Kirim SMS, Dibacok

Jumali (31), warga Desa Pakamban Daja, Kec. Pragaan, Kab. Sumenep, mengalami luka di dada dan lengan kiri akibat dibacok senjata tajam oleh Zainal (32), warga Desa/Kec. Lukguluk, Kab. Sumenep. Pembacokan itu terjadi gara-gara Jumali mengirim SMS berisi rayuan kepada istri Zainal.

Dibakar api cemburu, pelaku langsung mendatangi korban dengan hunusan senjata tajam. Aksi pembacokan itu terjadi di depan musala tak jauh dari rumah pelaku. Kejadian itu mengagetkan warga, yang kemudian melerai pelaku dan membawa korban ke RSD Dr Moh Anwar Sumenep.

Keluarga korban tidak terima dan berniat membalas dendam. Mereka memburu pelaku, namun pelaku melarikan diri dan bersembunyi. Sebelum ada pertumpahan darah, petugas dari kepolisian mengamankan pelaku. Kapolsek Lukguluk, Sumenep, AKP Sukrisnadi, mengatakan, motif dari aksi pembacokan tersebut murni karena didasari cemburu.

Saat ini, kata dia, pelaku diamankan di Mapolsek agar tidak terjadi aksi balasan.

Untuk meredam aksi lanjutan, polisi juga melakukan penjagaan di sekitar rumah pelaku dan korban.

”Kita berharap masalah ini bisa diselesaikan secara hukum. Saat ini pelaku dalam proses pemeriksaan penyidik,” kata Sukrisnadi. (iir)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 25 Nopember 2009

Label: , , , , ,

Buah Naga, Lestari di Kecamatan Pragaan

Jadi Tanaman Alternatif Saat Tembakau Terpuruk

Dalam lima tahun terakhir, tanaman tembakau tak sesukses di era 80-an. Sebab, harga tembakau anjlok bahkan ada yang dijual seharga Rp 5 ribu/kg. Pasca terpuruknya tembakau, sebagian petani beralih ke tanaman alternatif. Misalnya, petani desa Rombasan Kecamatan Pragaan yang kini beralih ke manaman buah naga yang konon berkhasiat ini. Mengapa?

Memasuki Desa Rombasan, bagi kita yang tidak pernah memasukinya akan keheranan. Sebab, disepanjang jalan desa kita akan menemui suasana yang berbeda dengan desa lain di Sumenep bahkan di Madura. Sebab, di sana, kini tumbuh subur tanaman buah naga. Kemunculan buah naga ini telah ada di Desa Rombasan sejak tahun 2005 lalu.

Pemdes Rombasan sudah menyarankan warganya beralih ke tanaman alternatif di luar tembakau. Bahkan, Kades Rombasan pun didaulat menjadi penggerak tanaman yang semula subur di negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) alias Cina itu.

Dragon Fruit atau populer disebut buah naga (buah dari tanaman hylocereus undatus). Species ini tergolong baru di Indonesia. Awalnya, tanaman ini tumbuh di negeri asalnya, RRT. Di RRT lazim disebut thang-loy (buah purba). Warga RRT menganggap buah ini membawa berkah dan sering muncul di acara pemujaan.

Selain di RRT, orang-orang suku Indian dan penduduk Mexico juga mengkonsumsi buah ini. Mereka menyebutnya dengan pitaya roja atau pitaya merah. Buah ini tergolong elit dan mahal terutama di Vietnam dan Thailand. Selain itu, buah naga dihasilkan tanaman sejenis kaktus. Buah ini mempunyai sulur batang yang tumbuh menjalar. Batangnya berwarna hijau dengan dengan bentuk segi tiga. Bunganya besar, berwarna putih, harum, dan mekar di malam hari. Setelah bunga layu, akan terbentuk bakal buah yang menggelantung di setiap batangnya.

Kultivar aslinya, tanaman ini berasal dari hutan teduh. Orang biasanya memperbanyak tanaman dengan cara stek atau menyemai biji. Tanaman akan tumbuh subur jika media tanam porous (tidak becek), kaya akan unsur hara, berpasir, cukup sinar matahari dan bersuhu antara 38o-40o C. Jika perawatan cukup baik, tanaman akan mulai berbuah pada umur 11- 17 bulan. (abrari)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 12 Mei 2008

kembali

Label: , , , ,

Pondok Pesantren Al Muqrie di Desa Prenduan

Ingin Ayomi Anak Kurang Mampu, Dirikan Sekolah Umum

Berangkat dari keinginan mengayomi kepentingan anak-anak kurang mampu (secara ekonomi) yang berada di kawasannya, Ponpes Al Muqri membuka lembaga pendidikan formal. Yakni, madrasah ibtidaiyah (MI). Itu terjadi pada tahun 1991 lalu. Kala itu, tujuan awal dari pendirian MI adalah agar anak-anak ekonomi sulit tersebut bisa menuntaskan pendidikan setingkat sekolah dasar (SD).

Pondok Pesaantren Al Muqrie berada di Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Sejarahnya, ponpes ini berdiri sejak tahun 1916. Al Muqrie diretas oleh (alm) KH Ahmad Muqri, dan sejak 1992 diasuh oleh cucunya sendiri, KH Abdullah Hammam Ali. Sebelumnya, pada era 1908-1992, kendali Al Muqrie berada di tangan (alm) KH Moh. Ali Bakri (putra menantu KH Ahmad Muqri).

Pada 1991, Al Muqri membuka jalur pendidikan formal. Kala itu, lembaga pendidikan formal yang kali pertama adalah MI Islamiyyah Al Muqrie. Kemudian, AL Muqrie mengepakkan sayap dalam pembentukan lembaga pendidikan formal. Tak heran saat ini lembaga pendidikan formal di Al Muqrie mulai dari RA (TK) hingga SMA.

KH Abdullah Hammam Ali menjelaskan, pendirian lembaga pendidikan formal diawali semangat untuk membantu anak-anak kurang mampu. Itu, agar mereka tetap mengenyam pendidikan setingkat SD. Sehingga, kala itu (1991), orang tuanya (KH Moh. Ali Bakri) memutuskan membuka MI. "Kita mencoba mengayomi anak kurang mampu di sekitar lingkungan Al Muqrie," katanya.

Al Muqrie didirikan dengan konsep pondok pesantren (ponpes) yang salaf. Sehingga, aktifitas mutlak para santri tetap belajar kitab-kitab kuning. "Membuka lembaga pendidikan formal yang memasukkan unsur non syar’ie (ilmu umum, Red) bukan berarti kita akan meninggalkan salaf," katanya lugas.

Buktinya, warna salaf tetap mengiringi perjalanan lembaga pendidikan formal yang didirikannya. Sehingga, setiap jenjang pendidikan formal wajib memasukkan pelajaran-pelajaran yang bermuatan salaf. Meliputi fan fiqh; tauhid; dan akhlaq dengan referensi kitab-kitab klasik. Antara lain: sullam al-taufiq; safinah an-naja; ta’lim al-muta’allim; dan taqrib.

Kitab-kitab kuning lainnya, lanjut Kiai Hammam -sapannya, juga menjadi santapan sehari-hari bagi santrinya (yang bermukim di Ponpes Al Muqrie). Termasuk siswa-siswa lembaga pendidikan formalnya di luar jam efektif formal. "Kita akan tetap menerapkan metode salaf sebagai dasar pengelolaan Al Muqrie. Ini tidak akan dirubah," katanya lugas. (SLAMET HIDAYAT)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 01 Jan 2008

Label: , , , ,