Misyanti, Perempuan Pemanggang Ikan

Tahan Terhadap Asap Bara Api

Siang kemarin cukup terik. Seorang nenek berusia 60 tahun di Desa Beluk Raja, Kecamatan Ambunten berada di dekat kepulan asap. Di hadapannya, tiga kuali berisi bara api. Di atas bara, ratusan ekor ikan terpanggang.

Di kawasan pantai utara Sumenep (Pasongsongan dan Ambunten) sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan. Mereka menangkap ikan dengan cara numpo (mencari ikan di tempat lain). Pada saat mereka berhasil menangkap ikan, nelayan pantura pulang. Ikan-ikan tangkapan diserahkan kepada keluarga.

Jual beli ikan dibagi dalam tiga jenis. Ikan dijual dalam keadaan segar. Selain itu, ikan dipindang (direbus) diambil sari-sarinya sebagai bahan campuran petis. Ikan juga dijual dalam bentuk panggang. Ikan ini sudah matang dan harganya pun lebih mahal. Jika ikan segar seharga Rp 3000 per ekor (sesuai besar kecilnya) ikan panggang mencapai Rp 5000 sampai Rp 6000/ekor.

Produksi ikan panggangan Misyanti, 60, sangat terkenal di Beluk Raja. Dia dikenal, karena perempuan paling tua di antara perempuan pemanggang ikan lainnya.

Perempuan itu terlihat tegar dalam usia kepala enam. Dia mengawali karirnya sebagai pemanggang ikan sejak umur 35 tahun. Banyak istri nelayan yang enggan memanggang ikan di saat perempuan itu memulai karirnya.

Alasannya, memanggang ikan pekerjaan sulit. Mula-mula, pemanggang harus menyiapkan perapian sampai tatal, batok kelapa maupun tandan jagung menjadi bara.

Sambil menunggu bara menyala, pemanggan ikan melukai tubuh ikan secara horizontal. Sayatan ini dilakukan agar panas bara menyentuh daging ikan. Sehingga, tidak bagian luar saja yang matang. Tetapi, di bagian dalam ikan juga matang.

Untuk ikan kecil, pemanggang menyiapkan bambu yang sudah diraut. Panjang bambu melebihi tubuh ikan. Tusukan bambu ini memudahkan pemanggang untuk membolak-balik ikan di atas bara api. "Susah kerja beginian (memanggang ikan)," katanya.

Warna putih di bagian bola mata perempuan itu berwarna merah. Ada garis-garis merah merambat di bola matanya. Misyanti mengakui ketika belum menjadi pemanggang ikan matanya biasa-biasa saja.

Dia menduga merahnya bola mata lantaran sering terkena asap bara api. Apalagi, setiap hari dia memanggang ratusan ekor ikan. Semula dia merasa perih tetapi lama-lama perempuan itu terbiasa dengan asap.

Kulit perempuan itu lebih tua dari usianya. Sebab, panas yang dibawa asap memercepat penuaan. Nenek dari 4 orang cucu itu tegar. Saat pagi hari tiba, dia harus bergegas ke kota untuk mengantar ikan kepada pembeli dan pemesannya.

Ketika siang mulai tiba, Misyanti harus bergegas dari kota dan mempersiapkan perapian untuk ikan-ikan segar yang dibawa para nelayan. "Tapi sekarang ikan terlalu banyak karena nelayan banyak yang tidak bekerja," tukasnya.(ABRARI)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 23 Januari 2009

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda