Hentikan Kekerasan dalam Karapan Sapi

Foto : Surya/Dodo Hawe
Wakil Ketua DPRD Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Khairul Kalam, meminta tradisi kekerasan dalam pelaksanaan lomba karapan sapi di wilayah tersebut bisa dihentikan. “Kalau dibicarakan sejak awal antara semua pihak, antara pihak panitia pelaksana dan pemilik sapi karapan saya kira bisa dihentikan,” kata Khairul Kalam, Kamis (14/10/2010).

Pernyataan Khairul ini disampaikan menanggapi protes sebagian warga tentang praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi yang biasa terjadi di Madura. Hanya, menghapus praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi itu membutuhkan waktu yang lama, karena menyangkut kebiasaan. “Soalnya itu kan sudah menjadi tradisi turun temurun dari dulu,” katanya.

Selain itu, pemerintah daerah baik Pemkab, Bakorwil dan Pemprov, juga memiliki peran penting dalam menghentikan praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi tersebut. “Demikian juga dengan para tokoh masyarakat dan ulama yang ada di Madura, harus ada ketegasan bagaimana hukumnya menyiksa hewan sebagaimana dalam praktik karapan sapi yang terjadi selama ini,” katanya.

Politikus dari Partai Demokrat (PD) ini menambahkan, budaya karapan sapi sebenarnya merupakan warisan budaya leluhur warga Madura. Pada awalnya, karapan sapi di Madura ini tanpa kekerasan dan murni hanya dilakukan untuk adu kecepatan lari sapi pasangan sapi.

Karapan sapi menjadi tontotan menarik, karena selain bisa menyaksikan adu kecepatan lari sapi. Biasanya dalam pelaksanaan karapan sapi, khususnya juga diiringin dengan musik saronen yakni jenis musik yang memang menjadi musik pengiring dalam pelaksanaan karapan sapi.

Menodai Budaya

Usulan menghapus praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi sebelumnya juga telah disampaikan sejumlah aktivis mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan organisasi ini menilai, praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi sebenarnya telah menodai khazanah budaya peninggalan leluhur sesepuh Madura tersebut.

“Cara-cara yang dilakukan dalam karapan sapi sudah menyimpang, baik dari sisi prikehewanan ataupun dari nilai-nilai agama,” kata Azis Maulada, dari Lembaga Pengelola Latihan (LPL) HMI cabang Pamekasan.

Praktik kekerasan dalam pelaksanaan karapan sapi ini dilakukan dengan cara membacokkan paku ke pantat sapi agar larinya kencang, serta memoleskan balsem dan cabe ke mata hewan itu sesaat sebelum dikerap.

Sumber: Surya, Jumat, 15 Oktober 2010

Label: ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda