Air Goa Payudan Dipercaya Sebagai Obat

Air Gua Payudan Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura dipercaya sebagai obat segala macam penyakit. Air itu menetes dari batu yang berbentuk naga dan buaya setiap 5 detik sekali.

Setiap pengunjung gua yang ingin mendapatkan air itu sangat mudah. Hanya minta izin untuk mengambil air yang sudah ditampung di sebuah drum. Apalagi, penjaga gua sudah menyediakan dalam bungkusan plastik kecil.

Konon, Gua Payudan tersebut sebagai tempat semedi para pendekar atau raja-raja Sumenep tempo dulu. Bahkan, gua tersebut tempat memperdalam ilmu putri keraton yakni Potre Koneng yang sampai saat ini tetap menjadi cerita setiap kali membicarakan sejarah keraton Sumenep.

Warga Sumenep dan umumnya masyarakat Madura percaya jika tetesan air dari Gua Payudan dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Bahkan, tetesan air yang sangat jernih dan dingin itu diyakini menambah aura kecantikan layaknya yang disandang Potre Koneng yang termasyhur ke pelosok daerah pada tempo dulu.

Salah seorang penjaga Gua Payudan, Slamet (52) mengatakan sejak dulu warga mempercayai tetesan air itu mengandung khasiat penyembuhan yang luar biasa. "Warga percaya akan menyembuhkan 1001 jenis penyakit dengan izin yang maha kuasa," kata Slamet saat ditemui di gua, Senin (26/1/2009).

Bahkan, kata dia, pengunjung pun ada yang bermalam di dalam gua. Mereka ingin mendapatkan wangsit untuk kepentingan usahanya. Kesan yang sering disampaikan pada penjaga goa, selain penyakit yang diderita bisa sembuh juga segala macam hajatnya banyak yang dikabulkan.

Pengunjung Goa Payudan ini terlihat banyak jika pada hari Jumat dan Mingggu atau waktu liburan seperti saat ini. Mereka datang dari berbagai daerah. Dari sekitar lokasi gua, pengunjung juga dapat menikmati keindahan sebagian wilayah Sumenep, karena berada di dataran sangat tinggi.

Sumber: MaduraExplore, Senin, 28 September 2009

Label: , ,

Warga Pamekasan Kembali Temukan Gua

Sebuah gua, belum lama ini kembali ditemukan warga Pamekasan, Madura, Jawa Timur, di Desa Klompang Barat, wilayah Kecamatan Pakong.

Menurut warga setempat, Badri, tempat gua ini sebenarnya sudah lama diketahui. Akan tetapi warga sekitar tidak berani masuk karena banyak ditumbuhi semak, sehingga warga khawatir banyak binatang liar di dalamnya.

"Musim kemarau ini baru diketahui warga bahwa di sini ada gua, ketika bola anak-anak masuk ke dalam gua saat bermain bola di ladang ini," katanya, Minggu

Gua yang berada di Desa Klompang Barat, Kecamatan Pakong ini, berjarak sekitar 1 kilometer dari gua yang ditemukan warga bernama Syukur di Desa Bicorong, Kecamatan Pakong, bulan Ramadhan lalu.

Jika dijadikan objek wisata, gua di Desa Klompang ini sebenarnya lebih potensial. Selain posisinya memang berada di pinggir jalan desa, juga lebih besar. Orang yang akan masuk ke dalam gua ini tidak perlu berjongkok sebagaimana di gua Bicorong.

Ukuran gua juga lebih besat, yakni dengan lebar tujuh meter dan panjang sekitar 20 meter. Di dalam gua juga terdapat "dug-dug batu" yang menimbulkan bunyi yang sangat keras jika dipukul.

Gua di Desa Klompang ini memang terlihat belum terawat sebagaimana gus di Desa Bicorong. "Gua ini sebenarnya juga potensial untuk dijadikan objek wisata," kata Badri.

Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat, gua di Desa Klompang Barat ini juga tembus ke gua Payudan yang ada di Desa Payudan Dungdang, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep yang merupakan guna bersejarah di Madura.

Di jarak sekitar 500 meter dari mulut gua, ada batu yang menyerupai ranjang tidur. Hanya untuk menuju ke tempat itu membutuhkan penerangan yang cukup dan terkadang harus berjalan jongkok, karena lorong gua sempit.

"Yang pernah masuk ada warga desa itu juga, tapi dia sudah meninggal. Saat hidup menceritakan tentang kondisi lorong gua ini yang ada di dalam sana," kata Badri menuturkan. (*)

Sumber: Antara, Minggu, 4 Oktober 2009

Label: ,