Kenalkan Budaya Madura Sejak Dini

Suasana ruang kelas 2A SD Islam Al Azhar Kelapa Gading Surabaya berubah total Sabtu (16/1) pagi tadi. Bangku dan kursi siswa yang biasanya memenuhi kelas ini tak tampak.

Yang terlihat justru sebuah meja besar dengan beraneka macam makanan dan minuman di atasnya. Beberapa dari makanan dan minuman ini cukup asing di telinga warga Surabaya.

Sebut saja, es ko’buk, minuman dingin berbasis gula jawa, jahe dan cincau hitam ini sekilas mirip dawet. Namun ini adalah salah satu minuman khas madura yang disajikan untuk menyambut tamu-tamu penting kerajaan. Selain es ko’buk, ada juga nasi serpang, makanan nasi campur yang mirip dengan nasi krawu khas Gresik, topak ladhah, setup salak serta tajin sobik.

Makanan dan minuman ini disajikan untuk mengenalkan kuliner khas Madura kepada siswa-siswi perguruan Al Azhar Kelapa Gading Surabaya yang tadi pagi mengadakan pekan budaya Madura di sekolah mereka. Selain memamerkan makanan dan minuman khas madura, para siswa TK hingga SMP di sekolah ini juga disuguhi penampilan aneka macam kesenian khas Pulau Garam seperti tari pecut.

Yang menarik, seluruh siswa dan orang tua Tk dan SD diwajibkan memakai pakaian adat khas Madura. Mereka juga didaulat untuk melakukan peragaan busana di hadapan para undangan dari Dewan Kesenian Surabaya (DKS), tokoh masyarakat Madura, serta undangan yang hadir dalam acara tersebut. Lenggak-lenggok murid TK dan SD bersama orang tuanya tersebut, tak jarang disambut gelak tawa hadirin.

Menurut Drs Najib Sulhan MA yang merupakan ketua panitia acara, kegiatan kali ini diadakan dalam rangka milad ke-8 sekolah yang berlokasi di Perumahan Bhaskara Jaya, Mulyorejo ini. Tujuan utamanya adalah untuk mengenalkan budaya Madura sebagai salah satu budaya lokal yang harus dilestarikan. “Ide awalnya kita ingin membantu mempromosikan kebudayaan Madura setelah dibangunnya jembatan Suramadu,” kata Najib Sulhan. Selain itu, menurut Najib sekolah juga ingin mengenalkan kebudayaan Madura ini agar para siswa paham dan ikut mencintai salah satu budaya khas Indonesia tersebut.

“Kita tidak ingin budaya khas seperti ini hilang atau diklaim bangsa lain seperti yang sudah-sudah,” tegas Najib. Selain memperkenalkan budaya dan kesenian Madura, dalam rangkaian acara ini juga diadakan seminar Seni Komunikasi Orangtua dalam Membingkai Karakter Anak dengan pembicara Arno Kernaputra, dosen dari London School Jakarta. (den)

Sumber: Surabaya Post, Sabtu, 16 Januari 2010

Label: , , , , ,

1 Komentar:

Pada 26 Mei 2010 13.41 , Blogger Dany Satriya Kennedy mengatakan...

sangat inspiratif.
terima kasih infonya kang.

salam kenal,
KennedyFreedom
http://kennedyfreedom.wordpress.com

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda