Menyabet Laba dari Kerajinan Pecut

Kerajinan pecut di Dusun Morgunong, Desa Paterongan, Kecamatan Galis Bangkalan, Madura. Foto: Surya/st32.

Usaha kerajinan pecut tradisional masih bergeliat di Kabupaten Bangkalan. Pemakaian bahan baku alami yang gampang diperoleh, seperti pelepah pisang atau batang daun pohon aren, membuat warga Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, tetap eksis menekuni usaha ini.

Bergelut dengan kerajinan pecut bagi warga Dusun Morgunong, Desa Paterongan, seakan sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Kapan awal mula pembuatan produk khas Madura dengan paduan warna mencolok ini, tidak ada yang tahu persis.

Salah satu warga setempat, Rafiah (22) menuturkan bahwa keluarganya sudah akrab dengan pembuatan pecut sejak ia masih kecil. “Aktivitas ini sudah dilakukan turun-temurun. Ibu pernah bilang, nenek juga pembuat pecut,” ujar ibu satu anak ini, saat ditemui di kediamannya, pekan lalu.

Menurutnya, membuat pecut bukanlah hal yang sulit, mengingat usaha kerajinan ini memanfaatkan bahan alami seperti, pelepah pisang atau batang daun aren. Tidak mengherankan jika hampir sebagian warga Dusun Morgunong, yang berjumlah 63 kepala keluarga (KK), membuat pecut.

“Keberadaan pohon pisang kan tidak mengenal musim. Cara mendapatkan juga gampang. Di belakang rumah banyak tumbuh dengan sendirinya. Proses buatnya pun gampang, dikeringkan terlebih dulu. Setelah pelepah pisang kering, diiris dan dipotong-potong sesuai panjang pecut,” jelas Rafiah.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, modal pembuatan kerajinan pecut ini pun terus meningkat. Pasalnya, selain bahan baku alami, pecut juga menggunakan benang. Padahal, harga benang terus merangkak naik. “Untuk 1 kilogram (kg) benang, khusus pecut, harganya mencapai Rp 70.000,” ujarnya.

Sehingga, untuk menghasilkan 1.000 pecut, Rafiah setidaknya membutuhkan 9 hingga 10 kg benang. Dengan asumsi, 1 kg benang mampu menghasilkan 120 buah pecut (pecut jahitan). “Jadi, modal membeli benang saja untuk 1000 pecut, kami butuh modal Rp 600.000- 700.000,” urainya.

Modal itu, diakui ibu lulusan SD ini, sangatlah tinggi. Apalagi, hasil yang diperoleh dari penjualan pecut-pecut itu tidak sebanding dengan modalnya. Untuk menyiasatinya, Rafiah bersama warga dusun lainnya, membuat dua jenis pecut yaitu pecut glunduran dan pecut jahitan. Kedua pecut ini dibedakan dari pemasangan benang pada tubuh pecut. Umumnya, benang hanya dililitkan secara melingkar di tubuh pecut atau disebut pecut glunduran.
Harga pecut glunduran ini lebih murah daripada pecut jahitan. Karena proses pembuatannya juga lebih mudah. Para tengkulak biasanya mengambil 1.000 pecut setiap bulannya, seharga Rp 1 juta. “Dari penjualan ini, keuntungan yang didapat sangat minim hanya sekitar Rp 50.000 saja,” imbuh Rafiah.

Perajin pecut lainnya, Marwah (36), yang rumahnya berada tepat di samping kanan Rafiah menuturkan, pembuatan pecut jenis jahitan merupakan siasat untuk mendongkrak harga jual pecut. “Pecut jahitan memerlukan waktu lebih lama dan benang yang lebih banyak. Sehingga, wajar jika harga sedikit mahal,” ujarnya.

Ia merinci, jika 1 kg benang bisa dibuat 200 pecut glunduran, untuk pecut jahitan hanya menghasilkan 120 pecut jahitan. “Dalam sehari, kami hanya menghasilkan 5 pecut jahitan saja. Sedangkan pecut gluduran mampu 20 buah dalam sehari,” kata Marwah.

Biasanya, para tengkulak mengambil pecut jahitan tiga kali dalam sebulan. Sekali kunjungan mereka membawa 1.000 pecut jahitan. “Kami hanya mendapatkan Rp 150.000 dalam satu bulan untuk pecut jahitan berukuran kecil. Pecut ini memang paling laku,” urainya.

Pecut jahitan ukuran kecil panjangnya sekitar 80 cm yang oleh tengkulak dihargai Rp 2.000, ukuran sedang panjangnya 1 meter Rp 7.000, dan ukuran besar sepanjang 1,5 meter Rp 15.000. “Para tengkulak tidak mengambil banyak untuk ukuran sedang dan besar karena terlalu mahal. Paling banyak mereka mengambil 200 pecut saja,” jelas Marwah.

Inovasi dalam pembuatan pecut, mulai ditangkap generasi muda warga dusun setempat. Seperti di kediaman pasutri Ahmad Ifandi (20) dan Sumiati (18). Keduanya melakukan terobosan dengan menggunakan boplpoin sebagai pegangan pecut. “Bolpoin pasti sering digunakan, apalagi dihiasi dengan pecut,” tutur Sumiati.

Dengan menggunakan bolpoin, modal yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Hanya beli satu boks bolpoin berisi 100 biji dan benang tidak sampai 1 kg, mereka dapat meraup keuntungan lebih besar daripada menggunakan pelepah pisang dan lidi. “Setiap tiga boks bolpoin, kami untung Rp 100.000,” tutur pasangan yang belum dikarunia anak itu.

Hampir seminggu sekali, para tengkulak mengambil sedikitnya 300 pecut bolpoin. “Kalau modal banyak, untungnya pasti lebih banyak juga,” pungkas Ifandi. st 32

Penghasilan Sampingan Seraya Nunggu Panen

Bagi warga Dusun Morgunong, kegiatan membuat pecut itu hanyalah sebatas mempertahankan budaya moyang. Untuk mencari keuntungan besar, pecut masih belum mampu karena harga kulak masih sangat murah.
“Sembari menunggu hasil panen dan upah sebagai buruh tani, kami membuat pecut. Lumayan untuk penghasilan. Syukur-syukur ada yang membantu dalam memasarkan,” terang Holi (48).

Upaya melestarikan budaya pecut, kini hanya tersisa di Dusun Morgunong saja. Satu pecut kecil jenis jahitan, para pedagang menjualnya Rp 5.000. Untuk pecut berukuran sedang ditawarkan Rp 15.000 dan pecut ukuran besar dijual Rp 25.000. “Yang paling laris ukuran kecil mas,” tutur Rizal, PKL Suramadu asal Desa/Kecamatan Kamal.

Namun untuk menjual pecut-pecut dagangannya, diakuinya, butuh waktu lama. Pasalnya, selain variasinya monoton, para pedangang pecut cukup banyak di kawasan Suramadu ini. “Sebulan terkadang tidak habis. Ada yang mengantarkan sendiri ke sini,” terang Rizal, yang hanya mengambil 50 pecut saja dalam sebulan.

Menurut Moh Ali (50), tokoh warga Galis, prospek menggeluti pembuatan pecut sebenarnya masih terbuka lebar. Selain karena terkendala modal, para perajin belum mampu mengembangkan atau mencari inovasi baru motif dan jenis pecut.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Unit Desa setempat itu berupaya memberikan motivasi bagi perajin untuk tidak monoton dalam membuat motif pecut. Bantuan permodalan, diakui Ali, sebagai salah satu alternatif guna memacu semangat perajin.

“Sekarang hanya mengirim ke Suramadu, makam Syechona Cholil, Pelabuhan Kamal, dan paling jauh ke Makam Bung Karno di Blitar. Selain itu, membuat pesanan souvenir mini untuk pernikahan,” tandasnya. (st32)

Sumber: Surya, Kamis, 30 Juni 2011

Label: , , , ,

1 Komentar:

Pada 5 November 2015 15.58 , Blogger Unknown mengatakan...

jika saya mau beli pecut bagaimana? saya tinggal di malaysia

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda