Tuntut Salsabila Bubar

Puluhan Warga Pabian Demo

Gejolak terhadap Yayasan Salsabila yang sempat dijadikan tempat mengajar Aris, tersangka teroris yang menyerahkan diri ke polisi, selama tiga tahun (2006 - 2009), belum reda. Bahkan, kemarin (17/10) puluhan warga Desa Pabian, Kec Kota Sumenep, demo di kantor Salsabila.

Massa membawa sejumlah poster yang tulisannya mengecam keberadaan teroris di Sumenep. Mereka menuntut agar Yayasan Salsabila dibubarkan, jika hanya mengganggu keamanan dan kenyamanan kehidupan bermasyarakat di Desa Pabian.

Demo warga di depan kantor Yayasan Salsabila di Jalan Payudan Barat no. 3 mendapatkan pengamanan ketat dari aparat kepolisian. Sedikitnya satu peleton polisi dari polsek kota dan polres membuat pagar betis untuk mencegah massa masuk ke kantor Salsabila.

Tidak lama kemudian, tiga perwakilan pengunjuk rasa diminta untuk bertemu langsung dengan Ketua Yayasan Salsabila Warsito W. S. di ruangannya. Di ruang pertemuan hadir juga Kasat Samapta AKP Mujib dan Kapolsek Kota AKP Heri.

Imam Sutarjo, perwakilan dari pengunjuk rasa, mendesak pihak Salsabila memberikan kejelasan terkait keberadaan Aris di Sumenep. "Kami harapkan dalam sepekan ini sudah ada kejelasan terkait keberadaan akte notaris Salsabila, kronologis keberadaan Aris di Sumenep, dan pencopotan Warsito dari ketua yayasan. Kalau tidak bisa memastikan, Salsabila burbarkan saja," katanya.

Imam juga mempertanyakan kenapa harus Sumenep sebagai tempat berdomisili buronan Densus 88 Antiteror itu sebelum menyerahkan diri di Temanggung. Padahal, kata dia, Madura terdiri dari empat kabupaten yang semuanya berpotensi untuk ditempati. "Apakah Warsito yang menginginkan Aris berada di Sumenep?" sergah Imam yang didampingi dua warga lainnya.

Warga juga mempertanyakan status berdomisilinya Nizar (nama lain dari Aris) di Desa Pabian yang ditengarai ada campur tangan pihak yayasan. "Informasi yang kami terima, saat Aris mengurus pernikahannya di sini, dia mendapatkan rekomendasi dari Salsabila," ungkapnya.

Sementara Warsito memastikan, keberadaan Aris di Sumenep hanya kebetulan. Diceritakan, awalnya pihak Salsabila terkesima dengan kemampuan berbahasa Inggris Aris. "Tanpa berpikir cukup selektif, akhirnya Aris diangkat menjadi guru bahasa di sini. Tak tahunya dia terlibat aksi teroris," jelasnya.

Terkait dengan akte notaris Salsabila, Warsito minta waktu sepekan untuk pengurusannya hingga ke tingkat menteri. Dalihnya, pihaknya sudah berupaya mengurus akte notaris, tapi belum ada hasilnya seperti yang diinginkan.

"Kalau saya mesti harus dicopot atau tidak menjadi ketua yayasan, menurut saya, tidak jadi soal. Sebab, jabatan menurut saya bukan kekuasaan yang harus dibangga - banggakan," cetusnya lalu tersenyum.

Sementara Kasat Samapta AKP Mujib mengatakan, kepolisian tidak berwenang terlibat dalam kesepakatan antara warga dengan Salsabila. "Kami kan hanya mengawal supaya tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan," katanya. (uji/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 18 Oktober 2009

Label: ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda