Mr X Ternyata Orang Sampang

Korban Tewas Runtuhnya Mal Malaysia

Teka-teki mayat tak dikenal korban reruntuhan mal di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, dikabarkan asal Sampang juga. Mr X itu diduga kuat bernama Mat Daib asal Dusun Lenteng Barat, Desa Nyeloh, Kecamatan Kedungdung. "Mayat tidak dikenal tersebut memang adik kami," ujar Syaifudin, kakak korban.

Kepastian kabar meninggalnya Mat Daib diperoleh Syaifudin dari Suryati, adik kandungnya yang juga bekerja di Malaysia. Suryati menyampaikan kabar duka tersebut pada Kamis (28/5), sekitar pukul 20.00, melalui telepon selulernya. "Sebelum mengabarkan adik (Mat Daib. Red) meninggal, Suryati minta saya tidak kaget. Setelah itu, ia bilang Mat Daib tewas tertimpa reruntuhan bangunan," ungkapnya.

Seperti diberitakan Jawa Pos kemarin, mal berlantai empat di kawasan Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, ambruk pada Kamis (28/5) lalu. Akibatnya, 10 TKI asal Provinsi Jatim menjadi korban reruntuhan bangunan. Dari 10 pekerja tersebut, empat diketahui meninggal dunia. Satu diantaranya diidentifikasi sebagai A. Suki bin Nahru asal Sampang. Dua lainnya warga Pacitan dan Blitar. Sedangkan satu lagi Mr X yang diduga kuat adalah Mat Daib, asal Sampang.

Syaifudin menjelaskan, kejadian nahas itu terjadi sekitar pukul 17.00 (waktu setempat). Saat itu, Mat Daib sedang bekerja bersama rekan - rekannya yang lain. "Selain adik saya, ada TKI bernama A. Suki bin Nahru asal Desa Blu'uran, Kecamatan Karang Penang, yang kabarnya ikut tewas," ungkapnya.

Menurut dia, orang tuanya maupun dirinya mengaku tidak mendapat firasat apa pun sebelum meninggalnya Mat Daib. Tapi, putra bungsu korban, Viki Tahumil, 5, bermimpi ayahnya pada Kamis malam. Viki menceritakan mimpinya itu kepada pamannya Jumat pagi.

"Dalam mimpinya, Viki cerita bapaknya menakut - nakutinya. Dia bertemu dan bicara dengan bapaknya tanpa kepala dan kaki. Saat itu, adik saya mengajak Viki ikut ke Malaysia," kata Syaifudin.

Sementara ayah korban, Abdus Salam, 80, mengaku pasrah dengan kejadian yang menimpa anaknya tersebut. Menurut dia, semasa hidup almarhum tergolong anak yang baik dan tidak penah menyusahkan orang tua. "Kalau ditanya sedih, saya pasti sedih Nak. Tapi mau apalagi, mungkin ini sudah takdir dan keluarga saya harus tabah menjalani," katanya.

Menurut dia, putranya bersama menantunya, Bahriyah, bekerja ke Malaysia semata - mata untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarganya yang pas - pasan. Sebelum ke Malaysia, Mat Daib pernah jualan sate di Jogjakarta dan menjadi tukang becak di Surabaya," ungkapnya.

Suami Satuna ini mengaku bingung. Selain harus kehilangan anaknya, dia juga harus merawat dua anak Mat Daib dan Bahriyah, Moh. Ribut, 12, dan Viki Tahumil. Termasuk juga harus melunasi utang kepada salah seorang tetangganya sebesar Rp 6 juta. "Sebab, anak dan menantu saya bisa berangkat ke Malaysia dua minggu lalu setelah mendapat pinjaman uang dari Pak Marsudah sebesar Rp 6 juta," akunya.

Dia berharap perhatian dan bantuan pemerintah agar proses pemulangan jenazah putranya lancar dan tidak ada kendala. "Orang kecil seperti kami ini tidak tahu apa-apa. Kami hanya berharap jenazah anak saya bisa dipulangkan dan dimakamkan di Indonesia," harapnya. (yan/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 31 Mei 2009

Label: ,