Tradisi Cahe di Goa Mandalia

Persembahan Sesaji untuk Makhluk Halus Penunggu Goa

Warga Desa Langsar Timur, Kecamatan Saronggi, punya tradisi ritual cahe (selamatan). Ritual ini dilakukan di dalam Goa Mandalia di desa setempat. Apa menariknya?

AROMA kemenyan mulai menyengat ketika koran ini mendekati pintu masuk menuju Goa Mandalia. Goa ini dikelilingi tembok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Untuk sampai ke mulut gua, harus melewati pintu yang terbuat dari besi.

Di atas pintu tertulis "Atas nama P. Suno, Gua Mandalia Banjar Raba panyoonan sopaja tertib". Artinya, atas nama P. Suno, Gua Mandalia Banjar Raba permohonan (berdoa) supaya tertib.

Untuk sampai ke Goa Mandalia, perlu menempuh perjalanan 25 kilometer ke selatan Kota Sumenep. Di simpang tiga Kecamatan Saronggi belok kiri, langsung menuju Desa Langsar Timur.

Untuk ke goa, mesti jalan kaki sejauh 1,5 kilometer dari jalan beraspal. Letaknya memang cukup jauh ke pelosok. Namun, pemandangan di kanan kiri terlihat cukup menarik dan rindang.

Goa itu sangat dikeramatkan warga Desa Lansar Timur. Warga setempat meyakini goa itu adalah tempat pertapaan sesepuh desa.

Sesampai di goa, tampak warga sibuk menyiapkan upacara ritual cahe. Dalam setahun, dua kali warga desa melakukan ritual cahe. Yakni, saat perubahan musim panas ke hujan dan dari musim hujan ke panas. Cahe merupakan tradisi turun-temurun yang dijaga kelestariannya oleh sebagian warga. Ritual itu sebagai bentuk syukur.

Ritual cahe diawali dari rumah Ketua Adat Cahe Mbah Suno, 99. Sebelum mendatangi goa, koran ini mampir ke rumah Mbah Suno yang punya julukan Tampa Karsa. Di rumah inilah warga mendapat bimbingan dan arahan dalam melakukan ritual di Goa Mandalia.

Menurut Mbah Suno, cahe merupakan warisan peninggalan nenek moyang desanya yang perlu dilestarikan. Ritual sebagai wujud syukur dalam mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.

"Tidak ada kehendak lain. Ritual cahe hanya untuk mendekatkan diri kepada yang menciptakan kita," kata Mbah Suno.

Dia hanya mengingatkan, setiap pengunjung Goa Mandalia agar tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Sebab, tidak menutup kemungkinan mahluk gaib penjaga goa akan mengamuk, jika pengunjung yang melakukan maksiat. "Agar selamat, para pengunjung harus tertib," pesannya.

Dalam prosesi cahe, warga yang akan berdoa di Goa Mandalia harus membawa berbagai macam jenis makanan hasil bumi. Tak lupa sesaji khusus yang dipersembahkan pada roh halus dianggap sebagai penjaga goa.

Sesaji tersebut berupa nasi putih, ikan laut, kopi, dan tujuh bungkus jajanan pasar. Air bunga tujuh warna dan tujuh buah kelapa muda juga dipersembahkan pada roh halus yang ada di dalam goa. Bahkan, ciri khas makanan warga setempat yang dibungkus dengan daun lontar dan diberi bendera merah putih ikut dipersembahkan. Karena itu, ibu-ibu terlihat sibuk memanggul sesajin di atas kepalanya ketika mendatangi goa.

Sebelum masuk goa, sebanyak 21 orang membaca mantera yang berisi salam sapaan kepada roh halus. Mereka dalam posisi melingkar di depan goa sambil membakar kemenyan.

Sekitar 20 menit kemudian, mereka masuk ke goa sambil membawa sesaji. Sedangkan di pintu masuk goa terdapat tumpukan kayu yang dibakar warga.

Warga sangat meyakini goa itu ada penunggunya. Bahkan, kabarnya, ratusan tahun lalu goa itu merupakan tempat pertapaan para sesepuh desa. Hal itu dilambangkan dengan hamparan batu selebar 3x4 di dalam goa.

Di sekelilingnya terdapat batu yang menyerupai ular naga melingkar dan batu berbentuk potongan betis dan kaki manusia. Bongkahan batu yang berada dalam goa itu dikeramatkan warga setempat. Sayangnya, tumpukan batu itu tak boleh diabadikan.

Lubang goa terlihat kotor, sempit, dan gelap. Kabarnya, goa itu adalah jalan pintas para wali tempo dulu menuju ke Gunung Keramat di Kabupaten Situbondo.

Dugaan itu juga dibuktikan dengan banyaknya pengunjung Goa Mandalia dari Situbondo, Banyuwangi, dan Jember. Mereka datang untuk ber-munajat dan berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan keselamatan dunia dan akhirat. Para peziarah biasanya membaca Alquran di depan pintu masuk goa.

Setiap pengunjung Goa Mandalia dan berniat bermalam di goa, perlu nyali tinggi. Selain jauh dari pemukiman warga, di sana tak ada penerangan dan terkenal angker. (A. ZAHRIR RIDLO)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 26 November 2008

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda