Batik Madura Makin Moncer

Batik Madura memang sudah terkenal. Tapi peminat batik dulu biasanya membeli di distributor Jakarta atau Surabaya. Sebab sentra batik Madura berada jauh di pelosok seperti Tanjung Bumi, Sampang, Pamekasan, Sumenep.

Tapi sejak Jembatan Suramadu dibangun, penyuka baju batik cukup datang ke Burneh, Kab. Bangkalan. Sebab di daerah yang menjadi akses Jembatan Suramadu ini sekarang bermunculan gerai toko batik yang menjual produk perajin dari semua daerah Madura.

Dari Burneh hingga Kota Bangkalan tidak kurang berdiri 20 toko batik. Toko-toko batik itu milik perajin batik Burneh, Tanjung Bumi, atau Pamekasan yang menangkap peluang bisnis setelah Jembatan Suramadu dibangun.

Ada koleksi batik tulis yang dikerjakan secara tradisional tapi harganya mahal. Pilihan lain tersedia juga batik cap yang harganya lebih murah. Jangan khawatir, semuanya bercorak khas Madura seperti warna dominan merah, hijau dengan kembangan etnisnya.

”Saya sebenarnya jualan batik sudah lama. Namun sejak ada Jembatan Suramadu, saya membuka gerai di rumah. Memang sangat terasa, sekarang banyak pengunjung dari luar daerah mencari batik Madura ke sini,” kata Yayuk, pemilik gerai ’Baju Batik Madura’ di Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, ditemui Selasa (9/3).

Di rumah batiknya dia menjual batik produk Tanjung Bumi dan Pamekasan. Dia mengaku, sekarang kewalahan memenuhi pesanan dari luar kota. ”Saat ini saya harus memenuhi pesanan 400 potong batik Pamekasan dari ibu-ibu di Jawa,” cerita dia. ”Ibu – ibu itu ke sini datang lihat sendiri barang yang cocok dan langsung pesan," ujarnya.

Untuk menyediakan bahan baku dia membuka jaringan dengan pemilik batik di Tanjung Bumi dan Pamekasan. Dia datang sendiri mencari batik ke perajin yang cocok dengan permintaan pasar. ”Saya sudah mempunyai beberapa pemasok batik dari Tanjung Bumi dan Pamekasan," ujar aktivis perempuan ini.

Dia menjual batik dalam bentuk kain dan baju. Harganya bervariasi mulai Rp 35 ribu per potong hingga Rp 100 ribu per potong. ”Ya modal saya kecil. Pernah saya satu minggu mendapat pemasukan Rp 9 juta," ujarnya.

Selain warga Burneh, ada pula perajin batik dari Tanjung Bumi yang membuka gerainya di Kota Kecamatan Burneh. Salah satunya Siti Syamsiyah yang membuka gerai batik di Jl. Raya KH Munif. Di tokonya ini berjajar ratusan macam batik corak Tanjung Bumi. Harganya mulai dari Rp 75 ribu per potong – Rp 1,5 juta per potong.

“Kami khusus menjual batik tulis Tanjung Bumi. Kenapa agak mahal harganya, karena ini batik tulis. Beda dengan batik cap dari daerah lain. Apalagi dengan batik printing dari kota-kota di Jawa," ujar Ifah, salah satu karyawan yang menjaga tokonya.

Dia yang ditemui sedang membatik itu mengatakan cukup ramai pengunjung datang ke tokonya sejak ada Suramadu. Mereka dari Jakarta, Jateng, Malang, dan Surabaya. ”Dulu mereka kenal dengan kami saat di Jakarta saat ada pameran. Sekarang orang Jakarta yang kebetulan ke Surabaya datang ke Madura membeli batik di tempat produksinya,” katanya.

Jembatan Suramadu juga menjadikan gerai batik di Kota Bangkalan makin ramai. Ada tiga gerai yakni Nusa Indah Jl. KH Kholil, Tresna Art, Jl. KH Kholil. Satu lagi rumah batik di komplek perumahan Kelurahan Mlajah, Jl. Sidingkap.

Seperti akhir pekan kemarin di gerai batik Nusa Indah menjelang siang hari hingga sore ramai dikunjungi pembeli dari Surabaya, Jogjakarta, Jakarta, Bandung, hingga Balikpapan.

Gerai batik ini paling strategis karena di pinggir jalan raya. Di sini tersedia batik produk Tanjung Bumi, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep dan Sampang. Karena itu di etalase toko dituliskan ‘Batik Madura’.

”Saya dari Sidoarjo membawa teman-teman dari luar kota. Ada dari Jogjakarta, Jakarta, Kalimantan. Mereka kebetulan ada acara di Surabaya. Usai acara mereka ingin melihat Suramadu, lalu dilanjutkan ke Bangkalan mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke daerahnya masing-masing," ujar pengunjung Ny. Umi Latifah.

Di toko ini ada kain hingga pakaian jadi. Batik produk Bangkalan ternyata harganya paling mahal namun banyak diminati karena corak dan warnanya lebih ngetrend dibandingkan batik Madura lain.

Seperti seorang ibu dari Jogjakarta ini memborong empat kain batik dengan harga masing – masing Rp 250 ribu. “Saya tahu mana batik yang berkualitas dan tidak. Meski harganya cukup mahal tak masalah, yang penting mantap. Ini untuk oleh-oleh keluarga di rumah," ujar ibu muda ini.

Ada juga batik yang sudah jadi dalam bentuk baju. Baju pendek harga Rp 75 ribu dan baju batik lengan panjang Rp 100 ribu. Selain itu juga tersedia kaos khas Madura loreng warna merah-putih harga Rp 30 ribu. Gantungan kunci berhias patung kecil orang Madura berpakaian Madura, pecut, udeng, dan lainnya.

“Mumpung barangnya ada, saya beli baju batik. Ini untuk oleh–oleh teman–teman kerja di kantor, selain untuk keluarga," kata seorang bapak yang memborong baju–baju batik Madura.

Embun, pemilik gerai batik Nusa Indah mengatakan, pada akhir pekan pengunjung sangat ramai hingga dia kewalahan melayani pembeli yang datang silih berganti. ”Kalau stok batik tersedia cukup. Karena kami selalu mendapatkan pasokan barang yang diinginkan selera konsumen," ujarnya di sela melayani pengunjung.

Tak lama kemudian datang lagi rombongan ibu-ibu naik bus dari Malang datang ke toko ini. “Mumpung di Madura, kami cari batik yang katanya bagus," ujar seorang ibu bergegas menuju gerai batik begitu turun dari bus.

Hampir semua pengunjung yang datang mencari batik mengatakan tujuan utama piknik ini melihat Suramadu. Setelah itu mencari oleh-oleh khas seperti batik tulis Madura.

“Kalau kita ke Jogjakarta, mesti mampir di Malioboro. Di sana kita bisa mencari beraneka macam batik dan baju khas Jogja. Coba di Bangkalan, di buat seperti di Jogja, lebih bagus lagi. Kalau di Solo mencari batik pasti ke pasar Klewer. Di Bangkalan, rombongan ini bingung, kalau tidak ada yang menunjukkan tempatnya di mana dijual batik madura,’’ tanya pengunjung ini.

Embun menceritakan, sebelum ada Jembatan Suramadu, toko Nusa Indah tidak ada yang menoleh karena dulu berjualan mebeler dan makanan kering khas Madura. Setelah ada Jembatan Suramadu, banyak warga luar daerah berdatangan bertanya sesuatu yang khas Madura seperti batik. Dia langsung menangkap peluang bisnis. Langsung saja tokonya diisi kain dan baju batik Madura yang ternyata diminati pembeli.

Kepala Bappeda Bangkalan, Moh. Muhni mengakui saat ini ada perkembangan di Bangkalan pasca Suramadu seperti rumah makan dan toko batik. Bupati Bangkalan RKH Fuad Amin SPd, katanya, mempunyai gagasan mendirikan sentra kerajinan batik di sekitar Suramadu tapi anggarannya belum tersedia.

“Kita serahkan ke masyarakat untuk menangkap peluang ini. Pemerintah daerah akan memfasilitasi, di antaranya mempermudah periziannya dan lainnya," ungkapnya. (KASIONO)

Sumber: Surabaya Post, Rabu, 10 Maret 2010

Label: , ,

4 Komentar:

Pada 5 April 2010 22.44 , Anonymous nusa indah mengatakan...

boleh mnt no HP ato FB nya pak kasiono nggak? tolong ya. kalok boleh, kirim pesan aja ke FB : nusaindahkhasmadura@yahoo.co.id

 
Pada 5 April 2010 22.45 , Anonymous nusa indah mengatakan...

trims sebelumnya

 
Pada 28 September 2010 19.30 , Anonymous Anonim mengatakan...

di aulia batik juga lengkap, kami sekeluarga sering mampir dan belanja disana. harganya gak semahal di tempat lain

 
Pada 23 Juli 2012 04.33 , Blogger Batik Giriloyo mengatakan...

Apik Tenannnn jyan

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda