Ponpes Darut Tauhid di Kampung Injelan, Sampang

Nama Pondok Pemberian Ulama Besar Makkah

Karisma yang dimiliki pondok pesantren (ponpes) Darut Tauhid, Sampang benar-benar mengakar di benak warga Sampang. Ini tak lepas dari komitmen tinggi pengasuh pondok dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam. Namun demikian, sejarah berdirinya ponpes yang berlokasi di Kampung Injelan, Desa Panggung, Kecamatan Kota Sampang tersebut, hingga kini belum banyak yang tahu.

Sejak dulu, Pulau Madura memang dikenal sebagai daerah yang religius dan berbasis ponpes. Dan salah satu ponpes yang cukup merakyat di hati masyarakat adalah Ponpes Darut Tauhid Injelan. Ponpes yang didirikan tahun 1930 di atas lahan seluas 3 hektar tersebut, dulunya hanya sebuah madrasah perkampungan yang diasuh oleh (alm) KH Sholeh Faqih.

Dua tahun setelah mendirikan sebuah masjid, pengasuh Ponpes Darut Tauhid kemudian menunjuk putranya, yakni (alm) KH Muhammad Munir dan (alm) KH Ma’mun Nawawi sebagai penggantinya. Praktis, kehadiran ponpes tersebut membawa perubahan positif yang signifikan bagi warga setempat. Sebab, mampu merubah prilaku warga setempat yang sebelumnya banyak menyimpang dari syariat Islam.

Setahun kemudian, KH Abd. Bari, yang tak lain putra KH Muhammad Munir yang mondok di Ponpes Tebu Ireng-Jombang mendapat tugas dari gurunya, yakni KH Hasyim Asy’ari. Oleh pendiri NU yang notabene kakek dari mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid tersebut, Abd. Bari diminta mengajar di madrasah Al-Itihad-Pamekasan. Selanjutnya, mengajar di madrasah Al-Ittihad Injelan-Sampang.

Beberapa tahun berselang, madrasah Al-Ittihad pun mengalami perkembangan cukup pesat. Buktinya pada tahun 1967, pengasuh memperlebar sayap pendidikan dan mendirikan Ponpes Mambaul Ulum Injelan. Selain madrasah salafiyah Syafi’iyah, juga didirikan madrasah tsanawiyah atau mu’alimin-mu’alimat.

Lalu pada tahun 1981, ada salah seorang ulama besar dari tanah suci Makkah yakni As Sayyid Al Habib Muhammad Alawi Al Maliki. Oleh guru besar pengasuh itulah, Ponpes Mambaul Ulum namanya dirubah menjadi Ponpes Darut Tauhid Injelan. Bahkan, lambang yang menjadi logo ponpes dibuat sendiri oleh As Sayyid Al Habib Muhammad Alawi Al Maliki.

Selanjutnya, pengasuh menyerahkan jalannya syiar keagamaan kepada putranya, yakni KH Abd. Muhaimin Abd. Bari. Di bawah asuhan Ketua PC NU Sampang ini, Ponpes Darut Tauhid terus mengalami kemajuan. Sistem pendidikan ponpes pun dibenahi seiring perkembangan jaman. Ponpes yang memiliki santri sekitar 1.100 tersebut kini memiliki lembaga pendidikan mulai MD, MI, MTs, dan MA.

Menurut Kyai Muhaimain, ada beberapa pelajaran yang dibekali kepada ribuan santriwan-santriwatinya. Misalnya seperti pelajaran tafsir Alquran, fiqih, dan tasawuf. "Pendidikan ini penting guna membentuk jiwa santri yang ahlaqul karimah," ujar kyai yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo-Mesir tersebut.

Dijelaskan, seiring perkembangan jaman, pihaknya juga mengkolaborasikan pelajaran keagamaan dengan pengetahuan umum. "Selain melengkapi pengetahuan santri di bidang komputerisasi dan bahasa asing, kami juga membekali mereka beragam keterampilan tangan. Seperti menjahit, mebeler, sulam, dan pangkas rambut," tandas kyai yang pernah menimba ilmu di Universitas Sayyid Maliki Mekkah ini mantap. (HARIYANTO)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 17 Jan 2008

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda