SMP Swasta Kalahkan Negeri

Di Pamekasan, 48 Siswa Tidak Lulus

Menyandang SMP negeri atau unggulan dan berlokasi di kota, bukan jaminan meraih nilai tinggi unas. Justru tahun ini SMP negeri kalah bersaing dengan sekolah pinggiran. Bahkan, hanya dua SMP negeri yang mampu masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah.

Bukan hanya itu. Angka ketidaklulusan didominasi sekolah negeri. Dari 48 siswa yang tidak lulus unas, SMP negeri menduduki ranking teratas dengan jumlah 26 siswa tidak lulus, SMP swasta 16 siswa, sedangkan SMP terbuka hanya 6 siswa yang tidak lulus.

Padahal, dari 100 lembaga peserta unas, jumlah SMP negeri, termasuk SMP unggulan yang berlokasi di kota, jauh lebih sedikit dibanding jumlah sekolah swasta (62 lembaga dan SMP terbuka (10 lembaga).

Angka kelulusan tahun ini mengalami peningkatan sekitar 0,6 persen dibanding 2008. Siswa SMP yang lulus tahun ini mencapai 99,17 persen. Namun, hasil kelulusan tersebut menjadi pukulan telak bagi sekolah negeri terutama, yang bergelar SBI dan unggulan/favorit.

Salah satu bukti sekaligus peringatan bagi sekolah unggulan, minimnya SMP negeri masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah se Pamekasan. Sebab, SMP Al Falah, Kadur, dengan poin 37,57 sebagai peraih nilai tertinggi.

Disusul berurutan SMP AL Hikmah dengan 36,97 dan SMP Al Hamidi, Kadur, dengan 36,35. SMPN 1 Larangan hanya mampu berada di urutan keempat dengan poin rata-rata 36,17. Di bawahnya SMP Al Islamiyah dengan nilai rata-rata 36,07.

Merosotnya prestasi SMP unggulan/negeri semakin ditunjukkan dengan tercatatnya SMPN Pademawu dengan nilai 35,69, hanya mampu berada di urutan keenam. Sedangkan SMPN 2 Pamekasan di urutan delapan. SMPN 1 Pamekasan yang menyandang predikat SBI (sekolah berstandar internasional) tidak masuk 10 besar nilai rata-rata sekolah.

Kepala Disdik Pamekasan Ach. Hidayat melalui Kasi Kurikulum Dikmen Slamet Gustiantoko mengatakan, hasil unas tersebut menunjukkan sekolah pinggiran tidak bisa diremehkan. Bahkan, mampu mengungguli SMP perkotaan.

"Ini merupakan salah satu bukti bahwa kualitas pendidikan tidak lagi berpusat di kota. Buktinya, SMP swasta mampu bersaing, bahkan mendominasi," katanya saat ditemui koran ini kemarin siang.

Menurut Slamet, terpelesetnya prestasi SMP unggulan akan menjadi bahan evaluasi disdik. Terutama pengaruh yang mengakibatkan nilainya kalah bersaing dengan SMP swasta dan terbuka.

Dijelaskan, berdasarkan evaluasi sementara, angka ketidaklulusan dan nilai terendah bukan di mata pelajaran eksak. Tapi, untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. "Setelah kami lihat, ternyata di bidang bahasa yang menjadi faktor. Padahal tahun sebelumnya bidang studi eksak," ungkapnya.

Sekadar diketahui, suasana pelulusan kemarin tidak seperti saat kelulusan SMA beberapa waktu lalu. Selain tidak terlihat konvoi, bagi siswa yang tidak lulus akan dikirim surat ke rumahnya masing-masing.

"Cara itu memang untuk mencegah konvoi. Jadi, Senin (22/6) mungkin telah bisa diketahui secara menyeluruh, termasuk nama-nama yang termasuk 10 besar," pungkasnya. (nam/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 21 Juni 2009

Label: , ,

Pemkab Gerojok Rp 5,2 M Untuk Guru Swasta

Pada APBD Tahun 2008 ini Pemerintah Kabupaten Sumenep, mengalokasikan dana bantuan biaya bagi guru kontrak swasta total Rp 5.2 M untuk 1.754 guru swasta dari TK hingga SMA atau sederajat. Dengan rincian, masing-masing guru akan menerima bantuan sebesar Rp 250 setiap bulan atau Rp 2 juta pertahun.

Secara simbolis bantuan dana bagi guru kontrak swasta disampaikan langsung oleh Bupati Sumenep, KH Moh Ramdlan Siraj SE MM di Pendopo Agung Sumenep, disaksikan pimpinan DPRD dan Muspida, Selasa (9/9).

Bupati Sumenep, Ramdlan Siraj memaparkan sebagiamana semangat Kabupaten Sumenep yang memfokuskan pada peningkatan di sektor pendidikan, maka pada APBD tahun ini sebagian upaya itu terwujud dalam bentuk pemberian biaya bantuan bagi guru swasta.

"Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah, untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru kontrak sekolah swasta di Sumenep," ujar Ramdlan.

Dikatakan, kepedulian pemerintah Kabupaten Sumenep tidak hanya berbentuk bantuan saja, akan tetapi juga berupa peningkatan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di Sumenep. Salah satunya berupa pembangunan gedung sekolah khususnya sekolah dasar yang ada di Sumenep dan kepulauan.

"Harapannya nanti, pendidikan di Sumenep akan lebih maju yang diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan para pendidiknya," sambung Bupati.

Daeng Ali Rahman, dari MTs Nurul Hidayah, Pulau Masalembu kepada Surya mengungkapkan rasa bangganya dengan program pemerintah khususnya di sektor pendidikan ini. Karena dengan bantuan ini akan lebih menggugah bagi guru-guru swasta dalam pengabdiannya membangun masyarakat lewat pendidikan.

"Sumenep menjadi pelopor mengikis pendekotomian (perbedaan) antara sekolah swasta dan negeri. Sekarang kami harus berpacu dalam meningkatkan kualitas SDM masyarakat lewat pendidikan," ujar Daeng Ali.

Dengan program ini, lanjut Daeng, akan terus menjadi stimulan bagi sekolah-sekolah swasta juga untuk menunjukkan prestasinya. Karena dengan fasilitas yang ada dan kesejahteraan sudah terbantu, maka tidak ada alasan untuk guru tinggal diam dalam membina masyarakat.

"Kita berharap program ini terus berlanjut dan sebisa mungkin para guru swasta tercakup semuanya," sambung Daeng ali penuh harap. (st2)

Sumber: Surya, Wednesday, 10 September 2008

Label: , ,