'Ngejreng' yang Memikat dari Madura

foto Raditya Helabumi
Aktivitas jual beli batik di Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Madura, yang buka tiap hari Kamis dan Minggu, Kamis (25/3). Perajin batik tulis di Pamekasan masih mengandalan pasar tradisional untuk memasarkan batik.

Madura selalu identik dengan garam atau karapan sapi. Padahal, kepulauan berpenduduk 3,6 juta jiwa itu juga memiliki kekayaan yang diwariskan turun-temurun berupa keterampilan membatik yang menghasilkan karya seni bercita rasa tinggi.

Oleh Nasru Alam Aziz

Batik Madura memang memiliki daya pikat tersendiri, antara lain pada pewarnaannya yang tajam atau lebih dikenal dengan istilah ngejreng. Dalam selembar kain, misalnya, bisa muncul warna yang kontras, yang tidak mungkin ditemukan pada kain batik pedalaman ataupun pesisiran di Jawa. "Batik Madura sangat ekspresif ketimbang batik Jawa pada umumnya. Teknik coletan lebih banyak digunakan di Madura. Itu ekspresif. Kalau tampak kasar atau tidak rapi mencoletnya, itulah karakter batik Madura. Jangan dibilang batik murahan," kata Ketua Komunitas Batik Surabaya Lintu Tulistyantoro.

Selembar kain batik Madura, lanjutnya, bisa menggambarkan kebebasan masyarakat dalam berekspresi. Ciri pesisiran pada batik Madura tampak pada motif yang lebih memunculkan unsur laut, seperti sisik ikan, kerang, atau sulur rumput laut.

Dari segi teknik pembuatan, lanjut Lintu, salah satu yang khas adalah batik gentongan. Jenis ini hanya ditemukan di Tanjung Bumi, Bangkalan.Keistimewaannya, semakin lama warnanya makin cerah. Batik jenis ini adalah yang termahal di Madura. Di tingkat perajin, harganya jutaan rupiah per lembar. Motif klasik, seperti carcena, sisik malaya, sisik amparan, atau sekoh, memang tak pernah sirna. Meski demikian, perajin batik rumahan yang tersebar di desa juga rajin mengikuti selera pasar. Mereka menciptakan batik kontemporer dengan motif yang disebut Inul, Manohara, Suramadu, bahkan SBY.

Motif Inul meliuk-liuk, mengingatkan orang pada gerakan goyang ngebor penyanyi Inul Daratista. Motif Manohara meniru motif busana yang sering dikenakan artis Manohara Odelia Pinot.

Motif yang relatif baru adalah Suramadu yang didominasi sulur-sulur mirip tali-tali bentangan Jembatan Suramadu (yang menghubungkan Surabaya dengan Madura). Selain itu, ada juga motif SBY, yang merupakan duplikasi dari motif batik yang dikenakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meresmikan Jembatan Suramadu.

Tak dapat dimungkiri, batik Madura menemukan momentumnya ketika Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa diresmikan pada Juni 2009 dan kemudian United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

"Setelah Jembatan Suramadu diresmikan, omzet saya naik lebih dari 100 persen," cerita Muafi, pemilik usaha Ideal Batik Madura di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

Sentra batik tersebar di pesisir pulau seluas 5.304 kilometer persegi itu, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep. Setiap hari ada ribuan lembar kain batik dengan berbagai corak yang dihasilkan di sana.

Desa Klampar merupakan produsen batik terbesar di Pamekasan. Dari dua dusun, Banyumas dan Batubaja, terdapat tidak kurang dari 600 perajin batik rumahan, termasuk sekitar 80 pengusaha batik yang mempekerjakan rata-rata 12 orang.Dari dua dusun itu, setiap pekan lebih dari 5.000 lembar kain batik Madura menyebar hingga Surabaya dan kota lainnya.

foto Raditya Helabumi
Aktivitas jual beli batik di Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Madura, yang buka tiap hari Kamis dan Minggu, Kamis (25/3). Perajin batik tulis di Pamekasan masih mengandalan pasar tradisional untuk memasarkan batik.

Sentra batik lainnya yang terkenal adalah Pekandangan dan Pragaan di Kabupaten Sumenep serta Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan. Jika ingin membeli batik Madura di pasar, salah satu yang bisa dikunjungi adalah Pasar Tujuh Belas Agustus di Pamekasan. Pada hari pasar, Kamis dan Minggu, salah satu blok yang berisi lebih dari 100 lapak penuh dijejali pedagang batik. Pedagang menggelar kain batik di atas selembar tikar atau disampirkan pada seutas tali rafia yang diikatkan pada pilar-pilar pasar berkonstruksi kayu. Blok pasar batik bersebelahan dengan blok pedagang beras dan rempah-rempah yang senyap dan pasar hewan yang hiruk-pikuk.

Sepanjang pukul 07.00 hingga pukul 11.00, pasar batik tradisional ini menjadi lahan perburuan pembeli dengan partai besar, baik dari Jawa maupun daerah lain di Madura.

Harga kain batik di pasar itu relatif murah karena sebagian penjualnya adalah perajin. H Hasbullah, perajin batik tulis asal Desa Klampar, mencontohkan, selembar kain batik tulis yang ia jual Rp 55.000 di Pamekasan, setelah sampai di Surabaya, dipasarkan dengan harga Rp 125.000. Cukup fantastis perbedaan harganya. Namun berapa pun harganya, batik Madura tetap menarik dengan warna yang 'ngejreng'.

Sumber: Kompas, Kamis, 3 Juni 2010

Label: ,

Perajin Batik Pamekasan Produksi Batik Tiga Motif

foto : nen/zonaberita.com
Salah seorang konsumen mencoba batik di Butik Mutiara

Memasuki awal Tahun 2011, perajin batik di Butik Mutiara milik Ilzamuddin, yang berlokasi di Sentra Batik tepatnya di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura, memproduksi batik dengan tiga kombinasi motif, yaitu abstrak, lawasan dan motif gunungan.

Motif batik abstrak, cenderung berbentuk garis-garis seperti serat kayu, dengan motif standar serta warna sejuk tidak terlalu mencolok.

Untuk batik lawasan berbentuk batik kuno seperti motif standar cenderung buram (seperti batik soft) dengan warna sejuk tidak mencolok.

“Batik lawasan itu, Meskipun warna berani, seperti merah menyala, akan tetapi masih terlihat sejuk,” kata Ilzamuddin pada zonaberita.com, Senin (3/1/2011).

Untuk batik motif Gunungan, berupa batik yang tidak terlalu penuh dengan motif. Motif yang dimaksud adalah motif berbagai corak yang dituangkan dalam satu kreasi saat membatik.

“Batik Gunungan yaitu dengan bentuk di atas penuh dengan motif, sedangkan di bawah jarang-jarang, “kata Ilzamuddin lagi.

Ketiga kombinasi ini, nantinya dipadukan dan menghasilkan batik tulis dengan motif serta warna yang tidak terlalu mencolok dan terkesan anggun.

Harganya pun relatif murah, yaitu berkisar antara Rp 200.000,- sampai Rp 250.000,- per potong dengan menggunakan kain katun sepanjang 2,30 meter. Sementara batik bebahan kain sutra, berkisar antara Rp 400.000,- hingga Rp.600.000,-.

Eva penggemar batik asal Kabupaten Jember mengaku suka dengan batik tulis Pamekasan. Menurutnya batik tulis pamekasan beda dengan batik-batik lainnya seperti di Kabupaten Sumenep maupun di luar Pulau Madura. “Batik Pamekasan sangat beda, coraknya unik dan warnanya pun keren mbak, “ujar Eva pada zonaberita.com seraya mencoba batik di Butik Mutiara milik Ilzamuddin. (nen/isp)

Sumber: ZonaBerita, Senin, 3 Januari 2011

Label: , , ,

Inovasi Perajin dari Desa Klampar

Perpaduan Batik Tulis dan Cap,
Antisipasi Pencaplokan Negara Lain


Ancaman tekstil impor menambah kreativitas perajin batik di Pamekasan. Kini muncul kreasi baru, yakni batik tulis tiga dimensi (3D) dengan airbrush. Seperti apa?

JIKA sebelumnya kita hanya mengenal batik tulis dan batik cap, inovasi batik 3D airbrush merupakan perpaduan dua jenis batik tersebut. Perajin tidak menghilangkan nuansa lokal dan batik tulisnya tetap dipertahankan. Itu untuk mempertahan dan menghindari pengakuan negara asing.

Oleh NADI MULYADI

Sebab, dengan berbagai motif dari berbagai daerah, tidak sedikit produk batik sebagai warisan nenek moyang dicaplok negara lain. Juga maraknya teksil China yang terus mengancam keberadaan batik lokal.

Menurut Ilzam, salah satu perajin batik di Desa Klampar, Kec Proppo, penggunaan airbrush pada batik tulis merupakan terobosan baru. Sebab, selama ini pembuatan batik masih terpaku dengan cap dan tulis.

Pengembangan pengelolaan batik 3D untuk menghadapi serbuan tekstil negara Asia lainnya. Sekaligus memancing dan menggairahkan pangsa pasar batik lokal.

"Jika kami (perajin, Red) tetap stagnan, pangsa pasar dan omzet penjualan tidak akan pernah berkembang. Airbrush ini diharapkan mampu menjawab itu. Artinya, tetap dengan pakaian tradisional tapi bergaya modern (3D)," terangnya saat ditemui kemarin siang (8/4).

Pengusaha muda ini menjelaskan, penggunaan airbrush tidak menghilangkan dan mengurangi kekhasan lokal. Sebab, pewarna sebatas disemprotkan pada kain batik yang sudah diberi motif.

"Pewarna bukan cat, tetap pewarna batik. Hanya, cara memotifnya ditambah dengan menggunakan alat semprot. Dan, dijamin ramah lingkungan karena tidak ada bekas pewarna," katanya meyakinkan.

Proses pembuatannya relatif mudah. Motif dasar pada kain tetap menggunakan batik tulis dan malan. Setelah itu, kain yang sudah bermotif dasar dicelup untuk menghilangkan malan. Setelah kering, proses penyemprotan airbrush dimulai hingga membentuk motif baru. Selanjutnya dikeringkan sebentar untuk dibatik ulang oleh perajin atau penyelesaian akhir.

"Pembatikan terakhir itu untuk mendapatkan efek tiga dimensi (3D). Terakhir, dicelupkan lagi dan proses pengeringan untuk dipasarkan ke pembeli atau pelanggan," terangnya.

Adanya penambahan proses pembuatan, berpengaruh pada harga yang lebih mahal. Jika batik tulis biasa per potong Rp 80 ribu, batik 3D lebih mahal Rp 20 ribu, yakni Rp 100 ribu. "Itu harga eceran. Kalau partai Rp 80 ribu per potong. Sekarang masih dalam negeri, untuk luar negeri masih belum," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Pamekasan Husnan Ahmady mengapresiasi kreativitas perajin asal Desa Klampar tersebut. Dia mendesak pemkab memberi peluang batik 3D itu menembus pangsa internasional.

"Artinya, tidak hanya sebatas bangga. Melainkan harus ada terobosan dari pemkab. Tujuannya hanya satu, perekonomian masyarakat semakin meningkat," katanya. (mat)

Sumber: Jawa Pos, 09 April 2010

Label: , ,

Klampis Timur Gelar Rokat Tase'

Warga pesisir pantai Klampis Timur, Kecamatan Klampis, Bangkalan punya gawe. Selama dua hari terakhir di desa nelayan ini digelar ritual tradisional berupa rokat tase’. Acara dimaksud dikemas meriah dengan aneka rangkaian kegiatan.

Informasi yang dirangkum wartawan Koran ini, pembuka rokat tase’ yang merupakan ritual tahunan di desa setempat dibuka saronenan. Tak tanggung-tanggung, kelompok saronen dari Sumenep pun didatangkan. Selama sehari penuh (Selasa, 13/11), masyarakat desa setempat, termasuk sejumlah warga desa tetangga lainnya, bermusik-ria dalam kegembiraan.

Rangkaian berikutnya merupakan ritual rokat tase’ berupa larung sesaji ke tengah laut, kemarin siang. Dalam acara ini, warga setempat membuat tumpeng jumbo berikut 56 tumpeng kecil sumbangan warga sekitar. Tak ketinggal sesajen utama berupa kepala sapi. Seluruh sesembahan ini sebelumnya dikirap keliling kampung. Tak heran, iring-iringan mengular menuju pesisir pantai setempat. Selain warga sekitar dan aparat desa, turut mengikuti acara adalah Muspika Klampis. Salah satunya adalah Camat Klampis Bambang Setiawan MM.

Setibanya di lokasi, warga langsung memulai ritual dengan dipimpin pemuka desa setempat. Dan puncaknya, tumpeng jumbo akhirnya dilarung ke tengah laut. Sedang sesajen kepala sapi diletakkan di pagak yang merupakan tetenger muara sungai setempat.

Ketua Panitia Syaifu Rizal bersama sekretarisnya Mukaffi Jakfar menegaskan, seluruh rangkaian ritual rokat tase’ dimaksud sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta. "Terkait masih digelarnya sejumlah ritual tersebut, ini tak lepas dari kepercayaan warga yang masih kental," ujar keduanya.

Ditegaskan, tergelarnya acara tersebut tak lepas dari peran serta masyarakat sekitar. Utamanya kalangan muda yang tergabung dalam Karang Taruna Generasi Biru yang diketuai Mukmin. "Pun juga sumbangsih para pembina. Masing-masing Mahrus, Bapak Hanif, H Humayis, dan H Fais. Terutama pula berkat binaan dari Drs Mustahal rasyid MPd," tambah Syaifu Rizal.

Yang menarik, pemuncak acara dari rangkaian kegiatan rokat tase’ ini bakal ditutup dengan pengajian akbar. Tak tanggung-tanggung, panitia sudah menerima kepastian dari kedatangan Bupati Bangkalan RKH Fuad Amin, KH Kholis As’ad dari Probolinggo, serta RKH Abdullah Schaal. "Pengajian ini bakal dilangsungkan besok siang (siang ini, Red.) tepat pukul 13.30," pungkasnya. (ed)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 15 Nov 2007

Label: , ,