Klenteng Eng An Bio Bangkalan

Untuk Sembah Dewa Bumi, karena Berada di Tengah Pemukiman
Orang Tinghoa juga punya tahun baru. Tradisi yang disebut Imlek ini berlangsung semarak hingga sekarang. Perayaan Imlek oleh umat Tridharma dilakukan di Klenteng Eng An Bio.

Kota Bangkalan kemarin diguyur hujan dari pagi hingga siang. Hujan di Tahun Baru Imlek oleh komunitas keturunan Tionghoa justru disambut gembira. Sebab, menurut pandangan mereka, semakin deras hujan, semakin lancar peruntungan di tahun tikus ini.

Meski sudah lama menetap di Bangkalan, keturunan Tionghoa tidak lupa dengan Imlek, tradisi nenek moyang mereka. Tempat merayakan dan sembahyang adalah Klenteng Eng An Bio di Jalan Panglima Sudirman 116 Bangkalan. Imlek dirayakan kemarin malam.

Sehari sebelum dan saat Imlek kemarin, Radar Madura mengunjungi tempat ibadah Tridharma ini. Tampak bangunan klenteng semakin dipercantik. Ornamen dan aksesoris pendukung Imlek yang didominasi warna merah dipasang.

Sekilas, dari luar tempat ibadah itu sangat tertutup. Maklum, jika tidak ada jadwal sembahyang, pintu gerbangnya tidak terbuka lebar. Apalagi bangunan pintu masuknya dihalangi oleh persegi loster (hiasan tembok ukiran berlubang). Itu ada maknanya, untuk menyesuaikan energi yin dan yang. Mereka berharap rezeki yang masuk tidak cepat keluar karena masih ada penghalangnya.

Klenteng Eng An Bio didirikan pada 1805 Masehi. Dulu, tanahnya merupakan hibah dari Kapiten Tan Kuang Pang. Dia pimpinan orang Tionghoa di Bangkalan pada masa penjajahan Belanda. "Seiring perkembangannya, klenteng kemudian dibangun oleh Ong Ki Chai, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Tridharma Indonesia," kata Gunawan Hidayat, ketua Klenteng Eng An Bio.

Ketika masuk klenteng, terlihat di mana ada patung dewa, di depannya pasti ada guci tempat hio dibakar. Ini dimaksudkan untuk memudahkan jamaah yang akan sembahyang. Di kanan kiri pintu utama berdiri sebuah patung dewa sebagai perwujudan dewa penjaga pintu. Yang kanan bernama Oe Ti Kiong, yang kiri Cin Siok Po.

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, umat Tridharma terlebih dahulu memulai ritual dengan membakar hio (dupa) di depan ruangan terbuka. Maksudnya, berusaha memberi sembah kepada dewa pencipta alam. Selanjutnya mereka boleh menyembah kedua penjaga pintu tadi. "Tempat ibadah kita menyembah Dewa Bumi Hok Tik Cing Sing sebagai punden (tuan rumah)," kata Gunawan Hidayat. Ini karena lokasi klenteng yang berada di tengah pemukiman. "Beda lagi jika lokasinya terletak di pinggir sungai/laut. Yang dijadikan punden pasti berbeda," terangnya.

Perayaan Imlek di Eng An Bio berlangsung kemarin malam. Sedikitnya 50 jamaah saling bergantian melakukan sembahyang ke masing-masing dewa. Berbagai kue dan buah sesaji tertata rapi di atas meja. Lampion aneka ukuran menghiasi setiap sudut langit ruangan. Sebagian jamaah ada yang membagikan angpou. Ada pula yang saling bersalaman sebagai wujud ucapan selamat hari raya. "Menjelang perayaan Imlek ini, biasanya semua saudara berkumpul di sini," ujar Gunawan.

Menurut dia, perayaan Imlek merupakan puncak ritual untuk menyembah para dewa. Seperti halnya yang dilakukan dia dan saudaranya. Mereka menyembah tiga dewa yang lain, yang letaknya persis di belakang altar Dewa Bumi. Tiga dewa yang mereka sembah itu adalah Dewa Bahari (biasa disembah oleh kaum nelayan), Kwan I Kong (dew yang disembah kaum pedagang), dan Kong Tik Cun Ong (dewa tabib/pengobatan).

Sementara di ruangan sebelah utara gedung terdapat altar untuk menyembah Dewi Kwan Im. Dewi yang satu ini dikenal sebagai dewi pengasih. "Jika kami mendapat kesusahan, kami mohon pengasih dari Dewi Kwan Im" ujar Yuyun, juru kunci klenteng. Dijelaskan, kedudukan Dewi Kwan Im setingkat lebih rendah dari Budha. Karena itu, Dewi Kwan Im mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding dewa lainnya.

Yuyun kemudian menjelaskan aturan ritualitas Tridharma. Hio atau batangan dupa yang dibakar, katanya, memiliki aturan tersendiri. Semakin banyak hio yang dibakar, semakin bagus untuk persembahan. Namun begitu, tingkatan jumlah hio untuk para dewa haruslah ganjil. Mulai dari satu, tiga, sembilan, dan seterusnya.

Berbeda dengan yang dilakukan untuk memberi persembahan kepada orang meninggal. "Jumlah hio yang dibakar adalah kebalikannya, yakni harus genap," kata Gunawan menambahkan. Perayaan Imlek ini tidak berhenti sampai di sini. Satu minggu lagi, mereka kembali ke klenteng untuk merayakan ritual persembahan Keng di Kong (ritual tersendiri untuk mengadakan persembahan ke dewa).

Kemudian, tepat tanggal 15 bulan Cina (setengah bulan setelah Imlek), jamaah akan mengadakan perayaan yang dikenal dengan istilah cap go meh. Biasanya, acara ini dimeriahkan dengan membuat makanan menggunakan lontong. Karena itulah, saat itu dikenal istilah lontong cap gomeh. (SILVIA RATNA D)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 08 Feb 2008

Label: , , ,