Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk

Pesantren Tua yang Memiliki Banyak Pengasuh

Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqayah merupakan salah satu ponpes tertua di Kabupaten Sumenep. Ponpes tersebut didirikan oleh Kiai Muhammad Syarqawi dari Kudus, Jawa Tengah pada tahun 1887 silam.

Ponpes An Nuqayah terletak di daratan agak tinggi dan perbukitan. Lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota membantu para santri untuk betul-betul mendalami ilmu dengan baik.

Ponpes ini dibangun ratusan tahun lalu oleh pria alim dari Kudus, Jawa Tengah, KH M. Syarqawi. Beliau tiba di tanah Madura, karena bertemu dengan Kiai Gemma, asal Prenduan di Makkah. Keduanya sama-sama menuntut ilmu di sana.

Namun, sepulang dari tanah suci, Kiai Syarqawi tidak langsung pulang ke Kudus. Tapi memilih menetap di Prenduan. Karena beliu diminta menikahi istri Kiai Gemma atas permintaannya Kiai Gemma sebelum meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, Kiai Syarqawi juga menikahi perempuan setempat dan menetap di Kecamatan Guluk-Guluk. Di sana beliau mulai mendirikan tempat pengajian hingga akhirnya Ponpes An Nuqayah berdiri.

Dari tahun ke tahun, perkembangan ponpes cukup pesat. Bahkan kini jumlah santrinya mencapai 6 ribu lebih. Menilik tahun pendiriannya, pesantren itu sudah cukup berumur. Namun sistem yang dikembangkan jauh dari gambaran pesantren tradisional yang umumnya jalan di tempat.

Karena, pesantren ini bukan saja memfokuskan pada kajian-kajian disiplin agama. Namun juga telah mulai merambah dan melintas dengan memasukkan kajian-kajian ilmu non agama melalui lembaga formal.

Banyak pesantren-pesantren yang telah berani "membuka diri". Pendidikan menganut pola campuran antara sistem formal dan nonformal. Pengajian kepesantrenan dalam bentuk metode sorogan merupakan bentuk pendidikan nonformal.

Sedang pendidikan pola madrasah formal diselenggarakan, di samping untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Saat ini ponpes tersebut mengelola pendidikan formal dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.

Namun yang menarik dari ponpes ini, dalam satu lingkungan ponpes memiliki beberapa komplek dan pengasuh. Di antaranya, Lubangsa yang diasuh KH Warist Ilyas, komplek Latee diasuh KH Basyir Abdullah Sajjad, komplek Lubangsa Selatan diasuh KH Ishomuddin AS., dan komplek Nirmala diasuh KH Hamidi Hasan.

Meski tiap komplek berbeda pengasuh dan memiliki santri tersendiri, tapi mereka tetap berada di satu payung, termasuk juga metode pendidikannya. "Untuk pendidikan formal, semua komplek sama. Sedang untuk pengajian kitab kuning, dilakukan di tiap komplek. Tapi, ada juga pengajian umum yang bisa diikuti seluruh santri," kata salah satu pengasuh PP An Nuqayah, KH Warist Ilyas.

Kendati banyak pengasuh di ponpes tersebut, tapi program dan pelaksanaan pendidikan berjalan dengan baik. Menurut Kiai Warist, hal itu terjadi karena setiap pengasuh sama-sama menghormati dan memelihara persaudaraan. (ZAHRIR RIDLO)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 19 Feb 2008

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda