Pengolahan Dodol Salak yang Terbentur Listrik

SALAH satu pengelola buah salak menjadi dodol adalah Saniyah ( 46), warga Dusun Morkolak, Desa Kramat, Kec. Bangkalan Kota. “Saya kasihan bila melihat ibu–ibu dari kampung sini, pagi–pagi membawa buah Salak ke pasar. Namun siang hari pulang kadang dagangannya tidak laku alias tidak ada yang membelinya. Dari sini saya tergerak untuk membuat dodol dari buah Salak,” ujarnya.

Dari situlah, Saniyah mencari tahu bagaimana membuat dodol dari buah salak. Singkatnya, dia akhirnya bisa mengikuti pelatihan usaha kecil menengah (UKM) di Nganjuk, pada awal 2005. Dari pelatihan itu, dia mulai menekuni usaha dengan lebih banyak mengandalkan dari buah Salak.

“Bukan Salak busuk yang kita kelola, tetapi buah yang masih segar. Jika di pasar mereka menjual Rp 20 ribu per kg, di sini saya beli lebih dari harga itu. Ibu–ibu di sini senang salaknya laku. Saya juga senang bisa mendapatkan buah Salak dengan kwalitas bagus langsung dari kebunnya,” ujarnya.

Proses pembuatan Dodol Salak, kata Saniyah tidak terlalu rumit. Namun harus selektif memilih buah Salak yang masih segar. Agar nantinya dodol yang dihasilkan tidak terasa kecut. “Setelah kulit salak dikupas, buah segar ini dicuci bersih. Lalu digodok hingga lembek hingga akhirnya menjadi dodol,” katanya.

Saniyah merasa bersyukur bisa membantu warga memberdayakan buah Salak di kampungnya yang tidak laku dijual pada musimnya. Selain itu, kreasi Saniyah dari Buah Salak berupa kurma salak, sari salak, dan nantinya jamu dan abon yang terbuat dari salak menyusul.

Dia akan menambah tenaga kerja baru di dusun Morkolak. Dari hasil penjulan berbagai olahan makanan dari buah Salak itu, Saniyah mengaku mendapat laba bersih Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan.

Namun hingga sekarang, permasalahn yang terus menjadi kendala adalah masalah listrik. Maklum, di dusun ini belum ada gardu milik PLN yang masuk. Ini menyebabkan proses pengadukan dodol kurma sering terhambat.

“Kalau malam hari sudah tidak bisa kerja lagi. Listriknya tidak kuat karena warga yang lain juga membutuhkan,” keluhnya.

Dia berharap penerangan listrik yang masuk ke kampungnya lebih maksimal. “Semoga pemkab bisa membantu keluhan warga karena listrik yang belum maksimal di dusun kami,” harapnya. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 5 Desember 2009

Label: , , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda