Jadikan Bahasa Madura Sebagai Muatan Lokal

Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep mewajibkan Bahasa Madura sebagai pelajaran wajib dalam muatan lokal di semua jenjang pendidikan, mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Moh. Rais, S.Pd, M.Si mengatakan, pihaknya memang meminta lembaga pendidikan memprogramkan mata pelajaran Bahasa Madura, mengingat keberadaan Bahasa Madura itu sebagai sarana komunikasi di kalangan anak muda mulai memudar.

Pihaknya menilai, bagaimanapun juga Bahasa Madura harus terus digalakkan di kalangan generasi muda, sebab jika tidak, orang Madura dipastikan kehilangan bahasa ibunya.

“Ini yang harus dilakukan kami dan lembaga pendidikan, guna mempertahankan Bahasa Madura agar tidak punah, sebab bagaimanpun juga generasi muda merupakan tonggak penerus yang harus mempertahankan dan melestarikan Bahasa dan budaya Madura.”tegasnya.

H. Moh. Ra’is menyatakan, untuk melaksanakan program Bahasa Madura dalam muatan lokal, pihaknya sudah melakukan kegiatan work shop yang melibatkan lembaga pendidikan tingakt SD hingga SMP.

Untuk itu, pihaknya berharap lembaga pendidikan tingkat SD hingga SMP benar-benar memasukkan pelajaran Bahasa Madura dalam muatan lokal, demi mempertahankan dan melestarikan Bahasa Badura dari gerusan jaman dan perkembangan ilmu, serta teknologi. (Yasik, Esha)

Sumber: Pemkab Sumenep, Jumat, 1 Oktober 2010

Label: , , , , , ,

Kenalkan Budaya Madura Sejak Dini

Suasana ruang kelas 2A SD Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya berubah total Sabtu (16/1) pagi tadi. Bangku dan kursi siswa yang biasanya memenuhi kelas ini tak tampak.

Yang terlihat justru sebuah meja besar dengan beraneka macam makanan dan minuman di atasnya. Beberapa dari makanan dan minuman ini cukup asing di telinga warga Surabaya.

Sebut saja, es ko’buk, minuman dingin berbasis gula jawa, jahe dan cincau hitam ini sekilas mirip dawet. Namun ini adalah salah satu minuman khas madura yang disajikan untuk menyambut tamu-tamu penting kerajaan. Selain es ko’buk, ada juga nasi serpang, makanan nasi campur yang mirip dengan nasi krawu khas Gresik, topak ladhah, setup salak serta tajin sobik.

Makanan dan minuman ini disajikan untuk mengenalkan kuliner khas Madura kepada siswa-siswi perguruan Al Azhar Kelapa Gading Surabaya yang tadi pagi mengadakan pekan budaya Madura di sekolah mereka. Selain memamerkan makanan dan minuman khas madura, para siswa TK hingga SMP di sekolah ini juga disuguhi penampilan aneka macam kesenian khas Pulau Garam seperti tari pecut.

Yang menarik, seluruh siswa dan orang tua Tk dan SD diwajibkan memakai pakaian adat khas Madura. Mereka juga didaulat untuk melakukan peragaan busana di hadapan para undangan dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS), tokoh masyarakat Madura, serta undangan yang hadir dalam acara tersebut. Lenggak-lenggok murid TK dan SD bersama orang tuanya tersebut, tak jarang disambut gelak tawa hadirin.

Menurut Drs Najib Sulhan MA yang merupakan ketua panitia acara, kegiatan kali ini diadakan dalam rangka milad ke-8 sekolah yang berlokasi di Perumahan Bhaskara Jaya, Mulyorejo ini. Tujuan utamanya adalah untuk mengenalkan budaya Madura sebagai salah satu budaya lokal yang harus dilestarikan. “Ide awalnya kita ingin membantu mempromosikan kebudayaan Madura setelah dibangunnya jembatan Suramadu,” kata Najib Sulhan. Selain itu, menurut Najib sekolah juga ingin mengenalkan kebudayaan Madura ini agar para siswa paham dan ikut mencintai salah satu budaya khas Indonesia tersebut.

“Kita tidak ingin budaya khas seperti ini hilang atau diklaim bangsa lain seperti yang sudah-sudah,” tegas Najib. Selain memperkenalkan budaya dan kesenian Madura, dalam rangkaian acara ini juga diadakan seminar Seni Komunikasi Orangtua dalam Membingkai Karakter Anak dengan pembicara Arno Kernaputra, dosen dari London School Jakarta. (den)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 16 Januari 2010

Label: , , , , ,

SMP Swasta Kalahkan Negeri

Di Pamekasan, 48 Siswa Tidak Lulus

Menyandang SMP negeri atau unggulan dan berlokasi di kota, bukan jaminan meraih nilai tinggi unas. Justru tahun ini SMP negeri kalah bersaing dengan sekolah pinggiran. Bahkan, hanya dua SMP negeri yang mampu masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah.

Bukan hanya itu. Angka ketidaklulusan didominasi sekolah negeri. Dari 48 siswa yang tidak lulus unas, SMP negeri menduduki ranking teratas dengan jumlah 26 siswa tidak lulus, SMP swasta 16 siswa, sedangkan SMP terbuka hanya 6 siswa yang tidak lulus.

Padahal, dari 100 lembaga peserta unas, jumlah SMP negeri, termasuk SMP unggulan yang berlokasi di kota, jauh lebih sedikit dibanding jumlah sekolah swasta (62 lembaga dan SMP terbuka (10 lembaga).

Angka kelulusan tahun ini mengalami peningkatan sekitar 0,6 persen dibanding 2008. Siswa SMP yang lulus tahun ini mencapai 99,17 persen. Namun, hasil kelulusan tersebut menjadi pukulan telak bagi sekolah negeri terutama, yang bergelar SBI dan unggulan/favorit.

Salah satu bukti sekaligus peringatan bagi sekolah unggulan, minimnya SMP negeri masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah se Pamekasan. Sebab, SMP Al Falah, Kadur, dengan poin 37,57 sebagai peraih nilai tertinggi.

Disusul berurutan SMP AL Hikmah dengan 36,97 dan SMP Al Hamidi, Kadur, dengan 36,35. SMPN 1 Larangan hanya mampu berada di urutan keempat dengan poin rata-rata 36,17. Di bawahnya SMP Al Islamiyah dengan nilai rata-rata 36,07.

Merosotnya prestasi SMP unggulan/negeri semakin ditunjukkan dengan tercatatnya SMPN Pademawu dengan nilai 35,69, hanya mampu berada di urutan keenam. Sedangkan SMPN 2 Pamekasan di urutan delapan. SMPN 1 Pamekasan yang menyandang predikat SBI (sekolah berstandar internasional) tidak masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah.

Kepala Disdik Pamekasan Ach. Hidayat melalui Kasi Kurikulum Dikmen Slamet Gustiantoko mengatakan, hasil unas tersebut menunjukkan sekolah pinggiran tidak bisa diremehkan. Bahkan, mampu mengungguli SMP perkotaan.

"Ini merupakan salah satu bukti bahwa kualitas pendidikan tidak lagi berpusat di kota. Buktinya, SMP swasta mampu bersaing, bahkan mendominasi," katanya saat ditemui koran ini kemarin siang.

Menurut Slamet, terpelesetnya prestasi SMP unggulan akan menjadi bahan evaluasi disdik. Terutama pengaruh yang mengakibatkan nilainya kalah bersaing dengan SMP swasta dan terbuka.

Dijelaskan, berdasarkan evaluasi sementara, angka ketidaklulusan dan nilai terendah bukan di mata pelajaran eksak. Tapi, untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. "Setelah kami lihat, ternyata di bidang bahasa yang menjadi faktor. Padahal tahun sebelumnya bidang studi eksak," ungkapnya.

Sekadar diketahui, suasana pelulusan kemarin tidak seperti saat kelulusan SMA beberapa waktu lalu. Selain tidak terlihat konvoi, bagi siswa yang tidak lulus akan dikirim surat ke rumahnya masing-masing.

"Cara itu memang untuk mencegah konvoi. Jadi, Senin (22/6) mungkin telah bisa diketahui secara menyeluruh, termasuk nama-nama yang termasuk 10 besar," pungkasnya. (nam/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 21 Juni 2009

Label: , ,

A. Taufik, Pelajar Yang Jadi Tukang Tambal Ban

Pengin Jadi Sarjana Teknik, Nabung untuk Biaya Kuliah

Demi mencapai asa, apa pun bisa dilakukan. Seperti yang dilakukan A. Taufik, pelajar SMK 2 Pamekasan. Setiap pulang sekolah dia langsung ke bengkel tambal bannya untuk mengais rezeki.

PELUH tampak masih membutir di keningnya saat remaja itu baru tiba di bengkelnya di Jalan Kabupaten. Dengan seragam lengkap plus tas yang masih melilit dipinggangnya, Taufik-sapaan akrabnya-langsung beraktivitas.

Ketika itu, jarum jam menunjuk pukul 13.15. Putra pasangan Rosidi-Mutmainah ini baru saja memarkir sepeda anginnya yang terlihat kusut. Saat seorang pengendara datang di hadapannya, nafas Taufik masih terlihat tersengal.

Tak lama berselang, seorang pengendara datang. Tentu saja, ia menjadi pertanda rezeki bagi Taufik. Masih dengan seragam lengkap, putra kedua dari tiga bersaudara tersebut membuka kotak ajaibnya yang berisi peralatan tambal ban. "Bocor di mana Pak," basa-basi Taufik bertanya kepada pemilik kendaraan.

Tidak membutuhkan waktu lama, ban belakang yang kebetulan bocor telah ditambal dengan dipanasi menggunakan alat serba manual. Setelah itu, dipasang kembali dengan penuh hati-hati.

"Berapa Dik," tanya pemilik motor. "Empat ribu Pak," jawab Taufik. Pada dasarnya, dia mengaku tidak pasang harga pas, melainkan mengikuti harga pasaran. "Kalau yang bersangkutan punya Rp 3 ribu saya ambil," tuturnya.

Menjadi tukang tambal pastilah bukan cita-cita Taufik. Meski kini dia bekerja kasar, Taufik tetap bertekad akan merengkuh gelar sarjana teknik (ST). "Saya pengin jadi ahli mesin," katanya penuh semangat.

Kenapa jadi tukang tambal ban? Taufik menegaskan, pekerjaan sampingan tersebut merupakan batu loncatan untuk biaya kuliah kelak setamat SMK. "Kalau sejak sekarang tidak menabung, untuk biaya kuliah pasti kesulitan. Sebab, orangtua saya bukan termasuk orang kaya," tuturnya.

Sekilas, Taufik memang tidak minder. Meskipun setiap hari teman sekolahnya sering melintas depan bengkelnya, Taufik tetap gigih dengan pekerjaannya. (NADI MULYADI)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 30 Januari 2009

Label: , ,