Delegasi APEC 2013 di Surabaya Disuguhi Karapan Sapi

Add caption

Delegasi peserta Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 yang sedang melaksanakan persidangan di Kota Surabaya, oleh dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, bakal disuguhi atraksi Karapan Sapi.

Hal itu disampaikan Wiwiek Widawati kepala Disbudpar Surabaya, Kamis (11/4/2013) saat ditemui suarasurabaya.net di ruang kerjanya menyoal agenda kegiatan untuk memeriahkan APEC 2013.

“Kami memang akan mempertontonkan Karapan Sapi bagi segenap delegasi peserta APEC 2013 di Surabaya, seagai satu diantara rangkaian kegiatan memperkenalkan seni dan budaya serta tradisi daerah,” terang Wiwiek.

Penampilan tradisi khas warga masyarakat Madura tersebut dijadwalkan akan digelar pada Sabtu (13/4/2013) mendatang di Pantai Ria Kenjeran Surabaya, mulai sekitar pukul 15.00 WIB.

Keberadaan Karapan Sapi, lanjut Wiwiek memang sudah cukup dikenal oleh masyarakat nasional maupun internasional. Turis manca negara kerap disuguhi atraksi khas Madura tersebut. Hal ini juga terkait dengan rutinitas digelarnya pertandingan Karapan Sapi di Madura.

Oleh karena itu, sebagai satu diantara upaya untuk tetap melestarikan seni tradisi dan budaya khas daerah, maka dijadwalkan para delegasi peserta APEC 2013 yang datang dari sekurangnya 21 negara tersebut, diajak menyaksikan Karapan Sapi.

“Kesempatan ini juga kami manfaatkan untuk terus berupaya memperkenalkan berbagai kesenian, budaya, sera tradisi yang ada, agar lebih dikenal masyarakat internasional. Dengan demikian, kami tetap butuh dukungan banyak pihak sekaligus juga dukungan masyarakat luas,” pungkas Wiwiek Widawati saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Kamis (11/4/2013).(tok/edy)

Sumber: suarasurabaya.net

Label: ,

Acara Karapan Sapi Disbudparta Surabaya di Kenjeran Sia-sia

Add caption

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) Kota Surabaya, kemarin menggelar acara pacuan sapi atau yang lebih dikenal dengan Karapan Sapi, di Pantai Ria Kenjeran lama. Acara yang rutin digelar dua kali dalam setahun ini, sudah memasuki tahun yang ke empat. Lewat acara karapan sapi ini, Disbudparta Kota Surabaya bertujuan untuk mengoptimalkan Pantai Ria Kenjeran sebagai salah satu destinasi wisata di Surabaya.

Hal ini di ungkapkan Kepala Disbudparta Surabaya Wiwiek Widayati kemarin. Dirinya mengharapkan, agar Pantai Ria Kenjeran Lama bisa menjadi tujuan wisatawan selain monument Kapal Selam (Monkasel), Museum Tugu Pahlawan, Kebun Binatang Surabaya.

“Saya mengharapkan lewat acara atau event semacam ini, kita bisa mengoptimalkan dan meningkatkan destinasi wisatawan ketempat-tempat wisata di Surabaya, khususnya pantai ria kenjeran,” harap dia.

Sayangnya, acara yang rencananya dikemas sebagai promosi bagi wisatawan asing sepi penonton. Padahal pelaksanaannya bertepatan dengan singgahnya kapal pesiar MV Rotterdam, milik perusahaan Holland America Lines, yang membawa 1.500 turis. Rencananya ribuan turis tersebut bisa menyaksikan karapan sapi, tetapi tidak jadi datang, karena alasan keterbatasan waktu sandar kapal pesiar.

Sementara itu, Sekretaris Disbudparta Surabaya Achmad Agung Nurawan , yang juga menjadi ketua pelaksana acara tersebut memaparkan, selain menjaga kelestarian budaya pulau garam, acara ini juga merupaka sosialisasi, terkait larangan menyakiti sapi yang di pakai karapan.

“Selama ini kan kalau karapan sapi, sapinya di cambuk, di tusuk duri, disakiti, sekarang sudah tidak boleh menyakiti atau menggunakan kekerasan kepada sapi saat karapan,” papar dia. (wan

Sumber: Koran Madura

Label: ,

Sampang Dominasi Pameran Seni Rupa Religius

Memasuki bulan puasa atau Ramadan 2008, Taman Budaya Jatim (TBJ) menggelar berbagai acara yang bernuansa religius. Salah satunya “Pameran Seni Rupa Religius” yang digelar mulai Jumat (22/8) hingga 10 September, di Ruang Sawunggaling TBJ. Pameran ini menghadirkan sebanyak sembilan pelukis Jatim dan terbanyak dari Sampang, Madura.

Karya yang dihadirkan, kata Kurator Pameran, Agus Koecing yang ditemui Kamis (20/8), terbanyak tentunya juga dari Sampang. Mereka itu, C Alfan, M Satuman Ashari dan Junaidi. Sementara Alfie Fauzie dari Mojokerto, Istoyo dan Sifin Ghani (Surabaya), dan Fauzi (Bojonegoro). Mereka ini menampilkan antara empat hingga lima lukisan. Diusakan menyajikan karya terbaru dan merespon tema yang berkaitan dengan Ramadan.

Dari karya yang dihadirkan, sebagian memang merespon tema secara hitam – putih. Artinya, lukisan yang menghadirkan tiga orang sedang bersembahyang dengan posisi “membelakangi lensa”. Di bagian depannya tampak tiga pasang sandal dengan model yang berbeda.

Karya lain ada yang senada namun terkesan ada pesan atau kritik sosial. Karya ini menghadirkan begitu banyak berjejal bangunan beton dan menjulang tinggi hingga menghimpit bagunnan masjid. Dalam karya itu, kubah dan menara masjid tampak kecil dan rendah.

Sementara tiga orang yang sedang sembahyang, digambarkan mencuat tinggi di atas bangunan gedung dan seperti dalam tabung, digambarkan dengan warna indah serta terang. Sepertinya, keindahan atau orang yang suci, di manapun tempat dan dalam situasi yang terjepitpun, tetap saja bersinar terang.

Sifin, kali ini menyajikan karya yang salah satunya Di Bawah Sajadah dan menampilkan seorang nenek dengan berdoa. Pelukis Satuman menghadirkan karya yang ukurannya cukup tinggi, yaitu 275 Cm. Di antara karyanya itu berjudul Doa dan Cinta dalam Cinta.

Karya peserta lain yang tidak terkesan hitam-putih, ada yang meadukan antara batu, buah (mirip dengan kacang tanah) dan tulisan Arab. Kemudian ada yang memasukan unsur religi dengan teknik batik khas Madura. Dan masih banyak lagi karya yang hadir sesuai dengan aliran pelukisnya.(gim)

Sumber: Surabaya Post, Kamis 22/08/2008

Label: , , , ,