Bertahan sejak 'Zaman Batu'

SEJUMLAH produsen jamu tradisional di Pamekasan tertatih-tatih dalam mengembangkan produksinya. Mereka masih menggunakan cara tradisional warisan keluarganya.

Nafil Khalid, warga Jalan Segara Kota Pamekasan, melanjutkan usaha tradisional warisan neneknya. Buyutnya, Aisyah, pada 1961, memulai membuat jamu tradisional.

Pria kelahiran 8 April 1970 ini menuturkan, pada masa itu peralatan yang digunakan sangat tradisional, yakni menggunakan batu. "Semua peralatannya menggunakan batu. Rempah-rempah ditumbuk berulang-ulang dengan batu hingga halus dan menjadi serbuk," ujarnya.

Menurut dia, cara seperti itu sangat melelahkan. Tapi, karena kondisi saat itu tidak memungkinkan, peralatan dari batu jadi alternatif. "Batu itu dibentuk seperti lesung sehingga memudahkan untuk menumbuk bahan-bahan jamu," tambahnya.

Peralatan itu digunakan selama 24 tahun hingga 1985. Setelah itu berubah penggilingan. Tapi, alat-alat tradisional sebelumnya tidak dibuang atau dibiarkan. Alat-alat itu masih digunakan untuk keperluan menumbuk bahan-bahan tertentu.

Tidak jauh berbeda dengan pengakuan Khadijah. Warga Jalan Sersan Masrul Gg V itu juga masih menggunakan peralatan manual untuk meracik jamu tradisional. Sebab, ibu tiga anak itu mengaku tidak punya biaya untuk membeli peralatan yang lebih modern.

Dia menuturkan, bahan-bahan untuk jamu diperoleh dengan membeli kepada warga atau pasar. Setelah itu bahan-bahan itu diproses secara tradisional. Mula-mula dipilih dan dipilah sesuai dengan kebutuhan. Setelah dipilih, rempah-rempah itu diolah dengan disangrai sebelum ditumbuk menggunakan lesung. "Kalau langsung digiling, tidak bisa karena kurang halus," katanya.

Menurut istri Salim itu, jika dibandingkan masa lalu, proses membuat jamu sekarang lebih baik. Sebelum menjadi peracik jamu seperti sekarang, bahan-bahan ditumbuk hingga benar-benar halus dengan menggunakan batu. "Kita tetap menggunakan cara lama. Sebab, belum memiliki peralatan yang lebih modern," ujarnya.

Untuk penggiling, dia harus menyewa kepada orang lain agar memudahkan proses pembuatan jamunya. "Kalau bantuan dari pemerintah belum pernah ada kok," akunya.

Untuk mempermudah proses pembuatan jamu, Khadijah dibantu keponakannya, Fajwa dan ibunya, Salimah, hingga siap diminum. "Kadang, kalau pesanan banyak, kami minta bantuan dua orang dengan dibayar Rp 15 ribu per hari," terangnya.

Produk Unggulan Diburu

Khalid mengaku memiliki produk unggulan. Produk unggulan itu selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada masa buyutnya (1961), jamu Panas Dalam, Komanden, dan Jinten Hitam sangat dikenal.

Dijelaskan, jamu Panas Dalam dibuat dari daun bluntas, kunyit, dan daun asam Jawa. Komanden menggunakan temu ireng, kapulagalaki, jahi kering, dan buah pepaya. Sedangkan Jinten Hitam dari sambiroto. "Tiga produk itu pada masa lalu sangat laris Mas," ujarnya.

Khalid cerita, sebelum bisa meracik sendiri, dia sering membantu buyutnya membuat jamu tradisional. "Kalau 1985, jamu unggulan sudah berubah karena mengikuti perkembangan zaman," katanya.

Kala itu, produk unggulannya jamu Sehat Pria dan Sehat Wanita. "Produk-produk unggulan itu bertahan hingga 1998," ujarnya.

Tak jauh berbeda dengan pengakuan Khadijah. Perempuan paro baya itu mengaku selalu menyediakan produk-produk unggulan sehingga bisa menarik bagi pembeli. Untuk dipercaya pembeli, dia mengusahakan izin dengan Nomor: 188/SK/189/441.014/1999 sampai saat ini masih memiliki satu produk unggulan yang dikenal Jamu Tusuk Jari.

"Jamu itu memiliki khasiat untuk menyembuhkan rematik/asam urat, lemah sahwat, tahan lama, darah kotor serta fungsi-fungsi lain," terangnya.

Untuk menjual produk hasil racikan tangan itu, para peracik jamu tradisional masih menggunakan cara lama. Mereka belum merambah sistem pemasaran berbasis teknologi. Alasannya, modal yang dimiliki sangat terbatas. Bahkan, antara Khadijah dan Khalid harus bekerjasama agar produk yang mereka hasilkan bisa laris dipasaran.

Atas kerjasama itu, tak heran mereka bisa menjual produk mereka hingga ke Jakarta, Kalimantan, bahkan ke luar negeri, seperti Malaysia dan Arab Saudi. Produk mereka bisa menjual ke luar negeri lewat teman yang ada di luar negeri.

Khadijah menjelaskan, dari luar negeri atau dari luar Kota Pamekasan biasanya memesan kepada temannya. Caranya, jamunya dititipkan kepada temannya di luar kota atau luar negeri. "Kalau jamu cocok, biasanya mereka pesan lagi ke kami," ujarnya.

Untuk memudahkan pemasaran, dia kemudian sepakat dengan Khalid. Khalid ditunjuk sebagai tenaga pemasaran hingga ke luar kota. Sedangkan Khadijah hanya meracik jamu.

Menurut Khalid, pihaknya sangat terbatas dari segi modal. Padahal, modal sebagai syarat utama untuk bisa memasarkan jamu-jamu tradisionalnya. "Andai ada bantuan peralatan atau modal, mungkin kami tidak akan tertatih-tatih memasarkan jamu-jamu ini," terangnya sambil menunjuk jamu-jamunya.

Sebenarnya, mereka ingin sekali produknya bisa dipasarkan melalui internet. "Modal untuk membeli bahan-bahan itu bisa mencapai Rp 200 ribu, apalagi membeli hosting internet, jelas tidak mencukupi Mas," ujarnya kemarin (28/3). (busri thaha/mat)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 29 Maret 2010

Label: , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda