Tari Andholanan Bahhong Penuh Mistis

Setelah Mengirim Doa, Penari Tidak Ada yang Pingsan


Kesenian nenek moyang kita memang beragam. Salah satunya hong-bahhong. Berawal dari kebiasaan masyarakat Desa Katol Barat, Kecamatan Geger memuja leluhurnya, kini seniman Bangkalan mengangkat tradisi ini dalam bentuk seni tari berjudul Andholenan Bahhong.

MEMERLUKAN waktu lama untuk bisa menikmati rangkaian gerak tari andholanan bahhong. Dibandingkan tari lainnya yang hanya membutuhkan 5-10 menit, tari ini memerlukan waktu hingga 20 menit. Sejak awal tari dimulai, bulu kuduk kita seakan merinding. Kita serasa berada di tengah-tengah orang yang sedang memuja leluhur mereka di zaman dahulu.

Lalu, keluarlah tujuh orang perempuan cantik yang bergerak tak kalah mistis. Mereka bergerak seakan sedang melakukan penyembahan pada leluhur mereka. Membentuk sebuah lingkaran dengan kedua tangan mereka diacungkan ke atas.

Setelah melakukan beberapa gerakan, datanglah lelaki tinggi besar yang merupakan penjelmaan dari tetua suku adat setempat. Sang tetua mengajak gadis penari untuk atandhang. Para penari mengenakan kacamata hitam, yang menandakan zaman saat itu sedang dalam masa yang kelam.

Setelah sang tetua turun, terdengarlah suara tetabuhan yang mencerminkan kesenian Islam seperti rebana. Bahkan, syair-syair yang awalnya berbau pemujaan leluhur, kini berubah dengan lantunan shalawat pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan gerakan tari mereka banyak diilhami dengan tarian saman dari Aceh perlambang tarian bercirikan Islam.

Begitulah rangkaian singkat pagelaran tarian andholanan bahhong. Sebuah gerak tari yang bersumber dari ritual pemujaan pada Yang Maha Kuasa ketika terjadi peralihan dari Hindu kuno pada Islam di daerah puncak Bukit Geger.

Bagi Sudarsono koreografer tari tersebut, ide mengangkat kembali kesenian pemujaan tersebut muncul sejak 1999. Selama dua tahun dia mengkaji segala hal yang ada di dalamnya. Darso - panggilan akrab Sudarso - baru berhasil menciptakan sebuah tari yang bersumber dari hong bahhong pada 2001.

Pimpinan sanggar seni Tarara Bangkalan ini tidak menampik nuansa mistik selama membawakan tari tersebut. Darso menceritakan, tari andholenan bahhong pertama kali ditampilkan pada sebuah festival di Malang mewakili Kabupaten Bangkalan.

"Serem. Pemain kami semuanya sakit. Penabuh gendang malah tangannya mendadak kram. Kami pun paksakan tampil apa adanya. Saat tampil sebuah sosok tinggi besar seakan hadir di tengah kami menikmati tarian itu," kenangnya.

Bukan hanya itu, sepulang dari Malang, Darso dua kali berturut-turut mengalami kecelakaan. Namun dia tetap tidak percaya ketika beberapa seniornya mengatakan tari andholenan bahhong terlalu berbahaya. Dia pun kembali menampilkannya pada sebuah acara di Pendapa Bangkalan. "Namun setelah tampil, penari kami pingsan tanpa sebab. Pulangnya saya kembali kecelakaan," jelasnya.

Akhirnya Darso memutuskan menghentikan anak didiknya menarikan tarian sakral tersebut. Namun, pikirannya kembali terbuka pada awal 2008. "Setelah saya pikir, sebagai umat Islam kenapa saya harus takut pada hal seperti itu. Saya takut hanya kepada Allah," tegasnya.

Darso kembali memberanikan diri menampilkan tarian andholanan bahhong pada peringatan HUT RI ke-63 di Pendapa Agung Bangkalan. Walaupun tampil dengan luar biasa, namun kembali dua penarinya jatuh pingsan seakan kesurupan. "Setelah itu, saya mendapatkan masukan agar menyempatkan diri mengirimkan doa pada Buju' Massah, generasi pelestari kesenian bahhong," katanya.

Terakhir, Darso menampilkan tarian andholanan bahhong pada acara semalam di Madura akhir pekan lalu di Pamekasan. Dia menyempatkan diri mengirimkan Alfatihah pada Buju' Massah dan berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan keselamatan. "Saya bersyukur penampilan kami di Pamekasan tidak menemukan kendala apa pun," pungkasnya. (A. MUSTAIN SALEH)

Sumber: Jawa Pos, 30 Oktober 2008

Baca juga:
Seni Tari Bahhong

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda