Tanjungbumi Dengan 'Batik Gentong' yang Eksotik

Beberapa Motif batik Madura (Koleksi pribadi Ibu Maimonah - Bangkalan/amelia)

Pagi itu memang hari sangat terik di Surabaya. Dan jembatan Suramadu telah dipadati oleh penyeberang. Hari ini saya akan melanjutkan perjalanan saya untuk menyusuri jejak batik Jawa Timur ke pulau garam Madura. Tepatnya di kota Bangkalan.

Lebih dahulu saya ingin mengunjungi seorang pengusaha batik yang telah merintis usahanya dari generasi ke generasi, Siti Maimona di kota Bangkalan - Madura. Tepatnya 10 kilometer dari jalan baru tol Suramadu. Bu Mai (begitu sapaan akrabnya) juga seorang kolektor dari batik-batik yang sudah berusia ratusan tahun.

Sayang saat saya berkunjung, bu Mai sedang keluar kota. Tapi ada beberapa orang keluarga yang juga asistennya mau menggantikan. Abdulrahman, menemui kami untuk menjelaskan tentang batik Madura.

Mulai 1998 Siti Maimona mulai serius mengolah batik. Pada awal usahanya Bu Mai hanya dibantu keluarganya namun kemudian dapat mempekerjakan masyarakat sekitarnya terutama perempuan.

Beberapa Motif batik Madura (Koleksi pribadi Ibu Maimonah - Bangkalan/amelia)

Menggunakan motif klasik, moderen, atau kombinasi. Hal itu berdasarkan pesanan atau ketertarikan pembeli pada motif yang ada. Kebanyakan dari kreatifas dari Bu Mai sendiri. Atau memberikan kesempatan pada perajinnya untuk membuat pola, lalu direngreng (menggambar pada kain batik).

Saat ini dapat menghasilkan 300 – 400 lembar kain per bulan, dengan kualitas rendah (warna sintetis, penggambaran kasar dan canting ukuran besar) oleh 80 orang perajin binaannya. Sedang untuk batik yang halus karena pengerjaan lebih lama maka dihasilkan lebih sedikit berkisar puluhan lembar. Apalagi jika merupakan batik gentongan (untuk warna biru). Selain perendaman yang membutuhkan waktu, juga dibutuhkan keahlian dalam meramu warna alami untuk menghasilkan warna-warna tertentu.

Jika pola yang ada cocok untuk pengerjaan secara eksklusif maka batik tersebut akan dikerjakan dengan pewarnaan sistem gentong, yang kemudian dikenal dengan batik gentong. Yang menjadikan batik olahan gentong ekslusif adalah waktu celup di gentong yang sangat lama dan bahan pewarna alami.

Proses pembuatan kain batik. Kain sebelum di rengreng lebih dahulu dilakukan proses lecak, yaitu kain direndam dengan sejenis biji-bijian nyamplong dicampur air abu, berfungsi agar kain hilang dari minyak dan bahan pengembang kain (kain bisa mengerut). Juga mengharumkan, menghaluskan dan membuat hasil pewarnaan lebih baik. Hal ini akan membuat proses selanjutnya lebih baik dan mudah. Proses ini membutuhkan waktu tiga minggu sampai satu bulan.

Beberapa motif yang sering diproduksi antara lain, carcena (ada pengaruh Tionghoa), sikmalaya, napaser, sarpoteh, sabe, truci, panjikereng, panji tongkol, panjisuci dan banyak lagi motif klasik lainnya.

Untuk batik-batik halus dan gentongan konsumen yang terbanyak masih dari Jakarta. Karena harganya yang masih cukup tinggi. Sedang konsumen luar negeri masih relatif kecil.

Koleksi batik kuno

Selain itu Bu Mai pemilik Pesona Batik Madura juga mengoleksi batik-batik yang berusia ratusan tahun. Batik yang dirawatnya dengan baik ini merupakan saksi sejarah keindahan dan kekayaan motif batik Madura.
Beberapa koleksi yang usianya 200 tahun antara lain mano’ juduh tarpotè kellèngan, tarpotè bangan, burubur”, rawan mèra”, tana pasèr mèra.

Koleksi batik kuno (Koleksi pribadi Ibu Maimonah - Bangkalan/amelia)


Gentongan Tanjungbumi

Setelah itu kami melaju kearah kecamatan Tanjungbumi berjarak 50 kilometer ke utara dari kota Bangkalan. Tepatnya didaerah Peseseh, daerah pesisir pantai dan memiliki pelabuhan tempo dulu. Menemui pengusaha batik yang telah dirintis empat generasi, Zulfa batik. Wuri dan Alim suaminya, meneruskan usaha batik dari ibunda Wuri, Bu Hajjah Zulfa. Sebagai keluarga pembatik, Wuri ingin juga melestarikan budaya batik Tanjungbumi yang terkenal itu.

Wuri pewaris batik Zulfa dengan batik gentongan koleksinya(oscar)

Tanjungbumi daerah pesisir pantai, memiliki riwayat tersendiri dengan batiknya. Dahulu batik menjadi pekerjaan perempuan di daerah itu untuk mengisi waktu luang menunggu suami mereka yang bekerja sebagai pelaut pergi ke daerah yang jauh, seperti ke pulau Kalimantan dan Sulawesi.

Bagi perempuan Tanjungbumi, menunggu kedatangan suami merupakan saat-saat paling panjang dan menegangkan. Mereka selalu gelisah apakah suaminya bisa pulang kembali dengan selamat dan bisa membawa uang untuk biaya rumah tangga. Untuk mengurangi rasa gelisah tersebut, akhirnya mereka mulai belajar membatik. Namun, hingga kini belum ada yang dapat memastikan kapan para istri itu mulai membatik.

Selain itu masyarakat disana juga memiliki budaya, batik digunakan untuk simpanan. Yang diperlakukan sebagai emas atau tabungan. Atau disimpan untuk diserahkan kepada anak dan cucu, sebagai tanda kasih dan cinta ibu. Batik menjadi salah satu sumber kekayaan dan kebanggaan mereka. Tak heran mereka melakukannya dengan sepenuh hati.

Nilai ini semakin bergeser karena zaman, membatik bukan lagi sebagai tanda kasih dan cinta ibu, namun semata-mata untuk mencari uang. Nilai komersial ini menjadi salah satu sebab mengapa hasil penggarapan batik tidak lagi sebagus yang dahulu?

Kegiatan yang dilakukan untuk membunuh waktu itu sekarang menjadi industri rakyat yang cukup besar. Tanjungbumi menjadi kecamatan terbesar di Madura yang memproduksi batik. Popularitas mulai dikenal penggemar batik Tanah Air.

Sekarang di Tanjungbumi ada 530 unit usaha batik dengan 1.000-an perajin. Jumlah tersebut belum termasuk para perajin yang mengerjakan secara perorangan yang sifatnya hanya sekadar kerajinan tangan saja. Unit-unit perbatikan itu tersebar di Desa Macajah, Desa Telaga Biru, Desa Paseseh dan Desa Bume Anyar.

Pada zaman dahulu, membatik menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan untuk batik gentongan bisa mencapai satu tahun proses hanya untuk sepotong batik. Hal ini karena motif yang sangat rumit dan detil. Luar biasa. Benar-benar sebuah mahakarya.

Tak salah jika sepotong batik gentongan Tanjungbumi ini berharga antara 2,5 juta hingga 5 juta rupiah bahkan lebih. Lebih mahal daripada emas. Bahkan untuk batik sutra, karena batik gentongan atau tulis yang halus, gambar motifnya bolak-balik/dua sisi, sedangkan pada sutra hanya satu sisi saja.

Batik gentongan merupakan batik khas Tanjungbumi, bercirikan warna yang berani (colour full) dan pengerjaan yang halus. Motif-motifnya beragam, namun tidak dapat diketahui secara pasti apakah yang menjadi motif klasik batik gentongan. Seperti yang kebanyakan, motif kembang randu, burung hong, sik melaya, ola-ola dan banyak lagi.

Motif-motif klasik Tanjungbumi sikmalaya, ola-ola, (Oscar)

Bagaimanakah membedakan batik gentongan (memiliki warna biru dengan pewarna alami) dan batik biasa yang memiliki warna biru dongker dari bahan kimia? Ternyata menurut Wuri, sangat sulit membedakannya, kecuali pembatiknya sendiri. Ini tergantung dari kejujuran penjual batik kepada pembeli. Namun jika beruntung, batik gentongan ada yang masih memiliki aroma rempah-rempah karena perendaman.

Meski kekuatan warna gentongan dan batik halus pewarna sintesis sama, namun batik gentongan makin lama warnanya makin cemerlang meski kainnya telah rapuh.

Wuri kemudian menunjukkan batik gentongan miliknya yang sangat indah, bermotif til cantil. Batik dengan motif tersebut digunakan untuk kain gendongan anak bangsawan pada zaman lampau. Dan telah dihargai 5 juta rupiah namun Wuri belum ingin melepasnya. Menurutnya, batik tersebut langka karena pengerjaan yang halus dan motifnya sangat indah.

“Batik gentongan kami memang mahal, tapi kami menjual kualitas. Seperti batik ini sangat halus dan sudah ditawar 5 juta rupiah tapi saya belum ingin melepasnya. Karena motifnya indah dan pengerjaannya halus.”

Biasanya pembeli langsung membeli jika ada batik dengan motif bagus, karena untuk memesan jarang bisa mendapatkan motif yang benar-benar sesuai dengan yang diinginkan.

Proses Pembatikan

Perlakuan pertama dari proses batik Jawa Timur sedikit berbeda, yaitu adanya proses perendaman kain mori menggunakan minyak nyamplong dan abu sisa pembakaran kayu dari tungku. Setelah itu baru kain di beri gambar motif (direngreng) pada kedua sisinya. Lalu diberi malam. Dan proses pewarnaan. Proses ini merupakan proses paling penting karena pada batik Jawa Timuran memiliki banyak warna. Warna yang dihasilkan adalah ukuran berhasil tidaknya proses pembatikan yang dilakukan.

Gentong yang digunakan untuk merendam kain batik. Usia gentong tersebut sudah seratus tahun, yang dimiliki turun temurun. Batik yang sedang diangin-anginkan (tengah). Batik gentong yang jadi (oscar)

Seperti pada batik gentongan, lamanya perendaman batik dalam gentong juga menentukan warna biru yang dikehendaki. Atau pewarnaan dengan warna lain yang direndam dengan warna tertentu lalu disikat hingga berulang-ulang agar didapat warna yang dikehendaki.

Setelah didapatkan warna yang dikehendaki maka dilakukan proses lorotan yaitu melorotkan atau meluruhkan lilin atau malam dengan air mendidih. Baru kemudian dijemur dipanas matahari.

Mitos Gentongan

Dalam pemrosesan batik gentongan, dihentikan jika ada tetangga yang meninggal hingga tujuh harinya. Semasa penyimpanan dalam gentong, setiap hari dilakukan proses pengangkatan dan kain diangin-anginkan. Jika ada yang meninggal proses ini dihentikan. Jika dipaksakan maka menghasilkan warna yang pudar.

Menurut Abdulrahman, masyarakat perajin batik gentongan masih meletakkan sajen setiap tujuh bulan sekali. Dengan harapan agar batik gentongan hasilnya sesuai yang diinginkan.

Mengapa hanya di Tanjungbumi?

Batik gentong hanya ada di Tanjungbumi - Madura, belum ditemukan dibuat di daerah lain. Ini dikarenakan air yang ada di pulau Madura. Air yang berkadar kapur tinggi sangat menguntungkan untuk proses pewarnaan. Warna menjadi lebih cemerlang. Sedangkan didaerah lain warnaya tidak dapat sebagus di Tanjungbumi.

Bahan alami kulit pohon jambal untuk warna kuning (amelia)

Khusus batik gentongan memakai pewarna alami atau soga alam. Warna merah bisa diambil dari kulit mengkudu, warna hijau dari kulit mundu dicampur tawas, biru dari daun tarum. Kepekaan warna dicapai dari lamanya waktu merendam. Pewarna alam lainnya yang kerap dipakai, baik untuk gentongan maupun jenis batik lainnya antara lain kulit buah jelawe, kayu jambal, dan lainnya.

Kebanyakan batik Madura memilih warna terang, merah, kuning, hijau. Namun, batik gentongan memiliki warna yang beragam. Motif tarpoteh (latar belakang poteh/putih) misalnya, mencitrakan warna yang elegan, seperti hitam dan coklat pada motif-motifnya

Masa depan

Tanjungbumi sebagai sentral dari batik Madura, telah memiliki trademark tersendiri untuk batik Jawa Timur, mengharapkan pada waktu dekat akan memiliki kelompok perajin batik Tanjungbumi sendiri untuk mengembangkan produksi mereka.

Perajin mendapat kesempatan lebih untuk memperkenalkan lebih luas batik Madura khas Tanjungbumi. Keunikan dan karakter tersendiri dari batik gentongan.

Perajin batik masih didominasi oleh kaum perempuan, jika pemasaran batik lebih meluas maka produksinya meningkat. Tentu hal ini akan lebih memberdayakan perajin dan meningkatakan taraf hidup mereka yang konon Tanjungbumi banyak perempuannya berstatus janda.

Menurut Alim untuk meningkatkan taraf hidup perajin dan batik khususnya Tanjungbumi adalah dengan menjual batik dengan harga yang tinggi dan memberikan upah pada perajin dengan tinggi. Hal ini juga dapat tetap melestarikan batik Tanjungbumi yang mulai banyak ditinggalkan karena banyaknya pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. (ET_Sby/Amelia/Oscar)

Sumber: Epochtimes, Jumat, 10 Juli 2009

Label: , , , ,