Aktivitas Nelayan Ketika Tak Melaut

Ada Yang Jadi Kuli Bangunan dan Pengayuh Becak

Cuaca laut yang ekstrem belakangan ini berdampak pada aktivitas nelayan. Ratusan nelayan Desa Tanjung dan Pagar Batu, Kecamatan Saronggi, kini menganggur alias tak bisa melaut. Apa yang mereka lakukan?

Beberapa pekan ini perahu nelayan hanya ditambatkan di bibir pantai. Para nelayan memang sedang tidak berani melaut karena ombak dan angin di tengah laut cukup kencang. Untuk mengisi waktunya, nelayan di Desa Tanjung dan Pagar Batu memerbaiki jaringnya.

Abdus Syukur, 42, nelayan Desa Tanjung, mengatakan, sejak sebulan terakhir cuaca di laut tidak bersahabat. Meski sebagian nelayan memaksa mencari ikan, namun hasilnya tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan. "Susah cari ikan, Mas. Angin dan ombak cukup besar," ujarnya kepada koran ini.

Jika nelayan memaksa melaut, tak hanya jiwa mereka yang terancam. Juga hanya akan menghabiskan waktu saja. Sebab, hasil tangkapan ikan sedikit dan tidak seimbang dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Menurut Syukur, setiap kali melaut butuh biaya operasional mininal Rp 100 ribu. Jika menggunakan bahan bakar minyak tanah, per perahu butuh 25 liter atau senilai Rp 87.500.

"Jika menggunakan solar, biayanya jauh lebih mahal. Sebagian besar nelayan di sini menggunakan minyak tanah," katanya.

Sementara ikan hasil tangkapan mereka hanya laku antara Rp 50.000 sampai Rp 65.000. Itu pun belum dihitung biaya makan dan waktu yang terbuang selama melaut.

Selain hasil tangkapan sedikit, para nelayan juga kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak tanah. Sehingga, mereka memutuskan untuk berhenti berlayar, sampai cuaca membaik.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka terpaksa menggadaikan barang-barang berharganya. Sebagian nelayan menguras tabungannya. Bahkan, tidak jarang di antara mereka ada yang menjadi kuli bangunan dan tukang becak di Kota Sumenep.

Sutahri, 39, nelayan Desa Tanjung, mengaku, hasil tangkapan yang bisa didapat dari laut hanya rajungan. Sedangkan ikan jenis lain susah didapat.

"Selama satu hari melaut, saya hanya bisa mendapatkan rajungan hanya seberat 3 kilogram," katanya. Bila dijual hanya laku Rp 69.000. Jika dibandingkan dengan biaya melaut jelas, kata Sutahri, tidak seimbang dan rugi.

Untuk itu, dia bersama ratusan nelayan lainnya memilih tidak beraktifitas, menunggu cuaca di laut membaik. Dia berharap, dalam waktu tak lama kondisi cuaca berubah. "Biasanya Agustus memang kondisi angin dan gelombang tinggi," katanya. (A. ZAHRIR RIDLO)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 05 Agustus 2008

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda