Pondok Pesantren An Nur Desa Sana Daja

Berlakukan Sistem Pertukaran Santri dengan Ponpes Lain

Sistem silang mahasiswa luar negeri yang belajar di Indonesia dan sebaliknya, mengilhami Pondok Pesantren (Ponpes) An Nur Desa Sana Daya, Kecamatan Pasean, Pamekasan. Di pondok ini, santri yang dianggap mampu ditugaskan belajar ke ponpes lain. Baik di dalam maupun luar Madura. Begitu pula, santri ponpes lain yang berprestasi ditugaskan nyantri di Ponpes An Nur. Mengapa?

Pondok Pesantren An Nur, berada di pelosok, di daerah pegunungan Pasean. Di arah tenggara pondok ini, ketinggian gunung Payudan di wilayah tepi barat Sumenep terlihat dengan jelas. Di arah utara, laut Jawa yang membentang ke arah Sumenep - Bangkalan juga bisa dipandang dari pondok ini. Menuju pondok ini, jalanan memang beraspal. Tapi, tak ada angkutan kota yang langsung menembus ke lokasi pondok ini.

Sekitar tahun 1948, kiai sepuh KH Khaliel Anwar (kini almarhum) mendirikan cikal bakal ponpes. Ketika itu, lembaga yang ada hanya diniyah, pengajian Alquran dan kitab kuning bersistem sorogan.

Seiring perkembangan zaman, pondok ini membentuk lembaga pendidikan klasikal. Tahun 1970-an pengasuh mendirikan muallimin dengan waktu belajar selama enam tahun. Santri yang lulus setingkat lulus MTs dan MA dalam sekali tempuh.

Di era 1990-an, pengasuh memodifikasi pembelajaran. Sistem klasikal yang semula muallimin dipilah sesuai jenjang pendidikan di era modern. Pondok ini akhirnya memecah muallimin menjadi MTs dan SMA. Tetapi konsep diniyah dalam pengajian kitab kuning warisan sebelumnya tetap dipertahankan.

Bahkan, pasca wafatnya kiai sepuh KH Khaliel Anwar tahun 1996, modifikasi pendidikan semakin ditambah. Terutama, pasca kepulangan "putra mahkota" KH Anwari Khaliel dari Jakarta.

Pengasuh ponpes An Nur saat ini KH Anwari Khaliel katakana, dirinya menerima mandat keluarga untuk meneruskan pondok. Dia bilang pendidikan bukan hal yang baru. Menurutnya, dia pernah ditempa di Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep. Selanjutnya, dia meneruskan ke IAIN Jakarta (sekarang UIN). Lulus dari IAIN, Anwari mengelola pendidikan berbasis teknologi yang dikelola mantan wapres BJ Habibie.

Dalam mengasuh pondok, Anwari tetap mempertahankan barokah. Yakni, keseriusan santri dalam belajar dan taat peraturan pondok pada akhirnya mendatangkan fadilah (keutamaan). Sistem lain yang diterapkan, pria yang juga ketua BKD (Badan Kehormatan Dewan) Pamekasan ini memberlakukan pertukaran santri. Melalui relasi dan kerabatnya di daerah lain yang mengasuh pondok, santri An Nur mendapat tugas belajar. Begitu pulang ke pondok, santri tugas menularkan ilmu yang didapatnya di ponpes lain pada santri An Nur. "Istilahnya, kami lakukan tambal sulam untuk memajukan pondok," paparnya.

Pertukaran santri tersebut tak saja soal tugas menempa ilmu agama. Tetapi, santri juga ditugasi belajar dan magang di bengkel kendaraan bermotor. Selain itu, santri memperdalam komputer, bahasa, tata boga, tata busana, dan memperluas jaringan.

Dia bilang jaringan Ponpes An Nur tersebar di empat kabupaten di Madura, Probolinggo, Situbondo, Pasuruan, dan Banyuwangi. "Kami juga punya networking di Semarang, Jogja, Jakarta, dan Banjarmasin," paparnya. (ABRARI)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 27 Des 2007

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda