Ortu Bayi Raksasa Tolak Pembesuk

Takut Bayi Raksasa Hilang

Pasangan suami istri (pasutri) Iptu Soemanto dan Hj Aminah, orangtua (ortu) bayi raksasa dengan berat 6 kg dan panjang 75 cm, kini menolak kehadiran warga yang hendak melihat sang bayi yang dilahirkan 17 Agustus lalu itu.

Sikap pasutri warga Kampung Rongkarong, Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan ini karena keduanya takut bayi yang diberi nama Wahyu Agus Perwira Putra itu hilang dibawa roh halus yang selama ini mereka yakini mendampingi Aminah.

Sebab menurut wangsit yang diterima Aminah, bayi tersebut tidak boleh ditunjukkan ke masyarakat luar. Jika dilanggar, maka dalam waktu seminggu bayinya akan menghilang.
Sejak mencuatnya kabar kelahiran bayi berat 6 kg dengan panjang 75 cm, membuat warga setempat dan warga luar kampung banyak berdatangan ingin melihat keajaiban sang bayi, yang menurut ibunya dilahirkan tanpa belepotan darah dan tanpa tali pusar.
“Kalau hanya tetangga kiri kanan yang membesuk, tidak apa-apa. Tapi warga lain pasti ditolak,” kata seorang warga, Rabu (19/8).

Kemarin sore sempat datang rombongan bidan dari Program Studi Kebidanan Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan dipimpin Kepala Program Studi Kebidanan, Siti Maimunah MM Kes.
Begitu tiba di halaman rumah Aminah, muncul seorang wanita mengaku keponakan Aminah memberitahu tidak menerima tamu siapapun. “Ini demi kesehatan bibi saya dan kondisi bayi yang tidak boleh dijenguk orang,” katanya. Maimunah pun pulang.

Kepada Surya, Maimunah mengatakan kedatangannya selain ingin menyambangi bayi, juga untuk keperluan akademis. Sehari sebelumnya ia sudah mengutus empat mahasiswinya untuk menimbang dan mengukur panjang bayi. Tapi keluarga Aminah hanya mengizinkan menimbang saja. Saat ditimbang, bayi itu beratnya 6 kg, namun Aminah bersikukuh bayinya semula berberat badan 8 kg.

“Kami hanya ingin memastikan. Karena saat lahir dikabarkan beratnya 8 kg. Tapi sehari setelah lahir, bayi itu ditimbang beratnya 6 kg. Nah, apakah hari ketiga berat bayi itu menyusut lagi,” kata Maimunah.

Sedang Soemanto, ayah bayi, mengaku melarang orang luar melihat bayi, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya. “Untuk apa tenaga medis melihat anak saya. Kan anak saya tidak lahir di bidan atau dokter, apa kepentingannya,” kata Soemanto, perwira polisi di Polwil Madura ini.
Menurut Sahriyah, tetangga Aminah, Rabu pagi banyak tamu membesuk bayi. Tiba-tiba Aminah ambruk tak sadarkan diri selama lima jam. Ketika Aminah bangun, ia mengaku mendapat wangsit bahwa bayinya tidak boleh diperlihatkan pada masyarakat luar.

Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Pamekasan, dr Sarjono Utomo tak mau komentar ketika diminta tanggapannya tentang bayi itu. Alasannya, proses kelahirannya tidak ditangani dokter. Namun jika Aminah ingin memeriksakan diri ke rumah sakit, ia akan memberikan penjelasan. (st30)

Sumber: Surya, Kamis, 20 Agustus 2009

Label: ,

East Java Woman Gives Birth to ‘1-Year-Old’ Boy

A woman from Madura Island, East Java, gave birth to an 8-kilogram baby boy on Monday after a 12-month pregnancy, state news agency Antara reported on Tuesday.

The delivery was reportedly conducted without the need for a Caesarean section.

Antara reported that Siti Aminah, the baby’s mother who hails from Pamekasan district, was on Tuesday still recuperating at a local hospital after delivering her sixth child on Monday, Independence Day.

After emerging from its mother’s womb, the baby, named Wahyu Agus Perwira Putra, was in good health and had the physical appearance of a one-year-old infant.

Siti Aminah told reporters that her pregnancy had lasted three months longer than the usual nine-month term, and although during the period she had never consulted a doctor, Siti said she had had no difficulty delivering the giant baby boy.

Sumanto, the newborn’s father, said the name Wahyu meant “miracle” as his birth was considered a blessing from God, while Agus was taken from Agustus, the month in which he was born. Perwira, or officer, was derived from his father’s position in the military, while Putra was Indonesian for “son.”

Sumanto said he and his wife considered Wahyu’s birth a miracle because, despite his unusual size, the baby was delivered normally.

In January 2005, the BBC reported that a woman in Brazil gave birth to a “giant baby” weighing 8 kgs — twice the size of an average newborn.

According to the Guinness Book of World Records, the heaviest baby ever was born to Anna Bates of Canada in 1879. It weighed 10.8 kgs but died 11 hours after birth.

Sumber: Jakarta Globe, August 18, 2009

Label: ,

Bayi Raksasa Lahir di Madura

Berat 6 kg Tinggi 75 cm

Bayi berukuran raksasa lahir di Pamekasan, Madura. Anak keenam dari pasangan suami istri Iptu Soemanto, 47, dan Hj Aminah, 45, itu memiliki berat badan 6 kg dengan tinggi 75 cm. Anehnya, bayi laki-laki itu dilahirkan tanpa ari-ari (tali pusar) atau ari-arinya langsung putus tanpa meninggalkan luka.

Menurut pasangan suami istri warga Kampung Rongkarong, Kelurahan Gladak Anyar, Kecamatan Kota Pamekasan itu, banyak keanehan mengiringi bayi yang dilahirkan tepat pada peringatan Hari Kemerdekaan RI, Senin (17/8) pagi itu.

Selain lahir tanpa ari-ari, bayi tersebut berada di kandungan selama 12 bulan, tidak seperti bayi umumnya yang biasanya di kandungan selama sekitar 9 bulan 10 hari. Selain itu, proses persalinannya di rumah tanpa bantuan tenaga medis mapun dokter kandungan.

Karuan saja kelahiran bayi tersebut menggegerkan warga kampung tersebut. Beberapa warga bahkan membandingkan bayinya yang berumur antara 7 bulan hingga 10 bulan dengan bayi yang baru berumur sehari tersebut.
“Kondisi tubuh bayi ini kok lebih besar dari anak saya yang sudah berusia sembilan bulan. Sungguh aneh, bayi baru lahir tapi tubuhnya mirip bayi sudah berusia di atas sembilan bulan,” kata seorang warga, Selasa (18/8).

Kepada sejumlah wartawan yang menemui di rumahnya, Selasa (18/8), Aminah didampingi suaminya mengaku tidak menyangka bayi yang dia lahirkan kondisi tubuhnya seperti itu.

Aminah yang mengaku selama ini sering dimintai tolong untuk mengobati warga yang sakit itu mengatakan, menjelang persalinan itu ia merasa perutnya seperti ada kelainan. Ia kemudian menyuruh keluarganya memanggil dukun bayi setempat untuk membetulkan posisi kandungannya yang mungkin ada masalah.

Ketika Aminah berbaring di tempat tidur sambil menunggu kedatangan dukun bayi, tiba-tiba perutnya terasa mules. Selanjutnya Aminah terlentang dan tiba-tiba bayi itu lahir dan langsung menangis dengan keras.

Tak ayal lagi, Aminah pun kaget bercampur gembira. Yang aneh lagi, begitu bayi itu diperhatikan, tidak ada darah dan tali pusarnya. “Bayi saya ini lahir bersih seperti sudah dimandikan.

Saya heran dengan kejadian ini. Padahal anak-anak saya sebelumnya lahir normal, ya ada darahnya, ada ari-arinya. Ini sungguh di luar nalar saya. Semua ini berkat kebesaran Allah SWT,” kata istri perwira yang bertugas di Polwil Madura itu sambil menggendong bayinya.

Menyusut

Aminah mengaku sempat menimbang berat badan sang bayi. Menurutnya, saat ditimbang itu beratnya 8 kg dengan tinggi 75 cm. Namun pada Selasa (18/8) sore, datang empat mahasiswa yang kuliah di jurusan kebidanan Universitas Islam Madura, ingin melihat kondisi bayi tersebut. Mereka juga sempat menimbang bayi tersebut. Anehnya, ketika ditimbang oleh para mahasiswa tersebut, berat bayi diketahui 6 kg dan panjang 75 cm, atau menyusut 2 kg dibanding klaim Aminah.

Ketika ditanya soal berat badan bayi tersebut, Aminah bersikukuh saat baru dilahirkan, berat bayinya 8 kg. “Ya, mungkin saja beratnya menyusut,” kata perempuan itu.

Dikatakan Aminah, bayinya nanti akan diberi nama Wahyu Agus Perwira Putra. Meski tidak menjelaskan secara detail makna nama anaknya itu, Aminah mengait-kaitkan bayi itu sebagai berkah dari yang Maha Kuasa, sedangkan Perwira Putra, karena ayahnya adalah seorang perwira polisi yang bertugas di Subag Intel Polwil Madura.

Iptu Soemanto mengatakan, meski anak keenamnya itu lahir dengan sejumlah keanehan, ia tidak akan membawanya ke dokter atau memeriksakan mengapa bayinya lahir seperti itu. “Yang penting anak saya lahir dengan selamat dan istri saya kondisinya juga sehat,” kata Soemanto kepada Surya.

Dikatakan, dari enam anak yang dilahirkan istrinya, hanya anak kelima yang ditangani bidan, sedang anak lainnya ditangani dukun bayi. Ditambahkan, selama kehamilan anak keenam itu, hanya satu kali istrinya periksa ke dokter spesialis kandungan, selebihnya selalu ke dukun bayi.

Aminah mengisahkan, saat usia kandungan menginjak tujuh bulan, ia merasakan ada yang aneh pada kandungannya. Waktu itu ia memeriksakan pada seorang dokter spesialis kandungan di Pamekasan. Ketika dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG), ternyata bayi itu tidak tampak. Bahkan di layar monitor komputerpun tidak terlihat.

Karena penasaran dan mengira ada yang salah terhadap USG perutnya, selesai dari dokter spesialis kandungan itu Aminah tidak langsung pulang, tapi mampir ke bidan langganannya untuk memeriksakan kandungannya. Ternyata hasil diagnosa bidan itu sama seperti yang dijelaskan dokter bahwa tidak tampak adanya bayi di perutnya.

Namun Aminah saat itu yakin bayi itu ada dalam kandungannya. Keyakinannya bertambah, begitu Aminah sampai di rumah dan di dalam perutnya terasa ada yang bergerak-gerak. “Aneh juga, begitu di rumah, bayi itu gerakannya terasa sekali, sampai telinga saya ini saya tempelkan di perut istri saya,” imbuh Soemanto.

Kini sehari setelah kelahiran itu, demi kesehatannya, selain diberi ASI, si bayi juga diberi makanan tambahan bubur dan minuman air mineral.
Sementara itu, Toriyah, 35, tetangga depan rumah Aminah, mengaku sedang berada di pasar ketika Aminah melahirkan bayinya. Begitu pulang, ia melihat rumah Aminah sudah ramai warga menjenguknya.

“Waktu itu saya lihat bayinya bersih seperti sudah dimandikan. Padahal, saat itu baru saja dilahirkan. Bagi saya dan tetangga, kelahiran bayi itu wajar, karena Umi Aminah, punya kelebihan (mengobati orang sakit, -Red),” kata Toriyah.

Ditambahkan, selama mengandung, ia melihat Aminah biasa-biasa saja, tidak ada tanda keanehan. Hanya saja, meski hamil besar, Aminah tetap aktif melayani puluhan pasien yang berobat kepadanya.
Untuk kelahiran di Indonesia, bayi Aminah tersebut tergolong raksasa. Catatan Museum Rekor Indonesia (Muri) menunjukkan, hingga saat ini bayi lahir terberat di Indonesia adalah Ardyan Angga Pramudya, anak dari pasangan Susetyo TS dan Sri Kushardiyat asal Karanganyar, Jawa Tengah. Menurut publikasi Muri 7 Oktober 2008, saat dilahirkan berat Ardyan 6,870 kg, panjang 69 cm dan lingkar kepala 40 cm.

Sedangkan Guinness Book of World Records mencatat, bayi terberat di dunia saat dilahirkan adalah anak dari seorang ibu bernama Anna Bates dari Kanada, yang bayinya seberat 10,8 kg ketika dilahirkan 19 Januari 1879. Namun, bayi lelaki yang belum sempat diberi nama itu meninggal 11 jam setelah lahir. Rekor beratnya belum terpecahkan hingga saat ini.

Perlu Penanganan

Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari RS Dr Soetomo Surabaya, dr Hari Paraton ketika dihubungi Surya mengaku ragu ada bayi yang bisa lahir dengan kondisi tubuh seperti yang dilahirkan Aminah.

Menurut Hari, secara medis melahirkan bayi berbobot 8 kg dan panjang 75 cm secara normal atau tanpa operasi sangat berbahaya bagi sang ibu. Jika memang benar, menurutnya kejadian ini terbilang aneh.

“Bayi dengan bobot di atas 5 kg saja sangat rawan kalau lahir normal. Maksimal panjang bayi saat baru dilahirkan juga rata-rata 50 cm,” jelas Hari, Selasa (18/8).

Selama ini bobot terberat bayi lahir yang pernah dia tangani adalah 6,2 kg dengan panjang 60 cm. Untuk itu sang ibu harus dioperasi cesar. Apalagi dalam kasus di Pamekasan, kelahiran bayi dengan ukuran jumbo itu tanpa disertai darah yang melumuri sekujur tubuh layaknya kelahiran bayi umumnya. “Bayi dengan bobot diatas 3,5 kg kalau lahir normal itu sudah risiko pendarahan pada ibu sangat besar. Darahnya pasti banyak di bayinya,” lanjut Hari.

Menurutnya, kedua orangtua sebaiknya memeriksakan si bayi ke rumah sakit. Banyak bayi dengan ukuran raksasa tidak bisa bertahan lama, oleh sebab itu maksimal 2 jam setelah dilahirkan harus mendapat penanganan khusus.

Sebab kelahiran bayi ukuran raksasa selama ini rentan dengan kelainan kekurangan zat gula. Kandungan gula cenderung sangat rendah atau disebut Hipoglikemik. Jika terus turun bisa berbahaya bagi keselamatan si bayi. (st30/ytz)

Sumber: Surya, Rabu, 19 Agustus 2009

Label: ,

Malang Areh Bayi di Pamekasan

Tradisi Perayaan 40 Hari

Tradisi perayaan empat puluh hari atau malang areh bayi semakin sulit dijumpai. Selain sudah bergeser ke efesiensi, juga karena tergerus budaya modern. Namun, bagi warga Kecamatan Kadur tradisi malang areh tetap dilestarikan.

SEKILAS tidak ada yang istimewa saat koran ini berkunjung ke kediaman Adnan Kasogi, 55, di Desa Sokalelah, Kecamatan Kadur, kemarin sore. Selain tidak tampak pernak-pernik perayaan, hanya kerabat dekat terlihat kumpul di musalanya.

Tapi setelah Koran ini masuk ke ruang tamu bagian dalam, tampak remaja putra dan putri tampak sibuk menghias perahu mini. Ada juga dari mereka sedang merangkai bunga dengan seutas lidi dan tali.

Setelah azan Maghrib berkumandang, sejumlah warga berdatangan. Mereka yang datang langsung disediakan sebungkus makanan dan minuman yang terselip sebatang rokok.

"Ini acara perayaan malang areh cucu saya, sekaligus aqikahnya. Kami sengaja mengundang tetangga untuk turut mendoakan. Lagian cucu ini merupakan cucu laki pertama dari anak bungsu saya," kata Adnan.

Seperti kegiatan keagamaan dan seremonial pedesaan pada umumnya, setiap pembukaan acara dibuka dengan doa. Termasuk, saat ditutup juga dipungkasi dengan doa oleh tokoh agama setempat.

Sebelum acara berakhir, salawat Nabi mulai dikumandangkan dan para undangan mulai berdiri semua. Setelah itu, tiga remaja memasuki lokasi undangan yang berjumlah sekitar seratus orang tersebut.

Remaja paling depan tampak membawa perahu mini yang dilengkapi dengan lampu hias. Rupanya, perahu mini itu dijadikan wadah bayi yang sudah berumur 40 hari tersebut. Kemudian, bayi dibawa keliling menemui undangan untuk dimintakan doa.

Sedangkan remaja yang ada di urutan kedua, terlihat membawa beberapa bunga yang sudah dirajut dengan benang dan lidi. Bunga itu untuk diberikan ke undangan yang hadir. Itu sebagai belas kasih dan mengartikan kebaikan bagi sang anak.

Yang terakhir, pria dengan kopiah tinggi itu terlihat asyik menyemprotkan parfum pada undangan. Itu sebagai bagian dari sunnah dalam Islam dan juga berarti sang anak terhindar dari sifat buruk dan kotor.

Setelah salawat, sang bayi yang terlihat lelap tersebut di taruh di depan tokoh agama setempat hingga selesainya acara. Baru setelah selesai diambil oleh kedua orang tuanya. (NADI MULYADI)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 03 Desember 2008

Label: ,