Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Ketengan

Bawa Tanah dari Makkah untuk Mencari Lokasi Pesantren

Keberadaan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam terbilang sudah cukup tua. Diperkirakan, pesantren yang berdiri di tepi Jalan Raya Ketengan, Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh ini telah berusia lebih dari seabad. Bagaimana kisah berdirinya Ponpes Mambaul Hikam yang kerap disebut Langgar Tenggih ini?

Pondok Pesantren Mambaul Hikam didirikan KH Abu Bakar lebih dari seabad lalu. Sebelumnya, kiai yang dikenal memiliki karomah ini sudah lama menempuh pendidikan Islam di Makkah. Ketika hendak kembali ke tanah kelahirannya di Madura, oleh gurunya, Kiai Abu Bakar diberi segumpal tanah. "Katanya, tanah di sini sama dengan tanah yang dibawa Kiai Abu Bakar dari Makkah. Sehingga di sini dijadikan tempat tinggal dan dibangun pesantren," kata H Fahrur Rozi, calon penerus Ponpes Mambaul Hikam didampingi iparnya, Moh. Bakir Kholili saat ditemui wartawan koran ini.

Lokasi pesantren cukup unik. Sebab, tanahnya berbentuk seperti perahu. Konon, ketika terjadi banjir besar di Bangkalan, air bah tidak menggenagi lokasi ponpes. Sebab airnya terpecah dan melewati sisi kanan dan kiri pesantren.

Tak hanya lokasi pesantren yang punya kelebihan. Ketika wafat di atas kapal Belanda (dalam perjalanan di tengah laut hendak menunaikan ibadah haji ke Makkah), Kiai Abu Bakar konon juga menunjukkan karomahnya. "Ada orang dari Sumenep yang saat itu satu kapal dengan beliau. Dia bercerita, saat Kiai Abu Bakar meninggal, dia lihat keajaiban di laut. Itu ketika jasad Kiai Abu Bakar hendak dimasukkan ke laut, air lautnya terbelah dan keluarlah sinar berwarna putih," terang Rozi, mahasiswa semester VIII IAIN Sunan Kalijogo, Jogjakarta ini.

Setelah wafat, terang mahasiswa Jurusan Politik Dan Hukum Islam ini, kendali Ponpes Mambaul Hikam dipegang KH. Moh Amin, lalu turun kepada putranya KH Ahmad Hotib Amin yang juga meninggal di Makkah. Ketika memimpin pesantren di Ketengan, Kiai Khotib punya kebiasaan membangun masjid di beberapa tempat di wilayah Bangkalan.

Mengenai bangunan Langgar Tenggih (Madura, Red), penerus Ponpes Mambaul Hikam ini tidak bisa memastikan. Meski diyakini berusia lebih dari seabad, sejauh ini tidak ada fakta yang bisa dijadikan dasar berdirinya Langgar Tenggih. Yang jelas, sampai kini tempat menginap santri yang bahannya didominasi kayu tersebut masih tetap terawat. Meskipun di sisinya berdiri masjid megah yang hingga kini masih dalam tahap finishing.

Pasca meninggalnya Kiai Khotib, tongkat estafet pesantren berpindah tangah kepada KH Abd. Kafi. Di era kepemimpinan Kiai Kafi inilah Ponpes Mambaul Hikam semakin maju. Beliau wafat di Sumbawa, Nusa Tenggara saat berdagang.

Nah, sejak wafatnya Kiai Kafi sekitar 1948, terjadi stagnasi kepemimpinan pesantren yang cukup lama. Sebab, tiga putranya (KH Bakrin Kafi, KH Ahmad Jamil Kafi, dan KH Abu Amrin Kafi) masih kecil. Sementara, kekosongan itu diisi KH Mahbuk.

Saat itulah Kiai Bakrin dan Kiai Jamil dibawa ibunya ke Makkah. Sekitar 1960, Kiai Jamil kembali untuk memimpin pesantren. Di era 1981-1982 dirintis pendidikan pesantren yang dikolaborasikan dengan pendidikan formal.

Pada tahun 1983, KH Bakrin yang bersekolah di Makkah kembali ke Ponpes Mambaul Hikam. Di bawah asuhan dua kiai besar ini, pesantren semakin maju. Memasuki era 1986, didirikan lembaga pendidikan Tsanawiyah dan TK formal. Lalu disusul Madrasah Aliyah.

Saat ini jumlah santri yang bermukim di Ponpes Mambaul Hikam sekitar 240 orang. Sedangkan siswa yang menempuh pendidikan formal di Mambaul Hikam mencapai 300 orang. Dari jumlah itu, 70 persennya santri Mambaul Hikam sendiri.

Meski sudah berusia lebih dari sebad, hingga kini masih banyak peninggalan pendiri pesantren yang masih terjaga. Seperti Langgar Tenggih yang bentuknya masih khas. Ada juga sekitar 100 kitab kuno. Seperti fiqh, kamus bahasa Arab, nahwu, dan lainnya. "Ada juga kitab dari tulisan tangan," kata Rozi. (TAUFIQURRAHMAN)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 08 Feb 2008

Label:

5 Komentar:

Pada 20 Maret 2008 14.19 , Blogger Vicky Glaneth mengatakan...

SALAM.....
NAMA SAYA BUSRON SAYA SENANG SEKALI MEMBACA KISAH TETUAH SAYA.


SEKARANG SAYA LAGI BERADA DI SUMBA NUSA TENGGARA TIMUR.

SEMOGA TETAP BAHAGIA DAN JAYA...

 
Pada 20 Maret 2008 14.22 , Blogger Vicky Glaneth mengatakan...

semoga kita di ridhoi...

 
Pada 14 November 2011 17.22 , Anonymous Anonim mengatakan...

islam pasti jaya

 
Pada 28 Agustus 2016 05.12 , Blogger Yahya Kebunpao mengatakan...

kalau boleh tahu silsilah kiyai abu bakar perintis pesantren jelasnya nyambung ke siapa?

 
Pada 24 Januari 2017 13.11 , Blogger Fadhilah Shihab mengatakan...

Alhadulillah..
Semoga PP. Manba'ul Hikam tetap selalu dikenang di hati para masyarakat dan alumni
selalu jaya dan berkah

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda