K H S Abdullah Schal Berpulang

Setelah Sebulan Lebih Dirawat di Rumah Sakit

Masyarakat Madura berduka. Kiai karismatik K H S Abdullah Schal wafat. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Cholil Demangan, Bangkalan, ini dini hari kemarin meninggal dunia dalam usia 72 tahun.

Rais Syuriah PC NU Bangkalan ini wafat di Rumah Sakit (RS) Spesialis Husada Utama, Surabaya, sekitar pukul 02.55. Menurut K H Nasih Aschal, putra almarhum, Kiai Abdullah menderita komplikasi. Almarhum diketahui mengalami infeksi paru-paru setelah 15 hari dirawat di RS.

"Besar harapan kami masyarakat bisa menauladani beliau (almarhum, Red). Terutama kedisiplinannya. Sebab, beliau adalah ulama yang istiqomah. Khusus putra-putrinya, diharapkan bisa meniru beliau," kata Nasih kepada koran ini.

Almarhum meninggalkan 18 anak. Kepergian Kiai Abdullah ini membawa duka mendalam bagi keluarga dan kerabatnya.

Tak hanya itu. Masyarakat Bangkalan maupun Madura ikut berbela sungkawa. Ini terlihat dari luapan warga saat bertakziyah. Puluhan ribu orang memadati areal ponpes dan jalan di kota sekitar pesantren untuk mengantarkan kiai khos ini ke peristirahatan terakhirnya di komplek Pesarean Mertajasah.

Puluhan kiai Madura dan Jatim tampak hadir. Antara lain, KH Miftahul Ahyar (Rais Syuriyah PW NU Jatim), K H Abdullah Syamsul Arifin (pengurus PW NU Jatim dari Jember), K H Nawawi Abdul Jalil, KH Fuad Nur Hasan, dan K H Moh. Kholil (Ponpes Sidogiri, Pasuruan).

Selain itu, tampak KH Moh. KH Abdul Salam (Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo), KH Ali Rido (Ponpes Bangil), KH Mubassir Mahfud (ketua MUI Sampang), KH Toifur Aliwafa, dan KH Fathul Bari (Sampang).

Petakziyah meluap ke jalan ketika jenasah dibawa menuju Masjid Agung yang berjarak sekitar 200 meter di utara dari Ponpes Syaichona Cholil Demangan Barat untuk disalati. Sepanjang Jalan KH Kholil (depan pesantren) hingga Jalan Sultan Abdul Kadirun (Masjid agung) menjadi lautan manusia. Mereka datang dari berbagai kecamatan dan daerah lain di luar Bangkalan. Bahkan, banyak juga yang datang dari luar Madura.

Di barisan depan tampak KH Zubair Muntasor, KH Muhammad Faisol Anwar, dan beberapa kiai karismatik lainnya. Di deretan mereka yang salat jenasah berdiri tiga putra almarhum, KH Fachrillah Aschal, KH Nasih Aschal, dan KH Karror Aschal. Bertindak sebagai imam salat KH Fuad Nur Hasan dari Ponpes Sidogiri Pasuruan.

Selanjutnya, jenasah diusung menuju pasarean di Desa Martajasah. Puluhan ribu orang dengan ikhlas mengantar almarhum dengan berjalan kaki menuju peristirahatan terakhirnya sejauh sekitar 3 km.

Di masjid pasarean Syaichona Kholil, jenasah kembali disalati petakziyah yang tidak kebagian tempat di Masjid Agung Bangkalan. Imam salat jenazah KH Abdus Salam dari Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Usai disalati, jenasah tokoh Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (Basra) ini dimakamkan di dekat makam KH Imron.

"Sebelum sakit, Abah berwasiat untuk dimakamkan di samping Umi. Tapi, karena penuh, lalu digeser ke timur di di bawah (di sebelah, Red) makam KH Imron," kata Nasih.

Usai pemakaman, Bupati Bangkalan KH Fuad Amin yang juga sepupu almarhum didaulat memberi sambutan atas nama keluarga. Fuad menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat, tokoh, dan ulama yang ikhlas membantu hingga pemakaman.

Bupati mengatakan, almarhum KH Abdullah Schal merupakan tokoh panutan yang perlu diteladani. Kiai Abdullah tidak kenal lelah berdakwah hingga ke pelosok-pelosok desa. "Beliau merupakan tokoh yang perlu diteladani. Baik perkataan maupun perbuatannya," kata Fuad.

Sementara itu, dr H Fachrur Rozi MM yang juga dokter pribadi almarhum mengatakan, Kiai Abdullah meninggal dunia setelah dirawat sebulan lebih di RS Spesialis Husada Utama Surabaya. Pengasuh Ponpes Syaichona Cholil itu menderita gangguan pernafasan dan jantung.

"Penyebabnya, beliau perokok berat, karena pola makan, dan tenaga diforsir untuk berdakwah. Selama 30 tahun ini beliau berdakwah sampai ke pelosok desa. Kebiasaannya, beliau berangkat usai salat duhur, pulang pukul 02.00-03.00," kata kepala Dinas Kesehatan Bangkalan ini. (tra/mat)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 03 September 2008

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda