini merupakan kombinasi warna yang indah. Ukiran pintu Madura juga berbeda dengan yang dibuat di bagian lain Nusantara".

"Di Jawa dan Bali, mereka biasanya akan membuat desain ukiran yang sama untuk pintu dan mebel. Burung-burung, bunga atau naga yang sama dapat ditemukan di pintu dan, katakanlah, sandaran kepala tempat tidur.

"Di sini, kita memiliki banyak desain yang berbeda hanya dari satu tema, seperti burung," kata Hadi yang belajar untuk mengukir dari ayahnya ketika dia hanya 12 tahun.

Sebagian besar pintu tua yang dibeli dari agen-agen di desa-desa seluruh pulau di empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Bangkalan dan Sampang. Hadi mengumpulkan pintu-pintu itu melalui agen-agen yang ada di desa-desa tetapi sering pemilik rumah datang ke tempat kerjanya untuk menjual langsung.

Sebagian besar pintu, katanya, berusia ratusan tahun. "Kami tidak membuat pintu sehingga tidak ada yang baru di sini," katanya. "Kami membuat kusen karena kusen-kusen itu biasanya patah. Tapi untuk pintu, kita kebanyakan hanya membersihkan pintu-pintu itu dan tidak membuat perubahan apapun untuk mempertahankan ukiran aslinya."

Harga pintu, Hadi mengatakan, tergantung pada materi pintu itu dibuat - baik jati atau kayu dari pohon nangka - serta usia pintu dan ukirannya.

"Kami menjual pintu mulai harga sekitar ratusan ribu rupiah sampai jutaan rupiah [puluhan hingga ratusan dolar]," kata Hadi.

Terlepas dari kenyataan bahwa tokonya terletak jauh dari kota besar, di mana sebagian besar pelanggannya berada, Hadi tidak mengeluh tentang bisnis. "Mereka bersedia membayar uang ekstra untuk menyewa truk atau untuk membayar biaya pengiriman pintu ke rumah mereka," katanya.

Meskipun Hadi telah menekuni bisnis ini sampai sekarang, ia mengatakan bahwa popularitas pintu hiasan ukiran Madura yang terkadang masih mengherankan dia.

"Memang benar ketika mereka mengatakan bahwa dunia ini berputar," katanya. "Mereka yang di atas ingin pergi ke bawah, dan mereka yang di bagian bawah ingin tahu bagaimana rasanya berada di puncak."

Sumber: Jakarta Globe, April 14, 2011

Just like in Madurese batik, the colors that dominate the design of doors from the region are red, yellow and green. This distinguishes Madurese doors from the wooden doors traditionally produced on Java and Bali, which are usually less rich in color. (JG Photo/Ade Mardiyati)


Madura is famous for the intricate and boldly colored designs that are a feature of the art pieces, home decorations and wood carvings produced in the region. One of the most admired art pieces from the island are the ornate carved doors that have graced many a home in the area for decades, even centuries.

However, many villagers from Madura are increasingly losing interest in the traditional-style doors, replacing them with sleek, new, factory-made counterparts. While this may be sad, it is something a lot of people, especially antiques lovers, are grateful for.

“A lot of people in Madura have doors with glass or doors made out of plywood because they look more modern to them,” said Hadi Juana Malik, owner of ILA, a company in Pamekasan, Madura, that sells antique doors and earthenware. “Meanwhile, middle to upper class people in big cities want to go back to the traditional style.”

Hadi found out about this emerging trend when he worked for a company that delivered traditional doors from Madura to customers’ homes in 1991.

“Buyers were mainly from big cities in Java, such as Jakarta, Yogyakarta, Surabaya and from all over Bali,” the 44-year-old said.

“I never imagined that people would be so interested in these doors.”

Using the network he built up as a driver for the company, Hadi decided to start his own business a year later.

Ornate carved doors from Madura, Hadi said, are different from the ones produced on nearby islands.

“The ones you see in Java or Bali have mostly one or two colors, or sometimes just look natural. The most typical color is dark brown,” he said. “However, the doors from Madura are rich in color.

“Our main colors, as you can see in our batik as well, are red, yellow and green. You can see these three colors, and sometimes others, in one set of doors. It is a beautiful combination.”

The carving on Madura doors is also different to the one made in other parts of the archipelago.

“In Java and Bali, they will usually make the same carving design for doors and furniture. The same birds, flowers or dragons can be found on doors and on, say, bed headboards.

“Here, we have a lot of different designs from just one theme, such as birds,” said Hadi who learned to carve from his father when he was just 12 years old.

Most of the old doors are purchased from people in the villages throughout the island’s four districts: Sumenep, Pamekasan, Bangkalan and Sampang. Hadi collects them through agents in those villages but often home owners come to his workshop to sell directly.

Most of the doors, he said, are hundreds of years old. “We don’t make doors so there are no new ones here,” he said. “We do make the sills because those usually break. But for the doors, we mostly just clean them and do not make any changes to maintain the original carving.”

Prices of the doors, Hadi said, depend on the material they are made of — either teak or wood of the jackfruit tree — as well as their age and carving.

“Roughly, we sell doors starting at hundreds of thousands of rupiah while some cost millions of rupiah [tens to hundreds of dollars],” Hadi said.

Despite the fact that his shop is located far from big cities, where most of his customers reside, Hadi does not complain about business. “They are willing to pay extra money to rent a truck or to pay the shipping cost to have the doors delivered to their homes,” he said.

Even though Hadi has been in the business for a while now, he said that the popularity of Madura’s ornate carved doors sometimes still amazes him.

“It is true when they say that the world goes round,” he said. “Those on top want to go to the bottom, and those at the bottom want to know what it feels like to be at the top.”


Label: , , ,

Agus Riyanto, Pemilik Gallery Keris Tosan Aji

Dari Mobil dan Kafe, Jatuh Hati pada Ukiran Keris

foto: Surya/Ahmad Zaimul Haq
Agus Riyanto Pemilik Galery Keris.

Siapa sangka jika jual beli barang antik bisa menghasilkan keuntungan yang unik. Bisnis keris meski tergolong langka namun segmen pasarnya tetap.

Kolektor keris, pedagang barang antik hingga penyuka alam gaib. Agus Riyanto sudah mencobanya sejak turun temurun dari orang tua. Omzetnya, walau tak bisa diprediksi namun tak menghunjam.

Oleh DWI PRAMESTI YS

Pemilik Gallery Keris Tosan Aji ini mengaku jika penjualan keris dari tahun ke tahun tak pernah padam. “Kompetitornya jarang, jadi penjualannya lancar. Harga keris juga tidak pernah turun karena namanya barang bernilai seni, taksiran harganya pasti beda-beda,” kata Agus, saat ditemui di stan miliknya di Royal Plaza LG, pekan lalu.

Pria kelahiran Surabaya 20 Agustus 1966 ini dulu terlibat langsung dalam proses pembuatan keris, bekerja sama dengan beberapa empu dari Malang, Solo, Jogjakarta dan Madura langganannya.

“Saya tinggal menggerinda (mengukir) kerisnya saja. Tetapi sekarang karena permintaan naik, maka saya kewalahan kalau harus mengerjakan dari hulu sampai hilir. Jadi, seluruh pengerjaan dilakukan oleh kawan-kawan saya yang merupakan empu itu. Saya tinggal bikin model dan pamor seperti apa sekalian sarung kerisnya gimana, lalu mereka yang buat,” ujarnya.
Harga keris yang ia jual bervariasi, mulai Rp 100.000–100 juta.

Konsumennya paling banyak para kolektor keris, mulai usia muda sampai yang dewasa, kebanyakan pria.

“Kebanyakan mereka minta duplikat keris warisan, ada juga yang re–seller. Generasi muda yang berburu keris biasanya dia yang mengerti tentang sejarah dan seni keris,” kata pria yang almarhum kedua orangtuanya berasal dari Ponorogo ini.

Sebelum menekuni bisnis keris, duda 45 tahun ini mengungkapkan, menekuni beragam bisnis mulai persewaan mobil, lahan, sampai buka café, namun akhirnya bangkrut. “Delapan tahun silam saya memulai bisnis keris, dari koleksi orangtua juga. Ayah saya dulu pembuat keris dan pencuci keris. Sejak kecil saya sering melihat prosesnya,” aku Agus, yang bakal menekuni usaha ini sepanjang hayatnya.

Menurutnya, hal-hal yang bisa menentukan murah atau mahalnya harga jual keris bisa dilihat dari bahan (kodokan) alias kualitas besinya, pamor (view), dapur (model) hingga rangka (sarung keris).

“Pamor udan mas paling banyak disukai, harganya mulai Rp 1,5–20 juta tergantung dari tingkat kerumitan dalam proses pembuatannya,” katanya.

Secara umum, kategori keris ada tiga zaman. Pertama, zaman lama (dibuat jaman kerajaan), dijamin punya kekuatan karena dibuat empu yang sangat sakti. Kedua, zaman sekarang (baru), bisa dibuat oleh empu dengan ritual atau oleh garis keturunan empu, bisa juga dibuat seseorang yang punya keahlian membuat seni keris (keris ini memiliki energi saja) karena besi apabila dicampur bermacam-macam jenisnya memunculkan energi secara fisik. Ketiga, zaman alam gaib, didapat dari yang tidak wujud menjadi wujud.

”Semuanya laku karena segmennya berbeda-beda. Belum lagi ada sekitar 250 dapur dan 250 pamor yang biasanya punya fungsi berbeda-beda juga, tergantung tujuan memiliki keris tersebut,” jelasnya.

Tiap dapur dan tiap pamor dibikin dengan fungsi antara lain, jenjang karir atau pangkat, wibawa, kekuasaan, rejeki, keilmuan, kesucian, dan masih banyak lagi. “Kalau dulu empu bikin keris selama tiga bulan puasanya selama tiga bulan. Kalau sekarang tidak. Cukup puasa waktu awal banca’an saja. Ada pergesaran budaya yang lebih fleksibel. Bukankah keris juga menjadi bagian senjata tradisional budaya Jawa,” pungkas Agus.

Sumber: Surya, Kamis, 30 Juni 2011

Label: , ,

Menyabet Laba dari Kerajinan Pecut

Kerajinan pecut di Dusun Morgunong, Desa Paterongan, Kecamatan Galis Bangkalan, Madura. Foto: Surya/st32.

Usaha kerajinan pecut tradisional masih bergeliat di Kabupaten Bangkalan. Pemakaian bahan baku alami yang gampang diperoleh, seperti pelepah pisang atau batang daun pohon aren, membuat warga Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, tetap eksis menekuni usaha ini.

Bergelut dengan kerajinan pecut bagi warga Dusun Morgunong, Desa Paterongan, seakan sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Kapan awal mula pembuatan produk khas Madura dengan paduan warna mencolok ini, tidak ada yang tahu persis.

Salah satu warga setempat, Rafiah (22) menuturkan bahwa keluarganya sudah akrab dengan pembuatan pecut sejak ia masih kecil. “Aktivitas ini sudah dilakukan turun-temurun. Ibu pernah bilang, nenek juga pembuat pecut,” ujar ibu satu anak ini, saat ditemui di kediamannya, pekan lalu.

Menurutnya, membuat pecut bukanlah hal yang sulit, mengingat usaha kerajinan ini memanfaatkan bahan alami seperti, pelepah pisang atau batang daun aren. Tidak mengherankan jika hampir sebagian warga Dusun Morgunong, yang berjumlah 63 kepala keluarga (KK), membuat pecut.

“Keberadaan pohon pisang kan tidak mengenal musim. Cara mendapatkan juga gampang. Di belakang rumah banyak tumbuh dengan sendirinya. Proses buatnya pun gampang, dikeringkan terlebih dulu. Setelah pelepah pisang kering, diiris dan dipotong-potong sesuai panjang pecut,” jelas Rafiah.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, modal pembuatan kerajinan pecut ini pun terus meningkat. Pasalnya, selain bahan baku alami, pecut juga menggunakan benang. Padahal, harga benang terus merangkak naik. “Untuk 1 kilogram (kg) benang, khusus pecut, harganya mencapai Rp 70.000,” ujarnya.

Sehingga, untuk menghasilkan 1.000 pecut, Rafiah setidaknya membutuhkan 9 hingga 10 kg benang. Dengan asumsi, 1 kg benang mampu menghasilkan 120 buah pecut (pecut jahitan). “Jadi, modal membeli benang saja untuk 1000 pecut, kami butuh modal Rp 600.000- 700.000,” urainya.

Modal itu, diakui ibu lulusan SD ini, sangatlah tinggi. Apalagi, hasil yang diperoleh dari penjualan pecut-pecut itu tidak sebanding dengan modalnya. Untuk menyiasatinya, Rafiah bersama warga dusun lainnya, membuat dua jenis pecut yaitu pecut glunduran dan pecut jahitan. Kedua pecut ini dibedakan dari pemasangan benang pada tubuh pecut. Umumnya, benang hanya dililitkan secara melingkar di tubuh pecut atau disebut pecut glunduran.
Harga pecut glunduran ini lebih murah daripada pecut jahitan. Karena proses pembuatannya juga lebih mudah. Para tengkulak biasanya mengambil 1.000 pecut setiap bulannya, seharga Rp 1 juta. “Dari penjualan ini, keuntungan yang didapat sangat minim hanya sekitar Rp 50.000 saja,” imbuh Rafiah.

Perajin pecut lainnya, Marwah (36), yang rumahnya berada tepat di samping kanan Rafiah menuturkan, pembuatan pecut jenis jahitan merupakan siasat untuk mendongkrak harga jual pecut. “Pecut jahitan memerlukan waktu lebih lama dan benang yang lebih banyak. Sehingga, wajar jika harga sedikit mahal,” ujarnya.

Ia merinci, jika 1 kg benang bisa dibuat 200 pecut glunduran, untuk pecut jahitan hanya menghasilkan 120 pecut jahitan. “Dalam sehari, kami hanya menghasilkan 5 pecut jahitan saja. Sedangkan pecut gluduran mampu 20 buah dalam sehari,” kata Marwah.

Biasanya, para tengkulak mengambil pecut jahitan tiga kali dalam sebulan. Sekali kunjungan mereka membawa 1.000 pecut jahitan. “Kami hanya mendapatkan Rp 150.000 dalam satu bulan untuk pecut jahitan berukuran kecil. Pecut ini memang paling laku,” urainya.

Pecut jahitan ukuran kecil panjangnya sekitar 80 cm yang oleh tengkulak dihargai Rp 2.000, ukuran sedang panjangnya 1 meter Rp 7.000, dan ukuran besar sepanjang 1,5 meter Rp 15.000. “Para tengkulak tidak mengambil banyak untuk ukuran sedang dan besar karena terlalu mahal. Paling banyak mereka mengambil 200 pecut saja,” jelas Marwah.

Inovasi dalam pembuatan pecut, mulai ditangkap generasi muda warga dusun setempat. Seperti di kediaman pasutri Ahmad Ifandi (20) dan Sumiati (18). Keduanya melakukan terobosan dengan menggunakan boplpoin sebagai pegangan pecut. “Bolpoin pasti sering digunakan, apalagi dihiasi dengan pecut,” tutur Sumiati.

Dengan menggunakan bolpoin, modal yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Hanya beli satu boks bolpoin berisi 100 biji dan benang tidak sampai 1 kg, mereka dapat meraup keuntungan lebih besar daripada menggunakan pelepah pisang dan lidi. “Setiap tiga boks bolpoin, kami untung Rp 100.000,” tutur pasangan yang belum dikarunia anak itu.

Hampir seminggu sekali, para tengkulak mengambil sedikitnya 300 pecut bolpoin. “Kalau modal banyak, untungnya pasti lebih banyak juga,” pungkas Ifandi. st 32

Penghasilan Sampingan Seraya Nunggu Panen

Bagi warga Dusun Morgunong, kegiatan membuat pecut itu hanyalah sebatas mempertahankan budaya moyang. Untuk mencari keuntungan besar, pecut masih belum mampu karena harga kulak masih sangat murah.
“Sembari menunggu hasil panen dan upah sebagai buruh tani, kami membuat pecut. Lumayan untuk penghasilan. Syukur-syukur ada yang membantu dalam memasarkan,” terang Holi (48).

Upaya melestarikan budaya pecut, kini hanya tersisa di Dusun Morgunong saja. Satu pecut kecil jenis jahitan, para pedagang menjualnya Rp 5.000. Untuk pecut berukuran sedang ditawarkan Rp 15.000 dan pecut ukuran besar dijual Rp 25.000. “Yang paling laris ukuran kecil mas,” tutur Rizal, PKL Suramadu asal Desa/Kecamatan Kamal.

Namun untuk menjual pecut-pecut dagangannya, diakuinya, butuh waktu lama. Pasalnya, selain variasinya monoton, para pedangang pecut cukup banyak di kawasan Suramadu ini. “Sebulan terkadang tidak habis. Ada yang mengantarkan sendiri ke sini,” terang Rizal, yang hanya mengambil 50 pecut saja dalam sebulan.

Menurut Moh Ali (50), tokoh warga Galis, prospek menggeluti pembuatan pecut sebenarnya masih terbuka lebar. Selain karena terkendala modal, para perajin belum mampu mengembangkan atau mencari inovasi baru motif dan jenis pecut.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Unit Desa setempat itu berupaya memberikan motivasi bagi perajin untuk tidak monoton dalam membuat motif pecut. Bantuan permodalan, diakui Ali, sebagai salah satu alternatif guna memacu semangat perajin.

“Sekarang hanya mengirim ke Suramadu, makam Syechona Cholil, Pelabuhan Kamal, dan paling jauh ke Makam Bung Karno di Blitar. Selain itu, membuat pesanan souvenir mini untuk pernikahan,” tandasnya. (st32)

Sumber: Surya, Kamis, 30 Juni 2011

Label: , , , ,

Mengintip Kerajinan Ranjang Pale'
Satu-satunya di Madura

'Ban-Giban' Buat Mempelai Wanita



Bagi sebagian masyarakat desa di Madura, kebiasaan membawa ban-giban (oleh-oleh, Red) buat pihak mempelai wanita telah mentradisi. Mulai dari kosmetik, pakaian, bantal, tikar, makanan, kue, dan tak jarang juga membawa ranjang pale'. Ternyata, produsen ranjang pale' itu kini banyak bertebaran di Kota Sampang. Bagaimana sesungguhnya seluk beluk para pengrajin dalam membikin ranjang pale'?

Oleh MOH. ANSHORI

Siapa menyangka bahwa produsen ranjang pale' di Kota Sampang merupakan satu-satunya produsen di Madura. Bila Anda berkunjung ke Kota Sampang, disepanjang kawasan stasiun lama-dekat terminal sampai Jalan Kasenih terlihat berderet toko maupun produsen ranjang tersebut. Ada sekitar tiga puluhan toko dan produsen yang memasarkan ranjang pale' tersebut.

Ranjang yang semua bagiannya terbuat dari bahan kayu tersebut, sepintas lalu memang kelihatan artistik dan kuno.

"Ranjang pale' ini memang mirip dengan ranjang-ranjang kayu yang ada di masa kerajaan kuno dimasa lalu. Saya dulu pernah melihat ranjang sejenis ini di museum. Tetapi, sekarang justru dipakai oleh masyarakat di pelosok desa," kata Syaiful seorang pengrajin.

Ranjang pale' tersebut rata-rata memiliki panjang 3 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 2 meter. Pembeli bisa mendapatkan berbagai ragam model sesuai dengan pesanan. Ada pagaran (batas penghalang) motif gunung, dan ada juga yang bermotifkan tumpang. Ranjang semakin antik, karena selain dipolitur juga beberapa bagiannya dicat dengan warna yang mencolok.

Yang lebih menarik, ternyata bahan baku yang dipakai tidak berasal dari Kayu Jati ataupun Meranti, tetapi dari Kayu Akasia. Padahal, selama ini Kayu Akasia hanya dijadikan kayu bakar. Dengan polesan keahlian para pengrajin, Kayu Akasia kini menjadi lebih bernilai.

"Bahan kayunya dari Akasia mas. Pertama kali banyak yang heran kok Kayu Akasia dibuat ranjang, tetapi belakangan jadi biasa. Dan nyatanya terbukti, Kayu akasia lebih tahan lama dan murah harganya," kata Muhammad Asy'ari pengarajin yang lain.

Menurut pengakuan H. Bahruddin, 76 tahun, salah seorang yang lama bergelut dalam pembuatan ranjang ini, pertama kali pada zaman Belanda ranjang seperti ini dibeli dari Probolinggo. Atas inisiatif pengrajin di Sampang, lanjutnya, ranjang tersebut dikembangkan di daerah ini. Walhasil, banyak peminat dari desa di Kabupaten Sampang. Bahkan, menurutnya, peminat juga berdatangan dari luar Sampang. Misalnya, dari Kecamatan Tanah Merah, Sepuluh, Kwanyar Bangkalan dan Kecamatan Pagentenan, Pakong Pamekasan

Dijelaskannya, pembuatan ranjang pale' tidaklah rumit dan lama. Untuk menyelesaikan satu buah ranjang, hanya dibutuhkan waktu satu minggu. Pembuatannya sendiri ada yang menggunakan ukir dengan tangan juga pakai mesin. Khusus, ranjang pale' yang asli, hanya bisa diukir dengan tangan. Sementara untuk ranjang pale yang telah dimodifikasi, menggunakan mesin bubut.

Biasanya, pasaran ranjang ini membludak manakala lagi musim orang hajatan pernikahan atau selesai masa panen.

"Wah, kalau lagi musim mantenan, toko kami ini ramai sekali. Yah, kebanyakan mereka peruntukkan sebagai ban-giban untuk mempelai wanita. Harganya sendiri bervariasi, mulai dari Rp 450.000 sampai Rp 1 juta lebih. Tergantung model dan situasi pasarnya," aku Asy'ari. *

Sumber: Radar Madura, 29/02/2011

Label: , , , ,

Timba Daun Lontar

Jadi Daya Tarik Museum Pamekasan

Dalam buku daftar tamu di museum ini, tercatat telah 3.872 orang pengunjung mendatangi museum yang berada di Jl. Cokroaminoto No 1 Pamekasan itu. Jumlah pengunjung sebanyak itu termasuk para pengunjung yang berdatangan pada saat museum ini diresmikan Bupati Pamekasan Drs KH Khalilurrahman SH MSi pada 18 Maret lalu.

Selain dari empat kabupaten di Madura, para pengunjung museum ini juga berasal dari sejumlah daerah di Jatim, antara lain Banyuwangi, Surabaya, Sidoarjo, Gersik, Lamongan, dan Malang, serta daerah lain terutama daerah yang banyak terdapat etnis Madura. Pengunjung lainnya berasal dari Jawa Tengah, misalnya Solo, Semarang, Jogjakarta, Jakarta, Bandung, Bogor, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra.

Dari luar negeri tercatat pengunjung dari Singapura bernama Jiang Zhennji dan dari China bernama Ping Zling, keduanya berkunjung ke museum ini pada Sabtu, 17 April 2010. Para pengunjung yang mendatangi museum ini ada yang bersama rombongan, ada pula yang pribadi atau sendirian.

“Mereka datang berkunjung kesini dengan tujuan wisata, ada juga yang karena ada hubungan keluarga dengan warga Pamekasan, lalu jalan-jalan melihat museum ini. Mereka tertarik untuk melihat secara langsung kondisi benda bersejarah yang ada di dalamnya,” kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Budaya (Disporabud) Pamekasan Drs M Yusuf Suhartono.

Benda sejarah yang paling menarik bagi para pengunjung adalah barang khas daerah Pamekasan, antara lain keris pusaka, buku kuno, batik tulis kuno, timba air kuno yang terbuat dari daun lontar atau daun siwalan dan alat penggilas jagung kuno yang dinamakan panggilisan. “Timba dari daun siwalan dikagumi karena tidak mudah pecah,” terang Yusuf.

Khusus untuk benda sejarah jenis keris, banyak pengunjung yang sempat menanyakan keberadaan keris pusaka pribadi Ronggosukowati, Raja Islam pertama yang mendirikan Pamekasan. Namun, keris pribadi Ronggosukowati itu belum ditemukan dan masih dalam penelitian. Yang ada hanyalah keris pribadi dari keluarga atau raja atau penerus Ronggosukowati.

Begitu tertariknya terhadap benda benda sejarah yang ada di museum daerah Pamekasan ini, sebagian pengunjung bahkan ada yang berminat untuk membeli barang-barang tersebut, meski sudah jelas hal itu tidak akan diperbolehkan.

Museum yang menempati gedung tua di tengah kota Pamekasan ini berada di sekitar taman kota, Masjid Agung Asy Syuhadak, dan monumen Arek Lancor yang juga menjadi salah satu tempat wisata budaya Pamekasan. Musium Pamekasan ini termasuk musium ke 26 dari seluruh museum yang ada di Jatim. (Masdawi Dahlan)

Sumber: Surabaya Post, Kamis, 6 Mei 2010

Label: , , , ,

Bertahan sejak 'Zaman Batu'

SEJUMLAH produsen jamu tradisional di Pamekasan tertatih-tatih dalam mengembangkan produksinya. Mereka masih menggunakan cara tradisional warisan keluarganya.

Nafil Khalid, warga Jalan Segara Kota Pamekasan, melanjutkan usaha tradisional warisan neneknya. Buyutnya, Aisyah, pada 1961, memulai membuat jamu tradisional.

Pria kelahiran 8 April 1970 ini menuturkan, pada masa itu peralatan yang digunakan sangat tradisional, yakni menggunakan batu. "Semua peralatannya menggunakan batu. Rempah-rempah ditumbuk berulang-ulang dengan batu hingga halus dan menjadi serbuk," ujarnya.

Menurut dia, cara seperti itu sangat melelahkan. Tapi, karena kondisi saat itu tidak memungkinkan, peralatan dari batu jadi alternatif. "Batu itu dibentuk seperti lesung sehingga memudahkan untuk menumbuk bahan-bahan jamu," tambahnya.

Peralatan itu digunakan selama 24 tahun hingga 1985. Setelah itu berubah penggilingan. Tapi, alat-alat tradisional sebelumnya tidak dibuang atau dibiarkan. Alat-alat itu masih digunakan untuk keperluan menumbuk bahan-bahan tertentu.

Tidak jauh berbeda dengan pengakuan Khadijah. Warga Jalan Sersan Masrul Gg V itu juga masih menggunakan peralatan manual untuk meracik jamu tradisional. Sebab, ibu tiga anak itu mengaku tidak punya biaya untuk membeli peralatan yang lebih modern.

Dia menuturkan, bahan-bahan untuk jamu diperoleh dengan membeli kepada warga atau pasar. Setelah itu bahan-bahan itu diproses secara tradisional. Mula-mula dipilih dan dipilah sesuai dengan kebutuhan. Setelah dipilih, rempah-rempah itu diolah dengan disangrai sebelum ditumbuk menggunakan lesung. "Kalau langsung digiling, tidak bisa karena kurang halus," katanya.

Menurut istri Salim itu, jika dibandingkan masa lalu, proses membuat jamu sekarang lebih baik. Sebelum menjadi peracik jamu seperti sekarang, bahan-bahan ditumbuk hingga benar-benar halus dengan menggunakan batu. "Kita tetap menggunakan cara lama. Sebab, belum memiliki peralatan yang lebih modern," ujarnya.

Untuk penggiling, dia harus menyewa kepada orang lain agar memudahkan proses pembuatan jamunya. "Kalau bantuan dari pemerintah belum pernah ada kok," akunya.

Untuk mempermudah proses pembuatan jamu, Khadijah dibantu keponakannya, Fajwa dan ibunya, Salimah, hingga siap diminum. "Kadang, kalau pesanan banyak, kami minta bantuan dua orang dengan dibayar Rp 15 ribu per hari," terangnya.

Produk Unggulan Diburu

Khalid mengaku memiliki produk unggulan. Produk unggulan itu selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada masa buyutnya (1961), jamu Panas Dalam, Komanden, dan Jinten Hitam sangat dikenal.

Dijelaskan, jamu Panas Dalam dibuat dari daun bluntas, kunyit, dan daun asam Jawa. Komanden menggunakan temu ireng, kapulagalaki, jahi kering, dan buah pepaya. Sedangkan Jinten Hitam dari sambiroto. "Tiga produk itu pada masa lalu sangat laris Mas," ujarnya.

Khalid cerita, sebelum bisa meracik sendiri, dia sering membantu buyutnya membuat jamu tradisional. "Kalau 1985, jamu unggulan sudah berubah karena mengikuti perkembangan zaman," katanya.

Kala itu, produk unggulannya jamu Sehat Pria dan Sehat Wanita. "Produk-produk unggulan itu bertahan hingga 1998," ujarnya.

Tak jauh berbeda dengan pengakuan Khadijah. Perempuan paro baya itu mengaku selalu menyediakan produk-produk unggulan sehingga bisa menarik bagi pembeli. Untuk dipercaya pembeli, dia mengusahakan izin dengan Nomor: 188/SK/189/441.014/1999 sampai saat ini masih memiliki satu produk unggulan yang dikenal Jamu Tusuk Jari.

"Jamu itu memiliki khasiat untuk menyembuhkan rematik/asam urat, lemah sahwat, tahan lama, darah kotor serta fungsi-fungsi lain," terangnya.

Untuk menjual produk hasil racikan tangan itu, para peracik jamu tradisional masih menggunakan cara lama. Mereka belum merambah sistem pemasaran berbasis teknologi. Alasannya, modal yang dimiliki sangat terbatas. Bahkan, antara Khadijah dan Khalid harus bekerjasama agar produk yang mereka hasilkan bisa laris dipasaran.

Atas kerjasama itu, tak heran mereka bisa menjual produk mereka hingga ke Jakarta, Kalimantan, bahkan ke luar negeri, seperti Malaysia dan Arab Saudi. Produk mereka bisa menjual ke luar negeri lewat teman yang ada di luar negeri.

Khadijah menjelaskan, dari luar negeri atau dari luar Kota Pamekasan biasanya memesan kepada temannya. Caranya, jamunya dititipkan kepada temannya di luar kota atau luar negeri. "Kalau jamu cocok, biasanya mereka pesan lagi ke kami," ujarnya.

Untuk memudahkan pemasaran, dia kemudian sepakat dengan Khalid. Khalid ditunjuk sebagai tenaga pemasaran hingga ke luar kota. Sedangkan Khadijah hanya meracik jamu.

Menurut Khalid, pihaknya sangat terbatas dari segi modal. Padahal, modal sebagai syarat utama untuk bisa memasarkan jamu-jamu tradisionalnya. "Andai ada bantuan peralatan atau modal, mungkin kami tidak akan tertatih-tatih memasarkan jamu-jamu ini," terangnya sambil menunjuk jamu-jamunya.

Sebenarnya, mereka ingin sekali produknya bisa dipasarkan melalui internet. "Modal untuk membeli bahan-bahan itu bisa mencapai Rp 200 ribu, apalagi membeli hosting internet, jelas tidak mencukupi Mas," ujarnya kemarin (28/3). (busri thaha/mat)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 29 Maret 2010

Label: , ,

Mente Ketapang Tak Mampu Tembus Pasar Ekspor

Musim panen mente hanya satu tahun sekali, namun masa panennya bertahap. Dua bulan sebelum memasuki Idul Fitri, mente siap dipanen selama enam bulan berikutnya. Saat itu bisa diperoleh 20-24 ton mente per bulan.

Pada saat panen seperti itu hampi seluruh rumah di Kecamatan Ketapang tampak kesibukan mengupas biji mente. Dengan kacep (alat pengupas mente tradisional) ibu-ibu tampak sibuk. Setelah kulit mente pecah, dipanggang di atas talam yang dipanasi dengan serbuk kayu, untuk mengelupas lapisan dalamnya; sebelum pengepul datang untuk membelinya dengan cara borongan.

Biji mente yang utuh lebih dihargai dibanding biji yang pecah. Namun seringkali petani mente mengakalinya dengan melem kembali biji mente yang pecah dengan menggunakan tepung terigu. Setelah bersih, petani menyetor ke pengepul. Sebelum dipasarkan, mente dijemur terlebih dahulu hingga benar-benar kering, kemudian dikemas dalam ukuran 20 kg, dengan harga RP 45 ribu/kg.

Semua dilakukan dengan cara tradisional, mulai dari menanam, mengupas sampai memasarkannya.

“Sebenarnya jika menerapkan teknologi tepat guna, buah mente dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku yang bernilai ekonomis tinggi,” kata Elly Erawati SS, Tenaga Konsultan Bisnis (TKB) Kec. Ketapang, Rabu (17/3).

Selama ini setelah diambil bijinya, buah mente dibuang percuma. Hanya sebagian dikonsumsi sebagai bahan campuran rujak. Sedangkan kulit biji mente untuk bahan pembakaran kapur. Satu sak kulit biji mente ukuran 50 kg dijual dengan harga Rp 10 ribu – Rp 12 ribu.

Menurut Elly, selama ini para petani dan pengusaha mente tidak bergabung ke sentra yang besar — kebanyakan jalan sendiri-sendiri. Sehingga penjualannya hanya mampu menembus pasar lokal Surabaya, Sidoarjo dan Pontianak. Padahal potensi unggulan itu sangat menjanjikan apabila dikembangkan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Keberadaan sentra itu, kata dia, diharapkan akan berpengaruh terhadap stabilitas harga mente di pasaran. Dengan demikian, akan terjadi iklim persaingan usaha yang sehat dan wujud wirausaha yang lebih besar; sehingga mente Sampang layak ditawarkan di pasar ekspor.

Menurutnya, ada berapa faktor yang menghambat berkembangnya pemasaran mente; antara lain kelemahan di bidang manajemen dan organisasi; kurangnya perencanaan dan pengendalian kualitas produksi, desain dan kemasan. Minimnya informasi peluang dan cara memasarkan produk serta minimnya sumber permodalan dengan persyaratan yang mampu dijangkau petani.

”Melihat berbagai kelemahan tersebut, maka perlu pembinaan dan pemberdayaan berbasis usaha, untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan, serta meningkatkan peran wirausahawan dalam pengelolaan dan pemanfaatan mente secara maksimal,” ujar Elly. (ACHMAD HAIRUDDIN)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 17 Maret 2010

Label: , , ,

Sentra Kerajinan Cincin Akik di Desa Tragah

Keahlian Turun-Temurun, Kerap Terbentur Modal Usaha

Di wilayah Kabupaten Bangkalan, Desa/Kecamatan Tragah memang dikenal luas sebagai sentra perajin cincin akik. Hastakarya dari para perajinnya sudah dinikmati masyarakat luas. Bahkan mampu menembus luar Madura. Bagaimana proses pembuatannya?

Cincin akik memiliki daya tarik tersendiri. Khususnya bagi para kaum Adam. Terbukti, hingga sekarang cincin akik masih digemari. Sehingga keberadaan para perajinnya pun masih terus eksis. Salah satunya bisa ditemui di Desa/Kecamatan Tragah.

Bahkan, perajin yang mampu menghasilkan produk cincin akik dengan kualitas bagus bisa ditarik untuk diperkerjakan di Surabaya. Di Kota Pahlawan sendiri memang banyak pengepul cincin akik. Sehingga permintaan dan pemesanan cincin lebih banyak dari mereka. Bahkan para pembelinya bukan hanya dari daerah Madura dan Surabaya saja. Tapi juga ada yang dari Malang, Bali, Banjar (Kalimantan), dan daerah di nusantara lainnya.

Koran ini secara khusus menemui Sekretaris Desa Tragah Sugianto untuk mengetahui proses pembuatan cincin akik. Lebih-lebih yang bersangkutan juga merupakan salah satu perajinnya.

Tak jauh dari rumah Sugianto, bertebaran perajin cincin akik lainnya. Salah satunya Hoirul Anam. Lelaki 34 tahun ini terlihat sedang menggarap pesanan pelanggannya.

Mengaku sudah menekuni profesinya selama 22 tahun, Hoirul Anam tampak sibuk menyoder perak yang sudah berbentuk cincin. Dituturkan juga, keahliannya itu diperolehnya secara turun-temurun. "Awalnya, perak dipanaskan dengan soder untuk dibentuk persegi panjang," ujar pria yang menekuni profesinya sejak tamat sekolah dasar ini.

Setelah itu, bahan perak yang sudah dibentuk dipipihkan menggunakan palu dan digunting. Kemudian dipanaskan lagi untuk dibuat bentuk dasar cincin yang diinginkan. Selama proses pembentukan mutlak memerlukan soder. Sesekali bahan perak yang dibentuk dicelupkan ke air keras. Kemudian ditambahkan lagi bahan perak dan disoder kembali, hingga cincin siap diukir dengan kikir khusus yang bentuk dan ukurannya beragam. Ada yang pipih, setengah lingkaran, dan segitiga.

Setelah semua selesai, cincin akan diampelas agar halus. Yang terakhir, cincin harus digosok dengan benang wol yang dipotong sama panjang dengan ukuran beberapa centimeter. Sehingga hasilnya bisa lebih mengkilap.

Hoirul Anam juga mengaku memulai pekerjaannya dari pukul 07.00. Pada pukul 11.30, dia sudah hampir menyelesaikan dua buah cincin yang belum diukir. Untuk mengukirnya, membutuhkan waktu hanya sekitar 20 menit. "Hari ini saya mendapat empat pesanan," akunya sambil berujar bahwa pemesannya berasal dari Surabaya, Sampang, dan Pamekasan.

Untuk menggarap pesanan tersebut, diakui pula harus merogoh modal sendiri. Khususnya untuk membeli bahan baku perak. "Ini yang terkadang cukup menyulitkan. Sebab terkadang kami tidak mengantongi uang," ujarnya.

Untuk itu, mewakili perajin cincin akik lainnya, dia berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk memberi suntikan dana. Sehingga usahanya itu bisa lebih berkembang. "Selama ini, sudah terlalu sering para perajin mengajukan bantuan modal untuk tambahan dana. Namun masih belum berhasil," tuturnya lagi.

Mengenai kemajuan perkembangan penjualan produknya, mayoritas perajin mengaku masih belum signifikan dengan adanya Suramadu. Sebab hingga kini pesanan mayoritas hanya dari para pengepul di Surabaya. Memang ada juga pemesan baru yang umumnya mengetahui dari para pengepul atau dari mulut ke mulut. Itu karena keberadaan perajin ben-emban akik di Desa/Kecamatan Tragah memang sudah dikenal oleh masyarakat luar. (CAHYA LAILIA O.P.)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 28 Desember 2009

Label: , , , ,

Pengolahan Dodol Salak yang Terbentur Listrik

SALAH satu pengelola buah salak menjadi dodol adalah Saniyah ( 46), warga Dusun Morkolak, Desa Kramat, Kec. Bangkalan Kota. “Saya kasihan bila melihat ibu–ibu dari kampung sini, pagi–pagi membawa buah Salak ke pasar. Namun siang hari pulang kadang dagangannya tidak laku alias tidak ada yang membelinya. Dari sini saya tergerak untuk membuat dodol dari buah Salak,” ujarnya.

Dari situlah, Saniyah mencari tahu bagaimana membuat dodol dari buah salak. Singkatnya, dia akhirnya bisa mengikuti pelatihan usaha kecil menengah (UKM) di Nganjuk, pada awal 2005. Dari pelatihan itu, dia mulai menekuni usaha dengan lebih banyak mengandalkan dari buah Salak.

“Bukan Salak busuk yang kita kelola, tetapi buah yang masih segar. Jika di pasar mereka menjual Rp 20 ribu per kg, di sini saya beli lebih dari harga itu. Ibu–ibu di sini senang salaknya laku. Saya juga senang bisa mendapatkan buah Salak dengan kwalitas bagus langsung dari kebunnya,” ujarnya.

Proses pembuatan Dodol Salak, kata Saniyah tidak terlalu rumit. Namun harus selektif memilih buah Salak yang masih segar. Agar nantinya dodol yang dihasilkan tidak terasa kecut. “Setelah kulit salak dikupas, buah segar ini dicuci bersih. Lalu digodok hingga lembek hingga akhirnya menjadi dodol,” katanya.

Saniyah merasa bersyukur bisa membantu warga memberdayakan buah Salak di kampungnya yang tidak laku dijual pada musimnya. Selain itu, kreasi Saniyah dari Buah Salak berupa kurma salak, sari salak, dan nantinya jamu dan abon yang terbuat dari salak menyusul.

Dia akan menambah tenaga kerja baru di dusun Morkolak. Dari hasil penjulan berbagai olahan makanan dari buah Salak itu, Saniyah mengaku mendapat laba bersih Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan.

Namun hingga sekarang, permasalahn yang terus menjadi kendala adalah masalah listrik. Maklum, di dusun ini belum ada gardu milik PLN yang masuk. Ini menyebabkan proses pengadukan dodol kurma sering terhambat.

“Kalau malam hari sudah tidak bisa kerja lagi. Listriknya tidak kuat karena warga yang lain juga membutuhkan,” keluhnya.

Dia berharap penerangan listrik yang masuk ke kampungnya lebih maksimal. “Semoga pemkab bisa membantu keluhan warga karena listrik yang belum maksimal di dusun kami,” harapnya. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 5 Desember 2009

Label: , , ,

Bubur Sarikoyo Dari Bangkalan

Bagi warga bangkalan. Saat ini ada menu khusus yang tidak lagi didapatkan selain bulan ramadlan. Ya, namanya Bubur Sarikoyo. Meski mirip dengan nama buah yaitu srikaya, tetapi bahan utama pembuatan bubur sarikoyo tak sedikitpun berasal dari buah tersebut.

Makanan ringan ini, terbuat dari irisan pisang raja, roti tawar serta santan bercampur telur. Sarikoyo ini biasa menjadi menu pengantar berbuka puasa. Namun, karena banyaknya permintaan dari penggemar bubur Sarikoyo, saat ini bubur sarikoyo tidak lagi disantap pada menu buka puasa. Tetapi sudah menjadi santapan setiap hari warga Bangkalan.

Menu khas bangkalan yang satu ini, tidak kalah nikmat dengan menu santapan di tempat lain. Warga Bangakalan biasa menyebut makanan ringan ini dengan sebutan sarikoyo. Apalagi, proses pembuatannya sangat mudah.

Mau tahu?. Jika anda kebelet membuat menu yang satu ini. Maka. siapkan wadah sesuai selera yang diisi dengan roti tawar yang disuwir-suwir. Lalu, campurankan santan dan telur. Nah, di atas wadah tersebut kemudian diberi irisan pisang raja.

Setelah selesai, sarikoyo yang setengah jadi ini kemudian dikukus Selama 10 hingga 15 menit. Sarikoyo yang sudah dikukus selama 15 menit tersebut sudah siap dihidangkan. Sangat mudah kan.

Aminah, penjual sarikoyo mengatakan, makanan ringan sarikoyo ini dulunya memang khusus dibuat pada bulan puasa. Namun, saat ini tidak. Sarikoyo dibuat dari irisan pisang raja, roti tawar dan susu dicampur telur. Agar aroma bisa menyatu, sarikoyo ini kemudian dikukus selama kurang lebih 10 menit.

Setiap hari, warung aminah ini ramai dikunjungi pelanggan. Seperti Muawanah, warga Bangkalan yang biasa menyantap sarikoyo. Muawanah mengaku, sarikoyo terasa nikmat dan segar, irisan pisang raja bercampur roti tawar dan susu yang telah dikukus terasa sejuk di tenggorokan.

“Untuk, menikmati sarikoyo, saya tidak menunggu lagi bulan puasa. Saat ini sudah tersedia. Rasanya sama-sama nikmat,” katanya.

Dalam setiap porsinya, sarikoyo ini dijual dengan Rp 4 ribu. Dalam sehari, Aminah bisa menjual sedikitnya 50 porsi sarikoyo. Mau? Silahkan mencoba membuatnya.(Hrs)

Sumber: berita8.com, Jum'at, 06 Maret 2009

Label: , , ,

Camilan Kripik Bentul Khas Madura

Komoditas bentul atau sejenis tanaman ubi-ubian kini tak asing lagi di Madura khususnya di Kabupaten Sampang dan Pamekasan. Kripik bentul dengan Kombinasi konsumsi di kukus ini benar-benar berasa di lidah. Kerenyahannya telah dijadikan tangan pelancong jika menuju tanah Jawa.

Sri Warninda, adalah perempuan yang kesehariannya memeroduksi kripik bentul. Kripik bentul buatan warga Jalan Jokotole Pamekasan ini telah berhasil menembus pasaran kota-kota di pulau Madura. Sebagian lagi, kripik bentul racikannya telah berhasil tembus di kota besar Jawa seperti Malang, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta.

Apalagi, kripik bentul buatan Sri Warninda kebanyakan dipesan pejabat di Pamekasan. Dan, banyak pelancong untuk dikirim sebagai buah tangan bagi koleganya di luar daerah.

Sri Sabtu, menceritakan Kamis, (14/2), tahap awal sebelum mengolahnya, Sri mendatangkan bahan baku bentul dari Kecamatan Proppo, Pamekasan. Dia mengatakan, yang paling baik di buat keripik adalah bentul besar dan sudah tua.

"Setiap harinya saya membeli Rp 8 ribu per umbi. Yang mana, setiap produksinya saya membutuhkan lima pulh umbi bentul yang berbobot satu kuintal," katanya.

Dikatakan, proses pembuatannya sebelum digoreng, umbi bentul harus dipotong dari tangkalnya. Setelah itu, dikupas bersih dan dicuci.

"Setelah proses ini baru di iris-iris dengan mesin pemotong," ungkapnya.

Irisan setebal dua mili ini, sambung Sri, lalu direbus di atas air mendidih. Sebelumnya, air mendidih ini dibumbui garam dan bawang putih.

"bumbu inilah yang membuat keripik bentul yang membuat cita rasanya berbeda," jelasnya.

Setelah semuanya siap, kini umbi rebus yang sudah diiris dan dicampur dengan bumbu siap digoreng. Gorengan kripik ini lalu dikemas ke dalam plastik kemasan seperampat kiloan.

"Ah ini setiap kantong plastik kripik bentul dilepas seharga Rp 10 ribu," paparnya.

Ia menambahkan, kripik bentul buatannya ini tidak pernah memakai bahan pengawet. Dirinya hanya menggunakan garam dan bawang putih. Namun, kenapa enak? Dirinya menceritakan, bahwa keripik bentul buatannya selalu menggunakan ubi yang segar yakni baru di cabut dari tanah.

"Jadilah kripik ini bisa bersaing di luar Madura. Yakni Malang, Surabaya, Tuban, Jogja dan Jakarta," terangnya.

menurut Erfan, suami Sri mengatakan, kelebihan kripik bentul buatan istrinya terletak pada rasanya yang gurih. Yakni, tidak lembek saat digoreng. Dan, di bagian dalam bentul terdapat serat warna warni yang halus.

"Serat inilah yang membuat cita rasanya lebih gurih," pungkasnya.

Saat ini, kripik bentul menjadi salah satu camilan khas Madura.Kripik ini selalu menjadi buah tangan warga Madura yang akan bepergian ke Jawa.(Hrs)

Sumber: berita8.com, Sabtu, 14 Februari 2009

Label: , , , ,

Pembuat Tempayan Warisan Sesepuh

Hasil Jualan untuk Biaya Hidup dan Pendidikan

Semangat Sudjib, 50, warga Desa Panagen, Kecamatan Gapura menyekolahkan anaknya (Lukman, 21) patut diacungi jempol. Bermodalkan tanah liat, dia mampu menanggung biaya pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi.

Pagi sekitar pukul 08.30, tepat di samping rumahnya, Sudjib memulai pekerjaannya. Membuat tempayan unik dari tanah liat dengan berbagai jenis dan ukuran. Pekerjaan tersebut, memang tidak asing. Sebab, sebagian besar warga di daerah Gapura membuat tempayan dari tanah liat.

Membuat tempayan dari tanah liat tersebut dilakoninya sejak usianya masih muda tepatnya sekitar tahun 1970 - an. Pekerjaan itu, diakui sebagai warisan turun-temurun. Karena, menurut cerita yang didapat dari almarhum orang tuanya, nenek dan kakek Sudjib sudah membuat kerajinan dari tanah tersebut. "Katanya, sesepuh saya sudah melakukan pekerjaan seperti ini (membuat tempayan)," ungkapnya sambil menunjukkan tanah yang baru selesai dicampur air.

Keinginan melanjutkan pekerjaan tersebut karena dianggap ringan. Tempayan - tempayan tersebut dibuat dari tanah liat merah yang ada di pekarangannya sendiri. Selain jenis tanah merah, katanya, tidak bisa dibuat tempayan. Sejak menggeluti pembuatan tempayan, bapak dari satu anak itu sudah mampu membuat tempayan dengan berbagai jenis dan ukuran.

Dalam pembuatan tempayan, harus jeli dan sabar. Karena, tempayan tidak bisa dibuat hanya satu atau dua menit. Tetapi, untuk bisa menghasilkan satu tempayan dibutuhkan sekitar empat jam. Setelah itu, tempayan tersebut dijemur untuk kemudian dibakar selama beberapa jam.

Dia mengakui, tempayan yang dia buat bebas dari campuran barang lainnya. Satu contoh, katanya, dicampur dengan semen atau lim. Berkat tempayan dari tanah liat tersebut, kebutuhan hidup sehari - hari bisa dia penuhi. Hingga saat ini, Sudjib menjual tempayannya dari Rp 2500 hingga Rp 20 ribu per buah. Bahkan dari hasil penjualan tempayan itu, bisa mendukung pendidikan anaknya. "Alhamdulillah, saat ini anak saya sudah duduk di bangku kuliah," katanya bersyukur.

Dia menandaskan, akan bertahan dengan pekerjaannya. Sebab, selain untuk lahan bisnis, pekerjaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya dan tempat tinggalnya. Apalagi, selama ini tempayan yang diproduksinya banyak dipakai tersebut dimanfaatkan oleh warga sekitar sebagai wadah air, tempat masak dan alat kebutuhan hidup lainnya. (ZAITURRAHIEM/zr/rd)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 21 Mei 2009

Label: , ,

Potensi Durian di Kecamatan Pegantenan

Perlu Bangun Kawasan, Komunikasi dengan Investor

PEMKAB Pamekasan tak henti-hentinya mengembangkan potensi daerah. Selain menelorkan aneka program yang berkaitan dengan peningkatan potensi daerah, pemkab juga rajin mendata potensi daerah.

Salah satu potensi yang kini juga sedang hangat menjadi pembicaraan adalah buah durian. Di saat musim durian saat ini, durian yang berasal dari Kecamatan Pegantenan tetap menjadi pembicaraan. Sebab, durian dari Pegantenan rasanya kahas. Terutama, durian dari ladang Kasur. Ladang ini memang khusus untuk durian yang rasanya khas dan buahnya padat.

Tentu saja, kekhasan ini juga berdampak pada harga beli durian Kasur. Jika harga beli durian biasa umumnya Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu, untuk durian Kasur bisa sampai Rp 30 ribu per buah.

Potensi ini betul-betul dipahami oleh pemkab. Untuk itu, pemkab akan mengkaji semua peluang yang berkaitan dengan pengembangan buah durian. Apalagi, buah durian ini hampir merata di beberapa desa di Kecamatan Pegantenan.

"Kami juga melihat durian di Kecamatan Pegantenan ini sebuah potensi. Dengan sentuhan program diharapkan bisa menjadi komoditas unggulan dari daerah," ujar Bupati Pamekasan Kholilurrahman melalui Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Fadjar Sentosa.

Pemkab memang sedang berupaya untuk membangun kawasan khusus durian di Kecamatan Pegantenan. Selain itu, pemkab akan mengomunikasikan dengan investor.

"Jika ada investor yang berminat, tidak mustahil durian di Kecamatan Pegantenan itu bisa menjadi komoditi unggulan. Misalnya, menjadi selai durian, manisan, bahkan bisa juga dikelola menjadi wisata khusus seperti agrowisata di Malang," paparnya. (akhmadi yasid)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 09 Februari 2009

Baca juga:
Usul Durian Jadi Agrowisata

Label: , ,

Sangkar Burung dari 'Desa Hitam'


Dibalik sebutan yang terkesan negatif tersebut, Desa Jaddih ternyata menyimpan keunggulan yang patut diperhitungkan dalam bidang produksi kerajinan. Sangkar burung buah karya tangan warga desa itu mampu menembus pasar nasional.

"Produksi sangkar burung Desa Jaddih merupakan salah satu kerajinan yang menjadi andalan Bangkalan. Produksinya diakui secara nasional, baik di Jakarta maupun Bali," kata Kasi Produksi Disperindag, Drs Supandi, saat mendampingi Kepala Disperindag, Drs H Geger, MM, Senin (2/2).

Di desa ini cukup banyak pengrajin sangkar burung yang berkualitas bagus. Pemesannya dari para pecinta burung dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Bali dan Surabaya. Seperti yang dipajang di Show Room Disperindag Bangkalan, harganya ada yang mencapai Rp 1,5 juta/buah.

“Memang tingkat kesulitan pembuatan sangkar burung ini sangat tinggi. Makanya, harganya cukup mahal. Tetapi, para penggemar perkutut sudah tahu kualitas sangkar burung Desa Jaddih,” ujar Supandi.

Sebagai aset daerah Bangkalan, pada tahun 2009 disiapkan anggaran untuk sentra produksi sangkar burung Jaddih. Nantinya para pengrajin akan diberi bantuan peralatan yang pada akhirnya mampu meningkatkan produksinya.

“Pada anggaran tahun ini di Desa Jaddih dibangun sentra produksi sangkar burung. Bila ada masyarakat yang akan membeli sangkar burung, bisa datang langsung ke sentra ini. Pemkab berupaya agar pengrajian bisa mendapatkan hasil yang lebih besar. Kita akan beri pembinaan selain bantuan peralatannya,” ungkap Supandi.

Warga Desa Jaddih yang mata pencaharian utamanya sebagai petani, selama ini membuat sangkar burung sebagai sambilan. Biasanya, pekerjaan membuat sangkar burung perkutut tersebut dilakukan di siang hari setelah menggarap sawah. Proses pembuatan sangkar burung perkutut itu relatif mudah. Bahan yang diperlukan pun cukup sederhana, yakni bambu, rotan, dan papan kayu sengon atau kayu kapuk yang harganya terjangkau.

Bambu diiris kecil dan diperhalus sebagai jeruji. Rotan untuk tempat masuknya jeruji bambu itu. Papan untuk tutup bagian bawah.

”Setelah bahan-bahan dasar tersebut selasai dibuat, proses berikutnya perakitan yang harus dilakukan dengan hati-hati agar sangkar burung bisa tahan lama dan kuat,” terang Amin, salah seorang pengrajin.

Sangkar burung itu dibuat setengah jadi, kemudian dikirim ke Surabaya untuk proses finishing dengan penambahan warna dan asesoris. Satu pasang sangkar (dua sangkar) burung perkutut setengah jadi harganya berkisar Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu. Dalam sehari Amin bisa membuat satu pasang.

Dari hasil penjualan sangkar burung tersebut, Amin bisa membantu perekonomian keluarga. “Kalau hanya mengharapkan hasil menggarap sawah, tidak cukup. Akhirnya kami membuat sangkar burung berkutut. Awalnya sulit, tetapi sekarang sudah menjadi kebiasaan,” ujarnya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 4 Februari 2009

Label: , ,

Ranjang Pale' Dongkrak
Gengsi Pengantin

Ukiran kayu Jepara, memang sudah lebih dulu dikenal luas hingga luar negeri. Namun Bangkalan juga mempunyai karya serupa yang tidak kalah kelasnya, meski baru sebatas di pasar lokal dan regional. Meski begitu karya tangan ini kepopulerannya dikalangan masyarakat Bangkalan, Madura, tidak pernah luntur.

Salah satunya adalah hasil karya perajin yang cukup popular adalah Ranjang Pale'. Itu terkenal hasil perajin Desa Buduran, dan Desa Berbeluk, keduanya Kec. Arosbaya, Kab. Bangkalan. Bila konsumennya merasa tertarik dan berminat untuk membeli, harus datang sendiri ke lokasi pembuatan.

Sebab tidak dijual disembarang tempat, alias harus pesan dulu. Peminat harus datang sendiri alias memesan lewat order yang telah disepakati bersama dengan pengrajin. Baru barang yang diinginkan dikirim ke almat pemesan, tentunya setelah dilakukan pembayaran.

Kegunaan Ranjang Pale', bukan hanya sekedar berfungsi sebagai tempat tidur biasa. Keberadaannya sudah ada sejak jaman dulu dan tetap dijaga kelestariannya. Dengan tidak mengubah pernak-pernik ukiran yang telah ditetapkan sebagai sebuah warisan pakem.

“Biasanya pemesannya, orang–orang yang mau meminang seorang gadis. Kebiasaan orang Madura khususnya di desa masih membawa tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantalnya dibawa mempelai pria ke rumah mempelai wanita. Nah dengan membawa ranjang pale', akan meningkatkan gengsi kedua keluarga mempelai. Karena tidak semua orang bisa memesan ranjang ini, karena harganya mahal,” terang Azis warga Buduran.

Jadi tidak semua masyarakat mampu menggunakan Ranjang Pale sebagai barang yang digunakan untuk meminang anak gadis orang. Tergantung dari kekuatan kocek (dana) yang dimiliki dari pihak mempelai pria. Harga sebuah ranjang Pale kelas menengah bisa puluhan juta rupiah. Namun ada juga yang harganya Rp 3,5 juta. Sedangkan harga sebuah lemari berukuran jumbo dan telah di ukir dengan ciri khas Buduran, harganya bisa mencapai Rp 3 juta - Rp.4 juta.

“Orang–orang tertentu yang mempunyai uang lebih yang bisa memesan Ranjang Pale dan lemari ukiran untuk meminang gadis. Tanpa dana yang memadai, masyarakat lebih memilih ranjang dan lemari biasa yang dijual di toko mebeler,” tambah Sidik, pengrajin lainnya.

Bila ingin membuat ranjang Pale' maupun lemari pakaian, desainnya harus mengikuti kebiasaan yang dilakukan secara turun–temurun, dan itu tetap diikuti oleh para pengusungnya. Menurut cerita masyarakat setempat, home industry ranjang Pale, nama besarnya sudah dikenal bukan hanya di Bangkalan tetapi hingga ke kabupaten lainnya di Madura (Kab.Sampang, Pamekasan dan Sumenep).

Pembuatan ranjang Pale’ secara turun-temurun dijadikan gantungan hidup bagi sebagian penekunnya di kedua desa itu. Sudah legenda masyarakat di sana keunikan ranjang Pale sebagai tradisi ‘seserahan’. Tradisi seserahan adalah pelengkap mahar atau barang bawaan dari kaum pria jika hendak melakukan pernikahan dikediaman mempelai wanita.

Camat Arosbaya, Drs.Ahwan Effendi mengatakan menggunakan ranjang Pale dan lemari ukiran produksi Desa Berbeluk dan Buduran sebagai ‘seserahan’. Umumnya lebih banyak dipergunakan masyarakat kelas menengah ke atas. Karena secara tidak langsung telah menunjukan status sosial dari keluarga mempelai pria.

Bahkan tak kurang masyarakat Madura yang sukses meniti kehidupan di negeri orang (merantau di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dll), bila putra atau putrinya bertemu jodoh sesama dari Madura, biasanya datang langsung atau memesan Ranjang Pale dan lemari ukiran khas Berbeluk dan Buduran.

“Secara khusus mereka tidak ingin ingin meninggalkan jati dirinya sebagai seorang putra Madura,” ujarnya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Senin, 10 Nopember 2008

Label: , , , ,

Perajin Ukir Tangan Tetap Eksis

Perajin kayu jati ukir tradisional (tangan) di Bangkalan, jumlah cuma hitungan jari. Kebanyakan mereka membuat tempat tidur, lemari, dan perabotan rumah tangga lainnya. Mereka mampu bertahan di tengah kemajuan pembuatan mebeler yang menggunakan peralatan.

SIANG itu lima remaja berusia belasan tahun tengah melakukan pengerjaan pembuatan lemari ukiran. Masing – masing pengrajin mengerjakan sesuai bidangnya. Ada yang memahat kayu dan mengukir, ada juga yang memoles ukiran. Itu kegiatan rutin perajin yang mengandalkan keterampilan tangan di show room Durantique di Jl. Raya Bancaran, Kel.Bancaran, Bangkalan.

"Mereka sedang mengerjakan pesanan konsumen. Konsumen datang ke sini memesan apa yang diinginkan. Bisa lemari, atau kursi, tempat tidur dan lainnya," kata Chaliq, pengusaha kerajinan ukir itu.

Dikatakan, konsumen tinggal datang pesan apa kebutuhannya. Bahan baku berupa kayu jati tidak perlu khawatir karena sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasar. Itu juga terlihat di show room. Selain beberapa hasil karya perajin tampak pula tumpukan yang siap dipoles menjadi barang jadi yang bernilai ekomis tinggi.

"Memang kami hanya menyediakan bahan baku kayu jati. Sehingga harga lemari atau kursi yang kita tawarkan lebih mahal. Meman konsumen yang datang ke kami, adalah kelas menengah ke atas," ujar pengrajin lulusan SMAN 1 Bangkalan ini.

Kenapa membidik konsumen menengah ke atas, menurut Chaliq tidak ingin bersaing dengan para perajin yang sudah ada di tempat kelahirannya. Para perajin lain yang juga mengandalkan pesananan dari konsumen, sudah begitu banyak. Bahan baku kayu yang dipakai mereka beragam, mulai meranti, bengkirai dan kaju asal Kalimantan lainnya.

"Biarlah kami fokus pada kayu jati. Jadi keberadaan kami tidak menggangu rekan–rekan seprofesi lainnya. Toh kita bekerja ini, sama–sama cari makan dengan uang halal. Kalau kita bersaing terlalu ketat, sama–sama mendapatkan kesulitan. Kami cari haluan lain, dengan menggunakan bahan baku khusus jati," ujarnya.

Bahan kayu jati yang dipakai untuk pembuatan kebutuhan interior di rumah tidak ada kesulitan mendapatkannya. Dia sudah membuat jaringan dengan para pemilik pohon kayu jati di desa – desa.

“Selama ini kami mendapatkan kayu jati dari masyarakat di wilayah Galis. Kadang kita yang mencari, atau masyarakat yang menawarkan kalau punya kayu jati. Kita saling tawar – menawar, bila sepakat, kayu di kirim ke sini,” ucapnya.

Dengan bahan baku kayu jati, lanjut dia sudah barang tentu hasil karya kerajinan ukir ini harganya cukup mahal. Harganya jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan pengerjaan dan besaran bahan baku yang diperlukan. "Harganya bervariasi dari jutaan rupiah hingga puluhan juta. Tergantung bahan baku dan tingkat kesulitan ukiran yang dikerjakan teman–teman," tambah Chaliq.

Meski harga cukup mahal namun cukup banyak pesanan yang masuk. Hampir setiap bulan produksi home industri kerajinan ini bisa mencapai 100 unit guna memenuhi konsumen . "Teman – teman yang bekerja cukup banyak, tergantung pesanan. Semakin banyak pesanan, banyak teman–teman yang diperlukan untuk bekerja. Hasil yang didapat teman–teman tiap bulannya, cukup untuk kebutuhan hidup sehari–hari," tegasnya. “Ya, masih di atas UMK lah," tambahnya.

Di tengah modernisasi, dia tetap menilai prospek kerajinan ukiran kayu ini di masa mendatang masih cukup menjanjikan. Meskipun sekarang jamannya serba instan."Biarlah kita akan terus bertahan dengan menekuni profesi sebagai pengrajin ukiran kayu. Dua tahun ke depan prospeknya masih cerah. Kita juga mendapatkan pesanan dari masyarakat termasuk dari kelembagaan. Jadi tetap kami bisa menikmati pekerjaan ini," ungkapnya.

Kepala Disperindag Bangkalan Drs Geger, MM mengatakan memang tidak cukup banyak perajin kayu ukir tradisional di kabupaten Bangkalan. Namun mereka mampu menghasilkan karya yang bernilai kualitas secara estetika, bahkan berciri khas tersendiri.

Seperti kursi Inlai dari Kec. Tragah, Ranjang Pale’ dari Kec. Arosbaya. "Kursi Inlai dari Tragah, bisa menembus Bali. Hasil karyanya perorangan itu mempunyai ciri khas tersendiri," ujarnya.

Untuk membantu pengembangan jaringan pasar, pihaknya juga tidak segan-segan mendorong pelaku usaha home industri ini, untuk ikut pameran di tingkat lokal atau regional.

"Seperti PRB (Pekan Raya Bangkala) beberapa waktu lalu, mereka ikut tampil. Ini tidak lain untuk lebih mengenalkan pada konsumen," kata Geger. (KASIONO).

Sumber: Surabaya Post, Senin, 10 Nopember 2008

Baca juga:
Ranjang Pale' Dongkrak Gengsi Pengantin

Label: , ,

Jambu Air Camplong

desaBuah Andalan Jamuan Kenegaraan

Jambu air Camplong, Sampang, memang sudah dikenal. Bahkan sampai Istana Presiden di Jakarta. Jambu air itu berulang kali dipercaya menjadi hidangan kenegaraan.

SIAPA yang menduga, jambu air di Camplong bisa masuk Istana Negara. Faktanya, tanaman buah dengan nama latin Syzgium aquem itu berberapa diterbangkan kali ke Jakarta untuk dihidangkan dalam jamuan kenegaraan. Termasuk pada peringatan HUT ke-63 pada 17 Agustus nanti. Pihak Rumah Tangga Istana Kepresidenan sudah berkirim surat permintaan ke Pemkab Sampang agar mengirimkan jambu air.

Beberapa desa di Kecamatan Camplong memang menghasilkan komoditi jambu air kualitas baik. Antara lain, Desa Sejati, Dharma Camplong, Taddan, dan Tambaan.

Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sampang Ir Hary Soeyanto, desa-desa tersebut memiliki struktur tanah yang bagus. Tanahnya yang mengadung pasir membuat tanaman jambu air dapat tumbuh dengan baik dan buahnya cukup manis.

Karena itu, dia tidak heran jika pada peringatan HUT RI pada 17 Agustus nanti jambu air Camplong menjadi salah satu buah untuk hidangan jamuan kenegaraan. "Kami menerima surat permintaan yang di bawahnya ada tandatangan langsung dari kepala rumah tangga kepresidenan," ungkap Hary.

Sore kemarin (11/8) tim dari dinas pertanian akan mengambil buah jambu air itu untuk disortir dan dipilah. "Ini sesuai anjuran Bapak Bupati (Noer Tjahja, Red) agar kita memberikan buah dengan kualitas terbaik. Buah itu akan dikirim melalui tim Pemprov (Jatim) besok (13/8)," katanya.

Untuk mencari jambu air dengan kualitas terbaik, Kasubdin Penyuluhan dan Usaha Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Suyono mengatakan, buah itu diambil dari petani di sekitar Desa Sejati, Camplong. Pihaknya minta pasokan jambu air terbaik sebanyak 3.500 biji. Itu artinya, ada sekitar 35 pak jambu air (1 pak berisi 100 biji).

Untuk menyortirnya, ada satu teknik klasik yang digunakan sejumlah petani maupun pihak dinas. Sehingga jambu air itu tetap terlihat segar dan awet.

"Kita menggunakan lampiran daun pisang untuk menjaga kesegaran jambu air," kata Hary.

Ini karena, jelas dia, daun pisang menandung lapisan lilin yang bisa menjaga kesegaran buah. Selain itu, dengan menggunakan daun pisang, lebih mudah mengepak sembari mengatur sekat antar jambu air.

Kelebihan jambu air khas Camplong, kandungan airnya cukup banyak, rasanya manis, tidak berbiji, warnanya putih menggoda, dan dagingnya cukup tebal. Terutama memasuki Agustus, buah yang bisa menghilangkan rasa haus itu bisa ditemukan di sepanjang arah perjalanan Sampang-Pamekasan.

Mayoritas penduduk lima desa di Camplong memiliki lebih dari 10 batang pohon buah jambu. Tak heran saat masa panen, produksi jambu air cukup melimpah.

Sittiyah, warga Desa Dharma Camplong, mengatakan, jambu air miliknya sudah dipesan pedagang buah dari Malang dan Surabaya. Untuk pesanan itu, dia mengirim lima karung (satu karung isi 100 biji jambu air). Seminggu sebelumnya dia mengirim lebih dari delapan karung.

Berdasarkan data terbaru di dinas pertanian, populasi tanaman jambu air yang terletak di lima desa Kecamatan Camplong saat ini sebanyak 160 ribu pohon. Jika satu rumah tangga diasumsikan memiliki sedikitnya 40 pohon jambu air, bukan tidak mungkin pemasaran potensi lokal itu mencapai berbagai kota di luar Sampang. (SILVIA RATNA D)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 12 Agustus 2008

Label: , , , , , , ,

’Kampung Genteng’ di Desa Karang Penang

Mayoritas Warganya Bergelut dengan Tanah Liat

Bagi mayoritas warga Karang Penang, Sampang, tanah liat tak ubahnya emas. Dengan mengolah menjadi produk genteng, kehidupan mereka terangkat. Kok bisa?

Dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai ke lokasi perkampungan Desa/Kecamatan Karang Penang. Ini karena jarak yang ditempuh sekitar 25 km arah utara Kota Sampang. Apalagi Karang Penang merupakan area pengunungan.

Berbeda dengan wilayah lainnya di kepulauan Madura, Karang Penang memiliki struktur tanah yang cukup istimewa. Sebab sebagian besar tanahnya merupakan tanah liat yang berkualitas bagus. Terutama bila dimanfaakan sebagai bahan baku pembuatan genteng (atap rumah). Sebab tidak mudah retak bila diproses dalam tungku pembakaran.

Tak heran, sebagian besar warga di Karang Penang berorientasi pada pembuatan genteng tanah liat. Bahan baku alami yang mereka miliki dijadikan satu kekayaan alami yang tak dapat ditukar oleh apapun. Hanya berbekal keterampilan mengolah bahan baku tersebut, warga Karang Penang mampu bertahan hidup. Bahkan beberapa di antaranya tergolong hidup berkecukupan.

Seperti yang dialami H Syahri. Dengan hanya bermodalkan tanah liat yang ada di pekarangannya, ayah empat putra ini mampu memasarkan produk lokalnya hingga ke luar Jawa. Biasanya sekali antar pesanan, H Syahri mampu memenuhi permintaan hingga 10 ribu hingga 20 ribu keping genteng.

Padahal harga yang dia kenakan untuk satu keping gentengnya sebesar Rp 700,-. Bayangkan saja berapa keuntungan yang didapat bila permintaan di atas hanya dikenakan untuk satu pemesan saja. Sementara dalam satu bulannya H Syahri mengaku bisa melayani permintaan hingga 2 atau 3 pemesan.

Untuk mampu melayani permintaan pemesan itu, H Syahri mengandalkan tenaga tambahan dari para pekerjanya. Tercatat ada 10 pekerja borongan yang membantu produksi gentengnya. Mereka rata-rata bekerja dengan sistem borongan. "Satu harinya saya mengupah Rp 7.500 - Rp 10 ribu perorang," kata H Syahri.

Sitem kerjanya pun dimulai pukul tujuh pagi hingga tiga sore. Namun begitu, karena sebagian pekerjanya adalah ibu-ibu, jam kerjanya pun kadang disesuaikan dengan hari luang mereka di rumah. "Jika pagi hari mereka masih harus ke pasar, biasanya masuknya pun juga agak telat," jelas H Syahri.

Begitu pula jika sudah siang hari. "Saya biasanya ijin dulu bila merasa jam pulang sekolah anak saya telah tiba," aku Maysaroh, salah seorang pekerja yang saat itu sedang memindah kepingan genteng setengah jadi untuk disimpan di dalam tungku pemanas. Tak heran, keringat di setiap tubuh pekerja bercucuran.

Dari cerita mereka, akhirnya diketahui begaimana proses pembuatan genteng tersebut. Awalnya, tanah liat yang sudah dipilih direndam terlebih dahulu di suatu wadah khusus. Rendaman tersebut dibiarkan hingga semalaman. Ini dimaksud agar tanah liat luwes dan halus kala diproses.

Hasil rendaman tanah liat tersebut dicetak sesuai ukuran. Biasanya, satu rujung tanah liat menghasilkan empat keping genteng. Dari kepingan tanah liat yang sudah dicetak itu lantas dijemur di bawah terik matahari selama setengah hari.

Proses pembuatan genteng tidak berhenti di situ. Kepingan genteng tanah liat setengah matang tersebut nantinya masih dibakar lagi di dalam tungku pemanas. "Ini dilakukan supaya genteng menjadi lebih kuat dan kokoh," jelas Muni, pekerja yang usianya sudah 65 tahun.
Waktu yang digunakan untuk pemanasan genteng adalah 1 hari penuh. Namun karena produksi genteng yang dihasilkan terbilang banyak, maka untuk sau kali proses waktu yang dibutuhkan selama 10 hari.

Berbeda dengan produk lokal lainnya, genteng Karang Penang tak lagi dipusingkan pemasarannya. Sebab sejumlah pemilik industri genteng mengakui sudah mampu menembus areal pemasaran sampai ke luar kota. "Seperti Banyuwangi, Solo dan Probolinggo," kata H Syamsul, warga Karang Penang lainnya yang juga mengandalkan industri pembuatan genteng sebagai penopang hidup keluarganya.

Namun begitu mereka juga masih perlu mempelajari trik dan teknik pemasaran yang lain. Terbukti kini mereka tidak hanya memikirkan bagaimana cara untuk menghasilkan, tapi juga mulai memikirkan tentang teknik perbaikan kualitas. "Saya cukup senang bila ada pihak yang bersedia memberi kami tambahan pengetahuan. Utamanya tentang teknik kemajuan kualitas," harap H Nawi, pemilik industri lainnya.

Apa yang dikatakan sebagain besar warga cukup beralasan. Terlebih bila mengingat kemasan dan tampilan produk daerah lain sudah mulai bercorak warna dibanding produk lokal. "Makanya kita juga ingin bersaing," ujar mereka serentak. (SILVIA RATNA D)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 21 Mei 2008

Label: , , , ,

Buah Naga, Lestari di Kecamatan Pragaan

Jadi Tanaman Alternatif Saat Tembakau Terpuruk

Dalam lima tahun terakhir, tanaman tembakau tak sesukses di era 80-an. Sebab, harga tembakau anjlok bahkan ada yang dijual seharga Rp 5 ribu/kg. Pasca terpuruknya tembakau, sebagian petani beralih ke tanaman alternatif. Misalnya, petani desa Rombasan Kecamatan Pragaan yang kini beralih ke manaman buah naga yang konon berkhasiat ini. Mengapa?

Memasuki Desa Rombasan, bagi kita yang tidak pernah memasukinya akan keheranan. Sebab, disepanjang jalan desa kita akan menemui suasana yang berbeda dengan desa lain di Sumenep bahkan di Madura. Sebab, di sana, kini tumbuh subur tanaman buah naga. Kemunculan buah naga ini telah ada di Desa Rombasan sejak tahun 2005 lalu.

Pemdes Rombasan sudah menyarankan warganya beralih ke tanaman alternatif di luar tembakau. Bahkan, Kades Rombasan pun didaulat menjadi penggerak tanaman yang semula subur di negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) alias Cina itu.

Dragon Fruit atau populer disebut buah naga (buah dari tanaman hylocereus undatus). Species ini tergolong baru di Indonesia. Awalnya, tanaman ini tumbuh di negeri asalnya, RRT. Di RRT lazim disebut thang-loy (buah purba). Warga RRT menganggap buah ini membawa berkah dan sering muncul di acara pemujaan.

Selain di RRT, orang-orang suku Indian dan penduduk Mexico juga mengkonsumsi buah ini. Mereka menyebutnya dengan pitaya roja atau pitaya merah. Buah ini tergolong elit dan mahal terutama di Vietnam dan Thailand. Selain itu, buah naga dihasilkan tanaman sejenis kaktus. Buah ini mempunyai sulur batang yang tumbuh menjalar. Batangnya berwarna hijau dengan dengan bentuk segi tiga. Bunganya besar, berwarna putih, harum, dan mekar di malam hari. Setelah bunga layu, akan terbentuk bakal buah yang menggelantung di setiap batangnya.

Kultivar aslinya, tanaman ini berasal dari hutan teduh. Orang biasanya memperbanyak tanaman dengan cara stek atau menyemai biji. Tanaman akan tumbuh subur jika media tanam porous (tidak becek), kaya akan unsur hara, berpasir, cukup sinar matahari dan bersuhu antara 38o-40o C. Jika perawatan cukup baik, tanaman akan mulai berbuah pada umur 11- 17 bulan. (abrari)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 12 Mei 2008

kembali

Label: , , , ,