Makanan Khas Pulau Giliyang

Rujak Lontong


Bahan utamanya lontong diberi bumbu kacang, campur petis, sedikit pisang biji dan garam serta bumbu rajak lainnya. Untuk menunjang kesehatan, juga diberi sayuran, semisal kangkung dan irisan kacang panjang. Kripik dari bahan dasar singkong menjadi favorit warga setempat. Satu porsi dipatok Rp 2.500,-.

Nasi Jagung

Nasi jagung dan nasi putih juga tersaji di setiap warung. Bercampur lauk pauk dan ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat menjadi menu utama hampir di setiap pojok kampung. Tarifnya hanya Rp 5.000,- setiap porsi.

Siwalan

Tak hanya itu, buah yang mudah dikonsumsi dan mengandung manfaat besar yakni buah siwalan atau bahasa latin borassus flabellifer dan tergolong tumbuhan palma terlihat tumbuh dengan subur.

Banyak manfaat dari buah siwalan itu, warga setempat mengambil daging buah pohon siwalan dan 'legen'. Warga setempat mempunyai keyakinan jika minum air legen akan mampu menyembuhkan beragam penyakit organ dalam, seperti stroke, liver, kanker dan kencing manis. Selain itu dibuat gula merah untuk keperluan lainnya.

Sumber: Surabaya Post, Minggu, 22/01/2012

Harga Makanan:
  • Rujak Lontong Rp 2.500,- per porsi
  • Nasi jagung/putih Rp 5.000,- per porsi

Label: , , , , ,

Soto Madura



Label: , ,

Nikmatnya Sate Lalat

Penikmat sate
ANDA pernah merasakan sate lalat? Nah, jika berpelesir ke Pulau Garam, cobalah mampir ke warung Pak Yuto, di Jl Niaga, Kota Pamekasan. Pasti Anda akan ketagihan setelah merasakan nikmatnya sate 'lalat'.

Jangan buruk sangka, sebab sate 'lalat' ini adalah sebutan saja. Sesuai namanya, daging ayam, kambing dan daging sapi diiris kecil-kecil seukuran lalat.

“Inilah perbedaan sate 'lalat', irisan dagingnya kecil-kecil, begitu juga dengan racikan bumbunya. Ada kacang campur kecap plus rempah rahasia sehingga terasa mantap di lidah konsumen,” kata Yanto, pemilik warung sate 'lalat', pada zonaberita.com, Kamis (13/1/2011).

Dalam sehari, penjual sate lalat' asal Desa Sentol, Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan, Madura, jika masuk masa panen tembakau, dapat menghabiskan antara 15-20 kilogram daging ayam dan kambing. Namun, jika cuaca buruk, seperti hujan yang terjadi beberapa hari terakhir, lelaki berusia 40 tahun ini hanya menghabiskan antara 2 sampai 5 kilogram daging sapi dan ayam.

Kenikmatan sate 'lalat' tak hanya terletak pada bumbu rahasia keluarga Pak Yuto, tapi dari cara memanggang dagingnya.

“Rasa sate 'lalat' sangat enak, bukan hanya pada bumbunya saja, tapi dagingnya yang dibakar setengah matang,” ujar salah seorang penikmat sate 'lalat'.

Nah, jika Anda ingin merasakan nikmatnya sate 'lalat', cobalah datang ke warung Pak Yuto selepas pukul 16.00 WIB. Harga per porsi sate “lalat” plus segelas teh hangat cukup bersahabat, hanya Rp 7.500.

Sate 'lalat' telah dirintis sejak 30 tahun lalu. Kali pertama, adalah almarhum kakeknya, bernama Arbes. Setelah wafat, generasi kedua turun ke Pak Ento, selanjutnya turun pada Pak Yuto. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Kamis, 13 Januari 2011

Label: , ,

Mantapnya Soto Toronan

foto:nen/zonaberita.com
Salah seorang konsumen tengah melahap soto toronan

Anda pernah mencoba soto toronan. Jika berplesir ke Pamekasan, Madura, cobalah singgah salah satu stand Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada) di Jl Niaga Kota Pamekasan.

Makanan ini beda dengan kuliner yang ada di Pamekasan, sebab sebelum dihidangkan Thohir pemilik stan sekaligus peracik soto toronan, lebih dulu mencolek satu sendok teh mentega dan disaputkan ke atas piring. Rasanya pun jadi lebih mantap dan beda dengan jenis soto khas Madura.

Sebagai pelengkap, juga ditambahkan mi soun, lalu ditutup dengan krupuk kancur. Agar nikmat, Thohir melengkapi dengan irisan ayam kampung yang dikukus, irisan telur rebus plus irisan kentang rebus. Terakhir, seluruh bahan baku soto itu ditaburi bawang goreng.

Lantas bagaiaman rasanya? Adi Setiawan, salah seorang konsumen, mengatakan, rasanya sangat khas. “Rasanya khas sekali, beda dengan soto yang lain, “ujarnya.

Kendati bekerja di Jakarta, setiap pulang ke Pamekasan, bapak dua anak bersama keluarganya selalau menempatkan ke stand soto toronan.

Soto toronan pertama kali dikenalkan oleh mendiang Sauri alias Kustiyah di era 1960-an. Awalnya, mendiang Kustiah membuka warung soto toronan di pojok Jl Sadangdang. Di awal tahun 2000, Kustiyah digantikan aak keduanya, yakhi Tohir.

Lantaran ada pelebaran jalan, warung soto toronan di Jl Sadangdang ditutup. Tohir lalu membuka warung di Jl Niaga, pusat kuliner khas Madura.

Menurut Tohir, istilah toronan sebenarnya adalah nama sebuah Kampung di Kelurahan Kowel, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura. Karena dijual secara turun-temurun, pelanggan menjuluki makana yang dijualnya dengan sebutan soto toronan. Dalam bahasa Madura, toronan adalah turun-temurun atau keturunan keluarga.

Lantaran hanya dijual di kota Pamekasan, soto toronan pun menjadi menu nostalgia bagi warga kota yang kini berusia di atas 40-an.

kIni Thohir menjajakan soto Toronan di salah satu stand di Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada) di Jl Niaga Kota Pamekasan. Seperti pedagang makanan lainnya, Thohir mulai membuka warung sotonya selepas salat Ashar. Harganya cukup ekonomis. Satu porsi soto Toronan plus segelas teh hangat hanya Rp 7.000. (nen/isp)

Sumber: zonaberita.com, Minggu, 17 Oktober 2010

Label: , ,

Soto Rujak Sumenep Cocok Menu Makan Siang

Anda ingin mencari menu makan siang yang berbeda. Cobalah Soto Rujak Sumenep, Madura. Pastinya makan siang ini mampu menggoda lidah para pemburu kuliner.

Soto rujak Sumenep ini makanan yang sangat sederhana meski baunya menggugah selera. Bahannya hanya lontong, sayur, dan kuah yang sudah diberi bumbu. Cara membuatnya mirip soto pada umumnya. Namun soto rujak ini diberi kacang, kecap dan bawang daun mentah.

Tak ayal, jika soto rujak Sumenep ini sering dicari pecinta kuliner. Terutama saat jam makan siang. Cara penyajiannya pun sangat cepat, hingga tidak membuat pemburu kuliner kelaparan karena menunggu. Apalagi tersedia krupuk lokal Sumenep juga menjadi penambah rasa soto rujak tersebut.

Para pemburu kuliner ini dari semua kalangan. Baik PNS, pekerja swasta, kalangan
umum. Bahkan, jurnalis dari luar kota yang kebetulan bertugas di Sumenep juga tak ketinggalan mencicipinya.

Salah satu penjual soto rujak di Sumenep yang ramai dikunjungi orang yakni milik Ibu Hj. Ranti (43) yang biasa mangkal di Jalan Meranggi, Pangarangan. Di warung itu sehari-harinya diserbu pembeli hingga 300 orang lebih.

"Pembeli soto rujak membludak mas. Mereka dari instansi pemerintah dan swasta," kata Ranti kepada detiksurabaya.com di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan, Kamis (8/7/2010).

Dia mematok per porsi hanya Rp 4.000. Dengan didampingi es teh atau soft drink yang disiapkan dengan es batu, sudah memenuhi perut Anda. (fat/fat)

Sumber: detikSurabaya, Kamis, 08/07/2010

Label: , , ,

Soto Madura

Soto Madura adalah jenis soto yang berasal dari daerah Madura, Jawa Timur berbahan dasar daging sapi, telur rebus, kentang goreng dan tauge, dengan bumbu ketumbar, bawang merah , bawang putih, jahe, kunir, laos, Kemiri, jeruk purut dan garam secukupnya.

Variasi

Soto Sumenep: Soto ini disajikan dan dimakan dengan singkong, tauge goreng, bihun, bawang daun, bawang goreng, lontong, daging sapi atau usus sapi. Yang membedakan dengan Soto Pamekasan & Soto Bangkalan adalah bumbu kacangnya yang terdiri dari kacang, petis dan pisang muda yg di uleg halus.

Soto Pamekasan: terdiri dari kentang rebus, perkedel kentang, tauge, daging sapi atau daging ayam, soun, lontong, dan disiram dengan kaldu bening dengan bumbu merica dan bawang putih. Disajikan dengan bawang goreng, daun seledri, rempeyek dan bakwan jagung.

Soto Bangkalan: memakai tauge dan soun dengan daging sapi, ayam atau jeroan. Disajikan dengan ditaburi kentang goreng dan kuah kuning berbumbu kunyit dan jahe.


Sebagai kelengkapannya, segeralah anda mencobanya langsung di Kota Madura tersebut. Apalagi hidangan kuliner ini sangat mudah dijumpai di sana. Selamat bersantap Soto Madura! (id.wikipedia.org/rmb)

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 19 September 2008

Label: , ,

Kaldu Soto Sumenep

Kalau di kota buaya Surabaya makanan lima ribuan adalah makanan yang paling murah. Beda halnya di Sumenep, Madura. Dengan Rp4.500 sudah bisa menyantap makanan khas Madura yang kebanyakan orang menyebut KalSot (Kaldu Soto). Untuk mendapatkannya, juga tidak sulit jika pernah datang ke kota ujung timur pulau garam Madura, tepatnya di Jalan Zainal Arifin kota Sumenep atau sebelah timur Hotel Wijaya II. Banyak orang menyebutnya, Warung Pak Abi.

Kalsot merupakan makanan khas Madura. Sehingga masyarakat Sumenep sepertinya sudah kental dengan warung Pak Abi itu. Pembelinya dari semua kalangan, yakni anak-anak, remaja, masyarakat umum, pejabat. Bahkan, para tamu dari luar Madura.

Aktifitas di warung yang bersebelahan dengan sebuah dealer mobil bekas itu sangat ramai. Apalagi hari Minggu. Mereka ingin merasakan menu makanan ciri khas Madura. Sebab, di warung itu, tidak hanya menyediakan kalsot, tapi berbagai macam jenis makanan khas Madura lainnya tersedia dengan harga murah dan rasanya mantap.

Kalsot itu sendiri, terdiri dari bubur kacang hijau dengan aroma daging yang kental (soalnya ada kikilnya) serta di beri semacam apa ya namanya, itu... seperti gorengan ketela (kurkit kali, he he) di dalamnya dan dicampur dengan sedikit bawang merah dan seledri.

Mungkin untuk yang baru pertama kali mencicipi atau melihat makanan khas Madura itu, agak jijik. Tapi percaya deh, rasanya mantep banget!.

Kalau suka pedas, diberi sambel juga tambah ok! Tapi untuk makan ini jangan pernah bermimpi seperti direstoran yang bersih dan nyaman seperti di Surabaya lho. Ya... biasa namanya warung, tapi cukup nyaman untuk tempat makan seperti hari Minggu ini.

Ada lagi makanan di warung Pak Abi ini yang digemari pengunjung, Kalau di Surabaya banyak sekali kita temui Tahu Campur. Di Sumenep Tahu Campur ada di Pak Abi! Sebenarnya pak Abi ini menjual tidak hanya tahu campur saja, tapi juga bakwan dan gado-gado.

Tapi, tahu Campurnya Pak Abi ini memang khas lho! Yang membuat khas yakni ada bakso kotaknya sebagai isi dari tahu campur itu sendiri selain isi tahu campur yang lain yang biasa kita makan.

Masalah kebersihan, jangan khawatir, dijamin halal dan nggak bikin sakit perut! Mau coba? datang aja ke Kota Sumenep yang semakin cantik. (madurainfo.com/rmb)

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 19 September 2008

Label: , ,

Soto Bangsawan Madura


Selama ini makanan Madura yang paling mudah dijumpai di sudut Kota Surabaya berupa soto daging, rujak, dan bebek goreng. Rasanya mantap dan konon racikan Madura memang paling berani bumbu. Nah, salah satunya warung Reng Oneng.

Secara geografis, Madura memang dekat dengan Surabaya. Tentu saja banyak ditemui warung yang menyajikan makanan Madura di sekitar Surabaya. Penjualnya sebagian besar juga berasal dari daerah sama.

Umumnya makanan yang dijual sama. Berkisar antara soto daging, rujak, dan bebek goreng. Bahkan makanan terakhir membuat Surabaya memiliki makanan khas tersendiri. Agak melenceng dengan warung biasanya, seluruh menu di Reng Oneng Waroeng Madura berupa makanan khas Madura.

“Sebenarnya menu makanan yang kami sajikan biasa dimasak oleh ibu-ibu rumah tangga di Madura. Setidaknya angkatan nenek atau ibu saya,” ucap Riyano Dwi Permana, 31, pemilik Reng Oneng.

Permainan bumbu juga berperan di sini. Seperti pada soto ayam Pamekasan yang rasa kuahnya sangat segar meski lebih merah. Isinya berupa irisan telur ayam, daging ayam disuwir, bihun, keripik kentang, perkedel kentang, dan irisan tepung goreng. “Tepung goreng tersebut dibuat dari kecambah goreng yang dicampur tepung terigu,” kata Riyano.

Zaman dahulu hanya kalangan bangsawan yang boleh mencicipi segarnya kuah soto ayam Pamekasan. Tidak heran, sebab resep soto bangsawan Madura yang dipakai Riyano merupakan turun temurun dari kakeknya yang dulu pernah menjadi Residen Madura.

Harga soto ayam Pamekasan ini Rp 17.000 per porsi. Mungkin agak mahal untuk jenis soto ayam dibanding biasanya yang dijual di kaki lima. Namun, rasanya memang beda. Sehingga sebanding dengan harganya.

Berikutnya, ada rujak Madura. Bahan petis yang dipakai pada rujak Madura berbeda dengan rujak petis atau cingur. Petis rujak Madura terbuat dari ikan cakalan (tongkol), sedangkan rujak petis biasanya berbahan petis udang.

Lauk rujak Madura juga berbeda. Selain sayuran, tempe, tahu, rujak Madura memakai rumput laut dan kripik singkong sebagai lauk. Kripik tenggang yang terbuat dari singkong menambah keunikan sajian makanan Madura ini.

Setelah melahap banyak sajian sedap dan lezat ini, rasa haus terpuaskan dengan minuman wedang pokak. Sekilas mirip wedang jahe, tetapi terasa lebih manis dan tidak terlalu pedas. Pokak terbuat dari daun serreh dan gula merah, bisa dinikmati hangat atau dingin. Khasiatnya menambah nafsu makan, menghangatkan tubuh, dan memperbaiki pencernaan. Segelas pokak harganya Rp 6.000.

Asal Sebuah Nama

Riyano dilahirkan dari pasangan ayah Pamekasan dan ibu Sumenep. Usaha kulinernya dimulai sejak 2006. Selain di Hotel Surabaya Plaza, Reng Oneng juga ada di kawasan G-Walk.

Reng Oneng sebenarnya dari kata Oreng Oneng, artinya orang tahu. “Bahasa Madura jika ada suku kata sama di depan, maka harus dihilangkan. Jadilah Reng Oneng,” jelas Riyano.

Nama juga yang membuat semua menu Reng Oneng jadi unik. Seperti nasi jajhan, nasi serpang, atau soto sabrang. Nasi jajhan berupa nasi putih dengan bihun goreng, telur ayam berbumbu santan kuning, kering tempe, dendeng daging sapi, sambal, daging osik-osik (daging bumbu rendang), serta serundeng kelapa.

“Daging dendengnya renyah dan pesan langsung dari Pamekasan. Beda dengan dendeng daging biasa,” ujar Riyano.

Sedangkan nasi serpang diambil dari nama sebuah desa yang terletak beberapa kilometer dari Kota Bangkalan. Desa tersebut jadi terkenal karena kelezatan nasi yang memakai lauk dari laut, yaitu udang. Lauk yang dipakai pada nasi serpang hampir sama dengan nasi jajhan. Hanya ditambah udang goreng dan tahu bumbu kuning. Serta ditemani renyahnya peyek kacang.

“Soto jenis lainnya yang ada di Reng Oneng, soto sabrang. Sabrang artinya singkong dalam bahasa Madura Sumenep,” terang Riyano. (ida/mg1)

Sumber: Surabaya Post, 28/02/2010

Label: , , , ,

Tergoda Kerenyahan Snack Madura

Ternyata, jajanan asli Madura begitu beragam. Tidak sekadar keripik singkong yang sudah moncer dalam khazanah jajanan Tanah Air. Jajanan asli dari Pulau Garam, Madura ini begitu kaya rupa, sekaligus kaya rasa.

Dalam ragam kacang-kacangan misalnya, dikenal ada kacang tolo, kacang beras, kacang hijau, hingga kacang tanah Madura bertabur lorjuk yang benar-benar pas membagi rasa gurih dan asinnya saat digerus bersamaan dan menyentuh lidah perasa.

Demikian pula dengan ragam keripik. Ada pilihan yang benar-benar menggiurkan. Ada keripik paru yang sungguh kemripik begitu dipilah dengan gigi. Demikian pula keripik sukun, keripik tales, hingga rengginang ketan tabur lorjuk, yang sama-sama renyah.

Di mana titik keunikan semua jajanan Madura ini? “Pada cara mengolahnya,” ujar Diana Syahrini, pengelola Dee’s Past@ and Snack mengenai aneka kacang dan keripik yang diusungnya langsung dari sentranya di Pamekasan, Madura.

Diana sendiri awalnya spesialis penyedia ragam pasta dan macaroni schotel. “Namun saat mencoba menambahkan variasi dagangan dengan ragam snack Madura ternyata banyak juga yang menyukainya,” ujar ibu dua jagoan cilik ini mengenai keragaman dagangannya.

Di saat ramai karena even tertentu (seperti Lebaran, Natal, dan liburan hari-hari besar nasional) ia bisa mengirimkan puluhan kilo snack Madura ini ke luar kota. “Baru saja habis karena harus dikirim ke Jakarta,” imbuhnya menginfokan kosongnya stock snack Madura.

Diana membenarkan, ragam jajanan khas Madura ini juga banyak ditemukan di tempat-tempat lain. Namun, ia menilai sentra tempat ia memutuskan mengepul jajanan di kawasan Pamekasan ini karena citarasa yang disuguhkan mampu bertahan selama berpuluh tahun.

“Mereka mampu menjaga kualitas dan tetap tidak berubah citarasanya yang khas, ya renyahnya, ya gurihnya, juga garingnya terasa pas di lidah semua orang,” ujar Diana yang mengendalikan bisnis rumahannya dari daerah Pacar Kembang VCI No 5 Surabaya ini.

Ia mencontohkan keripik paru balut tepung. Dalam kemasan kantong plastik berisi 250 gram, kerenyahan keripik paru sapi dan rasa gurihnya benar-benar terasa bahkan hingga remahan tepung yang membalutnya.

“Ada yang dijual dalam bentuk lembaran seperti ini, yang kemudian bisa digoreng sendiri setelah dipotong-potong sesuai selera. Atau yang tidak ingin ribet dan repot, bisa langsung memilih keripik yang sudah dalam kemasan siap santap,” saran perempuan berdarah Madura ini.

Rasa gurih, garing, dan renyah keripik paru berbalut tepung ini memang bisa disuguhkan sebagai snack yang beda dari biasanya. Selain bisa disantap begitu saja, keripik paru ini juga bisa dimanfaatkan laiknya kerupuk teman menyantap nasi.

“Kalau yang suka, silakan saja, karena citarasa tetap tidak berubah kok,” benar Diana mengenai keripik paru yang dalam kemasan 250 gram itu dibanderol dengan harga Rp 40.000.

Citarasa unik lainnya dari jajanan khas Madura ini adalah rengginang lorjuk dan kacang Madura lorjuk. Jika biasanya rengginang (snack berbahan dasar beras ketan putih, dibentuk bulat lalu digoreng garing) ini hanya sekadar dibumbui campuran garam dan bawang putih.

Maka, rengginang Madura masih diimbuh dengan taburan lorjuk. Yakni sejenis ikan laut berbentuk mungil dan memiliki citarasa gurih. Memang renyah dan gurih karena imbuhan lorjuk di bagian atas tubuh rengginang yang dalam satu kemasan berisi 250 gram dengan harga per kemasan Rp 15.000.

Demikian pula dengan kacang (tanah) Madura campur lorjuk. Jika biasanya kacang tanah digoreng garing dengan taburan irisan bawang putih goreng. Sebagai gantinya bawang putih goreng adalah lorjuk goreng. Sebungkus berisi 400 gram dengan harga Rp 30.000 rasanya kurang, meski hanya disantap sendirian.

“Ada yang bilang kalau sudah kena kacang-kacangan terasa susah menghentikan untuk ngemil,” canda Diana menirukan salah satu pelanggannya. Hmm boleh juga ya… (tri)

Sumber: Surya, Sabtu, 30 Januari 2010

Label: , , ,

Soto Sabrang

Label: , ,

Nasi Serpang Kuliner Madura

Nasi Serpang sebagai pusaka kuliner pantas diselamatkan. Ia diracik berdasarkan resep masakan para leluhur warga Madura. Nasi Serpang merupakan masakan paduan dari bahan makanan segala penjuru, maksudnya dari penjuru daratan, pantai sampai dengan lautan. Dari ikan laut sampai dengan daging hewan daratan.

Bahan makanan yang dimaksud, antara lain:
  • Nasi
  • Pepes ikan tongkol
  • Kerang dimasak sambal goreng
  • Soun bumbu kecap
  • Telor asin masir
  • Sambal terasi
  • Krupuk rambak bumbu rujak
  • Dendeng daging sapi Madura
  • Kripik paru
  • Rempeyek ikan teri dan kacang
Bagaimana? Lauknya colour full, khan? inilah Kekhasan Nasi Serpang. Satu lagi kekhasan Nasi Serpang, yaitu nyaris tak ada sayur yang nongol di belantara lauk pauknya. Hal ini juga akan Anda jumpai hampir di setiap masakan made in Madura. Mau yang Sate Madura, Soto Madura, Topa’ Ladha.

Kesimpulannya: Kaya Lauk, Minim Sayur. Bermacam-macamnya lauk Nasi Serpang mengajak kita menjelajah cita rasa masakan pedalaman hingga pesisir.

Belantara cita rasa pedalaman dapat Anda temui pada lauk dendeng daging sapi yang bahan dasarnya adalah daging Sapi Madura. Cita rasa pedalaman juga bisa Anda gali dari secuil telor asin masir yang bahan dasarnya telur bebek.

Sementara cita rasa pesisir dapat Anda telusuri dari pepes ikan tongkol yang berwarna merah karena ada keterlibatan unsur cabai merah dan tomat. Rasanya? Pasti ada asinnya dong, khan bernuansa pesisir. Anda juga bisa memergoki rasa pesisir bercampur pedalaman dari kerang yang dimasak dengan bumbu sambal goreng.

Sambal terasi Nasi Serpang pasti dengan mudah dapat Anda bedakan dengan sambal terasi ala masakan Jawa. Sambal terasi khas Madura teksturnya kasar dan liat menyerupai petis, jadi tidak cair. Konsep sambal terasi seperti ini juga dapat Anda jumpai pada masakan khas Kabupaten Gresik, Jawa Timur: Nasi Krawu. Maklum, kreator Nasi Krawu tak lain adalah orang-orang Madura yang merantau ke Gresik. Akhirnya cita rasa Nasi Krawu tak jauh dari masakan khas Madura. Mari kita lanjutkan pengembaraan di belantara cita rasa Nasi Serpang.

NASI

Sumber karbohidrat pada Nasi Serpang ini memiliki rasa punel. Cita rasa ini diperoleh bukan hanya dari bahan dasar beras yang berkualitas namun juga dari tata cara pendinginan nasi.

Nasi dalam penyajian masakan khas Madura, mayoritas disajikan dalam keadaan dingin. Mulai dari Soto sampai dengan Sate, bila dalam penyajiannya disandingkan dengan nasi, maka nasi tersebut lebih sering dijumpai dalam keadaan dingin.

Teknik pendinginan ini sangat khas sehingga tak hanya berdampak pada suhu nasi menjadi dingin, namun juga mengakibatkan rasa punel mendekati tingkat liatnya ketan. Ini tidak mengada-ada.

Cobalah Anda bandingkan antara nasi dingin buatan jenis masakan lain dengan Nasi Serpang. Sensasi liat dari Nasi Serpang meski dalam keadaan dingin membawa kita pada sudut lain dari dunia makan-memakan.

Teknik pendinginan inilah yang membedakan nasi dalam unsur masakan Madura dengan nasi pada masakan asal daerah lainnya. Hal serupa dapat Anda jumpai pada kasus jamu. Jamu ramuan Madura tentu berbeda sensasinya dengan ramuan daerah lain. Meski nama, atau jenis atau manfaatnya sama yaitu jamu. (http://nasiserpang.blogspot.com/)

Sumber: kabarmadura On Thursday, 4 December 2008

Label: , , ,

Telur Petis Ola Madura

Bahan:
  • 6 butir telur, direbus
  • 2 lembar daun jeruk purut
  • 500 ml santan (1/2 butir kelapa)
  • 1 sendok makan petis
  • 10 buah cabai rawit utuh
Bumbu halus:
  • 5 siung bawang putih
  • 2 cm jahe
  • 2 cm kunci
  • 2 cm kunyit
  • garam
Cara membuat:
  • Kupas telur rebus, sisihkan.
  • Tuang santan ke dalam panci.
  • Tambahkan daun jeruk, petis, dan bumbu halus.
  • Lalu rebus sambil diaduk hingga mendidih.
  • Masukkan telur dan cabai rawit.
  • Masak hingga bumbu meresap.
  • untuk 6 porsi (kulinerkita.com)

Sumber: kabarmadura On Thursday, 4 December 2008

Label: , ,

Yuk, Makan Nasi Jagung Madura

warta Kota/Dian Anditya Mutiara
Nasi Jagung Madura
MENDENGAR kata makanan Madura, yang terbayang di benak biasanya sate dan soto. Padahal makanan dari daerah penghasil garam itu banyak macamnya. Apalagi makanan yang berbahan baku jagung.

Nasi jagung (nasek empog) terdiri dari nasi putih yang dicampur dengan biji jagung yang telah dimasak bersama dengan nasi tersebut. Nasi jagung sama dengan nasi putih biasa, dimakan dengan lauk-pauk lainnya.

Jika ingin merasakan nasi jagung ala Madura, Anda tidak perlu repot-repot ke pulau yang terkenal dengan karapan sapinya tersebut. Di pusat jajanan Bintaro ada warung Dapur Umi yang khusus menjual makanan khas Madura. Mulai dari makanan utama hingga kue-kuenya.

”Saya ingin sekali mengembangkan makanan dari Madura. Ini juga menjadi bagian sebagai upaya untuk melestarikan makanan tradisional di Indonesia. Begitu banyaknya sehingga kami perlu mengenalkannya kepada masyarakat,” kata Umi Prihatini (43), pemilik warung Dapur Umi.

Jadilah Umi memberanikan diri membuka warung dengan beragam makanan dari Madura. Tidak hanya itu, dia juga menyediakan makanan lain dari daerah Gresik dengan nasi krawu dan daerah Tegal dengan nasi bogana, serta daerah Semarang dengan nasi langgi.

Nasi jagung atau Umi sering menyebutnya dengan nasi jajan, terdiri dari nasi jagung ditambah dengan lauknya seperti telur petis, daging tolotoh, kering kentang, pindang tongkol dimasak pedas dan sambal mangga sebagai modifikasi. Menurut Umi, nasi jagung yang ditampilkannya merupakan makanan khas dari Kabupaten Pamekasan, Madura.

Beda lagi dengan makanan dari daerah Bangkalan. Kata Umi, di sana selain lauk ditambah pula tumisan sayur, sedangkan di Sumenep ada tambahan bihun. ”Kalau di Pamekasan, banyak orang tidak suka sayuran, jadi masakannya tidak pernah memakai sayur,” ujarnya.

Biasanya nasi jajan ini disajikan untuk makan pagi dan makan siang. Namun tidak mudah bagi Umi untuk memperkenalkan nasi jagung, karena oleh sebagian besar masyarakat masih dianggap aneh. Padahal kalau ditilik dari rasanya tidak beda jauh dengan nasi merah.

”Aduh memang rada susah ya memperkenalkan nasi jagung ini. Tapi apa boleh buat. Saya berharap perlahan-lahan orang mau terima makanan ini. Sekarang paling saya juga sediakan nasi putih sebagai variasi,” kata perempuan kelahiran Pamekasan itu.

Cuma 5 jam
Nasi jajan ini dikemas dengan daun pisang, di dalamnya sudah lengkap nasi beserta lauknya. Dengan demikian ketahanan nasi ini tidak begitu lama, cuma lima jam, karena nasi dan lauk menjadi satu. Mungkin kalau dikemas secara terpisah akan lebih tahan lama. Maka Umi selalu mengingatkan kepada para pelanggannya yang memesan nasi bungkus itu agar segera mengonsumsinya, jangan lebih dari lima jam.

Khusus untuk bahan jagungnya, Umi memesan langsung dari Madura. Supaya empuk, jagung direndam semalam, jika akan memasak tinggal dicampur dengan beras dan dikukus hingga tanak. Umi mengaku, kalau jagung kering yang dijual di pasaran kurang enak.

Berhubung Dapur Umi ini buka hingga malam, tidak jarang pula dirinya menyediakan menu tambahan yang berkuah seperti soto, sop, dan gulai madura. Setiap hari menu kuah ini selalu berganti.

Uniknya, gulai madura yang sekilas terlihat berminyak itu ternyata dalam pengolahannya tidak memakai santan. Pada dasarnya kuahnya bening, tapi untuk kelapanya diparut dan disangrai kemudian dihaluskan bersama bumbu dan dimasukkan ke daging yang sudah direbus hingga matang.

Selain itu Umi menyediakan aneka bubur manis, satu set terdiri dari tujuh macam yaitu bubur sumsum, bubur jagung, bubur mutiara, bubur ketan hitam, bubur candil, air gula merah plus santan. Semuanya diletakkan di dalam kendil, satu set Rp 350.000, cukup untuk 40 porsi.

Biasanya bubur ini dibuat pada saat Bulan Puasa atau berdasarkan pesanan. Di Madura, bubur tujuh rupa itu tidak ada, yang ada hanyalah bubur sumsum hijau, ketan hitam dan bubur sumsum putih tapi dibuat lebih encer dan diletakkan di pincuk (daun pisang yang dibentuk seperti mangkuk —Red)

Dapur Umi juga menyajikan kue-kue dari Madura seperti kue pudak yang terbuat dari jagung manis yang dihancurkan lalu dicampur dengan tepung beras dan dibungkus dengan daun jagung. Lalu ada pula kue bawang (seperti kue lumpur), dan kue pastel. Tentunya semua itu harus dipesan terlebih dahulu. (Dian Anditya M)

Sumber: warta Kota, Senin, 29 Juni 2009

Label: , , ,

Campor Khas Sumenep

Foto: Moh Hartono Sumenep

Bagi pencinta kuliner tidak ada salahnya mencoba menu satu ini. Namanya Campor. Makanan ini berasal dari Sumenep salah satu kabupaten di Pulau Madura. Masyarakat setempat menyebutnya begitu karena panganan ini terdiri dari campuran berbagai macam bahan.

Ada ketela pohon, lontong, daun bawang serta tulang muda sapi dan mie soon. Ketika disajikan bahan itu dicampur menjadi satu. Daun bawang dipotong kecil-kecil kemudian ditaburi di atas makanan itu. Makanan ini rasanya gurih karena disirami dengan santan cair.

Tertarik ingin mencobanya, mampirlah ke warung makan milik Ettus berada di Pandian Kota. Lidah para penikmat makan enak akan tergoda ketagihan.Harga yang ditawarkan juga terjangkau kocek. Satu porsi dijual dengan harga Rp 3.000. Jikalau menambah menu lainnya seperti telur ayam kampung, krupuk dan air mineral, pembeli membayar Rp 5.000.

"Alhamdulillah, setiap harinya bisa meraup keuntungan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujar Ettus kepada detiksurabaya.com, Senin (19/10/2009). (wln/wln)

Sumber: detikSurabaya, Senin, 19/10/2009

Label: , ,

Rahasia Dapur Soto Madura Wawan





Jenis makanan berkuah paling popular di Indonesia. Bahkan setiap daerah memiliki soto kebanggaan dengan nama berbeda. Selain di Jawa dan Madura, masyarakat Sulawesi Selatan bangga dengan coto Makassar, warga Kalimantan memiliki soto Banjar. Ada juga soto Bandung, soto Betawi hingga soto Padang.

Yang membedakan hanya bahan dasarnya (daging sapi, jerohan atau ayam) dengan kuah bening atau diimbuh santan, selain pelengkap sajian. Ada yang memakai telur rebus, soun, kripik kentang, perkedel kentang atau disuguhkan polos begitu saja dengan nasi putih atau lontong.

Minggu ini, tim kuliner Harian Surya mengintip dapur Soto Madura Wawan yang bermarkas di Jl Mayjen Sungkono, Surabaya. Dirintis sejak tahun 1988, kini Soto Madura Wawan sudah memiliki 18 cabang di seluruh Surabaya. “Tidak ada yang rahasia dalam Soto Madura Wawan, karena pada dasar bumbu soto itu sama saja,” yakin Wawan yang pernah menjadi salah satu jawara dalam Festival Jajanan Bango 2007 yang digelar di Surabaya. Selamat mencoba. (tri)

Bahan: (untuk 4 porsi)

  • 250 Gr daging sapi kisi
  • 200 Gr tulang sapi
  • 100 Gr bawang merah
  • 50 Gr bawang putih
  • 4 Butir kemiri
  • 1 Jari lengkuas
  • 1 Batang serai
  • ½ Jari jahe
  • ½ Jari kunyit
  • Garam secukupnya
  • Irisan daun seledri dan bawang goreng



Pelengkap: Sambal kemiri, potongan jeruk nipis, telur rebus Membuatnya:
  1. Siapkan semua bahan yang dibutuhkan. Cuci bersih daging dan tulang sapi, kemudian rebus dalam air mendidih. Sementara itu, haluskan bumbu-bumbu (kecuali lengkuas dan serai yang direbus bersama daging), tanpa ditumis masukkan bumbu halus ke dalam rebusan daging dan masak kembali hingga daging empuk. Angkat daging dan iris sesuai selera. Sisihkan.
  2. Siapkan nasi putih. Atur daging di dalam porsi saji, tambahkan telur rebus yang sudah dibelah dua. Siram dengan kuah soto panas. Taburi dengan irisan daun seledri dan bawang goreng. Sajikan lengkap dengan sambal kemiri, potongan jeruk nipis, kecap manis atau asin. Sajikan panas-panas.



TIP
  • Jika suka, bisa ditambahkan jerohan. Rasa kuah semakin mantap jika ditambahkan tulang-tulang sapi saat merebus daging.
  • Citarasa soto Madura racikan Wawan ini mantap karena bumbu-bumbu tidak ditumis. Setelah dihaluskan, bumbu langsung dimasukkan ke dalam kuah. Jika ditumis pun tidak mengapa, “Tetapi tunggu dulu tiga jam agar bumbu menyatu dengan daging baru disajikan,” saran Wawan.
  • Lengkuas, serai dan jahe tidak ikut dihaluskan. Namun dimasukkan utuh ke dalam rebusan daging, kemudian diangkat sesaat setelah daging empuk.
  • Bubuhkan garam saat soto akan disajikan, jangan menambahkan garam saat merebus daging agar citarasa soto tetap segar.




Sumber: Surya, Senin, 29 Desember 2008

Label: , ,

Dahsyatnya Nasi Romi Sumenep!

Kekayaan kuliner Pulau Garam Madura yang beragam selain sate dan soto Madura yang sudah kondang itu, harus diakui memiliki keunikan tersendiri. Di Sumenep misalnya, kota di ujung timur laut Madura ini warganya bangga dengan nasi romi. Ah, apa pula itu?

Jika di Jawa Barat bangga memiliki nasi uduk, dan di Jawa Tengah serta Jawa Timur awam mengenalnya sebagai nasi gurih, maka di Madura jenis kuliner sejenis disebut sebagai nasi romi. “Pokoknya sekali Anda mencobanya pasti bakal ketagihan karena rasanya memang dahsyat,” promosi Waty Noer, lugas.

Perempuan asli Madura yang adalah putri H M Noer, mantan gubernur Jawa Timur itu membawa ‘keluar’ nasi romi dari Sumenep dengan membuka kedai di pusat jajanan Kota Surabaya, di Jalan Urip Sumoharjo. Hanya buka pada petang hari hingga pergantian malam menjelang. Kedai Waty Noer ini memiliki spesialisasi penyaji menu-menu Madura. Nasi romi adalah salah satunya.

Dalam sepiring saji nasi romi, terdiri dari nasi gurih, lengkap disuguhkan dengan lauk-pauk berupa ayam goreng berempah lengkap dengan kremes-kremesnya, sambal goreng kering kentang, abon daging, telur dadar, lalapan mentimun, dengan sambal terasi, taoge pendek, plus taburan bawang merah goreng. Begitu paduan nasi romi dengan lauknya ini mengelus lidah, hmm… memang dahsyat. Tak heran ketika menyantap nasi romi…ning Yuli pun boleh saja lewat dan tak bakal dilihat! (tri)

Sumber: Surya, Senin, 22 Desember 2008

Label: , , ,

Madura, small island, great dishes

Suryatini N. Ganie, Contributor, Jakarta

Once, when watching the kerapan sapi, traditional bull racing in a small Madura village, I remember the bulls coming nearer and nearer, their steaming nostrils and reddish eyes promising impending doom. It seemed they were heading right for us. Thank goodness a matador interceded it and saved our skin.

I told a friend from Pamekasan this story. She advised me to cherish the memory of the racing bulls, but more so Madura's food.

Madura deserves an honorable place on the archipelago's culinary map. Soto Ayam Madura, for example, is already a common item on oversees Indonesian restaurant menus.

However, it was the charging bulls that truly aroused my curiosity.

I wondered how they were kept so fit and looked so strong given that they are relatively small compared to bulls in a Spanish corrida.

My Pamekasan friend told me how the bulls were treated like kings. They would be bathed two or three times a day to keep clean, fed one kilogram of hen's eggs daily, increasing to two kilograms when races drew near.

The eggs are mixed with a glass of pure honey and a bottle of soda water and wine. The soda water serves to quench thirst, while the eggs, honey and wine give strength.

On the day of the races, the bulls are fed one kg of mashed cabai rawit, tiny chilies, which are also massaged onto their hind quarters to convince them to keep on running.

And all that is just for the racing bulls. For spectators and guests to the house of the champion bull owner, there is a typical Madurese rice plate called nasi jhajhan.

Nasi jhajhan consists of rice supported by an array of dishes, including fish or squid with curry, a soupy dish of local spinach, salted fish, eggs in fermented shrimp sauce and thinly sliced beef filetts.

Our hostess at the fight also served a blackish looking drink called cendol celeng, which was made from black colored rice flour balls in a cold, sweet, thin, coconut sauce.

"I forgot to tell you", my friend said as we were presented with the cendol celeng, "we like black. In food it is fascinating and mysterious."

The color is obtained by sifting finely stamped grilled dry rice straws, which are then added to the food by the teaspoon as required.

Recipes:



Soto ayam Madura Barat

West Madura Soto made with a chicken stock

Ingredients:

500 g chicken
2500 ml water, for stock
4 cloves garlic, 20 g
1/2 tsp trassi
1/2 tsp pepper
2 slices of fresh ginger, pounded
2 stalks of lemon grass, pounded
1 Tbs salt or to taste
2 Tbs cooking oil, for stir frying

Side dishes:
75 g soun (glass noodles)
600 ml tepid water, to soak the glass noodles
4 tsp chopped selederi (local celery), for topping
8 tsp crisply fried shallot slices, for topping

Method:

1. Boil full chicken in 2500 ml of water to form a stock. When half done, cube the meat and return to stock.
2. Press garlic, trassi and pepper into a paste and stir fry until aromatic and add to stock.
3. Add ginger, lemon grass and season with salt. Continue until chicken is tender.
4. Soak the glass noodles in tepid water until limp. Take out and sieve.
5. How to serve: Place glass noodles into a bowl and pour in stock including the cubed chicken. Top with 1 tsp of chopped selederi and 1 tsp of crisply fried shallot slices.

Makes 8 servings.

4. Janang Jhagung

A cornmeal sweet

Ingredients:

250 g cornflour, sifted
1200 ml thick coconut milk
200 g granulated sugar
2 tsp salt or to taste
1 tsp cooking oil (optional)

METHOD:

1. Mix cornflour, coconut milk, granulated sugar and salt.
2. Bring corn flour mixture to the boil over low flame until thick.
3. Take a suitable rectangular cookie tray, grease lightly with oil when needed and flatten the corn flour mixture into a 26 x 26 cm square, about 1 cm thick. Let cool completely and cut into diamond shapes or to your liking.

Makes 20 servings.

Sumber: The Jakarta Post, Sun, 03/02/2008

Label:

Sate Kelapa Ondomohen

Jual Sepeda Onthel buat Beli Altis dan Innova

Anda pernah mencicipi kelezatan sate kelapa Ondomohen, Surabaya? Rasa daging sapinya kenyal dibalut parutan kelapa. Lazimnya sate, disunduk pakai lidi, dibakar di atas arang. Dinikmati waktu sarapan pagi atau makan siang oke saja.

Sate kelapa yang dijual di pinggir Jl Ondomohen (sekarang Jl Walikota Mustajab) merupakan salah satu makanan legendaris Kota Surabaya. Sudah ada sejak 61 tahun silam. Penjual sate yang tak pernah berpindah lokasi ini letaknya agak terpencil, di ujung gang sempit Ondomohen Magersari II. Menemukan pedagang kaki lima ini tak terlalu sulit. Sepanjang pukul 06.00 WIB -15.00 WIB pembeli selalu ngantre.

Tak salah jika berkat sate kelapa si tukang sate menjadi sangat makmur. Empat rumah mentereng lengkap dengan Kijang Innova dan Toyota Altis merupakan hasil jerih payah penjual sate kelapa ondomohen ini.

Sebelumnya, si penjual cuma naik sepeda onthel. Rumah pun masih ngontrak. Untuk modal, ia terpaksa jual sepeda onthel kesayangannya. Harga sate kepala ondomohen tak mahal, hanya Rp 12.000 - Rp 14.000 per 10 tusuk, tambah Rp 2.000 jika pakai nasi. Mau sate daging sapi murni, campur lemak, otot, sumsum, atau ginjal, tergantung selera.

Ny Asih Sudarmi, 51, tentu tak pernah membayangkan kalau usaha warisan almarhum sang mertua (Haji Zaenab) bakal mendatangkan omzet Rp 3 juta per hari atau Rp 90 juta per bulan.

Namun, rezeki memang terkadang datang tanpa disangka. Ada ratusan pelanggan yang loyal mengonsumsi sate kelapa ini. Setiap hari saja ratusan bungkus ludes terjual. Modal tak lebih dari Rp 1,5 juta per hari. Ini untuk membeli 30 kg daging sapi, 4 kg usus, 15 kg lemak, serta 2 kg sumsum.

"Itu ukuran rata-rata. Bahkan, kalau pas ramai, stok daging sampai kurang," ungkap Ny Asih. Namun, perempuan ini sekarang tak sesibuk dahulu, karena sudah ada 11 karyawan yang siap membantunya. Mereka menyiapkan segala sesuatu di rumah sang juragan. Rumah mentereng di belakang tempat berjualan.

Suami Ny Asih, yakni Saluki, asal Blega, hanya bertugas melayani pembeli dan mengawasi proses pembuatan sate ketika masih mentah. Ny Asih tak punya warung khusus ketika berjualan, apalagi depot. Gaya berjualan sama seperti penjual sate pada umumnya. Berbekal bangku kecil, bakaran sate, kipas sate, sebakul nasi, tempeh besar untuk wadah sate, dan daun pisang untuk bungkus. Plus lima buah bangku plastik. Semua perlengkapan itu siap dibawa berkeliling sewaktu-waktu. Ny Asih duduk berjualan beralas tanah. Tepat di depan warung kopi yang berbaik hati memberinya sejumput lahan.

"Saya sebetulnya paling alergi kalau ditanya omzet, karena takut diuber-uber pajak," ujar Ny Asih sambil tersipu membungkus sate. Padahal, Ny Asih hanyalah pedagang kaki lima yang tak memiliki tempat berdagang tetap. Maka ia pun tak punya kewajiban setor pajak. Ny Asih kini telah memiliki dua cucu. Dari empat rumahnya, dua di antaranya dikontrakkan. Sang anak tinggal di daerah Karangmenjangan. "Kalau saya sudah tua nanti, pasti anak saya yang meneruskan usaha ini," timpalnya.

Asih mengaku tak punya niat mengembangkan usahanya, apalagi menggarapnya dengan konsep warabala. "Saya tidak tahu soal itu. Kalau dibuat depot pasti sewa bangunannya mahal," ucapnya dengan logat kental Madura.

Ditanya asal muasal resep makanan, Ny Asih cuma tersenyum. “Orang Madura identik dengan makanan sate dan kelapa. Mungkin itu yang mendasari ibu mertua saya memilih menggabungkan dua makanan ini karena sejarah pastinya saya juga kurang tahu,” ujarnya. Ny Asih boleh bangga, meski ia nyaris tak pernah tersentuh bantuan pemerintah kota, meski omzetnya tembus puluhan juta rupiah per bulan.

"Ini usaha kecil, biarlah tetap menjadi usaha kecil. Yang penting duit yang diperoleh kan banyak dan halal," pungkasnya mantap. Anda pun tak perlu ragu memulai usaha makanan semacam ini. Berani sedikit lebih kreatif dan tekun, omzet bisa puluhan juta seperti Ny Asih. (DWI PRAMESTI)

Sumber: Surya, Tuesday, 27 May 2008

Label: , ,

Kerupuk Terung dan Blunyu Desa Jung Anyar

Terus Bertahan di Tengah Hantaman Beragam Krisis

Di Desa Jung Anyar, Kecamatan Socah terdapat usaha kerupuk terung dan blunyu. Usaha ini milik Musidah, seorang ibu setengah baya dengan beberapa cucu. Usahanya tersebut terbilang cukup lama bertahan. Padahal harga kebutuhan produksi terus meningkat. Namun itu dinilainya merupakan tantangan tersendiri bagi usahanya.

Buktinya, selama enam tahun menjalankan usahanya itu, dia mengaku sudah beberapa kali melewati masa krisis. Termasuk saat minyak tanah langka. Namun yang tersulit adalah akhir-akhir ini kala kenaikan harga BBM.

Musidah dengan antusias menceritakan bagaimana dia memertahankan usahanya. Di gardu depan rumahnya, dia dengan bangga bercampur prihatin menceritakan seluk-beluk usahanya.

Menurut dia, kenaikan harga mitan pada dasarnya tak berpengaruh banyak terhadap produksi krupuk terungnya. Sebab dalam usahanya, dia tidak menggunakan mitan untuk api pembakaran saat menggoreng terung. Tapi, dia pakai kayu bakar.

"Saya kan memang sejak lama tidak menggunakan mitan untuk menggoreng terung. Kalau saya goreng pakai minyak tanah (untuk apinya, Red), sekarang sudah tutup Mas," ujarnya lalu.

Meski demikian, kenaikan harga BBM berpengaruh pada usaha nelayan mendapatkan bahan baku usahanya. Sejak harga BBM naik, nelayan membutuhkan uang lebih banyak untuk bisa berlayar dan mendapatkan terung dan blunyu yang begitu dibutuhkan Musidah untuk usahanya tersebut. "Sekarang harga terung dan blunyu tambah mahal mas," keluhnya.

Sebelum kenaikan harga BBM, hingga kini harga terung dan blunyu masih belum mengalami perubahan. Dia bisa mendapatkan bahan dasar usahanya tersebut dengan harga Rp 600 ribu per 10 kg. Tak heran jika Musidah terus menerus mengeluh akan kelangsungan hidup usahanya tersebut. "Dari dulu harga terung dan blunyu memang mahal, tapi tidak semahal sekarang," akunya.

Harga itu, menurut dia, merupakan harga terakhir dan tidak menutup kemungkinan akan naik lagi. Sebab harga BBM sudah naik dalam sebulan terakhir. "Saya harap tidak ada kenaikan lagi, meskipun harga BBM sudah naik. Kalau ada kenaikan lagi, jelas saya makin sulit," katanya.

Harga yang sekarang saja, lanjutnya, sudah cukup membuatnya kesulitan bertahan. Utamanya mengatur keuangan usahanya yang hanya bermodal Rp 3 juta tersebut.

Diceritakan pula, yang tak kalah mencekiknya saat ini adalah naiknya harga minyak goreng (migor). Beberapa pekan terakhir, harga migor tak pernah turun dari Rp 11 ribu per kilo-nya. Padahal dalam sekali berproduksi, Musidah mengaku menghabiskan migor sebanyak 5 kg lebih. "Meski mahal, namanya orang butuh terpaksa dibeli juga," tandasnya.

Akibat naiknya harga bahan baku, Musidah terpaksa menambah kemasan dan menaikkan harga kerupuk terungnya Rp 500 per kemasan. "Kerupuk terung dan blunyu itu sekarang ada tiga macam. Kecil, sedang dan besar. Sebelumnya hanya ada kemasan kecil dan besar," ungkapnya.

Proses Pembuatan Kerupuk Terung

SIANG itu, Koran ini sengaja menunggu nelayan datang dari laut dan membawa hewan laut yang menjadi bahan dasar kerupuk. Tepat tengah hari, salah satu dari enam pekerja Musidah datang dengan membawa gerobak berisi terung dan blunyu.

Bentuk asli hewan laut bernama terung itu menyerupai onde-onde. Hampir bulat sempurna dengan diameter 3 sentimeter dan titik putih di luarnya bak wijen pada onde-onde. Sedangkan blunyu, bentuknya lonjong, berwarna hitam. Panjangnya kira-kira 10 sentimeter.

Pekerja yang tak lain adalah para ibu rumah tangga di sekitar rumah Musidah dengan sigap memilah terung dan blunyu dari gerobak. Usai dipisahkan, hewan terung itu dibuburi arang. "Itu nanti gunanya untuk membersihkan terung," terang Musidah.

Setelah merata, terung yang sudah dibuburi arang dimasukkan dalam keranjang. Seorang pekerja dengan mengenakan sepatu bersih langsung "bergabung" dengan para terung yang ada dalam keranjang. Diinjak-injaknya terung dalam keranjang tersebut sambil lalu disirami air bersih.

Keluar dari keranjang, terung yang tadinya hitam bercampur arang, kini bersih putih seperti dicuci menggunakan deterjen. Lalu, secepatnya mereka membelah tubuh terung menjadi dua bagian terpisah.

Sambil memerlihatkan isi perut terung, Musidah menunjukkan telur hewan tersebut yang juga bisa dimanfaatkan untuk lauk. "Nah, yang ini enak untuk dibuat krengsengan (sambal goreng, Red.). Biasanya dibawa para pekerja untuk lauk di rumahnya atau dijual ke pasar terdekat," papar Yani, salah seorang pekerja.

Setelah semua isi perut dibersihkan, terung ditata di atas sebuah nampan dari bambu yang didesain khusus untuk proses pengeringan. Dalam sehari, pekerja bisa menghasilkan 2 sampai 6 nampan untuk dijemur. "Sejrebeng (satu nampan, Red.) kalau digoreng bisa menghasilkan kurang lebih 2 kilo," tandas Musidah.

Proses pengeringan, maksimal memakan waktu selama 2 hari. Namun, jika hari sedang cerah terung akan kering dalam waktu sehari saja. Dijelaskan, pembeli yang datang untuk membeli terung yang belum digoreng menghargai tiap nampan terung senilai Rp 50 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 150 ribu terung ukuran besar.

Terung-terung yang sudah kering dan siap digoreng diambil dari tempatnya dijemur. Kemudian Emil, putri Musidah segera menyalakan api dengan bahan bakar kayu. Minyak goreng sebanyak 5 kg lebih kemudian dituangkan di atas wajan. Sambil lalu menunggu panasnya migor, Emil memilih terung yang akan digorengnya. "Barangkali yang ada ukuran beda, jadi diteliti dulu," katanya.

Saat migor sudah panas, Emil memasukkan beberapa terung ke penggorengan. Setelah terlihat mengembang, dia mengangkat dan menaruhnya di tempat khusus. Sang ibu melanjutkan ke proses selanjutnya. Supaya lebih renyah, terung kembali digoreng. Tapi kali ini tidak menggunakan migor, melainkan pasir yang merupakan resep khususnya.

Usai proses tersebut, terung siap dimasukkan ke dalam kemasan. Dengan peralatan sederhana, Emil dan ibundanya memasukkan terung menurut ukurannya masing-masing ke dalam kemasan plastik dan siap dipasarkan ke seluruh penikmatnya. (nur rahmad akhirullah)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 16 Juni 2008

Label: , , , ,