Sangkar Burung dari 'Desa Hitam'


Dibalik sebutan yang terkesan negatif tersebut, Desa Jaddih ternyata menyimpan keunggulan yang patut diperhitungkan dalam bidang produksi kerajinan. Sangkar burung buah karya tangan warga desa itu mampu menembus pasar nasional.

"Produksi sangkar burung Desa Jaddih merupakan salah satu kerajinan yang menjadi andalan Bangkalan. Produksinya diakui secara nasional, baik di Jakarta maupun Bali," kata Kasi Produksi Disperindag, Drs Supandi, saat mendampingi Kepala Disperindag, Drs H Geger, MM, Senin (2/2).

Di desa ini cukup banyak pengrajin sangkar burung yang berkualitas bagus. Pemesannya dari para pecinta burung dari Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Bali dan Surabaya. Seperti yang dipajang di Show Room Disperindag Bangkalan, harganya ada yang mencapai Rp 1,5 juta/buah.

“Memang tingkat kesulitan pembuatan sangkar burung ini sangat tinggi. Makanya, harganya cukup mahal. Tetapi, para penggemar perkutut sudah tahu kualitas sangkar burung Desa Jaddih,” ujar Supandi.

Sebagai aset daerah Bangkalan, pada tahun 2009 disiapkan anggaran untuk sentra produksi sangkar burung Jaddih. Nantinya para pengrajin akan diberi bantuan peralatan yang pada akhirnya mampu meningkatkan produksinya.

“Pada anggaran tahun ini di Desa Jaddih dibangun sentra produksi sangkar burung. Bila ada masyarakat yang akan membeli sangkar burung, bisa datang langsung ke sentra ini. Pemkab berupaya agar pengrajian bisa mendapatkan hasil yang lebih besar. Kita akan beri pembinaan selain bantuan peralatannya,” ungkap Supandi.

Warga Desa Jaddih yang mata pencaharian utamanya sebagai petani, selama ini membuat sangkar burung sebagai sambilan. Biasanya, pekerjaan membuat sangkar burung perkutut tersebut dilakukan di siang hari setelah menggarap sawah. Proses pembuatan sangkar burung perkutut itu relatif mudah. Bahan yang diperlukan pun cukup sederhana, yakni bambu, rotan, dan papan kayu sengon atau kayu kapuk yang harganya terjangkau.

Bambu diiris kecil dan diperhalus sebagai jeruji. Rotan untuk tempat masuknya jeruji bambu itu. Papan untuk tutup bagian bawah.

”Setelah bahan-bahan dasar tersebut selasai dibuat, proses berikutnya perakitan yang harus dilakukan dengan hati-hati agar sangkar burung bisa tahan lama dan kuat,” terang Amin, salah seorang pengrajin.

Sangkar burung itu dibuat setengah jadi, kemudian dikirim ke Surabaya untuk proses finishing dengan penambahan warna dan asesoris. Satu pasang sangkar (dua sangkar) burung perkutut setengah jadi harganya berkisar Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu. Dalam sehari Amin bisa membuat satu pasang.

Dari hasil penjualan sangkar burung tersebut, Amin bisa membantu perekonomian keluarga. “Kalau hanya mengharapkan hasil menggarap sawah, tidak cukup. Akhirnya kami membuat sangkar burung berkutut. Awalnya sulit, tetapi sekarang sudah menjadi kebiasaan,” ujarnya. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 4 Februari 2009

Label: , ,