Alquran Berumur Empat Abad

Dari Kulit Kijang Putih, Tahan Api, Perekatnya Lidi

Moh. Hasyim, 54, warga Desa/Kec Tambelangan, mengaku sebagai ahli waris dari sebuah kitab Alquran yang berumur sekitar 400 tahun. Kitab itu ditulis oleh nenek moyangnya saat tirakat di Gua Pajudan, Desa Nangger, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Apa keunikannya?

ALQURAN itu tampak lusuh seakan tak terawat. Bagian sampul kitab suci yang berisi firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad itu sudah banyak yang sobek. Pada bagian belakang atau bagian perekatnya masih disisipi lidi yang juga tampak lusuh dan kuno.

Tebal kertas antara satu dengan yang lainnya tidak sama. Saat disentuh, bagian halaman mushaf tersebut ada yang kasar, ada juga yang halus. Tapi, tulisan dan huruf-huruf hijaiyah rapi dan bagus. Kendati ada sebagian yang lusuh seperti terkena tetesan air.

Kitab Alquran itu kini dipegang H Moh. Hasyim, warga Desa/Kec Tambelangan, Sampang. Dia disebut-sebut sebagai pewaris kitab yang ditulis tangan leluhurnya itu. Menurut ceritanya, Alquran tersebut ditulis di Gua Payudan, Desa Nangger, Kec Guluk-Guluk, Sumenep, sekitar tahun 1628 Masehi.

Moh. Hasyim mengatakan, Alquran tersebut ditulis Bujuk Nyabrengan, warga Desa/Kec Lenteng, Sumenep. "Menurut Mbah yang menceritakan kepada saya, Alquran tersebut ditulis pada sekitar 1628 Masehi," ujar pria yang mengklaim keturunan kedelapan penulis kitab suci tersebut.

Ceritanya, kata dia, Bujuk Nyabrengan tirakat di Gua Payudan, Guluk-Guluk, untuk menulis Alquran selama 40 hari 40 malam. Semasa menjalani tirakat, Bujuk Nyabrengan konon tidak makan dan minum. "Sebelum tirakat, dia berpesan kepada istrinya. Jika istrinya bermimpi Bujuk Nyabrengan menulis kitab suci Alquran, berarti sang penulis sedang lapar," katanya.

Ketika mimpi itu datang, Bujuk Nyabrengan minta istrinya langsung menanak nasi. Nasi tersebut bukan untuk dikirim kepada sang ulama yang sedang menulis Alquran di Gua Payudan. Tapi, nasi itu cukup dikipas-kipas saja dari rumah. Dengan begitu, Bujuk Nyabrengan sudah merasa kenyang begitu mencium aroma nasi. Hanya, tidak diceritakan secara rinci berapa kali sang istri memasak nasi dan mengipasinya.

"Kalau secara logika, memang tidak masuk akal Alquran bisa selesai dalam waktu 40 hari 40 malam," kata Hasyim. Menurut dia, Alquran dibuat dari kulit kijang putih. Keunikannya, kertas dari kulit kijang putih itu tahan dari api dan tidak bisa dimakan rayap. Sementara perekat sampul menggunakan lidi. Sehingga kitab suci itu kelihatan kusam dan kertasnya agak kasar.

Lalu, bagaimana Alquran itu bisa sampai ke tangan sang pewaris? Benarkah kitab suci itu ditawar Rp 1 millar? Selanjutnya, apa keistimewaan Alquran yang dikenal masyarakat setempat sebagai Alquran se imat tersebut? (BUSRI THAHA) (bersambung)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 13 Oktober 2009

Label: , ,

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda