Ramai-ramai Nonton Gerhana Cincin

Sejumlah siswa dari berbagai sekolah kemarin menyaksikan gerhana matahari cincin di Labang Mesem Keraton Songennep. Mereka menyaksikan gerhana dengan menggunakan teleskop berfilter dan sunglasses (kacamata).

Siswa tidak saja menjadikan gerhana matahari sebagai objek riset. Mereka juga memanfaatkan gerhana matahari sebagai objek wisata antariksa. Selain itu, antara siswa dan penyelenggara Taman Sains Gai' Bintang (TSGB) terlibat dialog dan transfer iptek.

TSGB mengedarkan brosur berisi awal mula terjadinya gerhana matahari. Sesuai leaflet, gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari. Sehingga bulan menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari.

Walaupun bulan lebih kecil, bayangan bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya. Sebab, bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 km dari bumi, lebih dekat dibandingkan matahari yang berjarak rata-rata 149.680.000 km.

Yang terjadi kemarin gerhana cincin. Yakni, piringan bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan bulan lebih kecil dari piringan matahari. Ketika piringan bulan berada di depan piringan matahari, tidak seluruh piringan matahari tertutup bulan. Bagian piringan matahari yang tidak tertutup bulan, berada di sekeliling piringan bulan dan terlihat seperti cincin yang bercahaya.

Penggagas wisata antariksa itu, Yanuar Herwanto, mengatakan, gerhana matahari tidak dapat berlangsung melebihi 7 menit 40 detik. Ketika gerhana matahari, orang dilarang melihat ke arah matahari dengan mata telanjang. Sebab, hal tersebut dapat merusakkan mata bahkan kebutaan. Fotosfer matahari (bagian cincin terang dari matahari) dapat mengakibatkan retina mata karena radiasi tinggi yang tak terlihat karena pancaran fotosfer.

Karena itu, TSGB menyediakan teleskop berfilter dan kacamata sunglasses. Alat tersebut berguna untuk mengamati gerhana matahari tanpa risiko. Yanuar mengatakan, gerhana hanya berlangsung secara fenomenal di Lampung dan mengarah ke timur laut. Dari peta, seseorang dapat menyaksikan lintasan bayangan umbra (bayangan inti) gerhana matahari cincin ini selebar 280 km. Kebetulan, gerhana menyentuh Indonesia khususnya dari Selat Sunda hingga ke Kalimantan Timur.

Di luar wilayah tersebut, Yanuar menjelaskan, gerhana tetap bisa dilihat. Namun, matahari menampakkan wujud gerhana sebagian, seperti di seluruh Pulau Sumatera (selain Lampung dan Sumatera Selatan). Dalam peta, terdapat garis biru muda sejajar umbra bernilai 0,6 dan 0,8. Wilayah-wilayah tersebut akan menyaksikan matahari tertutupi bundaran bulan antara 60 - 80 persen. "Nilai persisnya bergantung posisi tiap titik di daerah tersebut," terangnya. (abe/mat)

Sumber: Jawa Pos, 27/01/2009

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda