Terjebak dengan Sastra Pizza

Sebagian besar kaum muda mulai kecanduan dengan sastra pizza. Buktinya, karya sastra pemula terinspirasi borjuasi kota yang sarat dengan simbol metropolis. Akibatnya, aura daerah hilang karena kaum muda melakukan migrasi ide dan inspirasi.

Ketua Komite Sastra, Mashuri mengatakan, hal tersebut dalam seminar bertajuk Sastra dan Dialektik di auditorium STKIP kemarin. Pria yang pernah bermukim di Malang ini mengatakan, kaum muda beranjak dari nasionalisme-geografis.

Akibatnya, karya sastra kaum muda terasing di tengah masyarakatnya. Alasannya, masyarakat desa di sekitarnya tidak kenal dengan simbol-simbol pizza, fried chicken, dan sampayo.

Dia meminta kaum muda menggali potensi idenya dari lingkungan di sekitarnya. Mashuri menilai penyair Zawawi Imron menasional bukan karena mengibarkan sastra pizza. Melainkan, Zawawi memopulerkan sesuatu yang indah di Madura seperti clurit, mayang, gelombang, dan airmata. "Tak ada pizza dalam puisi Zawawi kan?" katanya dalam seminar yang dihelat Sanggar Lentera ini.

Menurutnya, tradisi sastra merupakan kebiasaan pembacaan yang ditulis atau dibacakan. Dalam sejarah sastra dunia, dia menilai karya besar merupakan hasil pembacaan yang cerdas pada teks.

Mahasiswa sastra S2 IAIN Sunan Ampel ini mencontohkan realitas, gagasan, dan inovasi sebagai aplikasi dari hasil pembacaan. Tak heran, katanya, pembaca yang cerdas seringkali menghasilkan karya yang bernas dan bernilai sastra tinggi.

Nara sumber lainnya Nurhadi Moekri menilai profesionalitas pembaca karya sastra terkait dengan kepentingan profesinya. Pria yang malang - melintang di dunia pendidikan ini menyontohkan guru sastra lebih dominan mengonsumsi karya sastra.

Sedangkan guru bidang studi lain belum tentu senang dengan karya sastra. Akibatnya, sastra seolah - olah memiliki komunitas tersendiri. Padahal, dia menganggap sastra bisa dinikmati siapa saja dengan latar profesi apapun.

Dalam seminar sastra yang dipandu Chiko ini, Nurhadi mengamati pembaca sastra tak harus paham seperti persepsi pengarangnya. Sebab, ketua STKIP ini menganggap sastra bebas dari maksud siapa pun. Sebab, teks dan kata-kata sendiri yang memberinya arti pada karya sastra.

Pria berkacamata minus ini memahami karya sastra terdiri atas tesa, sintesa, dan antitesa. "Substansi dari karya sastra itu indah, tinggal dari mana memotretnya," urainya di hadapan ratusan peserta yang sebagian besar perempuan.(abe/zr/rd)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 19 Mei 2009

Label: , , , , , ,