Shopiyah Bertahan Hidup dari Es Teler

Terdampar di Sampang, Merasa Tenang Tinggal di Sumenep

Tahun 2000 lalu, Sampit bergolak. Saat itu, warga di daerah konflik berusaha lolos dari amuk. Warga asli Sampit pun merasa terancam dan pergi meninggalkan tanah leluhurnya. Diantaranya, Shopiyah warga Kalimantan yang memilih pergi dari tanah kelahirannya menuju Madura. Mengapa?

Siang kemarin, taman bunga terasa panas. Di sekitar taman ini, warga Sampit Shopiyah (30) berjualan es teler. Perempuan itu sibuk melayani para pembeli. Sesekali dia menyeka keringat. Saat pembeli mulai sepi, ibu tigak anak ini istirahat di bangku, di dekat rombong es telernya.

Di saat istirahat inilah, dia mulai bercerita awal mula kehadirannya di Madura. Semula, perempuan yang kerap disapa Piyah ini ikut suami menuju Sampang. Bersama suaminya, Makruf, Phiyah menjadi buruh tani. Selain itu dia bekerja apa saja yang dapat menghasilkan uang. Tetapi menjadi petani, membuatnya tak dapat bertahan hidup. Di Sampang, Piyah hanya bertahan dua tahun (2000-2002). Selanjutnya, dia merantau ke Sumenep.

Saat bertolak dari Sampang enam tahun lalu, Piyah tak pernah membayangkan menjadi penjual es teler. Menurutnya, menjadi penjual es teler dia lakukan karena tidak punya pilihan lain. Dari berjualan ini, Phiyah merasa tenang walau hasil dari berjualan tidak selalu cukupi kebutuhan keluarga. Jika lagi bernasib mujur, sehari berjualan dia bisa mendapatkan uang Rp 150 ribu. Tetapi bila hujan dan sepi pengunjung, dia cuma membawa pulang Rp 10 ribu.

Sebenarnya, Phiyah merasa lelah berjualan es ini. Tetapi, dia merasa lima tahun berjualan berlalu begitu saja. Saat pagi tiba, dia mulai sibuk. Sebab pada saat jam menunjuk pukul 07.00, dia harus sudah berada di areal taman bunga. Ketika malam tiba, dia harus bersiap-siap tinggalkan taman bunga. "Pernah pukul 10.00 malam baru selesai berjualan," katanya

Menurutnya, Madura sangat unik. Dia merasa masyarakat Sumenep santun menerima kehadirannya di Sumenep. Baginya, kehadiran suaminya, Makruf, memberikan dorongan. Sehingga, dia tak gentar menghadapi kegetiran hidup. Pertama kali berjualan, dia minder. Alasannya, orang menilai dirinya tidak punya bakat. Bahkan, ada yang menyindir dirinya terlalu lembut dan kurang pas menjadi penjual es.

Menurutnya, Sumenep telah memberikan kehidupan yang tenang. Karenanya, dia tidak ingin pindah lagi ke kota lain. Dari berjualan es ini, Phiyah optimis bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. "Mungkin berjualan es ini terbaik bagi kami," ungkapnya pasrah. (ZAITURRAHIEM)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 15 Mei 2008

kembali

Label: , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda