Batik Madura Sampai ke AS

Disayangkan, batik murni genre Madura mulai langka, terkontaminasi corak daerah lain

Elisia
Nama batik Madura memang belum terkenal seperti batik dari Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Namun, peluang untuk lebih diminati oleh masyarakat internasional sangat besar terjadi mengingat batik Madura mempunyai banyak keunggulan dalam pemilihan warna dan motif serta bahannya. Terbukti, kini batik asal Pulau Garam ini menerobos pasar Amerika Serikat (AS).

“Namun, sayangnya kini yang terjadi, batik Madura sudah mulai terkontaminasi dengan batik dari daerah-daerah lain. Sehingga, sulit dicari batik genre Madura,” ujar Elisia, dari International Design School Amerika saat dirinya melakukan kunjungan ke kios batik di pasar tradisional 17 kecamatan Kota Pamekasan, Jumat (17/2).

Elisia mengaku sangat prihatin dengan keberadaan batik Madura pada saat ini. Menurutnya, sekarang banyak batik yang di jual di kios kaki lima, alias tidak murni khas dari Madura. “Banyak ditemukan campuran khas batik luar daerah, seperti campuran batik khas Solo, Yogyakarta, Bali dan Mataram,” katanya, belum lama ini.

Elisia menilai, batik Madura memang mempunyai banyak peluang besar diminati oleh masyarakat luar, meski saat ini keunggulan batik Madura masih di bawah 50 persen dibandingkan batik dari derah-daerah luar Madura, seperti Pekalongan, Yogyakarta, Bali, dan Mataram yang sudah 80 persen mempunyai keunggulan secara kualitas maupun kuantitasnya.

Daya tarik batik Madura, kata Elisia, salah satunya terletak pada warna, motif, dan guratan batik. Oleh karenanya, dia berharap agar seluruh pembatik jangan sampai melupakan atau menanggalkan ciri khas batik madura sesungguhnya dan disesuaikan dengan corak kebudayaan asli Madura.

Lirik Muda-mudi

Sementara itu, pengusaha batik Madura mulai membidik muda-mudi. Salah satunya dilakukan oleh Khalifah Batik yang berpusat di Terate Pandian kota Sumenep.

"Dalam perkembangannya, batik saat ini sudah mulai digemari muda-mudi. Jadi, tidak hanya seragam sekolah maupun kantoran, melainkan menjadi trend tersendiri dikalangan kaula muda," kata Ny. Hj. Dewi Khalifah kepada Surabaya Post, Sabtu (18/2).

Menurut dia, kerajinan batik harus mengikuti perkembangan pasar, baik itu warna maupun motif yang saat ini digemari. "Kalau tahun 2012 ini, warna orange, hijau pupus, dan pink sangat disukai para kawula muda," terangnya.

Ke depan, kata dia, juga diperlukan kemampuan memodifikasi warna alam, sehingga tercipta warna batik yang luar biasa. "Nah! kemampuan memadukan warna serta kemampuan melihat peluang pasar inilah yang dibutuhkan para pengrajin batik Madura. Saya, sudah memulai hal itu," ungkapnya.

Dewi Khalifah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Aqidah Usmini ini akan membentuk kampung batik. Para tenaganya, sudah menjalani pelatihan. "Sudah ada 15 kelompok yang tersebar di 15 kecamatan yang sudah ikut pelatihan dan siap mengembangkan batik Sumenep. Rencanya, peluncuran kampung batik itu, bulan Maret mendatang," pungkasnya.

Namun, kata Dewi, ada lagi keunikan batik Madura. Karena memiliki keistimewaan, batik tulis Madura plus aromaterapi memiliki harga lebih mahal dibandingkan dengan batik Madura lain. Sebagai contoh, untuk Batik Madura biasa ada yang harganya Rp 250 ribu per potong, maka untuk yang beraromaterapi harga bisa mencapai Rp 300 ribu per potong. Harga paling mahal bias mencapai 4 juta perpotong. Saat mendekati lebaran, batik tulis aromaterapi tersebut sangat diminati.

”Keunggulannya kalau yang beraroma terapi ini akan membuat rileks bagi yang memakai atau pun orang yang di sekitarnya,”

Hal tersebut akhirnya membuat para pejabat banyak yang suka. Belum lagi sifat dari aroma terapi ini juga bisa menyerap keringat. Artinya jika ada orang yang punya keringat banyak, aroma terapi bisa meredam bau keringat. Ada beberapa pilihan aromaterapi yakni dari melati keraton, cempaka, eksotik, mawar, coklat dan strawberry. Coklat dan strawberry ini sangat cocok dipakai untuk anak-anak.

Untuk membuat aromaterapi ini, cukup mudah. Setelah dicuci, batik direbus. Rebusan air sebelumnya diberi aromaterapi, dan batik direbus dengan posisi terbalik. Waktunya sekira lima menit saja. (md2,okz)

Terkait:

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 18/02/2012

Label: , , ,

'Ngejreng' yang Memikat dari Madura

foto Raditya Helabumi
Aktivitas jual beli batik di Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Madura, yang buka tiap hari Kamis dan Minggu, Kamis (25/3). Perajin batik tulis di Pamekasan masih mengandalan pasar tradisional untuk memasarkan batik.

Madura selalu identik dengan garam atau karapan sapi. Padahal, kepulauan berpenduduk 3,6 juta jiwa itu juga memiliki kekayaan yang diwariskan turun-temurun berupa keterampilan membatik yang menghasilkan karya seni bercita rasa tinggi.

Oleh Nasru Alam Aziz

Batik Madura memang memiliki daya pikat tersendiri, antara lain pada pewarnaannya yang tajam atau lebih dikenal dengan istilah ngejreng. Dalam selembar kain, misalnya, bisa muncul warna yang kontras, yang tidak mungkin ditemukan pada kain batik pedalaman ataupun pesisiran di Jawa. "Batik Madura sangat ekspresif ketimbang batik Jawa pada umumnya. Teknik coletan lebih banyak digunakan di Madura. Itu ekspresif. Kalau tampak kasar atau tidak rapi mencoletnya, itulah karakter batik Madura. Jangan dibilang batik murahan," kata Ketua Komunitas Batik Surabaya Lintu Tulistyantoro.

Selembar kain batik Madura, lanjutnya, bisa menggambarkan kebebasan masyarakat dalam berekspresi. Ciri pesisiran pada batik Madura tampak pada motif yang lebih memunculkan unsur laut, seperti sisik ikan, kerang, atau sulur rumput laut.

Dari segi teknik pembuatan, lanjut Lintu, salah satu yang khas adalah batik gentongan. Jenis ini hanya ditemukan di Tanjung Bumi, Bangkalan.Keistimewaannya, semakin lama warnanya makin cerah. Batik jenis ini adalah yang termahal di Madura. Di tingkat perajin, harganya jutaan rupiah per lembar. Motif klasik, seperti carcena, sisik malaya, sisik amparan, atau sekoh, memang tak pernah sirna. Meski demikian, perajin batik rumahan yang tersebar di desa juga rajin mengikuti selera pasar. Mereka menciptakan batik kontemporer dengan motif yang disebut Inul, Manohara, Suramadu, bahkan SBY.

Motif Inul meliuk-liuk, mengingatkan orang pada gerakan goyang ngebor penyanyi Inul Daratista. Motif Manohara meniru motif busana yang sering dikenakan artis Manohara Odelia Pinot.

Motif yang relatif baru adalah Suramadu yang didominasi sulur-sulur mirip tali-tali bentangan Jembatan Suramadu (yang menghubungkan Surabaya dengan Madura). Selain itu, ada juga motif SBY, yang merupakan duplikasi dari motif batik yang dikenakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan Jembatan Suramadu.

Tak dapat dimungkiri, batik Madura menemukan momentumnya ketika Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa diresmikan pada Juni 2009 dan kemudian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

"Setelah Jembatan Suramadu diresmikan, omzet saya naik lebih dari 100 persen," cerita Muafi, pemilik usaha Ideal Batik Madura di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Sentra batik tersebar di pesisir pulau seluas 5.304 kilometer persegi itu, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Setiap hari ada ribuan lembar kain batik dengan berbagai corak yang dihasilkan di sana.

Desa Klampar merupakan produsen batik terbesar di Pamekasan. Dari dua dusun, Banyumas dan Batubaja, terdapat tidak kurang dari 600 perajin batik rumahan, termasuk sekitar 80 pengusaha batik yang mempekerjakan rata-rata 12 orang.Dari dua dusun itu, setiap pekan lebih dari 5.000 lembar kain batik Madura menyebar hingga Surabaya dan kota lainnya.

foto Raditya Helabumi
Aktivitas jual beli batik di Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Madura, yang buka tiap hari Kamis dan Minggu, Kamis (25/3). Perajin batik tulis di Pamekasan masih mengandalan pasar tradisional untuk memasarkan batik.

Sentra batik lainnya yang terkenal adalah Pekandangan dan Pragaan di Kabupaten Sumenep serta Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan. Jika ingin membeli batik Madura di pasar, salah satu yang bisa dikunjungi adalah Pasar Tujuh Belas Agustus di Pamekasan. Pada hari pasar, Kamis dan Minggu, salah satu blok yang berisi lebih dari 100 lapak penuh dijejali pedagang batik. Pedagang menggelar kain batik di atas selembar tikar atau disampirkan pada seutas tali rafia yang diikatkan pada pilar-pilar pasar berkonstruksi kayu. Blok pasar batik bersebelahan dengan blok pedagang beras dan rempah-rempah yang senyap dan pasar hewan yang hiruk-pikuk.

Sepanjang pukul 07.00 hingga pukul 11.00, pasar batik tradisional ini menjadi lahan perburuan pembeli dengan partai besar, baik dari Jawa maupun daerah lain di Madura.

Harga kain batik di pasar itu relatif murah karena sebagian penjualnya adalah perajin. H Hasbullah, perajin batik tulis asal Desa Klampar, mencontohkan, selembar kain batik tulis yang ia jual Rp 55.000 di Pamekasan, setelah sampai di Surabaya, dipasarkan dengan harga Rp 125.000. Cukup fantastis perbedaan harganya. Namun berapa pun harganya, batik Madura tetap menarik dengan warna yang 'ngejreng'.

Sumber: Kompas, Kamis, 3 Juni 2010

Label: ,

Perajin Batik Pamekasan Produksi Batik Tiga Motif

foto : nen/zonaberita.com
Salah seorang konsumen mencoba batik di Butik Mutiara

Memasuki awal Tahun 2011, perajin batik di Butik Mutiara milik Ilzamuddin, yang berlokasi di Sentra Batik tepatnya di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura, memproduksi batik dengan tiga kombinasi motif, yaitu abstrak, lawasan dan motif gunungan.

Motif batik abstrak, cenderung berbentuk garis-garis seperti serat kayu, dengan motif standar serta warna sejuk tidak terlalu mencolok.

Untuk batik lawasan berbentuk batik kuno seperti motif standar cenderung buram (seperti batik soft) dengan warna sejuk tidak mencolok.

“Batik lawasan itu, Meskipun warna berani, seperti merah menyala, akan tetapi masih terlihat sejuk,” kata Ilzamuddin pada zonaberita.com, Senin (3/1/2011).

Untuk batik motif Gunungan, berupa batik yang tidak terlalu penuh dengan motif. Motif yang dimaksud adalah motif berbagai corak yang dituangkan dalam satu kreasi saat membatik.

“Batik Gunungan yaitu dengan bentuk di atas penuh dengan motif, sedangkan di bawah jarang-jarang, “kata Ilzamuddin lagi.

Ketiga kombinasi ini, nantinya dipadukan dan menghasilkan batik tulis dengan motif serta warna yang tidak terlalu mencolok dan terkesan anggun.

Harganya pun relatif murah, yaitu berkisar antara Rp 200.000,- sampai Rp 250.000,- per potong dengan menggunakan kain katun sepanjang 2,30 meter. Sementara batik bebahan kain sutra, berkisar antara Rp 400.000,- hingga Rp.600.000,-.

Eva penggemar batik asal Kabupaten Jember mengaku suka dengan batik tulis Pamekasan. Menurutnya batik tulis pamekasan beda dengan batik-batik lainnya seperti di Kabupaten Sumenep maupun di luar Pulau Madura. “Batik Pamekasan sangat beda, coraknya unik dan warnanya pun keren mbak, “ujar Eva pada zonaberita.com seraya mencoba batik di Butik Mutiara milik Ilzamuddin. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Senin, 3 Januari 2011

Label: , , ,

Batik Pamekasan dari Madura Menembus Dunia

Batik Madura warnanya mencolok dan motifnya berani

Batik Pamekasan, Madura (Tudji Martudji/VIVAnews)

Garam kini bukan satu-satunya produk unggulan Pulau Madura. Karapan sapi juga bukan satu-satunya budaya khas pulau ini. Madura kini juga sohor sebagai pusat batik tradisional.

Tepatnya di Kabupaten Pamekasan. Kabupaten ini terdiri atas 13 kecamatan, yang dibagi lagi atas 178 desa dan 11 kelurahan. Sebagian besar warga di wilayah ini adalah perajin batik.

Batik Madura memiliki ciri khas tersendiri. Warnanya mencolok dan motifnya terhitung berani. Membatik sudah dilakoni masyarakat Pamekasan jauh sebelum republik ini berdiri.

Semula membatik hanya dilakukan di sela kesibukan sehari-hari warga sebagai buruh dan petani sehingga tidak ada target. "Kalau ada pesanan dalam jumlah banyak, kita baru mengajak banyak orang. Termasuk mencari pinjaman uang untuk modal," kata Soni (43) salah seorang pembatik asal Desa Larangan, Badung, Pamekasan, saat menceritakan kisah suksesnya.

Namun berbekal niat meneruskan warisan nenek moyang, kini semua itu berubah. Pola pekerjaan sampingan pun beralih menjadi pekerjaan utama yang dipadu dengan keahlian yang dimiliki. Sejumlah perajin mengaku mendapatkan penghasilan lebih tinggi dari produksi batik yang dikerjakannya. Kini batik Pamekasan tak hanya diminati di dalam negeri, wisatawan mancanegara pun mulai mengoleksinya.

Soni mengatakan batik asal daerahnya dikenal orang dari berbagai cara. Di antaranya, turis asing yang berkesempatan datang ke Madura. Atau sejumlah pedagang yang dengan jaringan sesama pedagang yang kemudian mengenalkan produk lokal khas Madura itu ke luar negeri. Selebihnya, keberadaan batik Pamekasan menyebar lewat cerita, dari mulut ke mulut hingga ke manca negara.

Pangsa pasar yang mulai terbuka dimanfaatkan betul oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, Pemkab mengucurkan bantuan modal kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kucuran dana ini diharapkan mengangkat potensi lokal kerajinan batik. Pemkab juga membentuk kelompok-kelompok sentra perajin. "Sehingga Pemkab bisa menyalurkan bantuan lewat kredit lunak," kata Bupati Pamekasan, Kholilurrahman.

Kini, sejumlah desa mulai bersolek, mendapat predikat sentra kerajinan batik. Tentu saja tidak hanya nama desanya yang dikenal. Rupiah pun terus mengalir ke desa-desa yang dulu sepi dan termasuk ketegori desa tertinggal di Proinsi Jatim. Bahkan, dari kegiatan membatik yang dilakukan berkesinambungan itu mampu membantu pemerintah menampung tenaga kerja lokal yang dulu tidak terserap pasar kerja.

Saat ini yang tampak, tiada hari tanpa membatik. Sedikitnya, ada enam titik sentra batik di kabupaten tersebut, yakni Kecamatan Pamekasan sebanyak 5 sentra batik tulis, Kecamatan Proppo sebanyak 12 sentra batik, Kecamatan Palengaan terdapat 6 sentra, Kecamatan Waru ada satu sentra, Kecamatan Pegantenan dua sentra dan di Kecamatan Tlanakan sebanyak satu sentra batik. Sentra batik itu kini memasok kebutuhan lokal khususnya, Surabaya dan Jakarta yang mencapai puluhan ribu.

Angka ini masuk akal, sebab Soni mengaku tiap bulan memasok 1.500 lembar kain batik. Belum lagi perajin lainnya. Untuk memenuhi banyaknya pesanan, dan agar tepat waktu, tidak jarang ia meminta dicarikan tambahan tenaga. Pekerjaan lembur pun kerap dilakukan bersama istri dan para pekerjanya. Ketekunan dan pola-pola kreatif membuat usahanya terus meroket. Mereka yang datang atau pemesan tidak hanya minta motif lokal, sederet pola hasil kreasi pelanggan juga banyak dipesan.

“Modalnya tekun, serta kreativitas yang tidak boleh berhenti untuk menciptakan motif batik yang berbeda dan diminati," kata Soni. Dengan terus mengembangkan kreativitas model batik yang berbeda, Soni dan sejumlah orang kepercayaannya tidak segan melakukan diskusi sambil mengutak-atik pola batik di sebuah kertas hingga larut malam.

Hasilnya, selain batik lokal yang terus dipertahankan keberadaannya. Sejumlah pola batik beraliran ekspresionis juga banyak dihasilkan. Dia mengatakan, selain batik lokal corak Madura, ia tidak bisa menampik kebutuhan dan minat konsumen yang punya keinginan bervariasi. "Selain pola lokal, kita juga harus bisa memberikan keinginan konsumen lainnya. Misalnya, pola ekspresionis yang mulai banyak disukai,” kata pemilik stan batik di Jalan Pasar, Pamekasan ini.

Selain melayani pesanan partai besar, Soni masih mempertahankan kios miliknya di pasar tradisional. "Itu untuk memenuhi kebutuhan lokal. Mereka yang sempat berbelanja di pasar itu, baik pelancong lokal atau mancanegara," katanya.(ywn)Laporan: Tudji Martudji|Surabaya

Sumber: VIVAnews, Senin, 11 Oktober 2010

Label: ,

Inovasi Perajin dari Desa Klampar

Perpaduan Batik Tulis dan Cap,
Antisipasi Pencaplokan Negara Lain


Ancaman tekstil impor menambah kreativitas perajin batik di Pamekasan. Kini muncul kreasi baru, yakni batik tulis tiga dimensi (3D) dengan airbrush. Seperti apa?

JIKA sebelumnya kita hanya mengenal batik tulis dan batik cap, inovasi batik 3D airbrush merupakan perpaduan dua jenis batik tersebut. Perajin tidak menghilangkan nuansa lokal dan batik tulisnya tetap dipertahankan. Itu untuk mempertahan dan menghindari pengakuan negara asing.

Oleh NADI MULYADI

Sebab, dengan berbagai motif dari berbagai daerah, tidak sedikit produk batik sebagai warisan nenek moyang dicaplok negara lain. Juga maraknya teksil China yang terus mengancam keberadaan batik lokal.

Menurut Ilzam, salah satu perajin batik di Desa Klampar, Kec Proppo, penggunaan airbrush pada batik tulis merupakan terobosan baru. Sebab, selama ini pembuatan batik masih terpaku dengan cap dan tulis.

Pengembangan pengelolaan batik 3D untuk menghadapi serbuan tekstil negara Asia lainnya. Sekaligus memancing dan menggairahkan pangsa pasar batik lokal.

"Jika kami (perajin, Red) tetap stagnan, pangsa pasar dan omzet penjualan tidak akan pernah berkembang. Airbrush ini diharapkan mampu menjawab itu. Artinya, tetap dengan pakaian tradisional tapi bergaya modern (3D)," terangnya saat ditemui kemarin siang (8/4).

Pengusaha muda ini menjelaskan, penggunaan airbrush tidak menghilangkan dan mengurangi kekhasan lokal. Sebab, pewarna sebatas disemprotkan pada kain batik yang sudah diberi motif.

"Pewarna bukan cat, tetap pewarna batik. Hanya, cara memotifnya ditambah dengan menggunakan alat semprot. Dan, dijamin ramah lingkungan karena tidak ada bekas pewarna," katanya meyakinkan.

Proses pembuatannya relatif mudah. Motif dasar pada kain tetap menggunakan batik tulis dan malan. Setelah itu, kain yang sudah bermotif dasar dicelup untuk menghilangkan malan. Setelah kering, proses penyemprotan airbrush dimulai hingga membentuk motif baru. Selanjutnya dikeringkan sebentar untuk dibatik ulang oleh perajin atau penyelesaian akhir.

"Pembatikan terakhir itu untuk mendapatkan efek tiga dimensi (3D). Terakhir, dicelupkan lagi dan proses pengeringan untuk dipasarkan ke pembeli atau pelanggan," terangnya.

Adanya penambahan proses pembuatan, berpengaruh pada harga yang lebih mahal. Jika batik tulis biasa per potong Rp 80 ribu, batik 3D lebih mahal Rp 20 ribu, yakni Rp 100 ribu. "Itu harga eceran. Kalau partai Rp 80 ribu per potong. Sekarang masih dalam negeri, untuk luar negeri masih belum," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Pamekasan Husnan Ahmady mengapresiasi kreativitas perajin asal Desa Klampar tersebut. Dia mendesak pemkab memberi peluang batik 3D itu menembus pangsa internasional.

"Artinya, tidak hanya sebatas bangga. Melainkan harus ada terobosan dari pemkab. Tujuannya hanya satu, perekonomian masyarakat semakin meningkat," katanya. (mat)

Sumber: Jawa Pos, 09 April 2010

Label: , ,

Colorful Batik Madura

Foto: Chaerunnisa/Okezone

BATIK Madura tak lagi asing terdengar di telinga. Bahkan salah satu kekayaan khasanah Indonesia ini telah beredar di beberapa belahan dunia. Performa batik asal pulau garam ini juga memiliki ciri khas yang membedakannya dengan batik dari daerah lain, seperti warna-warna cerah dan motifnya yang beragam menciptakan karakter masyarakat lokal.

"Batik Madura memiliki perbedaan warna dan motif dengan batik dari daerah lain. Warna batik Madura itu khas menggunakan warna-warna berani, mulai dari merah, hijau, kuning, dan biru," ungkap Maimuna dari Pesona Batik Madura, ketika ditemui okezone dalam pameran yang diadakan di Belleza Permata Hijau, Jakarta Selatan, Kamis (21/2/2008).

Menurut perajin batik keturunan ke empat dari keluarganya itu, ciri khas batik pesisir dengan warna-warna berani dan corak bebas ini diproduksi dari daerah Bangkalan, Madura.

"Motif batik Madura berbeda karena pengaruh dari daerah pinggiran, yang biasanya ada gambar burung. Selain itu, batik Madura punya cerita masing-masing. Misal batik tipe Tasik Malaya merupakan penantian seorang istri menunggu suaminya. Ada juga cerita tentang panji suci, nyiur melambai, tar poteh yang punya latar putih bermakna sebagai kesucian seorang wanita. Dan cah keneh, yaitu perempuan cantik dari China," jelas wanita keturunan Madura ini.

Menurut Maimuna, proses pembuatan batik itu meliputi beberapa tahap. Pertama, kain yang hendak digunakan terlebih dahulu direndam dalam air bercampur minyak dempel (istilah orang setempat) dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku. Setelah direndam kemudian dicuci. "Biasanya kain yang digunakan adalah mentari sen atau kereta kencana," ucap wanita ramah ini.

Setelah kering, sambungnya, proses selanjutnya adalah proses kanji lalu masuk pada tahap diisen, dikurik, dan ditembok. Kemudian dilanjutkan pada tahap pewarnaan yang dapat dilakukan berturut-turut, setelah itu kain batik dilorot. Proses ini merupakan usaha untuk menghilangkan malam (lilin) yang melekat pada kain, yaitu dengan memasukan kain ke dalam air mendidih. Terakhir, adalah menjemur di tengah terik sinar matahari.

"Proses pembuatannya memang lama. Hal dimaksudkan untuk mendapatkan warna kain yang pekat. Karena itu, warna kain Madura semakin pekat semakin bagus," kata Maimuna.

Proses pembuatannya yang lama itu memang berimbas langsung pada harga kainnya menjadi lebih mahal. Meski demikian, Anda dapat memeroleh batik Madura mulai dari Rp50 ribu sampai Rp3,5 juta. Bagaimana, berani tampil dengan warna-warna cerah? (tty)

Sumber: Okezone, Jum'at, 22 Februari 2008

Label: ,

Pesona Bordir dan Batik Sampang

Tak terasa, sudah 34 tahun Ramli menekuni karir sebagai desainer. Perjalanan panjangnya itu, membuatnya menjadi salah seorang desainer ternama dan memiliki ciri khas Indonesia yakni, bordir dan batik.

Untuk memeringati apa yang sudah diraihnya selama berkarir di dunia fashion itulah, Ramli menggelar fashion show dari karya terbarunya di akhir tahun 2009 ini.

Karya yang ia gelar di Hotel Sahid Jakarta belum lama ini, tak jauh dari bahan dasar berupa bordir dan batik, dengan tema ‘Evolusi Bordir dan Batik Indonesia’

Pagelaran ini, kata Ramli, merupakan buah hasil perjalanannya ke Kudus sebelum ia jatuh sakit beberapa waktu lalu. Perjalanannya itu, memberinya inspirasi untuk mengelola bordir yang bekerjasama dengan pengrajin di sana. Dalam siluet klasik, Ramli menampilkan 68 busana konsep padu padan. Rancangannya itu dibawakan sangat indah oleh 34 model.

Ia, membuatnya dalam wujud elements dress, shirt, pants, dan jackets yang menyerupai pakaian penyanyi The King of Pop Michael Jackson. Ramli mengaku terinspirasi oleh semangat dan style Michael Jackson yang selalu berhasil jadi tren setter para penggemarnya di seluruh dunia.

Ramli juga membuat karya dalam balutan gaun dan blouse ready to wear sampai baju malam yang dipersembahkan bagi pria dan wanita. Batik-batik pulau Madura seperti Sampang dieksplorasi dengan apik, dipadu dengan bordir.

Event ini sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai perancang. Saya punya misi mengangkat mode Indonesia sekaligus untuk membuktikan keeksisan saya. Untuk itulah, saya mengangkat kekayaan di negeri ini, yaitu sebuah karya bordir dan batik-batik dari Sampang,” ungkap Ramli.

Berkat kerjasama dengan banyak pihak, perancang yang tengah berjuang melawan penyakit kanker usus ini pun berhasil menggelar pagelaran tunggalnya itu. Kali ini, Ramli bekerjasama dengan ibu-ibu PKK dari Sampang - Madura. Ia, berkenan mengenalkan batik-batik Sampang, karena kebetulan pengelolanya ibu-ibu PKK mau bekerjasama dengannya. “Setiap tahun, saya sengaja mengangkat kain-kain dari daerah lain. Dan, terpenting membuat sesuatu yang bisa cepat laku,” ujarnya.

Pemilihan batik Sampang sebagai daya pikat Ramli untuk pagelaran tunggalnya kali ini bukan tak beralasan. Menurutnya batik Sampang memiliki warna-warna berani yang memikat hati. Ada putih hijau, dengan motif yang beragam.

Di usia karirnya yang ke-34 tahun ini pula, ia bernostalgia bersama para desainer ternama lainnya seperti Enny Soekamto. Maka, Ramli pun membuat acaranya itu dalam beberapa hari, yaitu mulai 28 November 2009 hingga 2 Desember 2009. Karena bernostalgia, dia juga mengandeng beberapa desainer yang dekat dengannya, seperti Itang Yunaz, Ghea, Sabrina, Thomas Siregar, Dandy, dan Burhan. “Dalam 34 tahun berkarya ini, saya ingin berevolusi dengan batik bordir. Saya juga, telah mengembangkan batik daerah,” ucap Ramli. (ary)

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 20 Desember 2009

Label: , , , ,

Batik Madura Makin Moncer

Batik Madura memang sudah terkenal. Tapi peminat batik dulu biasanya membeli di distributor Jakarta atau Surabaya. Sebab sentra batik Madura berada jauh di pelosok seperti Tanjung Bumi, Sampang, Pamekasan, Sumenep.

Tapi sejak Jembatan Suramadu dibangun, penyuka baju batik cukup datang ke Burneh, Kab. Bangkalan. Sebab di daerah yang menjadi akses Jembatan Suramadu ini sekarang bermunculan gerai toko batik yang menjual produk perajin dari semua daerah Madura.

Dari Burneh hingga Kota Bangkalan tidak kurang berdiri 20 toko batik. Toko-toko batik itu milik perajin batik Burneh, Tanjung Bumi, atau Pamekasan yang menangkap peluang bisnis setelah Jembatan Suramadu dibangun.

Ada koleksi batik tulis yang dikerjakan secara tradisional tapi harganya mahal. Pilihan lain tersedia juga batik cap yang harganya lebih murah. Jangan khawatir, semuanya bercorak khas Madura seperti warna dominan merah, hijau dengan kembangan etnisnya.

”Saya sebenarnya jualan batik sudah lama. Namun sejak ada Jembatan Suramadu, saya membuka gerai di rumah. Memang sangat terasa, sekarang banyak pengunjung dari luar daerah mencari batik Madura ke sini,” kata Yayuk, pemilik gerai ’Baju Batik Madura’ di Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, ditemui Selasa (9/3).

Di rumah batiknya dia menjual batik produk Tanjung Bumi dan Pamekasan. Dia mengaku, sekarang kewalahan memenuhi pesanan dari luar kota. ”Saat ini saya harus memenuhi pesanan 400 potong batik Pamekasan dari ibu-ibu di Jawa,” cerita dia. ”Ibu – ibu itu ke sini datang lihat sendiri barang yang cocok dan langsung pesan," ujarnya.

Untuk menyediakan bahan baku dia membuka jaringan dengan pemilik batik di Tanjung Bumi dan Pamekasan. Dia datang sendiri mencari batik ke perajin yang cocok dengan permintaan pasar. ”Saya sudah mempunyai beberapa pemasok batik dari Tanjung Bumi dan Pamekasan," ujar aktivis perempuan ini.

Dia menjual batik dalam bentuk kain dan baju. Harganya bervariasi mulai Rp 35 ribu per potong hingga Rp 100 ribu per potong. ”Ya modal saya kecil. Pernah saya satu minggu mendapat pemasukan Rp 9 juta," ujarnya.

Selain warga Burneh, ada pula perajin batik dari Tanjung Bumi yang membuka gerainya di Kota Kecamatan Burneh. Salah satunya Siti Syamsiyah yang membuka gerai batik di Jl. Raya KH Munif. Di tokonya ini berjajar ratusan macam batik corak Tanjung Bumi. Harganya mulai dari Rp 75 ribu per potong – Rp 1,5 juta per potong.

“Kami khusus menjual batik tulis Tanjung Bumi. Kenapa agak mahal harganya, karena ini batik tulis. Beda dengan batik cap dari daerah lain. Apalagi dengan batik printing dari kota-kota di Jawa," ujar Ifah, salah satu karyawan yang menjaga tokonya.

Dia yang ditemui sedang membatik itu mengatakan cukup ramai pengunjung datang ke tokonya sejak ada Suramadu. Mereka dari Jakarta, Jateng, Malang, dan Surabaya. ”Dulu mereka kenal dengan kami saat di Jakarta saat ada pameran. Sekarang orang Jakarta yang kebetulan ke Surabaya datang ke Madura membeli batik di tempat produksinya,” katanya.

Jembatan Suramadu juga menjadikan gerai batik di Kota Bangkalan makin ramai. Ada tiga gerai yakni Nusa Indah Jl. KH Kholil, Tresna Art, Jl. KH Kholil. Satu lagi rumah batik di komplek perumahan Kelurahan Mlajah, Jl. Sidingkap.

Seperti akhir pekan kemarin di gerai batik Nusa Indah menjelang siang hari hingga sore ramai dikunjungi pembeli dari Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, Bandung, hingga Balikpapan.

Gerai batik ini paling strategis karena di pinggir jalan raya. Di sini tersedia batik produk Tanjung Bumi, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep dan Sampang. Karena itu di etalase toko dituliskan ‘Batik Madura’.

”Saya dari Sidoarjo membawa teman-teman dari luar kota. Ada dari Jogjakarta, Jakarta, Kalimantan. Mereka kebetulan ada acara di Surabaya. Usai acara mereka ingin melihat Suramadu, lalu dilanjutkan ke Bangkalan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke daerahnya masing-masing," ujar pengunjung Ny. Umi Latifah.

Di toko ini ada kain hingga pakaian jadi. Batik produk Bangkalan ternyata harganya paling mahal namun banyak diminati karena corak dan warnanya lebih ngetrend dibandingkan batik Madura lain.

Seperti seorang ibu dari Jogjakarta ini memborong empat kain batik dengan harga masing – masing Rp 250 ribu. “Saya tahu mana batik yang berkualitas dan tidak. Meski harganya cukup mahal tak masalah, yang penting mantap. Ini untuk oleh-oleh keluarga di rumah," ujar ibu muda ini.

Ada juga batik yang sudah jadi dalam bentuk baju. Baju pendek harga Rp 75 ribu dan baju batik lengan panjang Rp 100 ribu. Selain itu juga tersedia kaos khas Madura loreng warna merah-putih harga Rp 30 ribu. Gantungan kunci berhias patung kecil orang Madura berpakaian Madura, pecut, udeng, dan lainnya.

“Mumpung barangnya ada, saya beli baju batik. Ini untuk oleh–oleh teman–teman kerja di kantor, selain untuk keluarga," kata seorang bapak yang memborong baju–baju batik Madura.

Embun, pemilik gerai batik Nusa Indah mengatakan, pada akhir pekan pengunjung sangat ramai hingga dia kewalahan melayani pembeli yang datang silih berganti. ”Kalau stok batik tersedia cukup. Karena kami selalu mendapatkan pasokan barang yang diinginkan selera konsumen," ujarnya di sela melayani pengunjung.

Tak lama kemudian datang lagi rombongan ibu-ibu naik bus dari Malang datang ke toko ini. “Mumpung di Madura, kami cari batik yang katanya bagus," ujar seorang ibu bergegas menuju gerai batik begitu turun dari bus.

Hampir semua pengunjung yang datang mencari batik mengatakan tujuan utama piknik ini melihat Suramadu. Setelah itu mencari oleh-oleh khas seperti batik tulis Madura.

“Kalau kita ke Jogjakarta, mesti mampir di Malioboro. Di sana kita bisa mencari beraneka macam batik dan baju khas Jogja. Coba di Bangkalan, di buat seperti di Jogja, lebih bagus lagi. Kalau di Solo mencari batik pasti ke pasar Klewer. Di Bangkalan, rombongan ini bingung, kalau tidak ada yang menunjukkan tempatnya di mana dijual batik madura,’’ tanya pengunjung ini.

Embun menceritakan, sebelum ada Jembatan Suramadu, toko Nusa Indah tidak ada yang menoleh karena dulu berjualan mebeler dan makanan kering khas Madura. Setelah ada Jembatan Suramadu, banyak warga luar daerah berdatangan bertanya sesuatu yang khas Madura seperti batik. Dia langsung menangkap peluang bisnis. Langsung saja tokonya diisi kain dan baju batik Madura yang ternyata diminati pembeli.

Kepala Bappeda Bangkalan, Moh. Muhni mengakui saat ini ada perkembangan di Bangkalan pasca Suramadu seperti rumah makan dan toko batik. Bupati Bangkalan RKH Fuad Amin SPd, katanya, mempunyai gagasan mendirikan sentra kerajinan batik di sekitar Suramadu tapi anggarannya belum tersedia.

“Kita serahkan ke masyarakat untuk menangkap peluang ini. Pemerintah daerah akan memfasilitasi, di antaranya mempermudah periziannya dan lainnya," ungkapnya. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 10 Maret 2010

Label: , ,

Penjualan Batik Madura Meningkat

Penjualan batik madura melonjak pesat setelah Jembatan Suramadu beroperasi. Peningkatan juga dipengaruhi kesadaran warga menggunakan batik untuk keperluan sehari-hari.

Peningkatan omzet dirasakan Supik, pemilik Toko Batik Tresna Art Bangkalan, dan pedagang di Pasar Batik Tujuh Belas Agustus, Pamekasan, akhir pekan ini.

Menurut Supik yang membuka gerai batik dan oleh-oleh khas Madura, Sabtu (6/2), omzetnya mulai meningkat setelah pengakuan batik sebagai warisan budaya Nusantara pada 2 Oktober 2009. Penjualan semakin baik ketika Jembatan Suramadu dioperasikan.

”Omzet saya bisa naik dua sampai tiga kali lipat, tetapi paling ramai Jumat, Sabtu, dan Minggu. Pada akhir pekan, saya bisa menjual 500 potong kain,” ujar Supik, yang hari Sabtu menerima konsumen asal Padang.

Pedagang batik di Pasar Tujuh Belas Agustus, Fatimah Tuzzahro (40), Minggu kemarin, mengatakan, penjualan batik meningkat setelah ada Jembatan Suramadu. Minggu kemarin dia membawa 700 potong kain batik tulis dan cap yang dijual Rp 30.000 sampai Rp 250.000. Stok sebanyak itu biasanya terjual separuhnya.

Meski berjualan di pasar tradisional, rata-rata omzet penjualan para pedagang batik tradisional di Pasar Tujuh Belas Agustus mencapai jutaan rupiah per hari. Miskiyah (40) beserta Kosni (60) mengungkapkan, setiap hari rata-rata omzet penjualan batiknya Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Muhammad Hasan (30), salah seorang pembeli batik madura asal Surabaya, setiap Kamis dan Minggu selalu menyempatkan diri membeli batik ke pasar batik tradisional Tujuh Belas Agustus dan menjualnya kembali ke Surabaya. ”Batik madura memiliki kekhasan, antara lain pewarnaan yang tajam, sebagian besar berupa batik tulis, dan modelnya variatif,” katanya.

Antusiasme masyarakat

Salah seorang konsumen dari Sumenep, Yoyok Mustajab (40), mengatakan, antusiasme warga menggunakan batik meningkat setelah ada pengakuan batik dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa- Bangsa (UNESCO). Dia biasanya membeli batik untuk dikirim ke Surabaya dan Jakarta.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, memfasilitasi lokasi penjualan batik di Pasar Batik Jokotole. Kios disiapkan belasan, dengan harga sewa Rp 35 juta untuk 20 tahun.

Wakil Bupati Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirdjo mengatakan, pemkab sedang membuka pasar batik Pamekasan ke luar daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Targetnya, kerajinan batik yang masih menjadi mata pencarian sampingan bisa menjadi mata pencarian pokok bagi masyarakat.

Dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pamekasan, tahun ini ditargetkan Rp 38 miliar. Diharapkan kerajinan tradisional batik madura mampu mendongkrak PAD. (HRD/INA/ABK)

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Pembeli memilih batik di salah satu sudut Pasar Tujuh Belas Agustus, pasar tradisional batik khas madura di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Minggu (7/2). Setelah Jembatan Suramadu beroperasi, bisnis batik di Madura meningkat pesat.


Sumber: Kompas, Senin, 8 Februari 2010

Label: , ,

Eksotisme Batik Madura

Ketika menyebut Madura, yang terlintas di benak sebagian orang adalah “sangar”. Maklum saja, selain perawakan orang Madura yang rata-rata tirus, gempal, kaku, berkulit legam dengan logat bicara yang temperamental (seperti orang marah) salah satu stereotip miring soal Madura adalah carok. Peristiwa carok di tanah kelahiran Jokotole ini selalu menjadi pembicaraan serius banyak kalangan. Mulai dari orang awam sampai antropolog.

Tapi jangan salah. Tak semua tanah Madura berwarna darah. Sama seperti laut, tak semua laut penuh dengan badai dan gelombang. Jauh di dasar laut yang keras itu, pasti tersimpan mutiara yang tak ternilai Indahnya. Begitu juga Madura.

Madura juga penuh dengan eksotisme. Barangkali yang paling eksotis dari Madura bagi sebagian orang adalah karapan sapi. Tiap kali even karapan sapi piala presiden, tak sedikit turis yang rela turun ke pulau garam ini. Kesenian-kesenian lain seperti daol, saronen, tayup, dan tari-tarian lainnya juga mulai jadi referensi para wisman untuk menjelajahi keunikan Madura. Soal oleh-oleh khas Madura? Tak perlu risau, ada camilan khas Madura dan Batik.

Tapi Tulisan ini tak akan berbicara semua eksotisme Madura. Melainkan hanya akan mengulas panjang lebar soal Batik.

Hingga saat ini batik Madura yang dikenal luas oleh para pelancong adalah Batik Tanjung Bumi, Bangkalan dan Batik Banyumas Pamekasan. Dalam beberapa kali pameran UKM nasional dua jenis batik itu yang paling ditonjolkan. Motif dari kedua batik itu beragam. Bahkan disinyalir bisa mencapai ratusan motif. Mulai dari motif aslinya maupun kombinasi satu sama lain dari motif aslinya. Diantara motif yang banyak dikenal (dan diminati) diantaranya; Sessek, Ramok, Rawan, Carcena, Memba, Panji, Napasir, Katupat, Kembang Pot, Pereng Basa, Truki Melati, dan Okel.

Sebenarnya apa yang membuat Batik Madura mempunyai citra estetik tinggi? Pertama, aroma lilinnya (malan) yang khas. Pasalnya campuran malan batik kerap dicampur dengan Madu. Dengan campuran sari bunga yang dikumpulkan lebah itu, bau karbon yang menyengat pada malan jadi netral. Bahkan baunya jadi unik. Berikutnya, cipratan warnanya yang bukan hanya terkesan sangar tapi juga magis. Warna batik Madura biasanya dididominasi oleh kesan warna yang ‘berani’ (merah, kuning, hijau).

Pemilihan warna itu tentu saja tidak tanpa alasan. Sekedar diketahui, kebudayaan Madura sejatinya adalah titisan kebudayaan Majapahit. Warna merah dipilih karena panji Majapahit adalah warna merah dan putih (itu pula yang menjadi cikal bakal bendera Indonesia ). Warna hijau, karena berhubungan dengan religi. Masa kejayaan Majapahit adalah masa kejayaan agama Hindu. Dalam hindu Pepohonan termasuk bagian dari pemujaan terhadap para dewa. Sementara kuning dipilih sebagai pembatisan terhadap bulir-bulir padi sebagai penopang ekonomi masyarakat agraris. Dengan lain kata pemilihan warna itu sebenarnya hendak bercerita tentang akulturasi kebudayaan Majapahit-Madura.

Ketika awal-awal perkembangan batik di zaman Majapahit, motif-motif batik hanya didominasi oleh motif binatang dan tumbuhan. Itu menunjukkan betapa kuatnya spiritualitas Majapahit( baca hindu). Dari kedua motif itu, motif binatang paling banyak diminati dibandingkan tumbuhan. Bahkan motif burung garuda menjadi motif paling sakral karena hanya boleh dipakai oleh tentara Bhayangkara yang dikomandani oleh Patih Gajah Mada.

Awalnya busana batik hanya dikenakan raja, punggawa kerajaan dan tentara majapahit. Namun sering dengan perkembangan waktu serta semakin meningkatnya kemajuan ekonomi kerajaan majapahit, aktivitas membatik dan mengenakan busana batik mulai diikuti masyarakat di sekitar kerajaan. Bahkan dari situpulalah muncul para perajin batik, yang bersanding dengan para perajin keris yang pada masa itu juga tak kalah larisnya. Begitulah, terus menerus hingga kini home industri batik juga mulai merambah di berbagai penjuru hingga akhirnya sampai juga ke tanah Madura. Dan kini juga mulai menggeliat lagi seiring dengan mulai tumbuhnya usaha pariwisata berbasis lokalitas di negeri ini. Tentunya dengan berbagai variasi motif yang beragam.

Satu hal yang tidak bisa disangsikan dari keunikan batik Madura adalah proses pembuatannya. Tradisi membatik di Madura salah satunya yang terkenal dengan Batik Genthongan. Disebut genthongan karena proses pewarnaanya terlebih dahulu direndam dalam wadah mirip gentong. Konon katanya kain direndam selama dua bulan, kemudian lembaran kain batik disikat untuk menghilangkan sisa lilin/malamnya. Proses macam ini, selain untuk membuat warna batik lebih awet, juga memunculkan warna terang dan gelap pada kain batik. Batik Genthongan cukup dikenal luas karena kekuatan warnanya yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. Karenanya jangan heran jika batik ini cukup mahal harganya dibandingkan dengan batik biasa. Selain bahan kainnya dipilih yang terbaik, juga pewarnanya menggunakan pewarna alami. Yang diracik dari sari tumbuhan pilihan. Soga alam khas Madura berasal dari Mengkudu dan Tingi untuk menghasilkan warna merah. Hijau berasal dari kulit Mundu ditambah tawas, Daun Tarum digunakan jika ingin memberikan efek warna biru.

Kesemuanya itu diramu oleh tangan-tangan terampil dengan imajinasi seni tingkat tinggi sehingga menghasilkan motif batik yang beragam dan unik, khas pulau Madura. Jadi tidak terlalu berlebihan jika batik Madura menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai busana-busana bernuansa etnik tapi tidak kampungan. (by Mr. EM)

Sumber: Batik Madura, Selasa, 11 Agustus 2009

Label: , , ,

Fesyen Batik Dipadukan Dengan Gerbang Salam

Di antara sekian hiburan yang mewarnai Pameran Pembangunan dan Kebudayaan, yang paling banyak dipadati pengunjung adalah Lomba Busana Batik Muslim tingkat SD. Event ini digelar Ikatan Putri Batik (Ika Putik) Pamekasan yang bekerja sama dengan Panitia Hari Jadi Pamekasan ke 479.

Dalam perhelatan itu, pihak panitia membatasi pesertanya, hanya untuk kalangan siswa SD. Tidak seperti selama ini yang biasa digelar untuk siswa tingkat SMP dan SLTA. Sehingga penontonya, sebagian besar dari kalangan guru dan orangtua siswa, selain juga masyarakat umum.

Pihak panitia menempatkan panggung di dekat pintuk masuk pameran. Sehingga begitu para pengunjung masuk sudah bisa langsung melihat pegelaran lomba busana batik tersebut. Di sekitar panggung pun dijubeli anak anak maupun para ibu ibu dan remaja yang ingin menyaksikan acara tersebut.

Sekretaris II Panitia Hari Jadi Pamekasan ke 479, Drs Khalifaturrahman mengatakan, kali pertama digelar lomba busana batik muslim untuk tingkat SD dinilai cukup berhasil menyedot perhatian masyarakat. Bahkan ada ada sekitar 40 SD yang mengirimkan anak didiknya untuk mengikuti lomba busana batik muslim ini.

Lomba ini, digelar terkait dengan motto peringatan Hari Jadi Pamekasan ke 479, yakni 'Memperetas Pamekasan Sebagai Kabupaten Batik'. Yang kedua juga terkait dengan motto Pamekasan sebagai Kota Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami).

Dalam konsep Gerbang Salam, masyarakat Pamekasan memang dihimbau untuk lebih meningkatkan pengamalan ke Islamannya, termasuk diantaranya tentang tata cara berbusana yang Islami.

“Selama ini kan terkesan bahwa batik hanya cocok untuk menjadi busana atau dipakai oleh orang dewasa saja, ternyata anggapan itu tidak benar. Melalui pagelaran semacam ini, kita bisa melihat sendiri bahwa batik juga cocok bagi semua lapisan dan tingakatan usia, apakah orang dewasa, remaja atau anak-anak. Kita lihat penampilan mereka. Sangat bagus skali,” katanya.

Lomba ini, lanjut dia, akan bermakna menjadi media untuk terus semakin mempopulerkan batik sebagai hasil kreatifitas masyarakat dan potensi budaya Pamekasan. Perpaduan antara hasil kreatifitas seni masyarakat dengan nuansa ajaran Islam, maka busana batik muslim akhirnya menjadi busana yang sangat indah, anggun dan agamis. (MASDAWI DAHLAN)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 7 Nopember 2009

Label: , ,

Serba Batik, Muspida pun Pakai “Odeng”

Rangkain kegiatan HUT Pamekasan 479 tahun, Pemkab Pamekasan menggelar pameran pembangunan dan kebudayaan di lapangan depan Pendapa Ronggosukowati Pamekasan yang dibuka Bupati Drs KH Kholilurahman SH, Senin (2/11) kemarin.

Even kali ini tak hanya diikuti unit kerja di lingkungan Pemkab Pamekasan, juga ada peserta dari luar. Di antara Jombang, Jogjakarta, dan sejumlah perusahaan di bidang advertising, galeri maupun kalangan perbankan, serta perwakilan BUMN di Pamekasan.

Dari kalangan unit kerja atau SKPD Pemkab Pamekasan, terdapat 23 peserta, termasuk dari kecamatan. Setidaknya ada dua fenomena dalam pameran kali ini, yakni fenomena serba Bahasa Madura dan serba Batik Madura.

Dalam upacara pembukan yang juga dihadiri Wakil Bupati Kadarusman dan beberapa pejabat teras Pemekasan, itu bahasa menggunakan Bahasa Madura. Pembawa acara, sambutan ketua panitia, hingga sambutan bupati Pamekasan semuanya menggunakan bahasa daerah setempat.

Sesuai dengann tema pameran kali ini, yakni mempertegas Pamekasan sebagai Kota Batik, maka suasana lingkungan pameran baik stan, hiasan stan, asesoris lainnya, bahkan pagar dan pintu gerbang masuk lokasi pameran, dihiasai kain batik Madura.

Selain itu para pejabat yang hadir menggunakan baju batik Madura dan memakai “odeng”’ atau ikat kepala khas orang Madura yang terbuat dari batik. Begitu pula para penjaga stand pameran, semuanya menggunakan batik Pamekasan.

Bupati Khalilurrahman mengatakan tujuan pameran pembangunan dan kebudayaan ini adalah untuk mengenang masa lalu Pamekasan yang perlu ditindaklanjuti dengan pembangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedepan.

Dalam menyikapi pameran ini, lanjut bupati berharap tidak hanya sekedar mengisinya dengan kegiatan keramaian saja. Tapi harus bisa mengambil manfaat dan pelajarannya yang berharga. “Kita harus pandai pandai mengingat sejarah perjuangan yang dilakukan para pejuang dan pendahulu Pamekasan. Apa yang baik mereka lakukan kita tiru dan kerjakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita kedepan. Mari kita lestarikan budaya mereka, semangat perjuangan mereka, kita sebagai penerusnya memiliki kewajiban untuk melestarikan nilai nilai perjuangannya,” ajak Bupati Kholil. (mas)

Sumber: Surabaya Post, Selasa, 3 Nopember 2009

Label: , , ,

Batik Madura Tempo Dulu

Raden Roro Siti Maimuna, desainer sekaligus kolektor batik kuno ini tinggal di Bangkalan, Pulau Madura. Wanita 37 tahun ini sangat dikenal kalangan pejabat dan pengelola museum. Baik di Indonesia maupun luar negeri seperti di Jepang.

Dia punya lima batik kuno buatan perajin batik di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan. Karena itu, koleksi batik kunonya tersebut sering dipinjam untuk dipamerkan di hadapan khalayak.

Oleh TAUFIQURRAHMAN

Dari mana Mei [sapaan akrab Siti Maimuna] memperoleh batik kuno tersebut? Ternyata, wanita ini beruntung mendapat warisan dari buyutnya. Dengan koleksi batik warisan itu, dia mendapat kesempatan untuk memamerkannya hingga ke luar negeri.

Koleksi batik kunonya tersebut ada yang berumur 200 tahun. ”Saya punya lima batik yang usianya 200 tahun. Penetapan umur batik itu bukan saya yang menentukan. Tapi berdasarkan hasil penelitian Museum Tekstil di Jakarta,” kata Mei.

Penetapan umur batik buatan pengrajin di Tanjung Bumi ratsuan tahun lalu itu, jelasnya, didasarkan bahan kain serta pewarna yang dijadikan bahan untuk membatik. ”Untuk pewarnanya alamiah semua. Bahan dari nila. Ada yang menyebutnya tom atau daun tarum,” jelasnya.

Kelima koleksi batik yang dimilikinya adalah jenis mano’ juduh tarpotè kellèngan, tarpotè bangan, burubur”, rawan mèra”, tana pasèr mèra. Semuanya berusia 200 tahun.

Dari koleksi itu, jenis mano’ juduh tarpotè kellèngan yang banyak diminati para kolektor dan pemilik museum. ”Ada yang menawar Rp 60 juta. Tapi tidak saya jual, karena itu warisan dari buyut saya,” ujarnya.

Menurut Mei, kain batik berupa sampèr atau kain panjang dipercaya oleh banyak orang memiliki kekuatan mistik. ”Dulu, kain batik ini sering dipinjam orang kalau ada ibu-ibu kesulitan saat melahirkan. Biasanya, kain (batik) ini dililitkan ke perut sang ibu agar bisa melahirkan dengan lancar,” kenangnya.

Selain koleksi lima batik kuno tersebut, Mei juga memiliki 300 kain batik kuno lain yang usianya di atas 40 tahun. Namun, koleksinya banyak yang dipinjam pemilik museum atau peneliti batik. Sebut saja Prof Tozu dari Jepang. Dia meminjam 85 koleksi batik kuno Mei untuk diteliti. Juga Okawa, pengelola graha budaya di Jepang, meminjam 200 lembar kain batik kuno untuk dipamerkan.

"Ada dua kain batik usia 120 tahun yang telanjur saya jual Rp 48 juta. Jenisnya sik melayah [Tasikmalaya] dan laskalasan [binatang hutan]. Maunya tidak saya jual, tapi terpaksa dijual untuk koleksi museum,” jelas kolektor yang mengaku masih punya garis keturunan dari Rato Ebhu ini.

Ketika ditanya dari mana dia memperoleh batik kuno tersebut, Mei mengaku memburu dari saudara dan kerabatnya. Sebab, orang tuanya juga punya banyak koleksi batik kuno peninggalan zaman kerajaan di Bangkalan tempo doeloe.
Selain itu, Mei memperoleh batik kuno dari hasil berburu langsung kepada masyarakat dan perajin di kawasanTanjung Bumi. ”Semua koleksi saya merupakan batik Tanjung Bumi,” katanya

TAUFIQURRAHMAN, Wartawan Radar Madura

Sumber: MaduraExplore, Minggu, 01 Maret 2009

Label: ,

Membatik Tradisional di Tanjung Bumi

Rp 15 Ribu Per Lembar, Dikerjakan Sambil Santai

Melekatnya batik di masyarakat Kecamatan Tanjung Bumi tak sekadar sebagai pekerjaan semata. Melukis di atas kain itu sudah menjadi semacam kebiasaan yang kini mulai dipacu untuk bersaing dengan industri. Bagaimana cara kerja tradisional membatik di sana?

JIKA membatik jadi pekerjaan, maka upah yang diperoleh dari para pengepul jelas tak cukup. Sebab, untuk selembar batik yang dikerjakan paling cepat sebulan pembatik hanya bisa mendapat upah paling besar Rp 100 ribu. Upah tertinggi itu hanya untuk batik dengan kualitas gambar yang "luar biasa". Kalau untuk batik yang biasa-biasa saja, pembatik hanya bisa mendapat upah Rp 15 ribu.

Di Tanjung Bumi, hampir semua desa jadi lokasi pembuatan batik. Tak heran jika salah satu kecamatan di Bangkalan ini disebut sentra batik.

Koran ini mengunjungi keluarga Masrifah, satu keluarga pembuat, pengepul dan penjual batik. Saat didatangi koran ini Masrifah tengah sibuk mencuci batik yang didapatkannya dari warga sekitar. "Kalau dibuat sendiri tidak mungkin bisa banyak seperti ini. Buat batik itu lama Mas, bisa berbulan-bulan," ujarnya. Membuat batik memang tak boleh terburu-buru. Maklum, membatik masih belum dipandang sebagai pekerjaan, tapi kebiasaan yang dikerjakan sambil santai.

Menurut cerita warga, kebiasaan membatik tumbuh karena wilayah Tanjung Bumi dekat dengan pantai. Berdekatan dengan pantai jelas membuat warga Tanjung Bumi kebanyakan jadi nelayan. Tak seperti bertani, para istri nelayan tak bisa ikut melaut. Mereka hanya menunggu di rumah hingga suaminya datang dari tengah laut.

Nah, di waktu kosong menunggu suami pulang itulah para istri nelayan memanfaatkan waktunya untuk membatik. "Jadi tempatnya membatik itu kadang-kadang di dapur, di kamar tidur, dekat kamar mandi atau di depan tivi," tutur Masrifah.

"Namanya juga untuk mengisi waktu. Kalau ada pekerjaan lain ya batiknya ditinggal," imbuh Masrifah. Kondisi tersebut membuat produksi batik tak bisa ditarget. Selesai berapa pun per hari tetap diterima. Warga yang ikut membatik juga tak bisa diminta cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. "Saya juga punya yang cetak. Kalau yang itu (batik cetak, Red) sehari bisa sepuluh lembar," ungkapnya.

Bagaimana cara kerja warga? Warga yang bisa dan biasa membatik datang ke pengepul untuk mendapatkan kain putih. Tak ada perjanjian kapan batik itu akan selesai. Namun, warga tersebut biasanya menjanjikan kapan dirinya akan menyelesaikan selembar batik itu. "Motifnya kadang mereka minta dari saya. Tapi banyak juga yang kreasinya sendiri. Saya percaya saja, motif yamg digambar pasti bagus," paparnya.

Sekembalinya lembaran batik dari warga, di pengepul lalu menilai motif. Dari sinilah pengepul menentukan berapa upah yang akan dibayarnya untuk selembar batik. "Menilai itu tidak bisa sembarangan. Kasihan orang bikinnya lama," tandasnya.

Berapa per lembarnya? Tidak tentu. Paling murah upah per lembar batik hanya dihargai Rp 15 ribu. Sedangkan batik terbaik dihargai dengan upah sebesar Rp 100 ribu. Luar biasanya, taksiran harga itu tak pernah mendapat protes. Sebab, si pengepul tahu betul bagaimana menghargai hasil kerja orang lain. (NUR RAHMAD AKHIRULAH)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 13 Oktober 2009

Label: ,

Pamekasan Bingung Patenkan Motif Batik

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengaku bingung mengajukan hak paten motif batik tulis yang ada di wilayah tersebut, karena motif batik yang ada terlalu beragam.

"Sampai saat ini kami belum mengajukan hak paten motif batik yang ada di Pamekasan," kata Kasi Pembinaan Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisi, Dinas Pemuda, Olah Raga dan Kebudayaan (Disporabud) Pamekasan, Halifaturrahman, Sabtu.

Hal ini terjadi, kata "Mamang" sapaan akrab Halifaturrahman, karena motif batik tulis di Pamekasan beragam, antara satu perajin dengan kelompok perajin lainnya.

Menurut Mamang, pihaknya perlu melakukan identifikasi terlebih dahulu motif batik khas Pamekasan yang akan dipatenkan. Apalagi kerajinan membatik di Madura bukan hanya di Pamekasan, akan tetapi semua kabupaten di wilayah tersebut juga ada perajin batik.

"Setelah menemukan motif khusus yang memang menjadi ciri khas motif batik Pamekasan, baru kami bisa mengajukan hak paten," terangnya.

Di Pamekasan ada 28 sentra atau pusat kerajinan batik tulis yang tersebar di tujuh kecamatan dari 13 kecamatan yang ada di wilayah tersebut.

Rinciannya, di wilayah Kecamatan Pamekasan sebanyak lima sentra batik tulis, Kecamatan Proppo 12 sentra batik, Palengaan enam sentra, Waru satu sentra, Pegantenan dua sentra dan di Kecamatan Tlanakan sebanyak satu sentra batik.

"Di masing-masing sentra batik di Pamekasan ini memiliki motif batik tulis tersediri. Namun juga banyak sama. Makanya kalau belum menemukan mutif khusus yang menjadi ciri khas Pamekasan, kami sulit untuk mengajukan hak paten," kata Halifaturrahman.

Dari 28 sentra batik yang ada di Pamekasan dengan jumlah sekitar 1.200 unit usaha mampu memproduksi sebanyak 309.000 lembar batik setiap tahun dengan taksiran nilai produksi sekitar Rp24 miliar.

Wakil Bupati Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirdjo menyatakan, jika menilai fakta tersebut, sebenarnya kerajinan batik di Pamekasan berpotensi menjadi sumber ekonomi masyarakat. Oleh karenanya Pemkab akhirnya menjadikan Kabupaten Pamekasan sebagai kota batik di Madura yang ditandai dengan adanya kegiatan "Seribu Perempuan Membatik" pada Juni 2009.

Kegiatan yang masuk dalam catatan Museum Rekor Indonesia-Dunia (Muri) tersebut, juga merupakan upaya untuk mempromusikan pasaran batik tulis di wilayah tersebut di tingkat nasional.

Sumber: Antara, Sabtu, 10 Oktober 2009

Label: ,

Karya Warga Madura Disuka Wisatawan Asing

Keberadaan batik tulis asal Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, Sumenep, Madura benar-benar membanggakan semua pihak. Batik khas Sumenep ini banyak disuka para wisatawan asing. Semisal Australia, Belanda, Korea, Italia dan Jepang serta warga negara Malaysia.

Batik tulis bermotif flora dan fauna itu hasil kerja seorang pengrajin batik, Achmad Zaini (42). Bapak tiga anak ini meneruskan budaya nenek moyangnya secara turun-temurun sejak tahun 1917 silam.

Tak ayal, jika omzet tiap tahunnya mencapai ratusan juta dan mampu menghidupi keluarga dan 41 karyawan yang bekerja secara borongan.

Pengrajin batik tulis Melati asal Pakandangan Sumenep, Achmad Zaini mengaku, batik tulis Pakandangan sudah berusia 92 tahun. Hingga saat ini tetap bertahan dengan motif dan corak tersendiri, meski kadang ditiru pengrajin batik lain di Madura.

"Motif batik saya sering ditiru oleh perajin lain, tetapi tetap saja tidak sama. Seperti jalannya canting," kata Zaini kepada wartawan di tempat kerjanya Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jumat (2/10/2009).

Harga batik khas Sumenep ini dijual antara Rp 50 ribu sampai Rp 400 ribu tiap potong (ukuran 1 baju). Harga yang bervariasi tergantung kehalusan bahan dan motifnya.

"Kalau yang disukai oleh wisatawan asing lebih banyak yang harganya Rp 300 ribu ke atas," ujarnya.

Zaini juga mendukung Penganugerahan Unesco terhadap batik sebagai warisan pusaka budaya dunia atau "World Heritage". Sebab bila tidak ada pengukuhan, maka batik Indonesia akan diklaim orang luar negeri.

Sementara Kepala Disperindag Kabupaten Sumenep, Hary Kuncoro Pribadi mengatakan, pembinaan terhadap pengrajin batik tulis terus ditingkatkan setiap tahunnya. Agar hal ini mampu bertahan dan bersaing dengan pengrajin batik di luar Madura.

"Ada 35 unit usaha batik di Sumenep, para pengrajin itu sudah dibekali pelatihan agar terus meningkatkan kualitas batik Sumenep yang mempunyai ciri khas khusus," kata Hary kepada wartawan di kantornya, Urip Sumoharjo.

Sumber: detikcom, Jumat, 02 Oktober 2009

Label:

Disperindag Bangkalan Patenkan 13 Motif Batik

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, telah mengusulkan 13 motif batik untuk mendapatkan hak paten.

"Kami sudah mengusulkan 13 motif batik pada pemerintah pusat untuk mendapatkan hak paten sejak 2005, namun hingga saat ini belum ada jawaban," kata Kadisperindag Kabupaten Bangkalan, Geger Prayitno, Kamis.

Geger menjelaskan, pihaknya tidak tahu secara pasti alasan pemerintah pusat belum merespon usulan tersebut. Pasalnya, hingga kini tidak ada jawaban dari pemerintah pusat terkait dengan hal itu.

"Padahal, hak paten itu sangat ditunggu-tunggu oleh kami. Supaya ketiga belas motif batik yang merupakan buah karya masyarakat Bangkalan tidak diakui daerah lain," ujarnya.

Menurut Geger, ketigabelas motif batik yang diusulkan di antaranya kupu-kupu, ba-saba, ketupat, kentongan, ramok, dan daun mimbah.

"Dari ketigabelas motif batik itu mempunyai ciri masing-masing yang bisa membuat orang lain tertarik dan ingin memiliki," ucapnya.

Geger berharap, pemerintah pusat segera merespon usulan hak paten tersebut. Sehingga hasil karya warga Bangkalan bisa diakui daerah lain dan tidak bisa diotak-atik, apalagi dicuri. "Sebab, mendapatkan hak paten merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami. Dan itu berarti, buah karya warga disini dilindungi," ujarnya.

Geger menambahkan, adapun pengusaha batik yang ada di Bangkalan berjumlah 60 orang. Sedangkan, perajin batik mencapai ribuan orang. Sehingga bisa dipastikan batik yang merupakan warisan nenek moyang bisa dilestarikan. (*)

Sumber: Antara, Jumat, 2 Oktober 2009

Label: ,

Batik Tanjung Bumi, Batik Madura nan Eksotik

Sektor usaha kecil dan menengah (UKM), kini sedang menjadi primadona pemerintah daerah. Salah satu daerah yang subur dengan UKM adalah Madura. “Pulau Garam” itu membanggakan produksi batik dan jamu sebagai usaha rakyat yang berhasil go international.

Ketika SH meninjau ke daerah tersebut beberapa waktu lalu, kedua jenis komoditas ini menjadi bagian cerita menarik sepanjang perjalanan. Sejarah mencatat kesuksesan para pengrajin batik dan jamu di sana. Yang membuatnya menjadi seperti itu, barangkali karena kedua komoditas itu menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakatnya sendiri.

Industri jamu berkembang karena khasiatnya. Apalagi yang tak terbantahkan, mitos seputar kehebatan jamu madura yang jika dikumpulkan bisa menjadi kumpulan cerita folklor. Tapi produk yang satu ini akan dibahas pada kesempatan lain.

Industri kecil yang menjadi kebanggaan daerah ini memang batik. Bagi Madura, batik bukan hanya sehelai kain, namun telah menjadi ikon budaya dan sering menjadi objek penelitian banyak institusi. Di berbagai buku batik terbitan luar negeri, batik Madura menjadi perhatian khusus. Motif dan warna yang tertuang di dalam kain panjang itu, merefleksikan karakter masyarakatnya. Khususnya batik buatan Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan.

Tak heran jika H Affandi, pemilik industri kecil batik tulis “Annis” di Tanjung Bumi, Bangkalan, tak repot-repot untuk menjual hasil produksinya. Menurutnya, para pembeli datang dari berbagai kota di luar Madura, terutama pada hari libur. Begitu juga peminat batik dari mancanegara sering mampir ke tempatnya untuk berbelanja. Walau lokasinya bukan di jalan utama, para pembeli tak kesulitan. Sebab, daerah Tanjung Bumi sejak dulu sudah terkenal sebagai sentra industri kecil batik dan menjadi objek tujuan wisata sekaligus.

Ketika sanggar batik Affandi didatangi rombongan wartawan dari Jakarta, dia tampak senang. Apalagi dua stasiun televisi swasta merekam kegiatan usahanya. Batik yang tersimpan di lemari dipamerkan sembari dijelaskan satu persatu nama dan motifnya. Istrinya dengan bahasa Indonesia logat Madura, cukup sibuk melayani pertanyaan para wartawan. “Batik saya diborong ya,” ujarnya berharap.

Di sini batik termurah dijual Rp 30 ribu dan termahal Rp 250 ribu. Yang membuat mahal, menurutnya, tergantung bahan kainnya. Kalau terbuat dari sutera, jelas mahal. Tapi yang membuat dia heran, turis asing lebih menyukai batik murah yang bahannya katun (kasar) ketimbang yang terbuat dari sutera. Malah turis lokal lebih menyukai batik sutera yang halus.

Ketuk Pintu

Jangan membayangkan jika mampir ke Tanjung Bumi akan mendapatkan pemandangan seperti Pekalongan (Jawa Tengah), di mana terdapat banyak show room batik. Di sini harus ketuk pintu rumah dulu. Sebab kebanyakan pengrajin tak memasang nama sanggarnya. Tapi yang memudahkan untuk mencari di mana tempat pembuatan batik, dari aroma lilin. Jika baunya tajam, di belakang rumah itu sedang ada kegiatan produksi.

Apa yang terjadi rumah Affandi, sama sekali tak ada bau lilin menyengat. Tapi oleh panitia, para wartawan diarahkan ke sana. Ternyata selidik punya selidik, sanggar batik “Annis” layaknya inti. Sedangkan rumah-rumah di sekitarnya sebagai plasmanya. Tak heran di bagian belakang sanggar, yang merupakan rumah-rumah penduduk aroma lilin begitu menyengat. Di sini tampak para ibu sedang membatik membatik. Sementara para kaum lelaki sedang “di dapur” memasak (merendam) kain untuk menghilangkan lilin atau memberi warna.

Di Tanjung Bumi, menurut penjelasan staf Dinas Pariwisata setempat, orang seperti Affandi cukup banyakdi sini. Mereka bekerja sama dengan masyarakat di sekitarnya. Inti menyediakan modal kain berikut perangkat penunjang (bahan pewarna), alat membatik dan sebagainya. Sementara masyarakat (plasma) menyetor (batik) pada juragannya (inti). Model kerja sama seperti itu, menurut staf tadi, tidak kaku seperti itu. Ada juga pengrajin yang memiliki modal untuk membuat batik, namun hasilnya disetorkan ke pedagang atau dijual sendiri ke pembeli yang kebanyakan turis.

Sumarni, ibu dua anak, yang sedang asyik membatik di lantai rumahnya, mengaku, batik yang sudah jadi tidak harus disetorkan ke pedagang. Kalau ada pembeli yang datang dan cocok dengan motif dan harga maka akan dijual. Menyetor ke pedagang atau menjual langsung, sama-sama untung. Diakuinya, dirinya memang memiliki ikatan emosional dengan pedagang batik yang ketika dia sedang mengalami kesulitan keuangan, pasti dibantu.

Menurutnya, untuk menyelesaikan batik tulis waktunya tergantung tingkat kesulitan motif. Bila bentuk yang harus ditulis kecil dan rumit, prosesnya bisa dua bulan.
Persoalan bahan baku menjadi penting mengingat selama ini para pengrajin batik mendapatkannya dari luar Madura. Ke depan akan lebih ideal lagi jika kebutuhan bahan baku itu bisa dipenuhi dari Madura sendiri. Para pengrajin batik di Kabupaten Bangkalan, sebenarnya bukan hanya di Tanjung Bumi, tapi terdapat juga yang tersebar Modung, Blegah, Socah dan Kokop. (SH/gatot irawan)

Sumber: Sinar Harapan, Jakarta

Label: , ,

Pelestari Seni Batik Tulis Madura

DI ANTARA banyak jenis batik yang ada di Tanah Air adalah batik tulis Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura. Memiliki motif dan teknik pewarnaan khas, batik Tanjung Bumi awalnya hanya tersohor di Pulau Madura saja. Namun, situasi ini sejak lima tahun terakhir berubah.

Oleh: Kasiono

Hasil kerajinan tangan ini telah mengikuti tren mode sekarang, berani menampilkan corak warna dan motif yang tidak monoton lagi, walau tetap mempertahankan ciri khasnya yang sudah berusia ratusan tahun. Alhasil, batik tulis ini kini mampu merambah tidak hanya pasar nasional tapi juga internasional.

Salah seorang pengusaha industri batik yang terbilang cukup sukses mengembangkan kerajinan tangan nan eksotis ini adalah Siti Maimona. Dengan sedikit modifikasi motif dan warna sesuai tren—namun tetap mempertahankan ciri khas teknis pembuatannya—perajin wanita ini mampu memenuhi selera konsumen papan atas baik dari dalam maupun luar negeri.

”Batik tulis Bangkalan, Madura kini bisa disejajarkan dengan Batik Pekalongan, Jogja, Solo, dan wilayah Indonesia lainnya. Malah batik tulis ini, kini digandrungi kalangan kelas atas,” katanya.

Bersamaan dengan booming-nya batik dua tahun terakhir, kata Siti, dia bersama perajin batik tulis binaannya memang dituntut terus berkreasi. Motif dan warna memang boleh mengalami modifikasi untuk mengikuti selera pasar. Namun soal proses pembuatan, Siti tetap mempertahankan teknik warisan leluhur. Ini demi menjaga kekhasan kualitas batik Madura yang dikenal tak gampang pudar dan tetap tahan lama.

Salah satu jenis batik tulis Tanjung Bumi yang menjalani proses pembuatan panjang adalah batik gentongan. Untuk membuat batik jenis ini, dibutuhkan waktu hampir satu tahun. ”Jika zaman dahulu nenek moyang kita memproses pembuatan batik gentongan dalam waktu setahun, maka proses ini tetap kami ikuti. Kita harus konsisten menerapkan pakem yang telah ada,” ujar Siti.

Termasuk penggunaan warna untuk membatik, Siti mengatakan, pihaknya tetap mengikuti apa yang dilakukan pembatik zaman dulu, yaitu memakai pewarna alami (bukan zat pewarna kimia). Pewarna alami itu, lanjutnya, diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Madura maupun daerah lain.

Menurutnya, penggunaan perwana alami inilah yang menjadi salah satu kelebihan produk batik Tanjung Bumi. Corak warna batik tulis dari wilayah ini tidak mudah pudar meski usia batiknya telah menginjak usia ratusan tahun.

”Buktinya, saya punya banyak batik tua peninggalan buyut kami. Meskipun usianya di atas seratus tahun, pewarna alam tidak pudar. Ini bukti nyata,” kata Mei sembari menunjukkan belasan batik kuno dengan berbagai corak dan warna yang masih bagus.

Sementara itu, guna tetap melestarikan corak dan motif kuno batik gentongan asli Madura, Siti dan para perajinnya kini tengah berusaha merepro ulang kekhasan itu. Namun sekali lagi, tegas Siti, proses produksi batik itu tetap mengikuti pakem kuno yang ada, mulai dari teknik pembuatan hingga bahan yang digunakan.

”Sekarang ini pengoleksi batik lebih menyukai original. Sehingga, para pecinta batik banyak yang memburu corak kuno. Tentunya, batik gentongan sangat cocok. Karena proses pembuatan serta pewarnaannya mendapat perlakuan sama seperti batik kuno,” terangnya.

Karena keistimewaan dari sisi motif, corak, karakter, hingga proses pembuatan yang lama itulah harga batik gentongan di pasaran terbilang cukup mahal. Saat ini harga batik khas Bangkalan ini untuk satu helainya bisa mencapai Rp 5 juta.

”Saya menjual batik gentongan karena nilai seninya. Ini bukan sekedar menjual batik. Kita mempunyai beban moral menyelamatkan budaya asli Bangkalan ini yang tidak dimiliki orang lain atau daerah lain,” tandasnya.

Disebut batik gentongan, tutur Siti, karena dalam proses akhir pembuatannya, kain batik ini harus direndam dalam air selama setidaknya tiga hingga enam bulan.

Namun jauh sebelum memasuki tahapan akhir itu, kain batik gentongan pada awalnya harus menjalani proses lecaan atau pelembutan dengan direndam minyak kacang atau randu selama dua bulan. Berikutnya, setelah dikeringkan, kain baru bisa digambar dan diwarnai.

Siti mengatakan, kain lalu memasuki tahap pembilasan pertama selama satu bulan. Tak cukup sampai di situ, untuk menutup gambar dan mewarnai kembali dibutuhkan waktu sampai tiga bulan. Baru setelah itu dilanjutkan sesi perendaman terakhir dalam gentong dengan waktu berbulan-bulan itu.

Untuk menggenjot produksi, Siti kini sudah mempunyai perajin binaan yang mencapai 90 pembatik. Mereka mayoritas berdiam di wilayah Tanjung Bumi. Namun ada sebagian yang ditempatkan di bengkel kerja batik Siti, di Kelurahan Pejagan, Kota Bangkalan.

”Perajin binaan kita setiap saat menyetok batik. Namun begitu kita hanya mempunyai stok gentongan yang sedikit, karena proses pembuatannya lama,’’ tegasnya.

Untuk terus mengenalkan dan memasarkan hasil kerajinan asli Madura ini, Siti mengintensifkan upaya mengikuti berbagai pameran mulai di Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogyakarta, hingga Bali dan bahkan ke luar negeri.

Dalam waktu dekat Siti dijadwalkan mengikuti pameran batik di Jepang. Tentu, dia bakal membawa batik gentongan yang menjadi andalan produknya. Pameran batik Madura di Negeri Sakura ini dinilai tepat. Sebab warna dominan merah yang dihasilkan pembatik Madura sangat mungkin disukai orang Jepang. ”Orang Jepang suka warna merah. Sementara batik Madura dominan warna merah,” kata Mei.

Pemilik galeri “Pesona Batik Madura” ini berharap dengan mengikuti pameran, diharapkan batik asli Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura akan semakin dikenal masyarakat dunia. ”Kami sadar bahwa hak paten batik itu dimiliki Malaysia . Tapi kami harus tetap bangga karena Indonesia punya historisnya. Sejarah batik tidak dimiliki Malaysia,” jelasnya.

Siti juga sangat bangga karena upaya pelestarian batik Bangkalan mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Siti mengatakan, Ketua Tim Penggerak PKK Bangkalan Siti Masnuri Fuad (Imas) selalu intens membina dan mendukung agar kerajinan batik Madura tetap terjaga kelestariannya.

”Ibu Imas sangat perhatian kepada para perajin. Beliau membina kami hingga batik Madura bisa dikenal banyak kalangan,” pungkas Siti. (kas)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 21 Maret 2009

Label: , ,

Tanjungbumi Dengan 'Batik Gentong' yang Eksotik

Beberapa Motif batik Madura (Koleksi pribadi Ibu Maimonah - Bangkalan/amelia)

Pagi itu memang hari sangat terik di Surabaya. Dan jembatan Suramadu telah dipadati oleh penyeberang. Hari ini saya akan melanjutkan perjalanan saya untuk menyusuri jejak batik Jawa Timur ke pulau garam Madura. Tepatnya di kota Bangkalan.

Lebih dahulu saya ingin mengunjungi seorang pengusaha batik yang telah merintis usahanya dari generasi ke generasi, Siti Maimona di kota Bangkalan - Madura. Tepatnya 10 kilometer dari jalan baru tol Suramadu. Bu Mai (begitu sapaan akrabnya) juga seorang kolektor dari batik-batik yang sudah berusia ratusan tahun.

Sayang saat saya berkunjung, bu Mai sedang keluar kota. Tapi ada beberapa orang keluarga yang juga asistennya mau menggantikan. Abdulrahman, menemui kami untuk menjelaskan tentang batik Madura.

Mulai 1998 Siti Maimona mulai serius mengolah batik. Pada awal usahanya Bu Mai hanya dibantu keluarganya namun kemudian dapat mempekerjakan masyarakat sekitarnya terutama perempuan.

Beberapa Motif batik Madura (Koleksi pribadi Ibu Maimonah - Bangkalan/amelia)

Menggunakan motif klasik, moderen, atau kombinasi. Hal itu berdasarkan pesanan atau ketertarikan pembeli pada motif yang ada. Kebanyakan dari kreatifas dari Bu Mai sendiri. Atau memberikan kesempatan pada perajinnya untuk membuat pola, lalu direngreng (menggambar pada kain batik).

Saat ini dapat menghasilkan 300 – 400 lembar kain per bulan, dengan kualitas rendah (warna sintetis, penggambaran kasar dan canting ukuran besar) oleh 80 orang perajin binaannya. Sedang untuk batik yang halus karena pengerjaan lebih lama maka dihasilkan lebih sedikit berkisar puluhan lembar. Apalagi jika merupakan batik gentongan (untuk warna biru). Selain perendaman yang membutuhkan waktu, juga dibutuhkan keahlian dalam meramu warna alami untuk menghasilkan warna-warna tertentu.

Jika pola yang ada cocok untuk pengerjaan secara eksklusif maka batik tersebut akan dikerjakan dengan pewarnaan sistem gentong, yang kemudian dikenal dengan batik gentong. Yang menjadikan batik olahan gentong ekslusif adalah waktu celup di gentong yang sangat lama dan bahan pewarna alami.

Proses pembuatan kain batik. Kain sebelum di rengreng lebih dahulu dilakukan proses lecak, yaitu kain direndam dengan sejenis biji-bijian nyamplong dicampur air abu, berfungsi agar kain hilang dari minyak dan bahan pengembang kain (kain bisa mengerut). Juga mengharumkan, menghaluskan dan membuat hasil pewarnaan lebih baik. Hal ini akan membuat proses selanjutnya lebih baik dan mudah. Proses ini membutuhkan waktu tiga minggu sampai satu bulan.

Beberapa motif yang sering diproduksi antara lain, carcena (ada pengaruh Tionghoa), sikmalaya, napaser, sarpoteh, sabe, truci, panjikereng, panji tongkol, panjisuci dan banyak lagi motif klasik lainnya.

Untuk batik-batik halus dan gentongan konsumen yang terbanyak masih dari Jakarta. Karena harganya yang masih cukup tinggi. Sedang konsumen luar negeri masih relatif kecil.

Koleksi batik kuno

Selain itu Bu Mai pemilik Pesona Batik Madura juga mengoleksi batik-batik yang berusia ratusan tahun. Batik yang dirawatnya dengan baik ini merupakan saksi sejarah keindahan dan kekayaan motif batik Madura.
Beberapa koleksi yang usianya 200 tahun antara lain mano’ juduh tarpotè kellèngan, tarpotè bangan, burubur”, rawan mèra”, tana pasèr mèra.

Koleksi batik kuno (Koleksi pribadi Ibu Maimonah - Bangkalan/amelia)


Gentongan Tanjungbumi

Setelah itu kami melaju kearah kecamatan Tanjungbumi berjarak 50 kilometer ke utara dari kota Bangkalan. Tepatnya didaerah Peseseh, daerah pesisir pantai dan memiliki pelabuhan tempo dulu. Menemui pengusaha batik yang telah dirintis empat generasi, Zulfa batik. Wuri dan Alim suaminya, meneruskan usaha batik dari ibunda Wuri, Bu Hajjah Zulfa. Sebagai keluarga pembatik, Wuri ingin juga melestarikan budaya batik Tanjungbumi yang terkenal itu.

Wuri pewaris batik Zulfa dengan batik gentongan koleksinya(oscar)

Tanjungbumi daerah pesisir pantai, memiliki riwayat tersendiri dengan batiknya. Dahulu batik menjadi pekerjaan perempuan di daerah itu untuk mengisi waktu luang menunggu suami mereka yang bekerja sebagai pelaut pergi ke daerah yang jauh, seperti ke pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Bagi perempuan Tanjungbumi, menunggu kedatangan suami merupakan saat-saat paling panjang dan menegangkan. Mereka selalu gelisah apakah suaminya bisa pulang kembali dengan selamat dan bisa membawa uang untuk biaya rumah tangga. Untuk mengurangi rasa gelisah tersebut, akhirnya mereka mulai belajar membatik. Namun, hingga kini belum ada yang dapat memastikan kapan para istri itu mulai membatik.

Selain itu masyarakat disana juga memiliki budaya, batik digunakan untuk simpanan. Yang diperlakukan sebagai emas atau tabungan. Atau disimpan untuk diserahkan kepada anak dan cucu, sebagai tanda kasih dan cinta ibu. Batik menjadi salah satu sumber kekayaan dan kebanggaan mereka. Tak heran mereka melakukannya dengan sepenuh hati.

Nilai ini semakin bergeser karena zaman, membatik bukan lagi sebagai tanda kasih dan cinta ibu, namun semata-mata untuk mencari uang. Nilai komersial ini menjadi salah satu sebab mengapa hasil penggarapan batik tidak lagi sebagus yang dahulu?

Kegiatan yang dilakukan untuk membunuh waktu itu sekarang menjadi industri rakyat yang cukup besar. Tanjungbumi menjadi kecamatan terbesar di Madura yang memproduksi batik. Popularitas mulai dikenal penggemar batik Tanah Air.

Sekarang di Tanjungbumi ada 530 unit usaha batik dengan 1.000-an perajin. Jumlah tersebut belum termasuk para perajin yang mengerjakan secara perorangan yang sifatnya hanya sekadar kerajinan tangan saja. Unit-unit perbatikan itu tersebar di Desa Macajah, Desa Telaga Biru, Desa Paseseh dan Desa Bume Anyar.

Pada zaman dahulu, membatik menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan untuk batik gentongan bisa mencapai satu tahun proses hanya untuk sepotong batik. Hal ini karena motif yang sangat rumit dan detil. Luar biasa. Benar-benar sebuah mahakarya.

Tak salah jika sepotong batik gentongan Tanjungbumi ini berharga antara 2,5 juta hingga 5 juta rupiah bahkan lebih. Lebih mahal daripada emas. Bahkan untuk batik sutra, karena batik gentongan atau tulis yang halus, gambar motifnya bolak-balik/dua sisi, sedangkan pada sutra hanya satu sisi saja.

Batik gentongan merupakan batik khas Tanjungbumi, bercirikan warna yang berani (colour full) dan pengerjaan yang halus. Motif-motifnya beragam, namun tidak dapat diketahui secara pasti apakah yang menjadi motif klasik batik gentongan. Seperti yang kebanyakan, motif kembang randu, burung hong, sik melaya, ola-ola dan banyak lagi.

Motif-motif klasik Tanjungbumi sikmalaya, ola-ola, (Oscar)

Bagaimanakah membedakan batik gentongan (memiliki warna biru dengan pewarna alami) dan batik biasa yang memiliki warna biru dongker dari bahan kimia? Ternyata menurut Wuri, sangat sulit membedakannya, kecuali pembatiknya sendiri. Ini tergantung dari kejujuran penjual batik kepada pembeli. Namun jika beruntung, batik gentongan ada yang masih memiliki aroma rempah-rempah karena perendaman.

Meski kekuatan warna gentongan dan batik halus pewarna sintesis sama, namun batik gentongan makin lama warnanya makin cemerlang meski kainnya telah rapuh.

Wuri kemudian menunjukkan batik gentongan miliknya yang sangat indah, bermotif til cantil. Batik dengan motif tersebut digunakan untuk kain gendongan anak bangsawan pada zaman lampau. Dan telah dihargai 5 juta rupiah namun Wuri belum ingin melepasnya. Menurutnya, batik tersebut langka karena pengerjaan yang halus dan motifnya sangat indah.

“Batik gentongan kami memang mahal, tapi kami menjual kualitas. Seperti batik ini sangat halus dan sudah ditawar 5 juta rupiah tapi saya belum ingin melepasnya. Karena motifnya indah dan pengerjaannya halus.”

Biasanya pembeli langsung membeli jika ada batik dengan motif bagus, karena untuk memesan jarang bisa mendapatkan motif yang benar-benar sesuai dengan yang diinginkan.

Proses Pembatikan

Perlakuan pertama dari proses batik Jawa Timur sedikit berbeda, yaitu adanya proses perendaman kain mori menggunakan minyak nyamplong dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku. Setelah itu baru kain di beri gambar motif (direngreng) pada kedua sisinya. Lalu diberi malam. Dan proses pewarnaan. Proses ini merupakan proses paling penting karena pada batik Jawa Timuran memiliki banyak warna. Warna yang dihasilkan adalah ukuran berhasil tidaknya proses pembatikan yang dilakukan.

Gentong yang digunakan untuk merendam kain batik. Usia gentong tersebut sudah seratus tahun, yang dimiliki turun temurun. Batik yang sedang diangin-anginkan (tengah). Batik gentong yang jadi (oscar)

Seperti pada batik gentongan, lamanya perendaman batik dalam gentong juga menentukan warna biru yang dikehendaki. Atau pewarnaan dengan warna lain yang direndam dengan warna tertentu lalu disikat hingga berulang-ulang agar didapat warna yang dikehendaki.

Setelah didapatkan warna yang dikehendaki maka dilakukan proses lorotan yaitu melorotkan atau meluruhkan lilin atau malam dengan air mendidih. Baru kemudian dijemur dipanas matahari.

Mitos Gentongan

Dalam pemrosesan batik gentongan, dihentikan jika ada tetangga yang meninggal hingga tujuh harinya. Semasa penyimpanan dalam gentong, setiap hari dilakukan proses pengangkatan dan kain diangin-anginkan. Jika ada yang meninggal proses ini dihentikan. Jika dipaksakan maka menghasilkan warna yang pudar.

Menurut Abdulrahman, masyarakat perajin batik gentongan masih meletakkan sajen setiap tujuh bulan sekali. Dengan harapan agar batik gentongan hasilnya sesuai yang diinginkan.

Mengapa hanya di Tanjungbumi?

Batik gentong hanya ada di Tanjungbumi - Madura, belum ditemukan dibuat di daerah lain. Ini dikarenakan air yang ada di pulau Madura. Air yang berkadar kapur tinggi sangat menguntungkan untuk proses pewarnaan. Warna menjadi lebih cemerlang. Sedangkan didaerah lain warnaya tidak dapat sebagus di Tanjungbumi.

Bahan alami kulit pohon jambal untuk warna kuning (amelia)

Khusus batik gentongan memakai pewarna alami atau soga alam. Warna merah bisa diambil dari kulit mengkudu, warna hijau dari kulit mundu dicampur tawas, biru dari daun tarum. Kepekaan warna dicapai dari lamanya waktu merendam. Pewarna alam lainnya yang kerap dipakai, baik untuk gentongan maupun jenis batik lainnya antara lain kulit buah jelawe, kayu jambal, dan lainnya.

Kebanyakan batik Madura memilih warna terang, merah, kuning, hijau. Namun, batik gentongan memiliki warna yang beragam. Motif tarpoteh (latar belakang poteh/putih) misalnya, mencitrakan warna yang elegan, seperti hitam dan coklat pada motif-motifnya

Masa depan

Tanjungbumi sebagai sentral dari batik Madura, telah memiliki trademark tersendiri untuk batik Jawa Timur, mengharapkan pada waktu dekat akan memiliki kelompok perajin batik Tanjungbumi sendiri untuk mengembangkan produksi mereka.

Perajin mendapat kesempatan lebih untuk memperkenalkan lebih luas batik Madura khas Tanjungbumi. Keunikan dan karakter tersendiri dari batik gentongan.

Perajin batik masih didominasi oleh kaum perempuan, jika pemasaran batik lebih meluas maka produksinya meningkat. Tentu hal ini akan lebih memberdayakan perajin dan meningkatakan taraf hidup mereka yang konon Tanjungbumi banyak perempuannya berstatus janda.

Menurut Alim untuk meningkatkan taraf hidup perajin dan batik khususnya Tanjungbumi adalah dengan menjual batik dengan harga yang tinggi dan memberikan upah pada perajin dengan tinggi. Hal ini juga dapat tetap melestarikan batik Tanjungbumi yang mulai banyak ditinggalkan karena banyaknya pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. (ET_Sby/Amelia/Oscar)

Sumber: Epochtimes, Jumat, 10 Juli 2009

Label: , , , ,